Actions

Work Header

Can I Touch Your Heart

Summary:

Jika bukan karena mereka berdua mengejar pencuri yang mengambil tas Nakula saat dalam perjalanan pulang. Tak mungkin mereka akan berada di sini. Yang mana, pencuri tersebut sengaja menargetkan Nakula untuk mengambil kunci di kantor Azure. Agar bisa mengambil file mengenai salah satu kasus yang Nakula ambil. Nakula berkata pria itu adik dari orang yang kliennya lawan.

“Nakula,” panggilnya pelan. Bahunya terus menaik dan tegang. Tidak ada jalan keluar jika Arjuna ingin situasi berjalan semakin buruk. Kakinya melangkah, dari satu ke dua. Tidak ada respon, seolah Nakula memberi tanda bahwa dia akan menahan diri. Kaki ketiga dan keempat, Nakula menggerakkan kakinya dan menggeram kemudian menampar dirinya sendiri. Oh Tuhan.

“Hei,” kali ini Arjuna mencoba untuk tidak tegang, membiarkan feromonnya kembali mengudara dengan manis. Sama persis seperti kejadian tiga bulan lalu. “aku akan membiarkanmu untuk dekat dan menghirup feromonku lebih banyak seperti tiga bulan lalu. Jadi tahan sedikit lagi, ya? Hanya tahan saja, please.”

Atau lima kali keduanya terjebak di antara rut dan heat, dan satu kali keduanya terjadi secara bersamaan.

Notes:

Haloo!! Sebelumnya terima kasih karena ao3 sudah ada, sudah nyata, my treasure. Gara-gara kebanyakan baca fic Abo buddie with omega buck, semangat menulis Abo ku balik. #HidupOmegaBuck

Judulnya diambil dari salah satu part lagi yaitu Crystal Snow by BTS.

Aku udah lama banget gak baca Abo, lebih ke yang detail gitu Abo-nya dan lebih primitif (?) jadi agak rumit pas awal tapi karena aku kembali membaca fic Abo lagi. Semua terasa dicerahkan.

Aku nulis ini alih-alih lanjutin nonton 911 season 7 eps terakhir biar bisa langsung ke season 8 lalu megurung diri (SPOILERNYA GAK BANGETT), karena tahu kalau aku lanjutin nonton aku gak akan bisa nyelesain fic ini beserta fic lainnya.

Serta luangin waktu setelah muak nonton iklan demi vote idol gue (pls bantu doa semoga idolchamp ald1 menang) kalau gak aku bisa balik menghilang. Mau nangis. Tapi huftt, gapapa dan nulis ini jadi selingan.

Perlu diketahui kalau aku udah mencoba biar stay in character TAPI KAYA MERTAHANIN GELAS DI ATAS KEPALA😭 dan aku nulis sex scene tahun lalu hampir setengah tahun .... Jadi kalau ngerasa gak panas atau canggung AKU MINTA MAAF.

enjoy guys!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

1.

Semua bermula dari satu petunjuk pada Q=Ravva di sebuah pemukiman kecil tak terjamah. Rumah-rumah warga telah lama kosong karena diadakan proyek pembangunan ulang dan hendak digusur minggu depan. 

Mereka seharusnya tiba dua hari sebelum penggusuran sesuai yang direncanakan. Tapi Nakula terpaksa harus kemari lebih cepat karena tugas lainnya mengajak ia kemari.

Ia berjalan di lantai becek yang menimbulkan suara, menghindar jalan berlubang dan genangan air. Berhati-hati dalam menimbulkan bunyi sebab tak ingin mengambil banyak atensi. Ternyata ‘tak terjamah’ tak seharusnya menjadi acuan ketika masih ada manusia yang tinggal di rumah kosong tak terawat. Perabotan seadanya sebagaimana mereka berhasil masuk ke dalam rumah entah milik siapa, pembobolan, perampokan, segalanya ada di sini.

Untungnya Nakula sudah mengganti bajunya agar tak menimbulkan curiga. Dirinya berbelok ke sebuah gang, sedikit mengendurkan kemeja kotor karena rasanya terlalu panas. Ini bahkan bukan musim panas!

Dirinya segera berjalan cepat, ketika orang yang dimaksud kliennya tertangkap iris birunya. Nakula memotret dengan ponsel miliknya, berhati-hati agar tidak ketahuan sebelum mengamati lebih lama. 

Jika keberuntungan bisa dinilai melalui nada tertinggi, Nakula mungkin akan memiliki keberuntungan yang cukup tinggi. Tapi sayang seribu sayang, keberuntungannya hanya sebesar cabai merah. Dirinya tertangkap basah karena ada orang lain di belakang yang baru saja lewat dan membuang sekaleng minuman hingga bunyinya membuat sang target menatap lalu memicing, siap melempar batu yang berserakan di jalan.

Oh sialan, entah orang yang membuang sampah sembarangan. Keluar dari sini Nakula akan langsung mendaftar menjadi aktivis lingkungan dan membuat peraturan baru di Azure ketahuan membuang sampah sembarangan, potong gaji dua bulan! 

“Apa kau memotret tanpa izin?!” Pria yang menyentuh kepala empat mengambil batu, suaranya yang meninggi membuat beberapa orang keluar dan menatap Nakula penuh tatapan menghakimi. Jari telunjuk pria tua itu menunjuknya seolah memberi tahu semua orang siapa yang dia teriaki.

“Selamat tinggal Sadewa, tolong nanti pajang gambar bernilai 300jt di makam ku. Yudistira dan Bima mungkin di kehidupan nanti biar kalian aja yang jadi abang. Juga Juna aku belum sempat confess please….”

Nakula meringis, berbalik arah dan berlari sambil merapalkan banyak kalimat perpisahan. Membayangkan tak sempat hidup semati dengan omega-nya (belum) membuat Nakula merasa seperti tertimpa baja. Harus mati muda dan menjadi hantu, melihat orang-orang tercintanya melanjutkan hidup tanpa dia, melihat Arjuna menikahi orang lain? Sial. Tidak boleh. Nakula juga ingin menikah Arjuna, mengikat janji dan menghabiskan banyak waktu bersama.

Jadi Nakula harus berhenti memikirkan hal buruk dan mulai memikirkan apa yang akan Arjuna lakukan jika berada di posisi ini.

Matanya dengan cepat mengamati seluruh area untuk rencana kabur tanpa harus memiliki luka berat. Di belakangnya kerumunan massa masih mengejar dengan marah, sudah membawa berbagai macam benda tumpul. Nakula kembali merutuki pria yang membuang sampah sembarangan, tapi tidak wajah dan auranya yang membuat mereka cepat mengetahui siapa si penyusup. Maaf saja jika wajahnya tampak seperti pangeran di negeri dongeng.

Berbelok ke antara gang, bau-bau lain yang menjadi satu membuatnya tak fokus. Terpaksa harus mengandalkan kedua indra penglihatannya dibanding penciumannya. Hingga aroma yang Nakula kenali terlewat begitu saja, ketika matahari terbit di pegunungan, rasa dingin yang lembut karena embun pagi, Nakula berada di sepetak tanah yang diisi mawar merah. 

Arjuna.

Alpha dalam dirinya meraung, meminta untuk lebih dekat kepada omega mereka, tapi hei jika situasinya seperti mana mungkin Nakula mau membahayakan Arjuna. Lagipula apasih yang pria itu lakukan di sini? Masih ada beberapa hari lagi, dan di antara seluruh masa dan rumah-rumah kosong (yang sebenarnya tak kosong juga) di mana Arjuna berada?

Nakula tak akan pernah lupa feromon yang menghantuinya sejak mereka bertemu. Tanpa sengaja, di banyaknya kerumunan manusia yang mencampuri segala aroma, feromon Arjuna menenangkan. Membawanya pada kaki berlapis pantofel hitam, juga aspal keras yang hampir meninggalkan bekas di wajah.

Kakinya berbelok ke kiri, mencari gang sempit agar kerumunan massa melambat, membayangkan berlari ke arah jalan tempat di mana semua orang berkumpul. Hah, jika Nakula ingin mati maka tidak. Namun sekali lagi, keberuntungan memang tak pernah berpihak padanya, karena jalan buntu menjadi kata sambutan “selamat datang” hingga mulutnya merapal sumpah serapah yang dirinya sendiri tak menyangka bisa Nakula sebutkan secara lantang. 

Pasrah karena mungkin ia akan mati, setidaknya Nakula mati disaat terakhir mencium feromon Arjuna. Dan mungkin delusinya kian kuat karena aromanya semakin masuk sampai kerah belakang coat-nya ditarik oleh kekuatan entah dari mana, menyeretnya masuk ke sebuah gudang dengan bunyi pintu tertutup. Mata Nakula memicing, melihat siluet pria memakai baju kusam sama dengan yang Nakula pakai. Aroma mawar masuk, membawanya pada taman terindah, dan tak perlu dikaji ulang ataupun cahaya matahari untuk membuat Nakula yakin siapa pria yang menariknya bersembunyi.

Arjuna.

“Kamu ngapain di sini?”

Omega itu berbalik setelah pintu terkunci dengan erat, mengganjalnya dengan meja yang dilapisi debu. Alis Arjuna menekuk ke bawah, pipinya membola tanpa sadar. Sang omega tengah marah, tapi Nakula hanya melihat pria lucu yang mirip seperti balon.

“Aku yang seharusnya nanya, kenapa kau di sini? Kita ‘kan janjinya minggu depan.” Mawar menyengat yang mengisi seluruh gudang membuat alis Nakula berkerut. Terlalu kuat, kalau begini mereka bisa ketahuan.

“Feromon kamu,” suaranya tertatih. Arjuna menatapnya dengan satu alis terangkat bingung, mendekat hingga aroma mawar kian pekat. Kali ini tidak pahit, rasanya lebih hambar, mirip embun di pagi hari. Ya Tuhan, Nakula membuat omega mereka khawatir. “Terlalu kencang. Nanti kita ketahuan.”

Berhenti melangkah mendekat, sang omega menatap bingung. Iris abunya menatap seluruh ruangan lalu beralih pada Nakula, dari ujung kepala hingga kaki. Hidungnya bergerak mengendus, mencium seluruh udara dan segara berjalan ke arah pintu.

“Ken—”

“Kau lagi pre-rut!”

Ya?

“Ya?” 

Menggeser meja dengan gusar dan membuka pintu secara cepat sambil melihat situasi, tangan yang lebih muda menarik lengan Nakula. Membawanya berlari di tengah gang, melewati jalan yang tadi. Arjuna melesat seolah hafal seluruh jalan di luar kepala. Seakan map fisik telah tertanam jauh di kepala kecilnya. 

Sesekali mereka berhenti, menunduk, dan menempel pada tembok. Di beberapa tempat, Arjuna menghimpitnya, menaruh telapak tangannya pada tengkuk Nakula. Tangannya gemetar dan Nakula tahu ada yang tidak beres, bukan karena Juna gemetar setiap kali bersentuhan meski tangannya digenggam erat. Semuanya karena Nakula yang tiba-tiba mengalami siklus pre-rut, tak beruntung bahwa tempat mereka kini tak bisa membawanya pulang untuk mengambil pil atau menghabiskan rut-nya sendiri. Mungkin sambil membayangkan Arjuna, yang ditampar oleh beton sebab kabur nafsu mulai masuk.

Mengalami pre-rut bersama omega yang sangat Nakula dambakan itu sungguh keadaan yang sangat kacau. Terlebih karena Arjuna membenci alpha dengan semua insting yang menekan mereka seperti hewan.

Jika pria yang di depannya gemetar karena takut tapi tetap berusaha menyentuhnya agar feromonnya tidak melonjak dan meledak keluar, Nakula haruslah malu.

“Jun, kamu pergi duluan aja.”

Kalimatnya tak menghentikan Arjuna untuk membawanya berlari keluar, meski sempat ketahuan oleh satu dua orang dan berhasil mengelabui hingga berhasil. Melihat tangan Arjuna yang masih gemetar dengan takut, feromonnya membentuk perisai dan sikap waspada, untuk pertama kalinya pada Nakula. Ia hanya ingin terjun dari lantai tiga karena menakuti omega mereka (belum).

“Ngomong apa sih?” Juna menatapnya kesal, decakannya memenuhi isi kepala Nakula. Feromonnya menusuk seolah ikut memarahi. “Gak usah ngaco. Kalau aku tinggalin pas keadaan lagi gini kau mau keluar kaya gimana?”

Nakula tertawa pelan, memecah canggung dan memberi keamanan pada omega di depannya. “Bisa loh aku, kamu meremehkan.” Wajahnya berpaling, menatap sekeliling sebelum kembali pada pundak sempit milik Arjuna—di belakang kulit lehernya yang terbuka tanpa noda. “Aku bisa nahan dan gak akan nyer—”

“Lanjutin, dan aku bakal nyeret kau meski harus diikat.”

Sejujurnya itu tidak buruk untuk diikat oleh Juna.

Tapi tentu saja tidak ada waktu untuk semua fantasi yang datangnya entah dari mana. Nakula yakinkan itu karena pengaruh rut yang semakin dekat, bukan keinginan pribadinya. Serius.

