Work Text:
Daripada jadi polisi, teman-teman Anton sering bercanda kalau lelaki itu cocoknya jadi model. Menurut mereka, percuma banget kalau badan tinggi kekar dan proporsional itu gak bisa menghasilkan uang atau ketenaran. Anton cocoknya jadi aktor, atau model—bahkan Sohee sering bercanda kalau Anton cocok jadi model pakaian dalam karena badannya yang gak cuma proporsional, tapi juga menggoda. Tapi Anton gak terlalu peduli, tumbuh besar di keluarga berlatar belakang ‘seragam’ membuat Anton punya cita-cita yang sama.
Ya meski akhirnya, ada rasa menyesal, sih.
Gara-gara oknum (yang kalo dikumpulin jadi sekampung), citra cowo berseragam kayak dia jadi jelek di mata orang awam. Meskipun Anton udah ngerasa jadi polisi yang bener, tapi beberapa temennya masih aja ngejek kalau dia makan dari uang haram pemerintah.
Duh, uang haram apaan. Gantiin lemburan seniornya aja Anton rela gak dibayar. Iya, Anton emang udah niat buat gantiin jadwalnya si senior karena ada rumor kalau terjadi sindikat transaksi gelap yang suka berlangsung di sekitar komplek mereka. Sebagai jebolan baru yang suka dibilang masih anak bawang, Anton mau buktiin ke rekan-rekan dan seniornya kalau dia juga bisa jadi polisi yang diandalkan.
Sial seribu sial, udah harus lembur, sendirian pula. Bang Jeno—senior sekaligus rekan lemburnya malam ini baru ngabarin kalau dia gak bisa ikut patroli karena istrinya masuk rumah sakit, udah pembukaan 3 dan siap-siap lahiran. Mau bagaimana lagi? Anton gak bisa marah karena memang kepentingan keluarga, toh ini memang komplek rumah Anton, Anton hafal betul setiap sudutnya—jadi dia gak terlalu khawatir.
Sudah sejam jam Anton keliling, tapi gak ada aktivitas mencurigakan di sekitar sini. Rata-rata yang muncul malah tetangga yang suka negor dan bilang ‘keren banget Anton, lulusan akpol ya?’ atau semacamnya. Karena udah makin malam dan gak ada tanda-tanda mencurigakan, Anton niatnya mau balik ke kantor aja. Tapi niatnya langsung berubah waktu ada sekumpulan orang pakai baju hitam-hitam yang menurut Anton mencurigakan. Dia langsung buntutin kelompok itu.
Mereka lewat jalan berkelok dan gang yang buat Anton pusing, tapi akhirnya tiba di bangunan kosong yang bahkan dari Anton SMP memang sudah gak berpenghuni. Meski rumahnya gelap dan kayak angker, Anton gak nyerah dan tetep ngendap-ngendap masuk. Perasaan ingin membuktikan bahwa dia mampu dan berkompeten membuatnya mengabaikan peraturan; dimana dalam penyergapan setidaknya ia harus ditemani 1 orang yang bisa membantu menjaga nyawanya.
“Oi anjing, main lo pada ga bersih! Ada polisi bangsat!”
Sial. Anton merasa sudah bersembunyi dengan baik, tapi di markas musuh, jelas mereka lebih tau seluk beluk daerah mereka sendiri. Anton mencoba untuk lari, namun gerak-geriknya yang spontan justru membuatnya mudah terlihat dan gampang ditangkap.
“Amanin.” Suara yang tadinya penuh emosi kini jadi lebih tenang.
Ketenangan yang membuatnya justru lebih takut. Apa yang akan dihadapinya nanti? Anton mencoba kabur karena sudah mengamati lantai dua rumah ini punya pintu terbuka. Namun langkahnya tersandung dan membuatnya terjatuh—langsung ditangkap oleh dua orang berbadan besar yang mengapit kedua tangannya. Disitu ia mencoba memberontak dan menoleh—
Bayangan ketua yang jelek dan gendut banyak simpanan kini terhapus. Lelaki yang membongkar aksinya jauh dari kata itu. Tinggi besar dengan tatto dari tangan hingga leher, namun tak membuat ketampanannya berkurang. Sorot matanya tajam, dan ketika mata mereka bertemu—ia tersenyum culas.
“Habisin bos?”
“Bawa ke ruangan.”
Dan itu adalah kalimat terakhir yang Anton dengar sebelum pandangannya menjadi gelap. Anton tidak tau apa yang akan terjadi setelah ini.
—Atau mungkin dia tau. Setelah matanya mulai terbuka lagi, ia merasa susah untuk bergerak, suara besi beradu membuatnya sadar—tangannya telah diborgol dengan borgol yang ia bawa sendiri. Badannya terasa panas dan ia merasa kelaminnya menegang. Sial. Sial sekali. Anton mulai tau apa mau si ketua.
Anton tentu langsung mencari cara agar ia bisa keluar dan membebaskan diri, namun sepertinya suara borgol dan erangannya malah memancing seseorang untuk datang.
“You're quite loud… Anton.”
