Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of Everfleeting
Stats:
Published:
2026-06-05
Words:
1,600
Chapters:
1/1
Kudos:
20
Hits:
605

First kiss?

Summary:

Akibat kebanyakan becandain ̶g̶e̶b̶e̶t̶a̶n̶n̶y̶a̶ sohibnya (Rio--Leo) dari orok sebagai pacarnya, Sanno--Sangwon kebablasan nyium ̶g̶e̶b̶e̶t̶a̶n̶n̶y̶a̶ sohibnya sendiri (setelah contemplating kehidupan cintanya berjamjam)

Notes:

Ini lanjutan dari au berikut 😉 https://x.com/i/status/2063057313049825786

Work Text:

Sanno sempat menatap sopir Rio sebelum melirik ke jok belakang lewat kaca spion tengah. Sepertinya Rio sudah tertidur pulas. Wajar sih, Rio pasti kelelahan karena semingguan ini dia sibuk perform di berbagai festival musik sendiri, ditambah jadwal pagi ini yang benar-benar padat.

Sanno mendadak merasa bersalah. Dia bahkan nggak bisa nemenin Rio manggung sepanjang festival ini sebagai "Utas" cuma gara gara jadwal festival dan syuting film terbarunya tabrakan parah. Tapi Sanno sudah berusaha sebaik mungkin untuk mengosongkan jadwal demi festival musik malam ini. At least for one night, Sanno nggak mau menyia-nyiakan kesempatan langka untuk berdiri di panggung yang sama lagi dengan Rio.

Masalahnya… otak yang seharusnya dipakai buat mikirin response untuk possible impromptu performance dari Rio nanti, malah sibuk mikirin hal gak guna.

 

 

“Bebas, suka-suka lu lah.”

ASLI. Sanno masih gak habis pikir, kenapa Rio bisa semudah itu kasih respons yang se-inviting itu? Secara logis, kemungkinan Rio ngomong gitu cuma karena udah ngantuk berat itu sekitar 80%. 10%-nya mungkin dia cuma mengiyakan karena udah capek ngeladenin Sanno. 9%-nya lagi mungkin karena dia pikir itu lucu. Dan 1%-nya... mungkin karena dia emang pengen dicium.

Jadi secara teknis, kalau dia nyium Rio buat bangunin Rio, berarti dia nggak salah salah amat, kan? Kan Rio sendiri yang nyuruh—

NGGAK, SANNO, NGGAK!

This is your first stage with him after a while, you can't mess it up, okay? Udah tahu Rio itu mood-nya susah ditebak. Ini bukan saatnya eksperimen yang enggak-enggak.

TAPIIIIII, lihat deh... lihat bibir ranumnya itu. Bukankah dari zaman dinosaurus masih napas di laut, lu udah sepengen itu buat nikmatin—

“Den, udah sampe…”

Anjir. Selama apa emang Sanno ngeliatin bibirnya Rio sampai tiba-tiba mereka sudah tiba di venue?

“Oh… oke, Pak.” Sanno akhirnya bangun dari kegelisahan tak berartinya. Ia berhenti sejenak untuk menatap Rio di belakang. “... Rio masih tidur, jadi kayaknya tinggalin aja mobilnya, Pak. Gue juga mau istirahat bentar di sini. Uh…” Sanno celingukan mencari tas miliknya, tapi karena dompet Rio posisinya lebih dekat, Sanno langsung menyambar tiga lembar uang merah dari sana. Lembaran itu langsung disodorkan ke Pak Yudi—sogokan biar mereka ditinggal berdua saja.

Pak Yudi sudah kenal Sanno dari kecil dan selalu memperlakukannya seperti tuan sendiri. Jadi beliau sudah paham gelagat Sanno. Meskipun tampaknya beliau tidak seutuhnya paham Sanno mau ngapain dan bahaya apa yang tuannya akan terima sebentar lagi “Nggak apa-apa, Den. Mas Rio sudah kasih bekal tadi.”

“Anggap aja ini tambahan dari gue, Pak.”

Pak Yudi cuma tersenyum. Beliau jelas tahu banget kalau itu dompetnya Rio.

“Baiklah, Den Sanno. Nanti WA saya saja kalau sudah mau pulang,” beliau akhirnya menerima lembaran itu dengan kedua tangan sebelum keluar dan meninggalkan mobil.

TERUS APA SEKARANG?

Lu udah menghilangkan saksi, No. Sekarang lu mau ngapain? — Nggak tahu. Sanno juga nggak tahu dia mau ngapain.

Tolol. Sebagian dari diri Sanno beneran pengen jedotin kepala ke jendela mobil sekarang juga. Nasi belum menjadi bubur, tapi otak Sanno udah kepalang jadi bubuk.

Okay pertama.

