Actions

Work Header

When the Ink Faded

Summary:

Kehilangan sosok Ayah ternyata menyeret Ohyul jatuh ke dalam jurang nestapa yang begitu dalam. Sosok Ibu tiri yang selama ini membesarkannya dengan kasih sayang sepenuh hati kini memilih menutup diri, menenggelamkan seluruh waktunya dalam pekerjaan bernilai miliaran won demi meredam pilu atas kepergian lelaki yang begitu dicintainya.

Hubungan Ohyul dan sang Ibu tiri yang dahulu melekat laksana tinta pada selembar halaman perlahan merenggang. Selama tiga tahun terakhir, keduanya hidup bagai dua orang asing yang tak pernah saling mengenal.

Karier sang Ibu yang selama ini bersinar gemilang di dunia permodelan mendadak tercoreng. Berbagai media hiburan ramai memberitakan sisi kelam yang selama ini tersembunyi; kebiasaannya menjalin hubungan dengan lelaki yang jauh lebih muda hanya untuk mengusir kesepian yang tak pernah benar-benar sirna.

Namun, takdir rupanya masih menyimpan ironi yang lebih menyakitkan. Salah satu lelaki yang terseret dalam pusaran skandal itu adalah sosok tempat Ohyul menambatkan seluruh perasaan dan hatinya.

Lantas apa yang harus Ohyul lakukan? Belajar menelan pahit, atau menyerah pada luka?

Notes:

Makasih udah mau mampir kesini. First time nulis di ao3, kepengen ngeramein au rulnyulmania. Jangan lupa follow akun X aku @mochimenyul 🫶

Happy reading!

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Luka yang Belum Terobati

Chapter Text

Sudah tiga tahun semenjak kepergian sang ayahanda, namun Ohyul masih merasakan kehampaan akan kehilangan mendalam dari sosok yang paling ia cinta. Memang sudah bisa diprediksi, mengingat beliau sudah menderita sakit parah selama dua tahun terakhir, namun kehilangan tetaplah hal yang paling menyakitkan dari pengalaman hidup seorang manusia.

Kini, hanya tersisa Ibu tiri dan adik laki-laki 'seayah' yang Ohyul punya. Ibu tirinya yang sudah ikut merawat dan membesarkannya sepenuh hati sejak Ohyul berumur empat tahun, adalah seorang wanita asing yang berasal dari Los Angeles, Amerika Serikat. Namanya Gracie Madigan Abrams. Ayahnya yang bernama Kwon Solomon dan sang Ibu tiri adalah teman dekat saat mereka menempuh bangku perkuliahan di Stanford University.

Mereka bertemu lagi dua tahun kemudian setelah Ibu kandung Ohyul menghembuskan nafas terakhir saat melahirkan dirinya. Beliau mengalami pendarahan hebat pascapersalinan. Ohyul berhasil diselamatkan namun takdir berkata lain, sang Ibunda lebih memilih naik ke surga karena raganya sudah tidak kuat menahan kesakitan tak terelakkan.

Dua tahun itu dilalui sang Ayah dengan begitu berat dan menderita. Namun beliau harus kuat menghadapinya, mengingat ada buah hati tercinta yang harus ia besarkan dengan kerja keras dan keringat. Puji syukur Nenek dan Kakek ikut membantu, setidaknya beban yang dipikul Ayah tidak sampai membuatnya putus asa.

Suatu ketika, tidak ada janji temu kangen atau obrolan di sosial media, Ayah dan Ibu tirinya bertemu di reuni akbar SMA paling ngetop di kota. Ibu tirinya kebetulan berteman dengan adik kelas SMA sang Ayah dan wanita itu dipaksa ikut. Kebetulan juga saat itu sang Ibu memang sedang liburan ke Seoul sekalian berwisata. Tidak tahunya malah bertemu 'teman kuliah' di tempat yang jauh dari prediksi keduanya. Bagai benang merah yang ditakdirkan bertemu di satu titik yang telah lama disiapkan semesta.

Percakapan demi percakapan terjadi. Entah melalui pesan singkat ataupun teknologi video call, sang Ayah mulai kembali ceria dari hari ke hari. Awan kelam yang dua tahun ini bertengger di kedua bahunya lambat laun mulai berganti menjadi sinar mentari hangat yang menenangkan.

