Work Text:
Panas terik matahari hari ini sangat menyengat kulit, membuat Deon dan Issa lebih memilih buat mendekam di dalam kamar ber-AC setelah kelas terakhir Deon dan shift pagi Issa selesai. Hmm… nggak berguling-guling juga sih, soalnya sekarang ini Deon sedang wawancara online buat event jurusan, sementara Issa sibuk revisian skripsi dengan posisi tiduran beralaskan paha Deon sebagai bantal.
Tangan kiri Deon yang menganggur sesekali turun mengusap pelan rambut Issa, bahkan menyisir poni panjang yang sering menutupi mata, sementara matanya tetap fokus ke layar laptop dan lancar menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para katingnya.
“Waktu SMA aku sering jadi anak sponsor juga, Kak. Dan kebetulan urat malu udah putus dari dulu jadi soal urusan ngerayu udah bisa dibilang aman sihh, link yang aku punya juga udah biasa dirayu. Terus aku juga udah ada pemetaan beberapa mit—”
Kalimat Deon menggantung sesaat waktu dia ngerasain Issa tiba-tiba bergerak gelisah. Cowok itu baru aja membanting iPad-nya ke atas kasur dengan sedikit frustrasi. Issa menghela napas kasar, memutar badan sampai wajahnya menempel di perut Deon, lalu misuh-misuh pelan karena revisi yang bikin pusing.
“Kamu laper?” bisik Deon, tapi dibalas gelengan kepala. Issa makin nenggelemin kepalanya di perut.
“Gideon, kamu aman?” Suara di seberang menginterupsi.
“Eh, maaf, Kak! Tadi kelinci aku tiba-tiba ngambek.”
Wawancara kembali berjalan kayak biasa. Di sela-sela sesi tanya jawab, Deon juga diam-diam memesan makanan lewat ojol buat makan siang mereka—dia udah hafal kebiasaan Issa kalau lagi laper walaupun kalau ditanya nyaris nggak pernah jawab jujur.
Issa itu kalau lagi laper dan cuma berdua sama Deon bawaannya pengen manja terus—padahal dia lebih tua, hadeh. Contohnya kayak sekarang gini: Issa meraih tangan Deon yang menganggur terus ditempelin ke pipinya, dia sendiri mengusak-usakkan pipinya sendiri ke telapak tangan pacarnya yang hangat.
Deon nyaris keselek ludah sendiri waktu mode manja Issa versi laper kambuh. Dia masih belum kebiasa sama sisi manja pacarnya yang cuma beberapa orang yang tahu, salah satu dari sekian sifat Issa yang bikin jantungnya deg-degan parah. Jempol Deon mengusap pipi tembam milik Issa yang udah beberapa kali dia gigit karena kegemesan. Usapan-usapan itu malah membuat Issa semakin terbuai, matanya terpejam, kedua tangannya menangkap tangan Deon terus dibawa ke depan bibirnya dan dikecup hangat. Dasar kelinci manja.
“Yon, tangan kamu sibuk banget deh. Masih ngambek kelincinya?” tanya kating Deon waktu lihat pergerakan bahu kanan Deon yang nggak bisa diem.
Deon tertawa kecil. “Hahahaha.. Iya nih, Kak. Masih nunggu stok makanannya dateng.”
Notifikasi ponsel Deon berdenting, menampilkan informasi kalau salmon mentai rice favorit Issa udah dalam perjalanan ke apartemen Issa.
“Yaudah deh, kita cukupin dulu wawancara kamu sampai sini ya, Deon. Udah nyaris overtime nih, kasian kloter selanjutnya udah pada nunggu. Please look forward to the updates, ya! Thank you!”
“Alrighty, thank you juga kakak-kakak semua!” Deon buru-buru mematikan kamera dan menekan tombol leave,
Begitu layar laptop udah kembali menampilkan foto Makima yang menuhin wallpaper, Deon langsung menunduk. Bibirnya menghujani wajah Issa dengan kecupan basah. Dia berusaha bangunin Issa yang nyaris tidur karena usapan di pipinya.
“Kakak, jangan tidur dulu. Aku udah pesen salmon mentai yang biasanya. Makan dulu ya, baru bobok? Udah deket kok, paling bentar lagi nyampe.”
“Hmm… aduh geli, Deon. Becek muka aku ini…” gumam Issa, matanya ogah-ogahan membuka dan tangannya berusaha menepis tangan Deon dengan energi super minim itu. Yah, kalau mau dibilang menepis juga nggak bener sih, soalnya Issa malah menarik leher Deon biar lebih dekat. Makin manja dia.
Deon terkekeh, bibirnya mengecup pelipis Issa sebelum akhirnya menegakkan badan, mau nggak mau bikin Issa ikutan bangun dan merengek protes. “Mas-nya udah sampe di lobi. Aku ambil dulu ke bawah, kamu cuci muka biar seger, oke?”
“Aku capek, pusing… revisiannya nggak selesai-selesai…” keluhnya sambil merentangkan tangan minta dipeluk.
Deon cuma bisa pasrah dan masuk ke dalam pelukan Issa, mengelus punggung sempit pacarnya yang lebih tua tiga tahun darinya itu. “Iya, Kakak sayang.. Makanya satu-satu dulu, ya? Perutnya diisi dulu, otaknya biar istirahat bentar sama dikasih asupan vitamin, terus baru nanti hajar lagi. Nanti malem aku masakin beef noodle, deh.”
Mendengar kata beef noodle, Issa langsung melepaskan pelukannya dan menyuruh Deon buat cepet-cepet ambil makanan mereka di lobi. Nggak butuh waktu lama buat Deon kembali lagi ke unit Issa, menata makanan di atas coffee table di depan TV, dan akhirnya makan dengan lahap. Sesekali Deon memperhatikan pipi Issa yang menggembung penuh makanan, persis kayak kelinci lagi ngunyah wortel.
“Pelan-pelan makannya, nanti bisa keselek. Salmonnya kan udah mati, nggak bakal ke mana-mana, kok. Tumben banget juga kamu makannya cepet kayak gini.”
“Bete aku tuh,” gerutu Issa dengan penuh makanan di mulutnya.
Deon terkekeh, tangannya mengacak rambut Issa terus kembali fokus ke curry rice miliknya. Mulut Deon mengunyah sambil matanya fokus menonton kartun di TV. Sekitar sepuluh menit kemudian, ekor matanya bisa melihat bungkusan salmon mentai milik Issa yang masih ada isinya, didorong mendekat ke arahnya, disusul beban di bahu kiri Deon.
“Udah kenyang? Mau buat nanti malem aja?”
Kepala Issa menggeleng. “Kamu abisin aja. Aku masih mau beef noodle buat nanti malem. Tapi perut aku penuh banget, nih coba pegang.”
Issa meraih tangan Deon, menuntun jemari cowok itu buat meraba perutnya yang sedikit membuncit keras di balik kaus tipis yang dia pakai. “Tuh, buncit dikit kan. Kayaknya gara-gara kebanyakan minum juga hari ini tapi belom kebelet pipis. Makanya aku udah keburu kenyang duluan,” keluhnya sedikit dramatis.