Sanno menarik napas dalam-dalam sebelum perlahan pindah ke kursi tengah. Niatnya sih mau selembut mungkin, tapi sepertinya kekhawatiran Rio soal atap mobil yang rendah ada benarnya. Kepala Sanno kejedot atap dengan sempurna.

Janc—ugh!” Sanno buru-buru menggigit bibir bawahnya sebelum ringisannya membangunkan Rio. Bangsat, apa ini yang dinamakan karma? Belum juga gue cium, udah kena karma duluan?!

“...” Sanno melirik Rio sebentar, untungnya Rio masih tidur.

Sanno mencoba menenangkan diri sejenak, menarik napas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan setelah akhirnya berhasil duduk di sebelah Rio.

Niatnya sih gitu..

TAPI GAK BISA, ANJIR! KEPALA RIO ITU NGADEP KE GUE! INI BIBIR UDAH DI DEPAN MATA!

Mana dadanya bidang banget lagi… percuma kalau gak bisa dijadikan sandaran—eh, bentar. Kalau dipikir-pikir… Rio selalu biarin gue bersandar ke dia. Malah seringnya dia yang menarik gue duluan ke pelukannya.

Sanno tertegun sejenak.

Menatap Rio sedekat ini mungkin bukan yang pertama kali. Tapi menatap Rio sedekat ini dengan jantung yang berdegup tak karuan seperti anak kemarin sore yang baru pertama jatuh cinta mungkin baru pertam—enggak, ini juga udah lewat dari kata pertama kali. Satu dekade mungkin sudah berlalu sejak pertama kali Sanno sadar bahwa kehangatan yang diberikan Rio punya tempat yang istimewa di hatinya.

Orang mungkin bilang itu cuma cinta monyet. Bertahun-tahun setelahnya, Sanno pun sempat berpikir kalau rasa cinta itu tidak lain dan tidak bukan hanyalah perasaan semu hasil reaksi kimia dan biologi yang akan memudar seiring berjalannya waktu.

Kasih sayang, cinta, romansa, seksualitas—Sanno sudah menjelajahi makna dari tiap sudut kata-kata tersebut. Sudah pernah menjalin kasih, memberi dan menerima cinta yang berbeda. Tapi dari semua pengalaman itu, nggak ada satupun yang senyaman Rio.

Sialan banget, kan? Saking nyamannya berada di sisi Rio, Sanno sampai nggak bisa merasakan rasa nyaman yang benar-benar nyaman dengan orang lain. Bukankah Rio harus tanggung jawab karena sudah meracuni Sanno dengan kenyamanan tiada dua ini?

Tapi se absurd absurdnya logika Sanno, Sanno tahu. Rio memang selalu bikin orang di sisinya merasa nyaman.

Mungkin bukan cuma dia yang baper begini.

Sialan… malah jadi cemburu.

“Huft…” Sanno mengibaskan tangannya ke udara, berusaha mengusir halusinasi tak bergunanya. Kalaupun ada orang lain yang baper karena tingkah gentleman Rio, itu bukan salah Rio. Sama halnya dengan perasaan Sanno yang nggak pernah terbalas. Rio nggak perlu bertanggung jawab atas perasaan Sanno.

Cukup mikirin yang enggak-enggak.

Sanno menatap jam di dashboard mobil yang menunjukkan pukul 18:15. Dia baru sadar belum membalas chat Juno tadi. Terlalu sibuk memikirkan undangan untuk mencium Rio.

Setelah membalas pesan Juno, Sanno akhirnya kembali fokus menatap cowok di sampingnya.

Tumben kamu nggak gerak-gerak selama tidur hari ini… pasti karena capek banget, ya…

Perlahan, Sanno memberanikan diri meraih pipi Rio. Jemarinya mengelus kulit itu dengan amat lembut. Rasanya nggak tega mencuri ciuman dari orang yang benar-benar memperlakukannya sehati-hati itu. Tapi, ada rasa penasaran di hati Sanno yang terlanjur mengambil alih kendali tubuhnya—well, ada dorongan-dorongan lain juga yang bikin dia terjun ke jurang ini, tapi mari tidak membahasnya sekarang.

Maafin gue, Rio…

Sanno mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Meskipun ada bagian dari dirinya yang berteriak untuk menarik diri dan berhenti, dorongan lain justru menuntunnya untuk terus maju.

Satu detik.

Bibir mereka bersentuhan.

Asing. Lembut. Manis?

“... Mhm …” Sanno baru saja hendak menarik dirinya kembali ketika tangan Rio tiba-tiba menyelinap ke belakang tengkuknya. Jemari kasar Rio itu memijat tengkuk Sanno dengan lembut, seolah-olah enggan membiarkan Sanno lepas dari jangkauannya.

Bibir mereka semestinya hanya bersentuhan sekilas, sampai tiba-tiba bibir Rio bergerak, terbuka sedikit hanya untuk menangkap bibir bawah Sanno.

