Work Text:
Hari ini, keluarga Jeon dapat undangan kawinan saudara dari pihak papa. Acaranya di luar kota dan mereka dikasih fasilitas kamar buat nginep di hotel yang sama tempat acara berlangsung. Keluarga itu bisa sekalian liburan mumpung Jisoo juga sedang minggu liburan sekolah.
Jun sama Wonwoo sibuk keliling nemuin saudara yang emang udah lama ga bersua. Tinggal di kota yang jauh dan dengan kesibukan masing-masing membuat mereka jarang ketemu. Namun Jun cukup akrab dengan beberapa saudara Wonwoo yang memang cukup banyak itu. Empat bersaudara.
"Oh iya, Jun. Kamu mungkin udah lupa. Ini Mingyu, keponakan istrinya Changkyun. Dulu pas masih umur 4 tahun dia ikut ke rumah tengokin Jisoo yang masih bayi." Wonwoo mengenalkan istrinya pada keponakan dari saudara iparnya, istri dari adiknya yang nomor 3.
Jun yang emang udah lupa karena sudah lama itu mengulurkan tangan sambil tersenyum kikuk pada pemuda yang sudah tumbuh sangat besar dan tinggi.
"Kamu- udah gede ya." sapa Jun dengan suara gemetar. Mungkin gugup.
"Iya lah, tante. Masa kecil terus. Udah gede nih, udah bisa nyari banyak cewek."
"Kamu tuh kuliah yang bener. Kuliah deket rumah om, kenapa ga pernah mampir sih, Gyu? Udah semester berapa kamu?"
"Baru semester empat, om. Emang Mingyu boleh mampir rumah, om?"
"Ya boleh dong. Nanti tante kamu masakin yang enak. Udang asam manisnya enak banget. Ya kan, sayang?" Wonwoo merangkul Jun membanggakan istrinya.
"Eh, iya mas. M-mampir aja Gyu kapan-kapan."
"Oke deh. Nanti Mingyu mampir. Jisoonya ga ikut, om?" pemuda bongsor dan berotot itu celingkuan nyariin sepupu jauhnya.
"Jisoo tadi bilang ga enak badan jadi naik duluan. Aku khawatir deh, ma. Aku lihatin Jisoo ke atas ya? Mingyu. Titip si tante, ya?"
"Iya, om. Siap. Mingyu jagain tante Jun. Boleh kan, tante?"
"Eh, iya mas. Kamu coba lihat, nanti aku nyusul."
Jun tampak kembali berbaur dengan saudara lain sementara Wonwoo berjalan ke lift menuju lantai kamar mereka. Di depan kamar 1712 Wonwoo mengetuk pintu. Tapi anaknya itu tak juga memberi jawaban. Diketuk lagi dan masih belum ada yang membuka pintu. Wonwoo jadi khawatir.
Wonwoo masuk lewat kamarnya sendiri dengan Jun karena memang ada connecting door menuju kamar Jisoo. Dan Wonwoo malah dibuat terkejut begitu membuka pintu penghubungnya. Dari balik dinding kacanya, ia menemukan Jisoo tengah mendesah di dalam kamar mandi dengan mulut terbuka sambil pinggulnya maju mundur menabrak dinding marmer yang sudah menempel dildo karet di sana.
Jisoo yang ketahuan papanya bukannya berhenti malah makin cepetin genjotannya nunggangin kontol palsu yang bisa-bisanya Jisoo bawa bahkan sampai luar kota begini. Jisoo nungging sambil ngangkat rok dari dress warna hijau lumutnya. Bokong polosnya kelihatan menyembul di belakang sana.
Dress yang memang berpotongan dada rendah itu mampu menyembulkan toket Jisoo yang montok, menggantung bergoyang di bawah dadanya. Cropped blazer yang tadi dipakai jadi luaran sudah tergeletak di atas kasur. Jisoo terus goyang sambil lihatin papanya dan ngedesah makin kencang.
"Ahhh papaahhhh fuck meeehhh hhmhhh hhnghh… ."
Wonwoo, walau udah nelen ludahnya ngiler lihat sang anak, cuma bersandar di pintu kamar mandi sambil bersedekap.
