Work Text:
Udara di dalam kamar asrama nomor 404 itu terasa seberat timbal. Aroma kopi instan yang sudah dingin bercampur dengan bau kertas kalkir dan lem UHU dari meja Leehan, menusuk hidung Taesan yang sedang mencoba fokus pada perhitungan struktur beton di layar laptopnya.
Taesan menggerakkan bahunya yang kaku, otot-otot di balik kaos singlet hitamnya menonjol, menciptakan bayangan tajam di bawah lampu meja yang temaram. Di atasnya, terdengar suara gesekan sprei. Leehan sedang bergerak di kasur tingkat bagian atas, barangkali sedang mencari posisi tidur yang nyaman setelah hampir 6 jam menyelesaikan maket arsitekturnya.
"Bisa diem nggak sih? Berisik banget dari tadi," gerutu Taesan tanpa menoleh. Suaranya berat, serak karena kurang tidur dan emosi yang entah kenapa selalu tersulut setiap kali Leehan ada di jarak pandangnya.
Leehan melongokkan kepalanya dari pinggir tempat tidur atas. Rambut ikalnya yang agak panjang berantakan, membingkai wajahnya yang bagi Taesan meskipun dia benci mengakuinya terlihat terlalu cantik untuk ukuran seorang laki-laki. Mata Leehan yang besar dan jernih mengerjap pelan, bibirnya yang merah alami sedikit mengerucut.
"Sori elah. Gue cuma mau ambil charger di bawah. Jangan galak-galak napa, pusing gue denger lu marah-marah terus," sahut Leehan. Suaranya berat, ada nada manja yang tidak sengaja keluar, ciri khas anak bungsu yang biasa diladeni.
Leehan mulai menuruni tangga besi tempat tidur mereka. Dia hanya mengenakan kaos putih tipis yang kebesaran dan celana pendek kain yang sangat pendek, memperlihatkan tungkai kakinya yang jenjang, putih, dan mulus tanpa bulu.
Taesan sempat melirik, dan seketika itu juga perutnya terasa melilit. Sesuatu yang panas menjalar ke selangkangannya. Sialan, maki Taesan dalam hati. Dia benci bagaimana tubuhnya bereaksi pada pemandangan itu. Dia benci bagaimana bau sabun dave dari tubuh Leehan bisa lebih memabukkannya daripada parfum mahal mana pun.
"Lo kalau jalan biasa aja bisa nggak? Sengaja banget gerak- gerak kayak gitu?" Taesan berdiri tiba-tiba, kursinya terseret ke belakang dengan suara derit yang kasar.
Leehan yang baru saja menapakkan kakinya di lantai terlonjak kaget. Dia menatap Taesan dengan bingung, punggungnya menempel pada tiang tangga. "Gerak gimana sih? Gue cuma turun tangga, jir. Lo kenapa sih sensitif banget? Gue ada salah kah?"
Taesan mendekat, postur tubuhnya yang setinggi 184 cm mengintimidasi Leehan yang meski tinggi, tetap terlihat ringkih di depan otot-otot atletis mahasiswa Teknik Sipil itu. Taesan mencengkeram lengan Leehan, merasakan kulit yang halus itu di bawah telapak tangannya yang kasar.
"Gue jijik liat gaya lo, Han. Lo sadar nggak sih kalau lo itu cowok?" Taesan mendesis, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Leehan.
"Gue nggak ngapa-ngapain, anjir!" bentak Leehan. "Lo aja yang aneh, San. Kalau emang nggak suka sama gue, ya jangan liatin gue terus!"
Leehan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Taesan, tapi sia-sia.
"Lo pikir gue nggak sadar?" lanjutnya, napasnya memburu. "Lo yang selalu merhatiin gue. Gue jalan, lo lihat. Gue ngomong sama orang, lo lihat. Gue ngapa-ngapain juga lo lihat."
Ia menatap Taesan tajam.
"Jadi siapa yang sebenernya bermasalah di sini?"
Napas Taesan memburu. Dia bisa mencium aroma manis permen dari napas Leehan. Matanya jatuh ke bibir Leehan yang sedikit terbuka karena terengah-engah. Di dalam kepalanya, suara-suara kebencian bertarung dengan hasrat yang sudah dia pendam selama berbulan-bulan sejak mereka pertama kali menjadi teman sekamar. Dia benci kaum gay, dia benci melihat laki-laki yang terlihat 'cantik', tapi setiap malam dia selalu membayangkan bagaimana rasanya menghancurkan kesucian wajah itu di bawah tubuhnya.
"Lo nantang gue?" tanya Taesan pelan, suaranya kini terdengar berbahaya.
