Work Text:
“Gum, kameranya nyala ‘kan?” Sayup-sayup aku dengar suara yang gak asing. Mataku rasanya berat sementara tubuhku terasa dingin.
Ingatanku kembali ke acara penyambutan maba. Aku duduk dihimpit Sukuna dan Megumi.
“One shot, Yuuji. Abisin ya yang ini.” Megumi yang memberikan segelas sake.
Lalu dilanjut oleh Sukuna yang memberikan segelas besar bir, “abisin kalau emang beneran udah gede.”
Aku bisa mengingat jelas teriakan orang-orang untuk menghabiskan tiap gelas yang diberikan si kembar.
Bergantian. Dari satu gelas soju lalu sake lalu bir terakhir vodka. Terus begitu sampai aku gak ingat berapa gelas yang habis kuminum.
Sekarang aku gak tau ini di mana. Atau apa yang aku lakukan. Cuma yang pasti rasanya dingin.
“Hng?” Aku ingin bergerak menarik selimut, tapi tubuhku gak punya tenaga.
“Anjing. Cakep banget. Tetenya gede banget. Gak sia-sia gue ngajarin dia latihan dada. Gum, minggir dulu lah tetenya gue mau pake buat jepit kontol.” Mataku masih belum bisa dibuka, tapi jelas sekali itu suara Sukuna.
“Sabar, anjing.” Balasan kasar itu terdengar seperti Megumi. Padahal Megumi gak pernah ngomong kasar.
“Ugh.” Ini pasti ulah Sukuna. “Hng.” Aku merasa pahaku dingin.
“Mana sih hape gue?” Setelahnya aku bisa mendengar suara kamera.
Aku merasa ada yang memotret tubuhku. “Aduh, akhirnya gue bisa coli langsung pake foto bugil Yuuji beneran. Akhirnya gak cuma lewat foto ganti baju di kamarnya doang.”
“Otak lu kotor.” Itu Megumi.
“Gak usah sok suci monyet. Elu lebih kotor. Orang gila yang naro kamera di kloset Yuuji. Enak ya Gum liatin Yuuji kencing tiap hari?”
Huh, aku gak paham maksud mereka. Aku cuma kedinginan.
“Hah, at least gue gak pura-pura kasih cincin persahabatan ternyata isinya GPS. Stalker.” Aku bisa dengar suara tawa Sukuna. “Jangan maen at least sama gue Gum, kalah lu.”
“Ck.” Setelahnya aku gak mendengar mereka berargumen.
“Bener-bener Megumi lu raja cabul. Coli pake kakinya Yuuji?”
“Hah, kata orang yang sekarang ngeremes tete Yuuji?”
Ung. Aku bisa merasakan kakiku menggosok benda asing. Rasanya lembek tapi keras? Juga berurat. Belum lagi dadaku terasa dimainin. Rasanya kaya kedua dadaku disatukan lalu dipijat. Ada sensasi benda asing yang menggosok dadaku. Rasanya sama seperti di telapak kakiku. Keras, juga berurat namun lembek.
“Hah, anjing. Cantik banget. Cantik lagi kalau badan lo dipenuhin peju. Dari muka sampe ujung kaki.” Sukuna berkata dengan napas terengah.
Aku gak tau berapa lama namun, setelahnya kaki, dada sampai wajahku terasa lengket.
Saat aku membuka mata, di depanku ada Sukuna dan Megumi. Keduanya sibuk menjilati putingku. Ung, rasanya gak nyaman. Aneh. Aku gak suka.
“Un, lepas. Gak mau.”
“Ah, udah bangun.” Megumi bangkit. Ia sentuh pipiku lalu cium keningku lembut. “Ternyata Yuuji kuat ya minumnya. Padahal belum sejam tapi udah bangun aja.”
Ujung mataku mendapati Sukuna yang bergerak ke meja samping tempat tidur. “Kalau alkohol gak kerja ya kasih aja obat.” Sukuna ketawa sendiri.
“Gue gak suka pake obat.” Balas Megumi sinis.
“Loh, justru obatnya yang bikin enak. Emang lo gak mau liat Yuuji mohon-mohon?”
“Gue yang kasih.” Megumi rebut pil dari tangan Sukuna.
Aku gak paham itu obat apa tapi Megumi membuka mulutku lalu memaksaku menelan obatnya. “Ung, ung.”
“Aduh, kasian.” Sukuna meraih lidahku. “Lidahnya ini dimainin dulu dong, Gum. Kasian nih biasa cuma jilat es krim sekarang mau jilat bibir lo gak dikasih.”
Selanjutnya yang kurasakan adalah lidah Megumi. Ah. Aku berciuman? Dengan teman sejak kecilku.