Deon yang awalnya cuma niat ngecek sekilas, mendadak buyar waktu telapak tangannya menyentuh langsung kulit perut Issa. Alih-alih cuma memegang, jempol Dean mengusap pelan, sesekali menekan kasih efek pijetan halus yang bikin Issa melenguh.
“Begah nggak tapi? Jangan males pipis dong, Kakak, nanti bisa sakit,” ujar Deon, matanya udah nggak fokus ke TV melainkan kedua mata Issa yang menatapnya.
Issa nggak menjawab, malah makin memepetkan tubuhnya pada Deon, membuat cowok yang lebih muda menaruh wadah curry rice-nya ke atas meja biar nggak tumpah. Karena jujur… aura yang terpancar dari Issa sekarang bisa dibilang cukup serem, dan Deon bisa ngerasain itu tiap Issa ada “maunya”.
“Sayang,” bisik Issa. Kan, firasat Deon bener. “Revisiannya besok lagi aja, ya? Tapi aku mau minta sesuatu, boleh?”
Huft. Kalau Issa nggak lagi mode serem gini pasti Deon udah jawab: “Mau minta apa, sayangku? Kamu minta bulan bintang pun bakal aku kasih”. Tapi Deon juga sadar ini bukan saat yang pas buat dia bercanda.
“Minta apa, hm?” tanyanya, menahan napas ketika Issa meringsut naik ke pangkuannya.
“Aku pengen nyobain sesuatu, deh.”
“Nyobain apa tuh? Jangan minta minuman aneh-aneh lagi sebelum kamu pipis, nanti perutnya bisa begah sakit.” Deon tahu betul bukan makanan atau minuman yang pengen dicoba Issa.
“Justru itu… aku pengen nyobain sesuatu yang bisa bikin aku bantu pipis.” bisik Issa di telinga Deon yang udah memerah.
Deon mematung. Akhirnya. Akhirnya Issa ngomong apa yang udah pengen dia denger sejak beberapa hari lalu. Ketika sekitar minggu lalu Deon nggak sengaja lihat history browser di hape Issa yang isinya tentang sesuatu yang nakal. Dia jadi nggak sabar bakal diapain sama Issa hari ini.
“Kamu lagi pengen banget main ya, Kak?” tanya Deon dengan suara yang berat dan sedikit serak, tenggorokannya jadi ikutan kering. Tangannya mencengkeram pinggang cowok itu biar nggak kabur.
Issa nggak langsung menjawab. Dia malah sibuk mengecup perpotongan rahang Deon sampai yang empunya meringis karena geli. Issa akhirnya menjauhkan wajah dari leher dan dia menemukan Deon yang sudah pasang ekspresi kayak siap menerkam Issa kapan aja. Issa tertawa kecil melihatnya—dia punya rencana sendiri.
“Hmm… aku kangen dientot kamu. Ke kamar, please. Aku udah siapin sesuatu.”
Deon menatap lekat-lekat mata Issa dan hal yang dia temuin dari tatapan itu adalah Issa yang udah sange. Tangannya menahan pinggul yang dari tadi menggesek-gesek di bawah, bahkan Deon bisa ngerasain celananya jadi sedikit basah. “Kita bahkan belom mulai ngapa-ngapain tapi udah bocor aja memeknya.”
Issa mengerang, jarinya menjambak kecil rambut pacarnya karena udah ganggu sesi gesek-geseknya.
“Kamar!”
Tanpa basa-basi lagi, Deon dengan mudah mengangkat tubuh Issa lalu berjalan ke kamar. Di otaknya nggak ada kepikiran hal apa yang bakal terjadi di dalam kamar itu—apakah dia bakal dipakai atau memakai(?)
Gelap.
Deon misuh-misuh dalam hati karena sekarang dia nggak bisa lihat apa-apa. Beberapa menit lalu ketika mereka ciuman sambil masuk ke dalam kamar, Deon sama sekali nggak sadar begitu pantatnya menyentuh kasur, Issa dengan cekatan mengikatkan sesuatu ke matanya.
“Kak? Kok mata aku pake segala ditutupin begini? Aku kan pengen lihat kamu,” protes Deon, meski suaranya sama sekali nggak terdengar keberatan. Dia mencoba meraih wajah Issa, namun segera ditepis pelan.
“Shushh… kamu diem aja, oke? Nurut apa yang aku bilang,” bisik Issa. Deon bisa ngerasain napas Issa yang makin deket, tapi karena sekarang matanya tertutup, semua sensor di tubuhnya jadi berkali-kali lipat lebih sensitif.
Bibir mereka kembali bertemu. Deon bener-bener pasrah karena gelap yang dia rasakan membuat badannya jadi lebih sensitif—rasanya kayak ada setruman yang menyerang perut bawahnya waktu bibirnya mengecap bibir Issa yang lembut dan basah. Cowok Capricorn itu nggak main-main setelah akhirnya dia dapat kesempatan buat memimpin permainan mereka kali ini.
Issa sama sekali kayak nggak kasih ruang bernapas buat Deon, ciumannya yang dalam seakan mengisap seluruh oksigen dan kewarasan dari mulut pacarnya. Deon bisa ngerasain lidah Issa yang licin menyapu deretan giginya, menantang lidah Deon untuk bertarung. Bunyi kecipak basah di kamar sepi itu menuhin telinga Deon, bikin suasana kamar jadi memanas padahal AC menyala dengan suhu paling dingin.
Issa sesekali narik bibir bawah Deon dengan giginya, kasih gigitan-gigitan kecil yang bikin bibir itu jadi sedikit lecet dan perih yang nikmat, sebelum kembali disesap lembut, mengisap darah yang keluar. Erangan rendah yang keluar dari mulut Deon teredam di dalam mulut Issa, kedua tangannya meremas sprei kuat-kuat karena frustrasi nggak bisa lihat pemandangan yang seharusnya.
Ciuman itu kemudian turun menuju sudut bibir, lalu menuju rahang. Deon bisa ngerasain lidah Issa menjilat menelusuri garis rahangnya, ninggalin jejak basah yang cukup panjang.
“Kak… geli, sayang.” desis Deon waktu bibir Issa sekarang mulai menjilat dan mengisap kuat kulit di lehernya. Mungkin bahkan Issa juga bisa ngerasain denyut nadi leher Deon berdegup lebih kencang.
Issa narik rambut belakang Deon biar dia bisa lebih mendongak, beri akses lebih luas buat Issa menggigit dan mengisap kulit leher pacarnya itu dengan puas. Kayaknya Issa mengisap terlalu dalem sampai-sampai Deon bisa denger suara isapannya. Aroma woody yang bercampur dengan bau khas dan hangat badan Issa yang tercium kuat di penciuman Deon bikin dia makin keliyengan.
“Hhhh… pelan-pelan, sayang. Bisa-bisa aku harus pake turtleneck buat beberapa hari ke depan,” rintihnya.
“Biarin. Tapi kan kamu nggak tahan gerah,” gumam Issa. “Atau kalo kamu berani nggak usah segala pake ditutupin.”