"Nggak nantang anjing! gue cuma mau lo lepasin tangan gue. Sakit, San!" Leehan mulai panik. Dia melihat kilat aneh di mata Taesan, sesuatu yang gelap dan penuh nafsu yang selama ini tersembunyi di balik amarah pria itu.
Bukannya melepaskan, Taesan malah mendorong Leehan ke arah tempat tidur bawah, kasur milik Taesan. Leehan jatuh terduduk di atas sprei abu-abu yang dingin. Sebelum dia sempat bangkit, Taesan sudah menindihnya, mengunci kedua tangan Leehan di atas kepala dengan satu tangan besarnya.
"San, apa-apaan sih? Lo gila ya?! Lepasin!" Leehan berteriak, kakinya menendang-nendang udara, tapi Taesan dengan mudah menghimpit kaki Leehan dengan lututnya yang kokoh.
Taesan menekan tubuh Leehan lebih rapat ke kasurnya, satu tangannya mencengkeram rahang cowok itu dengan kasar, sementara napasnya yang panas menyapu telinga Leehan.
"Gue benci," kata Taesan cepat.
Ia menatap Leehan seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri.
"Gue benci cara lo ngomong, cara lo jalan, cara lo selalu bikin orang ngelihat ke arah lo." Rahangnya mengencang.
"Dan yang paling gue benci..." suaranya sempat tersendat. Ia mengumpat pelan sebelum melanjutkan. "Setiap kali gue lihat lo, gue jadi pengen marah."
Tatapannya tidak lepas dari wajah Leehan, ia mengumpat pelan.
"Sialan, Han. Kenapa harus lo?"
Tangan Taesan mencengkeram pinggang Leehan semakin kuat. Rahangnya mengeras seolah sedang menahan sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan.
"Gue pengen berhenti mikirin lo. Pengen nggak peduli. Tapi lo selalu ada di kepala gue."
Leehan mencoba mendorong dada Taesan, tapi tenaganya seperti tak berdaya. "San lo gila sumpah. Lepasin gue."
"Elo yang gila anjing," geram Taesan, suaranya semakin rendah dan berbahaya. Dia menunduk, hidungnya hampir menyentuh hidung Leehan.
"Gue normal. Gue cowok beneran. Gue suka cewek. Tapi lo, lo ini setan. Lo sengaja godain gue biar gue kayak gini. Biar gue mikirin hal-hal yang nggak bener. Hal-hal yang cuma dilakukan sama orang sakit jiwa kayak lo."
Dia tertawa pendek, tapi tawanya terdengar pahit dan penuh amarah pada dirinya sendiri.
"Lo pikir gue suka sama lo? Jangan mimpi. Gue bisa buktiin bahwa lo nggak lebih dari barang rusak yang seharusnya disembunyikan. Kalau gue rusak lo sekarang, mungkin gue bisa berhenti mikirin lo. Mungkin gue bisa balik normal lagi."
Tangan Taesan naik ke leher Leehan, tidak mencekik, tapi cukup kuat untuk membuat cowok itu sulit bernapas tenang. Matanya gelap, penuh konflik antara kebencian yang dia paksa keluar dan hasrat yang dia tolak mati-matian.
"Lo lihat kan?" bisiknya lagi, suaranya hampir pecah. "Ini semua salah lo. Lo yang bikin gue kayak gini. Jadi sekarang, diam aja rasain seberapa jijiknya gue sama lo."
Leehan hanya bisa menatap Taesan dengan mata berkaca-kaca, tubuhnya dingin ketakutan sekaligus bingung dengan getaran aneh yang muncul di dadanya melihat wajah Taesan yang sedang hancur karena denialnya sendiri.
"Lo boleh benci gue, San.. tapi benci itu nggak pernah sesederhana yang lo kira," gumam Leehan pelan, suaranya bergetar lembut. "Kadang orang yang paling keras bilang 'gue benci lo', justru orang yang nggak bisa berhenti mikirin yang dia benci."
Dia menelan ludah, napasnya agak tersengal.
"Lo suka gue, kan? Lo suka ngeliat gue yang cantik di depan lo... lo suka gue ada di bawah lo kayak gini. Gue tahu ego lo tinggi banget. Lo suka pas ada orang yang lebih lemah, supaya lo bisa kuasain."
Taesan langsung membentak keras, "Diem anjing! Gue nggak suka sama lo! Gue cuma— gue cuma pengen liat lo hancur karena gue!"
Taesan menunduk, mencium leher Leehan dengan kasar. Bukannya ciuman lembut, itu lebih seperti gigitan yang menandai wilayah. Leehan mengerang, rasa sakit dan sensasi aneh yang belum pernah dia rasakan meledak di sarafnya. Taesan menghisap kulit leher itu hingga meninggalkan tanda kemerahan yang kontras dengan kulit putih Leehan.