Satu kecupan. Sanno panik. Pijatan di tengkuknya berubah menjadi rengkuhan erat. Rio membawanya lebih dalam ke pelukan, begitu pula dengan pagutan bibir mereka.

“Mhm… don't… leave... Me…

Wajah Sanno langsung memerah padam mendengar racauan kecil yang keluar dari mulut Rio. Dia bahkan tidak bisa mencerna dengan jelas kata apa yang diucapkan Rio, tapi getaran suaranya saja sudah cukup membuat Sanno kehilangan akal sehatnya.

Gila?!

Apa-apaan ini?!

Ini jelas-jelas bukan ciuman pertama Sanno. Terus kenapa dia bertingkah seperti remaja yang baru pertama kali ciuman?! Apa Rio sudah gila? APA DIA SENDIRI YANG SUDAH GILA? Sanno bisa merasakan bukan cuma wajahnya yang memanas, tapi sekujur tubuhnya seperti baru saja tersengat listrik dari api cinta yang membara. Sanno mengerutkan kening, mencoba melepaskan diri dari rengkuhan Rio yang mengunci tubuhnya.

“Sanno… ’m s rry…

Ngigau?! MASIH TIDUR?! Sanno mencoba membuka matanya lebar-lebar. Rio benar-benar masih terpejam dalam posisi ini? Mimpi apa dia sebenarnya? Bisa-bisanya dia masih tidur sementara tubuhnya sudah berhasil melumpuhkan semua indra Sanno!

Kesal dan gemas campur aduk, dengan sekuat tenaga Sanno akhirnya menggigit bibir bawah Rio untuk memaksanya bangun.

“Rgh…??” Rio terbangun. Hal pertama yang dia rasakan adalah rasa besi yang memenuhi mulutnya. Begitu membuka mata, dia langsung disambut wajah Sanno yang berada tepat di depannya dalam posisi yang super canggung. Sel-sel otak Rio bukannya langsung bekerja, malah makin melambat saat ingatan tentang mimpinya barusan berputar sekilas. Detailnya memang samar, tapi Rio ingat betul momen ketika dia mencium bibir Sanno di dalam mimpi itu.

Lalu, apa korelasinya dengan posisi mereka sekarang?

What the hell, Sanno…” Rio mengerang. Suaranya terdengar berat khas orang baru bangun tidur. Tangannya masih menahan tengkuk Sanno—secara refleks raganya takut kalau dia melepaskan tangannya sekarang, Sanno bakal jatuh dengan posisi yang lebih aneh lagi.

Rio bingung, Sanno apalagi. Secara teknis, dia sendiri yang memulai dengan mencium Rio duluan. Tapi Rio—yang posisinya lagi gak sadar—malah memperpanas memperburuk keadaan dengan membalasnya. Sanno berusaha berpikir cepat. Dia bisa saja menuduh dan melimpahkan semua kesalahan ini ke Rio. Toh, kemungkinan Rio bakal langsung minta maaf tanpa berpikir panjang itu lumayan gede, mengingat betapa Sanno-apologizer-nya seorang Rio.

Namun, saat Sanno menarik dirinya kembali ke kursi sebelah, melihat wajah Rio yang kebingungan setengah mati membuat rasa tidak teganya muncul. Dia gak bisa berbohong.

“Well, lu sendiri yang minta dibangunin pakai bibir gue tadi.”

“Hah…?” Rio langsung mengernyit bingung. “Mana ada gue minta…?”

Walaupun tahu Rio gak salah, bantahan itu terasa lumayan nyelekit di hati Sanno. Rasanya seperti tiba-tiba ditusuk setelah baru saja diberi kenyamanan. “…Lu bilang bebas suka-suka gue, kan? Ya sama aja.”

“Sanno…” Rio menghela napas berat. Jari-jarinya memijat keningnya yang mendadak terasa berputar.

Rio sebenarnya sudah biasa dengan tingkah antik Sanno. Mulai dari merengek soal ceweknya, ngatain cowoknya, minta ditemani ke club, minta dijemput pas mabuk berat, sampai kebiasaan Sanno yang minta diperlakukan seperti pacar sendiri dengan panggilan-panggilan sayang yang sering bikin Rio pusing tanpa alasan. Tapi untuk yang satu ini, Rio benar-benar kehabisan kata-kata. Dia nggak tau harus bereaksi seperti apa.

Apalagi ingatan tentang mimpi tadi masih membekas jelas. Wajah Sanno yang begitu dekat, bibirnya yang terasa lembut, dan elusannya yang begitu hangat.

“Don't do it again…”

Suara berat penuh kekecewaan dari Rio menjadi hal terakhir yang Sanno dengar, sebelum Rio mendadak membuka pintu mobil dan pergi meninggalkannya sendirian.

Series this work belongs to: