Actions

Work Header

utas rahasia

Summary:

Sebuah akhir dari kasus panjang yang menjadi rahasia umum kota Manyang.

Tentang dua polisi yang akhirnya mengungkap kebenaran kasus penuh rasa sakit, juga banyak rahasia gelap didalamnya.

Juga tentang sebuah pemberontakan dari jiwa yang terlalu lelah, juga sang tuhan yang tak sadar terhadap pemberontakan dari takdir yang telah ia tulis.

Notes:

jwds in 2026 cuz why not???

maaf BESAR buat tag nya cuma segitu, soalnya beneran STRESS PARAHHH NYARI TAG NYA SUSAHHH BANGET💀

Work Text:

Usai sudah semuanya.

Malam itu dingin terasa menusuk dinding tebal rumah keluarga Han, ketegangan yang begitu ketat membuat dingin itu menembus lebih dalam di lapisan tulang.

Beberapa orang mondar-mandir sibuk memasukkan berbagai barang yang ada didalam ruangan itu didalam kotak bertuliskan 'BARANG BUKTI'. Dan ditengah hiruk pikuk para polisi seoul, ada dua orang yang tetap terdiam disana, tak bergeming sejak sang pelaku sudah dibawa menuju kantor polisi.

Keduanya seakan mematung disana, tak peduli dengan suara bising disekitar yang sedang mengobrak-abrik isi ruangan. Namun diam-diam keduanya mengambil nafas, terasa berat, terlalu berat. Bagai muatan terbesar di dunia baru saja telah mereka lepaskan.


Han Juwon tidak mengerti mengapa tangannya gemetar, kakinya terasa seperti tidak kuat untuk menopang, tubuhnya seakan bisa runtuh kapanpun juga.

Mungkin karena semua akhirnya selesai.

Mungkin karena selama ini ia terus berlari.

Mungkin karena setelah bertahun-tahun mencari jawaban, ia akhirnya menemukannya dalam bentuk yang paling menyakitkan.

Ayahnya.

Semua berakhir pada ayahnya.

Dan ditengah hiruk pikuk suara-suara di sekitar mereka, semua terdengar jauh. Sangat jauh.

Orang-orang bergerak.

Berbicara.

Bekerja.

Menyelesaikan sisa-sisa tragedi yang telah menghantui Manyang selama bertahun-tahun.

Namun Juwon tidak mendengar apa-apa.

Tidak melihat apa-apa.


Yang ia lihat hanya Lee Dongsik.

Berdiri di depannya. Wajah lelah, pundak tegak yang perlahan mengendur, mungkin sebuah tanda, juga reflek diri yang akhirnya bisa berhenti tegang dan selalu pasang badan selama bertahun-tahun.

Lelah.

Sangat lelah.

Namun masih hidup.

Masih di sana.

Untuk sesaat, Juwon takut.

Takut jika ia berkedip, pria itu akan menghilang seperti semua hal lain yang pernah direnggut darinya.

Maka ia menggenggam tangan Dongsik.

Erat.

Terlalu erat.

Seolah ingin memastikan bahwa orang itu nyata.

Bahwa kali ini ia tidak terlambat.

Bahwa kali ini ia tidak kehilangan.

Dan setidaknya, ada satu yang tersisa setelah semuanya.

Lalu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Bahkan mungkin tak pernah, ah... Tak ada yang tau pasti, bahkan sang pencipta pun mungkin mencoba mengingat kapan pastinya.

Han Juwon yang selalu menjunjung tinggi harga dirinya. membungkuk, menempelkan keningnya pada kedua tangan dongsik yang ia genggam erat.

Bersimpuh pada tangan orang yang selama ini ia curigai sebagai tersangka, yang ia perlakukan bagai orang bejat. Ia bersimpuh bagai seorang umat yang sedang memuja tempatnya menyembah doa.

---

Bukan sebagai polisi.

Bukan sebagai putra seorang pejabat.

Bukan sebagai seseorang yang selama hidupnya dipaksa berdiri tegak.

Yang ada hanya seorang lelaki yang lelah.

---

Dongsik menatapnya. Cukup lama karena pria yang lebih muda bahkan tak bergeming sama sekali, hanya mematung pada posturnya saat itu.

Lalu tersenyum.

Senyum kecil.

Senyum yang anehnya terasa lebih menyakitkan daripada tangisan. Juga sebuah lega yang tak dapat diungkapkan.

Bukan karena tak bisa, tapi karena keduanya terlalu lelah.


Dan saat itulah sesuatu bergerak.

Jauh.

Sangat jauh.

Di tempat yang tidak memiliki nama.

Di waktu yang tidak memiliki angka.

---

Seutas benang.

Tipis.

Nyaris tak terlihat.

Bergerak.

Awalnya pelan, lalu menyulur panjang dan perlahan semakin panjang. Dan tanpa disadari sang pencipta juga para penulis takdir, utas yang bahkan lebih tipis dari helaian rambut bayi, mulai terbentuk menjadi sesuatu.

---

Mereka pernah bertemu sebelumnya.

---

Ribuan tahun lalu.

Di medan perang yang terbakar.

Dua prajurit.

Dua kubu yang berbeda.

Dua bendera yang saling membenci.

---

Pedang menembus tubuh mereka hampir bersamaan. Salah satunya sebagai pemenang di medan perang, dan satunya karena pengkhianatan yang bahkan lebih cepat datangnya daripada kematian prajurit lawan yang baru saja ia tusuk.

Mereka tumbang di tanah yang sama.

Sebelum maut menjemput.

Yang satu menoleh.

Yang lain membalas tatapan itu.

---

Darah mengalir yang dari luka masing-masing, perlahan mengumpul di antara rerumputan yang mulai menghitam.

Juga, sesuatu yang tak pernah disadari oleh sang pencipta.

Tentang genangan darah yang mengumpul ditanah, tentang tanah yang menyerap amis juga tangis pengorbanan keduanya.

Sebuah utas terikat lebih keras dari sebuah simpul paling kuat yang pernah tercipta, tiba-tiba saja terbentuk, tanpa izin sang pemilik jiwa. Dan tanpa pernah disadari oleh siapapun, bahkan sang pengawas dunia, sang penulis takdir, sang pencatat kejadian hidup manusia, juga sang pemilik dan pencipta segalanya.

---

Kemudian.

Mereka bertemu lagi.

---

Seorang pemberontak.

Seorang politikus muda.

---

Satu ingin menghancurkan kerajaan.

Satu ingin mempertahankannya.

Kali ini mereka menghabiskan hidup untuk saling mengejar. Saling menggagalkan. Saling melukai.

Dan ketika pemberontakan itu akhirnya gagal...

Politikus muda itu berdiri di hadapan tiang eksekusi. Bersama para politikus lainnya, juga penghuni istana yang menonton sekumpulan rakyat yang membelot perintah raja.

Di atas panggung panggung kayu yang dibuat oleh pengrajin bertahun-tahun lalu, salah satu anggota pemberontak itu menatap ke hadapannya. Ia bisa melihat sang raja, juga para penasihatnya duduk rapih ditempat mereka menatap kearah ia juga kelompoknya, seolah mereka adalah tontonan menarik untuk para penghuni istana.

Ia kemudian tak sengaja melirik pada politikus muda yang duduk diantara panatua, lalu saat netra keduanya bertemu, mereka saling memandang.

Tak ada kata perpisahan, karena memang tak perlu, dan mereka bahkan tak mengenal satu sama lain.

Namun saat algojo mengayunkan pedangnya...

Sang politikus berpaling.

Karena ia tidak sanggup melihat akhir cerita orang itu. Orang yang memilih memberontak pada perintah pemimpin mereka.

---

Lagi.

Kehidupan berikutnya.

---

Seorang anak bangsawan.

Seorang budak.

Mereka tumbuh di rumah yang sama.

---

Yang satu hidup dalam kemewahan. Dan salah satu hidup dalam rantai kekang yang tak terlihat.