Napas Taesan terengah-engah di kulit Leehan. Dia menjauhkan wajahnya sedikit, menatap bekas gigitan yang baru saja dibuatnya dengan pandangan gelap dan puas sekaligus marah.
Leehan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan suara yang ingin keluar. Tubuhnya gemetar hebat, tapi entah kenapa lututnya terasa lemas. "Kalo lo benci gue, then stop it. Lo ngelecehin gue bangsat."
"So?" jawab Taesan cepat, suaranya kasar dan defensif. Dia menekan tubuhnya lebih rapat lagi, paha Leehan terjepit di antara kedua kakinya. "People like you deserve it, Han."
Tangan Taesan menyusup ke bawah kaos tipis Leehan, telapak tangannya yang panas dan kasar langsung menyentuh kulit perut yang halus. Leehan tersentak, napasnya tersengal.
"Apa-apaan ini?" Taesan tertawa pendek, tapi tawanya jelas dipaksakan dan kaku. Tangannya masih menelusuri kulit Leehan pelan. "Kulit lo halus banget, sialan."
Rahangnya mengeras, tatapannya gelap.
"Lo emang sengaja ya, Han? Lahir cuma buat bikin cowok normal kayak gue tergoda gini? Biar gue ikut jatuh ke neraka bareng lo?"
Jarinya menekan lebih dalam ke kulit Leehan, meraba naik perlahan dengan gerakan yang penuh kendali tapi kasar. Telapak tangannya yang panas menyusuri perut rata itu, lalu naik ke dada, meremas pelan tapi penuh tekanan. Setiap sentuhan terasa seperti amarah yang sedang ditahan mati-matian di balik kekasaran, seolah Taesan ingin menghancurkan sekaligus mengklaim apa yang ada di bawah tangannya.
Napasnya terdengar berat dan tidak stabil, dada Taesan naik-turun dengan cepat. Ujung jarinya sengaja menekan lebih kuat di bagian sensitif, seolah sedang menguji seberapa rapuh Leehan di bawah sentuhannya.
"Gue bukan homo," katanya lagi, lebih keras kali ini, seolah mengulanginya untuk dirinya sendiri. "Dengar nggak? Gue bukan."
Tangan bebas Taesan menyelinap lagi ke bawah kaos putih Leehan, meraba perut rata yang sudah mulai berkeringat. Telapaknya yang panas naik perlahan, seolah sedang menandai wilayahnya, sebelum akhirnya mencapai dada. Jemari kasar itu langsung memilin puting Leehan yang sudah mengeras, memutar dan menekannya dengan sengaja.
Leehan gemetar hebat, tubuhnya mengejang kecil di bawah Taesan. Lenguhan tipis yang manja lolos dari mulutnya, suara yang lembut dan rapuh itu langsung membuat Taesan semakin gila. Napas Taesan jadi lebih berat, matanya gelap penuh nafsu dan amarah yang bercampur aduk.
"Liat, lo suka kan? Cowok kayak lo emang cuma butuh dikasih paham biar tahu tempatnya," cerca Taesan, meskipun tangannya terus bergerak dengan sangat ahli.
Taesan melepas kaos Leehan dengan paksa, hingga terdengar bunyi kain yang robek sedikit di bagian leher. Tubuh bagian atas Leehan terekspos ramping, bersih, dengan tulang selangka yang menonjol indah. Taesan tidak membuang waktu, dia segera mencopot kaosnya sendiri, menampakkan dada bidang dan otot perut yang terpahat sempurna. Dia kembali menubruk Leehan, menyatukan kulit mereka yang panas.
Sensasi kulit bertemu kulit membuat Leehan tersentak keras. Panas tubuh Taesan begitu membara, kontras dengan tubuhnya yang dingin karena ketakutan dan gugup. Dada bidang itu menekan dada Leehan dengan kuat, membuat napasnya tersengal-sengal.
Dia menggigit bahu Leehan pelan, lalu menghisapnya kuat-kuat, meninggalkan bekas baru di samping yang lama. Leehan mengerang pelan, tangannya refleks mencengkeram lengan Taesan yang kekar.
"San, sakit." keluh Leehan, suaranya bergetar.
"Bagus kalau sakit," balas Taesan kasar, tapi napasnya justru semakin tidak teratur. "Gue pengen lo ngerasain sakit yang gue rasain tiap kali liat lo. Lo bikin gue gila, Han. Lo bikin gue mikirin hal-hal yang nggak seharusnya gue pikirin."
Taesan menarik mundur sedikit, matanya menelusuri tubuh Leehan yang terpapar di depannya. Pandangannya gelap, penuh hasrat yang sedang dia lawan mati-matian. Dia mengangkat tangan dan menyentuh tulang selangka Leehan dengan ibu jarinya, mengusapnya perlahan sebelum menekannya kuat.
