Actions

Work Header

Borrowed Dinner

Summary:

Di usia nyaris tiga puluh tahun akhir, hidup Song Mingi nyaris sempurna. Karier cemerlang, kekayaan berlimpah, dan masa depan yang sudah tertata rapi.

Sayangnya, keluarganya hanya peduli pada satu hal: kapan ia akan menikah.

Terpojok oleh rentetan acara perjodohan yang tak ada habisnya, Mingi membuat keputusan paling impulsif akibat hasutan adiknya, Keeho—meminta Jeong Yunho, private chef yang telah bekerja untuknya selama empat tahun, berpura-pura menjadi pacarnya.

Work Text:

Mingi melempar dasinya asal ke sofa begitu pintu rumah tertutup di belakangnya.

Bekas lipatan kain itu memberikan bekas samar di lehernya. Dua belas jam terakhir benar-benar menguras energi-meeting, revisi proposal, makan siang yang bahkan belum sempat disantap, dan manusia-manusia bermuka dua yang membuat tengkuknya makin kaku sejak fajar naik.

Rumahnya sunyi seperti biasa.

Terlalu besar untuk ditinggali satu orang.

Biasanya ia menyukai suasana itu. Tidak ada suara, tidak ada tuntutan. Hanya denting jam dinding dan suara jangkrik yang saling beradu di luar sana.

Namun malam ini, ada suara asing lembaran koran yang dibalik dari ruang tamu.

Mingi mendengus pelan.

"Keeho," panggilnya datar. "What are you doing here."

Lembaran koran tipis itu turun perlahan, memperlihatkan wajah adiknya yang tak berdosa setelah menerobos masuk tanpa izin.

"Hm? Tumben lo pulang cepet, biasanya lembur nggak tau jam."

"Gue sibuk. Emangnya lo."

"Watch your mouth, dude." Keeho langsung menegakkan badannya. "I'm a billionaire than you now."

Mingi hanya memutar bola mata malas sambil melepas arloji di tangannya.

"What's new?"

"Mami Papi minta lo dateng besok malem. Katanya—"

"Jangan dilanjut." Mingi langsung menyela. "Tsk, bilang gue lagi di Amsterdam ketemu kolega."

"Nggak mempan, anjir. Ngomong sendiri sana." Keeho mendecak.

"Gue ampe congean dengerin mereka ngoceh soal lo yang selalu nggak dateng kalau tau ada acara blind date."

Mingi menjatuhkan tubuhnya ke sofa tunggal di sebelah Keeho. Kepalanya mulai berdenyut lagi.

"Ya orang gue nggak mau?"

"Buruan nikah, kek. Gue juga mau bersenggama sama pacar gue, nih."

"Tsk, nggak ada bedanya lo sama mereka. Nikah tinggal nikah duluan, kenapa harus nungguin gue."

"Ya, nggak bisa, goblok." Keeho memperagakan tanda kutip dengan jarinya. "Lo tau lah, anak pertama belum nikah sama 'stereotype masyarakat."

"Who cares about that."

"Mami Papi cares."

Keeho bangkit lalu berjalan ke dapur seenaknya seperti rumah sendiri. "Udah, ah, makan mana makan! Gue laper."

"Hell, no." Mingi mendelik. "Bocah kurang ajar."

Tepat saat itu, seseorang berjalan melewati lorong menuju area belakang yang terlihat dari ruang tamu sambil membawa totebag lusuhnya.

Mingi sontak menoleh.

"Ah, Yunho!"

Pria itu berhenti melangkah, lalu menghampirinya.

"Yes, Sir?"

Keeho reflek menyenggol lengan kakaknya seraya berbisik jahil, "ganteng, tuh."

Mingi menginjak kaki Keeho tanpa ekspresi.

Yunho yang tidak sadar apa-apa terhadap kejadian di depannya hanya berkedip bingung. Celemek hitam masih menggantung di pinggangnya dan beberapa helai rambut jatuh berantakan di dahinya.

Mingi memperhatikan sebentar sebelum akhirnya bicara lagi.

"Udah mau pulang?"

