Work Text:
Selama berpacaran bersama Varka, Flins menyadari satu hal. Kekasihnya, entah mengapa, sering meminta berhubungan seks setiap kali mereka habis makan ayam geprek. Flins tidak tahu alasan Varka melakukan itu, tetapi hal itu membuatnya khawatir.
Flins tidak pernah memesan level terpedas ayam geprek. Meski begitu, sensasi panas pasti akan selalu tertinggal di bibir dan tangan. Juga, di bagian bawah sana, di vaginanya. Flins tahu itu karena pernah sekali mencoba masturbasi, mencolek-colek vaginanya setelah beberapa jam sebelumnya menyantap ayam geprek. Vaginanya terasa panas, seperti bibir atasnya setelah memakan ayam geprek. Aroma vaginanya juga sedikit tercium wangi ayam goreng yang digeprek dengan belasan cabe rawit dan bawang putih. Aroma yang sangat khas dan familier di hidung Flins.
Setelah ia memahami ada efek samping yang memengaruhi kondisi vaginanya, Flins mulai khawatir terhadap kekasihnya. Suatu kesempatan ia pun bertanya pada Varka, tetapi laki-laki itu hanya menjawab, "enggak ada alasan khusus kok." Flins masih menaruh curiga pada jawaban kekasihnya itu.
Maka dari itu, hari ini Flins mengajak Varka makan ayam geprek di tempat langganannya membeli ayam geprek. Mereka makan bersama di sana, lalu pulang ke kontrakan Varka karena sudah pasti Varka akan mengajaknya bercinta setelah makan ayam geprek.
Laki-laki itu menciumnya seperti biasa, sangat lembut dan begitu serakah. Lidah Varka menjelajahi tiap senti mulutnya. Ia juga menautkan lidah mereka menjadi satu sambil melumat penuh nafsu bibirnya.
Flins bisa merasakannya. Bibir mereka yang sedang bercumbu mulai mendatangkan sensasi panas yang tidak wajar. Ini pasti efek samping yang tertinggal setelah memakan nasi ayam geprek. Panas bibir yang membara pada ciuman mereka, Flins merasa seperti ada segenggam cabai rawit yang sedang mereka lumat di dalam mulut.
"Mmppnnggghhh...hhmmpphh panas, Varka," ucap Flins di sela-sela ciuman.
Varka yang mendengar Flins merengek kepanasan, akhirnya berhenti mencium bibir kekasihnya itu. Bibir Flins menjadi begitu merah dan agak bengkak berkat ciuman itu. Varka dengan lembut mengusap bibir mungil Flins yang bengkak dan nampak menggemaskan di matanya.
"Buka celanamu, sayang," kata Varka.
Tanpa protes Flins mematuhi permintaan kekasihnya. Ia melepaskan celana panjang berwarna cokelat tua, kemudian menampilkan kaki putih yang jenjang dan mulus serta celana dalam berenda dengan pita kecil yang imut di depannya.
Varka menyentuh pita pada celana dalam Flins, lalu mengelus vagina kekasihnya.
"Buka kancutnya juga," pinta Varka lagi.
Flins mengernyitkan dahinya. Ia sudah tau kekasihnya akan berkata begitu.Hal ini karena Varka selalu melakukan sebuah perlakuan spesial yang telah menjadi kebiasaan setiap kali mereka melakukan seks. Juga, hal ini yang membuat Flins khawatir pada kekasihnya.
Varka memiliki kebiasaan 'melahap' vaginanya. Setiap mereka melakukan seks, Varka akan selalu mencumbu vaginanya dengan memainkan lidah dan mulut yang sangat lihai di bawah sana. Tidak terkecuali saat mereka melakukan seks setelah memakan ayam geprek.
Flins yang khawatir pun bertanya, mengapa Varka ingin dirinya membuka celana dalam?
"Aku kan mau liat vagina kamu yang cantik," jawab Varka lugas.
"Jujur, Varka. Kita kan habis makan ayam geprek, kalau kamu jilatin aku di bawah sana pasti bibir kamu jadi kepanasan,"
Laki-laki itu mengangkat pinggul Flins sampai selangkangannya kini berada tepat di depan hidung Varka. Tangan nakal Varka akhirnya membuka sendiri celana dalam Flins yang menutupi vagina favoritnya.
