Actions

Work Header

Malam di Hari Sibuk

Summary:

Di malam sibuk sebagai siswa, ada prioritas lain yang Sadewa Sagara dan Nakula Nalendra lakukan selain mengerjakan PR dan belajar ulangan. Namun, prioritas yang mereka lakukan bukanlah tindakan terpuji dan tidak untuk ditiru.

Notes:

* Author bukan minor dan bukan anak sekolahan meski mengangkat tema anak sekolahan di fiksi penggemar kali ini.
*Beerlens di sini sudah memasuki usia 18 tahun, sudah legal dan bukan underage.

Enjoy ^^!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Hari Rabu malam, hari yang masih penuh aktivitas di siang maupun malam hari. Baik untuk orang yang sudah bekerja, maupun untuk remaja yang masih sekolah. Semua sibuk dengan tugas mereka di hari kerja dari Senin sampai Jumat. Termasuk dua anak kembar yang tinggal di satu rumah peninggalan orang tua mereka yang sudah berpulang ke rumah Tuhan beberapa tahun silam. 

Nakula dan Sadewa, bersisihan sambil sibuk dengan tugasnya masing-masing. Tak ada yang aneh dari aktivitas mereka berdua di ruang makan malam itu. Ditemani dua buku pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan, dua buku tulis yang terbuka lebar, beberapa kertas HVS yang sibuk digores pena membentuk tulisan panjang lebar di atasnya. Buku-buku sekolah dengan jenjang SMA kelas 12 itu dibuka lebar sebagai tanda mereka sedang sibuk mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan gurunya minggu lalu. 

Namun, tak lama fokus sang saudara kembar itu buyar saat sang kakak mulai melakukan hal yang akan membuat satu dunia akan melayangkan ujaran kebencian kepada dua anak adam yang berstatus saudara kembar itu. Nakula —sang adik yang lahir 5 menit lebih telat dari Sadewa— itu duduk di pangkuan Sadewa Sagara atas permintaan si pria berambut hitam dengan gradasi warna kuning di ujungnya. Punggung Nakula bersandar pada dada Sadewa. Kedua tangan si remaja berambut dwiwarna kuning itu melingkar erat dari belakang badan Nakula, memeluk sang adik penuh cinta. Dihirupnya aroma tubuh sang adik yang masih menulis di atas kertas HVS dengan 5 soal esai itu dengan dalam. Wangi bunga melati dan pengharum ruangan teh keraton menjadi candu di hidung Sadewa yang sedang mengendus bahu Nakula seakan sedang kecanduan berat. 

"Nghh ... Jangan, Mas, geli!" Nakula berhenti menyalin jawaban dari kertas soal milik Sadewa. Ia layangkan protes kepada sang kakak yang mulai mengendus area sensitifnya, yaitu leher dan bawah telinga. 

"But, you call me 'Mas'." Sadewa menjauhkan wajahnya dari leher Nakula. 

"Lah, emang kenapa?" 

"You only call me 'mas' when you're needy, Na." 

"Ya udah! Minggir, Dewa!" Nakula mendorong dahi Sadewa agar menjauh dari lehernya. Tautan tangan sang kakak yang melingkar di perutnya dipaksa dilepas. 

"Call me 'mas' again," ucap Sadewa menghentikan gerak Nakula yang mau melepaskan diri. 

"Mas, sayang, please ..." Nakula memiringkan kepalanya, menghadap ke arah Sadewa. Ia tarik dagu sang kakak setelah ucapannya selesai lalu mengecupnya secepat kilat. 

Pelukan Sadewa sedikit melemah, membuat Nakula mengambil kesempatan untuk segera beranjak dari pangkuan Sadewa. Namun, sebelum tubuhnya benar-benar berdiri, Sadewa menahan pinggang Nakula lagi dan mendudukkan sang adik di pangkuannya lagi. Kali ini pantat Nakula jatuh tepat di atas gundukan di balik celana Sadewa yang terasa mengeras.

"Sengaja, ya, kamu?" kata Sadewa sambil menahan pinggang Nakula erat. Tangannya meraba ke area paha sang adik yang sedari tadi menggoda imannya karena hanya terbalut celana kolor pendek yang gampang sekali terangkat kalau si pemiliknya lagi duduk. Telapak tangannya yang kasar itu menyapu paha si pria rambut biru langit itu dari atas lalu bergerak ke dalam sambil menggesekkan selangkangannya yang diduduki tepat di belahan pantat Nakula. 

