Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-04
Words:
3,565
Chapters:
1/1
Comments:
6
Kudos:
19
Bookmarks:
1
Hits:
329

Sasa, I trust you, Sayang.

Summary:

setelah website akal-akalan barat, dan berciuman singkat satu kali setelahnya. now look what they've got!

Work Text:

in the same universe as a bit of what au on x


Hubungan Hekal dan Angkasa bisa dibilang tidak lebih dari teman. Itu dikonfirmasi oleh Hekal sendiri kira-kira beberapa bulan lalu ketika teman-teman William bertanya siapa lelaki tinggi yang selalu mengekor di belakangnya itu (Angkasa tidak tahu dan tidak mau tahu). Hekal hanya cengengesan menyebut Angkasa sebagai temannya dengan semua kebaikan yang pernah dia lakukan, tanpa menyadari tatapan teman-teman William memincing karena ingat, dia–Angkasa, adalah orang yang sama yang pernah hampir maju ke babak perenggutan nyawa dengan teman satu gengnya–William.

Yang sejak hari itu, berdasar update dari Hekal, William kian menjauhinya tanpa memberinya closure. Tidak mengerti banyak, Angkasa hanya angguk-angguk saja karena itu artinya William tidak akan membuat Hekal sedih lagi.

Ah, sama saja. Berhari-hari Angkasa harus menemani Hekal melewati masa galaunya. Dengan ikhlas dan seribu kekuatan ia pinta pada Sang Cipta agar ia tidak tiba-tiba berteriak “Cukup dengan William, coba liat gue, ada gue!“ di depan Hekal.

Ah, mengenai Angkasa, dia sendiri hanya ingin hidup dengan damai dalam sisa perjalanan hidupnya. Terdengar pasrah? Iya memang. MEMANG. Angkasa tidak lebih dari orang biasa yang tiba-tiba terdampar di program studi yang sama dengan Hekal (well, part of the plan). Yang dia tidak pernah duga adalah, seisi kelasnya cerewet, mungkin kloning dari Hekal? Yang pasti sehabis kelas seharian dia akan memilih diam di indekos dengan settingan ponsel DND miliknya.

Angkasa juga tidak setinggi namanya (setidaknya itu menurutnya), banyak hal-hal yang telah diukurnya dan mencapai sesenti dari langit pun dia tak sampai. Semua itu tentang pencapaian dan keharusan. Ia kerap kali bertanya mengapa Ibunya memberinya nama Angkasa jika nyatanya ia selalu dibuat luluh lantah seakan rata dengan tanah. DUH. Mungkin terlalu banyak bercerita. Tapi tenang semua, Hekal tahu seribu persen mengenai seluruhnya tentang Angkasa (kecuali lovelife!) bahkan Hekal cenderung memahami dan dapat mengartikulasikan apa yang dirasakan oleh Angkasa ketimbang laki-laki itu sendiri. Mungkin kapan-kapan akan Angkasa ceritakan bagian sedihnya.

Sepersekian detik ketukan pintu memenuhi gendang telinganya. Angkasa buka pintu itu derit pintu menguasai indekos kosong yang dari tadi hanya diisi dengan gumaman Angkasa dengan tugas mata kuliahnya di hari itu. Oh. Hekal.

“SASAAA!“ suara yang cukup familiar bersamaan dengan raganya itu mendekat, tanpa disuruh, di sisi Angkasa yang sedang terdiam membeku. Sedang Hekal dengan nyamannya mendaratkan pipinya di dada kiri Angkasa. 

“William beneran ganti nomor, Sa,“ gumam Hekal lagi, suaranya teredam di kain kaos Angkasa. Ia menghela nafas panjang. “Gue kayak orang bego anjir, nungguin di depan kelasnya tadi. Dia lewat gitu aja, pura-pura gak liat gue.“ 

“Yaudah, biarin aja lah dia, terus lo mau apa? Dikejar terus juga kasian lo yang harusnya istirahat malah nangis bombay begini.“

“Sasa, gue sedih.“

Mungkin Sasa jauh lebih sedih lagi.

