Work Text:
“Kakaaak Yunooo!”
Pekikan kencang si pacar kecil lelaki jangkung itu menyeruak di rungu miliknya, bersamaan dengan rengkuhan erat yang didaratkan padanya sepersekian detik setelah ia masuk dan menutup pintu mobil pacarnya.
Yunho sedang menjemput Wooyoung, kekasihnya, dari parkiran apartemen temannya—baru saja tugas kelompok, katanya. Dan seperti biasa, sudah menjadi job description-nya Yunho untuk selalu menjemputnya kapanpun itu—inisiatif ia sendiri.
Di dalam mobil, mereka berpelukan begitu lama di parkiran bawah tanah hunian bertingkat itu, seakan-akan ini kali pertama mereka bersua setelah sekian lama, walaupun nyatanya tadi pagi mereka sudah bertemu, melakukan hal yang sama, pula.
Dalam dekapan mereka itu, bibir Yunho tidak berhenti menciumi pucuk kepala berwangi vanila khas si pacar kecil, wangi favorit Yunho. Perlakuannya mengundang nduselan dari yang lebih muda, wajahnya perlahan menyeruak di ceruk leher si kakak tingkat—mencari wangi maskulin, favoritnya juga.
Sepuluh menit sudah mereka berpelukan dalam diam, sampai akhirnya embusan napas berat si pacar tinggi menerpa telinga dan leher Wooyoung—kelemahannya.
Dan ia tahu pasti apa maksudnya.
Yunho sedang ingin.
“Jangan di sini kak… Ntar ada yang liat giman-ahh?”
Penolakan itu disertai dengan desahan yang tercipta atas sesapan bibir Yunho yang mulai menjelajahi leher si pacar kecil, sesekali gigitan serta jilatan kecil dilayangkan di sana, tidak memedulikan ocehan dari lelaki cantik di depannya.
“Gak mau, tapi tangannya gak berhenti megangin kontol aku tuh gimana sih, maksudnya, Sayang? Hm?”
Memang tidak jelas maunya si pacar kecil, karena jemari kecilnya itu tak bisa berhenti mengusap kemaluan Yunho yang sudah tegang sejak pertama ia melihat wajah manis si pacar cantik—memang dirinya selalu bernafsu ketika melihat kekasihnya itu. Ia mengerang atas sentuhan Wooyoung, menyebabkan deruan napas di kulit yang lebih kecil terasa lebih intens dan menghangat.
“M-m… T-api takut keliatan o-orang-hh, kak…” ucap si kecil—mengundang dengusan si kakak pacar. Badannya menegang ketika memikirkan adanya kesempatan bagi orang-orang yang berlalu lalang untuk memergoki mereka yang sepertinya hendak melakukan perbuatan yang tidak seharusnya di sana.
“Coba kamu keluar deh, kaca film aku udah gelap banget, Sayang. Baru aku ganti minggu lalu,” jawab Yunho, dapat terlihat sengalan napas menahan nafsunya tersela dari bibirnya, masih sabar membalas protes sang pacar. Memang sudah sangat gelap, sebenarnya, namun masih belum bisa menutupi yang di dalam dengan sempurna—Yunho juga tahu pasti akan hal itu.
Tundukkan wajahnya yang sedari tadi tidak berhenti menjamah kulit per kulit Wooyoung pun dimundurkan sekarang, ingin melihat kekalutan yang mungkin berkecamuk di ekspresinya.
Malah tersenyum menantang, pacar kecilnya.
“Baru-hh? Biar apa digelapin gitu-hh, kak?” ucapnya lagi, nadanya mendayu bak meledek di tengah desahannya, sudah tahu apa jawaban dari pertanyaan retoris itu.
Yunho membalas sunggingan nakal itu dengan seringai yang sama. Ibu jarinya ia usapkan pelan ke ranum merah muda milik si pacar, bisa ia rasakan helaan napas ingin darinya.
