Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-28
Words:
3,105
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
82
Bookmarks:
1
Hits:
2,084

atasan_sama_bawahan.mp4

Summary:

Sadewa sempat mengirimkan foto tidak senonoh pada Bima, hingga tuan yang lebih muda tidak bisa fokus. Hal tersebut membuat mereka akhirnya lanjut pada sesuatu yang lebih serius.

Notes:

find me on x : @carcualatte

Work Text:

Mendapat pesan singkat tersebut di jam sepagi itu membuat Bima menelan ludahnya dengan kencang, sampai-sampai Yudistira meliriknya dengan khawatir. Pendingin ruangan juga tidak lagi terasa dingin dan cenderung panas, bahkan Bima merasa pakaiannya yang tidak tebal ini membuatnya gerah. Sialan juga foto atasannya itu, bisa-bisanya sang tuan menggunakan pakaian dalam wanita berwarna merah muda itu untuk menggodanya. Walau ya, memang betul juga tuan itu karena ia berhasil terpancing nafsunya. 

 

Aduh, sial. Bima sama sekali tidak bisa fokus seperti ini. 

 

Sejak pertemuannya dengan Sadewa dan bekerja di kantor ini, jarang sekali ia bisa fokus. Mulai dari sang tuan yang tiba-tiba menyepong kontolnya, dirinya yang mengetahui bahwa sang tuan memiliki memek, hingga sekarang ia diperlihatkan tubuh montok sang tuan seperti ini. 

 

Foto tubuh montok Sadewa? For free? Ia masih tidak percaya juga.

 

Saking tidak fokusnya, Bima pun langsung berlari ke kamar mandi. Dirinya masuk ke dalam salah satu bilik sambil mengocok kontolnya pada foto tidak senonoh itu. Lekukan tubuh dengan pakaian dalam warna merah muda itu sangat menggoda hasratnya. Ia membayangkan pentil Sadewa yang ditindik bertambah sensitif seiring dirinya jilat untuk memancing tegangnya pentil tersebut, tak lupa dengan memek basah dan itil bengkaknya—semua pikiran itu membuat Bima mempercepat kocokan kontolnya, hingga akhirnya ia pun mengeluarkan pejunya di atas ponsel yang menampilkan foto tersebut. Berat ia rasakan karena menginginkan sesuatu yang lebih dari menyemprotkan cairan spermanya ke benda mati tersebut. 

 

Deru nafasnya berantakan, Bima terdiam sebentar sesaat menyadari perlakuan tidak pantasnya ini. Sudah dua kali ia melakukan dengan atasannya ini, tapi rasanya selalu ada yang kurang. Ia merasa tidak tahu harus berekspresi bagaimana jika dirinya harus menghadapi sang atasan yang ada selalu ada kejutannya itu. 

 

 

Keesokan harinya, Bima baru mengetahui bahwa jadwal penerbangan Sadewa berbeda dengan rekan kerja yang lainnya karena ia akan terbang dari Bali di siang hari, berbeda dengan rekan kerja yang memutuskan untuk kerja sesuai dengan tiket yang dipesan dari kantor. Toh, mereka tidak ada jadwal atau keharusan kembali ke kantor dan bekerja, maka Sadewa mungkin menggunakan waktunya untuk bersenang-senang.

 

Keringat dingin pula Bima menunggu Sadewa untuk menghubunginya karena ia tidak lagi tahu bagaimana untuk memulai percakapan tersebut setelah diberikan foto tidak senonoh tersebut, walau ia yakin pasti atasannya akan menertawakan perlakuannya itu. Lagipula, atasan seperti apa yang berpikir untuk mengirimkan foto tersebut tanpa maksud tertentu kan? Namun setelah ia mendapatkan pesan dari Sadewa, akhirnya ia memberanikan diri untuk memulai perjalanannya menuju bandara. Di sela perjalanannya, tiba-tiba saja Bima mendapatkan notifikasi dering dari sang tuan. 

 

“Bim, saya sudah di lobby ya.”