"Haruskah aku jujur alasan pengen jilat vagina kamu meski habis makan ayam geprek?" tanya Varka sambil menggelitik kelentit mungil Flins. "Selain itu, gimana kamu tau kalau vagina kamu jadi panas kalau habis makan ayam geprek?"
Flins langsung membeku setelah mendengar pertanyaan Varka. Dengan gagap serta malu-malu, Flins pun menjawab, "A-aku, aku pernah coba sendiri..."
"Coba apa?"
Flins yang wajahnya memerah, menyembunyikan wajah semerah tomat itu menggunakan pergelangan tangan.
"C-colmek," kata Flins pelan yang hampir terdengar seperti sebuah bisikan.
Kekasihnya tidak mengatakan apa pun. Kemudian tiba-tiba Flins mendengar tawa Varka yang pelan seakan terhibur dengan jawaban yang ia berikan.
"Kalo kamu pernah coba," Varka menatap Flins dengan mata yang menggoda seakan sedang menantang Flins, "aku mau liat kamu colek-colek vaginamu sendiri."
Ini bukan pertama kalinya Flins mencolek bagian bawahnya. Hanya saja, ia merasa malu ada Varka yang melihatnya dari jarak sedekat ini. Memiliki seorang kekasih sepertinya juga harus membuang urat malu ketika sedang berduaan.
Flins pun menyentuh sendiri bibir vaginanya, membuka bibir tembam di bawah sana, kemudian mengelusnya menggunakan dua jari. Flins menggerakkan jarinya selaras dengan bentuk vaginanya, ke atas dan ke bawah, setelah itu berhenti tepat di klitoris. Jarinya akan membentuk gerakan memutar tepat di klitoris mungilnya yang sedikit menyembul di ujung bibir vagina.
"Aahh..."
Flins terperanjat ketika merasakan sesuatu yang sangat hangat menyentuh vaginanya. Ternyata itu mulut Varka yang sedang mencium bibir bawahnya. Bibir Varka melumat bibir vagina Flins seakan ia sedang berciuman dengan bibir Flins yang sebenarnya.
Lidah Varka pun mulai ikut beraksi. Benda lunak itu menjilat vagina Flins, membelainya lembut seakan menggoda vagina itu agar segera mengeluarkan cairan semanis madu dari lubang sempitnya.
“Mmmppngghh geli, Yang,”
Flins secara refleks menjambak rambut pirang Varka yang lebat. Tiap belaian lidah Varka berhasil membuat lenguhan dan desahan keluar dari bibir Flins. Laki-laki itu berkali-kali meminta Varka berhenti, tetapi tentu saja Varka tidak mau berhenti.
“Flmpns (Flins),” Varka melepaskan mulutnya dari vagina kekasihnya yang mulai basah. “Ayo colek lagi kelentit kamu,”
“Aahhh…engga bisa, geli gara-gara kamu jilatin terus,”
Varka pun menurunkan pinggul Flins, membiarkan bagian bawah kekasihnya merebahkan diri di atas kasur. Meski begitu, Varka tidak lupa membiarkan jari-jari tangannya membelai vagina Flins.
Belaian yang Varka berikan di bawah sana perlahan berubah menjadi sebuah penyodokan lubang vagina sempit Flins. Satu jari masuk, dua jari ikut masuk, lalu menjadi tiga sampai membuat Flins tidak bisa berhenti menggeliat.
“Aaanngghhh… Yang, mmnngghh Varka–aahhh jangan diobok–nngghhh…”
Flins meremas seprai kasur sambil membusungkan pinggulnya. Ia merasakan lagi, mulut hangat dan lidah nakal Varka menjamah vaginanya. Kali ini laki-laki itu menggelitik tepat di depan lubang vaginanya yang sudah penuh dengan jari-jari Varka sendiri.
Di kamar kontrakan berukuran 3×3 meter itu, suara desahan Flins telah memenuhi tiap ruang kosong yang ada di sana. Flins bisa mendengar sendiri suara desahannya, juga decapan sensual dari mulut Varka. Hal itu membuatnya tak bisa berhenti melantunkan desahan dan menggeliat nikmat dalam belaian Varka.
“Kamu tanya kan kenapa aku suka jilmekin kamu tiap habis makan ayam geprek?”
Flins menunduk sedikit, melihat Varka yang mengangkat kepala dan menatapnya. Kekasihnya itu memberikan senyum manis saat mata mereka bertemu, lalu beralih menatap vagina merah Flins yang sudah basah.