“Gila. Yang ada kita jadi skandal di kampus—ahh! Fuck.. jangan tiba-tiba gitu.” Deon meringis.
Gimana nggak? Tanpa aba-aba, tangan Issa yang menganggur merayap turun, membuka kancing dan resleting jeans yang Deon pakai, lalu masuk ke dalam celana dalam dan meremas kontolnya. Issa mengumpulkan lendir pre-cum yang luber dari ujung lubang, mengolesi cairan itu ke seluruh batangnya, lalu mulai mengurutnya dengan tempo sedang.
Pinggul Deon berjengit kecil merasakan stimulasi yang tiba-tiba itu.
“Pelan ih.. Aku udah lama nggak coli, sakit tau.”
“Dih, tadi kamu sendiri yang bilang kalo memek aku yang bocor padahal belom ngapa-ngapain? Tapi nih, lihat. Kontol kamu juga nggak kalah banjir, Gideon.” bisik Issa sambil sengaja neken jempolnya kuat-kuat ke lubang uretra milik Gideon, bikin cowok itu nyaris misuh keras kalau nggak langsung dibungkam bibir Issa lagi.
Issa beneran gila. Tangannya terus ngocok kontol Deon dengan tempo yang makin cepet. Suara becek dari gesekan telapak tangannya dan ereksi itu terdengar makin berisik, ditambah kontol Deon sekarang makin deres ngeluarin cairan pre-cum. Tangan Issa nggak cuma gerak naik-turun; dia juga sengaja memutar telapak tangannya di kepala kontol, jempolnya neken frenulum dengan gerakan melingkar yang bikin Deon rasanya kayak mau meledak.
“Issa… sayang… please—nghh.. Aku pengen crot..” pinggul Deon refleks menyentak naik.
Sebelum Deon bener-bener crot dalam detik itu juga, Issa tiba-tiba ngelepasin genggamannya. Dengan ujung jari menutup lubang kencing Deon biar cairannya nggak keluar gitu aja.
“Nggak ada yang nyuruh kamu crot.” lontar Issa dengan nada dingin tapi juga meledek.
“Please.. Aku udah di ujung banget ini…” lirih Deon, badannya gemeteran hebat karena sensasi orgasmenya ditarik paksa gitu aja. Rasanya geli, panas, dan sakit bercampur di bagian selatan tubuhnya,
Issa terkekeh puas. Dia tahu kalau sekarang Deon sedang menatapnya pakai jurus puppy eyes andalannya dari balik blindfold. “Ini balesan soalnya kamu juga sering giniin aku,” sindirnya. Bibir Deon otomatis melengkung ke bawah. Oh, tentu aja Issa nggak akan selemah itu kali ini.
“Hm? Kenapa, sakit ya?” bisik Issa tepat di depan bibir Deon. Dia bisa ngerasain urat di batang itu berdenyut dalam genggamannya.
Tangan Issa kembali mengocok, sekarang ditambah tangan satunya lagi. Yang kanan dia pakai buat melumasi kontol Deon dengan cairan yang makin deres mengalir lalu mengocoknya pelan, sedangkan yang kiri merayap ke bawah, bermain di bagian sensitif lainnya yaitu biji peler Deon yang berat.
“Mmhh… jangan dipelanin gitu… sekalian kasarin aja!” erang Deon frustrasi karena dari tadi saraf-saraf di tubuhnya kayak lagi dipermainkan.
“Minta yang bener, dong? Tadi maunya pelan, terus sekarang malah pengen dikasarin. Lonte lanang.” ejek Issa. Dia sengaja kembali neken jempolnya di lubang kencing milik Deon, memutar-mutar kecil di bukaan sampai yang lebih muda misuh-misuh sekaligus merasa geli.
Begitu Deon kembali ke titik kritis—saat pinggulnya udah menyentak-nyentak ke atas mencari gesekan yang lebih kuat—Issa tiba-tiba mempercepat ritmenya secara brutal. Suara clok clok yang becek dari tangan Issa yang naik-turun dengan kecepatan penuh memenuhi kamar dan indera pendengaran mereka.
"Ah, ah! Sayang… dikit lagi—f-fuck!"
Tepat saat Deon merasa pejunya udah mau muncrat, Issa kembali berhenti total. Dia meremas batang Deon sekuat tenaga sampai cowok itu memekik tertahan.
“Tahan. Kamu belum boleh crot sampe aku puas.” bisik Issa sambil menjilat leher Deon yang penuh keringat dan bercak memar merah keunguan.
“Tega banget…”
Issa mengecup sekilas bibir Deon lalu mendorongnya agar berbaring. Deon bisa ngerasain sis kasur yang memberat di samping tubuhnya, tanda Issa lagi bergerak menuruni kasur. Setelah itu terdengar suara resleting celana yang dilepas, disusul gesekan kain yang lalu terjatuh ke atas lantai. Imajinasi Deon liar ke mana-mana. Issa lagi menelanjangi dirinya.
Walaupun matanya ditutup, Deon bisa tahu kalau Issa kembali naik ke kasur dan naik ke atas tubuhnya. Kedua lutut Issa mengapit tubuh Deon, perlahan merangkak maju sampai ke bahu lebarnya dan dengan nggak sopan duduk di dadanya. Membuat memek polos nan becek milik Issa bergesekan dengan kaus kerah polo yang masih melekat di tubuh Deon. Huh, Deon beneran pengen copot blindfold di matanya, dia pengen lihat Issa bugil! Pasti seksi banget, ditambah kalau nggak ada kain sialan itu pasti Deon bisa lihat memek pink tembem pacarnya di depan matanya.
“Kak, please bukain aja blindfold-nya. Aku pengen banget lihat kamu.” rengek Deon dengan suara serak.
Nggak ada jawaban. Tapi Deon bisa ngerasain helai rambut Issa menyentuh pipinya—oh, lagi membungkuk. Issa mencolek gelambir memeknya pakai jari telunjuk, terus mengarahkan jari yang belepotan lendir memek itu ke depan bibir Deon yang setengah terbuka. Nggak perlu lebih dari sedetik buat Deon mengenali bau memek favoritnya—dia langsung mengemut jari itu dan mengecap habis lendir.
“Lagi… mau nyicip lagi,” Deon mendecit. Mengulum lebih dalam jari itu sampai ke ruas terakhir, mengisap dan menelan habis sisa-sisa rasa manis-amis dari memek Issa bikin dia makin kacau.
Issa menarik jarinya pelan dari mulut Deon, meninggalkan jejak liur yang mengkilap di sepanjang ruasnya.
“Buka mulutnya,” titah Issa yang langsung dituruti.
Issa mengangkat pantatnya dan menurunkan pinggulnya untuk duduk di atas muka Deon, memosisikan memeknya yang kenyal dan becek membungkam mulut Deon yang terbuka. Di bawah sana, Deon mendengus girang. Dia kangen sensasi hangat, empuk, lembut, dan becek memek Issa memenuhi mulutnya, nggak lupa lendir yang terus rembes keluar menuruni lidah.
“Makan memekku sampe nggak bersisa.”