Ada jeda untuk menelisik nama di bajunya. Kemudian lelaki itu tersenyum dan mendekat ke arah kasur. Di rumah yang terlihat amat kumuh, ruangan ini amat terawat dan membuatnya yakin—ada banyak orang yang pernah dihabisi disini. Anton mencoba memalingkan muka, namun ditahan paksa oleh lelaki itu.
“lo pereknya polisi-polisi ya?”
Anjing. Bangsat. Anton gak pernah merasa direndahkan sebegininya.
“Mereka pernah bilang badan lo bagus? They're just waiting to enjoy your body. Sayang, gue duluan yang icip.”
“Atau udah pernah? Sering? Wajah kayak gini sih—harusnya bisa buat lo gampang naik jabatan ya hahah,”
“Gue masih bermartabat, bukan binatang kayak lo.”
Plak.
satu tamparan membuat pipi Anton memanas. Lelaki ini, dibalik nada datar dan sikap tenangnya, menyimpan kekuatan yang tidak bisa Anton perhitungkan. Matanya kini mengunci pada lelaki itu—berusaha menunjukkan kalau dia tidak takut.
“Bukan binatang tapi udah ngaceng.”
“Muka lo bikin sange anjing.”
Cuih.
Ludah mendarat di wajah Anton. Lantas dengan kakinya, dia berusaha untuk balik menyerang. 4 tahun ia dididik dengan keras dan disiplin, ditanamkan rasa bangga dan harga diri tinggi. Ia tidak bisa diinjak-injak begitu saja.
Namun gerakan kakinya malah memancing lelaki itu untuk menelusuri lebih dalam. Meski gerakan Anton cepat, tangannya lebih gesit untuk menangkap kedua kaki tersebut dan membukanya. Wajah lelaki itu mendekat ke kelaminnya, mengendus dengan muka mesum yang buat Anton jijik.
“Wangi. Buat sekelas polisi, lo bersih.”
“Bacot.”
Dengan kedua pahanya, Anton berusaha memiting lelaki itu agar berada di keadaan terdesak—yang malah dihadiahi kekehan karena hal tersebut malah membuatnya lebih dekat dengan kelamin Anton. Dijilatnya celana itu hingga Anton tak sadar mengeluarkan suara tak senonoh.
“Suka ya, baru dari luar celana lho? Saking seringnya dipake jadi sensitif ya?”
“Diem bangsat! Lepasin gue!”
“Shhh udah nikmatin aja. Banyak lho yang balik ke gue cuma buat dirusakin lagi lubangnya. Harusnya lo berterima kasih karena mau gue pake.”
“Bajingan.”
Dengan sepenuh tenaga Anton kerahkan untuk menghajar lelaki di hadapannya dengan kakinya. Satu tendangan ketika lelaki itu lengah membuatnya terbanting ke sisi kiri. Wajahnya yang tadi masih senyum kini berubah menjadi dingin.
“Gue udah berusaha baik, nurut atau lo bakal habis.”
“Gue gak takut sama tikus macam lo, bangsat!”
Lelaki itu menampilkan senyum dingin yang berbanding terbalik dengan gerakan tangannya. Ia mencengkram cela Anton begitu saja, hingga robek pada belakan bokongnya. Lelaki itu kemudian mengeluarkan beberapa barang dari laci nakas kemudian menunjukkan ke depan muka Anton.
“Selagi gue masih baik, gue kasih tau aturannya. Nurut sama gue dan lakuin apapun yang gue suruh. Gue gak suka yang terlalu berisik so keep your mouth shut the fuck up—unless you screaming my name. Jadi anak baik dan lo bisa keluar dari rumah ini.”
“And what if i don't do that?” Anton bertanya dengan nada mengejek.
“Even worse than death, Anton. So be a good doll for me, will you?”
Sungchan mengambil segelas minuman yang ada diatas meja, meminumnya dan mendekatkan ke mulut Anton. Belum sempat Anton bereaksi, mulutnya sudah disumpal ciuman yang membuat air dalam mulut lelaki itu mengalir di mulutnya. Anton bukan orang yang bersih, ia masih sering minum, dan ia tau alkohol ini berkadar tinggi.
Badannya tambah memanas, dan Anton baru menyadari—lelaki itu memasukan afrodisiak kedalam minumannya. Bajingan dan sumpah serapah terus keluar dengan kasar dari mulut Anton, yang dihadiahi kekehan oleh lelaki yang kini diatasnya. Anton terus memberontak dan berusaha melepas borgolnya, namun—cairan itu sudah mulai bekerja. Rasa panas mulai menguasai dirinya.
“Kalo bos lo liat anak buahnya kayak gini, dia pasti pengen ngewein lo juga.”
“Diem—sialan.”
“Sungchan. Nama gue. Desahin kalau lagi enak.”
“Gak bakal.”
Plak.
Plak.
Pipi Anton ditampar kanan kiri sebelum kembali di cengkram kembali oleh lelaki yang kini ia tau namanya—Sunchan. Mata tajam itu menghitam, seakan tak suka dengan sikap Anton; “peringatan terakhir, nurut atau lo bakal abis malam ini.”
Cuih.