“Biar gak ada yang bisa liat kalo aku lagi entot kamu di mobil, lah.”
Dan dengan begitu saja, ibu jarinya telah berganti dengan bibirnya sendiri, mencium asal bibir si pacar cantik yang tangannya masih tak henti mengusap milik pacar tingginya—menggenggam cetakannya dari luar celana sweatpants-nya, menciptakan erangan di tengah cumbuannya. Jemari panjangnya ia daratkan ke tengkuk Wooyoung, menariknya agar pagutannya itu makin dalam.
Pagutannya kasar dan terburu-buru, menciptakan suara decapan berantakan yang bersumber dari pertemuan bibir bersaliva mereka. Yunho tak berhenti mengisap bibir bawah yang lebih muda—salah satu fitur wajah kesukaannya. Tangan kanannya yang terbebas kini menggenggam balik tangan si kecil yang masih meremas-remas kemaluan tegangnya, tak membiarkan tangan si kecil lepas darinya.
Cumbuannya terputus sekarang—ditarik oleh Yunho. Merasa kosong, Wooyoung menatapnya lekat, penuh antisipasi dengan ekspresi ingin yang benar-benar terlihat di wajahnya. Manik coklatnya melirik ke bawah, mengikuti pergerakan tangan berurat Yunho yang tengah menyelipkan jemarinya di bawah karet celana abunya, mengeluarkan penis berurat dan besarnya. Jakunnya bergerak, tanda menelan ludah, seperti tidak siap menerima ukuran itu walaupun benda itu telah menyodok tenggorokannya mungkin ribuan kali, hiperbolanya.
“Sepongin gua, dong.”
Permintaan itu langsung dituruti yang lebih muda setelah ia menumpukan lutut ringkihnya di atas jok. Tubuhnya menungging sekarang, memperlihatkan bagian bawahnya ke jendela samping kiri jok penumpang, mengundang tamparan-tamparan kencang pada bokong sintalnya.
Lenguhan-lenguhan yang keluar dari mulut si pacar kecil akibat tamparan gemas itu terdengar jelas di sana, sembari bibir hangat nan berliurnya itu mulai mengecupi kepala penisnya.
Cairan yang keluar di atasnya ia jilat perlahan, kadang mengusapnya pelan di bibirnya bagai lip gloss.
Mulutnya sudah dipaksa terbiasa oleh si pacar tinggi, karena dirinya sekarang sudah dengan mudah menelan habis penis Yunho, menaikturunkan kepalanya—menciptakan desahan dan geraman rendah dari bibir pacarnya. Sesekali ia mengeluarkannya dari mulut kecilnya, lidah hangatnya pun menjulur, menjilati dari ujung sampai pangkalnya.
Semua itu dilakukan sembari ekspresi binalnya dihadapkan ke Yunho, yang juga tengah menatapnya lekat, sesekali napasnya dibuat tersengal karena perbuatannya. Jemari panjangnya ia daratkan ke surai panjang si pacar cantik sekarang, mengelusnya pelan macam hadiah atas perlakuannya, sebelum jarinya itu mulai mencengkeram helaian rambutnya kencang.
Wooyoung sudah hafal mati kebiasaan Yunho yang ini—ia akan dipaksa menyodok tenggorokannya sendiri ke batang tegang pacarnya. Benar saja, jemari Yunho dengan kasar menarik dan mendorong kepala Wooyoung, menggunakannya bak mainan—bedanya mainan yang ini hidup, hangat, dan bereaksi.
“G-glk—glk—glk—!”
Hanya suara erotis yang terdengar di mobil BMW jadul itu—suara erangan Yunho dan suara paksaannya yang tercipta dari pertemuan tenggorokan Wooyoung dan penis Yunho.
Manik sayu si pacar tinggi kemudian melihat ke tunggingan bokong pacarnya. Ia ingin menampar lagi pantatnya itu, memainkan vaginanya yang sudah pasti membanjiri celana dalamnya. Namun, kedua tangannya sedang sibuk sekarang, posisi mereka tidak memungkinkan pula.