“Karena rasanya enak. Kayak lagi makan ayam geprek lagi, tapi ada rasa kamunya,”
Flins mengernyitkan dahi, “maksudnya?”
Varka melirik Flins sebentar, lalu kembali terhanyut menatap vagina Flins yang sangat menggoda untuk ia santap lagi.
“Dari wanginya, ada wangi ayam geprek yang bercampur wangi memek kamu. Punya kamu juga juicy kayak paha ayam yang aku makan tadi,”
Varka melebarkan vagina Flins dengan jarinya, lalu melanjutkan, “kayak yang kamu bilang, memek kamu emang jadi panas, tapi itu yang aku cari. Kalo dimasukin kontolku jadinya makin anget, kan?”
Flins terlalu terkejut untuk membalas penjelasan kekasihnya. Entah karena alasan anehnya atau kegemaran Varka menjamah vaginanya. Meski begitu, kalau Varka memang sesenang itu, sia-sia sudah kekhawatirannya. Selama Varka menikmatinya, Flins pun akan melakukan hal yang sama.
“Jadi, sekarang punyaku wangi ayam geprek?” tanya Flins sambil menggoda Varka dengan menyentuh vaginanya.
“Engga terlalu. Wangi kamu lebih kecium sekarang,” balas Varka sambil mendekatkan hidungnya dan menggesek hidungnya pada klitoris Flins.
“Aaanggg~ geli, Varka,”
Tanpa aba-aba, Varka kembali menjilat vagina Flins, lalu menggelitik lubang sempit vagina itu dengan ujung lidahnya. Saat Flins terperanjat karena merasakan sensasi geli yang sangat menggelitik di bawah sana, Varka mencium vagina Flins sekali lagi sebelum mengisapnya.
Mulut Varka sangat mahir memanjakan vagina Flins yang makin banyak mengeluarkan cairan cintanya. Sesekali Varka melumat vagina itu dari bagian bibir sampai klitoris, terkadang mengisapnya lembut, beberapa kali memasukkan jarinya juga ke dalam lubang sempit vagina Flins.
Namun, yang paling sering Varka lakukan adalah menjilat dan menggelitik vagina itu menggunakan lidahnya. Ia melakukan itu karena Flins sangat menyukainya. Flins akan mengerang, menggeliat, dan menggerakkan pinggulnya sendiri tiap kali Varka sibuk menjilat vagina itu.
Ia pun menikmati sensasi panas yang menjalar di bibirnya berkat efek samping memakan ayam geprek yang memengaruhi kondisi vagina Flins. Bibirnya menjadi lebih panas, bahkan bisa sampai terasa kebas ketika Varka terlalu menikmati ‘melahap’ vagina kekasihnya. Varka ingin Flins merasakan kepuasan dari segala bentuk cinta yang ia berikan untuk Flins seorang.
“Hhaaanngghh…Yang, masukin sekarang,”
Varka mendongak dan melepaskan mulutnya dari vagina Flins yang sudah sangat basah sampai membuat dagunya ikut basah.
“Masukin sekarang aja, kontol kamu,” pinta Flins sekali lagi.
Namun, Varka kembali menatap vagina Flins yang berkedut-kedut di hadapannya. Ia tahu kalau Flins sudah hampir mencapai klimaksnya. Varka tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.
“Aannnghh! Varka… jangan dijilat lagi,”
Flins kembali menjambak rambut pirang kekasihnya yang sama sekali tidak mendengarkan permintaannya. Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Flins sudah mencapai batasnya menahan diri.
“Yang–aaanngghhh….Varka, aku mau keluar mmmnnghhh… kepala kamu, lepasin nnngghhh…”
“Lpmngh agh sngnmph (lepasin aja sayang),”
“Jangan ngomong nnnnhhhh….jangan ngomong sambil jilmekin aku–uuunngghh… nngghhh aku beneran mau keluar,”
Varka pun melepaskan mulutnya dari vagina tembam Flins. “Keluarin aja, jangan ditahan,”
Plakk
Flins pun terperanjat hebat saat sebuah tamparan pelan jatuh tepat di vaginanya yang sensitif. Hal itu membuatnya semakin tak tahan lagi dan akhirnya menyemburkan cairan klimaks ke arah wajah Varka yang masih memandangi vaginanya.