“Udah sini ngapain kek, gue tutup pintu dulu… atau lo mau ambil air es di kulkas luar?“ Yang dibalas gelengan oleh Hekal.

Kemudian Angkasa hanya membiarkannya duduk. Sisa-sisa tenaga setelah menghadapi kelas yang bising seharian rasanya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa sesak yang terlampau akrab setiap kali Hekal berada di radius sedekat ini–dan menangis karena orang lain. Ada perasaan senang bercampur sedih tatkala Hekal patah hati, sedih ketika lagi-lagi apa yang pantas didapat Hekal berujung menghianatinya dan apa yang sudah Angkasa jaga seenaknya dibuat terbentur. Tapi artinya apa? Akan ada lebih banyak waktu bersama. Akan ada lebih banyak hari untuk membawa Hekal tersenyum dan mencabik lucu. Akan ada lebih banyak cinta untuk disemikan walaupun Angkasa tidak pernah paham bagaimana kata kerja cinta itu beproses di kepala Hekal. Sampai Angkasa berdoa, semoga selalu ada waktu untuk tersenyum bersama, tanpa harus membawa orang ketiga sebagai alasannya.

Batasan yang kian mengabur itu sekarang tidak bisa lagi menghibur Angkasa karena dia harus berperang dengan Mendeley yang tidak bisa mendeteksi otomatis penulis artikel yang ia perlukan. Alhasil waktu yang seharusnya dialokasikan untuk menenangkan Hekal berpindah sepenuhnya pada deretan nama asing pemilik satu kalimat yang ia kutip dalam tugasnya.

“Sa ... Lo lebih sayang Mendeley daripada gue?“

“Hmm, bentar ya.“ Angkasa masih menekan keyboard sialan itu. Sedang Hekal belum puas hanya duduk di lantai marmer bersama Angkasa dan tugas sialan itu, dengan posisi menyender di bahu Angkasa tanpa diberikan afeksi lebih dari Angkasa. 

Bertanya dengan lugu, “Lo ga sayang gue ya?“ Hekal sedikit terganggu dengan Angkasa yang seenak jidat mengabaikannya dan menyuruhnya get over it ketika ia benar-benar perlu ditenangkan. Mana usapan di kepala yang biasanya ia salurkan ketika kepalanya runyam? Mana gandengan tangan yang biasanya menemaninya ketika bermain game online mobile legend itu? Hekal tidak munafik, dia mungkin butuh Sasa lebih dari dia memerlukan William.

Brengsek. Bukannya Angkasa juga punya gebetan?

Mungkin dunia sekarang gemar menertawakannya.

Maka yang menang adalah Hekal dan semua pikir intrusifnya, “Sasa,“ punggungnya menegak, mengarahkan wajahnya ke Angkasa hingga laki-laki itu menoleh. “Ya?“ balasnya singkat. Dan dalam sepersekian detik Hekal mencuri satu ciuman di bibirnya yang masih terbayang “ya?“ itu. 

Gotcha. Ciuman kedua mereka setelah terakhir kali Angkasa ditemukan mengurung diri tanpa makan seharian, berujung memakan Hekal (!) oh tidak sampai sana ya....

Lalu yang ini apa... Angkasa membelalak dan kepalanya yang penuh kabut. Tidak pernah ia rasakan hidupnya setiba-tiba ini. Bibirnya tiba-tiba dicium oleh Hekal, tangan Hekal yang tiba tiba mendarat di atas pahanya dan menekannya sedikit agar tidak oleng, OH ANJIRRR, dan Hekal yang tiba-tiba melumat pelan dua bilah bibirnya bergantian. 

Mungkin sekarang namanya membayang dengan artinya secara harfiah. He's fucking on cloud nine! Angkasa yang sedang mengangkasa.