Nggak perlu diperintah dua kali, Deon membuka mulutnya makin lebar, mengokop memek panas itu dan menyeruput habis lendirnya. Spontan Issa melolong keras, tangannya berpegangan di kepala ranjang. Deon menjulurkan lidahnya yang tebel, sebelum dibikin kaku buat menyapu dari bagian bawah ke atas, membelah lipatan daging gelambir memek dengan satu jilatan panjang. Dia bahkan juga bisa ngerasain bibir memek Issa bergetar hebat tiap lidahnya nggak sengaja nyentuh kelentit.
Deon udah nggak peduli lagi tentang kain yang menutup matanya, dia udah kayak orang kesurupan. Dia nggak lagi cuma sekadar menjilat, tapi bener-bener mengokop memek ngocor itu. Mulutnya mengerucut di lubang memek, mengisap habis lendir-lendir yang keluar. Badan Issa gemetar hebat, pantatnya nyaris terangkat kalau nggak ditahan lengan Deon yang memeluk kedua pahanya.
Issa yang juga udah nggak tahan lagi buat nggak gesek-gesek memeknya di wajah ganteng pacar berondongnya. Desahan Issa nggak bisa dikontrol waktu hidung mancung Deon menggilas itilnya yang sensitif.
“Ouhh! Enak banget, sayang. Jilatin terus!”
Gerakan pinggul Issa membuat pernapasan Deon sedikit terhambat, tapi dia sama sekali nggak protes. Suara dengusan napasnya yang teredam di antara paha Issa terdengar begitu bergairah. Mulutnya nggak berhenti melumat dan memagut memek Issa yang terus ngucurin lendir memek; Deon bisa mengecap manis-amis yang lebih pekat membasahi bibir, dagu, hingga masuk ke tenggorokannya.
“I-itil aku… nghh—makan itil aku juga…”
Deon menerima tantangan itu. Nggak pakai nunggu lebih lama, Deon menggeser bibirnya dan mengokop seluruh buntelan saraf yang udah tegang, merah, dan bengkak. Kelentit Issa dijepit kuat di antara bibir Deon, yang kemudian diisap kuat-kuat dan dalam.
“AAHHH! A-ayon! Jangan disedot kenceng-kenc—mmh, enakhh..!” Issa melolong histeris, badannya menyentak hebat, nggak sadar malah memperdalam hisapan mulut di itilnya.
“Emhh… legit banget memek Kakak, enak.. Aku makan terus mau ya? Slurpp…” ucap Deon di sela-sela jilatannya.
Suara kecipak basah dan jilatan yang kotor bergema hebat di dalam kamar tiap kali Deon menarik napas. Lidah Deon yang tebal dan sedikit kasar bekerja liar, dia sengaja bikin ujung lidahnya kaku, dipakai buat melumat dan menyentil itil Issa berulang kali dengan ritme cepat. Tiap gesekan kasar lidah Deon di titik paling sensitif itu bikin aliran listrik di tubuh Issa menembak langsung ke perut bawahnya, bikin lubang memek itu makin kedutan parah dan ngocorin lendir yang makin deras membasahi dagu sampai leher Deon.
“Sayang… aku mau pipishh. Udahan dulu aku nggak tahan,” rintih Issa, mencoba mendorong kepala Deon agar menjauh dari memeknya.
“Hmmhh..? Pipis aja, Sayang. Pipisin muka sama mulut aku.” balas Deon dengan gumaman, mukanya yang memerah kembali tenggelam di memek Issa.
Sekarang Deon malah makin memancing pipis Issa buat keluar. Dia sengaja gunain giginya buat gigit-gigit kecil itil Issa, menariknya pelan ke bawah, dan terakhir menyedot kencang. Deon ulangin gerakan itu berkali-kali sampai bikin mata Issa merem-melek keenakan.
Deon bener-bener kayak orang kelaparan, setelah puas ngelamotin kelentit pacarnya yang sampai bikin nangis enak sesenggukan, lidahnya turun lagi ke bawah, menyapu gelambir memek yang kenyal, terus menusuk-nusuk masuk ke dalamnya. Lubang memek Issa dibikin makin ngowoh gara-gara dikobok-kobok lidah Deon. Oh iya, nggak lupa hidung mancung Deon ikut menekan dalam, ngegilas brutal itil tiap dia menggerakkan kepalanya ke atas-bawah.
“Hah.. hah.. pengen pipishh… udah, udah..!”
“Keluarin. Sekarang.”
Lidah Deon terjulur, menjilat kasar dan kaku lubang kencing dan itil Issa bergantian.
SYURR SYURR
“ANGHH! Pipis, Ayon… aku pipishh, unghh!”
Issa pipis di atas muka Deon. Badannya menggelinjang hebat disusul cairannya yang hangat menyemprot deras dari lubang, mengarah tepat ke muka Deon terutama mulutnya yang udah mangap lebar. Deon mendengus puas dipipisin Issa, tanpa jijik meneguk cairan yang masuk ke dalam mulutnya dengan rakus, jakunnya naik-turun menelan cairan hangat milik Issa yang bercampur dengan lendir memek.
Issa nangis sesenggukan keenakan dan lega, tapi badannya sama sekali nggak bisa digerakin karena sensasi kencing sambil itilnya diisepin bikin dia bener-bener lemes. Issa menunduk, jemarinya menarik ke atas kain hitam yang menutupi kedua mata Deon.
Di bawah kungkungan pahanya, Deon basah kuyup. Seluruh mukanya sampai rambutnya basah gara-gara dikencingin Issa. Mukanya memerah karena sebelumnya kekurangan napas, hidungnya kembang-kempis mengambil napas puas.
Mata sayu Deon menatap lurus milik Issa yang masih teler di atasnya. Sudut bibirnya terangkat naik, membentuk seringai tipis yang kelihatan seksi sekaligus nakal di mata Issa.
“Puas, Kak? Lega udah bisa pipis?” tanya Deon parau. Lidahnya lagi-lagi menjulur keluar, kini menjilat sisa-sisa air kencing bercampur lendir memek Issa yang masih menetes pelan.
“Udah.” Issa membungkam mulut Deon pakai telapak tangannya. “Harusnya aku yang pimpin tapi malah jadi begini.”
Deon terkekeh. “Lagian tadi minta dijilmek?” Sial. Issa lupa kalau Deon emang jago ngejilmekin dia.
Issa merangkak turun dari atas tubuh Deon. Dia meraih botol minum di atas nakas dan menenggaknya habis. Napas Issa masih sedikit terengah-engah waktu nenggak air putih, membiarkan beberapa tetes air lolos membasahi dagu dan lehernya. Deon yang melihat itu dari balik punggung Issa nggak tahan buat bangun dan melingkarkan lengannya ke perut pacarnya. Lidahnya menjilati buliran air yang tadi menetes di leher Issa.
“Ayon… bentar dulu, ahh… aku capek,” bisik Issa lemah, tapi kepalanya malah dimiringkan, kasih akses lebih buat Deon mengeksplor lehernya dengan gigitan-gigitan.