Sang Ibu tiri mulai belajar bahasa Korea dari yang dasar hingga pelan-pelan fasih berbicara lancar. Keduanya semakin saling terikat dan jatuh cinta hingga sang Ibu memutuskan untuk berpindah tempat tinggal ke tanah air Ayah. Beliau bahkan mengambil keputusan besar untuk meninggalkan pekerjaannya hanya agar bisa bersama dengan lelaki terkasihnya.

Satu tahun setelahnya, mereka menikah di Los Angeles, kampung halaman sang Ibu namun memutuskan untuk kembali tinggal di Seoul karena pekerjaan sang Ayah yang jauh lebih mapan disini. Ibunya mulai meniti karir baru sebagai seorang model amatir, tentunya berkat saran dari sang Ayah mengingat pekerjaan sang Ibu sebelumnya berhubungan dengan dunia fotografi dan modelling juga.

Karirnya semakin melejit ketika beliau juga suka mengunggah video menyanyi dengan genjrengan gitar yang merdu. Panggilan pekerjaan mulai datang dari berbagai arah. Ibunya pun aktif bermain sosial media dan hal itu semakin mengangkat namanya di kancah dunia permodelingan.

Lima tahun terakhir nama Ibu sudah menduduki jajaran peringkat model terkenal di Ibukota. Penghasilan yang didapat bahkan melebihi pekerjaan Ayah yang awalnya jauh lebih mapan. Mereka pindah ke mansion yang sangat megah. Dengan air mancur menari di tengah jalan masuk dengan taman yang mengelilinginya. Hal yang tidak pernah terbersit setitik pun di benak Ohyul selama ia hidup.

Keluarganya naik status sosial dalam kurun waktu tidak terlalu lama berkat bakat dan keberuntungan Ibu tirinya. Seperti mimpi di siang bolong, namun Ohyul merasakannya secara nyata.

Baru saja kehidupan bahagia itu mereka rasakan selama tiga tahun, di bulan Februari awal tahun, berita mengejutkan muncul seakan badai mulai menampakkan diri ditengah terik matahari. Ayahnya didiagnosa memiliki penyakit Emfisema setelah gejala terakhir mengalami sesak nafas kronis saat sedang bekerja di kantornya.

Setahun sebelumnya sang Ayah memang sering batuk terus-menerus disertai dahak yang tebal selama berbulan-bulan. Sang Ibu pun sempat menemaninya ke dokter namun saat itu belum ada diagnosa apapun. Tidak tahunya gejala itu merupakan awal mula dari penyakit yang menjangkiti beliau hingga membuat Ayah harus dirawat di Rumah Sakit.

Sebuah batang rokok itu begitu kejam. Karena tembakau sialan itu Ayah tercintanya meninggalkan semuanya. Kesedihan mendalam menghantui mansion megah kediaman keluarga Kwon setelah upacara pemakaman selesai diselenggarakan.

Lima bulan lamanya Ohyul dan Louis, sang adik, sering mendapati Ibunya menangis diam-diam dibalik punggungnya yang tegak bertembok rasa tegar. Ibunya mulai jarang bicara. Pribadinya yang cerewet mulai berubah menjadi semakin pendiam. Beliau sering pulang malam dan berangkat pagi hari. Bahkan kegiatan sarapan pagi bersama yang dulunya sering keluarga kecil itu lakukan kini kehilangan sosok Ibu yang biasanya menjadi pondasi kehidupan.

Sang Ibu seperti bukan Ibu yang mereka kenal. Semenjak itu pula Louis jadi semakin lengket pada Ohyul. Ia merasa begitu kehilangan sosok Ibu yang seharusnya ia butuhkan di masa-masa sulit seperti ini. Ibunya menjadi semakin egois, padahal rasa kehilangan itu faktanya bukan hanya beliau yang merasakan. Ohyul, Louis dan orang tua sang Ayah pun merasakan hal yang sama.

