Chapter Text
Suasana kamar yang tadinya hening langsung pecah oleh suara klik mouse yang bergetar. Layar monitor berkedip, menampilkan halaman pengumuman seleksi CPNS yang sudah dinanti-nantikan Dohoon selama berbulan-bulan.
Matanya memicing, menyusuri baris demi baris kalimat yang ada disana. Dan hasilnya, ia dinyatakan gagal.
"Sial..gagal lagi," desis Dohoon pelan.
Dia mendengus kasar, bersandar pada kursi dengan perasaan campur aduk antara kecewa dan jengkel. Tangannya terangkat, mengacak-acak rambutnya sendiri sampai berantakan karena frustrasi. Ini bukan pertama kalinya dia mendapati hasil gagal seperti ini, tapi entah kenapa rasa kesalnya selalu sama.
Karena tenggorokannya mendadak terasa kering dan panas, Dohoon akhirnya memutuskan untuk turun ke lantai bawah. Langkah kaki diseret malas menuju dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari kulkas untuk mendinginkan kepalanya yang hampir meledak.
Namun, baru saja dia meneguk air dingin itu hingga setengah gelas, suara langkah kaki yang familier terdengar mendekat. Ibunya baru saja muncul dari arah ruang tengah dan langsung menatapnya dengan pandangan penuh tuntutan.
“Gimana hasil tesmu?” tanya ibunya tanpa basa-basi.
Uhuk!
Dohoon tersedak. Air dingin yang baru saja masuk ke tenggorokannya hampir menyembur keluar. Dia terbatuk-batuk kecil sambil buru-buru mengusap bibirnya yang basah. Dohoon menundukkan kepala, menghindari tatapan tajam sang ibu, lalu menjawab dengan suara yang luar biasa pelan dan terkekeh sumir.
“Maaf...”
“Gagal lagi?!” Suara ibunya langsung meninggi, memotong kalimat Dohoon sebelum pria itu sempat membela diri. “Sudah berapa kali kamu mau gagal, Dohoon?!”
Dohoon hanya bisa membisu.
“Umur kamu udah berapa, Dohoon?! Teman-teman seangkatanmu sudah pada kerja, ada yang sudah beli mobil, ada yang sudah mapan. Sementara kamu? Masih aja pengangguran! Disuruh ikut tes CPNS yang udah Ibu persiapkan aja gagal terus! Haduh, pusing Ibu mikirin masa depanmu.” Omelan itu mengalir deras tanpa henti, menusuk tepat ke harga diri Dohoon.
Napas Dohoon memburu. Dia sudah tidak sanggup lagi berdiri di dapur itu untuk mendengarkan sisa omelan ibunya yang pasti akan merembet ke mana-mana. Tanpa sepatah kata pun, Dohoon meletakkan gelasnya dengan agak kasar, menyambar jaketnya yang tersampir di kursi, dan langsung melangkah cepat pergi keluar rumah.
Ujung-ujungnya, tempat pelarian terbaik bagi seorang pengangguran adalah warnet. Di sinilah Dohoon sekarang, duduk di sebelah Jihoon, teman dekatnya yang kebetulan juga lagi senggang. Suara bising ketikan keyboard dan efek suara dari game di sekitar mereka tidak menghentikan Dohoon untuk terus mengoceh.
"Gue jengkel banget, Ji. Sumpah," adu Dohoon sambil menatap layar komputernya dengan pandangan kosong, sementara tangannya asal menggerakkan mouse. "Baru juga turun tangga, mau minum, udah langsung diberondong omelan. Kayak gue kagak sedih aja gagal lagi."
Jihoon yang sedang fokus memakai headphone di sebelah Dohoon hanya melirik malas. Alih-alih membela atau menenangkan Dohoon yang lagi emosi, Jihoon malah mendengus remeh.
"Ya kalau gue jadi ibu lu, lu juga bakal gue omelin kali," sahut Jihoon telak tanpa beban. "Coba lu ngaca. Hidup lu sekarang cuma makan, main game, tidur, terus ngulangin lagi besoknya. Orang tua mana yang nggak pusing liat anaknya begitu?"