"Lo ngerti nggak?" gumamnya pelan, suaranya bergetar. "Gue normal. Gue suka cewek."
Ia tertawa pendek, tapi terdengar pahit.
"Makanya gue nggak ngerti kenapa harus jadi kayak gini."
Tatapannya mengeras. "Semua jadi berantakan gara-gara lo."
Dia menunduk lagi, bibirnya menyapu dada Leehan dengan kasar. Bukan ciuman lembut, melainkan gigitan-gigitan kecil yang diselingi hisapan kuat. Setiap kali Leehan menggelinjang atau mengerang, Taesan semakin menekan tubuhnya, seolah ingin mengubur Leehan ke dalam kasur asrama yang tipis.
"Gue suka liat lo nangis, cantik," bisik Taesan dengan suara rendah dan kasar, matanya menyipit penuh kepuasan. "Lo seneng kan, akhirnya lo dapet apa yang lo mau dari gue?" Taesan membungkam mulut Leehan dengan ciuman yang berantakan.
Bibirnya menindih kasar, hampir menyakiti, lidahnya menyusup masuk dengan paksa, menjilat dan menguasai setiap inci mulut Leehan. Ciumannya penuh amarah dan nafsu yang bercampur aduk, gigitannya di bibir bawah Leehan cukup kuat sampai terasa perih, diikuti hisapan yang rakus. Napas mereka saling bertabrakan, basah, dan berantakan. Taesan mencengkeram rahang Leehan dengan satu tangan agar mulutnya tetap terbuka lebar, seolah ingin menelan semua erangan dan keluhan darinya.
Lidah Taesan memaksa masuk dengan kasar, menyapu rongga mulut Leehan tanpa ampun. Dia menghisap lidah Leehan dengan rakus, menelan saliva yang bercampur di antara mereka. Suara basah dari ciuman mereka memenuhi kamar 404 yang hening, hanya diselingi napas tersengal.
Leehan awalnya mencoba melawan, mendorong dada Taesan dengan tangan yang terikat, tapi rasa nikmat yang asing dan panas itu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Ketika Taesan melepaskan cengkeraman di pergelangan tangannya, Leehan malah langsung melingkarkan kedua lengannya di leher Taesan, menarik pria itu lebih dekat dengan putus asa.
Ciuman mereka turun semakin liar dari bibir ke rahang, lalu ke leher, dada, dan perut Leehan. Taesan terus mencium dan menggigit ringan di sepanjang jalur itu sampai tangannya mencapai pinggiran celana pendek Leehan. Dengan satu sentakan kasar, dia menarik celana beserta pakaian dalamnya hingga ke pergelangan kaki dalam satu gerakan.
Kejantanannya yang sudah setengah tegang langsung terekspos di udara. Taesan menatapnya dengan pandangan merendahkan sekaligus penuh damba yang gelap.
"Mayan lah, sesuai sama orangnya," ejek Taesan, meski matanya tak lepas dari sana.
"Bacot anjing." balas Leehan dengan suara parau, wajahnya memerah padam.
Taesan tanpa peringatan langsung menggenggam milik Leehan, mengocoknya dengan gerakan cepat dan ritmis. Leehan melengkungkan punggungnya, kepalanya mendongak ke belakang, mulutnya terbuka lebar mengeluarkan erangan-erangan pendek.
"Ah! San kecepetan!"
Taesan tidak mendengarkan. Dia malah makin mempercepat gerakannya, sementara tangan satunya bermain-main di area sensitif di antara paha Leehan. Dia menemukan lubang Leehan yang masih tertutup rapat, mengusapnya dengan ibu jari yang sudah basah oleh cairan pre-cum milik Leehan.
Leehan tersentak keras, pinggulnya refleks bergerak mundur menjauhi sentuhan itu, tapi tubuhnya terjepit rapat antara kasur dan dada bidang Taesan. "San jangan di situ ah."
"Kenapa? Takut?" Taesan tertawa pelan, suaranya serak penuh ejekan. "Tadi galak banget, sekarang malah gemeter gitu?"
Ibu jarinya terus mengusap pelan di sekitar lubang itu, memberi tekanan ringan yang membuat Leehan menggelinjang tak terkendali.
Ia menggeleng kecil, senyum miring muncul di sudut bibirnya. "Lo bilang gue ngelecehin lo, tapi kenapa reaksi lo malah begini?"
Taesan menarik tangannya sedikit, lalu dengan kasar mendorong Leehan turun hingga lutut cowok itu menyentuh lantai. Dia berdiri tegak di depan Leehan, tangannya mencengkeram rahang Leehan kuat-kuat, memaksa wajah itu mendongak menatapnya.
Mata Taesan gelap, napasnya terengah-engah. Bulge di celana jeans-nya sudah sangat jelas, menekan kain dengan tegang.