"Menurut lo aja, bang." Keeho menyahut.

"Lo diem. Hak suara lo dicabut."

Layangan protes hendak Keeho lemparkan kalau-kalau ia tak sadar ada orang lain di antara ia dan kakaknya.

"Iya..." Yunho mengangguk pelan. "Kenapa, Sir?"

Mingi mengetuk pelan sandaran sofa dengan jarinya.

"Before that... bisa bikinin dinner dulu, nggak?"

"Tuan rumah yang nggak bisa masak." Keeho menyahut lagi.

"Bacot."

Yunho tampak berpikir sesaat. Sebenarnya jam kerjanya sudah selesai dari tiga puluh menit yang lalu, kakinya juga pegal karena terus berdiri di dapur sejak siang.

Tapi melihat wajah Mingi yang memelas—benar-benar lelah malam ini, ia tidak tega untuk menolak. Akhirnya Yunho mengangguk kecil.

"Boleh... Mau makan apa, Sir?"

"Serius? Kare aja." Mingi menjawab cepat. "Tiga porsi."

Yunho berkedip. "Eh? Tiga?"

"Buat lo juga"

"Hah?"

"Makan dulu sebelum pulang."

Yunho langsung menggeleng kecil, ia tampak tidak enak menerima tawaran itu. "Sir, nggak usah repot—"

"That's an order."

Keeho terkekeh kecil melihat perubahan ekspresi Yunho yang pasrah.

"Yes, Sir."

Yunho akhirnya kembali berjalan ke arah dapur.

Mingi memperhatikannya sebentar dari belakang sampai sosok itu menghilang di balik tembok dapur.

Rumah yang tadinya sunyi perlahan terisi dengan suara-suara kecil; laci kayu dibuka, pisau memukul talenan, suara minyak mulai mendesis.

Anehnya, Mingi baru sadar ia menyukai semua suara itu.

Dapurnya terasa hidup kalau ada Yunho di sana.

"I have an idea." suara Keeho membuyarkan lamunannya.

Mingi langsung menghela napas panjang. "Whatever it is, please, I beg you, keep it in your mind."

"Gimana kalau lo pura-pura bawa pacar aja ke Mami Papi."

"Keeho, shut up."

"Lah? Daripada lo diwanti-wanti terus?" Keeho menyandar santai. "Biar gue juga cepet nikah sama pacar gue!"

"Gue nggak punya calon!"

"Kak Yunho?"

Mingi sontak menatapnya seolah tak percaya ia baru saja mendengar kalimat paling tolol sedunia.

"First of all, lo nggak waras."

"Dengerin dulu, lah—"

"Second of all, lo gila."

"Bang—"

"Dan yang paling utama, lo anjing."

Keeho malah tertawa puas. "Bukannya itu ide brilian? Lagian cocok tau."

Mingi memijat pelipisnya frustasi.

Cocok apanya?

Yunho itu pegawainya. Private chef yang ia pekerjakan empat tahun yang lalu. Private chef yang bahkan terlalu sopan untuk bilang "nggak" kepadanya.

Sementara dirinya?

Laki-laki stres dengan keluarga yang hobi menjodohkan anak.

Tidak masuk akal. Benar-benar tidak masuk akal, dipikir dari sisi manapun.

Namun entah kenapa... otaknya justru membayangkan wajah Yunho barusan.

Rambutnya yang masih berantakan. Celemek hitamnya masih menggantung di pinggang. Senyum kecil setelah menerima permintaannya.

Gawat.

Mingi mendadak berdiri.

"Get out of my house."

"Lah kok marah?!"

Sebelum Keeho sempat melayangkan protes lebih jauh, Yunho muncul dari dapur sambil membawa panci kare panas. Aroma rempah langsung memenuhi ruangan.

"Um... Apa aku ngeganggu kalian?"

"Absolutely not, Kak Yunho, hehe." Keeho tersenyum lebar seperti setan.

Mingi menatapnya tajam dari samping.

"Okay..." Yunho tampak ragu namun hanya mengangguk pasrah dengan Song bersaudara di hadapannya. "Dinner's ready, Sir."