Sedang gaung nama William yang belum sepenuhnya meninggalkan indekos itu tidak membuat Hekal berniat untuk berhenti dalam waktu dekat. Seperti diterima. Maka ia memberi. Hekal dapat merasakan pergerakan konstan Angkasa dalam membuka akses diantara dua bibirnya, kemudian permukaan kenyal itu beradu dengan tebal milik Hekal. Berbuah bunyi kecipak basah karena keduanya sudah kepalang gila. Ah! Dadanya kini membusung karena sengatan itu rupanya sudah memengaruhi seluruh damai tubuhnya. Hekal dapat merasakan lidah Angkasa sampai menyapa pada miliknya. Gokil. 

Enteng saja, itu dibalas Hekal dengan tempo cepat. Disusul rintihan Angkasa karena rupanya Hekal tergigit bibirnya.

Tautan mereka melepas bersaksi satu benang saliva berjarak tidak jauh dari 5 cm itu.

“Hey! Santai, Kal.“

Oh tiada yang bilang surga secantik ini. Ketika pagutan itu dilepas oleh Angkasa, tepat di depan wajahnya ia lihat sepasang mata menatap sayu. Belum, usap liur antara bibir mereka berdua belum kering, Angkasa dapat melihat warna solid merah jambu yang mengkilap terpancar di bibir laki-laki ini. Tidak lupa titik merah muda di telinga dan rahang pipi yang kemudian ikut meramaikan shade warna yang dimiliki oleh Hekal yang sedang terengah sekarang. Angkasa couldn't grab any single words to say.

“Sasa. Mau. I need you.“

Tersenyum. Angkasa menjauhkan meja lipat bertuan laptop miliknya. Di layar, Mendeley masih beroperasi melakukan sinkronisasi data pada dokumen Word empat halaman yang memuat seonggok tugas analisisnya.

Yap, tugas analisisnya yang mendadak kehilangan urgensi total malam ini. 

Angkasa merengkuh Hekal dalam pangkuannya hingga laki-laki itu dapat mengalungkan kaki jenjangnya pada pinggul Angkasa. Ah, kata gue apayah, bahaya... Mereka berdua sadar itu. Angkasa menahan punggung Hekal sembari mendongak untuk memuja wajah temannya itu. “Gemeter deh gue, lo cantik banget.“

Seingatnya William–Tidak, Hekal tidak boleh menjadi brengsek. Angkasa hanyalah satu-satunya laki-laki yang tidak pernah absen memujinya bahkan ketika ia memar dan wajahnya kusam. Ia, laki-laki yang memangkunya sekarang. 

Hekal menutup mata, menggali keping-keping memori kapan terakhir kali dia dikatakan cantik oleh Sasa-nya, oh–

Oh, ingat....

Mereka juga berciuman pada saat itu.

Haus validasi, Hekal mendayu, mebisikkan tanya, “Sasa.... Do I really look pretty?“

“Prettiest, even.“

Hekal rasa dadanya seakan dicabik. Semua yang keluar dari mulut Angkasa tidak pernah tidak luar biasa. Kalau boleh dia mendamba, meminta, memohon, maka Hekal ingin dipuja dan disayang sebegitu besarnya. Sayangnya mungkin dia tidak cukup untuk diperlakukan sehangat itu oleh siapapun. That’s how he quite enjoys William's games, there is no deep feeling involved unlike how he is with Sasa. 

Hekal perlahan menundukkan kepala, membiarkan hidungnya bergesekan dengan hidung Angkasa. Runcing ujung hidung itu menyapa sekaligus hiasi nafas yang hangat dalam hirupnya. Merasa. Merasa. Merasa. Ia dalam keadaan sadar sepenuhnya ketika telapak tangan Angkasa masih melingkar pada dua sisi pinggangnya.