Melihat ke jendela mobil dimana terlihat beberapa orang tengah berlalu lalang di kejauhan, ia mendapat ide.
“Mainin memeknya, dong, Sayang. Buka celananya, coba,” titahnya.
Beneran sudah dibuat tolol oleh kontol, pacar kecilnya itu mengikuti permintaannya dengan cepat. Ia melucuti seluruh pakaian di tubuh bagian bawahnya dengan satu tangan, sebab tangan satunya menumpu pada paha Yunho yang masih tertutupi celana—harus menopang tubuhnya di tengah dorongan kasar Yunho.
Dirinya telanjang bulat di bagian bawah, sekarang. Tangannya yang satu kini menyentuh lipatan hangatnya yang sudah basah total, merabanya dengan kencang. Tindakan itu menciptakan desahan yang tidak kalah kencangnya, vibrasi suaranya menggetarkan kemaluan Yunho yang masih terbenam di mulutnya—sensasi unik kesukaan Yunho.
“M—mnhgh! M-mmnh… M-mnnnhghh—!”
Yunho hanya bisa terkekeh melihat usaha si kecil untuk memenuhi permintaannya. “H-aahh… P-punya pacar lacur-hh banget… Udah mulutnya lagi disodokin kontol, malah mainin memeknya depan orang-orang, lagi,” desisnya, merendahkan si pacar. Ia dapat mendengar usakan tangan Wooyoung makin mengencang, ia tahu sebab beceknya suara yang tercipta dari sana.
“Seneng, diliatin orang-orang? Gak sekalian jendelanya gua buka biar orang-orang pada tau lu se-lonte apa? Hm?” tambahnya.
Jarinya usil sekarang, karena tangannya mulai meraba pelan tombol penurun jendela, menciptakan tatapan terbelalak dari pacarnya, berharap ia tidak menekannya betulan.
“Pilih, mau aku turunin jendelanya terus orang-orang nontonin kamu mainin memek kamu apa kamu aku entot di sini? Jawab.”
Pertanyaan itu terlontar dari bibir Yunho yang tengah mengeluarkan napas tersengal, jemarinya menarik kencang kepala lemas Wooyoung dengan jambakannya agar melepaskan isapan di kemaluannya untuk menghadap wajahnya. Bingung dirinya atas kedua permintaan gila si lelaki jangkung di hadapannya—apakah tidak ada pilihan lain?
Namun, sensasi dari lipatan basah yang masih sibuk dimainkan oleh jemari bercat kukunya membuat ia memberikan reaksi yang tak terduga—efek sange.
“T-terser-aahh k-kamu, k-kakk-nghh!”
Ya, tentu Yunho tidak mau orang menontoni kekasihnya masturbasi di depan mereka sementara ia tidak mendapatkan apa-apa, sehingga opsi kedua lah yang ia pilih.
“Naik ke atas aku, sini.”
Permintaan itu ia katakan sembari dirinya memundurkan jok mobilnya, menurunkannya dengan perlahan sampai joknya membuat badannya menyender—langsung dipenuhi pula pintanya oleh si kecil yang benar-benar sudah birahi, tak begitu peduli lagi dirinya terhadap sekitar.
Ia merangkak naik dengan tubuh lemas dan paha yang mulai dialiri cairan lengket vaginanya sendiri, menaiki dengan pelan pangkuan Yunho yang masih terbalut pakaiannya—hanya penisnya saja yang terekspos. Dirinya kini berjongkok di atas jok dan Yunho, bibirnya sesekali disambar oleh di kakak pacar yang tak kuasa menahan nafsu ketika melihat wajah cantiknya.
Kedua tangan Wooyoung kini bertumpu pada pundak lebar si kakak pacar sekarang, menopang beban tubuhnya ketika pacarnya itu mulai menggesekkan kemaluannya di depan labia mengkilap Wooyoung.