Semua memikul kepedihan yang setara. Namun sang Ibu merasa ia adalah sosok yang paling menderita. Kini Ohyul dan Louis tidak hanya kehilangan sosok Ayah, sosok Ibu pun lambat laun mulai menghilang dari hidup mereka. Tembok tinggi seakan beliau susun padahal tidak seharusnya seorang Ibu dengan tega melakukan hal tersebut kepada anak-anaknya.

Mereka hidup di rumah yang sama, namun rasanya seperti memiliki dunia yang berbeda. Ohyul dan Louis yang dulunya adalah dua anak yang ceria dan aktif kini menjadi sosok pendiam, muram dan susah untuk disentuh.

Ohyul yang mudah mengalami stress lebih suka suasana tenang seperti Perpustakaan atau kamar pribadinya. Berbeda dengan Louis yang sedang mengalami perkembangan hormon remaja, beruntung ia memiliki dua teman super friendly dan suportif. Meskipun banyak diamnya, namun berkat kehadiran Keonho dan Kya, setidaknya ia perlahan mencoba untuk bersosialisasi dan mulai menampakkan sifat hangatnya.

Seperti saat ini, dengan gerakannya yang kaku karena masih awal-awal berlatih, Louis mencoba menaiki skateboard yang baru ia beli minggu lalu, berputar-putar di tengah kamar luas Ohyul, mencoba untuk tidak menabrak barang-barang yang Kakaknya susun dengan rapi.

"Cobalah sekali saja, hyung. Ini menyenangkan. You should try it at least once in a lifetime." Ucap Louis dengan kosa-katanya yang suka ia campur adukkan dengan bahasa Inggris seperti kebiasaan sang Ibu.

"Besok aku ujian, Louis. Aku minta sekali lagi, tolong jangan ajak aku bicara." Ohyul dan tumpukan catatan pentingnya diatas meja belajar membuat Louis yang melihat mengerutkan dahi pening.

"Tidak seru sekali orang ini. You and your stupid books always makes me fucking dizzy."

"Jaga ucapan, Kwon Louis. Jangan ikuti teman-temanmu yang bermulut sampah itu."

"Why? They're so fucking cool, hyung. Kamu saja yang seperti orang tua."

"I swear to god, Louis!" Ohyul menghentakkan bulpennya pada meja, menghasilkan bunyi nyaring yang nyatanya tidak membuat Louis takut. Ia sudah terbiasa dengan Ohyul dan sikapnya yang seperti orang berumur lima puluh tahun.

"Kalau kamu mengucap kata kasar lagi—"

"Then what? Mom saja tidak pernah memarahiku."

"Karena Mom sudah tidak peduli dengan kita!" Ohyul membelalakkan kedua netranya pada kertas catatan di meja lalu menutup bibirnya yang kelewatan bersuara melengking. Menyadari ucapannya yang menohok seharusnya tidak keluar dari mulutnya yang asal bunyi itu.

Louis terdiam beberapa saat, berhenti dari kegiatannya 'mengitari kamar Ohyul dengan skateboard' lalu duduk di sudut ranjang Ohyul yang kosong.

Suara samar-samar lagu akustik dari speaker kecil di sudut meja nakas Ohyul menjadi satu-satunya penghibur dikala kedua kakak beradik itu termangu dengan pikiran masing-masing.

"Aku rindu dengan Mom. I miss the old 'her' yang cerewet dan suka mengomentari apapun yang kita lakukan. Kamu juga kan, hyung?" Ujar Louis memecah keheningan.

"Kamu ingat aku pernah memecahkan piring kesayangannya yang ia pajang di dekat angel mirror? Kamu ingat kan kita sama-sama mendapatkan jeweran maut padahal kamu tidak ikut melakukannya, hanya karena kamu tidak tega melihatku menangis sendirian?"

"Aku rindu dengan suara melengkingnya, hyung. Aku rindu dengan Ayah yang tertawa terbahak-bahak namun tetap berusaha melerai kita bertiga. I fucking miss us. All of those memories. The good ones, even the bad ones." Suara Louis semakin lirih dari detik ke detik.

Tangan kirinya bersanggah di belakang punggung, sedangkan tangan kanannya memutar-mutar skateboard gundah.