"Gue udah nggak tahan," gumamnya kasar, suaranya bergetar antara amarah dan hasrat. "Lo yang bikin gue kayak gini. Lo yang bikin kontol gue keras, tanggung jawab."
Dia membuka kancing celananya dengan satu tangan, menarik resletingnya turun. Celana jeans dan boxer-nya diturunkan cukup untuk membebaskan miliknya yang sudah berdiri tegak, tebal, dan berdenyut di depan wajah Leehan.
Ketika kejantanan Taesan yang besar dan berurat keluar, mata Leehan membelalak. Dia belum pernah melihat sesuatu yang sebesar itu. Ketakutan kembali menyergapnya, tapi rasa penasaran dan gairah yang sudah terlanjur membakar membuatnya hanya bisa pasrah.
Taesan mencengkeram rambut Leehan dengan kasar, menarik wajahnya lebih dekat hingga ujungnya hampir menyentuh bibir Leehan yang lembut.
"Sepong," perintahnya dengan suara rendah dan tegas, tapi ada nada defensif yang jelas. "Sepong sekarang."
Leehan memandang ke atas dengan mata berkaca-kaca, tubuhnya gemetar. "San, gue nggak—"
"Diem," potong Taesan kasar, jarinya menekan pipi Leehan. "Gak usah sok nolak. Lo pasti sering bayangin ini kan, gak usah munafik Han, masukin sekarang. Buktiin kalau lo emang deserve diginiin kayak yang gue bilang."
Dia menekan pinggulnya maju sedikit, ujung kepala yang sudah licin oleh pre-cum menggesek bibir Leehan pelan. Napas Taesan semakin berat.
"And I'm still not gay," bisiknya lagi, suaranya hampir pecah saat mengucapkannya. "Ini cuma— ini cuma karena lo. Karena lo godain gue terus. Jadi sekarang buka mulut lo. Sepong sampe gue puas. Kalau lo berani nolak gue bener-bener bakal maksa lo malam ini dan gue pastiin lo akan nyesel setelah nya."
Tangan Taesan di rambut Leehan mengencang, matanya menatap ke bawah dengan campuran kebencian dan lapar yang tak bisa lagi dia sembunyikan sepenuhnya.
"Cepet jangan buat gue nunggu. Mulut cantik lo itu di pake buat sesuatu yang berguna sekali-kali."
Taesan mencengkeram rambut Leehan lebih kuat, pinggulnya bergerak maju pelan hingga ujung kontolnya yang panas dan licin menggesek bibir bawah Leehan.
"Ayo," desaknya dengan suara serak, hampir seperti geraman. "Buka mulut lo. Jangan bikin gue marah lebih dari ini."
Leehan ragu sejenak, air mata masih mengalir pelan di pipinya. Tapi tekanan di rambutnya semakin kuat, membuatnya tak punya banyak pilihan. Dengan tangan gemetar, dia membuka bibirnya pelan. Begitu ujungnya masuk ke dalam mulut hangat Leehan, Taesan mengeluarkan desahan rendah yang tertahan.
"Ahh anjing.." gumam Taesan, kepalanya mendongak sebentar. Rahangnya mengeras, seolah sedang berusaha menahan sesuatu yang ingin keluar dari dadanya. Bangsat bangsat bangsat enak banget.
Dia mulai menggerakkan pinggulnya perlahan, mendorong lebih dalam ke dalam mulut Leehan. Setiap kali Leehan tersedak atau lidahnya tanpa sengaja menyentuh bagian bawah, tubuh Taesan menegang.
Tangannya di rambut Leehan mengatur irama, tidak terlalu kasar tapi cukup kuat untuk mengendalikan gerakan kepala cowok itu. Dia menatap ke bawah, melihat bibir Leehan yang meregang mengelilingi miliknya, dan matanya semakin gelap.
Leehan mengerang pelan di sekitar kontol Taesan, getaran suaranya membuat Taesan menggigit bibirnya kuat. Gerakan pinggul Taesan mulai semakin cepat, meski dia berusaha menahan diri.
"Gue bukan homo." ulangnya lagi, kali ini suaranya lebih pecah.
Dia menarik rambut Leehan sedikit ke belakang agar cowok itu menatapnya, mata mereka bertemu. Wajah Taesan memerah, keringat tipis mengalir di pelipisnya. Ada campuran amarah, kenikmatan, dan rasa jijik yang jelas di matanya.
Taesan menekan kepala Leehan lebih dalam sambil mendesis napas berat.
"Telen semua," perintahnya kasar, suaranya parau. "Jangan cuma di ujung doang. Pake lidah lo. Hisap terus dalem."
Leehan itu mengeluarkan suara tertahan, matanya sudah berkaca-kaca, tapi tetap menurut. Dia menelan ludahnya sendiri sebelum menenggak lebih dalam.
