Actions

Work Header

i can see a lot of life in you

Summary:

malik akan selalu mengusahakan agar karsanya tetap hidup sekalipun dengan cara yang paling sederhana, seperti semangkuk mie dok-dok dan perbincangan yang mereka gelar malam-malam

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Malik lajukan motornya dengan perlahan membelah jalanan Jogja yang malam itu sepi buatnya sedikit heran mengingat bagaimana biasanya Jogja selalu dipenuhi kendaraan yang padat merayap. Mungkin karena jarum jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Atau mungkin karena besok adalah hari Senin. Banyak orang pilih untuk berisitirahat daripada keluar malam-malam seperti apa yang Malik dan Karsa lakukan.

“Jaketnya dirapetin, Sa. Jogja lagi dingin, nih. Lo kalau kedinginan suka langsung demam, kan,” ucap Malik saat mendapati pantulan sosok Karsa di kaca spionnya dengan jaket yang terbuka. “Dih, kata siapa? Ck. Iya, iya. Ini udah dirapetin,” jawab Karsa dengan sedikit menggerutu buat Malik tertawa saat mendengarnya.

Perjalanan dari rumah Karsa menuju warmindo hanya memakan waktu lima menit. Jalanan yang sepi serta letaknya yang memang tak jauh dari rumah buat durasi perjalannya menjadi singkat.

“Bu, mie dok-doknya dua, ya. Yang satu pedes, yang satunya lagi gak. Eh, lo mau minum apa, Sa?” Malik menoleh pada Karsa yang sibuk melihat banyaknya minuman rentengan yang dipajang di tembok di depannya. “Mau good day freeze yang mocafrio dong,” yang sontak mendapat gelengan keras dari Malik. “Jangan, ah. Nanti perutnya sakit. Perut lo gak kuat kopi, Karsa.”

Karsa yang mendengarnya lagi-lagi berdecak sebal. Malik dan hobinya untuk memastikan agar dirinya tetap aman itu kadang terkesan berlebihan untuknya. Meski ia tahu, tujuan Malik memang baik. Tapi, tetap saja buatnya kesal. “Ya udah, es teh tarik aja,” yang kali ini dapatkan anggukan tanda Malik setuju. “Sama teh tawar angetnya satu, es teh tariknya satu ya, bu.”

Setelah selesai memesan, mereka pilih untuk duduk di meja yang letaknya di sudut. Malam itu hanya ada mereka berdua di warmindo. Sebuah hal yang aneh mengingat warmindo ini selalu ramai akan mahasiswa pun bapak-bapak yang hobinya menumpang menonton televisi hingga pagi. Namun, Malik sedikit banyaknya bersyukur karena dengan kondisi hati Karsa yang sedang buruk malam ini, lelaki itu pasti jauh lebih nyaman dengan keadaan warmindo yang sepi.

“Tadi nangisnya lama, ya? Matanya sampai merah gitu. Sembab banget juga,” Maliklah yang pertama kali membuka perbincangan, memutus sunyi yang tadi hadir di antara keduanya. Pun fokusnya ia jatuhkan pada wajah Karsa yang memang sangat terlihat seperti seseorang yang baru saja menangis. “Eh, kelihatan banget ya sembabnya? Tuh, kan. Udah dibilangin gue tuh lagi jelek. Kenapa malah lo ajakin keluar gini, sih?”

“Hei, gue tuh cuma tanya, Karsa. Ada gue bilang lo kelihatan jelek? Enggak, kan? Gue cuma mau tahu tadi nangisnya seberapa lama. Terus, sekarang sedihnya masih kerasa atau enggak. Jangan marah-marah dulu, dong.” Perkataan Malik barusan mampu memicu rona merah untuk timbul di pipi Karsa. Hatinya menghangat mendengar Malik yang masih saja memikirkan perbincangan mereka di ponsel tadi. Juga sedikit malu karena suasana hatinya yang sedang buruk buat dirinya jadi berkali-kali lipat jauh lebih sensitif.

“Maaf, ya. Gatau deh kepala gue lagi berisik banget gini bikin gue jadi marah-marah mulu,” ucapnya dengan lirih, kepalanya menunduk seakan meja di hadapannya jauh lebih menarik daripada wajah elok Malik di depannya. “Jangan minta maaf kalau yang salah bukan lo. Jadi, gimana? Udah enakan belum hatinya?”

Karsa yang mendengarnya pun menggeleng karena memang benar begitu adanya. Suara-suara di kepalanya masih sibuk bersaut-sautan, yang satu menyalahkan dirinya yang tumbuh menjadi orang paling tidak berguna sedunia, yang banyak gagalnya, yang tak mampu jadi anak kebanggaan ibunya.