"Lanjutin sampai buncat. Mama masih di bawah."
"Hhmhhh hhnghh ahhh ahhh dalemhhh ahh ahhh mauhh punya papaahh ahh ahhhh… ." Jisoo ngeremes sendiri toketnya sambil masih nyodokin bokong ke belakang. Frustasi karena objek fantasinya malah cuma diam berdiri di depannya.
Tadi selama acara upacara yang khidmat, Jisoo salfok sama papanya yang hari itu kelihatan ganteng banget. Papanya hadir dibalut kemeja hitam dan setelan suit senada sama dress punya Jisoo, sama Jun juga. Jam tangan mewah di pergelangannya, pantofel hitam mengkilap, kacamata besar serta bulu janggut yang memang sengaja dipelihara Wonwoo belakangan ini, membuatnya tampak seperti middle aged daddy material seperti yang suka ada di film-film itu. Ganteng, mahal dan seksi.
Saat acara jamuan berlangsung, Jisoo terus-terusan ngejepit memeknya sendiri yang mulai gatel dan berkedut ga berhenti. Itilnya ngaceng dan makin keras tiap denger suara berat papanya ngobrol sama orang. Akhirnya Jisoo pilih pamit ke kamar dengan alasan ga enak badan.
Yang tak disangka oleh Wonwoo, anaknya itu malah lagi dientot sama tembok hotel yang tiba-tiba punya kontol portable.
"Jisoo, kamu bisa sayang."
"AAACHHHH ahhhnghhhh yaah yaah papaahh ahh ahh… ." lagi-lagi suara berat Wonwoo membuat memek Jisoo makin menggila.
Desahannya ribut bersamaan dengan bunyi becek dari memeknya yang disodokin kontol karet. Jisoo neken pentilnya makin kenceng terus dipelintirin putingnya sendiri dari balik dress. Wonwoo terus nontonin anaknya ngentotin dildo sambil gosokin batangnya di balik celana.
Lihat kontol papa yang ngecap gede di celananya Jisoo seketika dapet klimaks bikin pinggulnya maju-maju kejang. Wonwoo segera tangkap tubuh anaknya yang hampir ambruk itu, dipeluk dan disandarkan ke wastafel di sebelahnya. Wonwoo cumbu anaknya lewat ciuman yang tak polos karena dia sendiri juga jadi ikutan sange.
Sambil bibirnya dilumat sang papa, Jisoo yang mulai sadar dari tingginya ngelepasin jas papa yang mengkilap dan mahal itu. Digantung asal ke gantungan baju karena Jisoo ga sabar gerayangin badan lebar dan atletis papanya yang ngepas di balik kemejanya. Jemari lentiknya meraba dan bermain di depan dada sang papa yang juga montok dan kencang.
Sementara Wonwoo sendiri, sambil ngisepin bibir Jisoo sambil tangannya juga keliaran di badan anaknya yang tampak seksi dalam balutan A-cut dress selutut dengan kerah model halter. Pinggangnya dirangkul posesif dan bokongnya diremesin sampai ngelusin pahanya yang mulus.
"Hhmhhhh hhnghhh ahhh papaahhh… ." Jisoo rangkul punggung papanya sambil naikin satu kaki karena sang papa lagi ngelusin bokong dan pahanya dari balik dress. Mulut sang papa juga udah basahin dagu dan leher Jisoo lewat jilatan dan pagutan lembut tanpa bekas.
Selangkangan Jisoo ditarik makin nempel sama gundukan papa yang juga makin gede. Jisoo reflek goyangin pinggulnya gesekin memeknya ke gundukan itu. Tapi belum sampai jauh, Wonwoo malah ngebalik badan anaknya jadi madep kaca yang besar. Tapi tubuhnya tak meninggalkan Jisoo barang sesentipun.
Kontol ngacengnya yang nyembul nusukin bokong Jisoo sementara tangannya ngulenin dada anaknya yang udah gede dan montok.
"Hhmhh wangi dan manis, sayang."