Dengan perlahan, Angkasa menyingkap kaos putih bertuliskan slogan kepanitiaan yang mereka ikuti semester kemarin. Merasa akan dimakan, Hekal mengangkat tangannya, dihadiahi kekehan kecil oleh Angkasa. 

Loh? Kok berhenti sih?

Belum semua ia tanggalkan tetapi Angkasa sudah berhenti. Percuma saja Hekal menarik tangannya ke atas seakan ia yang meminta untuk ditelanjangi. Padahal nyatanya, laki-laki berinisial A ini hanya menahan kaos itu hingga melewati batas atas dada Hekal, kemudian membenamkan permukaan wajah panasnya di antara dada dan perut Hekal.

BRENGSEK. tOTALLYYYYYYY.

Hekal menghela nafas, meringis hingga menggigit bibirnya. Gila ya Sasa ini? “Sahmm–Sasa, geli....“

“Lo wangi banget,“ ucap Angkasa beriringan dengan nafasnya yang menggelitik di permukaan kulit Hekal. Oh, God. This man is truly evil. “Mmhmm, Hekal... Has anyone sniffed you like this?“ Hekal menggeleng frustasi, ingin rasanya dia berteriak “cuma lo, Sasa.“ tetapi seluruh raganya tak memiliki daya.

Ketika deru nafas itu memicu cepat dan gumaman kecil menggaung di telinganya, Hekal hilang akal. Masalahnya siapa yang bisa, Sialan? Hekal benar-benar merinding. Ia membusungkan dadanya membiarkan Angkasa mengakses seluruh bagian tubuh miliknya. Indeed, mesmerizing. Angkasa cengo merasakan Hekal bergerak tak karuan di bawahnya. Benar-benar menghentak hingga Angkasa sadar, there’s no way back for them in this room.

Gue ngapain dong anjir? Angkasa membatin. Bingung, ia menelentangkan Hekal begitu saja dengan kaos putih kepanitiaan masih melekat dengan macet hingga dadanya sepenuhnya terekspos. Posisi Hekal di atas marmer dingin itu tidak lebih makan siang–baju yang mengekspos bagian atas tubuh indahnya dan kaki yang dipaksa membuka lebar mengitari pinggang tegap Angkasa. 

Dua bilah bibir Hekal terbuka lagi bersamaan dengan dirinya yang kian merasakan lidah Angkasa melesak masuk. Ah ingin mengeluarkan desah saja dia tak terpikir, kepalanya pusing—“Nghh... Mmhff...“ Angkasa lanjut mencium putih dada Hekal dan menjilat putingnya hingga permukaan kulit itu kembali menghangat. Entah mungkin Hekal bisa pipis sekarang!

Lenguhan Hekal tertelan bulat-bulat di dalam mulut Angkasa. Air liur samar lolos di sudut bibir mereka yang bertautan gila, mengalir turun ke rahang Hekal yang mendongak pasrah di atas marmer. Kemudian ia berinisiatif menanggalkan pakaiannya seadanya karena sejujurnya, Hekal ingin dilihat dan dipandang dengan kagum. Walaupun berujung kedinginan tetapi kondisi tubuhnya mengatakan hal yang berbeda. 

“Baju lo buka juga.“

“Kenapa gue harus buka baju?“

“Karena gue buka baju?“

“Why tho?“ Angkasa mengernyit. “Kan gue buka baju lo buat ciumin lo tadi. Terus lo?“

“I wanna touch your skin too!!“ Hekal berteriak. Angkasa menyunggingkan senyum kemenangan ketika dua tangan Hekal menarik ujung kaos Angkasa dengan erat. Ia tanggalkan kaos itu dan Angkasa hanya mengikuti permainannya ketika Hekal benar-benar melepaskan fabrik tipis itu dari tubuhnya. 

Yang Angkasa kira selanjutnya Hekal akan menggulir bola matanya dengan perlahan pada seluruh badannya. Lalu memandangnya lamat-lamat seakan dia ingin memakannya, which is dia tidak keberatan dengan fakta itu. Namun di luar prediksi…. apa? Angkasa benar benar ternganga secara tolol melihat pemandangan di depannya.