"Gue mau ngerasain sampe tenggorokan lo," lanjutnya sambil menggenggam rambut Leehan kuat-kuat. "Iya gitu.. enak banget. Jangan berhenti."
Dia mendesah panjang, pinggulnya maju pelan tapi pasti.
Taesan mendorong pinggulnya lebih dalam, membuat Leehan tersedak kecil. Dia tidak melepaskan cengkeramannya, malah mendesah panjang saat merasakan tenggorokan Leehan berkontraksi di sekitar ujungnya.
Napas Taesan semakin berat, gerakannya mulai tidak teratur. Dia menatap Leehan dengan mata setengah terpejam, suaranya hampir berbisik.
"Enak anjing ahh terus Han ahh."
Taesan mendorong pinggulnya lebih dalam beberapa kali lagi, napasnya kasar dan tidak teratur. Tubuhnya menegang hebat, otot perutnya mengeras.
"Ahh fuck telen semuanya," geramnya serak.
Dengan erangan rendah yang tertahan, Taesan menyemburkan panasnya langsung ke dalam mulut Leehan. Dia menekan kepala Leehan kuat-kuat ke pangkalnya, memaksa cowok itu menelan setiap tetes yang keluar. Leehan tersedak hebat, air mata mengalir deras di pipinya, tapi dia tak punya pilihan selain menelan dengan susah payah. Beberapa cairan lolos dari sudut bibirnya, menetes ke dagu yang sudah basah.
Taesan menarik diri perlahan, kontolnya masih setengah keras dan berkilau oleh campuran air liur Leehan. Dia menatap wajah Leehan yang berantakan, mata merah berkaca-kaca, bibir bengkak dan basah, napas tersengal-sengal dan sesuatu di dadanya berdenyut lagi.
"Wah," gumamnya parau, ibu jarinya mengusap cairan yang menetes di dagu Leehan lalu memasukkan jari itu ke mulut cowok itu lagi. "Ternyata lo keliatan lebih cocok pas nangis gini."
Dia menarik Leehan berdiri dengan kasar, lalu mendorongnya telungkup ke atas tempat tidur. Leehan jatuh dengan wajah tertelungkup di kasur, pinggulnya terangkat sedikit karena posisi itu. Taesan meraih lube yang ada di nakas, membuka tutupnya dengan gigi.
"Jangan gerak," perintahnya dingin.
Taesan menuang lube banyak-banyak ke celah bokong Leehan yang masih tertutup rapat. Cairan dingin itu membuat Leehan menggigil dan mengerang pelan. Taesan tidak memberi waktu untuk menyesuaikan diri ibu jarinya langsung mengusap lubang yang berkedut itu, lalu perlahan mendorong masuk.
Leehan terkesiap keras, tangannya mencengkeram seprai. "Sakit San ahh."
Taesan mengabaikannya. Matanya terpaku pada wajah Leehan yang menoleh ke samping alisnya berkerut dalam, bibirnya terbuka mengeluarkan desahan kesakitan yang manis, mata yang setengah terpejam penuh air mata. Ekspresi itu membuat kontol Taesan yang baru saja keluar langsung berdenyut lagi, mengeras dengan cepat.
"Lo lebih keliatan nyangein banget pas kayak gini," bisik Taesan serak, suaranya penuh nafsu yang tak bisa disembunyikan. Dia memutar jarinya pelan di dalam, lalu menambah satu jari lagi. "Nangis aja, makin buat gue pengen rusak lo lebih parah."
Leehan menggigit bantal untuk menahan suara, tapi erangannya tetap lolos saat Taesan mulai menggerakkan dua jarinya keluar-masuk dengan ritme yang semakin cepat. Lubangnya mulai meregang perlahan, basah oleh lube yang melimpah.
Taesan mencondongkan tubuhnya ke depan, dada bidangnya menempel di punggung Leehan. Dia menambahkan jari ketiga tanpa peringatan, mendorong masuk dengan tekanan yang lebih kuat.
"Ahh!!" Leehan menjerit kecil, tubuhnya mengejang hebat. Wajahnya memerah, bibir bawahnya gemetar, dan matanya yang basah menatap kosong ke samping dengan ekspresi campur antara sakit dan sensasi aneh yang mulai muncul. Alisnya bertaut, pipinya basah air mata, dan mulutnya terbuka lebar mengeluarkan desahan-desahan pendek yang tak terkendali.
Taesan menggeram rendah melihat itu semua. Jarinya terus mengaduk-aduk lubang Leehan yang semakin longgar, sementara matanya tak lepas dari wajah cowok di bawahnya.