"Ugh ... Aku mau belajar, Dewa. Besok kita ulangan!" Nakula masih mencegah tindakan tak senonoh sang kakak yang menggerayangi pahanya. Pahanya dirapatkan, menjepit tangan Sadewa agar tak bergerak lebih jauh. 

"Kamu udah pinter, Na," balas Sadewa. Tangan satunya yang bebas mencoba masuk ke dalam kaos, mengelus perut, lekuk pinggang, lalu ke dada. 

"Kamu tolol kalau lagi dienakin sama saya doang." Ucapan Sadewa membuat Nakula ikut lemah iman. Mau membantah tapi faktanya memang begitu. Mau protes tapi tindakan seduktif Sadewa berhasil memancingnya gemuruh nafsunya.

"Satu kali aja, ya?" pinta Nakula di sela helaan napasnya yang mulai memberat akibat sentuhan Sadewa di area dada dan paha dalamnya yang sangat sensitif. 

"Dua kali. Nanti saya kasih contekan full." 

Nakula menyetujui dengan gampangnya. Setelah sadar, dia ingin memukul kepala mesum Sadewa karena bisa saja dia memenangkan negosiasi. Mentang-mentang kelas Sadewa ulangan mata pelajaran itu duluan. Ya sudah, lah. Toh, Nakula dapat untung juga, malam ini bisa bercinta dengan orang terkasihnya lalu besok dia tak harus berpikir untuk mengerjakan ulangan. 

"Tapi aku masih sambil ngerjain pr, ya?" 

"Hmnh ... Kalau kamu sanggup." Sadewa menghirup seluruh aroma tubuh Nakula dengan rakus. Tak lupa ia bubuhkan kecup dan hisapan di seluruh tubuh Nakula, kecuali area leher karena dapat terlihat orang lain besok. 

Meski mereka berdua gila karena menjalin cinta dengan kembarnya, tetapi mereka masih cukup waras untuk mengerti norma. Mereka masih mencoba waras meski sudah terjalin hubungan asmara yang menjadikan mereka pelanggar etika. Mereka tidak gila untuk terang-terangan mengumumkan kepada dunia bahwa mereka sang pendosa. 

Kisah asmara di antara kedua kakak beradik dengan jarak lima menit itu sudah terjalin begitu lama, sejak awal mereka pubertas. Rasa cinta mengalahkan logika. Besarnya kasih mengalahkan perih. Sadewa dan Nakula telah berkomitmen untuk menghadapi dunia berdua. Meski hubungan mereka tak bisa dibilang benar, dan jelas salah, tak ada yang menyesal. Barangkali hanya rasa penasaran yang muncul di tengah perubahan hormon saat remaja, tak mereka pedulikan. Mereka masih yakin bahwa mereka berdua adalah satu. Satu rahim, satu jenis kelamin, satu hati. 

Sadewa selalu memuja sosok Nakula dalam perlakuan manisnya yang selalu membuat si biru nyaman. Nakula selalu memuja sosok Sadewa dalam racauan bibirnya yang memanggil nama si kuning dilayangkan. 

Tangan Nakula bergetar saat jari Sadewa mencubit putingnya. Geli, bagian sensitifnya terstimulasi dengan cubitan dan gesekan kuku. Ujung jari Nakula yang sedang mencoba menggenggam pulpen itu berusaha tetap fokus untuk menyalin satu per satu kata jawaban milik Sadewa yang sudah selesai duluan. Tulisannya lebih berantakan, tak Nakula pedulikan. Ia hanya ingin cepat selesai menulis agar bisa mengikuti permainan sang kakak sepenuhnya. 

"M-mas, nghh ..." Kepala Nakula serasa berputar saat tangan nakal Sadewa yang mulai masuk di balik celana kolor Nakula, menyentuh penisnya yang sudah ereksi akibat sentuhan di area-area sensitifnya. 

Pantat Nakula ikut menggesek gundukan keras di balik celana Sadewa. Cengkeraman keras pun diterima si rambut biru di lekuk pinggangnya. Tubuh Nakula sedikit huyung ke depan, tangannya menopang di atas meja sambil menggerakkan pinggulnya yang ditekan oleh Sadewa untuk bergerak. 