“Oke, mas. Saya baru mau masuk ke bandara juga.” 

“Agak cepat ya Bim, saya ngantuk.”

“Baik mas.”

 

Benar saja, sang tuan berada di tempat sesuai yang dijanjikan sehingga Bima tidak perlu butuh waktu lama untuk menemuinya. Di saat itu, jam menunjukkan pukul dua siang—panasnya area bandara menyilaukan—hingga ia bisa melihat Sadewa dengan kacamata hitam, flanel dengan warna hitam-kuning, serta celana pendek cokelat. Melihat penampilan ini rasanya berbeda mengingat dirinya biasa bertemu dengan Sadewa dengan tatanan rapi yang membalut dirinya dengan kemeja dan jas. Bima pun memberhentikan mobilnya dan membuka kaca mobil kursi penumpang untuk menyapa sang tuan. 

 

“Mas Dew, ada yang butuh dibantu gak?”

“Gak usah, buka bagasi aja.”

“Udah ya mas.” 

 

Sadewa pun memasukkan barang bawaannya—satu koper besar dan satu kardus kecil oleh—sebelum akhirnya mengisi kursi penumpang di samping Bima. Sadewa melepaskan kacamata hitamnya, memasukkannya pada tas kecilnya, lalu ia mulai mengajak Bima berbicara. 

 

“Makan siang dulu ya Bim, saya belum makan.” Pintanya sambil Bima mengarahkan mobilnya ke pintu bandara. 

 

Mendengar hal itu, Bima pun menganggukkan kepalanya. “Mau makan dimana mas? Mau di deket sini apa ke kota dulu?” Pertanyaan tersebut membuat Sadewa jadi bertanya-tanya, memikirkan menu makan siang apa yang cocok untuk dinikmati di hari yang panas ini. 

 

“Di kota aja deh. Eh, tapi kau mau makan kayak japanese food gak Bim? Dari kemaren sama klien western food mulu. Aman gak?”

 

Bima menganggukkan kepalanya. “Boleh mas, arahin aja ini kita kemananya.” Sadewa akhirnya mengarahkan tujuannya sesaat mobil sudah mulai mengarah ke pusat. Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak berbicara, namun berbagai alunan lagu senantiasa bermain untuk menemani perjalanan mereka.

 

Sama halnya seperti sebelumnya, mereka juga tidak banyak bicara saat menyantap makanan itu. Entah karena canggung, atau apa—Sadewa dan Bima benar-benar menghabisi makanan mereka tanpa berbincang diluar hal yang butuh diperbincangkan oleh mereka. Saking tidak adanya es yang dihancurkan, tiada pula hal yang bisa mereka bicarakan selain Sadewa yang harus memberitahukan alamat apartment-nya itu.

 

Setelah makan siang, Bima pun tanpa babibu mengarahkan setirnya menuju kediaman Sadewa. Disitu, dirinya yang sebenarnya ingin pulang setelah mengantarkan sang atasan malah ditahan untuk pulang.

 

“Kau mau balik ke kantor kah, Bim?” Tanya Sadewa disela menurunkan koper nya dari mobil Bima.

 

“Iya mas, kenapa?”

 

Entah apa yang ada di pikiran Sadewa hingga ia meminta—atau lebih tepatnya seperti berharap pada Bima. “Jangan ke kantor, ya? Temenin saya dulu.”

 

Ah, padahal Bima ingin cepat-cepat pulang karena takut masih terbayang dengan pakaian dalam merah muda itu.

 

“B-baik mas kalau gitu. Saya bawakan aja kopernya.” Sadewa pun mengangguk, akhirnya ia menjadi penunjuk jalan bagi Bima yang membawa koper serta tas miliknya. 