Mereka bertiga akhirnya duduk di meja makan kecil dekat jendela. Empat kursi tersedia di sana.

Jika biasanya hanya satu yang terisi, malam ini terasa berbeda.

Uap kare masih mengepul hangat di tengah meja sementara hujan mulai turun samar di luar.

Keeho langsung menyendok kuahnya tanpa sabar. "Wow..." matanya membesar. "Gila enak banget. Top deh, kak, kalau soal masak, nggak kayak sebelah gue."

Mingi menatap tajam Keeho di sampingnya.

Yunho tertawa kecil malu. "Makasih..."

Mingi diam-diam memperhatikan wajah itu lebih lama dari yang seharusnya.

Sialnya, Keeho mungkin benar. Dan justru itu masalahnya.

"Hell gracious! Padahal cuma kare." Keeho masih sibuk makan sambil menunjuk Yunho yang sedang menyuap. "Kak, bisa nggak sih lo masak selamanya aja buat abang gue?"

Yunho mengangkat salah satu alisnya dan menaikkan sudut bibirnya tipis, mencoba menebak kejutan apalagi dari adik atasannya itu.

"Kira-kira harus tanda tangan kontrak berapa tahun kalau selamanya?"

"Ngapain tanda tangan kontrak, tinggal nikah sama abang, ya, nggak?"

"Uhuk-uh..uk!"

Mingi langsung tersedak sesaat setelah mendengar itu. Gila. Adiknya benar-benar gila.

Bahkan kentang yang hendak disuap Yunho kembali terjatuh ke piring. Ia juga tak menyangka.

"Makan dulu yang bener!" Mingi menyikut pinggang adiknya keras.

"AW—" Keeho meringis sambil mengusap sisi tubuhnya. "Violent banget, sih."

Yunho hanya tertawa kecil sambil menunduk, berusaha fokus pada makanannya walau telinganya mulai panas.

Suasana meja makan mendadak terasa aneh yang... Nyaman.

Mingi bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia makan malam tanpa memeriksa email atau mengangkat telepon kantor.

Rumah yang biasanya terlalu sunyi sekarang dipenuhi suara kecil dari sendok yang beradu, dan sesekali tawa pelan Yunho.

Mingi baru sadar kalau ia menyukai hal-hal kecil itu.

"Bang," Keeho kembali membuka suara setelah suapan terakhirnya habis. "Gue serius soal ide tadi."

"Gue nggak serius."

"Lah, tinggal pura-pura doang, kan."

Mingi mendengus. "Yang lo mainin itu hidup orang lain."

"Ya tinggal minta kerja sama." Keeho mengangkat bahunya santai. "Lagian Kak Yunho pasti mau bantu."

Yunho yang sedang minum langsung tersedak.

"Hah?"

Keeho menoleh cepat. "Eh nggak, nggak jadi, hehe."

Mingi memejamkan matanya sebentar, kepalanya kembali berdenyut. Ia benar-benar ingin melempar Keeho keluar dari jendela sekarang.

Tak lama setelah acara makan malam dadakan itu selesai, Yunho segera membereskan meja.

Mingi sebenarnya ingin menyuruhnya meninggalkan sisanya dan langsung pulang, tapi pria itu sudah lebih dulu berjalan ke dapur membawa piring-piring kotor.

Suara air mengalir kembali mengisi rumah.

Mingi berdiri di ambang pintu dapur tanpa sadar memperhatikannya.

Lengan kemeja Yunho tergulung sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan lagi karena uap panas. Gerakannya cekatan.

Rumah itu terlihat jauh lebih hidup saat ada dia.

"Muka lo kayak orang lagi jatuh cinta." Keeho tiba-tiba muncul di sampingnya sambil berbisik.

"Berisik lo."

"Tuh, kan, defensif."

Mingi hendak menendang kakinya kalau saja yunho tidak menoleh dari dapur.

"Sir?"

"Nothing." Mingi langsung menjawab cepat.

Yunho tampak masih bingung, namun kembali fokus mencuci piring. Setelah semuanya selesai, ia mengambil tote bag-nya lalu berjalan mendekat.