Wonwoo tarik kedua strip gaun Jisoo sampai dua pentilnya mantul bebas di depan sana. Dari pantulan kaca, Jisoo bisa lihat papanya yang jilatin punggungnya sambil remesin toket yang areolanya makin cokelat dan lebar itu. Putingnya digodain sama jari papa yang kasar dan besar. Jisoo mangap ngedesahin terus manggil papanya yang kelihatan seksi banget itu.
Bulu janggut papanya bikin nambahin geli di belakang sana. Belum lagi sodokan kontol ngaceng di belahan pantatnya bikin Jisoo ngedongak sambil jambakin Wonwoo yang lagi ngemutin bahu anaknya.
"Anak papa beneran makin nakal, ya?" Wonwoo pelintir barengan puting Jisoo bikin anaknya menggeliat dalam kungkungannya.
"Memek ini makin murahan aja, sampai minta dientot tembok hotel." tangan kiri Wonwoo nguyek memek Jisoo yang basah berlendir bekas orgasmenya tadi. Jisoo makin nunggingin bokongnya dan ngeremes pinggiran wastafel.
Wonwoo bawa bekas cairan Jisoo dan diarahin ke mulut anaknya buat dibersihin sendiri. Sementara tangan kanannya mulai ngelepasin gesper sampai celananya turun jatuh ke lantai. Jisoo bisa rasain batang kontol gede nepok bokongnya dan bikin dia ngejingkat kaget.
Wonwoo naikin rok anaknya, dan nempelin batang kontolnya ke belahan pantat yang ia buka paka dua tangannya. Wonwoo ngeludah tepat di atas kontolnya buat dijadiin pelumas biar licin.
"Hahhh lihat memek kamu cengap-cengap udah ga sabar, nak hhhh… ."
"Hhhnghh mauuhhh kontol papahhh… ."
"Nunduk kamu." Wonwoo dorong tubuh putrinya sampai beneran nungging lurus sama wastafel. Pentil Jisoo yang ngegantung jadi kegencet di meja marmer itu. Dingin permukaannya bikin memek Jisoo kedutan lagi.
Wonwoo berlutut di belakang sana, ngebuka kaki Jisoo lebih lebar juga belah pantatnya. Lidahnya ngejulur, langsung nusuk lubang mangap-mangap yang ga sabaran itu. Jisoo memekik ngerasain lidah papanya mulai ngejamah bibir bawahnya. Lidah kasar itu maju mundur nusuk ke lubang yang lembut dan licin itu.
Bunyinya becek dan porno pas lidah Wonwoo ngocok cepet di sana. Sambil sesekali ngejilat sampai ke anal Jisoo lalu ngocok lagi di depan lubangnya. Wonwoo juga ngisep dan gigitin pipi bokong Jisoo sampai bunyi slurpnya kenceng. Jangan lupakan bulu janggut Wonwoo yang nambahin sensasi tusukan geli bikin Jisoo makin merinding dibuatnya.
"Ahhh yesss papaahhh hhnnghhh… ." Jisoo cuma bisa desah sambil remes pinggiran wastafel. Walau heels di kakinya cukup bikin pegel tapi nikmat jamahan Wonwoo mampu ngilangin capeknya.
Wonwoo berdiri dengan setengah mukanya total basah. Dia pepet badan anaknya, didongakin buat diajakin ciuman. Bibir mereka sungguh sudah menyatu sempurna. Setiap ritme yang dihasilkan selalu senada, lengkap dengan jilatan dan pertarungan lidahnya. Practice makes perfect.
Bibir saling melilit, tangan ngeremes toket dan di belakang sana Wonwoo mulai arahin kontolnya ke lubang Jisoo. Sepatu heelsnya bikin Jisoo jadi lebih tinggi dan posturnya jadi ngingetin Wonwoo sama Jun. Kontol Wonwoo masuk dengan tanpa perlawanan karena sisa rojokan dildo tadi masih ada.
Kelamin mereka menyatu sempurna selengket lidah yang berbelit menari. Wonwoo langsung ngehentak kencang nabrakin bokong anaknya yang kenyal dan montok. Setiap Wonwoo ngerojok masuk, memek Jisoo juga ngetat ngejepit kontol papanya. Sensasi sempitnya bikin Wonwoo kelimpungan saking enaknya.