 

Sadewa mempersilakan Bima masuk ke dalam apartment-nya, sebuah space yang cukup besar untuk seorang bujangan seperti sang tuan tapi masuk akal apabila ia memiliki posisi atasan dengan gaji dua digitnya. Bima akhirnya meletakkan koper serta tas tersebut di tempat yang ia anggap pantas, lalu mendudukkan dirinya di sebuah sofa berwarna cokelat dan berdiam diri—ia takut salah tingkah—mengingat ia sedang berada di kediaman sang atasan. 

 

Mungkin, tegangnya Bima disebabkan oleh foto yang Sadewa kirim. Memperhatikan tubuh sang atasannya terasa seperti sebuah perilaku tidak senonoh yang seharusnya dihindari, bukan ia lakukan. Walau begitu sepertinya Sadewa belum sadar akan perilakunya yang benar-benar merusak cara berpikir sang tuan. 

 

“Bim, mau minum dulu gak? Istirahat aja dulu kamu disini, temenin saya, baru nanti malam baru pulang.” Ujar Sadewa yang sibuk membongkar kardus berisi oleh-oleh. 

 

Bima hanya bisa mengatakan iya, namun tidak banyak yang bisa keluar dari belah bibirnya. Hal ini akhirnya disadari oleh Sadewa. “Bim, kamu kenapa? Kok tegang gitu?” Sang tuan yang bertanya akhirnya duduk dan mulai menghampiri tuan yang lebih muda. 

 

“A-ah… Gak apa-apa kok mas.” 

 

“Kamu serius, Bim? Bukan karena kepikiran foto saya?” 

 

Bima menelan ludah. 

 

Tebakan Sadewa ada benarnya. 

 

Bima tidak berani untuk menatap Sadewa, apalagi lekukan tubuh sang tuan yang lebih tua itu. Ia berusaha untuk menahannya, cuma sepertinya sia sia karena atasannya memang meminta untuk ‘ditemani’ juga, kan? 

 

Tuan yang lebih tua itu akhirnya berpaling kepada Bima, langkahnya mendekat—sedikit membuat dirinya tegang—mungkin sebagaimana batang kontolnya yang berdiri karena memikirkan tubuh montok milik Sadewa. Senyum pun muncul dari belah bibir yang lebih tua, dengan gemas dibuatnya saat menatap wajah panik milik Bima. Dengan perlahan, kedua tangan Sadewa memijat pundak milik yang lebih muda dengan maksud agar sang tuan tidak lagi merasakan tegang. 

 

“Bima,” bisiknya perlahan. “...Dua minggu gak ketemu saya… Kangen gak?”

 

Pertanyaan yang membingungkan. Kalaupun Bima kangen, memangnya apa hubungan mereka? Tapi sejujurnya, Bima memang merindukan eksistensi Sadewa—mungkin diluar sebagai seorang atasannya—namun memang bagaimana sang tuan memandang dirinya itu? 

 

“Kangen, mas.” 

 

Sadewa sedikit terkejut, tapi disaat itulah ia mengambil kesempatan untuk duduk di pangkuan Bima dan membawanya ke dalam sebuah ciuman. Sebuah ciuman yang tak pernahnya mereka lakukan sekali dalam hubungan persetubuhan mereka. Toh, mereka hanya sepasang tuan yang bertukar kasih karena mereka ‘membutuhkan’ bukan sepasang kekasih di dalam sebuah hubungan percintaan, untuk apa mereka berciuman—bahkan bertukar lidah, kan? Walau sekarang, sepertinya rasa yang mereka keluarkan untuk satu sama lain merupakan sesuatu yang berbeda—bukan lagi hanya sebuah keinginan untuk dipuaskan satu sama lain—melainkan cinta. Mereka menginginkan sesuatu lebih dari sebuah hubungan tanpa status jelas ini. 

 

Sadewa sangat kewalahan mendapati ciuman yang Bima berikan—ia benar-benar sangat nafsu, tidak tertolong pula sensasi akan hal itu. Ciuman tersebut pun dilepas paksa, meninggalkan jalinan air ludah diantara keduanya. Wajah Sadewa pun memerah, sementara Bima menunjukkan wajah penuh nafsunya—ia ternyata tidak kuat setelah digoda sedemikian rupa—ia harus cepat-cepat menyelesaikannya. 