Ohyul menghela nafas panjang, ibu jarinya menekan tombol di pucuk bulpen berulang kali, menimbulkan suara nyaring 'klik klik klik' hingga berdengung di kedua telinga.

"Kita sudah membahas hal ini berulang kali. Mau diapakan lagi, Louis. Kalau bukan dari Mom sendiri yang ingin berubah, kita bisa apa?"

Angin malam berhembus dari jendela berelief mawar dan sulur-sulurnya yang indah, menyelinap pelan kedalam ruang hati yang lama kosong mengharap kasih sayang dari pilar kehidupan yang dulunya menjadi tempat berpulang.

Ohyul rindu sang Ayah, Ohyul rindu sang Ibu. Meskipun Gracie Madigan Abrams bukan wanita yang melahirkannya kedunia, namun cintanya begitu besar untuk membesarkan Ohyul hingga menjadi sosok dewasa yang penuh tanggung jawab. Beliau tidak pernah membeda-bedakan Ohyul dan Louis hanya karena mereka berdua tidak lahir dalam satu rahim yang sama. Kasih sayangnya ekuivalen. Ohyul sudah ia anggap seperti anak kandung sendiri, bahkan sejak pertama kali wanita itu bertemu dengannya untuk dikenalkan sebagai teman lama sang Ayah.

"Syukur-syukur kita masih diberi banyak fasilitas mewah dari penghasilannya. Bagaimana kalau Mom memutuskan untuk membuang kita? Membuang aku— lebih tepatnya."

"Tidak mungkin!" Louis mengerutkan dahi tidak setuju. "Such a bullshit, hyung. Kamu tau sendiri Mom mencintaimu sama seperti dia mencintaiku. Kamu adalah anaknya! Stop speaking fucking nonsense seolah-olah kamu bukan bagian dari kita."

"Kamu mulai berbicara seperti si gadis tomboy bernama Kya itu."

"Kya keren tau! Begitupun Keonho!"

"Nevermind...." Ohyul menyandarkan punggungnya pada kursi empuk yang ia duduki. Sekali lagi merasakan hembusan angin sejuk yang mengelus lembut seluruh wajah cantiknya.

"Aku tidak mau membahas hal sedih ini lagi. Ayo berganti topik! Eum.... bagaimana kabar kekasihmu yang gagah dan keren itu? He's pretty cool for a college guy with zero money on his wallet." Louis menggeletakkan skateboardnya di lantai begitu saja.

Punggungnya ia rebahkan pada ranjang empuk milik Ohyul, berguling-guling seakan-akan ia berada diatas rerumputan segar di taman perumahan.

"Oh.... Jadi kini kamu menyukainya? Aku pikir kamu tidak merestui hubunganku dengan Ryul?" Ohyul membalikkan badan menghadap Louis sepenuhnya.

Alisnya terangkat cukup terkejut mendengar celetukan sang Adik yang entah tiba-tiba meluncur begitu saja. Tanpa tanda-tanda, tanpa aba-aba.

"Aku pikir kamu ingin mempunyai sister-in-law, bukan brother-in-law to be exact?"

"Hah... Aku bukan orang jadul, hyung. Ini era modern. Kamu bisa suka dengan siapapun, aku tidak peduli." Kedua tangannya ia gosok-gosokkan pada permukaan lembut sprei ranjang Ohyul, seperti sedang bermain diatas salju.

"Lagipula wajahmu cantik seperti gadis. Melebihi kecantikan Kya yang banyak tingkah seperti bocah laki-laki."

"Kamu suka ya dengan Kya?"

"Tentu saja tidak!" Decih Louis merengut sebal. "Bukan berarti aku dekat dengan dia lalu kamu bisa melabeliku 'naksir', hyung! Ada namanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Itu normal. Keonho pun juga dekat dengannya, lantas kenapa hanya aku?"

"Chill, bro.... Kamu defensif sekali seperti dituduh melakukan hal kriminal." Ohyul tertawa kecil sembari menggelengkan kepala. Gemas melihat raut wajah Louis yang bersungut-sungut seperti hewan Anteater.

"Aku hanya bercanda."

"Kamu bilang begitu seperti menuduhku menyukai Kya!"