Mulutnya dibuka kasar, kemudian Sungchan meludah kesitu. Anton yang ingin membuangnya langsung dicengkram dan diberikan satu tamparan lagi. “Telan. Nurut sama gue.” Anton jelas ingin menolak, namun rasa panas di dalam dirinya membuatnya tak lagi bisa membedakan mana yang baik dan benar. Sungchan memasukkan satu jarinya ke mulut Anton, mengabsen dan menggoda lidah si polisi tanpa terkecuali.
“Jilat, kulum kayak lagi makan kontol.”
“keluarin bangsat!”
Tentu saja Anton tidak langsung melakukannya. Ia menyerapah dan membuat Sungchan kembali menampar pipinya. Wajah yang mulai memerah karena afrodisiak itu tambah ranum sebab tamparan keras Sungchan. “Gue udah berusaha baik, tapi lo masih aja nakal.”
Satu alat berbentuk bulat dan memiliki tali mulai dikeluarkan. Sungchan pasangkan dengan kasar di mulut Anton. Mouth Gag yang membatasi suara lelaki itu, Anton mulai menitikkan air mata. Menyadari bahwa lelaki itu serius dengan segala ucapannya.
“Jangan nangis dong, kan jadi polisi harus kuat. Coba kita tes ya~”
Dengan sekali tarik, Sungchan merobek seragam coklat yang Anton kenakan. Lelaki itu bersiul menggoda ketika melihat badan indah bak dipahat milik Anton. Kulitnya seputih susu dengan puting pink yang mengkilap, perutnya yang kotak-kotak membuat Sungchan yakin Anton sering berlatih gym dengan keras. Tubuh yang indah, dan ingin Sungchan lukis untuk menambah keindahannya.
“Siapa sangka badan lo sebagus ini? Emang cocoknya jadi lonte aja.”
Sungchan bergerak untuk mengulum puting kanan Anton, digigit dan dihisap seakan akan ada susu yang akan keluar dari sana. Puting kirinya dimainkan dengan kasar, dicubit dan digaruk tanpa ampun. Badan Anton bergerak kesana kemari sebab sensasi geli dan perih yang ia rasakan. Desahannya tertahan oleh mouth gag dan hanya menyisakan rintihan kecil.
“Dada montok kayak gini bagusnya punya susu. Biar bisa nyusuin satu kompi,”
“Nghhh—ughh!!”
Bosan dengan dada Anton, Sungchan menjalar ke tangan, mengendus lipatan ketiak Anton yang anehnya—menurutnya wangi seperti bayi. Sungchan sempat tertawa, polisi macam apa sebenarnya lelaki didepannya ini?
“Badan putih bersih, montok, bahenol. Lo sebenernya polisi apa perek simpenan komandan lo sih?”
“Liat tete lo, makin dikatain makin naik putingnya. Emang suka ya dikata-katain? Dasar lonte murahan.”
Air mata Anton mengalir kian deras. Ucapan kotor itu ternyata malah merangsang bagian tubuhnya yang lain, yang belum dijamah Sungchan. Mungkin ini efek afrodisiaknya, Anton merasakan gatal pada kelaminnya sendiri. Ia tak bisa memohon sebab mulutnya disumpal, ataupun memainkannya dengan tangan sebab masih dalam borgolan Sungchan. Anton hanya bisa menangis sambil menunggu Sungchan yang masih bermain di area ketiaknya.
Lelaki itu mengendus dan menjilat ketiak Anton dengan semangat. Menghiraukan bulu-bulu tipis yang tumbuh disana, merasakan wangi bercampur keringat yang malah membuatnya semakin bersemangat untuk memakai tubuh Anton. Anton kini sudah tak memberontak, badannya seakan sudah menerima segala perilaku Sungchan dan berusaha menekan kepala lelaki itu, membuatnya lebih dalam untuk menjilat bagian ketiak Anton.
“Nghhh! tl-longg, anghhh~”
“Chan–tlonggg,”
Sungchan menghentikan aktivitasnya dan mendongkak ke arah Anton yang menangis. Indah. Sungchan tak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya. Pria maupun wanita yang ada dibawah kukungannya tak pernah secantik ini di matanya. Wajah memerah dan mata yang membengkak itu membuat Sungchan tambah liar, ekspresi apa yang akan Anton buat saat dikoyak habis-habisan? Sungchan ingin tau.
“Kenapa? udah keenakan?”
“Buk–hmppp… unghhh bukk–”
“Buka?”
Anton mengangguk kencang. Sungchan biasanya tak mudah mengabulkan permintaan mangsanya. Sampai berdarah dan rusak pun ia tak peduli, Namun kali ini Anton benar-benar meruntuhkan pertahanannya. Lelaki itu akhirnya berinisiatif untuk membuka mouth gag di mulut Anton.
“Sungchan…”
“Bahkan kontol gue belum masuk dan lo udah keenakan? very good doll,”
Sungchan mengusap rambut Anton, jilatannya turun ke bagian perut Anton dan akhirnya berlabuh pada gundukan besar di sela-sela kakinya. Celana yang tadi dirobek kini dibuka paksa dan dilempar ke sembarang arah, menyisakan celana dalam yang basah di bagian tertentu karena Anton sudah mengeluarkan pre-cum nya. Sungchan menekan dengkulnya pada kelamin Anton yang membuat lelaki itu merintih kesakitan.