"I'm going home, Sir." Yunho membungkuk kecil sopan. "Terima kasih makan malamnya."

Mingi mengangguk pelan.

"Thanks for the dinner. Maaf jadi larut pulangnya..."

Sejenak ia menatap jam di dinding, sudah hampir jam sepuluh malam.

"Mau dianter?"

"Hah? Eh—" Yunho langsung menggeleng cepat. "Nggak usah! I can call a taxi..."

Mingi sedikit mengernyit mendengar penolakan yang terlalu panik itu.

Lucu juga.

"Okay. Be careful."

Yunho mengangguk lalu buru-buru keluar rumah. Pintu tertutup pelan di belakangnya, dan anehnya... rumah itu langsung terasa sepi lagi.

Keeho menatap kakaknya dengan ekspresi penuh kemenangan.

"See? Seriously, lo harus mikirin saran gue, sih, kesempatan nggak dateng dua kali."

"You better shut your fucking mouth. Get out of my house!"

Keeho terkekeh puas sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan rumah itu.

Kini tinggal Mingi sendiri, lagi.

Sunyi.

Terlalu sunyi.

Ia membuka kancing paling atas kemejanya sambil berjalan pelan ke dapur. Aroma kare masih tertinggal samar di udara.

Mingi mengusap wajahnya frustasi.

Gila.

Semua ini gara-gara Keeho.

Keesokan paginya, pikirannya tetap kacau.

Bahkan saat duduk di ruang kantor mewahnya, ia masih teringat percakapan semalam.

"Tinggal pura-pura bawa pacar."

Bullshit.

Benar-benar ide tolol.

Namun semakin ia menyangkal, semakin masuk akal kedengarannya.

drrt.

Layar ponselnya menyala.

Mami calling.

Mingi menghela napas panjang sebelum mengangkatnya.

"Yes, Mom."

"Son! Kamu jadi datang malam ini, kan?" suara Mami terdengar terlalu semangat. "Mom's friend daughter cantik banget loh. She wants to introduce her to you. What a happy news, right?"

Mingi memijat pelipisnya.

"Mom..."

"Jangan nolak lagi!"

"Mingi belum siap."

"Mau siapin apalagi, sih, kamu? Kamu tega lihat Mami capek gendong anabul sementara temen-temen Mami udah pada gendong cucu?"

'Ini cuma gue, ya, yang normal.' Pikirnya.

Di tengah lamunan itu, kalimat Keeho kembali terlintas di pikirannya. Namun ia segera menggelengkan kepala. Tidak, tidak, tidak, terlalu gila.

Tapi terdengar seperti ide yang bagus.

Ah, tidak.

Tidak mungkin.

Mingi memejamkan mata. Lalu entah darimana... wajah yunho muncul lagi di kepalanya.

Cara pria itu tersenyum kecil tadi malam.

Cara ia terlihat gugup saat Keeho mulai asal bicara.

Dan... Cara dirinya terus memperhatikan Yunho tanpa alasan yang jelas.

Mingi membuka mata pelan.

"...Fine."

"Really?!"

"I'll come tonight." Telepon langsung ditutup sepihak karena Maminya keburu kegirangan. Mingi menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi.

Baiklah, persetan. Ia akan mengambil keputusan yang ia asumsikan tidak masuk akal itu. Ia bisa bicarakan dengan Yunho nanti.

Karena ternyata, kau pun sama gilanya, Song Mingi.

Jam empat sore, Mingi sudah tiba di rumah, lebih cepat dari biasanya.

Yunho yang sedang mengganti taplak meja langsung menoleh kaget.

"Sir?"

Mingi berjalan mendekat tanpa basa-basi.

"Ikut gue malam ini."

"Hah...?"

"Change your clothes, now. Not too formal, but don't look too casual either."

Yunho berkedip bingung beberapa kali.

"W-wait... me?"

"Yes, you."

"Tapi kenapa—"

"I'll explain later."

Mingi menatapnya yang hanya terdiam.

"What are you waiting?"

Yunho menggenggam ujung taplak meja gugup. "Sorry, Sir, but... Aku nggak bawa baju ganti..."