Hekal tidak menaruh kaos milik Angkasa dengan asal, ia malah menghirup sisa bau Angkasa yang tertinggal pada kaos tipisnya. He sniffed it like crazy. Tolong cekik Angkasa sekarang juga.  Sekali lagi, biar Angkasa jelaskan kenapa ia pusing. Di depannya Hekal terlentang dengan posisi tidak senonoh dan porno. Wajah yang memerah itu rasanya kontras dengan kaos putih milik Angkasa yang dicium dan dihirupnya. 

Anjing.

“Hey,“ Hekal kemudian berduduk, memajukan diri ke dada Angkasa di yang masih dalam degup normal. “You smell nice.“ Dia berbisik. Kemudian yang Angkasa rasakan adalah bagaimana dadanya dihirup dan dikecup oleh laki-laki yang dia sayangi lebih dari 4 tahun ini. Membuatnya jadi berdegup lebih cepat.

“Just in case you're asking for my consent, I'm down for everything happen next.“

Seakan tau arahnya kemana, Angkasa mengerjapkan mata. Sesuatu di bawahnya menyesak dengan liar seakan konsen adalah sesuatu paling seksi yang dapat diberikan seseorang untuknya. Lantas dengan percaya dan yakin, menyerahkan dirinya ke bawah penghambaannya. 

Oh, Tuhan. Dibanding dengan Hekal, Angkasa tidak pernah mengerti apa apa. Sekarang dia harus berpikir bagaimana ia harus mempertahankan semburat cantik berwarna merah jambu ini. 

“I'll figure it out, kalo lo ga nyaman, bilang, Kal.“

NYAMAN BANGET ANJIR. Tolong ajari Hekal bagaimana caranya agar tidak mudah kelonjotan saat sahabat baiknya ini menciumnya di bibir, memagut bibir bawahnya hingga Hekal bisa rasakan nyeri sedikit karena mungkin Angkasa hanya asyik dengan bibirnya sendiri. Duh, Sasa.

Pagutan itu terlepas perlahan, menyisakan benang saliva yang berkilau di bawah temaram lampu indekos. Angkasa tidak memberi Hekal waktu untuk meraup oksigen; ia menatap Hekal sembari mengecup pipi, turun menelusuri garis rahang, singgah di perpotongan leher, dan tulang selangkanya. “You're–Nghh–OH! HHHmph!” Ia melolong tak berdaya ketika Angkasa mengangkatnya agar Hekal berpangku padanya. 

Pandangan Angkasa terkunci pada sepasang kaki Hekal yang saling mengepit rapat. Menyisakan belahan bibir ranumnya yang sedikit terbuka. Kemudian “Aaaa… Nghnnnnn,“ sebuah lenguhan tertahan lolos dari bibir Hekal. Seluruh tubuhnya mendadak kaku, terkecuali pinggangnya yang masih menyentak-nyentak kecil dalam ritme yang tak beraturan. Terus… terus…. Hingga… pinggangnya bergerak menyentak kecil, bergesekan langsung dengan milik Sasa—anjinggggg, KERASA DONG? 

Angkasa belum pernah terangsang sebegininya bahkan ketika ia melihat film bokep dengan artis porno top manapun. Oh, Hekal dan goyangannya yang mantep. 

“Sasa, jangan ditahan…“

Memejamkan mata erat-erat saat Hekal sibuk menggeliat dan mendorong kecil bagian pusat mereka yang sekarang sudah bercumbu di balik celana. 

“Ah...“ Angkasa mendesah pelan. Dia rasa sesuatu membuat celananya lembab. Hekal juga sudah mabuk kepayang dan berakhir melebur di pelukannya. The affection was so thick it was almost suffocating. It filled his lungs, making it hard to breathe, hard to think, or to even remember who he was before Hekal became his whole world. He didn't just want to touch Hekal; he wanted to keep him safe from the rest of the world, to make sure he was the only one who ever got to hold Hekal like this. 

Dan gempita iringi peraduan kasih mereka. Hekal pun mengudarakan saran, “Pindah kasur aja, Sasa.“

Mereka bergegas berdiri dengan looks paling memalukan, satu titik rembes di celana mereka seakan membisu dan jadi saksi bagaimana dua orang ini berciuman selama 15 menit.

Bola mata Angkasa melotot sepenuhnya melihat Hekal berdiri tanpa atasan dengan bawahan yang sama kacaunya, pikirannya ia belokkan agar tidak menatap milik temannya dengan tamak walaupun sepertinya Hekal memang sengaja memancing. Benar-benar perpaduan dahsyat. Darahnya berdesir, menjalar hingga daun telinga. Maha cantik paling sempurna yang pernah ia lihat. Angkasa yang duduk di pinggiran kursi hanya bisa meneguk salivanya.

“Can’t stop staring, do you?“

Sounds incredibly dumb to Angkasa’s ears.

“Cantik, Hekal. You're even better than what I've imagined.“

“You imagined me?“

Tertangkap basah secara harfiah. Tertangkap dalam keadaan basah. Benar-benar ia merutuk dirinya sendiri, Angkasa yang tolol dan mulutnya yang selalu jujur. “Hey, jawab Sasa?“ Duh jawab apa yah….. “In what way?“

“I–I'm sorry…“

“No,“ Hekal menggeleng, “tell me.“

Angkasa masih melongo, tidak bersiap dengan skenario seperti ini walaupun ia bisa saja menyebutkan hal yang paling memalukan yang pernah ia lakukan ketika kaos Hekal tersingkap dan menunjukkan pinggul indahnya.

“Hold my hand, perhaps?“

Dan Angkasa meraih telapak tangan Hekal. “Gue–abis lo kirim VN itu gue jadi banyak mikir lo, Kal. I just couldn't help it. Imagining your body, how would I kiss it? Your lips on my body… and how would you react if I ever jerked off to your pic?

“Yang mana?“

“Hmm, yang lo tiduran….“

Resleting celana bahan milik Hekal sudah tanggal ke bawah, ia biarkan perut bawahnya terekspos. Sisa satu langkah lagi sebelum seluruh badannya telanjang bulat.

SUMPAH. Angkasa pening dibuatnya. Kini dengan curangnya Angkasa melihat perut ramping yang bawahnya menyembul itu. Apa bisa Hekal dituntut karena penipuan? Karena terakhir kali pap di bagian itu, perutnya tidak se-merona ini.

Angkasa mencium tangan Hekal, tulus, tepat pada bagian telapaknya. Lalu mengecup perut bawah Hekal yang buat tubuhnya nyaris oleng itu. Angkasa dan semua kelembutan yang dipunya olehnya. “Hey.“ Angkasa menuntun tangan kecil itu mengarah ke pusat kenikmatanya. Dua telapak mereka kini berkejaran dengan desir hangat pada daerah intim milik Hekal.

“I don't want you to stop.““Hekal….“

“AHNGHHHH—“

Suara Hekal melengking merdu ketika tangan Angkasa menelisik ke bawah perutnya, mencuri start pada karet celana dalam yang nanti akan memberi bekas merah itu. Eh, jangan salah, Angkasa belum menyentuh kebanggaan miliknya. Tapi–

“Sasa, pegang aja… Please.

He begged.

Oh, love should be fun, isn't it? Bahkan ketika bercinta pun gelembung aneh sempat-sempatnya naik membuat tawanya pecah. Senang rasanya mengeksplorasi perasaan baru dengan orang yang selama ini membuatnya ada di tempat paling aman. Rasanya Hekal bisa melakukan apapun tanpa takut terintimidasi.

“Ini serius gak apa-apa?”