“Kamu sendiri loh, Kak, yang paling semangat dari awal. No backing out.” balas Deon sambil terkekeh.
Issa merengut, mendenguskan napas pelan. Badannya udah seletoy jeli kesukaannya, tapi bibirnya malah dibikin manyun. Issa membalikkan badan menghadap Deon dan kemudian mendongak, matanya bertemu sepasang mata sayu Deon yang masih kelihatan lapar.
“Ya gimana dong, aku punya pacar yang jago enakin aku masa cuma didiemin doang?” goda Issa. Jemarinya naik menyusuri garis-garis otot di badan Deon sampai akhirnya sampai ke rahang. Tatapan mata Issa jatuh ke bibir Deon yang mengkilap. “Cium.”
Nggak pakai lama Deon langsung menyerbu bibir Issa dan menciumnya rakus. Dia melumat bibir Issa dengan tempo yang lambat tapi cukup dalam, menyesap bibir atas dan bawah Issa bergantian sampai terdengar suara kecapan becek. Lidah tebal Deon yang tadi dipakai buat ngelamotin memek, sekarang masuk ke dalam rongga mulut Issa, mengajak dia buat nyicip sisa-sisa bucatnya sendiri.
Issa melenguh. Deon beneran jago banget bikin dia ngerasa enak—tapi sebenarnya Issa punya rencana sendiri. Tangan Issa yang mengalung di leher Deon diam-diam melepas kain hitam yang tadi nutupin mata Deon yang masih tersangkut di leher. Sambil terus membalas lumatan panas Deon—sengaja kasih distraksi—kedua tangan Issa bergerak secepat kilat melilit kain itu ke kedua pergelangan tangan Deon dan diikat kencang.
Deon yang udah kepalang sange mana sadar kalau lagi-lagi dia diiket?! Yang ada di otaknya sekarang cuma: Issa, ngewe, bucat.
BRUK!
Tiba-tiba tubuh besar Deon didorong kuat sampai punggungnya nabrak seprai Issa yang lembut dan wangi (dan sedikit pesing). Baru aja Deon mau protes dan narik tangan Issa, dia baru sadar pergelangan tangannya sama sekali nggak bisa direnggangin.
“Kenapa diiket lagiiii???” erangnya protes.
Issa malah terkikik geli. Dia merangkak lagi ke atas badan Deon, sekarang di pinggulnya. Sengaja gesek-gesek memek telanjangnya yang becek ke kontol keras Deon yang masih terbungkus kain celana jeans yang kasar.
“Siapa bilang aku udah selesai?” tanya Issa sarkas. Tangannya menarik turun jeans dan celana dalam Deon sampai lepas semua, akhirnya kasih lihat kontol Deon yang memerah ngacung sempurna.
“Langsung masukin aja, please? Aku kangen ngentotin kamu, kangen memek Is—sshhh… anjing!”
Deon gigit bibir bawahnya frustrasi waktu Issa dengan kurang ajar gesek-gesek memeknya di batang kerasnya. Pinggul Issa maju-mundur cantik di atasnya, menyelipkan batang kontol Deon di antara bibir memeknya yang membengkak—persis kayak sosis hotdog dan roti.
Suara gesekan kulit yang basah dan becek terdengar kotor dan keras di kamar itu. Deon dan Issa saling beradu desahan karena tiap kali Issa bergerak maju, kelentitnya bakal nyundul kepala kontol Deon yang super sensitif, tapi ketika Issa bergerak mundur, urat-urat di sepanjang batang bakal ngegaruk belahan labianya yang becek. Deon udah nggak tahan lagi, ujung lubangnya makin deras ngeluarin pre-cum tiap frenulumnya dikenain itil.
“Sayang—akhh..! Please, masukin, hm? Aku udah nggak kuat pengen ngecrot. Tolong.. Pengen dijepit mem—nghh, bangsat!” Nggak sopan. Issa baru aja tanpa aba-aba masukin kontol besar Deon ke dalam memeknya. Langsung mentok sampai ke ujung, bikin badan keduanya bergetar hebat.
“Haahhh… gede banget, Sayang.. Mentok sampe rahim akuhh…”
Deon mati-matian nahan diri buat nggak menyentak pinggulnya ke atas, menusuk lebih dalam. Di dalam sana, dinding memek Issa yang luar biasa hangat dan ketat bener-bener kerja tanpa ampun. Daging kenyal itu menjepit kontol besar Deon dengan erat, secara alami memijat dan menyedot seluruh batangnya dari pangkal sampai ke ujung. Terus setiap kali Issa memberikan tekanan kecil atau menggeser pinggulnya, ujung kepala kontol Deon yang tumpul langsung nyundul keras di bagian serviks Issa.
“Sempit banget, Issa.. enak… kamu selalu enak buat—mmh! aku.”
“Mainin pentilku.” titah Issa, mulai menggerakkan pinggulnya naik-turun.
Walaupun kedua tangan Deon sepenuhnya diikat, tapi bentangan kedua telapak tangannya masih bisa menangkup kedua dada Issa dalam satu genggaman. Jari-jari kokoh Deon bergerak lincah di atas permukaan dada Issa yang kenyal dan licin karena keringat—kayaknya program MBG alias ‘Makan Bareng Gideon’ berhasil karena dada Issa makin kenyal dan empuk.
Jempol dan telunjuk Deon mengapit kedua pentil Issa yang udah keras, memilin dan menariknya kecil sesuai ritme gerakan Issa di atasnya. Kuku-kukunya yang sedikit panjang sengaja Deon pakai buat ngegaruk pelan ujung pentil Issa yang sensitif.
“Unghh! G-geli, sayang… jangan digarukin kayak gituhh…” Issa melenguh kencang, tubuhnya tersentak di atas perut Deon.
Bukannya berhenti, jepitan dan garukan kuku Deon di putingnya malah makin menjadi-jadi, Issa jadi sedikit nggak fokus. Pinggul Issa yang dari tadi ngulek sesuai tempo langsung berubah jadi berantakan, memompa asal-asalan kontol Deon ke dalam memeknya.
Deon menelan ludah kasar waktu lihat dada dan puting Issa yang membengkak karena terus-terusan diremas dan digaruk. Dia jadi pengen nenen.
Oleh karena itu, Deon memanfaatkan kekuatannya buat bangun dari posisi tidur, kedua tangannya yang terikat langsung mengalung ke belakang punggung Issa dari atas, makin mengikis jarak di antara mereka.
“Ahmm..”
Deon melumat puting Issa yang udah merah membengkak dengan rakus kayak bayi kelaparan. Mulutnya yang hangat terbuka lebar, melahap seluruh area areola Issa yang sensitif masuk ke dalam mulutnya, terus dikenyot kuat-kuat sampai kedengaran suara basah.
“Mmh! Kencengin lagi ngenyotnyahh… lagi, lagihh.. Anjing, enak banget sayang—aahhh!” lenguh Issa keras, kepalanya mendongak pasrah sambil dia nangis karena keenakan.