“Nghhh, sung-Sungchannh stop,”
Plak. Satu tamparan. Anton menangis lagi.
“Jangan atur gue.”
“You'll get punished after this, so you remember how to be a good boy.”
Puting sebelah kiri Anton masih setia dimainkan, diberi stimulasi yang membuat lelaki itu mendesah keenakan. Matanya juling keatas seakan sudah bertemu surga. Sungchan yang melihatnya hanya tertawa dan mengambil beberapa foto ekspresi enak Anton—sebelum mengeluarkan mainan barunya. Sebuah berbentuk bulat yang ditengahnya terdapat bulatan kecil gerigi, Sungchan menyalakannya dan Anton mulai menyadari—alat itu bergetar dan bergerak seperti memberi pijatan.
Sungchan hanya tersenyum melihat wajah ketakutan Anton. Ditempelkannya kedua alat itu ke puting Anton, sensasi geli dan aneh yang baru pertama kali ia rasakan langsung muncul, gerigi-gerigi kecil yang pas sekali bermain di putingnya memberikan sensasi geli yang—nikmat, bercampur dengan sesuatu yang lengket seperti pelumas membuat desahan Anton jadi lebih keras.
“nnghha ahhh Sungchanhhh,”
“EnyAKKHH enakk! Nguhhh garukin terus!”
“Enak tetenya dimainin pake alat? Tolol banget.”
“Nghh enakk! AHHHH enakk!”
Afrodisiak yang Sungchan berikan sudah sepenuhnya menguasai pikiran Anton. Citra gagah nan berwibawa itu kini berganti jadi pelacur yang haus belaian. Lidahnya terjulur dengan ludah disekitaran bibirnya, pipinya memerah, mata julingnya sembab dengan bekas air mata. Tangannya masih di borgol, namun badannya bergerak kesana kemari untuk melampiaskan nikmat yang ia rasa. Sungchan menyukai ini. Dengan tawa culas, ia menaikkan getaran benda tersebut ke level maksimal dan menekannya hingga lebih dalam mengenai puting Anton.
“UGHhh Udah! ud-aHHH tetenya sakittt dimainin lagiihhh! Sungchan~”
“Minta yang bener.”
“Sunchannn~ tete akunya AHHH nghh tete akunya berhenti pake alat. Maunya dijilat, diemut, dimainin sama Sungchan ajahhh! Pake mulut sama tangan sungcAHHH–”
Alat itu langsung dicabut paksa, puting Anton sudah bengkak, namun langsung ditampar dan dicubit habis-habisan oleh Sungchan yang turuti permintaan Anton. Lelaki itu menangis namun tetap mendesah, bagian bawahnya sudah amat basah dengan cairan sperma yang keluar karena stimulus berlebihan seperti ini. Dan Anton baru menyadari, ini baru permulaan.
“Bilang apa kalau udah diturutin gini?”
“Nghh! nUHHH m-makasih Sungchan udah tampar dan mainin tete aku.”
“Pinter. Lonte pinter. Kalo gitu gue bakal kasih lo hadiah.”
Kini Sungchan celana Anton yang sudah robek dan membuangnya ke sembarang arah. Yang tersisa hanyalah kemaluan Anton yang sudah tegang dengan cairan putih yang bercecer, Anton sudah keluar sebelumnya saat benda-benda aneh Sungchan bekerja. Sungchan meremasnya tanpa belas kasih dan membuat Anton kembali merengek.
“Nghh–Jangan dimainin~”
“Lo tuh daritadi nyuruh tapi badan lo bilang sebaliknya tau gak? bilang jangan dimainin tapi peju lo luber-luber.”
“Gak enak itunyahhh dimainin,”
“Padahal besar, tapi gue gak yakin lo bisa ngenakin cewe kalau udah kena kontol gue.”
Saat itu posisinya berubah, Anton kini berada diatas Sungchan, meringkuk dengan borgol di tangan dan Sungchan yang setia memainkan bagian bawahnya. Penisnya dikocok dengan satu tangan, sementara tangan yang lain mulai menjelajah ke belakang. Desahan Anton bak musik mengalun di telinga Sungchan, yang membuat lelaki itu ingin menghancurkan Anton lagi dan lagi.
“Bool lo masih sempit banget. Enak gak dimainin pake jari gini?”
“Nghuhhhh syophhh! Stopp!”
“Bilang udah tapi bool lo masih nyedot-nyedot jari gue. Kenceng banget remesnya, gimana kalo dimasukin kontol?”
“Nghh udah dimaininnya! Masukin kontol Sungchan aja!”
“Daritadi udah diajarin minta yang bener. Lo tolol apa gimana sih? Emang cocoknya jadi toilet senior-senior lo aja, tempat buang peju.”
Sungchan mempercepat kocokan tangannya sambil menyuruh Anton meminta yang baik. Wajah lelaki itu sudah memerah dilalap nafsu, tapi ia yakin Sungchan takkan berhenti sampai ia memohon sampai titik terendahnya.