"Ahhh sayangkuhhh makin jagoo ahhh enak sayanghhh… ."
"Anghh hhnghhh papahh yang ajarinhhh ahhhh ahhh… ."
"Anak papahhh emang pinter ahhhh… ."
Wonwoo remes lagi dua toket Jisoo barengan sambil nyepetin sodokannya. Suara desahan mereka memantul di dinding kaca kamar mandi yang cukup luas itu. Setiap Wonwoo jepit putingnya, Jisoo ikut ngetatin memek ngerasain gelinya. Wonwoo jadi kegirangan karena kontolnya beneran dienakin full service.
Tatapan keduanya bertemu lewat pantulan kaca. Wonwoo tarik dasinya dan lepasin tiga kancing atas kemejanya. Jisoo lihat papanya seseksi itu makin mendesah kencang dengan mulut terbuka, matanya menyipit sayu merasakan garukan kontol papa di dalam memeknya. Keringat basah membuat sebagian anak rambut Jisoo yang digerai menempel di wajahnya. Sambil tak henti menghentak, Wonwoo singkirkan helai yang mengganggu kecantikan wajah anaknya.
Wonwoo cium pipi anaknya tanpa memutuskan kaitan pandangan mereka. Pinggul Wonwoo yang diputer ngulen sampai bikin Jisoo merem saking enaknya. Apalagi sambil Wonwoo juga emut cuping Jisoo makin nambah nikmat. Kedutan makin intens di memeknya juga memanjakan Wonwoo yang hampir kesetanan.
Kelamin mereka berpisah sebentar saat Wonwoo membalik Jisoo dan menaikkannya ke atas meja wastafel. Kaki Jisoo ngangkang, memek mulusnya tampak merah dan basah. Wonwoo elus lagi kelamin putrinya itu. Lalu digosok, disodokin itilnya pakai ujung kontolnya yang udah bengkak. Tiap kontol papa ngenain itilnya, Jisoo merintih memanggil papanya.
"Hhmhhhh yeess hhhmhhhhh ahhhh… ." wajah Jisoo yang keenakan dientot selalu makin cantik berlipat dari biasanya.
Apalagi saat batang gede itu masuk menuhin lagi lubangnya. Jisoo cengkram pundak Wonwoo sambil gigit bibirnya sendiri. Wonwoo tarik lagi baju anaknya makin turun. Ngebebasin dua pentil yang juga terus menggoda ingin dimainkan. Sambil pinggul bekerja keras, sambil Wonwoo mainin dua pentil itu barengan. Diremas sambil jempolnya ngusapin puting ngaceng yang selalu enak buat dikenyot.
"Ahhmhhhh yeess papaaahhh… ."
Wonwoo nunduk buat nyusu di pentil kiri Jisoo yang nyender pasrah ke kaca. Dia jambakin rambut papanya tiap kali Wonwoo nyedot kenceng kayak bayi besar yang lapar. Kaki Jisoo ngalung di punggung papanya yang sambil nyusu sambil ngulen ngubur kontolnya makin dalem.
Suara plop terdengar pas Wonwoo lepasin pentil Jisoo yang jadi merah. Wonwoo tatap intens putrinya seiring genjotannya yang juga makin cepat dan dalam. Jisoo pegangan erat ke leher papanya karena badannya jadi mantul-mantul akibat disodokin papa. Wonwoo kungkung tubuh putrinya dengan kedua lengannya menumpu pada kaca.
Dari raut keduanya, serta kelamin yang saling berkedut cepat, mereka sama-sama tahu ujung itu sudah tak lama lagi. Desah dan bunyi kulit beradu memantul di dinding kamar mandi yang tak seberapa luas itu. Entah juga kalau sampai suara mereka tembus keluar. Wonwoo tak peduli.
Ia lebih peduli Jisoo yang makin merengek dan menangis digenjot dalam hingga tubuhnya kejang di atas wastafel mendapatkan klimaksnya. Wonwoo menyusul tak lama setelah beberapa tusukan berikutnya. Otot memek yang mengetat memijat kontolnya makin membuat semburan pejunya membanjiri lubang Jisoo. Keduanya berlomba menarik oksigen sampai kaca di belakang mereka ikut buram akibat pergulatan intens yang baru saja mereka jalani.