“Aku make scent patch,” katanya sambil tertatih. Napasnya bergerak naik-turun secara tergesa. “Feromon kau meledak, mereka bakal lebih cepat tahu kau di mana, dan jangan berpikir itu hanya dirimu saja lalu memintaku untuk pergi. Kau membaui-ku begitu banyak, Nakula.” Arjuna mengatakannya dengan frustasi. Mengacak legamnya yang kini tampak seperti dia baru saja bangun tidur.

“Sialan! Kenapa pula hidung alpha bisa jadi lebih tajam setiap kali mau rut sampai make scent patch pun tetap gak ngaruh!”

Di tengah delikan Arjuna yang terus memaki alpha—100% bukan Nakula—dirinya hanya bisa menyeringai lebar seperti seorang idiot, maaf saja jika alpha salam dirinya begitu sensitif. Ini hanya bawaan.

“Turun!”

Nakula mencoba berkedip, hidungnya mengernyit karena bau yang tak enak dari tempat Arjuna memintanya untuk ke bawah. Di sampingnya Juna memutar mata malas, semakin mendorongnya yang membuat kulit mereka saling bersentuhan yang hanya dihalangi oleh pakaian—rasanya panas sampai bau menjijikan membuat dirinya menggeram tak tertahan.

“Kenapa kesini sih? Bau!”

“Ya biar nutupi feromon kau, apa lagi?”

“Gak di saluran bawah tanah juga gak sih, Jun?”

Mendesak malas dengan kedua lengan berkacak di pinggang. Manik sewarna perak membuat tatapan Arjuna jauh lebih tajam, kegelisahan di feromonnya yang menyatu dengan saluran bawah tanah membuat Nakula mual.

Rasanya ia hanya ingin melingkari tubuh Juna dan membenamkan wajah tampannya di tengkuk tempat kelenjar aroma Arjuna berada.

“Kul, kali ini aja loh,” Arjuna hampir seperti merengek, bergerak ke kanan-kiri dengan gelisah. Tatapannya terus menatap sekitar secara waspada, bahkan pada Nakula sendiri. Sungguh, ia benci menjadi ancaman bagi sang omega.

Menghela napas kasar Nakula turun, melangkahi setiap anak tangga berkarat secara hati-hati. Arjuna masuk setelahnya. Hal pertama yang Nakula rasakan hanya perasaan jijik, bau kotoran di mana-mana, dan indra penciumannya yang semakin tajam membuat segalanya semakin buruk. Kakinya hampir tak bisa berdiri tegak, memaksanya untuk tetap seperti baja sambil mengulurkan tangan ke atas agar Arjuna bisa memegang selayaknya pegangan. Atau justru sebaliknya.

“Kau tidak apa-apa?” Arjuna bertanya dengan khawatir, sikap waspada dan rasa gelisahnya hilang begitu saja. Sayang sekali Nakula tak menghirup feromonnya karena tempat mereka sekarang.

“Sedikit pusing,” jawabnya.

Ada beberapa hal yang membuat Nakula jatuh cinta pada Arjuna. Mulai dari hal paling sederhana, hingga hal yang akan dipertanyakan setiap orang. Salah satunya adalah cara Arjuna mampu membaca setiap orang yang dia temui, mungkin suatu kebiasaan karena pekerjaannya mengharuskan sang omega untuk bisa membaca situasi, caranya yang terus mengamati target demi mencari informasi—seperti saat ini.

Matanya terpejam, bergerak gusar mendekat dan menoleh untuk memperlihatkan lebih luas bagian leher yang lebih muda. Satu tangannya menggaruk tengkuk, melepas scent patch di sana juga pergelangan tangannya. Arjuna menarik tangan Nakula, begitu dekat hingga tinggi mereka yang tak begitu jauh membuat hidung Nakula tepat di atas kelenjar aromanya. 

Dan sial, feromon Arjuna perlahan tercium, seolah hendak menutupi semua bau menjijikan yang membuat Nakula sakit kepala. Hidungnya menghirup sebanyak mungkin, menempel hingga sentuhannya membuat mereka berdua tersentak.

“Terus jalan,” kata Arjuna tanpa nada. Nakula tahu dia hanya berpura-pura, tubuhnya gemetar dan tegang, bahunya tegak dan kaku. Nakula juga tahu untuk berhenti menghirup lebih dekat, agar berhenti memikirkan segala banyak hal yang akan membuatnya menyesal nanti. Tapi Demi boxer mereka berlima yang pernah diambil burung saat sedang berenang, Nakula sungguh tak tahan. Sedikit saja ada celah dari hidung dan kelenjar aroma Arjuna, sakitnya akan seperti tertusuk pisau dan membuatnya berhenti bernapas. Oke mungkin terlalu hiperbola tapi itu serius.

Mereka terus berjalan dengan Juna yang memandu. Menempelkan pergelangan tangan mereka, sesekali menekan setiap tanpa sengaja Nakula hampir melakukan hal selain hirup, dan membuatnya malu juga menyesal. Oh sungguh sial sisi alphanya ini, bisakah dia berhenti menggunakan insting?!

Kemudian keduanya memanjat, di salah satu taman kota yang sepi karena waktu telah berganti. Disambut oleh Sadewa, Yudistira, dan Bima di atas sana setelah Arjuna memainkan ponselnya untuk memanggil mereka dan meminta Sadewa membawakannya supresent milik Nakula. Satu hal yang Nakula rasa hanya kekecewaan karena dijauhkan dari omega-nya, dipisah secara paksa sebab Sadewa dan Yudistira menariknya menjauh. Paksa dalam arti mereka menyentuhnya, meminta ia melepaskan diri dari sisi Arjuna, untuk berhenti menghirup tengkuk yang meminta untuk ditandai, dan membalikkan akal sehatnya yang tampak seperti akan mati.

Sadewa memberinya supresent, setidaknya pikiran primitif juga siklus rut bisa ditekan untuk sementara waktu. Iris birunya menatap Arjuna yang sedang berbicara dengan Bima, terlihat sangat serius karena otot Juna yang tampak tegang.

Feromon dan posisi mereka tadi masih menghantui.

Dan rasanya akan terus menghantui Nakula.

 


 

2.

Nakula kembali dihantui selama tiga minggu. 

Perasaannya mencekik, membuatnya berada di titik paling rendah terlebih saat rut-nya datang yang terpaksa ia lakukan seorang diri—saran dokter karena Nakula terus menggunakan supresent untuk menekannya. Dan selama lima hari yang menyiksa, menekan segala pikiran terburuk, menenangkan dirinya sendiri, Nakula masih tak bisa menatap sang omega tanpa rasa malu dan bersalah.

Bunuh Nakula sekarang juga.

Tiga minggu bukan waktu yang lama bagi sebagian orang, tapi bagi Nakula itu hampir terasa seperti tiga tahun yang panjang. Memaksanya untuk bersikap biasa, melupakan apa yang mereka lakukan sepanjang berjalan keluar dari saluran bawah air. Membuatnya berusaha untuk lupa seberapa dekat dirinya dengan titik paling sakral dari tubuh Arjuna. Tempat di mana ia mengikat sebuah klaim, menjadikan Arjuna sebagai mate.

“Tolong sadar diri Kula!” Kedua tangannya menampar masing-masing sisi wajahnya, cukup keras hingga banyak pasang mata menatapnya dengan tatapan menghina.

Dia hanya bisa tersenyum canggung, pura-pura menggosok seolah tengah mengoleskan sunscreen di sepanjang wajah. Jika bukan karena suaranya sangat keras di tempat umum seperti jalanan menuju rumah Arjuna.

Sebelum Nakula menyalahkan dirinya sendiri, ia harus menyalahkan alpha dalam dirinya yang terus merengek untuk menemui Arjuna. Setidaknya untuk melihat dengan kedua mata, untuk mencium aromanya meski hanya sementara.

Bukan berarti Nakula menghindar. Ia sama sekali tak akan bersikap begitu tidak dewasa. Kabur dari masalah? Hah, itu hanya meminta lebih banyak waktu 

Itu tidak sama dengan kabur, Nakula hanya butuh lebih banyak waktu.

Atau ya dirinya memang menghindar hingga Sadewa harus melempar serbet ke wajah paripurna miliknya, dan memercikkan air dari keran saat mencuci piring selayaknya holy water.

Bertemu Arjuna secara langsung seperti meminta ia bertemu Thor, atau mungkin kedua orangtuanya yang telah tiada. Membuatnya sangat ingin bersujud dan meminta maaf karena tidak menjadi Nakula yang sempurna. 

Dan sialnya, mereka dalam satu kelompok yang sama untuk mencari tahu mengenai Q=Ravva, tentu saja keduanya akan saling bertemu. Jikapun tidak, itu hanya Nakula yang terus melarikan diri.

Di depan pintu milik sang omega, tangannya bersiap untuk mengetuk jika saja feromon Arjuna tak bocor. Membuatnya menekukkan alis dan menatap sekitar. Berhati-hati jika ada alpha lain di dalam.

Arjuna tengah heat mungkin mendadak dan supresent nya habis. Tak sempat meminta salah satu dari mereka untuk membelinya.

Nakula bergerak gusar, secara sadar mengeluarkan feromon alpha yang marah, menandai seisi rumah agar alpha lain tahu ke wilayah siapa mereka berada. Kaki jenjangnya bergerak cepat setelah memastikan semua pintu dan jendela rumah Arjuna aman. Pergi ke apotek dengan tergesa terasa seperti mengejar kereta. Sangat lambat, mengejek dirinya karena tidak bergerak lebih cepat. Membiarkan omega mereka tersiksa sendiri yang membuatnya seperti tertimpa besi.

Kegusarannya pasti membuat sang apoteker khawatir. Terlebih feromonnya yang pahit karena dipenuhi kekhawatiran, geraman tertahan, dan taring yang harus ia tahan agar tak mencuat keluar. Meski banyak pertanyaan di wajah sang apoteker saat Nakula meminta supresent untuk omega, menatapnya curiga lalu berhenti dan langsung memberikannya. Nakula sangat bersyukur, sedikit saja diperlama mungkin bumi sudah ia putar balikkan.

Rumah Arjuna hanya berjarak beberapa meter, tapi feromonnya menebus segala jarak meski aromanya pun sudah berada di sekeliling rumah. Beberapa alpha berhenti, hampir kehilangan akal, terlalu dekat dari pintu rumah Arjuna. Nakula tak lagi menahan diri, dia menyerang. Feromonnya menandakan kepemilikan, menggeram dengan kedua taring terlihat, siap mengoyak bagian tubuh alpha manapun.

Untungnya semua anggota Pandavva memiliki kunci satu sama lain, kerjaan bersama ini bisa membuat kehidupan mereka dalam bahaya. Jadi jika sesuatu terasa aneh, mereka bisa masuk begitu saja karena memiliki kunci. Nakula bisa bersujud untuk mengucapkan terima kasih pada sang kuasa.

Menutup pintu membuat feromon Arjuna begitu kuat, bagai mawar berduri yang mencekik. Mengirimkan sulur-sulur berduri untuk menarik Nakula jatuh dalam genggaman sang omega, durinya menusuk agar ia tak pernah pergi. Menggodanya untuk terus dekat, begitu dekat hingga kabut nafsu menjadi akhir.

Ya Tuhan.

Kepalanya menggeleng, dengan cepat mencari jejak aroma paling kuat untuk menemukan sang omega. Di ruang tamu tempat biasanya mereka bersantai, seluruh rumah dipenuhi aroma Arjuna, terlebih ruang tamu bisa disebut sebagai badai feromon.

Arjuna merintih, dibalik sofa meringkuk hingga tubuh besarnya bisa bersembunyi. Seketika lupa jika tingginya mencapai 180 cm. Membuatnya terlihat sangat kecil dan Nakula hanya ingin melindunginya dari dunia jahat, ingin membawa Arjuna jauh dari bumi ke tempat di mana hanya ada mereka berdua. Tempat di mana apapun pergerakkan yang Arjuna buat bisa ia ikuti dengan mata telanjang, menjaganya tetap di bawah pengawasannya. Dengan tanda yang mengatakan mereka adalah mate—

Arjuna menggeram padanya, waspada, berdiri di atas sofa dengan kedua bahu membungkuk. Taringnya mencuat dan itu cukup untuk membuat Nakula berdarah-darah. Sikap defensif karena ada alpha yang tiba-tiba datang menandai wilayahnya, lalu masuk, dan ingin mengambil otoritas.

Bagi omega yang tengah heat, sisi primitif mereka mendominasi dan sikap Arjuna kini harusnya bisa Nakula mengerti.

Sedangkan Nakula dengan santai menandai dari luar, lalu masuk dan berpikir liar. Tidak memikirkan Arjuna yang mendapati aroma lain di wilayahnya dan mengira Nakula penyusup.

“Juna,” dirinya memanggil dengan lembut. Masih menjaga jarak agar Arjuna mengerti kedatangannya bukan untuk berniat buruk. “Hei, ini aku,, Nakula.” Feromonnya bergerak lembut di udara, tidak tajam, begitu halus persis seperti hujan yang datang pada bumi. Persis seperti ombak mendorong suara-suara paling menenangkan.