Tujuan Nakula hanya menggoda Sadewa sehingga jamahan di area selangkangannya berhenti. Nakula jadi bisa menulis beberapa kalimat. Begitu pikirnya di awal, tetapi aksinya itu justru membuat Sadewa semakin mabuk. Tangannya di dalam celana Nakula mulai kembali bergerak memijat alat kelamin yang adik yang terasa sudah basah karena pre-cum. Tak lama setelahnya, celana pendek yang hanya menutupi area selangkangan itu diturunkan, dilepas sampai tak ada lagi yang menutupi area bawah Nakula. 

Sadewa turut menurunkan sedikit celananya, mengeluarkan penisnya yang sama kerasnya dengan milik sang adik. Di depan lubang anal sebagai liang kawin, Sadewa menggesekkan ujung penisnya membasahi bibir anus si biru dengan cairan pra-ejakulasinya. 

"Emnhh ... Pake kondom, ya, Mas? Aku ambil dulu," ucap Nakula menghentikan gerak Sadewa yang masih menggesek kepala penisnya di depan lubang Nakula yang sudah berkedut. 

"Gak usah." Sadewa mengeluarkan satu bungkus kondom dari sakunya. Mereka berdua memang selalu stok kondom yang dibeli di toko online yang terkenal dengan ketipisan alat kontrasepsi tersebut sampai rasanya tidak pakai. 

"Dasar mesum! Kamu udah rencana mau ngewein aku, ya?!" Nakula berujar dengan menaikkan nada bicaranya.

Sadewa yang diberi tuduhan seperti itu tak mengelak. Ya, lagian siapa yang tahan melihat sang kasih mengumbar-umbar pahanya. Apalagi mencium aroma tubuh sang adik yang terlihat habis mandi lulur. Membuat kulit pucatnya terlihat seakan dicampuri susu yang mampu membuat Sadewa berkali-kali meneguk ludah saat duduk bersisihan dengan pacar cantiknya ini. 

"Kamu juga udah prepare lubangmu, loh. Berarti kamu udah siap juga buat saya masukin malam ini?" balas Sadewa sambil jarinya sibuk melesak ke dalam lubang Nakula memberikan stimulasi awal agar otot anusnya beradaptasi dulu. "Atau jangan-jangan kamu sengaja, ya, pakai celana sependek itu buat godain saya?" sambung Sadewa dengan dua jarinya di dalam sang kembar. Menyentuh dinding rektum, mencari titik nikmat sang adik yang bisa membuatnya gila. 

"Y-ya udah, sih, emang kenapa?! Cepet masukin, Dewa!" Nakula tidak membantah. Sadewa bisa lihat wajah Nakula memerah malu karena rencananya ketahuan. Ada gila-gilanya memang kembarannya ini. Sudah tau tugas mereka lagi banyak dan besok ada ulangan tapi malah memancing dirinya untuk member hormon cinta, kebahagiaan, dan lain sebagainya dengan melakukan hubungan bercinta. 

"Kamu nulisnya udah selesai belum?" Sadewa mengeluarkan jari-jarinya dari lubang Nakula, bergantian dengan penisnya yang akan bekerja menyodok liang surgawi milik sang adik. "Tulis yang bener, biar gak tolol," ujarnya bersamaan dengan kejantanannya yang melesak masuk menyenggol titik tempat prostat milik Nakula berada. 

"Anhh, m-mas ..." 

"Kamu enak banget, sayang," Sadewa membisikkan kalimat pujian tepat di telinga Nakula saat penisnya berhasil masuk seluruhnya. 

Liang hangat menyambutnya, bersamaan dengan lenguhan nikmat dari sang pemilik. Hal itu membuat si remaja yang lebih tua lima menit itu langsung menggerakkan pinggulnya menghentakkan miliknya keluar masuk dengan pelan. Inilah fungsi leg day yang Sadewa lakukan selama ini sampai mampu memangku Nakula —yang berat badannya tak jauh berbeda darinya— itu terhentak-hentak. Kedua tangan Sadewa menahan badan Nakula di bagian dada sambil menggesek bagian areola si adik dengan jemarinya. 

Sebisa mungkin Nakula sempatnya jarinya menulis huruf di kertas, tetapi melihat bagaimana tindakan mereka saat ini rasanya mustahil. Nakula ingin menangis karena stimulasi di dada dan di dalamnya membuatnya gila sampai mengabaikan tugasnya yang masih banyak. Ia ingin menangis karena kertasnya kini penuh dengan coretan acak, bukan huruf yang rapi membentuk jejeran kata. Ia ingin menangis betapa nikmatnya posisi mereka saat ini sehingga merasakan penis Sadewa di dalamnya menyodok sampai menyembul di perutnya. Ia ingin menangis karena gesekkan di titik prostatnya membuat lubang penisnya mengeluarkan lelehan sperma yang menyembur mengotori meja sampai beberapa menyiprat ke buku. 