Dia memutar ketiga jarinya dalam-dalam, menyentuh titik sensitif Leehan hingga tubuh cowok itu tersentak dan mengerang panjang. Ekspresi Leehan semakin hancur, mata setengah terpejam penuh air mata, pipi memerah, dan napasnya yang tersengal membuat Taesan semakin keras.
Taesan terus menggerakkan ketiga jarinya di dalam lubang Leehan dengan ritme yang stabil dan dalam. Setiap kali jarinya menyentuh titik sensitif itu, tubuh Leehan mengejang dan mengeluarkan erangan panjang yang tertahan di bantal. Wajah cowok itu sudah benar-benar kacau mata merah berkaca-kaca, pipi memerah basah air mata, bibir bawahnya gemetar hebat setiap kali dia menarik napas.
"Muka lo sialan banget anjing." gumam Taesan serak, suaranya penuh nafsu.
Dia menarik ketiga jarinya keluar perlahan, lubang Leehan yang sudah basah dan agak longgar berkedut mencari-cari. Taesan menuang lebih banyak lube ke telapak tangannya, lalu mengoleskannya ke kontolnya yang sudah kembali tegang penuh. Dia mengusap batangnya beberapa kali, matanya tak lepas dari bokong Leehan yang terangkat di depannya.
Taesan menggenggam pinggul Leehan kuat-kuat, jarinya meninggalkan bekas merah di kulitnya. Napasnya sudah memburu, mata penuh nafsu gelap.
"Gue masukin sekarang," ucapnya kasar, suaranya rendah dan tegas.
Tanpa menunggu jawaban, Taesan mendorong pinggulnya maju dengan satu hantaman kuat. Hanya setengahnya yang masuk, tapi sudah cukup membuat tubuh Leehan menegang hebat.
"AAGHHH! TAESAN!" Leehan berteriak, matanya melotot, air mata benar-benar jatuh sekarang. Rasanya seperti dibelah menjadi dua. Dia mencengkeram sprei hingga buku jarinya memutih.
Taesan menggeram rendah, rahangnya mengeras menahan kenikmatan yang langsung menyergapnya. Lubang Leehan sangat sempit, panas, dan berkedut hebat di sekitar ujung kontolnya. Dia berhenti sebentar, memberi Leehan waktu untuk bernapas, tapi tangannya mencengkeram pinggul Leehan kuat-kuat agar tidak bisa kabur.
"Fuck lo sempit banget," desisnya serak. "Kayak lagi nyedot gue masuk."
Dia mendorong lagi, kali ini lebih dalam. Setengah batangnya sudah masuk, meregangkan Leehan dengan lebar. Leehan menangis tersedu, tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin bercampur air mata di wajahnya. Ekspresi kesakitan itu, alis bertaut dalam, mata terpejam erat, mulut terbuka lebar mengeluarkan isakan dan erangan putus-putus membuat Taesan semakin gila.
Taesan menekan dada Leehan lebih rapat ke kasur, tubuhnya menutupi punggung Leehan sepenuhnya. Napasnya panas dan berat menyapu telinga Leehan saat dia berbisik kasar, suaranya serak karena menahan nafsu yang sudah meledak-ledak.
"Lo nyangein banget, anjing," bisiknya sambil menggigit cuping telinga Leehan pelan. "Nangis gini malah bikin gue makin pengen ngentotin lo terus."
Leehan hanya bisa mengeluarkan isakan tertahan, tubuhnya gemetar di bawah Taesan. Taesan mendengus puas, pinggulnya bergerak pelan tapi dalam, mendorong lebih masuk lagi.
"Semakin lo nangis, semakin gue pengen rusak lo," tambahnya sambil tertawa kecil yang gelap. Satu tangannya merayap ke leher Leehan, memegangnya tanpa terlalu kuat, tapi cukup untuk membuat Leehan merasa dikuasai total.
Dengan satu dorongan kuat, Taesan mendorong seluruh panjangnya masuk hingga pangkal. Leehan menjerit panjang, tubuhnya mengejang hebat di bawah Taesan. Lubangnya berkontraksi liar di sekitar kontol Taesan yang tebal, seolah ingin mengusir sekaligus menelan lebih dalam.
Taesan mendesah panjang, kepalanya mendongak ke belakang sebentar. Sensasi panas dan tekanan yang begitu ketat membuatnya hampir hilang kendali.
Suara kulit yang saling beradu terdengar ritmis. Taesan tidak memberikan ampun. Setiap tusukannya dalam dan menghujam tepat ke titik yang membuat Leehan kehilangan akal. Leehan tidak lagi bisa bicara dengan jelas. Dia hanya bisa meracau, memanggil nama Taesan di antara desahan-desahan panjangnya.