 

“Mas, izin ya?”

“I-iya Bim.” 

 

Dengan gesit, Bima pun mulai mengganti posisi mereka. Sadewa yang semula ada di pangkuannya ia putar balik—meletakkan tubuh sang tuan di atas sofa yang semula ia duduki—kedua paha sang tuan pun dibukanya dengan lebar, bahkan sempat pula ia langsung menelanjangi bagian celananya—menunjukkan memeknya yang masih dibaluti dengan sebuah celana dalam warna merah muda, persis seperti foto yang ia terima kemarin hari. 

 

“Ini… Sengaja ya? Mas sengaja mau godain saya ya?” Sadewa tidak bergeming, namun jelas semua terlihat dari bagaimana semburat merah mewarnai wajahnya. 

 

Bima akhirnya membuka paksa baju atas milik Sadewa, menelanjanginya untuk lagi-lagi menyisakan bra perempuan yang senada dengan celana dalamnya. Sama seperti foto yang ia terima. Bima hanya bisa menelan ludahnya. Tubuh pria kekar seperti milik Sadewa memiliki sebuah memek dan sekarang memberikannya sebuah pemandangan nan seksi gratis di hadapannya. 

 

“Mas pasti sengaja, kangen banget ya sama Bima? Memeknya sampai kesepian gak diisi kontol, jadinya ngasih foto begitu.” Entah kenapa ucapan kotor tidak manusiawi yang keluar dari Bima malah membuat Sadewa makin terangsang, ia dapat merasakan klitorisnya menegang. 

 

Tanpa banyak bicara, Bima akhirnya turun ke bawah, menanggalkan celana dalam yang semula dipakai dan mulai menggoda belahan memek sang tuan—sesekali ia mainkan dengan jarinya, menggesekkannya perlahan, memijatnya pula dengan penuh tenaga bersamaan dengan desahan milik Sadewa yang keluar bak musik baginya. Jari jemarinya pun dengan lincah menggoda sekaligus memberikan friksi enak kepada tubuh bagian selatan milik Sadewa. 

 

“Enak mas memeknya dimainin? Kangen ya sama jari Bima? Biasanya mas yang minta dan tuntun, sekarang izinin Bima yang mainin ya? Begini.” Jarinya membuka lipatan memek tersebut, lalu ditiupnya perlahan agar menimbulkan sebuah sensasi geli yang otomatis membuat Sadewa mabuk kepayang. 

 

Memek sang tuan terasa sangat geli bercampur nikmat, kepalanya tidak lagi dapat berpikir setelah mendapatkan serangan sedemikian rupa oleh Bima. Terlebih saat kedua belah bibir tuan yang lebih muda itu mulai menjilat serta menghisapnya dengan penuh semangat. Suara becek serta desahannya pun terdengar jelas di ruangan tengah tersebut, senonoh sekali suaranya. Sadewa bahkan tidak menyadari bahwa tubuhnya dapat mengeluarkan suara seperti itu. Bima dengan fokus terus menjilati vagina sang tuan dengan penuh semangat, sesekali kedua netranya juga melihat ke arah tuan yang lebih tua—menampilkan wajah dengan semburat merah serta wajah yang penuh rasa keenakan. 

 

“Sssshh… Bim—Nghhh… Enak banget Bim lidah kamu…”

“Iya ya, enak? Terus mau apa kalau enak, hmm? Mau dijilatin terus memeknya sambil dicolok sama jari ku kayak gini? Iya enak ya?” 

 

Seiringan itu, Bima sibuk memasukkan satu jari ke dalam lubang memeknya—bersamaan dengan dirinya yang mulai menghisap klitorisnya pula—menyebabkan sang empu sibuk bergerak tidak nyaman, bergelinjangan di atas sofa dengan tidak karuannya. Matanya sesekali melihat ke atas seakan mengharapkan pertolongan karena dirinya benar-benar di mabuk kepayang setelah merasakan sensasi gila seperti ini. 