Butuh beberapa saat bagi Arjuna agar tak menolak feromon miliknya. Menyiksa diri untuk berhenti menghirup yang sama saja berhenti bernapas. Menahannya cukup lama sampai akhirnya menyerah. Arjuna mencium feromonnya dengan pelan, mengendus-endus udara dengan segala pertimbangan.

Kemudian tubuhnya membungkuk, rentan dan gemetar. Pupil yang awalnya mengecil kembali seperti sedia kali.

“N-nakula?”

Kakinya berjalan secara perlahan, tidak terlalu dekat, tidak juga berjarak terlalu jauh tapi cukup untuk mengelus dahi panas Arjuna dengan hati-hati. Kacamata yang biasanya terpasang apik di wajah cantiknya jatuh pada lantai, Nakula memindahkannya ke meja samping sofa.

Menyatakan kehadirannya melalui feromon yang terus bergerak lembut di udara, bukan untuk mengklaim dan mengambil alih. Tapi untuk menenangkan dan menurunkan stress Arjuna. 

Feromon alpha bisa membantu meringankan siklus heat omega, begitupun sebaliknya. Pelajaran dasar ketika mereka masih sekolah dasar. Dan karena itu Arjuna kemarin membantunya, membiarkan Nakula membenamkan hidungnya di tengkuk sang omega. Harusnya Nakula yakinkan hal itu agar tak terus menghindari Arjuna dan membuat dirinya sendiri tersiksa.

Meski begitu, ia masih memikirkannya. Arjuna melakukannya dengan persetujuan yang jelas, tapi tubuhnya yang terus tersentak dan gemetar membuat Nakula bertanya secara ragu. Karena sial ini semua salahnya, bukan? Nakula bisa saja berhenti ketika getaran pertama dia rasakan. Menjauhkan diri dari tengkuk Arjuna. Tapi tubuh dan sisi alphanya mengkhianati. Mereka memintanya untuk menetap lebih lama, untuk melakukan lebih hingga pertarungan internal terjadi di kepalanya.

Persis seperti saat di mana Spongebob dan isinya kepalanya yang meledak.

Tangan Nakula sekali lagi mengelus dahi yang panas, menyingkirkan helaian rambut yang menempel karena keringat. Arjuna bersandar pada sentuhannya. Mendengkur puas dan Nakula harus bertanya apakah Manya berubah menjadi manusia?

Dari cara Arjuna bersikap saat heat, sang omega telah mencapai puncak di hari pertama. Membiarkan sisi omega-nya mengambil alih sepenuhnya.

Menahan napas sedalam-dalamnya Nakula mendudukkan Arjuna. Butuh usaha lebih besar agar Arjuna duduk tanpa mengambil segala tindakan agresif. Dengan dua buah pil supresent yang ditekankan pada bibir cerah yang terlihat begitu lapar, tangannya Segera mengambil sebotol air di samping meja dekat kacamata. Membuat Arjuna menelannya utuh sebelum memindah yang lebih muda ke sarangnya.

Seingat Nakula sarang Arjuna berada di salah satu kamar yang terkunci. Terdapat beberapa barang milik Nakula juga yang lainnya, kebanyakan milik Aya dan di situasi saat ini, omega yang lebih muda bisa membantu Arjuna lebih banyak. 

Mungkin nanti, sehabis Arjuna tertidur Nakula akan menghubungi Aya.

Menggendong Arjuna sebenarnya bukan perkara hal mudah, tidak dengannya yang terus menggeliat saat tangan Nakula berada di bawah lutut dan bahu Arjuna. Tidak ketika Arjuna terus meniupkan udara panas, tidak ketika tangan Arjuna terus bergerak melepas kancing kemeja dan merengut saat coat-nya menahan untuk melepas kancing lebih jauh.

Pintu putih lain di sebelah kamar tidur Juna, tak terkunci dan terbuka, ruang sarang Arjuna yang berada dengan lembut Nakula membaringkan Arjuna yang tak mau lepas. Kehadiran alpha yang dikenalnya membuat Arjuna nyaman, menaruh kepercayaan besar yang membuat Nakula mual karena pernah memikirkan hal yang sangat tak pantas.

“Aku benar-benar menyesal, maaf Juna.” Perkataannya lirih, terbenam begitu sunyi meski Arjuna masih terjaga. Masih mencoba menjangkau dan kemudian berhenti. Mungkin lelah, mungkin tahu, dan mungkin memang Arjuna tak pernah mau mendengar dan sibuk meringkuk. Feromon omega yang tengah heat itu menyiksa, menyiksa sabab Nakula sebagai alpha juga bisa lepas kendali. “Saat keadaan kembali normal, aku akan mengatakannya dengan tulus.”

Tangan Nakula menarik satu selimut yang berada di sarang, memberinya pada Arjuna. Senyumnya kecil dan hangat, “aku akan menunggu di luar sambil menghubungi Aya.”

Tubuhnya baru hendak berdiri sebelum terjatuh dengan bunyi dentuman keras. Arjuna menahan satu kakinya, meminta untuk menetap, menemai sang omega agar tak mengalami siklus panas seorang diri.

“Stay h-here…” Arjuna serak, meminta dengan memohon seolah jika Nakula pergi Arjuna akan kembali meringkuk dan bersikap agresif.

“Sampai Aya datang,” akhirnya. Menahan semuanya dengan niat agar tak mengecewakan Arjuna kembali. Meski feromonnya meminta untuk diisi, jauh lebih banyak, dan mempercayai Nakula meski tiga minggu lalu sangat gemetar.

 


 

3.

Arjuna akan mati.

Sungguh dirinya akan mati karena malu. Siapapun kubur Arjuna sekarang juga, tolong.

Dua minggu layaknya neraka, heat-nya datang jauh lebih cepat dari tanggal seharusnya. Tak ada persiapan sama sekali, tak sempat menghubungi hingga panas melanda.

Sialnya, semua hal itu terjadi setelah Arjuna terjebak di antara pertengkaran alpha pada saat menjelang rut. Misi seharusnya sederhana, mendekati target, menggali informasi, lalu pergi. Seharusnya semudah itu, tapi tempatnya yang saat itu di hotel bintang lima turun dari lift dan kemudian dimasuki dua alpha yang sedang rut, hampir kehilangan akal sehat, taring mereka sudah mencuat keluar. Arjuna hampir muntah. Ia sangat yakin mendengar keduanya saling menggeram, mencoba menargetkan Arjuna yang telah memakai berbagai macam penghalang agar gender keduanya tak diketahui.

Geraman berubah menjadi gerutuan, kemudian saat pintu lift terbuka setelah tangannya dengan cepat mengganti lantai yang akan Arjuna turun. Dirinya berlari keluar setelah suara erangan dan gigitan terdengar, entah apa yang terjadi pada mereka persetan saja.

Sayang seribu sayang, pengaruh berada di antara yang sedang rut, di sebuah ruangan kecil bertutup memicu masa heat-nya lebih cepat. Membuatnya berbaring tanpa bisa memberitahu siapapun, membiarkan insting alaminya mengambil alih dan tetap membangun kesadaran agar menyerang siapapun alpha yang masuk.

Menjadi omega itu sangat buruk, terlebih jika itu omega yang belum berpasangan. Yang terus berbaur tanpa aroma karena terus menyembunyikannya. Melewati masa heat seorang diri dengan segala keinginan dan perlindungan. Indranya yang semakin sensitif membuat omega lebih sering bersikap defensif, apalagi jika mereka membangun tembok tinggi sejak lama.

Umumnya, ada beberapa omega yang terkadang berada di pusat rehabilitas, sebagaimana alpha yang tak terkendali di tahan. Sama dengan omega dalam masa heat.

Jadi ya Tuhan, Arjuna benci heat. Dia benci harus selalu waspada, harus selalu menaruh mata pada seisi rumah. Dia benci harus terus terjaga meski ini menyiksa karena keinginan untuk disentuh oleh alpha. Benci harus terus menahan agar tak keluar dan merayu alpha manapun agar tidur dan membantunya. Benci karena segalanya sakit.

Tapi demi Nasi Padang yang sering Arjuna beli, heat kemarin tak seperti biasanya. Menyiksa dirinya tapi jauh lebih nyaman. Seperti satu beban diangkat dari badannya. Seperti duduk di dekat perapian saat salju menyentuh bumi. Rasanya hangat, menenangkan, dan untuk pertama kalinya Arjuna bisa menurunkan kewaspadaannya.

Kemudian semua hal itu terjadi karena Nakula berada di sana. Duduk di sampingnya dan terus mengusap keringat yang muncul di dahi Arjuna. Menggenggam tangannya lebih erat, seolah menahan Arjuna agar menatap, atau menahan diri agar tak bergerak liar.

Alpha itu ada di sana sepanjang masa heat-nya. Tak selalu berada di kamarnya, tidak saat gelombang berikutnya datang dan Arjuna begitu haus, merengek agar Nakula mengambil alih tubuhnya, untuk diisi oleh benih si alpha. Oh sial 

Namun Nakula ada, di setiap sudut rumahnya, aromanya, feromonnya yang mengklaim setiap titik. Membangun tembok baru untuknya, dan siapa Arjuna yang mulai merasa nyaman, merasa dilindungi, dan memiliki ruangannya sendiri.

Aya bahkan mengatakan bahwa dia harusnya bersyukur memiliki alpha seperti Nakula. Alpha yang akan selalu berada di dekatnya dan melindunginya. Arjuna hanya menjawab ia tak butuh dilindungi. Arjuna bisa melindungi dirinya sendiri tanpa alpha manapun. 

Yang dibalas dengan kedua alis yang naik turun, kembali membilas piring dan tertawa pelan. "Kalau gitu dia berhasil bikin kakak gak perlu waspada dan nyaman."

Arjuna ingin menyangkal bukan seperti itu! Ingin mengatakan bukan seperti yang Aya pikirkan. Namun dari tawanya yang tak pernah berhenti Arjuna tahu mau berapa kali pun dia memberi tahu kebenaran dari hatinya, adiknya tidak akan percaya.

Nakula tuh ombak yang terus membuatnya terombang-ambing. Berdiri di sekitarnya seperti merobohkan setiap bata dari tembok yang telah Arjuna susun bertahun-tahun. Membuatnya terbuka untuk menyambut sang alpha dalam hidupnya yang terus membenci alpha.

Dan Arjuna benci. Benci betapa perlakuannya disaat yang sama berbeda saat Nakula melakukannya. Benci betapa ia begitu menghindar, memberinya aroma pahit dan asam pada saat mereka terjebak di lorong-lorong saluran pembuangan. Arjuna tahu Nakula mampu merasakan ketidaknyamanan dan ketakutan yang terus menghantui pikirannya sejak dirinya mengetahui sang alpha dalam keadaan pre-rut.

Membayangkan hal yang dilakukan Arjuna dan Nakula dalam kondisi serupa seperti seseorang telah meninju perutnya. Ia merasa bersalah.

Pria itu bahkan menghindarinya sejak rut-nya selesai. Dan Arjuna tahu sebab feromonnya masih mengudara tak lama ia datang, atau hilang karena memang Nakula tak datang.

Jari-jarinya menyentuh tembok yang retak, menghela napas lelah sebab kerjaannya jauh lebih berat ketika memikirkan Nakula, Nakula, Nakula, alpha….

Lantas kepalanya menggeleng, bersyukur bahwa dirinya adalah manusia dan bukan boneka yang mudah patah.

“Mikirin apa sih?” Suara Yudistira yang bertanya membuat Arjuna menatap sahabat beta-nya dengan ekspresi paling melas.

“Nakula,” jawabnya dengan satu kata. Tanpa hal lain, tanpa penjelasan lebih lanjut, dan Yudistira sudah mengerti dari tawa kecil yang keluar dari belah bibirnya.

Keduanya berada di salah satu gang, di antara gedung-gedung pencakar langit. Di tengah pusat kota yang tak pernah berhenti berisik, baik siang maupun malam. Kehadirannya di sini mengikuti yang lebih muda, menemaninya menyanyi di antara ribuan nyawa yang terus datang dan pergi. Target mereka adalah orang tersohor, memiliki kedudukan tinggi di gedung-gedung pembuat peraturan. 

Jangan sebut ini mengamen, serius. Arjuna hanya menemai, side job sesungguhnya diambil oleh Yudistira yang tengah menghitung receh di dalam topi.

Tangan Yudistira dengan lihai mengambil dan menghitung. Seolah dia telah terbiasa. Tawanya masih belum reda hingga wajah Arjuna terus memerah. “Jangan ketawa terus!”

“Ya gimana? Aku kira kau mikirin apa sampai segitunya, ternyata karena Nakula?”

Yudistira mengejek dan Arjuna tak tahan untuk bergerak seperti Spiderman—memanjat gedung di sebelahnya agar tak harus mendengar tawa menyebalkan temannya itu.

“Aku nggak segitunya!” Arjuna menyangkal, tangan terlipat silang di dada dan Yudistira sialan dengan kedua mata hijau yang tersembunyi di antara bulu mati cantiknya menatap seolah bilang, apa kau yakin? “Atau ya! Aku memang melakukannya!”

“Terima aja, Jun,” uang dikumpulkan dimasukkan ke dalam tas selempang hitam. Topinya dipakai lagi. “Alpha mana yang kejebak berdua sama omega saat pre-rut masih bisa menahan dirinya? Alpha mana yang kejebak berdua aja di rumah omega yang tengah heat, hanya duduk, melepaskan aromanya dengan lembut.”