Namun, ia pun tahu bahwa semua yang diucapkan Malik tadi benar. Ini bukan sepenuhnya salahnya. Bahwa dengan dirinya yang berakhir tanpa menjadi sesuatu adalah hasil dari ibunya yang lupa menghadirkan sosoknya dalam tumbuh kembang Karsa. Dari umurnya masih sembilan sampai ia bertumbuh dan menjadi delapan belas, ia selalu sendiri. Berusaha mempelajari rumitnya hidup sendiri. Ia sibuk berjalan, tertatih-tatih, dan meraba untuk temukan arah yang benar juga pijakan mana yang paling aman untuk dirinya melanjutkan hidup.

Ada begitu banyak waktu dimana Karsa hampir menyerah, mulai berpikir bahwa hidup ini memang tidak diciptakan untuknya dan lebih baik jika ia menghilang saja. Karsa harus ucapkan terimakasih banyak-banyak kepada Malik karena ia selalu hadir saat Karsa mulai hilang arah. Mungkin Karsa betulan sudah menjelma jadi sesuatu yang diletakkan di dasar tanah dan tak lagi bernapas sejak lama jika Malik tak ada untuk menemaninya.

“Masih ada yang mau diceritain? Cerita aja, Karsa. Dibagi berisiknya kepala lo sama gue,” lamunannya buyar seketika saat dapati ada kehangatan yang kini menyelimuti jemarinya. Tangan yang ia letakkan di atas meja itu kini ditangkup oleh tangan besar milik Malik seolah berusaha untuk berbagi tenang pada gemuruhnya hati Karsa sekarang.

“Gue tau kalau apa yang lo bilang di chat tadi bener, mas. Gue gak bisa terus-terusan nyalahin diri gue sendiri kalau gue jadinya kayak sekarang. Tapi, lo tau gak mas tadi sore ibu ada bilang apa ke gue?” Malik menggeleng, “Apa?” Malik langsung dapati perubahan raut wajah Karsa yang menjadi jauh lebih sedih, ada senyum nanar yang tampak disana.

“Dia tahu kalau gue lagi-lagi gak lolos UTBK tahun ini. Terus, dia mulai banding-bandingin gue sama anak temen-temennya yang katanya semua lolos itu. Ibu bilang masa depan gue udah pasti hancur karena kerjaan gue cuma gagal lagi dan lagi,” ucapan tersebut ditutup dengan tawa hambar yang mengudara buat Malik ingin sekali rengkuh tubuh yang kelihatan rapuh itu dalam dekapannya.

“Sa, ibu lo itu bukan Tuhan. Dia sama sekali gak ada hak buat bilang kalau masa depan lo udah pasti hancur karena gak ada satupun manusia yang tahu masa depan kita bakal kayak gimana,” genggamannya pada tangan Karsa semakin mengerat, menahan emosi yang membuncah buat kepalanya serasa ingin meledak.

“Tapi, ibu bener, mas. UTBK tahun lalu gue gagal, gap year gagal lagi. Gue selama ini juga kirim lamaran sana-sini gak ada hasil. Interview dua kali juga gak lolos. Masa depan gue beneran hancur kalau gue gagal terus gini, mas.” Karsa rasanya ingin menangis. Kesedihannya lagi-lagi meluap buat air matanya membendung di pelupuk. Malik yang melihat itu lantas berdiri dan ganti untuk mendudukkan dirinya di samping Karsa.

“Gak ada yang namanya masa depan udah pasti hancur buat orang yang selalu mau berusaha kayak lo, Karsa. Iya, mungkin kemarin-kemarin lo banyak gagalnya. Tapi, yang penting disini adalah lo masih mau nyoba. Lo tahu seberapa sakitnya gagal, kalau ditiap-tiap kegagalan itu selalu bikin lo merasa semakin kecil,” tangannya terulur untuk mengusap air mata yang lolos dari netra indah milik Karsa.

“Tapi, lo masih mau coba. Ada banyak kesempatan yang berusaha lo raih meskipun lo tahu kalau hasilnya belum tentu akan buat lo senang, buat lo akhirnya bisa bernapas dengan lega. Gak banyak orang yang sekuat lo, Sa. Gak banyak orang mau buat terus-terusan coba sesuatu yang banyak bikin mereka kecewa.”

“Biarin aja ibu lo mau ngomong apa. Jangan peduli sama orang yang bisanya cuma fokus sama kegagalan lo dan gak bisa mengapresiasi kegigihan lo dalam mencoba. Yang perlu lo tau dan peduliin adalah gue yang bangga banget sama lo ini. I’m so proud of you for trying anyway. Buat coba UTBK lagi, buat coba kirim lamaran kerja lagi.”