Hentakan itu semakin kencang. Pinggul Sadewa keluar masuk dengan tempo yang semakin cepat saat merasakan dinding rektum Nakula yang menjepitnya lebih kencang. Dirasa penisnya semakin membesar, ia tanam miliknya lebih dalam dengan tempo semakin pelan sambil melenguh kencang. Semburan cairan cinta terasa penuh di bungkus kondom tipis. Lenguhan panjang diloloskan dari bibirnya. Ada rasa kurang puas tapi tergantikan dengan kenikmatan hebat karena proses penyatuan mereka yang menghasilkan cinta bagi mereka yang buta norma. 

Sadewa melingkarkan tangannya di bahu Nakula, mencengkeram leher si biru itu dari belakang sampai telinganya menempel di bibir Sadewa. "Mnhh ... Jangan dijepit lagi, Nakula," bisiknya di sela jilatan di ujung telinga. Tangan satunya mengelus punggung Nakula yang masih bergetar pasca ejakulasi. 

"Ha-ahh ... Aku pusing, Dew." Kepalanya disandarkan pada bahu Sadewa. Ia pasrahkan telinganya dijilat, dikulum. Terasa hangat dari hembusan napas Sadewa sampai ke bawah telinga. 

"Masih kuat, 'kan?" Sadewa menagih janji untuk melakukan persenggamaan dua kali. Ia menarik kepala Nakula agar menatap ke arahnya. Ia lihat wajah si cantik di pangkuannya itu begitu kacau dengan warna bibir yang merekah merah, hidung dan pipi merona malu, mata berair dan sayu tanda ia menikmati kegiatan tadi. 

Nakula hanya bergumam sebagai jawaban. Kecupan dari Sadewa di pipinya membuatnya tak bisa menolak, meski buku di hadapannya sudah banyak coretan acak yang merusak satu lembar buku mereka yang sudah ditulis banyak kalimat hampir penuh. 

Sadewa melirik buku milik Nakula yang tergores pena abstrak. "Hei, gak bisa nulis, ya? Kok malah dicoret-coret gitu bukunya, dasar bodoh!" 

"Hngg! Maaf ..." Nakula semakin mau menangis. Dua halaman sudah penuh tulisan rapihnya terus tiba tiba di halaman terakhir malah dirusakkan dengan coretan pulpen yang tidak membentuk satu huruf pun. Meski ia tahu Sadewa tidak benar-benar marah, perkataannya juga tidak serius mengatainya bodoh, tetapi dia jadi takut sama guru mata pelajaran itu yang terbilang galak. 

Nakula menjadi tidak mood, tetapi perasaan itu langsung tergantikan dengan gemuruh nafsunya lagi saat Sadewa akhirnya menggendong Nakula menghadap depan. Kaki Nakula ditekuk, ditahan dengan kedua tangan Sadewa yang berada di bawah lututnya. Nakula yang takut sekali jatuh langsung mencengkeram lengan Sadewa sambil memekik kaget. 

"Dew— turunin!" 

Seakan tak mendengar, Sadewa tetap jalan ke arah sofa di ruang tengah—tak jauh dari ruang makan—lalu menjatuhkan badan besarnya di sofa dengan Nakula yang masih berada di pangkuannya. Anak laki-laki berambut hitam dipadukan kuning di ujungnya itu mengisyaratkan Nakula untuk berbalik badan menghadapnya. Si rambut biru menurut. Ia membalikkan badan dan menekuk kedua kakinya di samping kanan kiri badan Sadewa. Ia mendudukkan diri di pangkuan Sadewa dengan belahan pantatnya yang bertemu dengan kejantanan Sadewa yang masih berdiri tegak. Bungkusan kondom yang diisi sperma itu sudah dilepas, diikat, dan dibuang ke arah lantai.