“Snghhh Sungchan—tolong masukin aku pake—AHHH pake kontolnya Sungchanhh, sodok bool aku pake kontol besarnya Sungchan mghh sampe—sampe Sungchan keluar di dalem, aku toiletnya Sungchan.”
Kopong. Otak Anton sudah amat kopong. Ia bahkan tidak tau bagaimana ucapan tak bermoral itu bisa keluar dari mulutnya. Namun ia mendamba kenikmatan yang lebih dari sekedar dimainkan, badannya yang panas bisa lebih reda ketika Sungchan memasukkan satu jarinya ke bagian belakang Anton, lelaki itu ingin lebih, ia menginginkan Sungchan lebih dari apapun. Yang dipinta hanya tersenyum culas. Ia kembali membaringkan Anton dan membuka celananya.
Dapat Anton lihat gundukan yang masih terbalut kain celana dalam. Wajahnya mendekat untuk mengendus dan menjilat kemaluan Sungchan dari luar celana dalamnya.
“Nghhh kontol Sungchan wanginya enajkkk!”
“Dasar lonte gatau malu. Emang udah biasa ya ciumin kontol orang? Apa waktu pelatihan suka nyepongin temen-temen lo?”
“nnghh nggak! Sungchan aNGHHH Sungchan yang pertama aku sepong. Sungchan mau yahhh pake mulut aku~ kasih aku peju di dalem mulutku sampe luber keluar~”
Anton tak ubahnya seorang anjing yang menjulurkan lidahnya. Cairan liur yang menetes membuktikan kalau ia memang betulan menginginkan Sungchan. Yang diatas kemudian membuka celana dalamnya, menunjukkan penis yang sudah berdiri tegak dan keras akibat godaan Anton. Anton memperhatikannya dan langsung melihat ke arah Sungchan.
Penis lelaki itu tampak berbeda, ada benda asing yang terdapat di dalam kulit penisnya dan membuat Anton bergidik ngeri. Semacam bulatan-bulatan kecil yang melingkari penis kecoklatan Sungchan—Anton Mengingatnya, temannya di asrama dulu pernah bercerita kalau ada beberapa preman yang memodifikasi penisnya dengan menambahkan bahan tertentu—demi mendapat kepuasan berbeda saat melakukan aktivitas seksual.
“Hahaha, air liur lo makin netes tuh, suka sama yang kayak gini?”
Sungchan meludah ke tangannya sendiri, membuatnya menjadi semacam pelumas dan mengocok penisnya sendiri. Ditamparnya penis besar itu ke pipi kanan dan kiri Anton, sambil memberikan godaan kecil yang membuat Anton membuka mulutnya—berharap benda itu segera masuk ke dalam.
“Nghh Sungchan—masukin kontol Sungchan ke mulut aku, please entot mulut aku—HMPPPH!”
Perintah yang Sungchan suka. Lelaki itu langsung memasukkan penisnya tanpa ampun ke mulut Anton. Rambut lelaki itu dijambak dan membuat Anton bergerak sesuai tempo yang Sungchan lakukan. Ini kali pertama Anton mencoba mengulum penis pria lain—apalagi dengan bentuk yang berbeda.
“Anhh anjing. Enak banget sepongan lonte barak.”
“Nghh aghhh pe nUHHH,”
“Shhh diem bangsat, bispak modelan lo mulutnya emang cuma berguna buat jadi sarung kontol orang. Sepongin kontol gue yang bener—shhh jangan sampe kena gigi.”
Penis Sungchan yang panjang dan tebal itu tak serta merta langsung masuk ke mulut Anton. Sungchan masih menggerakkan kepala Anton dengan kasar—seperti berharap penisnya memang bisa masuk seluruhnya ke mulut lelaki yang sedang menangis itu. Di bawahnya, mulut Anton sibuk berupaya menerima penis besar Sungchan, pipinya menggembung dan matanya menjuling akibat sensasi yang baru pernah ia rasakan.
Masuk, keluar, masuk, keluar.
Tempo penis Sungchan berirama, lelaki itu menikmati kesakitan yang Anton rasakan. Ketika penisnya sedang keluar, Sungchan meludah dan mencengram kepala Anton, supaya lelaki itu tetap menerima ludahnya. ‘M-makasih Sungchan’ adalah gumaman yang Anton katakan sebelum mulutnya kembali dihabisi oleh penis unik sungchan.
“Nhhh anghh lonte bangsat. Ngaku anjing. Lo pasti sering nelen peju senior lo kan—ahhh,”
“Enak banget mulutnya anjing. Kempotin pipinya, ayo sedot lebih keras, ahhh polisi bangsatt! Tugas lo juga sekalian enakin rakyat ya?”
GLOKHH GLOKKHH GLOHKKK
Terdengar suara makin nyaring akibat basah liur Anton dan cairan pre-cum sungchan. Penis lelaki itu membesar di mulut yang lebih muda dan membuatnya sontak melotot dan memukul paha Sungchan. Terlalu besar. Terlalu besar dan membuat rahang Anton pegal karenanya. Sungchan yang merasakan pelepasannya keluar sebentar lagi langsung mempercepat tempo sodokannya sampai terdengar suara tabrakan antara kulit mereka.