Yudistira menjabarkan hal paling masuk akal, mirip seperti yang dikatakan Aya. Tapi Arjuna membiarkan sisi denial-nya bangkit.

Nakula memang beda dari alpha biasanya, pria itu nyaris sempurna dalam segala hal atau 100% sempurna jika gender keduanya bukan alpha karena Arjuna membencinya. Jika Nakula bukan alpha, sudah lama sekali Arjuna akan menjawab tingkahnya yang selalu merayu, mengajaknya berkencan, dan menerima seluruh saran temannya agar membuka hati untuk yang lebih tua.

Sayangnya, seberapa banyak pun ia merasa Nakula sebagai orang yang sangat ingin dikencani. Tak dipungkiri statusnya sebagai alpha membuat segalanya runtuh.

“Tapi dia alpha.”

Dan Yudistira tak menunggu untuk berbalik pergi ke arah kerumunan, tidak ketika ia meninggalkan Arjuna dengan seluruh ekspresi bahwa beta itu mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan.

Arjuna sangat membencinya, gak seharusnya dia menelan harga diri dan ikut mengamen dengannya.

Kemudian hal itu berlanjut, seperti permainan tanpa akhir hingga salah satu menyerah. Dan Arjuna mengakui bahwa ini bukan lagi kebetulan ataupun kesalahan. Lebih seperti takdir mengatur pola agar hal ini terus berlanjut. Terjebak di tengah masa panas salah satu di antara mereka.

Ya Tuhan. Feromon Nakula menusuk setiap inci tubuhnya, jauh lebih kuat saat mereka berada di perumahan tak terjamah, jauh lebih liar ketika berjalan di bawah saluran air.

Feromon Nakula menekan, mengklaim, mendominasi.

Omeganya tengah merintih agar membiarkan sang alpha masuk. Menyuruh Arjuna untuk membantunya sebagaimana Nakula membantu panas mereka. 

Kata orang omega dalam diri mereka menyatu dengan raga, namun Arjuna merasakan kebalikannya. Seluruh tubuhnya merespon untuk lari, memberinya gelombang listrik yang mengejutkan seluruh indra, meningkatkan adrenalin agar bisa pergi dari alpha yang akan menggila. Gemetar di tangannya yang memegang knop pintu membuat bunyinya bising. Pintu itu tak terbuka, dikunci dari luar oleh seorang beta pria setelah keduanya hendak menangkapnya. Membuat Arjuna dan Nakula terjebak setengah hari, hingga titik di mana rut Nakula datang disaat puncak-puncaknya. Seharusnya Nakula bisa memakai supresent-nya jika tasnya tak dibawa pergi.

Sang Alpha menggeram, taringnya mencuat dan pupilnya mulai seperti serigala. Kecil dan gelap, seolah tengah dimakan kabut.

Arjuna yakin sekali bahwa feromonnya telah bocor akan rasa penuh ketakutan. Tertutup oleh feromon asinnya laut yang terus mengudara, persis seperti berjemur di saat musim panas. Hangatnya pasir, wangi laut yang menandakan adanya gelombang liar. Nakula berbau seperti ia akan meledak hingga mampu menenggelamkan Arjuna.

Pria itu telah meminta agar menutupi mulutnya dengan apapun, mungkin moncong yang biasa digunakan para petugas berseragam saat ada alpha yang mengamuk. Tapi di tempat ini tak apapun selain bekas-bekas meja dan kursi. 

Nakula masih berada di sudut, sedang berkelahi dengan alphanya. Melihatnya terus menyakiti diri tapi tak pernah membiarkan matanya menatap hal lain selain Arjuna.

Meneguk saliva-nya, Arjuna tengah mencoba berjalan di antara kursi-kursi yang disusun. Hendak mengambil balok kayu yang seukuran lengan orang dewasa. Tangannya meraba ponsel di celana, ada getaran di sana satu jam lalu setelah ia memberi tahu yang lain jika mereka terjebak dan Nakula tengah rut. Yang dibalas cepat oleh Bima sambil berkata lagi? dan Sadewa berkata telah memasukkan semua perlengkapan saat mereka pergi.

Tapi kegiatan mengambil ponselnya diam-diam diberi geraman ancaman. Setiap kali ponselnya berhasil keluar, Nakula seperti akan berancang-ancang untuk menghancurkan benda kecil yang harganya hampir membuat Arjuna menangis.

Nakula terus menyakiti diri seolah itu bentuk pengalihan agar sisi primitif alphanya tak mengambil alih. Arjuna hampir berteriak dan berlari setiap kali alpha itu melakukannya, tapi feromonnya yang terus mengudara membuatnya berhenti.

Arjuna benci menjadi lemah hanya karena ia omega. Hanya karena feromon alpha bisa sangat mempengaruhinya.

Dia benci hanya bisa diam disaat Nakula justru membutuhkan bantuannya. Benci ketika pria itu dengan sukarela duduk di sarangnya, memeluknya dengan kehangatan paling nyaman, melalui feromonnya yang bergerak lembut. Dan kini Arjuna hanya bisa menatap dengan tatapan penuh ketakutan.

Tangannya tak berhenti gemetar, respon tubuhnya bertolak belakang dengan omega-nya yang terus meraung agar membantu alpha.

Sungguh sialan si pencuri itu. Demi Tuhan Arjuna akan membawanya ke jeruji besi saat dia keluar dari situasi ini.

Jika bukan karena mereka berdua mengejar pencuri yang mengambil tas Nakula saat dalam perjalanan pulang. Tak mungkin mereka akan berada di sini. Yang mana, pencuri tersebut sengaja menargetkan Nakula untuk mengambil kunci di kantor Azure. Agar bisa mengambil file mengenai salah satu kasus yang Nakula ambil. Nakula berkata pria itu adik dari orang yang kliennya lawan.

“Nakula,” panggilnya pelan. Bahunya terus menaik dan tegang. Tidak ada jalan keluar jika Arjuna ingin situasi berjalan semakin buruk. Kakinya melangkah, dari satu ke dua. Tidak ada respon, seolah Nakula memberi tanda bahwa dia akan menahan diri. Kaki ketiga dan keempat, Nakula menggerakkan kakinya dan menggeram kemudian menampar dirinya sendiri. Oh Tuhan.

“Hei,” kali ini Arjuna mencoba untuk tidak tegang, membiarkan feromonnya kembali mengudara dengan manis. Sama persis seperti kejadian tiga bulan lalu. “aku akan membiarkanmu untuk dekat dan menghirup feromonku lebih banyak seperti tiga bulan lalu. Jadi tahan sedikit lagi, ya? Hanya tahan saja, please.”

Arjuna benar-benar memohon dengan rintihan omega-nya. Seolah aktif agar alpha dalam diri Nakula menyadari betapa ia membuat Arjun takut setengah mati.

Dan Nakula terdiam, feromonnya tak lagi bergerak liar. Itu menetap di udara, menetap di sekitar Arjuna sebagai pertanda. Bibir sang omega mungkin membentuk senyum paling indah hingga feromon Nakula berubah menjadi campuran antara laut dan lemon, seperti berenang dan menyesap jus hingga dahaganya hilang.

Jadi kakinya semakin memperpendek jarak, sangat dekat dan tangan Arjuna telah terulur ke depan dengan kelenjar aroma diarahkan pada indra penciuman Nakula. Alpha itu bersandar padanya, menarik tangan Arjuna lebih jauh hingga hidung bangir Nakula menyentuh kulit yang lebih muda.

Jika ada yang bilang sentuhan alpha yang tengah rut bisa jauh berbeda berbanding dari biasanya, Arjuna akan memberinya satu truk berisi es krim. Sentuhan itu dimulai dengan sensasi membeku, udara terasa jauh lebih dingin padahal tadi sangat panas. Tangannya kaku, hampir tak punya nyawa, bergerak sesuai yang diinginkan alpha. Dan tubuhnya yang membuka punya dua rencana ; lari entah ke mana atau bergerak lebih dekat.

Arjuna terkejut sebab Nakula hanya menghirup dari sana meski pegangannya terlalu erat. Hembusan nafasnya kasar, menandakan seberapa jauh pria itu menahan diri. Barulah ketika wajah cantiknya itu menadah ke atas, dengan pergelangan tangan Arjuna berada di dekat hidungnya dengan kepala yang sedikit di miringkan. Mata sebiru langit menatapnya dengan permohonan. Arjuna tahu ia tamat, dia bahkan tak tahu siapa yang menggerakkan kepalanya agar mengangguk dan duduk tepat di pangkuan alpha, dengan dada Nakula menyentuh punggung Arjuna.

Matilah ia.

Nakula mengendus tengkuknya, hampir merengek saat jari-jarinya membuka scent patch agar tak menimbulkan luka atau membuatnya sakit. Pria di belakangnya membenamkan seluruh wajahnya pada bagian belakang leher Arjuna. Tangannya yang lain memeluk pinggangnya dengan erat dan Arjuna tak sanggup menahan napas lebih lama—saat Nakula menariknya jatuh, saat alpha itu menghirup lebih banyak, bergesekan langsung dengan titik paling sensitif dalam tubuhnya.

Arjuna hampir membiarkan tubuhnya nyaman dan tenggelam. Sebelum gigi Nakula menggores kulitnya, berdiam lama di atas kelenjar aromanya berada. Seakan berniat untuk memberi tanda. Kewaspadaannya naik, tangannya yang masih memegang balok kayu mengerat. Siap kapan saja jika harus menggetok kepala temannya itu.

Tapi Nakula hanya terdiam, lalu merintih kecil seolah meminta maaf. Membenamkan kembali hidupnya ke sana, dan kalimat “jangan ngelakuin hal aneh apapun atau kayu ini bakal tertancap di kepalamu” tak akan dikeluarkan.

Arjuna yakin ia bisa mempercayai Nakula, tapi pengalamannya dengan alpha membuat segalanya semakin berkurang dalam hal kepercayaan. Bagaimanapun Nakula adalah alpha yang Arjuna benci.

Meski pria itu berhasil menahan diri hingga yang lain datang. Tidak melakukan apapun selain menyandarkan bobot tubuhnya pada Arjuna, menenggelamkan diri di lautan aroma miliknya. Memegang dengan cara paling berharga, berdarah karena terus menggigit bibir bawah dan lengan dengan taringnya.

Kayu balok itu tergeletak begitu saja selama hampir sejam. Dan untuk sesaat, sejam bersama Nakula hampir terasa seperti sebulan yang menyiksa dan memanjakannya dengan aroma Nakula.

Dan sialnya, Arjuna tahu setelah ini akan memicu jadwal heat-nya lebih cepat.

Terkutuklah alpha (meski dengan berat hati ia memasukkan Nakula ke dalamnya).

 


 

4.

Seseorang harus memberinya penghargaan karena tidak berlari dan menendang pintu rumah si kembar, lalu masuk begitu saja ke kamar Nakula.

Sial, sial, sial.

Jika begini jadinya Nakula harusnya tak membantu dia dengan aromanya yang begitu melimpah. Heat-nya jauh lebih menyakitkan ketika tidak ada lagi aroma alpha di seluruh rumahnya.

Omega dalam dirinya yang terbangun merengek untuk memanggil alpha, rindu mencium aromanya yang mengudara. Rindu dengan semua sentuhan paling hangat yang ada di dunia. Omeganya merengek dan Arjuna hanya ingin menangis.

Dia menginginkan Nakula berada di sini, tepat di sampingnya. Kembali membisikkan banyak ribu kata penenang. Sesekali bercerita mengenai harinya dengan para pegawai di Azure. Ia rindu Nakula yang dengan senang hati membiarkan Arjuna memeluk tubuh sang alpha, menghirup lebih banyak di tengkuk, rindu dengannya yang mengusap punggung Arjuna naik turun.

Arjuna menginginkan Nakula, dia menginginkan alpha.

Kepalanya hampir pening, heat-nya belum menuju puncak, masih di tahap awal hingga akal sehatnya masih bisa melawan agar tak berlari ke Nakula. 

Masih memiliki cukup banyak akal agar tidak mengambil ponsel untuk menelpon Nakula dan merengek agar alpha itu datang lalu bercinta dengannya.

Inilah kenapa Arjuna benci sekali alpha.

Semua hal yang mereka lakukan mempengaruhi omega. Membuatnya menderita dan tenggelam begitu jauh. Terkutuklah para alpha di luar sana, Arjuna harap di luar hujan hingga lima hari ke depan.

•••••

Ya Tuhan, terpujinya doanya yang langsung dikabulkan.

Lalu terkutuklah petir yang datang dan membuat pohon dekat rumahnya jatuh tepat di atas atap hingga meninggalkan lubang menganga. Membuat seluruh air masuk dan membanjiri seluruh tempatnya. Menutup semua aroma miliknya, merusak sarangnya yang semakin menyiksa omega batinnya.

Arjuna jujur ingin berteriak. Sialan.

Badannya kian panas, dan bagian bawahnya tak lagi basah oleh cairan yang terus di benci, tapi juga air hujan yang sejak tadi datang.