Keduanya kini berhadapan. Sambil melepas baju, mereka memuji tubuh satu sama lain. Kulit tan Sadewa begitu kontras di kulit pucat milik Nakula, begitu menggairahkan bagi mereka. Sadewa menarik dagu Nakula dengan terburu-buru, lalu memagut bibir disertai lenguhan tak sabaran. Nafsu anak muda yang bergemuruh menjadi satu menciptakan gairah seksual yang meledak-ledak. Disalurkan lewat tautan bibir dan perang lidah di area mulut yang sama-sama tak mau kalah. Mencoba saling mendominasi dengan menghisap bibir, menekan lidah, menjilat ke seluruh rongga. Kepala mereka mendayu-dayu, suara ciuman dan lenguhan mengiringi aksi porno antara dua saudara kembar itu. Lelehan saliva tak dipedulikan, seperti buku yang tergeletak di atas meja makan. 

"Mnhhh– ahh, m-mas." Cup. Cup. Cup. 

Tak berhenti, seakan begitu tamak memakan satu sama lain. 

Tangan Nakula menyisir rambut belakang Sadewa. Sebelumnya, ia susuri rahang si kakak dan tekuknya yang sensitif membuat Sadewa semakin mengeratkan pelukan di pinggang Nakula agar jarak mereka semakin menempel. Diusapnya punggung sang kasih begitu sensual sampai menciptakan ribuan kupu-kupu lahir di dalam perut si biru. Adegan selanjutnya, Nakula menjambak rambut Sadewa karena dadanya mulai sesak, tak sempat meraup oksigen. 

"Hahh ... Cantik banget, sayangku," ucap Sadewa sambil mengusap bibir Nakula yang bengkak. Dagunya basah akibat pertukaran liur yang brutal. Jemarinya ia geser ke anak rambut si biru dan menyelipkannya di belakang telinga. 

Nakula balas pujian itu dengan kecupan ringan di pipi Sadewa, turun ke leher. "Kamu juga ganteng banget, masku sayang," bisiknya ketika bibirnya menempel di ujung telinga Sadewa. 

Deru napas Sadewa semakin memberat. Ucapan Nakula bagaikan mantra untuk membuat kejantanannya mengeluarkan cairan pra-ejakulasinya lagi. Ia urut dengan tangannya sendiri kejantanannya yang semakin tegang, lalu mengarahkannya ke lubang Nakula yang basah akibat cairan spermanya meleleh dari dalam. 

"Kamu bodoh disuruh nulis. Tapi pinter kalau godain saya," ucapnya sambil memasukkan miliknya ke dalam Nakula yang masih terasa sempit meski sudah melakukan penyatuan tadi. Kali ini ia tak memakaikan kondom di kejantanannya atas permintaan Nakula sendiri. "Goyang yang pinter," perintahnya saat penisnya sudah masuk ke dalam sang kekasihnya yang cantik. 

Nakula menurut. Ia gerakkan pinggulnya naik turun untuk mengadaptasi posisi mereka, lalu berganti maju mundur memijat penis Sadewa di dalamnya penuh nikmat. Lagi dan lagi, mudah sekali kejantanan Sadewa di dalamnya menggesek prostatnya. Seakan sudah tahu lokasi nikmat yang tepat untuk membuat Nakula kehilangan akalnya. Kepala si cantik itu mendongak bersamaan dengan lidah Sadewa yang menyapu areola bagian kirinya. Puting yang mencuat tegang itu dibasahi oleh liur, digesek dengan lidah, disedot dengan bibir. Membuat gila. Dada kanannya yang tak terjamah mulut, diremas-remas seperti sedang memijat kelenjar susunya agar keluar. 

Ribuan kupu-kupu terbang di perutnya. Gerak pinggulnya menjadi acak karena kehilangan fokus akibat stimulasi di dadanya. Sadewa sontak menampar pipi pantat Nakula mengembalikan kesadaran sang kasih agar bergerak dengan benar. Panas dan perih yang menjalar di kulitnya menjadi satu hal yang membuatnya candu meski kulit pantatnya memerah. Seperti anak kembar pada umumnya yang memiliki ikatan batin, tanpa perlu diberitahu Sadewa mengerti perasaan Nakula yang suka diberi tamparan keras di pantatnya. Tangannya yang sudah kebas itu mengulangi pukulan keras lewat telapak tangannya sambil meremas bokong Nakula dengan keras. 

"Ah-ahh! Nghhh, enak ma-mass—hahhh." Mata Nakula merem melek menatap Sadewa dengan erotis. Desah mengalun lebih keras. Suara cantik dan merdu meningkatkan libido Sadewa untuk segera menjemput putihnya. 