Lidah Deon juga ikut kerja, menjilat dan menyapu ujung puting Issa yang mengeras dan bengkak. Deon mengenyot puting itu dalam-dalam, giginya ikutan ngejepit dan menarik pelan puting, bikin tubuh Issa gemetaran di atasnya—persis kayak waktu tadi dia makan memek.
Tiap kali Deon kasih isapan yang kuat sampai pipinya ikutan kempot, Issa secara otomatis merespon dengan kencengin jepitan lubang memeknya di bawah. Memeknya kedut-kedut hebat tiap urat di sepanjang kontol Deon ngegaruk dinding memek yang ketat dan becek.
“Mphh…! haahh.. Issa, ketat banget memeknya, Sayang… jepit terus kayak gitu.” erang Deon di sela-sela jilatannya, suaranya serak dan basah.
“Enak aku jepit-jepit gini?”
Kepala Deon mengangguk frustrasi. Dia udah di ujung banget. “Pengen ngecrot.”
Satu kata yang terakhir keluar dari mulut Deon bikin Issa berhenti gerak. Pinggulnya yang tadi mau dihentak turun otomatis berhenti, membiarkan kontol Deon yang makin membengkak sensitif tertanam diam di memeknya.
“Sayanggg…” entah udah berapa kali Deon merengek hari ini gara-gara kesabarannya diuji. Kontolnya jadi sakit tau!!
Issa malah tersenyum nakal. Tubuhnya naik sempurna, melepas tautan tubuh mereka di bawah. Dia keluar dari kungkungan Deon kemudian berbaring dengan santai di atas kasur, kedua pahanya ditekuk sampai mengangkang lebar tepat di depan wajah Deon. Tangan Issa merayap turun ke selangkangannya, menjamah memeknya sendiri yang makin ngowoh bolong, kelihatan merah dan becek karena nggak ada lagi batang besar yang menjepit di dalam sana.
Deon bergerak mendekati pacarnya tapi malah ditahan. Jurus andalannya kembali dikeluarin: mata sayu yang menatap Issa memohon dan bibir bawahnya yang dibikin manyun sekian senti.
“Udah nggak mempan, Deon sayang. Kan tadi aku juga udah bilang, nggak boleh crot sebelum aku puas. Nurut bisa kan?”
Deon nggak punya pilihan lain selain nurut. Kepalanya nunduk sedih, menatap kontolnya sendiri yang masih tegang memerah, mengkilap berlumuran pre-cum dan lendir memek, dia bener-bener tersiksa karena lagi-lagi digantung.
“Sayang, lihat ke sini.”
Deon yang tadinya cuma bisa pasrah meratapi nasib kontolnya yang tegang langsung mendongakkan kepala. Dan pemandangan pertama yang menyambut matanya bener-bener sukses bikin napas Deon berhenti seketika.
Issa lagi colmek di hadapannya.
Jari-jari lentik Issa mulai menggosok-gosok bibir memeknya sendiri, pelan-pelan menyelipkan kombinasi jari tengah dan jari manis masuk ke dalam lubang. Sambil kedua jari itu menggeliat keluar-masuk di lubang memek, Issa mengarahkan jari tangannya yang lain ke itilnya, mengapit pakai ujung jempol dan jari telunjuk, dicubit-cubit dan diputar-putar. Suara koclok-koclok tercipta dari gerakan tangan saking benyeknya.
Bibir Issa sedikit terbuka, mendesah pelan menikmati sentuhannya sendiri sambil matanya menatap lurus ke arah Deon, sengaja bikin pacar brondongnya makin tersiksa karena nggak dibolehin buat sentuh dia.
“Anghh… A-ayon, lihat.. memek aku masih bolong gede gara-gara kontol kamu…” lenguh Issa. Kedua sisa jari selain jempolnya perlahan ikut menyelip masuk ke dalam memek, “…jadi muat empat jari.”
Deon menelan ludah kasar. Jakunnya naik-turun brutal dengan urat-urat di sekujur tubuhnya yang makin menegang kaku. Nontonin pacar cantiknya mendesah nikmat karena jarinya sendiri bikin kontol besar Deon berdenyut makin kencang, meneteskan pre-cum lebih deras sampai membasahi perutnya sendiri saking sange kepalang.
Clok.. clok.. clok..
Issa makin mempercepat kocokan jarinya. Ujung-ujung buku jarinya yang terus-terusan menyundul benjolan g-spot dan kucekan di itilnya berhasil bikin badannya gemetaran sampai-sampai pantatnya beberapa kali terangkat dari kasur.
“Ohh, oh! Sayang, aku mau pipis lagihh.. Pipis, pi—mngahh!” Issa memekik histeris, tubuhnya langsung melenting kaku dan jari-jarinya langsung terlepas. Memeknya muncratin pipis dengan deras sampai nggak sengaja nyipratin muka Deon.
Deon yang kena semburan hangat itu mau nggak mau merem sebentar sambil menggeram rendah, suaranya berat malah mirip orang sakau. Begitu dia membuka mata, dia bisa liat memek Issa yang masih berkedut-kedut pasrah, ngeluarin sisa-sisa tetesan pipis terakhir dan lelehan lendir putih di antara paha mulusnya yang lemes gemeteran.
“Udah puas sekarang?” tanya Deon sambil mendekat. Issa yang masih ngos-ngosan rada sedikit ngawang mengangguk, pipinya ditempelkan dan diusak-usakkan di telapak tangan Deon. Issa juga bisa ngerasain paha dalamnya dipijat lembut.
Eh?
“Sekarang giliran aku ya.”
“Hngg? Maksudnya apa—AAAHHH!”
Satu, Issa nggak tahu kapan Deon berhasil melepas ikatannya. Dua, dia kayaknya saking fokus colmek sampai nggak ngeh Deon udah ikut telanjang.
Kalimat Issa langsung berubah jadi pekikan histeris waktu Deon tanpa aba-aba langsung mengangkat sebelah paha mulusnya tinggi-tinggi, lalu dengan satu sentakan pinggul yang brutal dan dalam, Deon menumbukkan kontolnya ke dalam memek yang masih cengap-cengap. Yang lebih muda nyaris aja menyemburkan spermanya karena sensasi jepitan dinding pasca orgasme.
“Ah! Ah! Tunggu.. b-bentar, aku baru aja crot… Gideonhh…” Issa menepuk-nepuk lengan Deon yang mengungkungnya erat. Dia nggak tahan dengan overstimulasi berturut-turut.
“Nggak mau.”
Deon meraih kedua pergelangan tangan Issa dan menahannya di atas kepala dengan satu tangan. Cengkeramannya kuat menunjukkan dominasi, berhasil membuat Issa kembali merasa “kecil”.
“Tadi katanya aku harus nurut, kan? Sekarang giliran kamu yang harus nurut. Nggak boleh tidur sebelum aku puas.” bisik Deon tepat di telinga Issa, napasnya yang panas memburu bikin Issa sedikit merinding tapi justru tambah sange.
Issa pasrah. Toh, dia sendiri juga udah nebak hasil akhir dari permainan yang awalnya dia pimpin. Kedua kakinya memeluk pinggang Deon, mengunci dan memperdalam sodokan di lubangnya. Nggak mau menyia-nyiakan kesempatan, Deon langsung mundur sampai cuma ujung kontolnya yang tersisa di lubang memek, lalu menyentak dalam satu hentakan kuat.