“Ung, ngga—” penolakanku terasa percuma karena itu hanya membuat Megumu makin kasar mencumbu.
Tangan lain yang kutebak punya Sukuna sekarang sibuk mengocok penisku dengan tangannya. “Ah, ah.”
Badanku rasanya panas.
“Yuuji, siapa yang udah megang titit lo ini?” Sukuna bertanya, nadanya menuntut.
Aku menggeleng. “Hng, nggak ada.”
“Emang harusnya gak ada. Kalau ada udah gue patahin aja ini titit lo biar ga kepake. Biar cuma lubang pantat lo yang bisa dipake buat muasin nafsu.” Sukuna menggenggam penisku, buat aku meringis.
“Yuuji, jangan nangis. Liat,” pipiku diarahkan ke dinding oleh Megumi. Di sana ada foto kelulusan kami. Di mana kami memakai jas putih dan memamerkan cincin persahabatan. “Itu ada foto pernikahan kita.”
“Hng?”
“Hahahaha muka tololnya cantik juga lagi, sialan.” Sukuna sekarang menekan penisnya ke pipiku. “Yuuji, liat, di kamar ini ada semua yang Yuuji suka. Termasuk kontol gue sama Megumi.” Penisnya sekarang berciuman dengan bibirku. Uh, baunya aneh. Bikin kepalaku pusing. Dan buat mulutku penasaran mau mencoba.
“Ah, anak pintar.” Pujian Sukuna bikin aku merinding. “Gue bilang apa Gum, Yuuji ini paling suka dipuji. Makanya lo tuh sering-sering muji dia, bukan cuma ngeliatin dari jauh. Bukannya malah nontonin dari kamera kecil yang lo taro di tiap sudut kamar Yuuji.”
“Eh, monyet. Lo juga nikmatin ya? Emangnya gue gak tau lo tiap hari suka make laptop gue buat nonton Yuuji mandi terus lo pake buat coli?”
“Sharing is caring, lah.” Lagi-lagi mereka cekcok dan sekarang penis Sukuna lepas dari mulutku.
Otakku pelan-pelan mulai bisa membaca situasi. Aku dibuat mabuk. Lalu mereka ternyata pasang GPS juga kamera tersembunyi? Kembar gila!
Aku gak abis pikir.
Dan obat apapun yang mereka berikan bikin tubuhku panas. Aku resah. Rasanya ingin terus disentuh.
“Un,” Megumi menatap ke arahku.
Sudut bibirnya naik dan itu bukan pertanda baik. “Kenapa Yuuji? Panas ya badannya? Mau diapain?”
Denger pertanyaan Megumi malah buat Sukuna ketawa. “Taik. Tadi pake acara nolak kasih obat, sekarang sok-sok baik.”
Megumi gak membalas kembarannya. Alih-alih dia malah mengusap kulitku yang rasanya panas. “Enak gak disentuh gini? Mau lagi?”
Ah, aku gak tau. Aku menggeleng. “Gak mau.”
“Ditolak tuh.” Ledek Sukuna
Megumi cuma ketawa, tapi nadanya menyeramkan. “Ya kalau ditolak langsung aja gak sih? Emangnya Yuuji bisa apa selain mendesah kalau lubangnya gue kontolin? Kaya gini.” Tangan Megumi masuk ke mulutku. Bergerak kasar, keluar masuk hingga membuatku tersedak. “Nanti lubang lo gue genjot ampe penuh sama peju, Ji. Tenang aja, bakal enak kok.”
Pahaku diangkat oleh Sukuna. Dia meludah ke lubangku lalu memasukkan jarinya di sana. “Aduh, rapet banget, Cantik. Jadi gak sabar buat diadu sama kontol gue.”
“Prepare yang bener.” Titah Megumi.
“Ung. Sakit.” Aku gak suka, rasanya gak enak.
Megumi pindah ke atas dadaku. Posisinya sama seperti saat aku melihat Sukuna tadi. “Buka mulutnya, sayang.”
Aku menurut, lalu Megumi dorong penisnya masuk ke mulutku. Rasanya kaya aku cuma alat biar Megumi senang. Melihat wajah Megumi yang biasa tenang dan ramah sekarang diganti dengan wajah tak sabaran penuh nafsu bikin sesuatu di dalam diriku terasa mau berlari. Perasaan euphoria yang aku gak paham artinya.
Megumi keliatan seksi. Lebih seksi dari Jennifer Lawrence. Dan untuk sekejap aku lupa sama Sukuna yang sibuk mainin lubangku. Sampai aku merasakan jarinya menekan sesuatu—yang buat perutku terasa melilit keenakan. “Ungg!”