Dengan perasaan campur aduk hingga stress, ponselnya digenggam begitu erat—yang untungnya tidak terendam air atau hal lain. Jarinya terus bergerak, bingung ingin memberi tahu siapa agar menjemputnya untuk dibawa ke hotel ataupun menginap. Jika bukan karena heat, Arjuna aman mencari taksi sendiri tapi heat-nya hampir menuju puncak dan sekarang karena dia sangat stress berat. Rasanya seperti dipercepat. Kemudian mobilnya berada di bengkel, wow, lihat seberapa brengsek takdir mempermainkannya.

Jarinya menekan pada photo profile bergambar sawit, nada dering terus tanpa ada hilal akan dijawab. Pria itu sedang tidur, apa masih di taman dan bernyanyi di kondisi cuaca seperti ini?

Jarinya menekan merah lalu bergerak lagi. Bukan Bima atau Sadewa karena keduanya alpha. Bukan juga Nakula karena sialan, ia malu jika harus mengalami hal yang sama. Tidak dengan Aya karena Arjuna takut memintanya keluar saat hujan badai datang, takut jika hal itu membangkitkan trauma adik kecilnya. Satu-satunya jalan hanya Naia, wanita beta yang mungkin masih berkeliaran di sekitar taman membuka stand ramalan.

Benar saja teleponnya di angkat dengan bunyi hujan dan angin. Suaranya hampir tak terdengar, terlalu berisik hingga Arjuna menjauhkan ponselnya dari telinga.

JUNAAA! KENAPA??!!!”

“Jangan teriak tolong!” pintanya.

“Gak bisa. Lagi hujan badai, suaramu gak kedengaran!”

Tebak sudah berapa kali Arjuna menghela napas dalam sehari dan berapa kali omega dalam dirinya merengek agar memanggil Nakula kembali.

“Kau bisa ke sini? Tolong jemput, aku lagi heat. Belum ke puncaknya dan pohon dekat rumah tumbang. Gak sampai bikin rumah hancur dan aku selamat tapi atap aku bolong.”

Butuh beberapa saat bagi Naia untuk merespon dengan ‘hah?’ khasnya yang membuat Arjuna memilih tenggelam di dalam rumah.

Dan sebutkan berapa banyak dia telah mengatakan tenggelam?

Kok bisa sih?”

“Ya, aku gak tahu???”

“Aduh Jun,” oh tidak. Arjuna tak menyukainya sama sekali. “Aku sama Yudis lagi di tengah kota. Yudis lagi pegangin stand orang biar gak kebawa angin dan aku ikut juga. Aku bisa menelepon sambil memegang erat btw, keran gak sih?”

Sumpah, Arjuna ingin tenggelam. Lagi.

“Aku ke sana sama Yudis bentar, biar aku panggil yang lain dulu.”

“Jangan!”

“Hah? Kok jangan?”

“Ngapain kau panggil mereka kesini pas aku lagi mau di puncak heat?”

Loh?” Arjuna 100 yakin mendengar tawa dan teriakan memanggil nama Yudistira untuk menceritakan apa yang terjadi. “Enggak mungkin lah aku bawa mereka ke sana. Maksud aku ke sini biar gantiin kita, nanti aku sama Yudis baru ke sana.”

Oh.

oh.

“Ditunggu, makasih yaaa.”

Panggilan terputus dan Arjuna berjongkok di air yang telah mencapai pergelangan kakinya. Kalau gini mending Arjuna jadi ikan saja.

Menunggu Naia seperti menunggu agar kura-kura bisa menyeberangi jalan raya dalam satu menit. Lama sekali badannya sudah sangat panas dan Demi Tuhan. Ia telah mendesah tidak puas karena air yang terus menyentuh kulit sensitifnya. Membuatnya tak bisa merasa aman dan meskinya terasa dingin justru lebih panas.

Hampir seperti membakar dirinya.

Dia hampir sekarat di halaman dalam rumah. Tak berani keluar ketika baunya mengudara meski tertutupi aroma hujan yang jatuh dan Arjuna syukuri.

Kemudian bunyi klakson terdengar. Langkah yang bergerak menuju pintu, mengambil payung dan memutar kunci. Arjuna berharap jika yang di depannya adalah Naia ataupun Yudis di dalam mobil. Tapi hanya Nakula di sana, basah kuyup di atas badan. Tersenyum bodoh meski ujung alisnya bergerak khawatir.

“Hai,” sapanya tanda dosa. Hidungnya menghindar ke segala arah mengikuti kepala. “Naia sama Yudis yang gak bisa, mereka kebawa angin dan lagi dirawat sama tim medis. Jadi aku yang jemput.”

Oh terkutuklah hujan dan badai. Bukan ini yang Arjuna maksud!

“Mereka, baik-baik saja?”

Nakula mungkin menyadari nadanya yang gemetar. Tangannya meminta agar segera masuk ke dalam mobil, dengan payung yang menghalangi hujan dari keduanya (atau mungkin hanya Arjuna saja sebab Nakula membiarkan sisi tubuhnya basah) alpha itu menjawab. “Luka ringan, tapi gak dibolehin terlalu gerak sekarang.”

Arjuna mengangguk. Bergerak masuk ke kursi samping pengemudi. Nakula berlari ke kursi sebelahnya setelah Arjuna menutup pintu. Jasnya yang basah dilepas dan di lempar ke kursi belakang lalu terjatuh ke bawah bukan di tempat duduk. 

“Sebelum jalan,” pria itu menghadap ke belakang. Mengambil selimut yang Arjuna tahu selalu berada di mobil si alpha kemudian memberinya pada Arjuna, mengingat detective itu juga kadang harus tertidur di mobilnya. Hal itu memancing respon tanda tanya. Mulutnya hampir bersuara, tapi kehangatan lembut yang datang membuat omega-nya meraung senang. Hal itu memicu feromon Nakula yang tertahan di scent patch pria itu bocor karena hidungnya yang sensitif dan bersenandung senang.

Kedua wajah mereka pasti memerah tapi itu hanya bagian paling primitif dalam hidup mereka 

Tak hanya selimut, ada bantal leher, dan beberapa pil supresent baru yang biasa Arjuna pakai dengan sebotol air di berikan padanya.

“Biar bertahan sampai rumah.”

“Rumah siapa?”

“Aku.”

Jika bukan karena heat-nya yang terus menjadi bom waktu sebelum puncak. Arjuna akan menendang Nakula keluar dari mobil.

“Jangan natap gitu, Jun,” katanya hampir mendesis. Menahan alphanya agar diam dan tak mengeluarkan Geraman seperti kejadian satu minggu lalu. “Cuma rumah aku sama Mas Dewa doang yang dekat dari rumah kamu.”

Itu masuk akal. Tapi Arjuna membenci berada di sekitar alpha, apalagi dua alpha, dan salah satunya telah menjalani masa heat dan rut berdua meski secara tak sengaja.

“Kamu minum aja dulu pilnya. Kata Naia, kamu baru minum kemarin dan semua pilnya jatuh pas pohonnya roboh.”

Mengungkitnya membuat Arjuna kembali marah. Alisnya tertekuk, mengambil dua pil sekaligus sebelum meneguk dengan kasar. Alpha di sebelahnya menatap dengan apel adam yang bergerak dengan takut.

“Jalan.” kata Arjuna.

Nakula menjalankan mobilnya, dalam perjalanan terus melirik ke arahnya dengan cemas. Arjuna hanya menatap jalan, tak bisa duduk diam karena pahanya basah oleh slick yang terus mengalir meski pilnya telah diminum. Beberapa pil memang tak memiliki efek kuat, dan yang bisanya dia pakai butuh lebih dari empat agar menghentikan heat-nya. Tapi karena saran dokter dan Nakula tepat di samping. Dia tak bisa minum lebih banyak pil.

Di kursi pengemudi sang alpha bergerak gelisah meski terus mencoba tenang. Satu tangan di stir dan yang lain pada kaca mobil—mengetuk-ngetuk jendela atau dahinya saat Nakula gusar menjadi kebiasaan. Biasanya kaki, tapi pria itu tengah menggunakan kakinya.

Feromon Nakula masih tercium sedikit, scent patch membuat aromanya tak banyak yang bisa ditembus saat heat. Tidak saat puncaknya belum datang dan Arjuna 100% yakin, bahkan benda itu tak bisa menutupi aroma laut yang akan memenuhi seisi mobil.

Membayangkan keduanya hilang akal di dalam kendaraan roda empat, menepi saat hujan di tempat yang sepi dan Nakula akan membantunya dengan heat. Menyentuh kulitnya yang panas dan menciumnya dengan lihai. Kemudian Arjuna akan meletakkannya pada rambut biru panjang Nakula, merasakan halusnya rambut sang alpha yang telah menarik minatnya sejak mereka bertemu.

Brakkk

“Maaf! Juna, gapapa?”

Itu bukan Arjuna yang melempar kepalanya agar menghantam kaca mobil. Itu Nakula yang tiba-tiba berbelok dan mengerem, menatapnya gusar, gemetar, hampir tak bisa menatap tangannya. Arjuna baru menyadarinya. Feromonnya pasti memberi tahu Nakula secara jujur apa yang dia inginkan.

Kepalanya mengangguk. Diam-diam berterima kasih karena jika bukan, entah bagaimana ia menghadapi Nakula nanti.

 


 

5.

Menghabiskan panas di tempat yang bukan rumahnya tak mempermudah masa heat-nya berlangsung. Itu jauh lebih menyiksa dan Arjuna tak diizinkan untuk menekan heat dengan supresent.

Nakula mengatakan tidak apa-apa jika ia ingin membangun sarang baru di rumah si kembar. Di kamar tamu yang tak memiliki feromon Nakula ataupun Sadewa yang menempel. Nakula juga bilang, selama panasnya berlangsung dia dan Sadewa akan berada di tempat Bima atau Yudistira. Sesekali datang untuk mengambil barang dengan meminta tolong Naia atau Aya agar bisa mengambilnya.

Jujur saja Arjuna merasa seperti beban bagi kedua tuan rumah. 

Nakula tuh selalu baik. Arjuna bahkan bertanya apakah hatinya terbuat dari Ambrosia yang dimakan para Dewa?

Bagaimana bisa ada alpha sebaik dirinya?

Kalau begini Arjuna bisa lupa jika itu pria itu seorang alpha.

Ini mungkin kali ketiga Nakula membantunya saat mengalami panas tak terduga. Yang pertama bukan saat pria itu datang di pintu rumahnya, melainkan di sebuah lift dengan gedung setinggi 30 lantai.

Hari itu musim dingin, salju turun terburu-buru untuk membuat bumi jadi putih. Penyamarannya saat itu sebagai staff di suatu perusahaan. Panasnya yang datang setelah semua kekacauan tak pernah Arjuna duga.

Arjuna dulu lebih tahu mengenai jadwal panasnya berlangsung. Tak pernah lebih pendek maupun panjang dari jadwal seharusnya. Tapi hari itu, karena stress yang berkelanjutan selama hampir dua minggu lebih heat-nya datang lebih cepat. Dia bergerak menuju lift yang saat itu tak ada orang.

Tubuhnya panas, memerah, dan keringat terus datang. Scent patch dan blokir seolah tak membantu agar feromonnya tidak bocor. Di lift yang berjalan ke bawah, seluruh ruangan mungkin berbau seperti dirinya. Kemudian lift berhenti dan Arjuna memaki siapapun yang hendak masuk ke sana. Pintu terbuka, Nakula dengan lanyard menggantung di leher berhenti di depan lift. Dia mematung, hidungnya terus bergerak seolah memastikan bau yang keluar.

Arjuna hampir bernapas lega mengira Nakula akan menutup lift.

Tapi pria itu masuk, melepas jasnya dan ditaruh pada pundaknya secara mendadak. Tindakannya cepat hingga Arjuna tak bisa menghindar.

“Tenang saja, aku hanya membantu.” Perkataannya begitu lembut dan tulus, kakinya hampir jatuh lemas.

“Gedung ini terlalu banyak alpha dan rata-rata dari mereka—”

“Gila.”

Pria itu menjentikkan jarinya, dengan senyum paling cerah seolah Arjuna telah membuat team sepak bolanya mencetak gol. “Tepat sekali!”

Rambut birunya yang dikuncir kecil membuat Arjuna tertarik. Matanya yang kini memakai lensa hitam menatap pada biru di rambut dan biru di kelereng paling cantik yang pernah Arjuna lihat. 

“Aku tahu aku cantik,” kalimat itu datang dengan percaya diri. Punggung Nakula bersandar pada sisi lift paling ujung saat Arjuna di sudut dekat pintu. “Kau bisa terus menatap, jika itu membuatmu lebih baik.”

Arjuna hanya tertawa hambar, panasnya telah datang dan pria yang memilih masuk dengan alasan ingin membantu membuatnya siap mengambil pistol yang terselip di belakang tubuhnya —di-cover oleh kemeja putih yang kini dikeluarkan dari dalam celana. “Kau bisa membuatku lebih baik jika keluar dari sini, Nakula.”

Nakula semakin tertawa, kedua tangannya terangkat di udara. “Aku sungguh hanya ingin membantu. Aku pastikan saat kita keluar dari gedung ini, para alpha di bawah sana tidak akan menggila.”