Mingi mendecak pelan sebelum akhirnya menarik pergelangan tangan Yunho.

Refleks, Yunho menahan napas.

Telapak tangan Mingi terasa hangat menggenggam tangannya.

Mereka kemudian masuk ke walk-in closet besar milik Mingi. Yunho langsung terpaku sesaat melihat ruangan itu.

Lampunya remang hangat dengan deretan pakaian mahal tersusun rapi memenuhi sisi ruangan. Bahkan jam tangan saja dipajang seperti koleksi museum.

Sementara dirinya masih berdiri canggung dengan pakaian dapur sederhana.

Mingi dengan sibuk memilih beberapa setelan, ia sendiri tak mengerti kenapa harus melakukan ini, kenapa harus repot-repot dengan semua ini. Tanpa sadar kalau Yunho memperhatikannya diam-diam.

Pria itu tampan.

Terlalu tampan untuk dilihat sedekat ini.

Lengan kemejanya tergulung rapi, rambut hitamnya sedikit berantakan setelah setengah hari bekerja, dan aroma parfum mahal bercampur kopi tercium samar tiap kali ia bergerak.

"This one."

Mingi akhirnya mengambil set setelan kemeja dilengkapi blazer biru dongker, lalu menyerahkannya pada Yunho.

"Go, change."

Sepuluh menit kemudian, Yunho keluar dari bilik ganti.

Dan, malam itu, Song Mingi kehilangan kemampuan bicara.

Setelan itu terlihat cocok di tubuh Yunho.

Namun anehnya, pria itu bahkan tetap terlihat berantakan. Kemejanya keluar setengah, rambutnya acak-acakan, dan blazer mahal itu dipakai seperti jaket biasa.

Mingi menggigit pipi bagian dalamnya pelan sebelum berjalan mendekat.

"Godsake..." gumamnya. "You have no fashion sense at all."

Yunho menahan napas saat Mingi berdiri sangat dekat di depannya.

Tangan besar pria itu masuk ke sela celananya membenarkan bagian bawah kemejanya untuk masuk ke dalam celana.

Jemarinya tanpa sengaja menyentuh pinggang yunho. Sentuhan singkat itu terasa terlalu jelas.

Yunho reflek menegakkan badannya.

Mingi berhenti sebentar.

Keduanya bertatapan lewat pantulan cermin besar di depan mereka. Untuk sesaat, mereka benar-benar terlihat seperti pasangan sungguhan.

Pikiran itu membuat Mingi buru-buru berdeham kecil lalu mundur setengah langkah.

Ia mengambil sedikit pomade lalu mengusap rambut Yunho perlahan.

"Stay still."

Yunho menurut walau jantungnya sudah kacau sejak tadi.

Mingi terlalu dekat.

"Okay." Mingi akhirnya menurunkan tangannya. "Much better."

Yunho menatap pantulan dirinya di cermin, lalu sedikit membelalak. Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri karena tampangnya berbeda dari biasanya yang hanya memakai celemek dan kemeja biasa. Bukan bermerk seperti ini.

"We should go now."

Mingi melirik arloji di tangannya sebelum kembali menatap yunho dari atas sampai bawah.

"But practice first."

Mingi melangkah mendekat lagi. Kali ini jarak mereka bahkan tidak sampai setengah langkah.

"Look at me."

Suara rendah itu membuat yunho perlahan mengangkat kepala.

"Remember, senyum. Jangan terlalu tegang." Mingi menunjuk wajah yunho pelan. "Kalau nanti ada yang nanya aneh-aneh, biar gue yang jawab."

Yunho mengangguk kecil.

"Good."

Mingi menyandarkan satu tangan ke meja di belakang yunho.

"Now, say my name."

Yunho langsung membeku.

"S-Sir..."

"No 'Sir' tonight, Yunho." Suara mingi pelan, tapi tegas.

"What's my name?"

"M-Mingi..."

"Again."

"Mingi!"

Sial, cara yunho menyebut namanya terdengar terlalu lembut. Mingi sampai harus mengalihkan pandangan sebentar.