Di saat yang sama cairan sperma Megumi memenuhi mulutku. “Telan.” Cuping hidungku ditekan, dipaksa agar aku menelan spermanya.
Aku tersedak, namun Megumi gak peduli. “Telan, Yuuji. Yuuji paling pinter kalau urusan nurutin omonganku sama Sukuna ‘kan? Makanya mau aja buat kuliah di jurusan yang sama kaya kami.”
Aku mengangguk.
“Pft, padahal gak mau ditinggal aja tuh.” Aku sampai lupa soal Sukuna. Aku menatapnya yang sedang membuka pahaku. Betisku dilipat, menyatu dengan paha. Rasanya kaya ayam yang mau dipanggang. “Lo nurut karena takut ‘kan sendirian? Takut ditinggal? Makanya nulis diary.”
Aku gak bisa membalas karena badanku lemas. “Mulut atas udah diisi waktunya ngisi mulut yang bawah.”
“Eung? Gak mauuu.” Aku merengek tapi Sukuna gak peduli. Dia tetap memaksa memasukkan penisnya ke dalam diriku.
Ugh. Rasanya aneh. Rasanya penuh dan geli? Aku gak tau. Tapi yang jelas panas di diriku malah semakin menyala. Rasanya tiap gesekan dengan penis Sukuna buat aku ingin bergerak, menyambutnya agar bergerak bersamaan.
“Enak ‘kan?” Pertanyaan Sukuna gak aku jawab, tapi pinggangku bergerak berlawanan arah.
“Gak boleh enak sendirian kali.” Megumi angkat tubuhku dan melepaskan penyatuanku dengan Sukuna. “Tambahin lubrikannya, Na. Biar licin nih lubang.”
Lubangku ditampar pelan bikin aku merinding. Gak lama lubangku diisi sama lubrikan? Rasanya dingin, lengket, dan basah. Kaya lagi ngompol.
Ah, gak suka.
Kakiku dibuka lebar lagi. Kali ini milik Megumi lebih dulu setelahnya Sukuna memasukkan miliknya juga. “AGGHGHHHH!” Aku teriak. Rasanya panas. Perih.
“Huhuhuhu gak mauuu! Nanti robekkk!”
“Shhh! Anjing. Cantik, lubang lu jangan dirapetin.” Aku masih menangis. “Aduh.” Sukuna menjilat air mataku sementara Megumi meremas dadaku.
Putingku dimainkan dan bibirku dicumbu. Rasanya tiap jengkal tubuhku dimainkan oleh keduanya.
“Gerak, Na.” Pelan-pelan saat aku sudah rileks, keduanya bergerak. Berlawanan arah untuk memenuhiku.
Aku? Gak tau. Aku gak bisa mikir lagi karena rasa sakit itu berangsung-angsur berubah. Jadi kenikmatan yang membuat mulutku mengoceh. Aku jadi hanya bisa mendesah berulang sambil bergerak.
“Ah, mau keluar ahh. Mau pipisss!” Sukuna di depanku langsung ketawa.
“Pipis aja cantik. Kalau Yuuji yang pipis mah sama Megumi juga bakal diisep sampe abis.” Denger itu buat pipiku merah. Dan tanpa bisa kutahan akhirnya aku keluar.
“Pft, beneran kencing dia.” Sukuna memompa penisku yang sudah lemas itu. Tapi dua kembar gila ini gak berhenti, malah bergerak makin liar.
“Next time kencingnya di mulut Megumi aja, cantik. Dia kehausan tuh.” Megumi menjawab dengan hentakan kencang.
“Ah, sialan gue mau liat muka Yuuji.” Dan tubuhku diangkat. Diputar kaya boneka sampai aku sekarang menghadap Megumi. Megumi kaya orang kesetanan, gak lagi kenal sabar karena sekarang pantatku diremas sambil ia menggerakkan pinggulnya kencang.
Sukuna juga melakukan yang sama. Aku harus menerima keduanya yang bergerak seperti binatang.
Dasar orang gila. Aku harusnya tau kalau mereka berdua ini sakit jiwa. Aku harusnya tau dari saat menemukan fotoku tidur di hape keduanya. Atau juga saat mereka dengan mudah mengetahui keberadaanku tanpa perlu bertanya.
Aku melirik ke dinding samping. Di sana ada fotoku. Dari mulai aku tidur, aku ganti baju, sampai mandi. Semua ada. Dari umurku yang masih sangat muda sampai foto tadi pagi.
Gila.
Mereka berdua sama gilanya.
“Hnggg!”
“Yuuji kalau masih bisa mikirin yang lain berarti belum ngerasain enaknya dikontolin.” Megumi menggigit telingaku. “Padahal pentilnya segede gini. Yuuji tau ga kenapa puting Yuuji gede?”