“Sasa, I trust you, Sayang.”

BAGIAN PALING ANJINGGGGGGGGGGGGGGGG DARI SELURUH ANJINGGGGGGGG.

Sabar.

“What if I stop?” Tuhkan Angkasa gak mau kalah.

Dan bibir tebal Hekal yang seperti bebek gemas itu manyun sedikit, sebelum ia dengar Angkasa terbahak lagi.

Hekal merasakan kewarasannya menggelap, bagian paling diandalkannya dalam berpikir sekarang malah membayang tidak pantas. Ia pernah berciuman memang, duh Hekal berjanji untuk tidak membahas itu lagi. Namun hanya nempel-nempel tidak ikhlas saja. Sekarang dengan Angkasa, seperti kurang ajar, ia melucuti kehormatannya sendiri. Menyerahkan dirinya pada manusia paling aman untuk menjadi diri sendiri. Tidak sudi ia biarkan cinta seindah ini dimiliki orang lain, bahkan mungkin sosok paling Angkasa cintai itu. Tidak mau ia membagi rasa nyetrum akibat puji, sentuh, dan cium hari ini pada siapapun. 

Kalaupun di depan nanti Angkasa akan membagi itu entah untuk siapapun, maka Hekal akan–

Tunggu.

Hekal kenapa?

“Gue lepasin ya… celananya…” Angkasa padahal tidak perlu meminta izin.

Oh? 

Hekal sungguh cemburu kala berpikir bukan celana-nya lah yang dilepas oleh Sasa-nya.

Hah?

“Iya.”

“Sasa…. Jujur… lo pernah gini ke siapa?”

Dan saat itu tepat fabrik untuk menutupi kemaluannya teronggok di lantai, tampilkan pahanya yang sebersih tubuh atasnya. Cantik. Cantik. CANTIK BANGET ANJINGGGGG.

Hekal memanas, naik lagi desir darahnya menuju kepalanya, membawa semburat merah itu menuju titik-titik nafsu tubuh dan pipinya. Antara malu dan amarah jadi satu–mungkin tidak siap mendengar ujaran dari Angkasa.

“Gak sama siapa-siapa. Sama lo aja.”

Hekal mengalungkan tangannya pada ceruk leher Angkasa, membelai pucuk kepalanya pelan dan kasih. “Gue juga… gue mau begini… sama lo aja…. Sasa, Sasa-nya sama gue aja ya….”

Bagai disambar petir. Angkasa melotot. Ah, ini hanya mimpi bukan?

“Maaf gue nyusahin.” Ini kalimat Hekal. Lalu setelahnya Angkasa enggan mendengar karena tahu betul kemana arah pembicaraan mereka. Ia berakhir membenamkan wajahnya di atas kemaluan Hekal.

“Geli, Sasa! Lo belum cukur ya?!” Hekal memekik sembari terkikik. Angkasa lanjut menciumi bagian paling sering memberontak dan menegang itu. Lantas menahan bokong mulus Hekal dengan dua tangannya. “Umhmmmm...” Ah mungkin pemirsa bosan ketika Angkasa bilang, lagi-lagi, Hekal adalah manusia yang indahnya paling nyata.

Jujur, Hekal sebenarnya pegel berdiri. Tapi stimulasi Angkasa di bawah sana rasanya tidak tega dia interupsi.

“Sayang–Ah! Coba lo rebahan aja biar enak gue-nya.”

APA ITU ANJINGGGG? Hekal mencoba memproses semuanya, antara serpihan sisa kewarasannya untuk mendapatkan komando, ataupun sisa engahannya yang kurang ajar buat ilernya netes. Jorok.

Dan kemudian, Angkasa merebahkan Hekal di kasurnya. Membiarkan kulit tubuh Hekal menyatu dengan sprei biru muda miliknya (bukan voter 02). Merasa geraknya tidak leluasa, Angkasa putuskan celananya akan bergabung dengan seonggok helai di bawah sana.