“A-nghhh! K-kakak… J-jangan dimain-mainin-hh…! L-angsung aj-ahh ma-hsukinn!”
Rengekannya manja dan binal, membuat Yunho lebih-lebih dari mabuk kepayang. Suaranya tak pernah gagal menggugah nafsunya—kali ini berlebih, ia tidak kuat.
“Apa yang dimasukin, Sayang?”
Yunho dan pertanyaan-pertanyaan meledeknya. Senyuman menyebalkannya tersungging di satu sudut pipinya. Sekali lagi, menyebalkan.
“K-kontol kakak… P-please…” dirinya meringis frustasi, selalu sebal jika harus digoda oleh si kakak pacar di situasi ini—mengundang senyuman cabul dari si kakak, tentunya. Wajah cantiknya ia tenggelamkan ke ceruk leher Yunho sekarang, tak sanggup menahan nafsunya lebih lama lagi. “P-please… Entotin memek aku sekarang d-di sini, k-kak”
Yunho tetap Yunho, karena ia hanya menertawakan ucapan kotor yang keluar dari ranum merah Wooyoung barusan. Vibrasi suaranya bergetar di tubuh yang sedang ditumpu oleh si pacar kecil.
“Gak percaya gua kalo lu sepengen itu. Coba, sini, masukin sendiri ke memek lu.”
Wooyoung memundurkan wajahnya sekarang, menatap Yunho dengan tatapan sayunya, berharap ia langsung saja memakainya tanpa henti sesukanya. Namun selalu saja ada request yang mengikis harga diri lelaki di depannya—kegiatan favorit Yunho.
Dengan terpaksa, ia pun berjongkok lagi, kali ini sembari menggenggam kemaluan besar nan berurat milik si kakak pacar, mengarahkannya ke miliknya yang sudah berkedut hebat. Kepala penis milik Yunho ia raba pelan ke miliknya, mencari lubangnya sendiri sampai akhirnya ketemu.
Di saat itu juga, Yunho mengambil ponselnya entah dari mana dan mulai melambaikannya di depan wajah Wooyoung.
“Yang bener, kalo gak nanti flash-nya gua nyalain. Biar orang di luar pada ngeliatin kita. Biar jadi hukuman buat lonte yang gak bisa muasin pacarnya. Bisa, kan, muasin gua?”
Karena pada dasarnya ia sudah dibuat menjadi jalang betulan oleh pacar tingginya itu, permintaan itu langsung diamini olehnya, dimana surai legamnya bergerak mengikuti anggukannya. Ia kembali mengarahkan penis tegang itu ke dalam lubangnya, bibirnya terbuka untuk mengeluarkan desahan ketika organ tegang besar itu mulai menyeruak masuk ke dalam lubang sempitnya.
“A-ngghn! G-gede b-aanghet-nghh!”
Kegiatannya, ekspresi sayunya, desahan nakalnya—semua itu dilakukan sembari ditatap dan didengar dengan lekat oleh Yunho. Ekspresinya biasa saja, seperti tidak menikmati—memberi tekanan pada lelaki kecil itu.
Ketika miliknya sudah terbenam habis di dalam lubang sempitnya, ia pun mendesah kencang. Penis besarnya itu benar-benar seperti membesar di dalamnya, memberikan sensasi penuh di bawah sana. Sakit, namun perlahan menjadi enak ketika ia mulai menggoyangkan pinggulnya. Badannya ia gerakkan ke depan dan belakang, seperti mengulek, menumbuk.
“A-hnnghg—!”
Tak sengaja, penisnya tersodok keras ke titik sensitifnya terlalu kencang. Wooyoung tersentak, punggungnya langsung menegang hebat, bersamaan dengan rasa nikmat di bagian bawah tubuhnya. Tak sempat ia menggerakan badannya lagi, cairan bening menyembur keluar dari vaginanya. Deras, airnya membasahi seluruh celana Yunho, mengalir di sela-sela pahanya.
Sensitif sekali, baru juga beberapa sodokan.
Gelengan kepala Yunho terhadapnya diperhatikan dengan pelan, bibirnya bergetar mendengar tawa kecil yang meledek dari si kakak pacar. “Lacur banget, Youngie. Masa gitu aja langsung pipis lagi?”
“Ngh-hh…. K-kakak…”
Malu, yang baru saja pipis hanya bisa menyembunyikan rona padamnya di ceruk leher yang lebih tua. Tangan kanan Yunho menelusuri pelan rambut wangi pacarnya, meremasnya kencang, membuat Wooyoung terpaksa menjauhkan wajah dari tubuh pacarnya sebab kesakitan. Kini tatapan sayu dan malu Wooyoung bertemu dengan tatapan tajam Yunho, agak takut ia dibuatnya.
“Gerakin lagi, masa lu doang yang enak daritadi? Apa mau gua buka jendelanya? Nyalain lampunya? Biar orang-orang pada tau lu lagi diewe di mobil?”
Wooyoung hanya bisa menggigit bibirnya, menggelengkan wajahnya pelan tanda tidak mau. “J-jangan k-kak…”
Yunho hanya melirik dari atas ke bawah dengan tatapan kosongnya, seperti kesal. Cengkeraman keras di surai Wooyoung melemah, ponsel yang ia gunakan sebagai alat ancam ia lempar asal entah kemana sehingga kedua tangannya kini dapat neremas bokong terekspos Wooyoung.
“Yaudah, yang bener, coba.”
Ia kembali mengangguk pelan atas titahnya, badannya kembali ia tegakkan sembari meremas pundak si kekasih yang masih terbalut kaos. Perlahan, pinggulnya kembali diangkat dan ditumbukkan kembali ke bawah, melesakkan kembali milik pacarnya sampai menghujam titiknya—berkali-kali.
“A-nghhhn! E-ennak b-banget-hnn…” racaunya berisik.
Benar-benar berisik, sampai terbesit pemikiran iseng di benak Yunho, dimana telunjuknya kini menekan sedikit tombol penurun jendela, memberi celah bagi udara luar untuk masuk—dan juga bagi suara desahan dan pertemuan kemaluan mereka berdua untuk keluar.
Wooyoung terbelalak melihatnya, pacarnya benar-benar sinting ia rasa. “H-ah? Udah gila ya kamu, kak?” teriaknya panik atas tindakan pacarnya yang di luar akal sehat—kini orangnya malah tertawa pelan pula.
“Jangan berisik, Sayang. Apa emang pengen ketawan orang kalo kamu lagi dientot di mobil?” bisiknya pelan di telinganya, senyuman cabul merekah di wajahnya, tengah meledek yang sedang panik.
Pacar kecilnya itu hanya bisa menatap tak percaya sembari waswas, mendengarkan dengan seksama kalau-kalau ada langkah kaki yang mendekat ke arah mereka. Terlebih lagi, bisa jadi mobil mereka itu sedang bergoyang-goyang, bukan?
“K-aakk… T-tutup jendelanya-ahh!” rengeknya panik walau berbisik, terlebih lagi terdapat beberapa mobil yang berlalu lalang melewati lokasi persenggamaan mereka. Anehnya, rasa takutnya itu malah membuat miliknya menyempit, menjepit penis Yunho lebih ketat. Bagian bawahnya tetap tak henti digerakkan, naik turun dengan ritme yang makin cepat sebab adrenalin yang ia rasakan di dadanya sekarang.
Yunho, pun, sama. Sensasi bercinta di tengah sembunyi membuat dadanya berdebar kencang, terlebih lagi mendengar desahan-desahan si pacar kecil yang tidak dapat direm, tidak dapat dipelankan. Tak ingin suara erotis mereka makin keluar dari celah jendela, ia menarik tengkuk Wooyoung, mempertemukan kedua bibir mereka yang tengah hilang napas, sama-sama tersengal.