Aku menggeleng.
“Ya soalnya tiap Yuuji tidur kami suka nete. Suka mainin pentil Yuuji. Suka dijilat, disedot. Enak banget. Padahal dulu puting Yuuji susah keluar.” Megumi cubit putingku dengan jarinya. “Sekarang malah susah ditutupin. Perek.”
“Hum, lucunya Yuuji gak sadar pentilnya suka dimainin. Tapi tiap bangun dari tidur siang mukanya merah. Apalagi tititnya, gak tau ‘kan Yuuji ukuran titit sendiri? Tenang aja, nanti catetannya aku kasih.” Megumi ciumin dadaku untuk kemudian menghisap putingnya. Ah. Gila.
Ah, dasar stalker gila!
“Ah, jangan—nanti robek huhu jangan.” Aku dorong badan Sukuna dengan sikuku.
Tapi Sukuna malah ketawa. “Baby, gak bakal robek. Tenang aja lobang lo mah udah gue mainin dari lama. So you could take us easily. This hole of yours, udah sering makan jari gue sama Megumi. But you didn’t know right? Tenang aja semua udah gue sama Gumi rekam. Nanti kita tonton bareng. Hah, sial. Enak banget lubang lu.”
“Um, dari cuma bisa masukin jari kelingking sampai bisa makan dua kontol sekaligus. Good job, Yuuji.” Megumi ciumi wajahku.
Itu bukan pujian yang aku inginkan.
“Hah, cantik. Kalau enak, bilang aja. Bukannya bilang engga dan nyuruh berhenti tapi lubang lo kedut-kedut minta diisi.” Aku ga suka mulut Sukuna kotor.
Megumi di depanku langsung menarik daguku untuk mencium bibirku. “Hah, Yuuji. Mulutnya yang jujur dong. Jangan cuma mulut bawah yang jujur.” Bibirku dihisap berulang oleh Megumi.
Ah.
“Gak usah ditahan.” Mulutku dibuka oleh jari Sukuna. “Ngedesah aja yang kenceng.”
“Gak usah nolak mulu, sayang.” Megumi menambahi.
Ung. Aku melirik ke samping lagi. Pada tiap fotoku yang terpajang. Mereka berdua stalker gila.
“Yuuji sayang.”
“Hm, Yuuji cantik.”
Tapi mereka yang sayang aku. Ah, kembar sialan. Aku memejamkan mataku saat keduanya menekan titik yang sama. Tubuhku mengejang. Bersamaan dengan keduanya yang memeluk tubuhku erat. Kami keluar bersamaan.
“Ahhh.” Entah sudah yang ke berapa kali. “Ung, ah.”
Aku bisa merasakan penis keduanya keluar dari lubangku. Sukuna meraih kamera di atas nakas, lubangku difokuskan ke kamera. “Ah, cantik. Lubangnya cantik. Semuanya cantik.”
Rasanya seperti sperma keduanya berlomba untuk keluar. Aku terbaring dengan napas terengah sementara Megumi dan Sukuna sudah siap lagi dengan penis mereka yang kembali ereksi. Gila.
“Sekarang, Yuuji mau kontol yang mana?” Keduanya menggerakkan penis mereka maju mundur di udara.
Hah.
Sekarang rasanya lubang aku kedut-kedut lagi, minta diisi. “Ung, mana aja.” Aku buka lubangku lebar-lebar dengan dia tangan. “Isi lagi buruannn.”
Megumi dan Sukuna kembali saling tatap lalu tertawa kembali. Kali ini Megumi yang mengisi lubangku sementara penis Sukuna di mulutku.
Rasanya penuh. Panas. Aku gak tau di luar sudah jam berapa atau berapa banyak kami ejakulasi. Yang aku tau, kami melakukannya di tiap sudut apartemen. Dari kasur, dapur, kamar mandi, sampai balkon.
Dari aku yang gak tau harus apa dengan mulutku ketika menjilat penis mereka sampai aku tau titik lemah keduanya.
“Yuuji, cuma boleh jadi jablay sama gue dan Megumi.” Sukuna menepuk pipiku pelan. “Kalau sampe gue tau ada orang lain yang berani tidur sama lo, gue bunuh orangnya di depan mata lo.”
“Sh, Yuuji baik gak bakal selingkuh.” Megumi berkata demikian sambil tangannya meremas dadaku–yang sudah perih karena digigit dan disedot keduanya.
Coba kasih tau, gimana juga aku bisa ketemu orang lain kalau tiap langkahku dan kegiatan harianku mereka tau? Ah, sudahlah lebih baik tidur daripada mendengar omong kosong keduanya.
••