 

Tiba-tiba saja ia dapat merasakan otot memek sang tuan menyempit saat ia memainkan jarinya, namun malah ia paksakan terus menerus dengan pergerakan maju-mundur yang dilakukan oleh kedua jemarinya. Namun, karena tidak adanya peringatan yang keluar dari Sadewa—memek miliknya seketika langsung memuncratkan cairannya secara asal ke arah wajah Bima—basah dibuatnya wajah tersebut, membuat tuan yang lebih tua pun merasa malu karena telah mengotori wajah setampan itu. 

 

“M-maaf Bim…”

 

“Gapapa mas, enak banget ya berarti memeknya dimainin gitu? Keenakan dong ya di kamu? Gak seharusnya aku biarin keenakan gak sih…? Karena selama ini aku yang digodain terus sama mas.”

 

Sadewa pun menelan ludahnya, lalu mulai berkata. “K-kalau gitu, kamu boleh mainin saya sepuas kamu.” 

 

“Hmmm? Mas yakin? Mas yakin aku boleh mainin mas sepuasnya aku? Gak menyesal kah bicara asal kayak gitu?”

 

Sadewa menggeleng. 

 

“Kalau gitu,” suara dari resleting celana milik Bima pun terdengar jelas, tangannya bergerak mengeluarkan batang kontolnya yang sudah setengah tegak di hadapan Sadewa. “Puasin kontol aku ya, mas?” 

 

Sadewa mengangguk, menjadikan hal itu sebuah sinyal bagi Bima untuk maju—mendekatkan tubuhnya untuk berada di depan wajah sang tuan yang masih menyandarkan dirinya di atas sofa. Perlahan, kontol setengah tegang milik sang tuan yang lebih tua itu berada di hadapan Sadewa—membuatnya menelan ludah—saking tidak terpikir betapa besarnya kontol milik Bima. Tidak hanya itu, Bima juga tidak ada malunya mendekatkan kontolnya ke arah wajah sang atasan—bahkan menempelkannya ke arah mulut sang tuan yang masih tertutup. 

 

Perlahan, Sadewa mulai menggenggam kontol tersebut dan mendekatkannya ke arah mulutnya—menggerakkan lidahnya untuk menyapa—mengenali setiap inci pucuk kontol milik sang tuan—netranya menengadah, menatap wajah Bima yang ikut memperhatikan setiap gerak gerik tuan yang lebih tua itu. Sesekali pucuk kontol tersebut diberikan kecupan manis, seakan menggoda—maupun memperkenalkan setiap sisi dari bagian tubuh tak bertulang tersebut kepada sebuah benda yang kian menegak saat diberikan sentuhan tangannya yang bergerak maju mundur, mengelus batang berurat itu. 

 

Lidah yang kala sibuk menggulir pucuk kontol Bima pun akhirnya mulai menggoda ujung katup dari kontol besar tersebut, membawanya ke dalam sebuah hisapan manis, tidak ingin langsung bergerak dengan sebuah hisapan yang cenderung kasar agar Sadewa bisa menikmati baik rasa dari kontol sang tuan juga ekspresi yang muncul karenanya. Disitulah ia dapat melihat bahwa kontol milik Bima sudah mengeluarkan sedikit pre-cum yang rasanya cenderung asin, tentu bukan sebuah masalah bagi seorang Sadewa yang sudah seringkali menelannya tanpa aba-aba. 

 

Setelah puas bermain dengan jilatan tersebut, barulah Sadewa mulai memperbaiki posisi genggamannya pada kontol tersebut, sebelum akhirnya memasukkan benda tersebut ke dalam mulutnya. Ia mulai bergerak untuk melumati batang kontol tersebut, membalurinya dengan air liur miliknya. Lentik jarinya pun kian memberi pijatan pada batang tersebut selagi masih sibuk meliukkan lidahnya di sekitar urat yang dapat ia rasakan di kontol milik Bima. Perlahan, ia pun menggerakkan kepalanya maju-mundur untuk memperdalam hisapannya pada kontol tersebut membuat pemiliknya mulai mendesis karena mulai merasa keenakan. 