Dohoon langsung mendesah berat, bersandar lesu ke kursi warnetnya yang empuk. Kalimat Jihoon barusan bukannya bikin tenang, malah makin menambah beban pikirannya.
"Ya gue juga udah coba daftar kerja kali, Ji! Jangan kira gue diam aja ya," bela Dohoon dengan nada frustrasi. "Tapi ya gimana lho, kagak ada satu pun perusahaan yang nyangkut! Semuanya mental di tahap berkas atau wawancara. Ijazah S1 gue yang mahal-mahal itu kayaknya sia-sia banget sekarang.”
Jihoon yang mendengar keluhan panjang itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. Dia tahu betul bagaimana kerasnya persaingan cari kerja di kota besar saat ini, tapi dia juga tidak bisa membenarkan Dohoon yang cepat menyerah.
"Udah ah, nggak usah meratapi nasib mulu. Nih, buruan ready, match-nya udah mau mulai." ajak Jihoon sambil menunjuk layar monitor Dohoon dengan dagunya.
Dohoon mengembuskan napas panjang sekali lagi, berusaha membuang sisa-sisa kekesalannya. Dia membetulkan posisi duduknya, memakai headphone-nya kembali, dan mulai fokus ke layar komputer. Mereka berdua pun akhirnya lanjut bermain game lagi di tengah kepungan asap rokok dan kebisingan warnet.
Setelah puas menghabiskan sisa malam di warnet bersama Jihoon sampai subuh, Dohoon pulang dengan langkah mengendap-endap, langsung melempar tubuhnya ke kasur, dan tidur pulas. Bagi Dohoon, tidur adalah satu-satunya cara paling ampuh untuk kabur dari kenyataan pahit bahwa dia adalah seorang pengangguran berijazah S1.
Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama.
Pagi-pagi sekali, gedoran pintu kamarnya terdengar bertalu-talu, disusul suara melengking ibunya yang langsung merusak mimpi indahnya. Dohoon dipaksa bangun detik itu juga. Alasannya? Sang ibu minta ditemani ke pasar.
"Aduh, Bu... Dohoon masih ngantuk banget, semalam baru tidur subuh," keluh Dohoon dengan suara serak, menarik selimutnya sampai ke kepala. "Lagian pasar kan dekat, naik angkot aja kenapa sih, Bu? Atau jalan kaki kan sekalian olahraga pagi..." Dohoon terus meracau, mengeluarkan seribu satu alasan demi mempertahankan posisi nyamannya di kasur.
Tapi ibunya tentu lebih pintar. Setelah diancam tidak akan diberi jatah makan seharian, Dohoon akhirnya mengalah dengan terpaksa. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, muka bantal, dan celana kolor andalannya, dia menyalakan motor dan mengantar ibunya ke pasar. Tapi dasar Dohoon, begitu ibunya baru saja turun di depan gerbang pasar, dia langsung pamit pulang duluan dengan alasan perutnya mendadak mulas.
Begitu sampai di rumah, suasana sepi langsung menyambutnya. Ibunya pasti bakal lama di pasar karena hobi menawar dan bergosip. Dohoon tersenyum puas. Ini adalah waktu pribadinya.
Dia segera melangkah ke dapur, menyalakan kompor, dan memasak sebungkus mi instan kuah pedas lengkap dengan telur setengah matang. Begitu mi matang, Dohoon membawanya ke ruang tengah. Dia menyalakan televisi besar, membuka aplikasi Netflix, dan memutar episode terbaru dari drama Korea yang sedang booming minggu ini.
Dohoon duduk bersila di depan TV, menyuap mi instan yang masih mengepul, sambil matanya fokus menatap layar.
Menjadi pengangguran memang menyenangkan... bisik hatinya.