Dia mencengkeram pinggang Leehan yang ramping, menariknya mendekat agar dia bisa masuk lebih dalam lagi. Dengah posisi ini, Taesan bisa melihat bagaimana lubang Leehan menerima dan memeras kejantanannya setiap kali dia keluar-masuk.
"Liat diri lo sendiri, Han. Lo kayak perek yang lagi minta di entot jing," ejek Taesan sambil menepuk pantat Leehan dengan keras hingga meninggalkan bekas merah tangan.
Leehan tidak peduli lagi dengan ejekan itu. Dunianya sudah menyempit hanya pada rasa nikmat yang menghujam sarafnya. Dia menoleh ke belakang, menatap Taesan dengan pandangan sayu yang penuh nafsu. Matanya mulai memutih, lidahnya sedikit terjulur keluar, air liur menetes dari sudut bibirnya yang sempurna karena stimulasi berlebih.
Melihat wajah Leehan yang tampak begitu hancur oleh kenikmatan, Taesan merasa sesuatu di dalam dirinya meledak. Dia belum pernah melihat pemandangan seindah dan seberantakan ini. Dia ketagihan. Dia ingin melihat wajah itu lagi dan lagi.
"Sialan, muka lo anjing bener-bener mau bikin gue gila ya?" Taesan menggeram, gerakannya menjadi semakin liar dan tak terkontrol. Dia menghantam Leehan tanpa jeda, membuat kasur tingkat itu bergoyang hebat dan berderit keras.
"Ahh mau keluar San, gue mau keluar!" teriak Leehan parau. Tubuhnya gemetar hebat, otot-otot pahanya menegang.
"Keluar bareng gue, Han! Panggil nama gue lagi!" seru Taesan, urat-urat di lehernya menonjol.
"San! Taesan! Ahhh!"
Leehan mencapai puncaknya lebih dulu, cairannya menyemprot ke atas sprei dan perutnya sendiri. Tak lama kemudian, Taesan menyusul dengan geraman panjang, menyemburkan benihnya jauh ke dalam rahim semu Leehan. Dia menekan tubuhnya kuat-kuat ke punggung Leehan, membiarkan setiap tetes cairannya mengisi penuh pria di bawahnya.
Hening menyelimuti kamar itu selama beberapa saat, hanya terdengar suara napas mereka yang menderu seperti habis lari maraton. Taesan perlahan menarik diri, suara cairan yang terlepas dari lubang Leehan terdengar sangat vulgar di telinga mereka. Cairan putih bercampur pelumas dan sedikit bercak merah merembes keluar dari antara paha Leehan.
Leehan ambruk lemas ke atas bantal, wajahnya tenggelam di sana. Tubuhnya masih gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal, dan ekspresi kenikmatan yang tadi begitu intens masih terpatri jelas di wajahnya yang memerah.
Taesan duduk di pinggir kasur, napasnya juga masih berat. Matanya menelusuri punggung Leehan yang penuh bekas gigitan merah dan memar samar. Sudut bibirnya sedikit terangkat melihat hasil kerjanya. Tangan kanannya masih agak gemetar saat meraih rokok dari nakas, memasukkan ke bibir, lalu menyalakannya dengan korek api.
Dia seharusnya merasa jijik. Dia seharusnya menyesal. Tapi yang dia rasakan justru sebaliknya. Dia merasa puas. Dia menarik napas dalam-dalam, asap rokok keluar pelan dari mulutnya sambil terus menatap punggung Leehan yang naik-turun.
Ia menoleh ke samping, matanya menatap Leehan yang masih terbaring lemah. Ada sesuatu yang gelap dan rapuh di balik tatapannya.
"Jangan berani-berani cerita ke siapa pun. Ini nggak ada artinya. Ini cuma khilaf, gue bukan homo. Gue straight. Gue cuma kelepasan karena lo yang godain gue."
Dia bangkit berdiri, mengenakan celana boxer-nya dengan gerakan kasar. Sebelum berjalan ke kamar mandi, dia berhenti sebentar di samping tempat tidur dan menunduk, menyentuh pipi Leehan dengan ibu jarinya yang kasar, tapi langsung ditarik kembali seolah tersengat.
"Besok pagi lo harus anggap ini gak pernah ada," katanya dingin, tapi suaranya sedikit bergetar.
"Dan jangan pernah pake baju kurang bahan di depan gue lagi kecuali lo emang mau gue bikin lebih parah."
Taesan berjalan ke kamar mandi tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup dengan bunyi klik pelan.
Di tempat tidur, Leehan hanya bisa memejamkan mata, tubuhnya sakit di mana-mana, dan air mata baru mengalir lagi pelan di sudut matanya. Kamar terasa hening sekali, hanya tersisa bau seks yang pekat dan bekas-bekas yang Taesan tinggalkan di tubuhnya.
Entah ini akhir, atau baru permulaan dari sesuatu yang lebih gelap.