"Okay," katanya cepat. "That's enough."

Kalau diteruskan lebih lama lagi, ia takut mulai memikirkan hal aneh-aneh.

Sepanjang perjalanan, mobil mereka sunyi.

Hanya suara mesin halus dan musik jazz pelan dari speaker yang mengisi ruang sempit itu.

Yunho duduk di kursi penumpang sambil menggenggam kedua tangannya gugup di atas paha. Ia masih belum benar-benar mengerti apa yang sedang terjadi. Semuanya terlalu mendadak.

Mulai dari mingi yang tiba-tiba pulang cepat, menyuruhnya ganti baju, sampai membawanya keluar malam-malam seperti ini. Dan yang paling aneh, Mingi juga yang paling terlihat gugup.

Pria itu terus mengetukkan jemarinya ke setir saat lampu merah, rahangnya mengeras beberapa kali, bahkan sesekali menghela napas panjang seperti sedang menenangkan pikirannya sendiri.

Ini gila.

Benar-benar gila.

Mingi bahkan belum menjelaskan apa pun secara detail pada yunho.

"Sir.."

Sunyi.

"M-Mingi..."

Mingi meliriknya cepat.

"Keep practicing."

"..."

Yunho menunduk kecil sebelum mencoba lagi.

"...Mingi."

Entah kenapa cara menyebut nama itu membuat suasana sekitar mereka terasa makin aneh.

Mingi berdeham pelan lalu kembali fokus ke jalan.

"Hm?"

"Kita... Mau ke mana?"

Mingi menggenggam setir sedikit lebih erat.

"Family dinner."

Yunho langsung menoleh cepat.

"Maksudnya—w-with your family?"

"Iya."

"I... Join?"

"Iya."

"WHY—I'm sorry, I mean... Why me?"

Mingi sedikit meringis mendengar nada panik itu. Jujur saja, ia sendiri juga belum tahu kenapa. Atau lebih tepatnya, ia belum tahu bagaimana cara menjelaskan semuanya.

Jadi akhirnya ia memilih jawaban yang paling aman.

"Biar ada temen aja."

Yunho mengernyit bingung.

"Temen?"

"Mami gue cerewet."

Yunho masih terlihat tidak yakin, tapi akhirnya mengangguk kecil.

Mungkin mingi hanya malas datang sendirian.

Mungkin ia hanya butuh seseorang untuk diajak mengobrol selama makan malam keluarga.

Walau tetap terasa aneh kenapa harus dirinya yang dipilih.

Mobil itu akhirnya berhenti di depan restoran mewah dengan lampu kristal besar menggantung di lobinya.

Yunho menelan ludah pelan. Bahkan dari luar saja tempat itu terlihat mahal.

Mingi mematikan mesin mobil lalu keluar lebih dulu.

Beberapa detik kemudian, pintu sisi penumpang terbuka. Mingi berdiri di sana sambil mengulurkan tangan.

"Come on."

Yunho menatap tangan itu sesaat sebelum akhirnya menyambutnya pelan.

Telapak tangan mereka bersentuhan.

Hangat.

Mingi membantu Yunho turun sebelum melepaskan genggamannya perlahan. Namun baru beberapa langkah berjalan menuju pintu restoran, Mingi tiba-tiba menarik tangan Yunho kembali lalu melingkarkannya ke lengannya sendiri.

Yunho membelalak.

"S-Sir?!"

"Mingi."

"M-Mingi..."

Mingi menarik napas dalam.

"Ready?"

Yunho bahkan merasa jantungnya hampir copot sekarang.

Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, mereka sudah tiba di sebuah meja besar dekat jendela restoran.

Ada enam orang di sana.

Tiga di antaranya langsung berdiri begitu melihat Mingi datang.

Keeho yang melihatnya dari kejauhan langsung membelalakkan matanya.

Seorang wanita paruh baya dengan penampilan elegan langsung memeluk Mingi dengan senang.

"Son!"

"Sorry we're late, Mom." Suara Mingi membuat atensi enam orang itu langsung tertuju padanya.