“Mentok… ‘ntol Ayon m’ntokhh..! Enyakh..” rintihan Issa mulai terdengar inkoheren, kesadarannya udah terbang entah ke mana gara-gara rahimnya yang terus-terusan digempur tanpa ampun.
Kedua mata Issa menggulir ke atas sampai cuma kelihatan bagian putih, bibirnya terbuka lebar, membiarkan lidahnya menjulur keluar. Melihat pemandangan di bawahnya, gairah Deon makin meledak sampai ke ubun-ubun. Dia menunduk, manyambar dan mengisap rakus lidah Issa ke dalam mulutnya sendiri.
Deon mendongak sedikit, napas memburu panas di depan wajah Issa yang teler dan berantakan. Pinggulnya menekan dalam, sengaja nahan di sana sebentar, mengulek g-spot Issa pake kepala kontolnya dengan gerakan memutar yang bikin Issa langsung makin histeris.
“Enak aku mentokin gini, hm? Aku entot sampe besok, memeknya aku—anghh.. penuhin pake peju. Mau?” gumam Deon di depan bibir Issa.
Issa nggak menjawab, cuma menganggukkan kepala lemas sambil terus mendesah.
“Jawab pake mulut, jangan dipake buat ngedesah doang. Bisa ngomong kan?”
Issa merengek. “Mau… mau ngentot sama Ayon terushh… mau sampe pingsan…”
Tanpa babibu lagi Deon langsung menuruti permintaan Issa. Gerakan pinggulnya berubah jadi brutal dan konstan. Deon menarik batangnya mundur hampir keluar, terus menghantam masuk lagi dengan cepat dan tepat sampai suara tamparan daging terdengar nyaring, menumbuk g-spot tanpa ampun.
Plok! Plok! Plok! Plok!
“Ahh… ahh… ‘nyakk! Nguhh..! Lagi, di situhh…!”
Di sela sodokan brutalnya, pandangan sayu mata Deon jatuh ke ketiak Issa yang terbuka lebar. Kulitnya yang mulus dan bersih mengkilap karena basah keringat, baunya yang khas bercampur wangi tubuh Issa bikin libido Deon melonjak. Dia ngeces.
Oleh karena itu Deon merunduk, menjulurkan lidahnya yang basah dan lebar buat ngejilat ketiak mulus Issa di setiap lekukannya. Sontak tubuh Issa bergidik geli sekaligus ngerasain gelenyar aneh dari sentuhan di ketiaknya.
“Jangan ketek… mmhh—jorok ah, di situ kotor…” rintih Issa, lengannya menggeliat berusaha ngejauhin ketiaknya dari mulut Deon.
Bukannya berhenti, Deon malah menekankan beban tubuhnya ke atas Issa, menahan pergerakan pacarnya. Dia makin mengisap dan menggigit kulit ketiak Issa, menjilat bulir keringat yang keluar tanpa ngerasa jijik, meninggalkan suara kecap yang basah. Pinggulnya juga nggak ngerem, merogol dengan tempo sedang tapi dalam.
“Mmhh…. kamu wangi banget sumpah, bikin aku makin sange,” erang Deon serak di ceruk leher Issa.
Mulutnya berpindah buat menggigit leher jenjang pacarnya. Sengaja bikin banyak kiss mark di tempat-tempat yang gampang terlihat. Dia mengisap, mengulum, dan menggigit titik-titik yang dia rasa nggak bakal bisa ditutupin pakai baju.
“Sayang.. lepasin tangan aku.. Mau peluk, mau cium kamu,” lirih Issa di sela isakannya, lengannya langsung memeluk leher Deon erat begitu genggamannya dilepas.
Bibir mereka kembali menyatu, kali ini lebih dalam dan menuntut. Issa mengeratkan pelukan tangan dan kakinya di tubuh Deon, mengerahkan sisa-sisa kesadaran dan tenaga yang dia punya buat mempererat tautan tubuh mereka, nggak mau ada sekian milimeter pun ada jarak di antara mereka.
Deon bisa ngerasain tubuh Issa yang mulai makin lemas dan pasrah di pelukannya. Makanya sambil terus melumat habis bibir manis pacarnya, Deon memperdalam sodokannya. Merogoli lubang memek Issa yang udah super becek dan longgar dengan hentakan-hentakan pendek yang mentok ke serviks.
Nggak cuma sampai di situ, satu tangannya yang tadi mencengkeram pinggang Issa kini ikut turun ke bawah. Jempolnya yang besar meraba di antara selangkangan mereka yang kuyup, mencari itil Issa yang membengkak dan super sensitif buat dikucek dan dicubit-cubit, bikin Issa makin menjepit.
“Anghh… Sayang, m-mau crot.. nggak tahan lagi—huuhhh…” Issa mulai meracau nggak jelas menjelang pelepasannya yang makin dekat.
“Keluarin, Sayang.”
Satu titah keluar dari mulut Deon sambil tangannya berpindah dari itil ke perut bawah, menekan dalam sembari sodokannya yang makin presisi di g-spot. Kontol Deon menusuk begitu dalam sampai-sampai di perut rata Issa muncul tercetak ujung kontol yang timbul-hilang.
Lalu benang pertahanan terakhir Issa putus.
“NGUUHHH…! A-ayon.. aku keluar—nghahh… ‘mpish lagihh…”
SYUURR SYUURR!
Bucat paling besar dan berantakan Issa di siang itu. Lubang memeknya yang ngowoh langsung menyemburkan cairan bening, muncrat dengan deras sampai bikin dada dan tangan Deon ikut basah. Semburan itu keluar barengan sama dinding rahimnya yang makin menjepit dan menyedot kontol Deon yang nggak berhenti menyodok.
Deon yang juga udah di ujung menggertakan gigi, urat-urat di lehernya mencuat waktu dia merasakan kontolnya kayak mau meledak.
“Kamu mau aku—shh.. asu rapet banget cok, crot di mana?” Issa berbisik, suaranya udah abis setelah mendesah dan teriak terlalu lama.
“Dalem… please hahh… crot di memekku..”
Mendengar izin yang udah diberikan dari Issa, Deon langsung menghantamkan pinggulnya untuk terakhir kali sampai mentok, menekan pahanya erat-erat tanpa ada celah.
“Mmhh… telen semua pejuku, Kak.”
Di dalam memek Issa yang masih kontraksi, kontol Deon menyemburkan lahar pejunya yang kental, putih, dan hangat dalam jumlah yang… wow, banyak banget. Cairan mani itu mengucur deras, langsung menembak dan membanjiri bagian terdalam rahim Issa sampai penuh dan meluber di antara paha mereka yang udah basah kuyup berantakan.
Issa memekik tertahan, punggungnya melenting indah di tengah semburan peju yang memenuhi memeknya. Napasnya yang terengah beradu dengan deru napas panas Deon di atasnya. Namun di tengah-tengah nikmat pasca orgasmenya, tubuh Deon mendadak kaku.