“Aammnnggpphhh~!! hhhnngghhh~”
Kedua kaki Flins yang terbuka lebar gemetar hebat dengan vaginanya yang terus memuncratkan cairan klimaks. Selangkangannya basah kuyup, begitu juga dengan seprai kasur dan wajah Varka.
“Hhhaaa… hhaaahh… Varka…”
Flins melirik ke arah kekasihnya yang masih betah di bawah sana, di hadapan selangkangannya dan memandangi vaginanya. Kemudian, laki-laki itu mengusap wajahnya yang basah sambil membuka celananya.
Dari posisinya yang terlentang, Flins menonton Varka membuka baju dan celana sampai ‘pedang perkasa’ kekasihnya muncul dari balik celana. Benda itu besar, panjang, berurat, dan gagah mengacung mengintimidasi di hadapan Flins.
“Masukin, Yang~ mumpung aku masih basah,” kata Flins yang membuka lebar selangkangannya lagi.
Varka pun mempersiapkan penisnya di depan lubang vagina Flins yang berkedut-kedut.
“Aku pasti buat kamu lebih basah lagi, Flins,”
“Aannghhh…mmmnnggghh…”
Flins tidak bisa berhenti menggeliat setiap kali ia merasakan penis Varka masuk makin dalam di lubangnya. Penis gagah itu masuk dengan pelan dan sopan, memenuhi lubang vaginanya yang kosong dan sangat basah.
“Udah siap?”
Flins pun mengangguk mengiyakan aba-aba dari Varka.
PPAAKKK
“AAAUUNNGGHH!! mmmppphhh Varka…”
Flins membusungkan dadanya bersamaan dengan penis Varka yang menghantam kencang vaginanya. Meski Flins mengatakan dirinya siap, tetap saja penis besar kekasihnya membuatnya kewalahan. Juga, vaginanya sudah kepalang sensitif berkat perlakuan yang Varka buat padanya.
Setiap hentakan pinggul yang Varka lakukan, Flins akan mengerang dan mendesah. Ia bisa merasakannya di dalam sana, penis gagah Varka bergerak keluar-masuk lubangnya dengan cepat.
Flins pun meremas seprai kasur makin kuat dari sebelumnya demi menahan sedikit rasa nikmat yang ia rasakan di seluruh tubuhnya. Ia sudah tidak bisa menghitung seberapa banyak bibirnya menyebut nama kekasihnya dan berharap laki-laki berhenti atau bergerak makin cepat. Kepalanya sudah terlalu penuh dengan segala kata sifat yang menjelaskan sensasi nikmat yang Varka lakukan untuknya.
“Eennghh–enak… enak, Varka. Aaahhh… lagi, yang dalem–mmnnhhh…”
“Gini? sedalem ini?”
Varka makin jauh mendorong penisnya di dalam lubang Flins yang sudah sangat becek dan licin. Kekasih dalam genggamannya itu hanya bisa membalas Varka dengan erangan erotis sambil menganga dan menjatuhkan air mata di ujung mata cantiknya.
“Hhaaa…Flins, enak banget, kan?” Varka mendekap kekasihnya erat tanpa berhenti menggerakkan pinggulnya di bawah sana. “Nnnghhhh… kontolku kayak mau meleleh,”
Laki-laki berambut pirang itu makin cepat dan tak karuan menghantam vagina Flins yang cerewet dengan suara basahnya. Sedangkan Flins hanya bisa mengerang dan menangis sambil mencakar punggung lebar Varka. Ia juga menggigit pundak kekar kekasihnya itu setiap kali cairan klimaksnya keluar tanpa disengaja.
Selama Varka dan Flins memadu kasih, kamar kontrakan itu berubah menjadi sarang cinta mereka yang penuh erangan, desahan, ciuman, dan kecipak basah yang sangat erotis. Kalau saja ada orang yang tidak sengaja mendengar suara percumbuan mereka, mungkin akan mengira kalau Varka dan Flins sedang bercinta untuk membuat bayi darah daging mereka.
“Varka–aahhhnngghh… keluarin di dalem mmnnhhh,” Flins yang masih memiliki sedikit energi kini menggoyangkan pantatnya, menggoda penis Varka di dalam lubangnya.