Entahlah, untuk sekarang Dohoon tidak mau pusing dulu. Dia tidak mau direcokin soal lamaran kerja, tes CPNS yang gagal, atau pertanyaan-pertanyaan masa depan yang bikin kepalanya mau pecah. Yang penting sekarang ada mi instan hangat, drama yang seru, dan rumah yang tenang tanpa ada kehadiran ibunya. Begitu kuah mi di mangkuknya habis tak bersisa, rasa kantuk kembali menyerangnya akibat embusan angin dari AC di ruang tengah. Perlahan, mata Dohoon terpejam hingga akhirnya dia ketiduran di sofa, tepat di depan TV yang masih menyala.
"Dohoon! Bangun kamu! Malah tidur di sini lagi!"
Badan Dohoon terguncang hebat. Dia mengerang kecil, mengerjapkan matanya yang masih lengket. Samar-samar, dia melihat ibunya sudah berdiri di sampingnya dengan wajah datar, masih memakai daster dan membawa tas belanjaan dari pasar. Dohoon mengubah posisinya menjadi duduk sambil mengucek mata, nyawanya masih melayang di udara. "Apasih, Bu... ganggu orang tidur aja," gumamnya sebal.
Bukannya menjawab dengan omelan panjang seperti biasanya, ibunya kali ini justru diam. Tak lama, ibunya merogoh sesuatu dari dalam tasnya, lalu menyodorkan beberapa lembaran kertas putih berisi dokumen resmi tepat di depan wajah Dohoon. Dohoon menatap kertas itu dengan dahi mengernyit dalam. Matanya yang tadinya sayu langsung memicing, membaca deretan logo instansi pemerintah dan judul besar yang tercetak tebal di bagian atas kertas tersebut.
"Apaan nih?" tanya Dohoon dengan nada bingung sekaligus curiga.
Ibunya melipat tangan di dada, menatap Dohoon dengan senyuman.
“Ibu nemu hal yang cocok buat kamu. Daripada kamu enggak ada kerjaan.”
Dohoon mengembuskan napas pendek, melempar pandangannya ke langit-langit rumah dengan malas. “Apa lagi sih, Bu? Ibu daftarin aku apalagi? Kan Dohoon udah bilang, Dohoon selalu gagal kalau ikut tes. Mau dipaksa sampai kiamat juga kalau emang belum rezekinya ya enggak bakal lolos,” sahutnya ketus, bersiap untuk kembali merebahkan diri ke sofa.
“Yang ini dijamin kamu enggak akan gagal!” Ibunya langsung menyela dengan cepat, merebut atensi Dohoon seketika.
Sebelum Dohoon sempat protes, sang ibu kembali menyodorkan lembaran kertas putih itu lebih dekat ke wajah anaknya. Dohoon yang penasaran akhirnya menyambar kertas tersebut. Begitu matanya membaca barisan kalimat paling atas yang dicetak dengan huruf kapital tebal, matanya langsung membelalak.
“Formulir Program Tunjangan Pernikahan Nasional...” Dohoon mengeja kalimat itu dengan seksama takut-takut ia salah baca.
“Hah? Apaan sih ini!!”
Dohoon benar-benar terkejut. Jantungnya mencelos saat jempolnya bergeser ke kolom pengisian data. Di sana, semua identitas dirinya—mulai dari nama lengkap, tanggal lahir, nomor KTP, sampai riwayat pendidikan S1-nya—sudah terisi rapi dengan tulisan tangan ibunya yang tegak bersambung. Ibunya benar-benar sudah mendaftarkan dirinya tanpa izin.
Dohoon kemudian buru-buru membalik kertas tersebut ke halaman kedua. Di sana tertera penjelasan detail mengenai program dari kementerian tersebut, lengkap dengan poin-poin persyaratan resmi yang tertulis:
KETENTUAN DAN PERSYARATAN PROGRAM
Sistem Kepesertaan: Warga dewasa dari kota maupun desa yang masih lajang bisa mendaftar secara sukarela, atau didaftarkan oleh anggota keluarga, ataupun berdasarkan rekomendasi pemerintah daerah setempat.