Kontol Wonwoo masih terus di dalam Jisoo karena tak rela menyiakan pijatan nikmatnya. Wonwoo ajak Jisoo buat ciuman pasca orgasme bersama mereka. Lumatan yang lembut dan hangat, selalu terasa manis dan tak pernah membuat bosan. Tubuh Jisoo didekap erat sang papa membuatnya merasakan aman dan nyaman. Ciuman yang memabukkan itu pun perlahan menuntun mereka untuk melanjutkan yang tak pernah cukup sekali saja.
Wonwoo gendong tubuh Jisoo dengan kontol masih nancep di memek putrinya, dibawa ke kasur lalu dibanting sampai mantul. Jisoo menatap tak sabar papanya yang sibuk dengan ponsel di meja sambil melepas gaunnya sampai telanjang. Setelah juga melepas menelanjangi diri, Wonwoo langsung menubruk Jisoo di atas kasur. Jisoo menjerit sambil tertawa dan langsung kembali dikuasai sama ciuman papa yang selalu bikin ketagihan itu.
"Papah chat sama siapa?" tanya Jisoo setelah ciuman papanya pindah ke wajahnya.
"Papa bales mama. Katanya masih ngobrol di bawah sama tante Chaerin." Chaerin itu adik bungsu Wonwoo.
Wonwoo cium kening putrinya lama. Lalu pipinya, sama hidungnya dan berakhir mengecup bibir yang sudah sangat bengkak itu.
"Jadi, kita bisa lanjut lagi kan, pa? Jisoo masih kurang."
"Of course, sayang. Ga pengen emut kontol papa?"
"Minat banget. Siniin pah."
Wonwoo beringsut naik, ngangkangin pentil Jisoo dan ngepasin kontol setengah loyonya ke mulut Jisoo yang siap mangap. Wonwoo sampai merem sambil pegangan headbord rasain lidah Jisoo yang ngelilit batangnya sambil diemut itu.
"Ahhhh surga banget sayang hhmhhh iyaahhh anak papa pinter… ."
"Enakan mana sepongan aku sama mama?" Jisoo nanya sambil masih ngurut kontol papanya.
Wonwoo sempet mikir sebentar. Kalau diingat, dia udah lama juga ga ngesex sama Jun. Apalagi sampai main oral. Wonwoo terlalu asik sama mainan barunya, anaknya itu. Sampai hampir lupa gimana kehidupan ranjangnya bareng Jun.
"Enak kamu, sayang. Mama juga enak kamu lebih enak lagi. Emut lagi dong nanti papa mentokin."
Wonwoo agak jambak rambut Jisoo buat dipegangin sambil kontolnya didorong masuk sampai mentok. Pinggulnya maju mundur pelan, pahanya gilesin pentil Jisoo yang kenyal dan empuk. Wonwoo berhenti beberapa saat sambil mengerang keenakan. Ujung kontolnya nutupin kerongkongan Jisoo bikin anaknya ga bisa nafas. Jisoo nelen ludah yang ngumpul di tenggorokannya nambahin sensasi enak buat Wonwoo.
Lima detik kemudian Jisoo tepukin bokong papanya tanda dia kehabisan nafas. Wonwoo keluarin kontol ngacengnya lihatin Jisoo yang ngos-ngosan nyari oksigen. Si bapak nunduk buat nyiumin tubuh putrinya lalu berhenti di pentil montok dan nyusu di sana. Mungkin perasaan Wonwoo saja tapi pentil Jisoo berasa makin besar dan putingnya juga makin menonjol keras. Bikin Wonwoo makin keenakan dan ketagihan nyedotin pentil anaknya.
"Ahhh papaahhh mau nyusuin papah terusss sedot susunya paaahhh… ."
Wonwoo berimajinasi ada susu manis yang ngalir dari puting Jisoo bikin liurnya makin banjir basahin dada anaknya. Jisoo udah ngerasain perih, tapi rasa enak dan gelinya bikin memeknya makin gatel. Dia cengkram tubuh papanya pakai kaki buat gesekin memeknya ke kontol papa yang masih gantung.