Dan inilah gongnya.

Hekal tidak akan pernah mampu menutup mulutnya ketika friksi dan afeksi seperti ini yang ditawarkan Angkasa.

Malu menjalar buat Hekal menutup akses pada selangkangannya yang sudah sebagian basah dan lengket akibat pre-cum nya yang kemana-mana. Angkasa hanya mengikuti intuisinya ketika ia melihat paha cantik itu mencilang akibat cairan bekas mereka bergemul tadi berceceran. Ia menciumnya. Ia menjilatnya. Ia mengecupnya sayang. Hekal berani bersumpah, tidak perlu Angkasa begitu sih kalo gak sekarang dia muncrat lagi!

Dan lidah mahir Angkasa bergerilya sembari tangannya memisahkan antara dua paha Hekal. Memiliki akses penuh pada kejantanannya, Angkasa dengan telaten memanjakannya, membubuhkan kecup dan cium. Lalu curi-curi pandang ke atas, mencari validasi yang ia dapatkan dalam wujud wajah cantik milik Hekal. Walaupun suara “AH!” “Nghhhh.” “Sasaahh! Enak!” bergaung silih berganti. Namun rasanya tidak cukup jika hanya dari satu sumber saja.

“Sasa–mnhmahmmhhngh…” Hekal merasakan miliknya mengeluarkan air lagi, ia cuma takut pipis, sih. Setelah dilihatnya ke bawah, “Angkasa!” lolongnya tertahan bersamaan dengan  Angkasa yang mengulum habis seluruh batang penis miliknya.

Rasanya asing, tetapi naluri binatangnya mungkin sedang ingin membantunya untuk mengemut milik Hekal dengan gugup. Ya menurut kalian saja? It’s Sasa’s first time doing blowjob. He takes it very gently, padahal Hekal gapapa kalo dikasarin (?) Tapi belum masuk ke inti persetubuhan saja dia sudah sebegininya ya….

Anjing. Ujung tenggorokan Angkasa menabrak ujung penisnya. Atau ujung penisnya yang kurang ajar membentur pada ujung tenggorokannya. Hekal terlalu bodoh untuk memikirkannya sekarang. Yang ia tau hanya… “Sasa, Enak banget.” ; “SASA–Oh God, enak.” ; “Sasa, cepetin aja.” dan racauan bersemangat lainnya membuat Angkasa ingin–

keluar.

“Sasa maaf…. Jadi keluar di mulut lo.”

Angkasa terdiam beberapa saat, mengecap rasa asing yang tertinggal di pangkal lidahnya sebelum akhirnya menelan semuanya dengan sekali tegukan berat. Ia mendongak, menyeka sisa cairan putih yang tertinggal di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Matanya yang sedikit berair menatap Hekal yang saat ini masih terengah-engah di atas kasur. Wajah cowok itu merah padam, dengan rambut berantakan dan dada yang naik turun dengan cepat.

Angkasa menyusul dengan ciuman sayang pada bibir Hekal. “Gue gamau ya besok-besok lo sebut nama William lagi, seakan gue ga pernah cium lo kayak gini.”

Hekal membalas dengan ciuman. “Let’s talk about that later, Sasa. Gue beneran masih sange liat lo telanjang gini.”

Pintu kos berukuran standar yang dibiarkan terkunci itu simpan rahasia baik-baik. Menjaga dua insan yang sama laparnya. Dan berbekal sesendok kewarasan yang tersisa, nafsu yang mengiung sekujur tubuh, dan perasaan menggebu yang meletup menyenangkan.

“Sasa, gue mau dimasukin!; “Hekal jangan dijepit!” ; “Hekal, sayang, sabar.” ; “Sasa, enak banget!” ;lolongan, desahan, dan  suara sejenisnya secara kurang ajar habiskan sisa malam mereka.


“Sasa, panggil gue sayang terus, ya?”