Mata Arjuna yang memicing pasti membuatnya kembali bersuara dalam ajuan. “Aku akan mencari supir taksi yang supirnya beta atau omega.”

Itu cukup membantu.

Tempat parkir tak bisa diakses mengingat feromonnya telah bekerja dua kali dari biasanya. Tempat parkir bawah tanah menjadi tempat yang berbahaya saat ini, dan jika Arjuna tetap memilih pergi dengan mobilnya yang terparkir. Dia tidak yakin akan sampai dengan selamat tanpa mengalami kecelakaan.

“Terima kasih.”

Nakula tersenyum lembut, tampak terganggu dengan feromon Arjuna yang terus bergerak liar. “Sama-sama.”

Ketika bunyi ding terdengar dan pintu lift mulai terbuka, beberapa pasang mata sudah menatap padanya. Omega dalam dirinya menggeram karena merasa dipertontonkan, tapi di sisi lain merintih untuk mencari alpha dari sekian banyak pasang mata.

“Eum bolehkah aku merangkul mu sampai kita menemukan taksi?” Nakula yang berdiri di sampingnya begitu dekat tapi antar bahu tidak bersentuhan berbisik. “Aku alpha, aku setidaknya bisa membuat mereka berpikir kalau kau sudah memiliki mate.”

Dan Arjuna tak punya pilihan, dia tak terkejut saat pertama kali Nakula memberitahunya dia alpha secara langsung. Dari jas yang kemudian berpindah menutupi kepala hingga punggungnya cukup membuat hidung Arjuna yang sensitif mencium feromon alpha, dan lagi, alpha biasanya tak memberi tahu secara lisan. Mereka membuktikannya dari tindakan, dari aroma yang tajam seolah memamerkan diri.

Tanda persetujuannya membuat alpha itu melingkari pundak nya. Membawanya pergi dan Arjuna mampu merasakan feromon dengan bau ombak di tepi pantai berusaha menjadi hujan agar mawarnya tak layu.

Beberapa alpha menggeram saat Arjuna lewat, dia tak bisa menatap karena kepalanya terus menunduk. Ada banyak sepasang sepatu, geraman tak tertahan, feromon alpha yang memintanya untuk datang. Semua hal itu membuatnya gila, satu-satunya pegangan hanya jas Nakula yang berada di kepalanya, menyembunyikannya seluruh dirinya dalam aroma yang paling menenangkan. Nakula juga balas menggeram, taringnya mungkin ikut keluar karena selanjutnya tak ada lagi Geraman yang datang.

Mereka keluar, mendapatkan taksi setelah Nakula memilah supirnya. Dari pandangannya yang menunduk, pintu taksi dibukakan. Dengan lembut alpha itu mendorongnya masuk masih dengan jasnya yang menutupi seluruh jalan pandangannya.

“Pak tolong antar sampai rumahnya, ya? Tolong banget.”

“Aman saja, Mas. Mate-nya mas bakal saya antar selamat sampai tujuan. Masnya gak ikut masuk?”

“Enggak pak, masih ada urusan. Saya nyusul nanti beberapa menit lagi.”

Dan Ya Tuhan.

Arjuna malu.

Disangka mate dengan orang asing membuatnya merasa panas, lebih panas dari keadaan seharusnya.

Saking malunya Arjuna bahkan tak bisa berbicara kepadanya lagi, tak sanggup menyingkap jas di kepalanya untuk berterima kasih secara benar sampai taksinya berjalan. Pak supirnya terus berkata bahwa alphanya tampan dan baik. Lalu Arjuna hanya ingin menyembunyikan wajahnya jauh lebih dalam di balik jas Nakula.

sialan!

Jasnya masih di sini. Berada di atas kepalanya, masih omeganya hirup.

Dia berharap mereka tidak akan bertemu lagi. Kadar malunya terlalu tinggi untuk sekadar menatap matanya.

Untuk pertama kalinya Arjuna tahu bahwa tak semua alpha seperti yang dia bayangkan.

Dan lagi, harapannya tak pernah terwujud saat keduanya kembali bertemu. Tak butuh aroma yang tertutupi scent patch untuk Arjuna mengenalinya. Dari rambut sewarna langit, mata sebiru laut, dan suara lembut saat memperkenalkan diri, dia tahu itu Nakula yang sama. Alpha yang membantunya keluar dari gedung saat menjalani misi.

Takdir mungkin mempermainkannya. Merajut benang merah karena terus ingin menonton drama dari manusia kecil yang bodoh bagi mereka. Arjuna juga tahu, bahwa segalanya akan semakin berbeda.

Nakula yang saat itu mematung di tempat setelah Arjuna masuk ke dalam bar milik Sadewa tanpa scent patch sejak dua bulan mereka bertemu pertama kali mulai berpikir. Itu mate-nya, takdir membawanya agar membantu omega-nya, melalui feromon sehalus kelopak mawar. Sungguh, Nakula sudah jatuh cinta saat pertama kali mereka bertemu.

 


 

+1

Kejadian itu berlalu. Rumah Arjuna berhasil diperbaiki. Mereka tak lagi terjebak di panas satu sama lain seperti orang bodoh yang sengaja masuk, padahal tidak

Demi Tuhan, tak satupun dari mereka sengaja datang ataupun memicu siklus mereka setiap kali bertemu. Itu hanya rencana takdir, mungkin pertanda bagi Nakula agar mengungkapkan seluruh perasaan nya pada Arjuna.

Segalanya hal ditahan karena pria itu menjawab dia membenci alpha dan Nakula adalah alpha. Alpha yang dibenci omeganya. Percayalah, pertama kali mendengarnya Nakula hanya menatap langit sambil memakan keripik kentang selama hampir setengah hari.

Di sini, ia pun melakukan hal yang sama. Cuma tak lagi keripik kentang, beberapa brownies coklat buatan kembarannya Nakula habiskan. Masih menatap langit yang perlahan terbenam, ponselnya sudah memutar playlist-nya dua kali dari sejak ia duduk di balkon dan menatap langit. Sadewa sesekali datang sambil menggelengkan kepala dan mendecak, prihatin.

Ya Tuhan, Nakula sangat ingin agar Arjuna menjadi mate-nya. Ketika mereka menjadi mate, mereka saling menandai, memiliki tanda agar semua orang tahu Nakula milik siapa, dan Arjuna telah memiliki alpha. Ia ingin mereka menjadi mate agar lebih mengetahui keadaan satu sama lain, dan disaat salah satu dari mereka dalam bahaya hal itu dapat mereka rasakan. Akan mengirimkan gejolak yang melebihi ombak menabrak terumbu karang.

Dalam situasi mereka yang terus masuk ke dalam bahaya. Seolah dipermainkan oleh orang-orang di atas sana yang terasa menjadikan mereka bahan taruhan. Bersikap lebih berani hingga Nakula takut salah satu dari mereka tak akan kembali. Alphanya resah, menatap pack-nya dan terus mengeluh agar Nakula melindungi mereka semua. Kawannya, omega-nya.

Semua orang berpikiran sama. Takut untuk kehilangan, bersikap lebih protektif kepada satu sama lain. Mereka semua punya cara salam mengatasi kecemasan, mengatasi sisi dalam mereka yang tak pernah berhenti melolong.

Nakula juga, namun caranya bergerak pada Arjuna. Omega itu terus berjalan dalam bahaya. Bukan karena dia bodoh dan bersikap terburu-buru. Tidak, Arjuna tak pernah terburu-buru. Pria itu selalu berada satu langkah di depan, lebih mengetahui apa yang akan terjadi dan karena itulah Nakula terus mengkhawatirkannya. Bukan pada dirinya sendiri, melainkan Arjuna.

Nakula takut bahwa Arjuna ingin mengambil risiko agar tak lagi hampir kehilangan Aya seperti sebelumnya. Nakula takut sang omega akan mengorbankan diri agar yang lain merasa aman karena kewajibannya sebagai pemimpin. Nakula takut Arjuna terbawa oleh stereotip masyarakat —yang sebenarnya Nakula tahu tak akan pernah ada dalam benak Arjuna— bahwa alpha jauh lebih baik dalam kepemimpinan, maka rencananya untuk mengorbankan diri jauh lebih muda.

Dan karena itu semua, alphanya terus menggila, terus meraung agar menandai Arjuna. Agar menjadikan omega itu milik mereka, menjaganya tetap aman di bawah radarnya.

Siklus panas yang terus terjadi saat mereka berdua terjebak membuat alphanya jauh lebih kacau. Meminta untuk terus dekat dalan posisi paling intim, agar kembali mendekatkan hidung di kelenjar omega Arjuna. Itu menyesakkan.

Nakula menginginkan Arjuna sejak mereka pertama kali bertemu. Alphanya menginginkan omega mereka untuk hidup bersama. Dan demi Tuhan, Nakula hanya ingin mencium Arjuna tanpa membuat yang lebih muda ketakutan.

“Kalau kamu tekan terus kaya gitu, piringnya nanti pecah, loh.”

Sadewa menyadarkan dirinya dari lamunan. Kembarannya tengah berdiri di sisi pintu, bersandar dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku. 

“Mending aku bilang atau jangan?” Satu alis kembarannya naik, melangkah lebih dekat agar bisa duduk di sebelahnya sambil menatap langit. “Tapi kalau aku bilang terus dia nolak, aku harus gimana?”

Keresahannya bahkan bisa digambarkan melalui suara yang keluar, tak perlu feromonnya yang tampak terpanggang matahari agar mengetahui apa yang perasaannya alami. 

“Dia gak akan nolak,” Sadewa tak menatap langit, matanya yang keemasan menatap Nakula dengan senyum percaya diri. “Dia cuma masih netapin dirinya aja, Kul.”

“Cara kamu bersikap ke dia tanpa Memandang dia omega atau enggak, bikin dia ngerasa kalau oh alpha beda. anggap aja kaya cookies kering terus dikasih ke dalam susu ataupun dicelupin.”

Nakula tertawa, “aneh banget pengibaratannya.”

Kembarannya itu hanya menggedikan bahu, ikut bersuara dalam tawa hingga orang lain yang saat itu berada di rumah si kembar mengetuk pintu kamar Nakula.

“Mas-mas kok gak ngajak aku sih?” Bima berdiri di dekat pintu balkon, pipinya yang menggembung lucu membuatnya persis seperti anak TK. Memang anak tk.

“Masa bim, Nakula tanya mending confess apa enggak.”

“Aku kira kalian emang udah pacaran.”

Kalimat itu datang seperti sebuah rumah jatuh dari atas langit. Nakula bahkan terbatuk liurnya sendiri. 

“Ih jorok,” Bima memandangnya geli. Tubuhnya yang besar bersandar pada pagar balkon. “Jadi belum pacaran? Kok bisa sih?”

“Gak tahu,” Sadewa mengejek dalam nada bicaranya.

“Gak ada yang pacaran!” Manik birunya memandang tajam dengan wajah memerah. Dia juga ingin sebenarnya.

“Tapi, ya, Mas Kul. Menurut aku Mas Juna juga ngerasain hal yang sama. Yudis bahkan bilang Mas Juna emang butuh sedikit waktu lagi aja, dia sudah sadar cuma belum nerima.”

“Karena aku alpha?” 

Keduanya mengangguk.

“Dia sama kita aja kadang waspada apalagi kalau sudah dekat jadwal masing-masing.” Sadewa menambahkan. “Saya malah kaget dia biarin kamu cium feromonnya pas keluar dari gorong-gorong.”

Kenapa gorong-gorong sih? Gak bisa kah bilang saluran bawah tanah gitu meski gak salah.

“Lebih kaget lagi meski kejadiannya beberapa kali, Mas Juna masih ngasih izin Mas Kul buat cium dia lagi.”

“Feromonnya,” koreksi Nakula.

“Iya, cium Mas Juna.”

“Feromonnya Arjuna, Bima.”

Yang lebih muda menyilangkan tangan dengan angkuh dan  menatap tak terima. “Kenapa sih? Kan sama aja, sama-sama dicium.”

“Ya beda artinya loh Bima adekku sayang.” Di sebelahnya Sadewa hanya tertawa.

“Intinya mending kamu ungkapin sekarang daripada kejebak Rut atau heat lagi, takdir gak ada yang tahu. Bisa aja keduanya terjadi secara bersamaan.”

Tolong jangan, Nakula bahkan tak mau tahu apa yang akan terjadi. Dia sangat yakin hanya akan ada kekacauan dan penyesalan jika itu terjadi tanpa perasaannya diungkapkan.

•••••

Dia mengikuti saran Sadewa dan Bima. Duduk di taman dekat rumah Naia mengingat Arjuna sedang berada di sana.

Memikirkannya secara langsung memang seharusnya dia mengungkapkan segalanya lebih cepat. Nakula ingin Arjuna tahu bagaimana perasaannya. Bahwa Nakula mencintainya hingga mampu mengubah malam jadi siang. Nakula bahkan rela bertengkar dengan alpha dalam dirinya agar Arjuna bisa terus merasa nyaman dengannya. Ya Tuhan, dia sangat mencintai Arjuna hingga rasanya seperti bernapas.

“Hei,” Arjuna muncul dari sisi kiri taman. Turtleneck merahnya dipadukan dengan coat hitam, tersenyum tipis dan angin membawa beberapa helai rambutnya bermain.