“Keluarin di dalem, ya? hhhaaaa…. kata kamu kalo kepedesan minumnya susu. Memek aku kepedesan sama kontolmu, aku mau mimik susu kamu di dalem,”
Ucapan Flins yang melindur membuat Varka tertawa. Ia tidak pernah menyangka Flins akan mengatakan hal seaneh itu dari mulutnya. Lebih dari itu, Varka tak perlu mendapat permintaan dari Flins pun akan mengeluarkan air maninya di dalam lubang Flins, sebagaimana yang laki-laki itu suka.
Varka makin membabi buta menggerakkan pinggulnya, mendorong penisnya tanpa henti dan tanpa ampun menghantam vagina Flins. Ia membiarkan Flins meracau tak karuan dalam pelukannya sampai ia merasa klimaksnya sudah diujung tanduk.
“Aku mau keluar, Yang,” ucap Varka tepat di telinga Flins.
Flins yang mendengar ucapan kekasihnya, secara refleks merapatkan kaki yang mendekap Varka. Ia pun merapatkan pelukan mereka agar Varka tidak menjauh darinya. Lubangnya juga tidak mau kalah, Flins merapatkan lubang vaginanya sehingga bisa mendekap penis besar Varka dengan benar.
“Flins, nnnnggghhhh… aaahhhh~!!”
Di dalam lubangnya dan di perutnya, Flins bisa merasakan cairan hangat menyembur keluar dari benda besar yang panas itu. Cairan itu terus memenuhi lubangnya tanpa henti sampai membuat Flins menggelinjang. Ia klimaks lagi.
“Hhaaannghhh… Varka–mmmpppnnghhh!!”
Namun, kali ini tak ada cairan yang keluar. Hanya tubuh Flins yang mau berhenti menggelinjang, kakinya yang gemetar hebat, dan dinding vagina yang melumat serta berkedut hebat pada penis Varka.
“Aaahhhh… Varka aaammpphhh~”
Flins merasakan jari Varka yang kasar memainkan klitorisnya yang sangat sensitif. Ia menggelinjang makin tak karuan, bahkan sampai mengangkat bagian bawahnya yang masih penuh dengan penis kekasihnya.
Cuuurrr
“AAAANNNGGHHH~!!”
Dari bawah sana, Flins tidak sengaja memancarkan air kencingnya sendiri. Air kencing itu berhasil membasahi tubuhnya dan Varka yang masih ia dekap erat. Ia terus mengeluarkan air kencing yang kini bercampur dengan cairan klimaksnya pada tubuh Varka yang sedang menonton Flins menggelinjang hebat di bawahnya.
Momen memalukan itu akhirnya berhenti setelah Flins tak lagi punya cairan yang bisa ia keluarkan di bawah sana. Matanya yang sayu menatap Varka yang nampak takjub dengan hal yang baru saja laki-laki itu lihat sepanjang hidupnya. Sementara Flins harus menanggung perasaan malu yang akan selalu ia bawa seumur hidup.
Flins tidak menyangka dirinya bisa mencapai kenikmatan nafsu berahi sejauh ini. Ia pun tak paham hal yang dapat membuatnya seperti ini. Mungkinkah karena jawaban jujur Varka atau sensasi panas yang asing di vaginanya berkat memakan ayam geprek?
Yang mana pun itu, setidaknya Flins tak perlu khawatir lagi tentang kekasihnya. Jawaban Varka lebih tak terduga daripada yang ia pikirkan selama ini. Juga, kebiasaan kekasihnya itu bukan hal yang buruk. Flins juga menikmatinya.
“Kamu udah capek, Flins?”
“Lumayan, kenapa emangnya?”
Varka mendekatkan wajahnya pada Flins, lalu mengecup pipi kekasihnya yang basah karena air mata yang bercampur dengan keringat.
“Kita lakuin sekali lagi, ya? Aku janji, ini yang terakhir. Kita belum lakuin posisi doggy yang kamu suka,” pinta Varka.
Flins menatap Varka yang sedang menatapnya seperti anak anjing yang menyedihkan. Ia tahu kalau ucapan ‘ini yang terakhir’ itu pasti bohong. Namun, Flins tidak bisa menolak saat Varka menunjukkan wajah menyedihkan begitu.
Ia pun melepaskan napas panjang, kemudian berkata, “Janji ya sekali lagi aja?”
Ekspresi laki-laki berambut pirang itu langsung sumringah mendengar jawaban Flins. Tentu saja Varka sendiri tidak yakin bisa menepati janji itu kalau reaksi Flins terlalu menggiurkan baginya.
TAMAT.