Sistem Alokasi Penjodohan: Sistem akan mempertemukan para peserta dari desa dan kota berdasarkan kecocokan (usia, pendidikan, pekerjaan, minat, nilai hidup, dll.) Pemeriksaan latar belakang akan dilakukan secara ketat oleh lembaga terkait demi keamanan.
Prosedur Pencocokan: Setelah masa perkenalan yang ditentukan, jika kedua belah pihak setuju, maka mereka wajib melakukan daftar ulang untuk kemudian sah dinikahkan oleh negara.
Kewajiban Transmigrasi: Peserta yang berasal dari wilayah perkotaan diwajibkan untuk pindah dan tinggal di desa atau daerah calon pasangan yang ditentukan.
FASILITAS & JAMINAN
Pasangan yang menikah melalui program ini berhak menerima bantuan penuh berupa:
1.Subsidi biaya pernikahan.
2.Bantuan tempat tinggal layak huni.
3.Pelatihan usaha, atau keterampilan pekerjaan.
4.Akses modal tanpa bunga untuk membuka bisnis atau mengembangkan ekonomi lokal demi kemajuan desa.
Subsidi Tambahan: Jika pasangan memiliki atau membesarkan anak, pemerintah akan memberikan tambahan subsidi berupa tunjangan kelahiran, layanan kesehatan gratis, serta beasiswa pendidikan anak.
SANKSI PEMBATALAN KONTRAK
Jika pasangan memutuskan untuk bercerai sebelum masa kontrak selesai, maka seluruh fasilitas, modal, rumah dinas, serta tunjangan bulanan akan langsung DIHENTIKAN seketika oleh negara.
Dohoon membaca poin demi poin itu dengan otak yang mendadak nge-blank. Matanya bolak-balik menatap kertas dan wajah ibunya yang masih berdiri tegak menanti responsnya.
"Bu... ini ibu gak bercanda, kan?" tanya Dohoon dengan suara tertahan, menunjuk kertas itu dengan telunjuknya.
"Ibu... yang bener aja, masa sih Dohoon didaftarin ginian?!" Dohoon setengah berteriak, mengangkat kertas formulir itu tinggi-tinggi dengan ekspresi tidak percaya.
“Ini maksudnya apa coba?"
Ibunya berkacak pinggang, menatap Dohoon tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. “Emang kenapa? Ini program bagus dari pemerintah. Daripada kamu luntang-lantung di sini enggak jelas.”
“Ya masa iya Dohoon dijodohin sama negara, Bu?!” protes Dohoon lagi.
“Lagian kita enggak tahu nanti calonnya gimana? Baik atau enggaknya kan kita enggak tahu? Kalau ternyata dia penjahat atau orangnya aneh gimana? Kok Ibu berani banget, sih?”
Ibunya berdecak, meremehkan ketakutan anaknya. “Ya kan dijamin sama negara, Dohoon! Yang pasangin juga pemerintah langsung, ada penyaringan ketat, background check katanya tadi. Kalau ada apa-apa, kamu juga dilindungi negara. Lagian di sana kamu nanti dapet jodoh, dapet tempat tinggal, dapet uang bulanan lagi. Kurang apa lagi coba? Berbakti sama orang tua, mandiri, sekalian bantu negara!”
Dohoon rasanya mau nangis darah mendengar logika ibunya. “Ya tapi masa sih demi uang bulanan gitu Ibu tega jual aku??”
“Iya! Ibu mau jual kamu!” sahut ibunya telak, membuat Dohoon langsung melongo. “Ibu udah pusing denger tetangga nanya kapan kamu kerja. Udah, intinya kamu besok pergi tes kesehatan sama wawancara ke kantor dinas, Ibu enggak mau tahu ya. Kamu harus ikut!”
“Ibuuuu! Dohoon enggak mau ikutan! Lagian nikah-nikah gini emang bisa dipaksa? Dohoon belum siap harus nikah, Bu!” Dohoon masih terus merengek, mencoba mencari celah agar ibunya luluh.
Namun, wajah ibunya justru semakin mengeras.
