Work Text:
Izinkanku mencintaimu dengan lantang.
Memangnya siapa yang akan larang? Jangan hiraukan mereka—Sayang, fokus padaku seorang. Lagipula, bukankah kita sudah dibuang? Dicampakkan, diusir dan ditendang. Buat saja negara sendiri, kata orang-orang. Layaknya kriminal pengacak negara yang haus akan gelimang uang. Aku sih tidak rela berbagi nama yang sama dengan bajingan egoistik dengan senandung narasi pelik. Gila saja.
Tapi, kenapa masih saja tiap tilik yang kita ketik masih senangnya mereka usik? Jujur, aku tak suka bagaimana mereka menilai kita. Tatapan tajam nan hina, seruan nyaring layaknya kita pendosa peringkat pertama. Di mata mereka, kita seperti cecunguk pembawa petaka yang punya spesialisme mempercepat hari binasa.
Duh, betapa hebatnya kita. Boleh aku cantum sekalian di resume lamaran kerja? Kabarnya, yang dicari sekarang tidak cukup spek manusia biasa (kecuali kamu punya puluhan gepok uang atau kekuasaan bapakmu yang pegang). Karena lagi-lagi kita bisu disogok makan dusta, Sayang.
Mereka juga sampai takut akan kita. Jika bertemu, persiapkan dirimu untuk melempar batu, katanya. Waduh, seperti melihat setan saja. Itu sih, aku juga akan angkat kaki sejak mula. (jangan ejek)
Bagaimana bisa mereka mereka fobia akan kasih sayang dan cinta, tetapi gencar mengusungkan kebencian dan murka di saat yang sama?
Aku sih tidak apa—sedikit banyaknya aku terbiasa tidak diterima di manapun aku berada. Bagaimana dengan kamu? Aku hanya ingin kamu dapat tersenyum ria, bisa menjadi dirimu yang sebenarnya. Tak payah lagi dirahasiakan maupun direhersalkan. Di bulan ini dan seterusnya, kita bisa bangga. Jadi, maukah kamu menari bersama hingga pagi menghampiri?
Bukankah kisah kita berdua terlampau menakjubkan untuk dijuluki pelanggaran, ancaman? Kata mereka, kita sakit!
Tapi kataku, semua tentang kita tak ada yang berbeda. Kalaupun ditawarkan penawar, aku akan tolak tanpa gentar. Aku lebih baik dicaci setengah mati daripada melepas jemarimu dibawa angin berlari, hanya demi memenuhi pinta mereka yang tak melebihi ego sendiri.
Bagaimana dengan kamu?
Athaya Nawareska.
Betapa betahnya lidahku mengeja namamu satu per satu. Kapan akhirnya kamu akan beri tahu aku rahasia agar rambutmu menal-menul saat diraba? Aku selalu suka jika tanganku kamu elus (meski harus diam-diam di tempat sepi), direngkuh dalam badanmu yang kurus (kapan jadwal selanjutnya kita makan bubur kacang hijau depan fotokopi?), dan juga namaku yang kamu bisikkan dengan tulus (lagi, lagi, dan lagi).
Hatiku sakit jika membayangkan bahwa tak ada garis pengakhiran bagi kita berdua. Banyak yang bilang kalau kita tidak akan bisa menua bersama. Tahu apa mereka? Memangnya mereka peramal ternama yang punya carikan kertas contekan dunia?
Kamu cantik, Athaya. Paling cantik yang pernah aku ulik. Bahkan ratusan ribu entri di kamus tak bisa mewakili bagaimana aku mengagumi tiap jenjang yang kamu pernah tampilkan, meski barang seorang.
Makanya, kamu harus bangga.
Athaya, sudikah kamu berjanji padaku?
Hinggakala sang wulan kian syahdu menepi dan mentari kian terang menari, janjiku padamu akan selalu aku gaungkan.
Mari, mari berlari. Mari berlari lebih kencang.
Hingga dunia tak akan mampai melukai kita dengan cabikan bermuka dua.
Jika kita memang tidak pantas menimang rumah pulang, Sayang, sudikah kamu temani aku pajang langit benderang? Karena kita berhak mendapatkan rengkuhan mentari setelah gemuruh hujan menepi.
Izinkanku mencintaimu dengan lantang. Bulan ini dan hingga ajal mendatang, narasiku tentangmu akan selalu berdendang.
Ditoreh oleh Iskha, Juni 2026.