"Lalu memang kenapa? Is it bad?"

"Ya.... tidak juga.... Sudahlah! Lupakan saja!" Rengekan Louis dan hentakan tangannya pada permukaan ranjang membuat Ohyul semakin tertawa kencang.

"Jadi... Menurutmu bagaimana sosok seorang Kim Ryul di matamu?" Ohyul sedikit mengusap sudut matanya yang mengeluarkan air mata setelah puas menertawakan Adiknya.

Ia memiringkan kepala ke kanan, bahunya semakin turun, bersandar rileks pada punggung kursi yang empuk dan nyaman. Memperhatikan gerak-gerik Louis yang sibuk menatap plafon kamar yang cukup tinggi sambil memeluk salah satu bantalnya.

"Not bad. Dia cukup asyik untuk ukuran seorang calon kakak ipar yang nantinya akan masuk kedalam silsilah keluarga kita."

"Benarkah?"

"Aku belum pernah berbicara hal ini sebelumnya, tapi hyung.... kamu seperti mendapatkan jackpot. Biasanya laki-laki tipe seperti Ryul hyung pasti sukanya dengan orang yang populer seperti dirinya. Sedangkan kamu saja suka mendekam di Perpustakaan dan pulang ke rumah seperti tidak ada tempat lain yang lebih indah yang bisa kamu kunjungi di dunia ini."

Ohyul dan Ryul baru saja meresmikan hubungan mereka seminggu yang lalu. Kim Ryul, mahasiswa jurusan Teater dan Film di kampusnya yang ia kenal karena sering bertemu di Perpustakaan Universitas.

Lelaki berperawakan tinggi dan tegap itu mulanya sering datang ke Perpustakaan dengan tujuan pengumpulan data untuk keperluan tugas analisa pemeranan akting dan pembedahan metode akting. Berawal ketika Ryul dan beberapa temannya yang mengerjakan tugas bersama, hingga minggu-minggu berikutnya ia mulai datang sendirian tanpa ditemani siapapun seperti sebelumnya.

Ohyul yang awalnya acuh tak acuh duduk di ujung meja favoritnya, tepatnya di dekat jendela besar dekat rak buku Psikologi, lambat laun pun sedikit demi sedikit semakin tertarik karena—ayolah— lihat saja visual laki-laki itu!

Siapapun pasti terpikat dengan maskulinitas dan gerak geriknya yang minim namun entah kenapa terlihat begitu memukau dipandang mata. Struktur wajah yang tajam, rahang yang tegas, serta tan skin yang aduhai menggiurkan. Bahkan semenjak Kim Ryul suka datang ke Perpustakaan, entah mengapa membuat beberapa gadis dan laki-laki kemayu yang sebelumnya tidak pernah menginjakkan sejengkal kaki disana seketika rela datang hanya untuk pura-pura belajar dan membaca buku. Apalagi jika bukan untuk mengagumi sosok Ryul yang tidak sadar akan banyak pasang mata yang hanya tertuju kepadanya.

Jika Ohyul jadi lelaki itu, mungkin ia akan risih dan memilih untuk memelototi siapapun yang mengusik ketentraman yang berusaha ia jaga. Namun dilihat-lihat Kim Ryul tidak keberatan dengan itu. Mungkin ia sudah terbiasa mengingat jurusan yang ia tempuh mengasah mentalnya menjadi pribadi yang percaya diri dan tahan terhadap berbagai perhatian dari banyak orang.

Ohyul dan Ryul bagaikan dua pribadi yang berbeda, tapi entah mengapa ada satu titik kecocokan yang akhirnya bisa menyatukan kedua insan itu hingga sampai detik ini keduanya bisa terikat kedalam hubungan serius.

"Berlebihan kamu, Kwon Louis. Memang kenapa dengan agenda aku, perpustakaan dan kamarku yang sangat nyaman ini? Kamu keberatan?"

"Hmm sedikit. Kamu jadi ketinggalan banyak trend, pemikiranmu seperti lansia. Kamu kurang terpapar sinar matahari sehingga kulitmu pucat seperti vampire."

"Ya! Jaga ucapanmu! Asal kamu tau, aku selalu kena sinar matahari setiap pagi ketika duduk di bangku taman belakang!"