"Pasin sendiri, sayang. Pinter, kan?"
Wonwoo nurunin pinggulnya tepat di atas selangkangan sang anak. Sambil pentilnya diisep, Jisoo ngarahin ujung kontol papanya ke memeknya sendiri. Dimasukin mandiri sebelum lalu Wonwoo ngedorong sampai tenggelam semuanya. Jisoo masih ngunci paha papanya jadi makin erat nempel sama dia.
Wonwoo pindah ke toket kanan Jisoo dan tusukannya mulai makin kuat dan cepat. Jisoo jambakin aja rambut papanya sambil teriak keenakan dientot sambil diisep pentilnya. Jisoo juga nakal gerakin pinggulnya muter dan ngetatin memeknya ngegiles kontol Wonwoo bikin papanya makin ngerasa gila.
"Yes baby. Anak papahhh pinter ahhh… ."
Jisoo tarik Wonwoo buat diajakin ciuman. Sambil memeknya terus dirojok sambil lidahnya dibelit sama papa, Jisoo benar-benar lupa daratan. Lupa soal mamanya, lupa soal status mereka. Yang ga lupa, Jisoo suka sekali begini dengan papanya. Jisoo sangat suka hanya berdua dan seintim ini sama papanya. Jisoo ga tertarik sama yang lain. Jisoo cuma mau sama papanya.
Tubuh Jisoo bangun ditarik Wonwoo sampai duduk di atas pangkuannya. Jisoo pegangan pundak papanya dan ikut naik turunin pinggul genjot kontol papa yang nusuk lawan arah sama dia. Kulit mereka bertepukan nyaring seperti ada perayaan meriah. Tubuh basah oleh keringat, rambut berantakan dan desah di sela nafas tersengal menjadi pemandangan erotis yang tak kalah dengan yang terjadi di kamar sebelah.
"Papahhh Jisoo buncat papahh ahhh ahhh… ."
"Bareng sayang. Papa hamilin kamu uhh uhh… ."
Tubuh Jisoo melengkung ke belakang, pinggangnya dipegang sama papa yang ngerojok makin cepat dan kuat. Kepala Jisoo mendongak rasain enak rojokan kontol papa ngedobrak memeknya yang terus ngetat makin sempit.
"Ahhh aahhh ahhh ahhh yaahhh yaahhh paaaahh aahahhhh… ." Jisoo mantul kejang sampai mau lompat dari pangkuan Wonwoo.
Wonwoo segera dekap tubuh putrinya sambil nyodok makin cepet dan nyusul buncat ga lama kemudian.
Tubuh mereka nempel erat banget, keringat yang banjir seperti jadi lem yang ga bisa pisahin keduanya. Wonwoo tangkup wajah putrinya dan diajak ciuman kesekian kalinya. Ciuman yang lebih lembut dan tak terburu menyalurkan rasa yang makin mengakar kuat tiap seusai sesi intim mereka.
Tanpa sadar, rasa sayang Wonwoo kepada Jisoo jadi tumbuh semakin besar ketimbang kepada Jun. Pun begitu dia tetap menyayangi istri yang sudah menemani lebih dari setengah umurnya. Wonwoo tak bisa membayangkan kalau harus kehilangan dua wanita itu dari hidupnya.
"Di sebelah kayaknya lagi asik juga kayak kita, pah."
"Iya. Berisik banget sampai sini suaranya." Wonwoo kecup lagi pipi Jisoo. Gadis itu tertawa digelitik ciuman papanya yang penuh di seluruh wajah cantiknya.
"Jisoo sayang. Mandi dulu yuk, sebelum mama datang."
"Gendong ya, papa. Jisoo capek."
Manjanya Jisoo selalu jadi kesukaan Wonwoo. Sehabis mandi, tanpa sesi tambahan lagi Wonwoo bawa tubuh Jisoo yang udah pakai piyama gambar kucing ke atas kasur. Diselimuti nyaman, pakai selimut dan sprei baru, dan Wonwoo ikut berbaring di sebelahnya.
Keduanya terlelap ke alam mimpi sambil berpelukan hangat