 

Pergerakan tersebut ia lakukan dengan semangat, membuat suara erangan Bima makin terdengar jelas—menjadi sebuah suara indah untuk Sadewa yang mendengarnya. Namun, karena tidak sabaran—akhirnya Bima mulai menjambak rambut tuan yang lebih tua—mendorong kepalanya agar dapat melahap keseluruhan batang kontolnya hingga sampai kepada pangkal tenggorokannya, tersedak pula dibuatnya karena besarnya kontol tersebut. Sadewa sampai-sampai meneteskan air mata karena terkejut atas pergerakan yang tiba-tiba. Disitulah Bima menahan kepala sang tuan untuk beberapa saat sebelum akhirnya menggerakkannya secara asal, membiarkan tenggorokkan Sadewa terluka karena friksinya tersebut. Wajahnya pun memerah saking tidak kuatnya merasakan sensasi yang membuat tenggorokannya sakit itu. 

 

Sadewa dapat merasakan batang kontol yang kian membesar itu, sedikit panik dibuatnya karena Bima tidak berhenti menahan kepalanya hingga ia sedikit bergerak untuk melepaskannya. Namun, bukannya melepaskannya—kepala Sadewa malah semakin ditahan—seakan tidak diperbolehkan bergerak hingga akhirnya Bima memuncratkan pejunya langsung ke dalam tenggorokan milik tuan yang lebih tua sehingga ia mau tidak mau menelan semuanya. Ketika sudah keluar semua, barulah Bima melepaskan pegangan kasarnya pada sang tuan. 

 

Kedua netra milik Bima sibuk menatap pemandangan di hadapannya, kedua belah bibir Sadewa yang membengkak sehabis menghisap kontolnya sekaligus memek sang tuan yang lagi-lagi penuh lendir dan sedikit sudah mulai melebar. Karena itulah Bima akhirnya membantu Sadewa yang tubuhnya tampak melemah untuk tetap menyandar di atas sofa dengan kedua paha yang diletakkan pada pundak miliknya sebelum mengarahkan kontol miliknya untuk masuk ke dalam memeknya. 

 

Kontol milik Bima akhirnya kembali dilesakkan kepada memek milik Sadewa, ternyata setelah berminggu-minggu tanpa terisi ini membuat sensasinya sangat berbeda saat kontol besar itu mulai menggesekkan memeknya. Pinggulnya pun bergerak perlahan, sangat pelan agar tidak terlalu memaksakan Sadewa. Terlihat jelas pula bahwa Bima sangat berusaha untuk menahan nafsunya yang menggebu-gebu itu, karena pergerakan maju mundur pinggulnya yang terasa sangat ragu-ragu. 

 

“Ahhhng… Bima…” Erang Sadewa sambil mulai melingkarkan kedua lengannya pada lehernya. “Gapapa, gerakin aja… Mentokin kontolnya di memek aku…” 

 

“Santai, mas… Memeknya mas sempit banget karena udah lama gak dipake, enaknya dipake tiap hari kali ya?”

 

“Mmmh… Mau banget dipake tiap hari sama kamu, Bima…”

 

“Serius mas? Sesekali aku rojok memek kamu di tengah meeting ya, biar semua orang tahu kalau Mas Dewa yang satu ini perilakunya kayak lonte.” Ucapan tersebut membuat lipatan memek milik Sadewa menegang. 

 

“Mhm… Mau banget dipanggil lonte sama kamu Bim…” 

 

Dengan ucapan tersebut, Bima akhirnya menggerakkan pinggulnya dengan cepat—melesakkan batang kontolnya ke dalam memek milik Sadewa—membuat empunya terbuai dalam kenikmatan yang berlebih, hingga mengerang tanpa henti. Tuan yang lebih tua benar-benar menyukai bagaimana ujung kontol Bima berhasil mencium ujung rahimnya hingga bentuk batang berurat tersebut dapat terlihat langsung dari perutnya. 