Seketika Nakula membeku, berdiri diam seperti seorang idiot sebelum tersadar bukan saatnya untuk bersikap seperti ini. “Hai.”

Arjuna memakai scent patch, aroma seperti di taman mawar tak tercium dari tubuhnya. Nakula melakukan hal sama, pekerjaannya membutuhkan fokus yang luar biasa dan feromon biasanya tidak membantu saat mereka bekerja. Dirinya bergeser untuk menciptakan ruang agar Arjuna duduk di sampingnya, dengan jarak dua tangan di antara mereka.

Untuk sesaat mereka terdiam, seolah hening canggung menjadi halangan paling besar setelah Arjuna pergi dari rumahnya.

Alphanya mengejek karena tak langsung melepaskan feromon agar omega mereka tertutupi oleh aromanya.

“Jun.”

“Kul.”

Keduanya menatap, hampir geli.

“Kau duluan aja.”

“Kamu duluan aja.”

Dan tawa mereka pecah bersama tawa anak-anak yang bermain di taman. Menghancurkan kecanggungan menyiksa dan menjahit kembali benang-benang keakraban.

“Aku serius kamu dulu aja,” tawanya masih tersela saat bicara.

“Enggak, kau yang ngajak aku duluan, ‘kan.”

Nakula tak bisa berhenti merasa geli, entah bagaimana jarak sepanjang dua tangan berhasil dikikis oleh tawa hingga bahu mereka bersentuhan.

“Yaudah aku duluan aja ini?”

Arjuna mengangguk, menatapnya intens, menunggu Nakula berbicara.

Rasanya sebuah batu tersangkut di tenggorokan. Nakula merasa akan memilih karaoke selama lima jam daripada harus mengungkapkan seluruh isi hatinya.

“Aku minta maaf.” Itu cepat, hampir seperti dia nge-rap. “Aku minta maaf karena tingkahku beberapa bulan sebelumnya. Itu sangat tidak pantas. Aku tahu kau merasa tidak nyaman dan aku masih melanjutkannya—untuk menyentuh dan menghirup feromon dari tempat yang begitu sensitif. Itu sangat melewati batas, aku benar-benar menyesal.”

Arjuna memasang ekspresi seperti Nakula habis mengeluarkan jokes bapak-bapak. Alisnya yang terangkat menatap bingung.

“Nakula—”

“Jangan.” tolaknya. “Jangan bilang gapapa, kalau kamu gak khawatir dan itu aman aja. Jangan.”

Napasnya tersengal, terasa berat dan seluruh udara ingin meledak dalam dadanya.

“Kau gemetar, gemetar begitu hebat Juna dan—dan aku tetap menempel. Masih mencium tengkuk mu padahal kau gemetar! Feromon mu mengatakan kau takut dan aku dengan seluruh egoku ini malah bersikap egois!”

Ya Tuhan, Nakula ingin menangis.

“Itu tindakan yang kelewat batas. Aku merasakan segalanya saat kita terjebak, rasa takut mu, kewaspadaan mu, kecemasan mu. Semuanya terasa dan aku hanya diam. Tetap memaksa. Bahkan saat heat mu datang, aku mengklaim tanpa izin. Membaui seisi rumah seolah aku pemiliknya. Harusnya aku menelpon yang lain dan tetap berada di luar, tapi aku malah masuk dan itu pasti menyiksa setelahnya.”

Nakula sudah menangis.

Dia berderai Air mata di bawah tatapan sang omega. Pada tatapan Arjuna yang memintanya untuk berhenti. Pada manik abu yang menatap menembus seluruh jiwanya. Pada manusia yang sangat dia cintai.

“Aku benar-benar minta maaf.” Isaknya tersandung saat Nakula berbicara. “Aku sangat mencintaimu dan semuanya membuatku buta bahwa justru karena itu aku membuatmu tidak nyaman, Juna. Aku ingin mencintaimu hingga kau tak perlu merasa takut karena aku alpha. Aku ingin mencintaimu hingga kau tahu bahwa aku ada di sini untuk selalu mendukungmu, untuk selalu melindungi mu.”

Tangan Nakula mengusap wajahnya kasar, air mata masih tidak berhenti datang, dan Arjuna sudah membawanya ke pelukan hangat. Nakula selalu lemah padanya, Arjuna telah menjadi pegangannya di dunia yang membuatnya ingin jatuh.

“Tapi aku justru melukaimu. Membuatmu tak nyaman. Juna, kamu bisa tampar aku atau kasih hukuman apapun, tapi tolong,” suaranya memelas. “Tolong jangan beranggapan kalau semua itu baik-baik saja. Jangan maafin aku begitu mudah karena kita sedang bergerak demi tujuan yang sama.”

Alpha dalam dirinya merengek sedih, seolah ikut merasakan semua keresahan di hatinya. Arjuna terdiam, membiarkannya menangis.

“Sekarang boleh aku yang ngomong?” Kepala Nakula mengangguk di perpotongan leher Arjuna. Tangannya memeluk yang lebih kecil dengan kedua tangan, berpegang erat karena Nakula tak tahu harus apa. Dia menangis, Tuhan.

“kau memang merasakan semuanya, Kula.” Itu lembut, penuh rasa paling nyaman selain berada di bawah selimut. “Kau merasakan bahwa aku takut dan itu bukan karena kamu. Itu hanya insting yang selama ini aku tanamkan.”

Napas Arjuna berat di lehernya. “Aku hanya menjaga diriku sendiri dan ya Tuhan. Kau merasakan semuanya, kau juga merasakan bagaimana aku sangat ingin agar kau meniduriku.”

“Juna!” Dia menarik diri, menatap Arjuna yang memerah persis seperti julukannya. “Itu karena kau sedang heat.”

Katakan “ya” sebelum Nakula merasa bumi bersorak padanya.

“Tidak,” oh bumi telah memberinya suara penuh perayaan. “Iya juga, cuma tidak!”

Oke, sekarang Nakula bingung. Air matanya sudah berhenti mengalir.

Arjuna yang gusar meremas ujung jarinya satu persatu, manik abunya menatap sekitar dengan panik. “Entah saat heat ataupun tidak, aku hanya ingin kau menyentuhku, hanya ingin mencium feromon mu. Karena sial, omega dalam diriku selalu memanggil namamu. Merintihkannya setiap malam, mendambakan alphanya, dan itu membuatku gila karena dia menginginkan alpha dan aku benci alpha!”

Ada banyak hal yang ingin Nakula ulangi dua kali di dalam kepala. Untuk menerjemahkan lebih lanjut tapi sekarang dia sangat fokus bahwa omega Arjuna memanggilnya alpha. Dia memanggil Nakula alpha!

“Aku menghargai mu, selalu. Dan itu membuatnya tampak konyol, karena omega ku menginginkan alpha, dan aku menginginkan mu, kemudian kau adalah alpha dan segalanya menjadi rumit!” Arjuna mendengus, mengambil air yang terletak diantara mereka, botol minum miliknya. “Diriku sendiri yang memperumit nya.”

“Tapu serius, aku terus memikirkannya. Dari saat kita pertama kali bertemu hingga sekarang, setelah semua kejadian, kau berbeda dari alpha yang pernah aku temui. Itu terdengar klise, bukan?”

Keduanya tak berhenti untuk tertawa karena memang ya dan Nakula tetap mencintai Arjuna.

“Kau membuat persepektif ku kepada alpha berubah atau itu hanya karena dirimu? Tapi intinya kau membuat segalanya berbeda. Kau masuk ke tempat di mana aku menetapkan aturan agar alpha tidak masuk ke dalam sana. Kau masuk, tidak dengan mendobrak pintunya, tidak memaksa. Itu menyenangkan karena kau hanya ada di sana, diam, mengeluarkan feromon mu sebagai bentuk agar aku tenang dan nyaman. Membawa berbagai macam barang sebagai bentuk rayuan kuno sejak pertama kali bertemu sampai aku bilang, aku benci alpha.”

Arjuna tertawa kecil dan Nakula juga. Itulah salah satu alasan mengapa dia menatap langit selama setengah hari.

“itu mempengaruhi ku untuk jatuh cinta dan menyadarinya dengan telat. Kau Alpha yang sempurna Nakula, dan Yudistira terus mendesak ku agar bersikap jujur sebelum terlambat karena dia tahu aku menyukaimu sejak lama dan menikmati semua drama!”

“Aku membencinya karena itu,” lanjut Arjuna.

“Aku mencintainya karena itu,” balas Nakula.

Kemudian tangan Arjuna mengusap pipinya, Nakula bersandar pada sentuhan sang omega. Kali ini Arjuna tak gemetar karena takut, dia gemetar karena cintanya terungkap. “Karenanya aku akan bilang bahwa semua yang kau katakan tidak apa-apa. Aku menyukainya dan itu membuatku sadar betapa aku mencintaimu dan betapa aku ingin belajar agar tidak lagi takut terhadap perasaanku sendiri hanya karena kau alpha.”

Nakula ingin mencium bibir Arjuna. Dia tidak pernah menyangka perasaannya dibalas. Tak pernah tahu bahwa rasanya akan selega ini.

“Jadi Nakula Nalendra,” suara itu terucap begitu jelas di telinganya. Arjuna berbisik di sana dengan geli, dan rasanya seluruh mawar telah tumbuh dalam perutnya. “Maukah kau mengajariku bagaimana hidup denganmu?”

Jika bumi bisa bersuara dan langit bisa memberi hujan permen, makan saat ini seluruh alam semesta sudah Nakula ubah menjadi merah. Sudah cerah dan semua orang bersorak untuk merayakannya.

“Ya!”

Ya Tuhan, iya!

“Tolong jadi bagian dalam hidupku selamanya, Juna.”

Bibir mereka bersatu dalam ciuman lembut penuh rasa syukur dan kelegaan. Begitu lembut seperti permen kapas.

Nakula sangat mencintai Arjuna dan dia berjanji tidak akan pernah melukainya.

•••••

Hari ini satu bulan setelah mereka bersama. Setelah semua janji dan ungkapan terungkap begitu saja.

Rasanya lega.

Keduanya masih belajar bagaimana cara menjalani hidup untuk satu sama lain. Untuk selalu jujur dan hari ini adalah hari di mana Arjuna secara langsung mengundang Nakula untuk menghabiskan masa heat-nya bersama meski Nakula sempat menolak—yang membuatnya ingin menjatuhkan diri ke kolam renang—karena rutnya secara kebetulan akan hadir satu hari setelah masa akhir heat omega-nya.

Tapi Arjuna berkata tak apa, mereka bisa habiskan bersama dan di sinilah ia. Berada di rumah Arjuna, memangku sang kekasih dan menjilat tengkuk sang omega. Feromon Arjuna kian kuat, meminta Nakula untuk memutus tali kendali.

Baru satu hari berlalu setelah panas Arjuna, masih ada tiga hari lainnya menanti dan kemudian rutnya tiba.

Keduanya sama-sama telanjang dibalik selimut. Masih beristirahat untuk gelombang selanjutnya. Makan dan minum karena itu sebenarnya sex yang luar biasa. Beberapa tanda merah hingga ungu masih berada di tubuh sang kekasih, seperti coretan pada kanvas putih polos.

"Kamu pernah kepikiran gak kalau salah satu dari kita sengaja mancing panas satu sama lain?" Pertanyaan Juna membuat satu alisnya naik.

"Aku bersumpah tidak melakukannya sama sekali." Satu tangannya sudah dia angkat sejajar dengan kepala.

"Aku tahu," Arjuna hanya tertawa, memukul dadanya pelan dan membuat pola melingkar di sisi tangan Nakula yang melingkari pinggang sang omega. "Jika kau melakukannya, jangan harap bisa menghasilkan keturunan."

itu ngilu.

Tangannya merasa ingin menyimpan kejantanannya jauh di bawah sana.

"Hanya, apa kau pikir semuanya masuk akal?"

"Mungkin Tuhan berkehendak agar aku menjadi milikmu." Perkataannya dibalas cubitan pelan. "Norak," desah Arjuna sebal.

Mereka berlama-lama di sana, berbincang begitu banyak, mengambil beberapa ciuman di setiap kesempatan. Kemudian mendiskusikan jika Arjuna harus membangun sarangnya yang lain di rumah Nakula.

Semuanya berjalan dengan lambat dan menyenangkan meski udara kian panas, entah karena mereka yang terus berhubungan badan, atau selimut tebal yang menutupi tubuh mereka. 

Seluruh rumah berisi feromon keduanya yang dijahit oleh jarum tak kasat mata. Begitu harum dan Nakula ingin tinggal selamanya.

“Nakul,” panggil Arjuna. Tatapan matanya yang tadi fokus pada televisi beralih menatap Nakula. Badannya sedikit bergeser hingga bokong Arjuna menyentuh kejantanannya di bawah sana. Slick Arjuna masih keluar meski sedikit karena gelombang ketiga belum datang. “Kamu rut?”

“Hah?”

“Rut kamu seharusnya setelah aku, ‘kan?”