“Nghhh keluar. Keluar anjing. Sini gue kasih peju di muka lo!”
Crott crott crott!
Cairan Sungchan keluar di wajah indah Anton. Ditambah ludah yang Sungchan berikan untuk menambah cairan di wajah bak pahatan itu. Anton menjulurkan lidahnya, berharap menerima cairan yang Sungchan berikan untuk masuk ke mulutnya. Sungchan yang mengerti langsung mengarahkan penisnya ke mulut Anton, membiarkan sisa-sisa cairannya ditelan oleh lelaki itu.
Setelah menelannya, Anton kembali membuka mulutnya, memberikan isyarat bahwa cairan yang Sungchan berikan sudah dihabiskan sepenuhnya. Dengan ekspresi yang amat menggoda dan sisa peju Sungchan di wajahnya, Anton tersenyum bak orang bodoh—
“nnhuuhh makasih banyak udah muncratin pejunya ke aku, Sungchan. Aku tempat pembuangan peju kamu.”
Sungchan langsung membalikkan badan Anton. Meludahi jarinya dan memasukkan tiga jari langsung untuk melonggarkan lubang lelaki itu. Anton hanya bisa mendesah, otaknya yang tak bisa berpikir lagi hanya mengejar kenikmatan.
“nnghhh sungchan—terushhh!”
“Unhhh disit—uhh!! Sungchan disitu enakk!!! Anghh lagii!”
“Perek. Ini ternyata titik enak lo.”
“Enghh enakkhh! Nguhhh lobang aku enak dientot jari panjang Sungchan—nhhhh enyakkhh!”
“Belum dimasukin kontol udah keluar aja. Ini sih bukan kontol tapi titit. Terus lobang lo udah kayak memek lonte haus entotan om-om hidung belang”
“Nghshh sshhh aku emang lontenya Sungchan! Tempat pembuangan pejunya Sungchan nHHHH SUNGCHANHHH!!”
Gerakan tangan Sungchan yang bertambah cepat memberikan sengatan berbeda pada badan Anton. Lelaki itu kembali menggelinjang sebelum akhirnya keluar untuk yang kesekian kalinya. Sungchan mengambil cairan Anton dan membuatnya menjadi lube yang mempermudah tangannya untuk masuk ke lubang Anton. Suara tangan yang beradu dengan lubang sempit itu menggema ke seluruh ruangan, menciptakan suara tak senonoh yang membuat kedua insan didalamnya habis terbakar nafsu.
“Sungchan—hh jangan dimainin pake jari aja memek akunya, masukin memek aku pake kontol gerinjel punya Sungchan. Mau dientot sampe mentok, digarukin memeknya pake kontol enak Sungchan.”
Sungchan tak bisa melihat muka Anton secara langsung, namun ekspresi keenakan yang lelaki itu punya langsung terputar bak kaset konslet di otaknya. Terbakar nafsu, Sungchan langsung keluarkan tiga jarinya dan mengocok penisnya sendiri. Mempersiapkan untuk masuk ke lubang basah nan sempit milik Anton.
Tak ingin segera membuat Anton enak, sungchan menggoda lelaki itu dengan menggesekan penisnya ke lubang Anton. Memberikan sensasi menggelitik sebab bulatan-bulatan kecil itu juga menggosok kulit putih Anton, membuat lelaki itu mendesah memohon agar Sungchan segera memasukkan penisnya. Namun lelaki itu masih ingin menggoda, ia kembali menggesek dan meludahi lubang Anton, memberi ancang-ancang namun tak segera membobol lubang itu.
Anton mengangkat bokongnya keatas dan menunjukkan lubang yang sudah amat basah dengan cairan spermanya sendiri—bercampur ludah Sungchan yang membuat lelaki itu bersiul. Sungchan kagum, bagaimana bisa bagian itu bisa bersih dan berwarna merah muda? Memang badan Anton cocoknya dipakai sampai dirinya puas.
Plak. Plak. Plak.
Bahkan—bokong Anton yang diberi tamparan tampak bergoyang indah dan memabukkan mata Sungchan. Santapannya kali ini lebih nikmat dari apapun yang pernah ia cicipi. Warna merah bekas tamparannya tampak amat kontras dengan kulit putih Anton. Dan bukannya marah, Anton semakin menaikkan bokongnya dan menggoyangkannya seakan menggoda Sungchan.
“Nghh Sungchan, ayooo cepet masukin kontol Sungchan ke lubangku. Mainin lubang aku, sodok sampe mentok—hikks ayo entotin akuuu~ aku mau kontolnya Sungchan muncrat peju di dalem memekku,”
“Gue pastiin besok lo gabisa puas sama kontol siapapun lagi,”
“Iyah gapapa, aku punyanya sung—AHHHH SAKITHHH!”
Sungchan langsung memasukkan penisnya tanpa aba-aba. Belum masuk sepenuhnya, dan Anton juga belum terbiasa dengan sensasi aneh di lubangnya—apalagi kejantanan milik Sungchan itu memiliki tambahan yang membuat bagian dalamnya terasa aneh.