“And most of all, i’m proud of you for staying alive in a world that hasn’t always been kind to you. For staying despite all the things that made you feel like giving up. I’m really, really proud of you, Karsa. Thankyou for staying alive, ya?”

Dan setelahnya, air mata yang Karsa coba untuk tahan terjun bebas begitu saja. Malik langsung menariknya ke dalam dekapannya yang Karsa tak pernah tahu bahwa ternyata inilah yang paling ia butuhkan saat hidupnya terasa seperti minta untuk berakhir. Bahwa kata-kata lembut dan hangat dari Malik yang berterimakasih padanya karena ia tetap hidup adalah apa yang paling ia ingin dengar selama delapan belas tahun ia hidup.

Karsa tak pernah sekalipun berpikir bahwa akan ada seseorang yang bangga padanya atas apa yang selama ini ia lakukan meskipun hasilnya lebih banyak buruk daripada baiknya. Pun, ia tak pernah berpikir akan ada seseorang yang memintanya untuk terus tetap hidup. Sampai hari ini, sampai Malik mengatakannya dengan lantang kepadanya sampai buat ia menangis seperti ini.

Saat ia rasa tangisnya mereda, segera ia jauhkan wajahnya yang tadi sibuk mencari nyaman pada ceruk leher Malik. “Makasih, ya, mas,” Malik tersenyum, tangannya ia bawa untuk menyeka sisa air mata yang tinggalkan jejak di pipinya. “Iya, sama-sama, Karsa. Jangan nangis lagi, ah. Nanti pusing kepalanya. Kita stop sedih-sedihan, ya?” Karsa hanya mengangguk lalu tersenyum saat tangan Malik berpindah untuk mengusap lembut puncak kepalanya.

“Lagian, ya, Sa. Kita berdua tuh masih muda, kita masih punya banyak waktu dan kesempatan untuk berproses dan menjadi sesuatu. Lo belum gagal dan lo juga gak ketinggalan. Kalau lo bilang that you feel left behind because your friends keep achieving things kayak yang di chat tadi, ya, good for them.”

“Lo harus tahu kalau starting point tiap orang untuk sampai di titik berhasil mereka itu beda-beda. Some people bloom early, some people take more time and that’s ok. Lo masih punya begitu banyak waktu untuk mewujudkan itu semua. Jangan pernah ngerasa takut ketinggalan dan ditinggal.”

Senyum yang tercipta di bibir Karsa sukses melebar dan Malik senang melihatnya. “Iya, makasih ya, mas. Makasih karena lo udah selalu disini sama gue, selalu mastiin gue biar tetap hidup, mastiin gue bisa napas lagi kayak sekarang.” Malik mengangguk, “Iya, Karsa, sama-sama. Tolong selalu lari ke gue, ya? Tolong selalu bilang ke gue kalau kepalanya udah mulai berisik dan minta nyerah.”

Mungkin Tuhan masih berbaik hati padanya dengan mengirimkan sosok Malik sebagai obat yang selalu bisa sembuhkan segala sakit-sakit di hatinya, tambal retak-retak di jiwanya, dan buat ia kembali bisa melanjutkan hidup pun bernapas dengan lebih lega. Mungkin, ia masih bisa untuk mencoba sampai seribu kali lagi meskipun ada banyak gagal yang akan ia dapat nanti. Asal Malik tetap bersamanya disini.

“Permisi, mas. Ini pesenannya. Maaf, ya, kalau udah agak dingin. Sebenernya udah jadi daritadi, tapi saya lihat masnya lagi nangis jadi saya tahan di belakang dulu. Saya takut ganggu,” tiba-tiba saja si ibu warmindo datang dengan dua mie dok-dok di nampan serta es teh tarik juga teh tawar hangat buat mereka sadar bahwa sedari tadi mereka masih di warmindo.

Karsa langsung menundukkan kepalanya, malu mengingat dirinya yang tadi menangis kencang dalam pelukan nyaman Malik. Malik yang melihatnya pun tak dapat menahan tawanya yang langsung meledak. “Mas, anjing! Jangan ketawa!” Karsa menyenggol lengan Malik dengan keras. “Hahaha, anjir gue juga lupa kita masih di warmindo, Sa.”

Dan mungkin, ia akan berusaha untuk tetap hidup demi hal-hal yang bagi banyak orang sederhana. Sesederhana bagaimana ia bisa habiskan malam dengan semangkuk mie dok-dok hangat dan tawa Malik yang selalu dapat buat hatinya tenang.

Tolong, jangan ada yang berani ambil Malik darinya.

Notes:

mv blue lips + i'll believe in anything (wolf parade) + masalah hidup author : lahirlah fic ini.

sebenernya ini ada kayak sosmed au-nya gitu tapi cuma aku up di akun rant jadi maafkan kalau terkesan ada bolong-bolongnya...