Namun, cumbuan itu tetap tidak membantu banyak. Erangan pasrah Wooyoung masih lolos begitu saja, desahannya kini hanya teredam oleh suara pagutan basah yang tak kalah intens dengan gesekan di bawah sana.
Adrenalin mereka benar-benar membuncah sekarang, membuat mereka tak tahan lagi jika harus terus bersenggama di ruang semi-transparan ini. Jepitan vagina Wooyoung yang terus menyempit, benar-benar membuatnya hilang akal—dirinya hendak mencapai pelepasan, lebih cepat dari biasanya. Pagutan mereka ia lepas kembali, ingin melihat wajah cantik pacar kecilnya yang masih tak henti bekerja keras di bawah sana.
“Hh-ahh… D-dikit lagi mau keluar Sayang…” erang Yunho, mata berkabutnya memandangi sayunya si pacar yang seperti berada di langit ketujuh.
Tangan yang semula meremas-remas bokong Wooyoung kini berpindah ke pinggang rampingnya, mencengkeramnya dengan kuat. Kendalinya ia ambil alih sekarang, dirinya yang kini menyentak kasar lubang Wooyoung yang hangat itu.
“M-mmh! M-mmhnn!”
Hantamannya keras dan kencang, membuat si kecil terangguk-angguk atas perbuatannya. Bibirnya yang tak bisa berhenti mendesah ia bungkam sendiri dengan salah satu tangannya sekarang, kembali teringat akan situasinya yang sedang dihadapi saat ini. Air matanya menggenang dan mengalir di pipinya—entah sebab enak atau takut—mungkin keduanya. Matanya memutih, sesekali menjuling ketika hentakannya terlalu keras.
Pemandangan yang gila, membuat Yunho tak tahan ingin keluar dan memenuhi seluruh dinding Wooyoung dengan cairan kentalnya sekarang juga.
“A-aku keluarin di dalem ya-hh, Sayang-hh?” bisiknya, entah didengar atau tidak oleh si pacar kecil. Namun, ia dapat melihat dari raut wajahnya bahwa ia juga sudah tidak tahan—akan mencapai pelepasannya juga. Badannya bergetar hebat sekarang, tubuhnya kembali mengejang di sela-sela sodokan si pacar tinggi.
“Ahnn—hhh!”
Ia pipis untuk yang kedua kalinya. Kali ini cairannya lebih banyak, mengotori jok yang terpaksa menerima kenyataan bahwa ia telah beralih fungsi.
Di saat yang sama, tubuh jangkung berhiaskan tato itu juga ikut mengejang hebat. Dirinya masih saja menyodokkan miliknya tanpa ampun ke lubang Wooyoung yang sudah selesai. Erangannya terdengar berat dan kencang, macam mengatakan persetan dengan siapapun yang mungkin menyadari aktivitas gila mereka di dalam mobil sempit itu.
Jika memang ada yang melihat, ia sudah tidak peduli lagi. Biarkan saja mereka menyaksikan pertunjukkan mahadahsyat abad ini.
“H-aahh…”
Dengan beberapa sentakan terakhir, Yunho pun akhirnya menyemburkan seluruh cairan hangat ke dalam lubang si pacar cantiknya. Cairannya terlalu banyak, meluap di celah-celah penis dan lubang vagina mereka, mengalir di sela paha mereka.
Tubuh lemas Wooyoung pun kini ambruk di dada si kakak pacar yang jantungnya sedang sama berdebarnya dengannya. Suara deruan napas mereka saling beradu di telinga masing-masing, sedikit tertutupi oleh teriakan-teriakan penghuni apartemen yang menyusup lewat celah jendela mobil mereka. Berisik—Yunho menekan kembali tombol jendela tadi, menaikkannya hingga tertutup sempurna.
“Anjing-hh, kak…” desahnya persis di telinga Yunho, terkadang erangan kecil muncul dari bibirnya sebab sedikit pergerakan di bawah oleh si kakak pacar. “Kalo kita-hh… ketawan gimana, c-coba?”