"Oh, Son! Mami seneng kamu di sini." kata Mami sambil memeluk Mingi.

Wanita itu lalu berhenti saat tersadar ada Yunho, berdiri berdampingan di sebelah anaknya. Matanya langsung membesar berbinar, seolah tebakannya benar.

"Oh my God! Is this—"

Dan di situlah semuanya mulai hancur.

"My boyfriend."

Dunia Yunho terasa berhenti. Tunggu. Ia tak dibriefing soal ini.

...

Boyfriend?

BOYFRIEND?!

Yunho langsung menoleh ke arah Mingi dengan mata membulat panik. Namun pria itu malah terlihat tenang, terlalu tenang, untuk seseorang yang baru saja menghancurkan mental pegawainya.

"Jeong Yunho." lanjut Mingi. "He's a chef."

"REALLY?!"

Mami hampir menjerit kegirangan. Bahkan Papi sampai menurunkan kacamatanya kaget.

"Oh my goodness, akhirnya!"

Bahkan sebelum Yunho sempat memproses situasi, dirinya sudah dipeluk erat oleh Mami.

Yunho masih terlalu syok untuk bicara.

Apalagi saat Mingi tiba-tiba memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagu di pundaknya. Terlalu natural untuk sekedar pura-pura.

"Mom..." Mingi menggumam manja. "Don't steal my boyfriend already."

Yunho hampir pingsan dibuatnya.

Di sisi lain meja, Keeho terlihat seperti baru saja menyaksikan mukjizat dunia.

"Holy shit..." bisiknya pelan sambil menatap Mingi tak percaya.

Song Mingi benar-benar menjalankan ide gilanya.

"Don't scare him." Mingi menghela napas kecil malu.

Pria itu semakin menarik Yunho mendekat sampai mereka saling menempel.

"He's shy."

SHY KATANYA?

Yunho bahkan ingin kabur sekarang juga. Ia benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Dan yang lebih parah... Ternyata ada wanita lain duduk di seberang meja bersama kedua orang tuanya.

Cantik. Elegan. Dan sekarang menatap yunho seperti ingin membunuh.

Tunggu.

Tunggu sebentar.

"Jadi aku diundang buat ini?"

Oh.

Yunho langsung sadar semuanya.

Song Mingi sialan ini menyeretnya ke acara perjodohannya?!

"Oops, sorry. I told Mom I wasn't interest... because, my boyfriend is not ready before."

"You embarassed me!" Wanita itu langsung berdiri dan mengambil tasnya. "Brengsek."

Ia langsung pergi begitu saja keluar dari restoran diikuti kedua orang tuanya.

Suasana meja menjadi awkward selama beberapa detik.

Sampai Mami membuyarkannya dengan menepuk tangan kecil.

"Ya sudah! Sekarang fokus kenalan sama calon mantu Mami!"

Serius. Yunho ingin menangis rasanya.

Sementara Keeho terlihat semakin menikmati kekacauan ini.

"Beneran pacaran, tuh?" tanyanya sambil menyipit jahil.

"Told you."

"Bohong."

"Gue nggak pernah bohong."

Keeho tampak menyeringai puas.

"Prove it then."

Mingi mulai curiga terhadap arah pembicaraan mereka.

"Prove what."

"Kiss him."

Yunho membeku mendengarnya. "Now. On the lips."

Mami memekik tertahan sambil mengguncang lengan Papi. "Oh my God, oh my God—"

Mingi menatap Keeho dengan sorot membunuh.

Sialan.

Ini semua pasti balas dendam.

Namun kalau ia menolak sekarang, semuanya selesai.

Mingi menoleh perlahan ke arah Yunho. Pria itu terlihat sama gugupnya sekarang.

Untuk beberapa detik mereka hanya saling diam. Suara restoran di sekitar terasa jauh perlahan hingga yang terdengar hanya detak jantung masing-masing.

Mingi merasa sedikit bersalah, ia terlalu jauh menyeret Yunho dalam kekacauan ini. Namun semuanya sudah terlanjur.

Mingi mendekat perlahan, satu tangannya terangkat menahan tengkuk Yunho hati-hati.