 

Erangan demi erangan serta keringat yang terus mengucur diantara keduanya membuat salah satu dari mereka lelah—dimana Sadewa sudah memuncratkan cairannya berkali-kali—sementara Bima sama sekali belum mengeluarkan pejunya di dalam hingga sekarang mereka berada di posisi dimana tuan yang lebih tua menunggingi tubuh kekar sang tuan yang lebih muda. Disitulah yang lebih muda mulai menarik kedua tangan Sadewa, memaju-mundurkan tubuh yang tidak lagi dapat menahan berdirinya di atas sofa, malahan cenderung tertelungkup sambil berusaha menahan sensasi sodokan yang dilakukan oleh kontol yang lebih muda. 

 

Setelah beberapa kali pergerakan, akhirnya Bima mengeluarkan pejunya di dalam rahim Sadewa, melukiskannya dengan asal hingga membuat sang empu merasa penuh. Dipeluknya pula tubuh tuan yang lebih muda sebelum keduanya berada di dalam sebuah pelukan yang terjadi di atas sofa. 

 

 

Sadewa pun tiba-tiba terbangun di kasurnya, berbeda dari bagaimana ia ingat dirinya terbaring terakhir. Pikirannya langsung memikirkan tentang Bima, bahkan ia baru sadar karena selama ini ia sudah memikirkan sosok tuan yang lebih muda itu. Seringkali secara tidak sadar ia khawatir dengan tuan tersebut. Namun, ia berpikir bahwa mungkin Bima sudah pulang, apalagi mengingat bahwa jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, siapa yang masih ingin menunggunya semalam ini? 

 

Ia pun akhirnya berpakaian, lalu membuat langkahnya berjalan keluar dari kamarnya, hingga ia terkejut. 

 

Ia dapat melihat Bima sibuk menonton televisi selagi menyantap makanan, tampak seperti sesuatu seperti pecel lele dari sebuah warung tendaan. Suara langkahnya ternyata terdengar pula oleh Bima hingga tuan itu menoleh. 

 

“Eh, Mas Dew… Maaf makan gak bilang.”

 

Sadewa pun duduk di samping Bima. Ia merasakan sofa yang tadinya basah karena perlakuan mereka sekarang sudah mulai mengering, walau tidak sempurna. Lalu, kepalanya disandarkan pada pundak Bima sehingga sang empu terdiam. 

 

“Bim, kamu mau enggak makan malam-malam di tempat saya begini?”

 

“...Mau, mungkin? Kan Bima lagi makan disini sekarang.”

 

“Maksud saya… Setiap hari.” 

 

“Apa enggak ngerepotin mas…?”

 

Sepertinya Sadewa lupa kalau Bima juga tetap memiliki sifat polosnya, yang seringkali membuat tuan yang lebih tua itu jengkel sendiri. “Mau jadi pacar saya atau enggak, Bim?”

 

“H-hahh—” Bima terkejut, wajah konyolnya membuat Sadewa nyaris terbahak. “M–mau… Mau!”

 

Sadewa akhirnya menggelengkan kepalanya, mendapati betapa lucunya tingkah sang tuan yang lebih muda itu. Padahal kemarin ia sempat digempur habis-habisan oleh tuan tersebut. 

 

“Kalau gitu, saya dibeliin pecel lele gak?”

 

“Eh, enggak… Aku gak tau mas sukanya makan apa…”

 

“Yaudah gak jadi pacaran.”

 

“EH?! KOK GITU? MASSS!” Wajah Bima berubah panik. “Mas makan aja punyaku, ini baru aku makan sedikit, aku nanti pesan lagi.”

 

Sadewa hanya tertawa menatap perilaku Bima yang sepertinya akan ia hadapi di hari-hari berikutnya atau bahkan selamanya. 

 

SELESAI.