“Umur kamu udah cocok buat nikah, Dohoon! Kamu itu udah kepala dua, bukan remaja delapan belas tahun lagi yang kerjanya cuma main game sama hura-hura! Ibu enggak mau tahu, pokoknya besok kamu harus dateng.”
Dohoon masih terus rewel, mengomel, dan mengeluarkan jurus seribu alasan demi menolak program tersebut. Tapi kali ini, ibunya sudah sampai di puncak batas kesabaran. Beliau menarik napas dalam-dalam, lalu menunjuk pintu depan rumah dengan tatapan yang sangat dingin.
“Oke, kalau kamu emang keras kepala enggak mau ikutan,” ujar ibunya, suaranya mendadak tenang tapi justru terdengar jauh lebih mengerikan di telinga Dohoon. “Kamu harus pindah dari rumah ini sekarang juga. Cari duit sendiri, bayar makan sendiri, sewa kos-kosan sendiri. Jangan pernah minta sepeser pun lagi dari Ibu.”
Kata-kata ibunya langsung mengunci mulut Dohoon seketika.
Dohoon menelan ludahnya susah payah. Pindah rumah? Cari duit sendiri? Sementara isi dompetnya saja sekarang tidak sampai seratus ribu. Membayangkan harus luntang-lantung di jalanan kota tanpa arah dan tanpa Wi-Fi gratis membuat nyali Dohoon langsung ciut.
Dengan perasaan dongkol setengah mati, Dohoon akhirnya menunduk lesu. Sebagai pengangguran yang tidak punya daya tawar apa-apa, mau tidak mau dia harus menuruti perintah ibunya.
"Iya, iya... Dohoon besok berangkat tes," gumam Dohoon pasrah sambil meremas kertas formulir di tangannya, meratapi nasibnya yang sebentar lagi akan ditumbalkan.
“Bentar... Serius?!!" Jihoon langsung meledak dalam tawa, bahkan sampai terbahak-bahak hingga memukul meja warnet di depannya. Kepalanya mendongak ke atas, benar-benar menganggap cerita Dohoon sebagai lelucon paling lucu tahun ini.
Sementara itu, Dohoon hanya bisa memasang muka bete maksimal. Dia menyandarkan punggungnya dengan kasar ke kursi, tangannya menggerakkan mouse dengan malas, menatap layar monitor PC-nya yang menampilkan halaman utama sebuah game yang bahkan sedang malas dia mainkan.
"Pantesan lu hari ini rapi bener, pake baju formal. Taunya abis dari Pemkot," ucap Jihoon sisa-sisa tawanya masih terdengar, melirik penampilan Dohoon yang tidak biasa—memakai kemeja berkerah yang disetrika rapi, sangat kontras dengan kaus oblong dan kolor yang biasa dia pakai ke warnet.
Dohoon mengangguk lesu, mengembuskan napas panjang. "Iya, gue emang abis dari sana. Tadi pagi langsung disuruh buat MCU sama tes wawancara. Ribet banget, buset! Lagian aneh banget kagak sih? Ibu gue kok bisa-bisanya kepikiran ide buat daftarin anaknya ikut biro jodoh pemerintah ginian. Saking kebeletnya pengen gue keluar dari rumah apa ya?"
Jihoon masih belum bisa berhenti terkekeh. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sumpah, cuma ibu lu doang kayaknya yang kepikiran jalan pintas begini." Jihoon lalu menatap Dohoon dari atas sampai bawah, meneliti temannya itu dengan pandangan geli.
“Terus ya, aduh... gue jujur kagak bisa ngebayangin lu jadi suami orang. Bentukan begini disuruh berumah tangga? Yang bener aja?"
"Gila, kan? Gue aja ngerasa belum siap!" sahut Dohoon sewot, melambaikan tangannya frustrasi.