Mereka tahu dunia tidak akan membiarkan mereka berdiri sejajar. Namun diam-diam mereka tetap berbagi cerita.

Berbagi roti, berbagi ilmu yang saat itu hanya boleh dimiliki oleh para bangsawan, juga berbagi mimpi.

Sampai suatu hari budak itu dijual.

Dan bangsawan muda itu berlari mengejar kereta yang membawanya pergi.

Terlambat.

Selalu terlambat.

---

Dan lagi.

---

Dan lagi.

---

Dan lagi.

---

Seorang pelaut dan tabib.

Seorang hakim dan pencuri.

Seorang penyair dan tentara.

Seorang guru dan murid.

Kadang juga hanya seseorang yang berdiri ditempat yang sama tapi tak sempat saling menatap.

---

Dalam setiap kehidupan.

Dalam setiap zaman.

Dalam setiap dunia.

Mereka selalu menemukan satu sama lain.

---

Tidak pernah mudah.

Tidak pernah sederhana.

---

Kadang sebagai teman.

Kadang sebagai musuh.

Kadang sebagai orang asing.


Namun selalu ada sesuatu.

Tatapan yang terasa terlalu akrab.

Suara yang terasa terlalu dikenal.

Rasa kehilangan yang datang bahkan sebelum perpisahan terjadi.

---

Seutas benang tipis.

Begitu tipis.

Terlalu tipis bahkan untuk dilihat para dewa.

Terlalu tipis untuk tercatat dalam kitab takdir.

---

Namun cukup kuat untuk bertahan selama ribuan tahun, juga ribuan kebangkitan, dan kembali pada ribuan kematian.

Karena benang itu tidak ditenun oleh pencipta.

Melainkan oleh jiwa mereka, tanpa sadar. Tanpa sadar dalam tangis pilu, tanpa sadar dalam genangan darah, tanpa sadar dalam tatapan asing, bahkan tanpa sadar oleh angin yang berhembus seolah mencoba mengingatkan keduanya.

Tentang ribuan tahun, ribuan tubuh berbeda dengan jiwa yang sama, ribuan takdir bajingan yang ditulis dalam kitab kehidupan milik dua jiwa tersebut.

---

Dalam setiap pilihan untuk menoleh.

Dalam setiap pilihan untuk menunggu.

Dalam setiap pilihan untuk kembali.


Dan sekarang.

Di kehidupan ini.

---

Di kota kecil bernama Manyang.

Mereka bertemu lagi.

Sebagai Han Juwon dan Lee Dongsik.

---

Di tengah darah.

Di tengah kematian.

Di tengah luka yang tak pernah sempat untuk sembuh.

---

Dan untuk pertama kalinya...

Mereka tidak terlambat.


Juwon masih menggenggam tangan Dongsik.

Begitu erat.

Dongsik masih tersenyum.

Dalam malam yang semakin larut, dalam diamnya dunia milik keduanya, yang akhirnya berhenti sejenak, istirahat yang pantas untuk diterima oleh dua manusia yang terlalu lelah, oleh dua jiwa yang terlalu lama berkelana, oleh banyaknya untaian kusut dalam dua jiwa itu.


Dan jauh di suatu tempat yang tidak memiliki nama...

Seutas benang yang telah ditarik selama ribuan tahun akhirnya mengendur.

Bukan karena putus.

Melainkan karena tidak perlu menarik mereka lagi. Untaian kusut itu membentuk berbagai macam siluet.

Prajurit perang, pemberontak, politikus, seorang budak, anak bangsawan, pencuri, pelaut, hakim, murid, guru, tabib, bahkan masih banyak lagi. Terlalu banyak untu disebutkan.

---

Mereka akhirnya sampai. Pada takdir yang setidaknya membawa mereka pada waktu yang sempat memberi keduanya untuk bahagia sejenak.

---

Dan mungkin juga, ini tidak pernah berakhir. Karena utas itu terlanjur mengikat terlalu kuat untuk saling melepaskan.