"Sorry," bisiknya sangat pelan.

Lalu akhirnya ia menciumnya.

Mami hampir histeris ditahan Papi.

Awalnya hanya tempelan singkat. Sebagai sebuah formalitas. Sebuah sandiwara. Setidaknya begitu niat awal mingi.

Namun saat yunho tidak menjauh, dan membalasnya, sesuatu di dalam dadanya langsung runtuh.

Mingi memiringkan kepala sedikit dan tanpa sadar memperdalam ciuman itu.

Bibir Yunho hangat.

Jemari Yunho refleks mencengkeram bagian depan jas Mingi pelan karena kaget.

Sialnya, sentuhan kecil itu membuat Mingi makin sulit untuk berhenti.

Shit. Ia terlalu menikmati ini.

Baru saat napas mereka mulai habis, Mingi akhirnya menjauh perlahan. Namun tangannya masih tertinggal di tengkuk Yunho lebih lama.

Yunho terlihat linglung. Pipinya bersemu sangat merah. Matanya sedikit tidak fokus. Seolah otaknya belum selesai memproses apa yang barusan terjadi.

Dan jujur saja, Mingi juga sama.

Meja mereka hening beberapa saat. Sampai suara keeho memecah semuanya.

"NAH!"

Ia menunjuk mereka berdua tidak percaya.

"Berarti bukan fake dating, kan."

"Keeho!" Mami langsung menepuk lengannya keras.

"AW!"

"Jangan ganggu pasangan orang!"

Pasangan.

Yunho langsung tersadar lagi begitu mendengar kata itu.

Ia buru-buru melepaskan genggaman kecilnya dari blazer mingi lalu menunduk cepat.

"S-sorry..."

Mingi meliriknya pelan.

"Kenapa minta maaf."

Yunho membuka mulut, namun tidak ada kata yang keluar. Karena ia sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa.

Semuanya terjadi terlalu cepat.

Tiga jam lalu ia masih memasak seperti biasa di dapur Mingi.

Sekarang?

Ia baru saja dicium atasannya sendiri di depan satu keluarga besar.

Hidup macam apa ini.

"Astaga..." Mami masih memegang dadanya haru. "Mami udah lama banget nunggu ini."

Papi mengangguk setuju sambil menyeruput minumannya santai.

"Akhirnya anak kita normal."

"Excuse me?" Mingi langsung mendelik.

Sisa makan malam berlangsung jauh lebih kacau dari sebelumnya.

Mami terus bertanya banyak hal pada Yunho-makanan favorit Mingi, sejak kapan mereka kenal, siapa yang menyatakan perasaan duluan, bahkan sampai kapan rencana mereka akan menikah. Setiap kali Yunho mulai blank, Mingi selalu menyelamatkannya cepat.

"Mingi itu di rumah cerewet, nggak?"

"Depends."

"Depends gimana?"

Mingi menyandar santai sambil melirik Yunho dari samping.

"Kalau sama Yunho, nggak."

Yunho langsung salah minum.

Keeho menatap kakaknya dengan ekspresi jijik.

"Idih."

"Diem lo."

Tapi semakin malam berjalan, semakin sulit bagi yunho buat menganggap semua ini hanya akting.

Karena Mingi terlalu bagus melakukannya.

Pria itu membuka kursinya. Menuangkan minum untuknya lebih dulu. Sesekali menaruh tangan di pinggangnya santai. Bahkan tanpa sadar mengusap ibu jari di punggung tangan Yunho saat Mami mulai terlalu heboh.

Gestur-gestur kecil itu terlalu alami. Dan itu membuat jantung Yunho makin kacau.

Saat makan malam akhirnya selesai, Yunho rasanya sudah kehabisan energi.

Begitu mereka berdiri dari meja, Mami langsung memeluk Yunho erat sekali lagi.

"Next time main ke rumah, ya, sayang."

"Eh—i-iya, Mom..."

"Jangan kapok sama keluarga kami."

Yunho melirik cepat ke arah Keeho yang sedang cengar-cengir puas.

Terlalu terlambat untuk kapok, Mami.

 

 

 

—END