"Tapi ya,..." Jihoon mencondongkan badannya, memasang senyum jahil yang makin lebar. "Ngelihat sifat lu yang mageran, manja, dan kagak bisa ngapa-ngapain begini... gue berdoa semoga lu nanti dipasangkan sama suami aja deh di desa. Soalnya kalau lu dapet istri, kasihan istrinya. Yang ada dia harus kerja bakti ngurusin lu yang bentukan begini!"
"Sialan lu, Ji!" Dohoon langsung menyambar bungkus rokok kosong di dekatnya dan melemparnya tepat ke arah muka Jihoon, yang langsung ditepis sambil tertawa puas oleh temannya itu.
Jihoon masih terus ngeledek dan tertawa lepas sampai Dohoon benar-benar kelihatan kesal setengah mati. Karena melihat Dohoon mulai cemberut parah dan melipat kedua tangannya di dada sambil membuang muka, Jihoon akhirnya mengerem tawanya. Dia berdeham pelan, mencoba memasang wajah serius.
"Iya, iya, sorry. Gue serius sekarang," kata Jihoon, menepuk bahu Dohoon pelan.
Dohoon sendiri tidak menyahut. Pandangannya kembali lurus menatap layar monitor komputer, tapi pikirannya sama sekali tidak ada di sana. Dia masih kepikiran soal proses wawancara di kantor dinas tadi. Mengingat bagaimana petugas mencatat semua datanya dan menjelaskan kalau dia bakal segera dikirim ke daerah pedesaan begitu pasangannya ditemukan, membuat bulu kuduk Dohoon meremang.
Duh, ogah banget sebenarnya... batin Dohoon meratapi nasibnya yang malang.
Hari yang paling dihindari Dohoon akhirnya tiba juga. Sebenarnya dia tidak ingin kembali ke gedung ini lagi. Tapi apa boleh buat? Pihak panitia program sudah memanggilnya kembali untuk menghadiri sesi pertemuan pertama alias matching day dengan "si calon pasangan" yang dipilihkan negara untuknya.
Di sepanjang jalan menuju lokasi, pikiran Dohoon sudah dipenuhi oleh berbagai skenario buruk. Ekspektasi dia sudah mentok di titik terendah.
Skenario terburuknya gue bakal ketemu sama bapak-bapak tua dari desa yang nggak laku, yang ikutan program ini biar dapet pembantu gratis, batin Dohoon sinis.
Dalam hati, Dohoon sudah membulatkan tekad. Dia berjanji pada dirinya sendiri kalau skenarionya benar-benar seburuk itu, dia akan mengumpulkan sisa keberaniannya untuk menolak program ini mentah-mentah, persetan dengan ancaman ibunya yang mau menendangnya dari rumah.
Sebelum masuk gedung, Dohoon memutuskan mampir dulu ke deretan vending machine di koridor bawah gedung. Kepalanya mendadak pening, dia butuh minuman kaleng dingin untuk meredakan stresnya.
Di depan mesin minuman, sebenarnya ada seorang anak kecil laki-laki dengan ransel kecil di punggungnya—yang sedang berdiri mendongak menatap tombol-tombol mesin. Tapi karena Dohoon sedang buru-buru dan malas menunggu, dia memilih bodo amat. Tanpa permisi, Dohoon langsung menyelip di samping anak itu, memasukkan koin ke lubang mesin, dan menekan tombol sampai kaleng minumannya jatuh berdenting di bagian bawah mesin.
"Hei Om! Om nggak diajarin antre ya?! Aku yang duluan di sini!"
Dohoon tersentak. Dia menoleh ke bawah dan mendapati si anak kecil tadi sedang berkacak pinggang, menatapnya dengan mata bulat yang melotot galak.
Dohoon mengembuskan napas pendek, menyahut sekenanya karena dia memang tidak mau memperpanjang urusan dengan bocah asing.
“Hei Adek, siapa suruh kamu lama banget di depan mesin? Om ada urusan mendesak sekarang, jadi harus Om dulu."
"Hei! Minta maaf dulu!" bocah itu tidak mau kalah, melangkah maju satu pijakan dengan berani. "Kata Ayahku, kamu harus minta maaf kalau nyela antrean orang!"