Nakula mengangguk, ia tak merasakan apapun selain udara yang begitu panas. Keinginan untuk menandainya terpenuhi, dia menatap pada tubuh Arjuna yang menampilkan maha karyanya. Gigitannya di kelenjar aroma paling sensitif nya memang tidak mengikat karena Nakula menahan diri. Ini pertama kalinya mereka menghabiskan panas dengan bantuan satu sama lain. Dia tak ingin melukai Arjuna hanya dengan nafsu pribadi meski pria yang duduk di pangkuannya meminta agar Nakula lebih cepat, lebih keras.

Keduanya saling memandang dan Nakula baru menyadarinya. Ya Tuhan, pre-rutnya baru saja datang.

“Oh tidak,” katanya memandang horor Arjuna. “Aku rasa bakal pergi, rut-nya datang lebih cepat.”

Harusnya itu terjadi saat heat Arjuna selesai. Nakula telah memperingati yang lebih muda mungkin itu bisa membebani tubuh sang omega, tapi Arjuna berkata mereka bisa menghabiskan waktu bersama dan sekarang, keduanya terjadi secara bersamaan.

Sangat jarang rut alpha maupun heat omega terjadi begitu saja. Jika itu terjadi yang ada hanya badai nafsu dan Nakula takut tak bisa menahan diri. Dia takut menghancurkan Arjuna karena panas mereka membuat keduanya menjadi liar.

Taring alphanya perlahan muncul dan dia sangat ingin minta maaf.

“Hei,” Arjuna berbalik, tak lagi punggung pada dada tapi berhadapan langsung. Wajahnya ditangkup oleh sang omega, digerakkan begitu cepat agar menatap mata paling cantik sedunia. Arjuna mengecup pipinya. “Gapapa. Di sini, kita lewati barang.”

Kepalanya menggeleng, feromonnya bergerak lebih liar dibanding saat mereka bercinta. “Jangan, aku takut berlebihan nanti.”

“Gak ada yang berlebihan, I can take it all, Nakula.”

Kejantanannya telah tegang, berdiri dan Arjuna menyadarinya karena dia duduk di sana. “Kasih tahu aku kalau kamu udah gak kuat, bagaimanapun caranya, mau itu harus memukul atau lukain aku. Just tell me, okay?”

Arjuna mengangguk. Tersenyum pasti dan feromonnya—Nakula ingin menenggelamkan diri di sana, tak hanya tengkuknya tapi juga lubang yang kembali basah. Berlama di sana hanya untuk mencium aroma Arjuna yang lebih pekat wanginya.

Mereka berbagi ciuman, kali ini kasar dengan lidah yang saling beradu. Tangan Arjuna dikalungkan pada lehernya. Semua makanan di meja dilupakan begitu saja dan gelombang panas Arjuna kembali datang. 

Mungkin karena Arjuna yang tengah heat, rut-nya datang lebih cepat. Seolah menanti setalah semua yang terjadi.

Ciumannya turun pada leher yang tak lagi polos, dipenuhi tanda dan alphanya mendengkur bahagia karena akhirnya, akhirnya bisa menandai omega mereka. Taringnya menyentuh sisi leher omega, menggigitnya cukup dalam hingga Arjuna mendesah dan menarik rambutnya yang panjang lebih kencang.

Jujur saja, Nakula menyukai ketika tangan Arjuna merangkap di helaian rambutnya, menjabaknya cukup kuat, dan ia merasa itu lebih panas dibanding apapun.

Nakula ingin melakukan hal ini sepanjang waktu.

Bibirnya kembali mencium ranum sang omega, melesat masuk untuk kembali merasakan atap-atap langit di mulut Juna, untuk mengecap setiap rasa karena semuanya berbeda dan kini mulut Arjuna terasa seperti mangga yang baru saja dia makan. Manis.

Arjuna mendesah, memanggil namanya dengan semua keinginan agar Nakula membuatnya tak berdaya. Dengan semua sisa akal sehat yang tersisa dia menggendong Arjuna. Membiarkan kaki sang omega melingkari tubuhnya dan tangan Nakula menangkup bokong sintal Arjuna. Ciumannya tak berhenti, terus bergerak dan selimut yang menjadi satu-satunya kain agar angin tak masuk ke tubuh telanjang mereka jatuh.

Membaringkan Arjuna di kasur cukup keras dan lembut, Nakula menunduk untuk menghisap penis sang omega. Memasukkannya ke dalam mulut hingga cukup membuat pipinya menonjol.

“Oh sial, Kula….”

Desahannya telah memutus antara akal sehat juga kendali diri. Seperti memilih antar kabel mana yang harus dipotong agar tak meledak.

Lidahnya bergerak untuk ikut menghisap penis Juna. Tiap kali taringnya menggores penis Arjuna, sang omega hanya akan mendesah dan Nakula merasa dadanya bergemuruh dengan rasa senang karena mampu memuaskan omeganya.

Mulutnya melingkari pangkal penis yang panas, berkedut dengan percum yang siap meledak. Mulutnya terus bergerak lebih dalam hingga pada bola-bola di bawah dan Arjuna menangis. Ya Tuhan omeganya menangis.

Sisi dalam dirinya meminta agar Nakula naik dan mencium air mata sang kekasih tapi sisinya yang lain meminta agar tetap diam untuk turun lebih lanjut. Pada lubang yang sudah basah kayu, terbuka-tertutup dan meminta penis Nakula untuk mengisi di sana.

Nakula sangat ingin menggoda tapi semuanya terasa panas. Memintanya untuk mengisi omeganya dengan semua benih miliknya, membuat perut Arjuna bulat untuk mengandung anaknya. Menghamilinya dan mengisi seluruh perut Aruna agar menonjol.

Fuck.

Hidungnya terbenam di sana, menjilati lubang dan cairan omega. Feromon Arjuna lebih kuat dan rasanya sepertinya mawar menjadi air saat Nakula tenggelam. Tangan Juna tak berhenti untuk menarik rambutnya, mendorongnya agar semakin menenggelamkan wajahnya di sana—bahkan jika bisa selamanya.

Lidahnya terjulur, menjilati cairan yang terus keluar hingga Arjuna bergidik, kejang kecil karena rasanya begitu nikmat. Feromonnya tak berbohong saat aroma sex semakin kuat.

Benda tak bertulang di mulutnya masuk, menekan ke dalam dinding yang menjepit setiap kali lidah Nakula bergerak. Memutar di dalam sana dan Arjuna membiarkan kakinya melingkari kepala sang alpha, membuat lidahnya masuk lebih jauh.

“Lebih Nggh……” desah Juna. “Ya Tuhan, Nakula tolong isi dengan penismu saja! Tolonghh….”

Nakula suka saat Arjuna memohon padanya. Dalam keadaan apapun karena dia merasa diandalkan. Karena itu membuat alphanya senang sebab omega mereka membutuhkannya dan hanya mereka yang bisa mengabulkan segala permohonannya. Nakula suka saat Arjuna memohon sambil menangis di bawahnya, meminta untuk diisi, untuk tak menggodanya karena kekasihnya sudah ingin merasakan penisnya masuk dan mengacak-acak lubang kecilnya.

“Sebentar lagi, sayang.” Kalimat itu keluar dengan terengah, dengan taring yang menyentuh lipatan di pinggir lubang yang menganga. Menggodanya untuk terus mengecap lebih.

Kepala kekasihnya sudah menggeleng, menyentuh penisnya sendiri dan bersandung nafsu. 

"Kamu manis banget," suaranya hampir tak seperti manusia, lebih seperti geraman yang yang tertahan dibalik bagian bawah sang kekasih.

Dirinya tak menunggu untuk meregangkan kembali lubang kekasihnya, menekan masuk penisnya ke dalam sana dan keduanya menahan napas. Kepala penisnya baru masuk dan Arjuna telah mencapai putih lebih dulu. Bibirnya terkekeh pelan, mengecup sperma yang tercecer di perut sang omega sambil terus memasukkan penisnya. Satu hentakan dan seluruhnya masuk.

Arjuna berteriak melengking, tubuhnya melengkung sempurna saat keseluruhan kejantanannya masuk. Tangannya meraih udara dan Nakula tahu untuk membungkuk agar Arjuna mengalungkan tangannya di sana. Mencakar pada punggung Nakula saat dia bergerak masuk-keluar. Lebih cepat, lebih kasar hingga kasur Arjuna berderit di bawahnya tapi Nakula tak peduli. Yang dia pedulikan hanya omega di bawah dirinya, pada tonjolan yang datang lalu menghilang seirama gerakannya, pada tubuh yang terus menggelinjang setiap kali penisnya berhasil menumbuk masuk titik terdalam Arjuna.

T-too much, hahngh….” 

Arjuna meraung kacau, berceloteh entah apa dan Nakula kembali menggeram penuh kesenangan karena berhasil membuat omega-nya hilang akal karena penisnya di dalam sana.

Dia menggigit leher yang terbuka, cukup keras hingga yang dibawah merapat kencang dan menjepit penisnya dengan nikmat.

Bibir Nakula turun mengecup buah dada yang telah kacau sejak kemarin, satu tangannya yang lain menaikan satu kaki Arjuna pada bahunya. Membuatnya bisa mencapai titik terdalam karena seluruh tubuh Arjuna menggelinjang hebat.

Penisnya bergerak semakin cepat dan mulutnya penuh oleh buah dada. Menghisap selayaknya asi akan keluar dari sana. Membayangkan jika Arjuna hamil dan kemudian dadanya menghasilkan susu, lalu Nakula bantu memompanya, bantu menghabisi sisanya agar tak terbuang sia-sia. Penisnya semakin berkedut.

Butuh tiga atau empat hentakkan sampai Nakula mulai ejakulasi di dalam sana, bersamaan dengan Arjuna yang mengotori dada dan perut mereka.

Keduanya terengah, bernapas kasar.

“O-oh Kula,” Arjuna bersuara dengan takut, mencoba melepaskan diri tapi tubuhnya mengkhianati karena mendorong pinggulnya naik. Nakula hanya terdiam, sisi alphanya telah mengambil alih untuk mengunci benih mereka. Untuk mengisi omeganya. Penisnya kian besar di sana, semakin besar hingga Arjuna bernapas terbata.

God, Nakula please…..” omeganya merengek dan alphanya segera mencium seluruh wajahnya. Berkata tak apa melalui dengkuran ternyaman.

“B-besar, i-i can't.”

Air mata di matanya semakin membuat penisnya membesar dan kemudian terkunci. Nakula mencium kedua mata Arjuna dan menjilat tengkuk sang omega sebelum menancapkan taringnya di sana hingga berdarah. Rasa besi memenuhi seluruh inderanya tapi yang ada dipikiran Nakula hanya mate, mate, mate, omeganya. Ikat dia, bite.

Dan Arjuna berteriak lebih panjang, terengah begitu cepat sebelum jatuh pingsang karena stimulasi yang berlebihan. Tubuhnya masih belum terbiasa menerima knot dan kemudian Nakula menandainya.

Yang terburuknya adalah Nakula tak berhenti sampai sana, dia menjilati bekas gigitannya. Tersenyum bangga karena tandanya sangat cantik dan kembali menggigit puting Arjuna, bermain pad penisnya hingga kejantanannya kembali normal dan mulai meniduri Arjuna. Lagi.

Nakula sudah mengatakannya sejak awal, dia tak bisa menahan dirinya.

•••••

Arjuna bangun dengan kondisi seluruh tubuhnya pegal dan terasa bergoyang. Hal pertama yang ia pikirkan itu terjadi gempa sampai aroma ombak membuatnya tersadar apa yang terjadi terakhir kali. Dirinya berkedip, seluruh tubuhnya berkeringat deras, dan nafas kasar keluar yang jelas bukan dirinya

Manik abunya menatap pada Nakula yang menggoyangkan pinggulnya untuk mendorong penisnya masuk sedangkan kepalanya tertunduk ke bawah dengan mulutnya yang menggigit puting Juna gemas 

Apa alphanya masih terus melakukannya bahkan saat Arjuna pingsang?

Dia tahu alpha yang sedang rut bisa bergerak jauh lebih liar, tapi ini Nakula yang mereka bicarakan. Pria yang menahan diri dan kini kelas kendali. Jika kemarin pria di atasnya membersihkan tubuhnya saat Arjuna pingsan, berbaring di samping dan memeluknya. Kini yang di atasnya adalah makhluk dari laut yang bergerak liar, badai dari langit yang tak pernah mengerti kata berhenti.

Inikah mengapa alasan agar tak menghabiskan Rut dan heat secara bersamaan.

“Nakula,” suaranya serak, menahan desahannya agar tidak keluar untuk mengambil atensi alphanya. Nakula mendongak dengan dagu bersandar pada dada Arjuna, menatapnya dengan kedua kelopak besar mirip anak anjing dan sialnya dia sangat imut. Arjuna ingin berkata berhenti tapi wajah cantiknya dipadukan dengan heat-nya yang belum berhenti membuatnya juga ingin kembali bercinta. Sialan terserahlah. Biarkan tubuhnya bercinta seolah dunia akan berakhir esok pagi.

Arjuna memang sudah membangunkan binang buas yang tertidur lama. 

Notes:

Kalian bisa kasih kritik dan saran ke aku, mengingat aku kalau revisi kadang gak detail bahget jadi pasti ada kalimat atau kata yang kerasa aneh.

Terima kasih sudah membacaa, selamat menikmati hari libur dan HAPPY PRIDE MONTH!!