“Nghshhh Sungchaanhh! Pe—pelannn! Gabakal muathhh!”
“Bisa, shhh anjing sempit banget memek perawan, jangan diketatin dulu bangsat!”
“Hiksss shhh belumm bisaa tunggu dulu AHHHH!!”
“Rasain kontol gue garukin dinding memek lo, gue bikin ancur sampe lo gabisa ngenakin komandan lo lagi dan nangis-nangis minta dientot gue aja,”
Anton yang tadinya menangis sejadi-jadinya akibat dimasukkan benda besar dan terasa aneh itu kini mulai terbiasa dengan ritme sodokan Sungchan. Air mata kesakitan kini berubah menjadi desahan-desahan menggoda karena penis Sungchan selalu mengenai titik nikmatnya.
“Auhhh—unghh Sungchan enakkhh! Disitu lagihhh! Lagi, tadi kena apaahh enakk!”
“Disini? Enak?”
“Iyyyahhh! Enak banget kontol Sungchan–AHHH kontolnyahh garukin memek akuhh, kenain kesitu!”
“Ahhh mnhhh dasar lonte. Polisi tapi desahannya bikin sange banget. Udah kayak artis bokep aja,”
“M-maunyahh jadi lontenya mnnhh lontenyahh Sungchan ajaa! Disumpel terushh memeknya sama kontol gerinjel Sungchan AHHH enakk! Enakkhh bangett kontol Sungchan!”
“Ah anjing biadab banget mulutnya! Sini gue liat muka tolol keenakan lo!”
Tak tahan dengan desahan dan kata-kata tak senonoh Anton, Sungchan kini membalikkan keadaan. Kini ia berada dibawah dan Anton dibuat naik ke pangkuannya.
“Ngshhh Sungchan masukin lagiihh kontolnya!”
“Masukin sendiri,”
“Nghhh susah, licin~”
Plak. Wajah Anton kembali menerima tamparan pelan.
“Jangan karena gue baik lo bisa manja seenaknya. Masukin sendiri.”
“Shhh hiksss susahh sebentarr,”
Anton menoleh kebelakang dan berusaha untuk menyesuaikan posisi lubangnya dengan penis tegang milik Sungchan. Ia amat kesusahan sebab tangannya masih di borgol dan hanya bisa mengandalkan instingnya. Namun berkali-kali ia mencoba, penis itu tak kunjung masuk sebab terlalu licin. Sungchan yang mulai tak sabar langsung mencengkram pinggul Anton dan langsung memasukkan penisnya.
“ANGHHH! Masukhhh kontolnyahh masuk semuahh! Pelan-pelan memek aku takut robekk ahhh,”
“Gerak. Enakin kontol gue.”
“Nguhhh iyyahh! Umhhh kontol Sungchan masuk dalem bangettt, gelii tapi enakk. Nghh enak gakk digenjot sama akuu? Ngh iniih masuk dalem bangettt garukin memek akuuhh,”
“Anghh Sungchan bola-bolanya enakkhh! Gesekin memek akuu, nnhh ayoo ewein aku sampe memeknya benyek, sampe Sungchan puashh!”
“Hhhh dasar lonte. Liat nih kontol gue sampe nyeplak di perut lo. Apa gue hamilin aja? Biar jadi mainan disini?”
“Nghh gamauukhhh maunya jadi mainannya Sungchan ajahh! Nguhh terus! Terus sodokin memek akuu disituu! Mainin jugaa tetenyahhh!”
Sungchan menuruti permintaan Anton. Ia memainkan puting sebelah kiri Anton, dan tangannya mengusap tonjolan kecil yang ada di perut Anton. Benar, kini Anton sudah jadi sarung penisnya, dipukulnya perut Anton untuk menstimulasi lelaki itu. Bunyi besi dari borgol Anton menandakan pemberontakan, namun Sungchan tak peduli. Selama desahan itu masih keenakan, Sungchan tidak akan berhenti.
“Aku mau keluarrr! Mau crot lagihh!”
“Ngghh Sungchan jangan dipukulin perutnya, jadi pengen pipis.”
“Pipis aja.”
“Nghh gak mauu jorokkh!”
“keluarin, Anton. Nurut sama gue,”
“Nghh gamauhh UHHH anGHH AHH mentokkh mentok kontol Sungchan enakjh mentok! Ngentoott enak bangett sampe dalem, ayo perkosa terus memek akuhh hhh sampe memeknyahh cengap-cengap!”
“Berisik banget. Udah pipis aja. biar kempotannya makin enak.”
Sungchan mempercepat sodokannya di lubang Anton, keluar masuk dan dihadiahi goyangan dari bokong sekal lelaki itu. Anton hanya bisa mendesah dan bilang enakk, lagii, mentokin sambil menjulurkan lidahnya. Sungchan juga berikan stimulus kocokan di penis Anton agar lelaki itu cepat menjemput kenikmatannya. Penis yang menegang itu kemudian berkedut—menandakan sebentar lagi akan keluar.
“Sungchahnn udahh! Lepashiin. Mau pipishh mau pipis!”