"That's not the point of this conversation, hyung. Maksudku, kamu butuh bersosialisasi. Like real makin friends outside your circle. Seperti aku dan komunitas skateboard Seoul."

"Aku sudah bersosialisasi! Dengan Carmen, dengan Ryul, denganmu!"

"Hanya tiga orang. Itu sangat sedikit, hyung."

"Dengan bibi-bibi pekerja disini, ada lima orang ditambah Pak Yoon supir kita, enam orang! Jangan lupa Pak Ahn, supir Mom!"

"Jangan hitung mereka, hyung. Mereka adalah bagian dari keluarga kita. Tidak termasuk dalam obrolan yang aku maksud."

"Hah.... fine. Lalu, kamu mau aku apa?"

"Perbanyak pertemananmu, hyung. Pergilah ke party teman kampusmu, datangi club and bars, bernyanyilah di karaoke, main di arcade games, ikuti club olahraga atau semacamnya. Apapun! Apapun itu yang bisa mengurangi sedihmu akan kepergian Appa."

"Aku sudah tidak sedih, Louis. Ada Ryul dan Carmen disampingku. Memangnya aku kelihatan seperti itu?"

"Masih, hyung. Kamu sudah jatuh cinta tapi masih saja bermuram durja. Semua orang bisa melihatnya."

"Argh.... repot sekali anak ini. Wajahku memang seperti ini!" Ohyul merotasikan kedua matanya, lalu menatap pohon-pohon yang bergoyang diluar jendela kamar.

Memperhatikan satu persatu daun berguguran yang tertiup angin malam.

"Aku bertanya tentang Kim Ryul tapi kamu membahas hobi 'penyendiri' yang aku nikmati. Tidak nyambung sama sekali!"

Louis duduk dari acara rebahannya. Menatap side profile kakaknya yang ia akui memang cantik dan lembut untuk ukuran seorang laki-laki. Ia sangat menyayangi Kakaknya. Ia bahkan rela loncat ke tengah rel kereta api jika itu bisa menyelamatkan nyawa lelaki itu.

Ohyul bagaikan orang tua kedua setelah Ayah dan Ibunya. Sejak kecil, lelaki yang lebih tua tiga tahun dari dirinya itu dengan telaten ikut mengurusnya walau ada kalanya keduanya suka terlibat pertengkaran kecil antar saudara.

Di momen seperti ini pun, disaat Ayah mereka sudah tiada dan sang Ibu yang lebih mementingkan pekerjaan ketimbang mengurus keluarga, hanya sosok Ohyul yang selalu setia menemani hari-harinya.

"Aku mencoba untuk sembuh, hyung. Dan aku berharap kamu juga melakukan apa yang aku lakukan. Aku ingin kita kembali seperti dulu. Like the old version of ourselves."

"Meskipun Mom mengecewakan kita, setidaknya... kita masih punya satu sama lain untuk saling bergantung."

Pikiran Ohyul melayang kemana-mana. Pada keadaan rumah yang 'berantakan' tiga tahun terakhir. Pada Ryul dan teman-temannya yang menyenangkan, pada Carmen yang suka tersenyum dan aktif dalam kegiatan kampus, pada Louis yang perlahan memancarkan kehangatan di raut wajah tampannya, pada banyak hal yang terlewatkan hanya karena ia masih terjebak pada kubangan kesakitan tanpa ada niat untuk bangkit dari keterpurukan.

Pada apapun itu, perlahan cahaya yang redup pelan-pelan terpatik di belakang punggungnya. Letupan-letupan kecil entah darimana muncul di sudut batinnya, akibat pancingan dari ucapan Louis yang ia renungi dan resapi lantas ia setujui dengan hati.

Mungkinkah ini yang terbaik untuknya?

Notes:

Aku sangat senang & menghargai kalau kalian ninggalin jejak kudos & comments. Makasih udah mau ngeluangin waktu untuk baca. Maaf kalo ada typos atau kata-kata yang gak enak dibaca. Udah lama nggak nulis kayaknya bikin aku kaku dan mulai belajaran dari awal deh :(

Salam rulnyulmania!