Perut bawahnya yang tadi menegang kaku pas keluar peju, sekarang malah kerasa makin penuh dan melilit. Gara-gara dari tadi nahan sange ditambah pijatan di kontolnya, kandung kemih Deon udah nggak bisa diajak kompromi lagi.
“Deon, kenapa badan kamu tegang?” tanya Issa parau, sebelah tangannya mengelus-elus telinga pacarnya yang semerah tomat, berusaha menenangkan.
“A-aku…”
“Hm?”
“Aku… kebelet pipis,” gumam Deon lirih nyaris nggak terdengar.
Kedua mata Issa membola mendengarnya, disusul dengusan tawa yang lolos dari bibirnya.
“Yaudah pipis aja.”
“Lepasin dulu tapi ini peluknya..”
Kepala Issa memiring heran. “Kamu mau ke toilet?” tanyanya dengan nada sarkas.
“Terus mau keluarin di mana la—Issa… kok malah dikencengin kakinya..”
“Pipisin aku. Sekarang.”
“T-tapi nanti kamu bisa sakit, Sayang.”
“Aku sama kamu sama-sama sehat, Deon. Nggak papa, keluarin aja.”
Deon menggigit bibirnya ragu setelah mendengar ide gila Issa. Dia kebelet pipis pake banget, dan harus dikeluarin sekarang juga tapi di sisi lain, permintaan Issa yang pengen dia buat pipis di dalamnya bikin nyalinya tersulut.
“Ayo, Deon. Bisa, keluarin di memekku.” bisik Issa lalu mencium daun telinga Deon. Dia bahkan sengaja kedutin memeknya pelan, seolah mengundang dan membuka jalan lebar-lebar buat apa pun yang bakal Deon tumpahin.
Pertahanan Deon pun runtuh. Kontolnya yang masih tertanam di memek Issa perlahan mulai mengucurkan cairan yang lebih encer, memenuhi rongga di dalam yang masih berdenyut. Kencing Deon langsung bercampur jadi satu dengan sisa peju kental yang masih ada di dalam, menciptakan sensasi hangat, penuh, tapi aneh di dalam perut bawah Issa yang jadi sedikit membuncit karena terlalu penuh.
“Sshh… Kakak, maaf… maaf aku jadi pipis di dalem Kakak..” desis Deon, menenggelamkan wajahnya di dada Issa dengan perasaan malu.
“Shushh… nggak papa, Sayang. Maaf juga ya, tadi aku udah nahan-nahan kamu.” balas Issa sambil mengelus rambut Deon.
Yang lebih muda menggeleng. Kepalanya sedikit mendongak, matanya mengintip Issa yang tersenyum lembut padanya.
“Aku sayang Kakak.” bisiknya, tulus.
“Aku juga sayang Deon.” Bibirnya mengecup dahi Deon lembut.
Puas bermanja-manja dengan sang pacar, Deon perlahan menarik tubuhnya tegak. Sesaat setelah tautan tubuh mereka terlepas, Deon bisa lihat cairan pelepasan mereka yang bercampur di dalam keluar dengan deras dari lubang Issa, membanjiri paha mulus pacar cantiknya dan menggenangi kasur.
Deon menelan ludah kasar.
“Kenapa.. mau lagi?” tanya Issa sambil mengikik.
Spontan Deon menggeleng panik. “Enggak! Udah, udah dulu hari ini. Nanti kamu kecapekan, Sayang.”
“Yahh… padahal aku mau lagi.”
“Isaiah…”
Issa langsung ketawa ngakak. “Oke oke, maaf. Yang tadi nggak beneran sumpah. Badan aku bisa-bisa remuk.”
Deon mendengus geli, langsung menyelipkan tangannya di bawah punggung dan lutut Issa, mengangkat tubuh pacarnya seringan kapas ke dalam gendongan, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Di kamar mandi, Deon mendudukkan Issa dengan perlahan di dalam bathtub, lalu menyalakan keran air hangat. Dengan telaten, Deon membasuh seluruh tubuh Issa, mulai dari rambutnya yang agak lepek, mengelap sisa air liur dan keringat, sampai ke area selangkangan dan paha dalam Issa dari sisa-sisa peju dan pipis sampai bener-bener bersih tanpa sisa. Yang lebih tua cuma bisa pasrah memejamkan mata, menikmati sentuhan kenyamanan dari afeksi setelah permainan brutal mereka.
Setelah Deon selesai memandikan Issa juga dirinya sendiri, dia mengeringkan tubuh Issa dengan handuk, memakaikan baju tidur untuk Issa dan dirinya, lalu menggendongnya kembali ke luar dan mendudukkannya di sofa ruang tengah.
“Sebentar ya, Issa. Aku ganti seprai kasurnya dulu.” ucap Deon sambil mengecup pucuk kepala Issa.
Deon langsung masuk ke kamar, nggak pengen Issa nunggu terlalu lama. Tangannya dengan cekatan mempreteli seprai, sarung bantal-guling, dan bed cover yang udah ketumpahan banyak cairan mereka tadi, lalu langsung membawanya keluar dan memasukkannya ke dalam mesin cuci.
Kemudian Deon kembali ke dalam kamar, Issa yang melihat pacarnya mondar-mandir tertawa kecil. Nggak lama kemudian, Deon akhirnya keluar setelah memasang satu set seprai baru dan menyemprotkan sedikit pewangi biar suasana kamar kembali segar.
“Yuk.”
Cowok Virgo itu kembali menggendong Issa dan membawanya masuk ke dalam kamar. Dibaringkan Issa di atas kasur, diselimutinya dengan selimut tebal yang hangat. Deon sendiri langsung nyusul ikut masuk ke dalam selimut, menarik tubuh ramping Issa ke dalam dekapannya.
“Ada yang sakit, atau pegel? Maaf udah kasar tadi..” Deon bertanya khawatir, satu tangannya yang nggak dijadiin bantal lengan Issa memijat kecil pinggang yang lebih tua.
Issa menggeleng pelan, senyum manis masih terpasang di wajahnya. “Aku nggak papa, Deon. Makasih ya.”
“Beneran? Bilang ke aku ya kalo ada yang nggak nyaman,”
“Iyaa.. udah ah, yuk bobok. Aku ngantuk. Bangunin aku pake beef noodle nanti malem.”
Issa merangsek masuk ke pelukan Deon lebih dalam. Kepalanya bersandar dengan nyaman di dada yang lebih muda, detak jantung jadi lagu pengantar tidurnya. Bagi Issa, pelukan Deon itu kayak pelukan teddy bear. Hangat, aman, dan nyaman. Nggak ada pelukan yang sehangat milik Deon di dunianya—selain pelukan mama.
“Hahahaha! Oke, Sayang. Nanti aku masak yang banyak.”
Nggak ada sahutan. Tanda Issa udah tidur lelap.
Deon mengeratkan pelukannya, mengusap punggung Issa dengan lembut sambil berusaha mengumpulkan kantuknya sendiri.
“Thank you, Isaiah.. for everything. I love you, always.”