“Yaudah sini pipis,”
“Nghhh aku kedutannh mau pipishh enakhh! Stop dulu nyodok memek akunyahh ahh ahhh ahhh sensitif banget ANGHH!”
Syurrrrr
Air mani keluar dari penis Anton. Saking lelahnya, tidak ada lagi sisa sperma dari penis itu, sudah benar-benar berupa air yang sepertinya sudah ditahan Anton sedari tadi, karena lumayan banyak dan membasahi badan Sungchan. Tidak bisa menikmati pelepasannya, Sungchan masih terus menyodok lubang Anton untuk mendapat pelepasannya.
“Sungchann uhh mau istirahatt baru keluar, ngilu lubangnya!”
“Diem. Ahhh sial. Inget memek lo ini cuma alat pemeras peju. Gausah berisik. Gausah ngeluh. Tunggu peju gue keluar di dalem dan bikin basah rahim lo, gausah protes. Atau mau gue panggil yang lain supaya ikut ngewein lobang lo?”
“jangan! Unghh jangan panggil yang lain. Memek aku buat Sungchan doanghh! Cuma Sungchan yang bikin aku enakk! Mnhhh Ayo hajar terus memek aku sampe mampus. Sampe Sungchan puas. Aku rela jadi lonte bispaknya Sungchan supaya bisa diewein tiap hari.”
Lubang Anton kembali menyempit, namun bisa ia rasakan penis Sungchan juga membesar didalamnya. Bulatan-bulatan di penis lelaki itu menambah sensasi nikmat pada dinding lubang Anton membuatnya kembali terangsang dan menggenjot dengan semangat penis Sungchan.
“nghh anjing jangan disempitin! Ahh bangsat memek lonte legit banget, bentar lagi gue keluar, enak kan lo diewe bandar kayak gue?”
“Auhhh iyyahh ayo keluarrh ayo keluar di memek akuhh. Semprotin pejunya Sungchan—anghh ke rahim aku supaya hamil gara-gara kontol perkasa inihh ahhh! aku mau dihamilinn sama orang bejat kayak kamuuhh”
Sungchan tak berkata apa-apa lagi, namun ia kembali mencengkram pinggul Anton dan menggerakkannya supaya goyangan Anton lebih keras. Sodokannya dari bawah juga bertambah keras dan semakin menusuk bagian dalam Anton, membuat lelaki itu mendesah tak karuan. “Anghh Sungchan! Sungchan terlalu dalemm akhhh besar bangetthh! Sakiit! Keluarinn AHHH,”
Bisa Anton rasakan cairan hangat memenuhi perutnya. Mual sebenarnya. Namun ia tak bisa melakukan apapun sebab Sungchan menahan penisnya untuk tetap berada di dalam lubang Anton. Anton langsung ambruk ke pelukan Sungchan karena badannya yang lemas dan bagian bawahnya yang kebas. Tubuh mereka berbalut keringat, namun Anton sudah tak peduli lagi.
Sungchan melihat kebawah. Rambut Anton yang telah lepek, wajah lelaki itu yang kemerahan. Sungchan merasa aneh, namun menyukainya. Sungchan tak pernah merasakan ini sebelumnya, lahir dan tumbuh di lingkungan yang membiasakannya menerima kekerasan dan perlakuan buruk—seakan membuatnya tak pantas mendapatkan pemandangan indah seperti ini. Tapi Sungchan ingin lebih lama seperti ini.
“Nghhn kok langsung keras lagi?”
“Sungchan kok keras lagi—HHhh masih kebass~”
“Lo harus janji jangan pernah layanin komandan atau temen-temen lo,”
“Eummh? Nhhuh kalau udah dapet kontol kayak Sungchan—kayaknya yang bisa puasin aku memang satu kompi sih,”
“Bangsatt! Lo mau digilir hah? Diperkosa satu polres?”
“Maunya dipake sampai mampus sama Sungchan aja—ANHJJJ Anjing gak sekarang bangsat!”
“Mainan gue banyak yang belum kepake, gue mau cobain di lo.”
“Umhphhh sun—sungchannnh ampun!”
“Anton, kok akhir-akhir ini lo cepet balik sih?”
“O-oh iya bang Jeno. Lagi ada urusan aja di rumah,”
“Bagus deh, gausah terlalu rajin Ton hahahah, cari pacar sana,”
“I-iya bang. Duluan ya bang.”
Anton yang sudah membereskan tasnya tampak sedikit bergetar ketika Jeno menyentuh pundaknya, ja segera menunduk untuk berpamitan dan tampak tergesa keluar dari kantornya. Ia menoleh ke kanan kiri—berusaha mencari sesuatu. Kemudian ponselnya bergetar.
Jung.
Udah gue bilang jauhin si Jeno
Enak ya, memeknya lagi disumpel tapi masih dipegang-pegang sama cowo lain
You
Sungchan dimanaaa
Bang Jeno cuma pegang gitu doang
Sungchan kenapa vibratornya tambah kenceng. Kamu dimana aku gatahan banget
Mau dimainin sama kamu.
Jung.
Mobil hitam
Sengaja gue naikin ke level paling tinggi
Siap-siap gue abisin lo malam ini. Ga ada ampun.