Pacar tingginya hanya terkekeh pelan atas protes si kecil. “Tapi kan enggak.”
Tawa Yunho makin kencang sekarang sebab bentuk protes si kecil kini tidak hanya verbal, melainkan fisik pula. Barusan ia menggebuk pundaknya kencang, kesal dengan si kekasih yang membuatnya terhanyut suasana.
“Ngeselin! Ngeselin ngeselin ngeselin!”
Yunho yakin tubuhnya akan memar besok.
—
Kedua baju mereka sudah terpasang dengan lengkap lagi sekarang, yang lebih tinggi bersyukur ada celana ganti di mobilnya, sebab sehabis ini ia ada agenda lain yang harus ia datangi.
Wooyoung, pun, ada agenda dengan sahabatnya, Yeosang, yang kini masih menunggu konfirmasinya terkait jadi atau tidaknya rencana mereka hari ini.
Dirinya menepuk jidat dalam hati. Tidak mungkin ia bertemu langsung dengan si sahabat dengan kondisi seperti ini—tidak dengan peju yang masih tak hentinya keluar dari lubang miliknya yang sudah ia seka berkali-kali.
Minimal ia harus mandi.
Ia meraih ponselnya, terlihat beberapa panggilan tak terjawab dari sahabatnya itu.
YS:
WY:
demi aku baru pulang
aku
tadi
gasengaja
ngewe di mobil
☝🤓
MAAAFFFFFF
YS:
tmi bgt anjing
y
w dh phm
mandi dl y pls.
WY:
WKWKWKWK U KNOW ME SO WELL
YAIYALAH MANDI
GILA YA KAMU
JAM 6 MALEM YA PLEASE JANGAN MARAH SAMA AKU
YS:
km yg gila cuk
y
Wooyoung merasa tidak enak, walaupun sahabatnya juga sudah paham akan kelakukannya—kelakuan mereka.
“Gimana Sayang, marah gak Sangie?” tanyanya, dirinya sedang mengecek titik kemacetan Margonda di aplikasi Maps ponselnya.
“Ga tau, kayanya kesel deh, dia. Nanti aku traktir Fore aja lah di Margo. Langsung luluh dia kalo udah kena Triple Peach,” sahutnya, ponselnya ia masukkan kembali ke tas krem dengan ribuan gantungan kuncinya.
Yunho tertawa pelan, melirik pelan ke paras berantakan pacarnya. “Kamu sih, pake ngajak aku ngewe di mobil segala.”
Wooyoung langsung memutar tubuh untuk menghadap wajah tengil pacarnya sekarang. Tangannya terangkat tinggi, seperti mau melayangkan pukulan kepada si kakak pacar. Wajahnya menahan nyengir dan malu—persis seperti kucing yang hendak ingin menerkam.
“Enak aja!” protesnya dengan wajah yang merona padam. Tangannya masih mengambang di atas, bersiap-siap karena ia tahu pasti bahwa ini tidak akan menjadi ledekan terakhir yang keluar dari bibirnya.
“Tapi enak kan ngewe di mobil? Nanti kalo aku minta di sini lagi, boleh ya?” Dan gebukan yang bertubi-tubi kembali mendarat tanpa ampun di lengan dan pundak Yunho, memancing tawa dan tangkisan dari yang sedang menyetir—sama sekali tidak bisa menghindar.
Memar sudah semua badannya besok, tapi Yunho sama sekali tidak peduli. Selama ia bisa melihat pacarnya merona padam seperti itu, atau tertawa bahagia berkat ulahnya, itu semua sudah cukup. Mobil BMW itu pun perlahan naik ke atas tanjakan, meninggalkan area parkiran bawah tanah yang terpaksa menjadi saksi mata kegilaan mereka berdua barusan.
Dan si parkiran apartemen itu tahu pasti; yang barusan tidak akan menjadi yang terakhir kali.