Dohoon mengumpat dalam hati. Sial, kenapa sih anak zaman sekarang kritis-kritis semua? Perasaan dulu waktu gue kecil nggak seberani ini, gerutunya.
Karena tidak mau menarik perhatian orang-orang di jalan, Dohoon akhirnya berbalik badan sekilas. "Iya, iya, maaf ya," ucapnya ketus dan super cepat, bahkan tanpa ekspresi penyesalan sama sekali. Setelah itu, dia langsung menyambar kaleng minumannya dan berbalik pergi.
Respons tidak ikhlas dari Dohoon itu jelas memicu kekesalan si anak kecil. Dari arah belakang, suara cempreng bocah itu berteriak lantang.
“Om itu nggak sopan! OM ITU GAK BAIK!"
Dohoon yang mendengar teriakan itu hanya bisa mendengus ketus. Dia sengaja mempercepat langkah kakinya, berjalan lurus ke arah gedung tanpa menoleh lagi. Dohoon tidak ingin menghabiskan energi dan waktu berharganya cuma buat berdebat sama bocah ingusan yang tidak dia kenal.
Dohoon melangkah masuk ke dalam ruangan dengan detak jantung yang tidak keruan. Begitu namanya dipanggil, petugas dinas menyerahkan sebuah map berkas tebal yang berisi seluruh informasi mengenai calon pasangan hidupnya.
Dengan tangan sedikit gemetar, Dohoon membuka lembar pertama.
Matanya langsung tertuju pada baris biodata. Tertera nama di sana: Shin Junghwan, usia 30 tahun.
"Wah, lumayan juga..." gumam Dohoon dalam hati. Selisih usia mereka terpaut beda 5 tahun. Setidaknya si calon bukan om-om perjaka tua seperti ketakutan terburuknya tadi.
Dohoon membalik halaman berikutnya. Di sana tertera rekam medis yang menyatakan pria itu sehat jasmani dan rohani, catatan sipil yang bersih, hingga riwayat pendidikan. Dohoon agak terkejut saat melihat Junghwan ternyata sempat menempuh pendidikan S1. Namun, yang paling menarik perhatian Dohoon adalah kolom pekerjaan dan kekayaan. Di sana tertulis jelas: Petani kentang, memiliki lahan dan perkebunan stroberi, memiliki peternakan mandiri.
“Keren juga ternyata nih orang,” batin Dohoon, matanya langsung berbinar melihat aset yang dimiliki Junghwan.
Tapi sedetik kemudian, realita menghantam kepalanya. Dohoon mendesah berat, kembali menyandarkan punggungnya ke kursi. Gengsi anak kotanya mendadak bangkit. Walaupun kaya, tetap saja Dohoon merasa fisik lelaki desa ini pasti jauh dari standar yang dia bayangkan.
Gue bisa batalin sekarang enggak, sih? ratap Dohoon dalam hati, jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah.
Tiba-tiba, terdengar langkah kaki yang berhenti tepat di depan mejanya. Sebuah suara bariton yang terdengar ramah dan tenang menginterupsi lamunan Dohoon.
"Saudara Kim Dohoon?"
Dohoon mendongak. Detik itu juga, napas Dohoon seolah tercekat di tenggorokan. Berdiri di hadapannya adalah seorang laki-laki dengan perawakan tinggi, dengan badan yang tegap. Wajahnya bersih dengan rahang yang tegas namun memiliki tatapan mata yang lembut. Menurut Dohoon, pria ini... luar biasa tampan! Pakaian kemeja kasual yang mengenakannya sangat pas melekat di tubuhnya yang proporsional. Dohoon mengira pria ini pasti salah satu PNS muda yang kerja disini.
"Ah, iya... Saya Kim Dohoon," sahut Dohoon buru-buru membenarkan posisi duduknya, mendadak salah tingkah.
Pria tinggi itu tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya dengan sopan. "Ah, akhirnya ketemu. Saya Shin Junghwan."
Bentar. Shin Junghwan?!