"Pinter, sayang. Goyangnya enak banget, ahhh!" 

Nakula pun sama ingin bucat karena mendengar pujian Sadewa. Payah sekali rasanya, hanya mendengar pujian langsung menggila. Tak peduli, lah. Toh, hanya pujian dari Sadewa yang bisa membuatnya gila. Begitu juga dengan Sadewa yang hanya bisa hilang akal saat mendapat pujian dari Nakula. Keduanya membutuhkan satu sama lain untuk bahagia. 

Dan puncak bahagia malam ini adalah detik di mana keduanya mencapai ejakulasinya bersama, menyembur cinta yang membuncah. Lelehan sperma dari Nakula mengotori perut mereka berdua. Sedangkan milik Sadewa kembali tertanam di dalam Nakula dan ia masih bergerak di dalam sana dengan pinggulnya untuk mendorong benihnya masuk lebih dalam. 

"M-mas, udah! Udah—nghhh ... A-aku mau pipis—shhh!" Nakula menggeliat, mencoba menghentikan gerak Sadewa yang masih terus menggesek prostatnya sampai muncul sensasi ingin keluar air seni. 

Mendengar itu, Sadewa semakin liar menyodok liang Nakula agar semakin cepat mengeluarkan kencingnya di hadapannya. Tak peduli pada si cantik yang memohon ampun. 

"De-dewa, udah! Ahhh ... Dew– mas– hiks ... Nghh, ahhh, ahh!" Tubuh si cantik berkontraksi hebat. Tangannya mencakar bahu Sadewa dengan kencang. Badannya dibusungkan dan pinggangnya meliuk ditahan Sadewa agar tidak jatuh. Cairan bening yang langsung keluar dari penis Nakula tanpa stimulasi pijatan di batangnya. Cukup deras untuk membasahi sofa mereka dan tubuh mereka yang mulai lengket karena keringat dan cairan cinta mereka. Sadewa ikut mengeluarkan sisa putihnya lagi, kali ini tak di dalam Nakula. Ia biarkan penisnya menyembur spermanya mengotori karpet di bawah sofa. 

Nakula limpung. Badannya yang masih bergetar sisa ejakulasi dirubuhkan di dada Sadewa. Bibirnya terbuka meraup oksigen dengan banyak. Sesak sekali dadanya, rasanya organ pernapasannya tertutupi oleh gejolak nafsu. 

Hiks ... 

Isakan kecil masih dikeluarkan Nakula. Sadewa menenangkannya dengan mengelus kepala sang adik dengan lembut sambil mengecupi pucuk kepalanya yang basah karena keringat. 

"Maaf, ya, sayang. Kamu enak banget soalnya, saya gak tahan." 

Nakula memaksa membuka matanya. Melihat wajah Sadewa dalam jarak dekat. Ia pertemukan bibirnya di rahang Sadewa secara kilat. "Mas juga enak banget, makannya aku sampe pipis." 

Sadewa hanya terkekeh. Mendengar pujian itu lagi, membuat miliknya kembali berkedut. Duh, tuh kan, lemah sekali imannya. Cuma dapat pujian langsung sange berat lagi. 

"Ke kamar dulu, ya, biar bisa istirahat nyaman?" Sadewa menggendong Nakula lagi dengan posisi ala koala. Nakula melingkarkan lengannya di leher Sadewa agar tidak terjatuh sambil menghirup aroma sang kakak di ceruk lehernya. 

"Mas, mau cuddle. Beres-beresnya besok aja," ucap Nakula saat tubuh telanjang mereka berdua sudah direbahkan di atas kasur. 

"Tugasmu gimana?" 

"Aku kerjain besok pagi. Tapi kamu jangan lupa kasih aku contekan, ya! Kelasmu, kan, ulangan duluan."

"Iya, sayang." 

Percakapan malam hari ini diakhiri dengan kecupan ringan di seluruh wajah Nakula dari Sadewa. Mereka berpeluk erat dibalut selimut yang menutupi tubuh mereka berdua untuk mengisi kehangatan satu sama lain. Tak lupa bibirnya mengucap kalimat manis dan terima kasih untuk sang kasih yang mau menerima nafsunya di malam Kamis yang masih sibuk dengan aktivitas sekolah. 

Notes:

Sebenarnya merasa ada yang kurang tapi karena udah kebanyakan wip jadi ya udah publish aja :D

Thank you for reading! ^^