Ini calonnya?!
Mata Dohoon melebar sempurna. Dia sudah membayangkan hal yang seribu kali lebih buruk daripada ini, tapi kenapa yang datang malah lelaki dengan spek visual seperti model begini? Orang setampan ini beneran seorang petani yang sehari-hari mengurus kentang di desa?!
Ketika Junghwan menarik kursi di hadapannya lalu duduk sambil melemparkan senyum ramah yang menawan. Pertahanan gengsinya runtuh seketika.
Ah, Ibu... sepertinya aku memang harus berterima kasih sama Ibu, bisik Dohoon dalam hati dengan norak.
Setelah mengobrol beberapa lama mengenai mekanisme program, suasana terasa sangat mencair. Junghwan adalah pendengar yang baik dan bicaranya sangat tertata. Saking terpesonanya, Dohoon langsung memantapkan niat. Dia bilang kalau dia akan setuju dan siap menandatangani dokumen persetujuan untuk dibawa ke tahap selanjutnya. Junghwan pun tersenyum dan mengangguk setuju.
Namun, tepat sebelum pulpen Dohoon menyentuh kertas formulir, Junghwan tiba-tiba menahan gerakan tangannya. Pria itu menatap Dohoon dengan ekspresi yang berubah agak serius, membuat Dohoon refleks menghentikan gerakannya.
"Mungkin hal ini tidak dituliskan secara detail dalam informasi," ujar Junghwan pelan, menatap lurus ke mata Dohoon. "Tapi sebelum kita melangkah lebih jauh, saya ingin kasih tahu kamu satu hal yang sangat penting."
Dohoon membalas tatapannya dengan dahi mengernyit, mendadak merasa ada yang tidak beres
“Apa itu?"
Junghwan mengembuskan napas pendek, lalu berkata dengan jujur, "Saya sudah punya anak."
Uhuk!
Dohoon hampir tersedak ludahnya sendiri. Matanya mengerjap syok. Apa?! Anak?! Orang ini duda?! Harapan indah Dohoon yang baru saja melambung tinggi langsung merosot jatuh ke bumi.
Ah, bener kan! Gue yakin emang ada hal ganjal. Too good to be true banget! Mana ada cowok spek model, cukup kaya, tapi masih lajang mau ikut program ginian kalau kagak ada sesuatu-nya! ucap Dohoon dalam hati, meratapi nasibnya yang kembali naik turun.
"Anak...?" Dohoon memastikan dengan suara agak gugup. "Anda... pernah menikah sebelumnya?"
Junghwan buru-buru menggelengkan kepalanya demi meluruskan kesalahpahaman. "Bukan, saya belum pernah menikah. Saya di sini sebagai walinya. Anak itu sebenarnya adalah anak kandung dari mendiang kakak dan ipar saya yang kecelakaan. Tapi, saya sudah menjadi walinya sejak dia masih bayi, dan dia sudah menganggap saya sebagai ayahnya sendiri." Junghwan menjeda kalimatnya sejenak, menatap Dohoon dengan pandangan penuh harap.
"Jadi mungkin... saya mau kasih tahu kamu dari awal, kalau kita lanjut ke tahap pernikahan, kamu harus bisa akrab sama anak saya dan menyayangi anak saya…”
Junghwan menjeda kalimatnya sejenak. Ada gurat sungkan yang mendadak muncul di wajah tampannya saat dia menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Tapi... memang harus saya akui, anak saya itu agak sulit didekati dan sulit juga akrab sama orang baru. Jadi, saya benar-benar berharap kamu bisa sedikit lebih sabar menghadapi dia."
Dohoon menelan ludahnya susah payah. Tangannya yang memegang pulpen mendadak lemas.
Meskipun statusnya bukan anak kandung, tapi ini sama saja seperti menikahi seorang duda beranak satu. Sial... bagaimana ini? Dohoon selalu tahu kalau dirinya tidak pernah beruntung, tidak punya bakat, dan selalu sial jika harus berurusan dengan anak kecil.
