Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-07
Words:
1,540
Chapters:
1/1
Kudos:
62
Bookmarks:
2
Hits:
638

Just Like That

Summary:

Dan hanya seperti itu, Sadewa tersungkur dalam pusaran hasrat Bima, kekasihnya, hingga dirinya tak dapat melarikan diri.

Work Text:

Tiga minggu tak bertemu lantaran Sadewa disibukkan oleh stok-stok minuman di Di Antara, Bima seketika hilang akalnya. Tiga minggu tanpa sua, membuat yang lebih muda uring-uringan tak keruan.

"Males lah mas kalau harus nunggu lagi! Aku ke sana sekarang pokoknyaaa!" Protesnya. "Tiga minggu loh mas Dewa gak kangen kah sama aku Maaaas?" Rengek si rambut ungu lagi meminta untuk bertemu.

Mendengar suara serak sang kekasih yang biasanya menyapa dirinya ketika Sadewa bangun tidur, mengakibatkan runtuh pertahan si Tuan. Sebut dia bucin atau apa, karena kini Sadewa mengiyakan ketika Bima berkata akan menyusul ya ke bar; tak peduli walaupun dilarang. "Ckckck, sekangen itu kamu sama saya?" Ejeknya.

"YA EMANG MAS DEWA GAK KANGEN KAH SAMA AKU?" Teriak Bima dari ujung sana.

Sadewa kemudian hanya tertawa. "Ya udah, saya tunggu." 

Lalu kemudian sambungan telpon keduanya terputus. Terganti dengan pesan teks Bima yang mengumumkan kedatangannya. "Aku ngebut!" 

"Ada-ada saja anak muda," begitu pikir Sadewa.

Yang kini sibuk mengganti botol-botol kosong di display menggantinya dengan stok baru, sembari menunggu kekasihnya datang.

Akan tetapi seharusnya Sadewa tahu, lelaki mana akan tahan jika berminggu tanpa cumbu? Toh dirinya pun sebenarnya mendamba sentuh Bima di tubuhnya. Hanya saja, banyak hal yang tak bisa Sadewa tinggalkan; bahkan jika itu untuk kekasihnya.

Tanggung jawabnya sebagai pemilik, juga pengurus bar yang ia dirikan beberapa tahun lalu ini, mengikat Sadewa hingga tak bisa kemana-mana. Tanggung jawab yang membuatnya menolak hadir Bima belakangan ini.

Tanggung jawab, yang akhirnya membuatnya kelakaban. Lantaran dengan tanpa permisi, Bima yang datang langsung mendobrak pintu Di Antara yang tadinya tertutup rapat. Berjalan dengan gusar ke arah Sadewa yang berdiri di counter. Terkekeh melihat bagaimana jejaka lebih muda tiga tahun darinya ini, menuju ke arahnya bagai topan ganas yang akan menghantam apapun yang ada di depannya.

Karena kemudian, tanpa meminta persetujuan Sadewa, Bima meringsak. Mendekap lelakinya erat. Membawa tubuh kekar Sadewa ke dalam rengkuhnya; seakan memberi tahu bahwa dirinya merindu. "Aku kangen tau, Mas! Mas dewa gak kangen sama aku?!" bagai bocah yang dijauhkan dari mainannya, Bima menggaugkan kerinduannya pada Sadewa.

"Ya kangen, tapi aku kan ke– mmmhhhh–" kalimat sang Bartender terhenti lantaran bibir tipisnya dibungkam hasrat Bima yang menggunung terhadap Sadewa. "Mmmhh– nafsu banget nyiumnya— ngghh–" Ejek Sadewa lagi. 

Kini ia jauhkan wajah kekasihnya, untuk sekadar mengambil napas. Karena Bima– sejak pertama dirinya kembuka pintu bar dan mencumbu dirinya –tak melepaskan pagutan dari bibir Sadewa barang sebentar.

"Bukan salah gue ya maaas—" Bima membela diri. Tubuhnya masih mengungkung badan Sadewa yang tak kalah besarnya dari tepi counter. "Salah siapa gak ngebolehin ketemu tiga minggu," ada penekanan di akhir kalimat Bima. Seakan menjelaskan bahwa alasannya seperti itu adalah karena ketidakhadiran Sadewa.

"Hahaha, iyaaa. Salah sa– mmmhhh," Sadewa yang baru akan menjawab, kembali dibungkam oleh ciuman Bima yang membara di bibirnya. Dapat dirasanya panas menjalari nadi kala bibir keduanya kembali bertaut. 

Sadewa tak menolak, toh dirinya juga merindu Bima teramat sangat. Maka kemduian ia nikmati gerakan bibir lelakinya yang serampangan. Yang terasa kian lapar melumat bilah bibirnya dengan gusar. "Et– kemana tuh tangannya?" Tanya Sadewa kala dirasanya tangan Bima mengembara ke selatan, ketika mereka asyik berciuman.

Namun tak menjawab sama sekali, kini tangan Bima malah semakin bergerilya di tubuh yang lebih tua. Memelorotkan celana hitam yang dipakai Sadewa hingga ke dengkul. Kemudian, ia teruskan menurunkan kancut yang menghalangi batang nikmat yang ia rindu rasanya.

"Basah ya, Mas." 

"Itu basah keringat." Sadewa mengelak. Tak ingin mengakui bahwa dirinya bersemangat karena dijamahi kekasihnya.

"Masa?" Tanya Bima tak percaya. Kini dirinya– yang tadinya berhadapan dengan Sadewa –berjongkok di hadapan selangkangan lelakinya. "Emang iya mas basah keringet lengket gini?" Sambungnya sembari mengambil sedikit lendir dari kepala kejantanan lelakinya.

Di lain sisi, kepala Sadewa terlontar ke belakang. Nikmat rasanya sentuhan Bima di batangnya. "Iya, itu keringat. Kita lanjut nanti, ya, Bim, di rumah—" Sadewa berusaha melarikan diri.

Usaha yang gagal karena langsung saja ditahan gerakannya oleh kekar lengan Bima yang memegang Sadewa. "Gak peduli, Mas," Bima masa bodoh dengan bagaimana keadaan pujaan hatinya ini.

Yang jelas kini dirinya tak mau diganggu lagi oleh hal-hal trivial yang tak perlu. "Gue cuma mau ini, kok," lanjut si Bima sembari melahap kejantanan Sadewa. Ia hisap batang berurat keunguan ini. Ia adu dengan kasar lidahnya yang menari di titit Sadewa yang berkedut.

Peraduan nakalyang memancing desah nakal Sadewa mengudara. Mengisi botol-botol kosong di Di Antara. Dan seakan dirinya adalah musafir yang haus setelah lama berjalan di padang tandus, Bima menyesap dengan khidmat nikmat nektar surga yang menjelma besar kejantanan Sadewa.

Tanpa aba-aba, Bima lesakkan batang nikmat yang lebih tua ke mulutnya; hingga mentok ke dalam. Kemudian Bima pelankan gerakannya. Ia hisap milik Sadewa seperti anak kecil pertama kali mencicipi gulali. "Mmm— josjis banget mas tititnya—" 

Sadewa yang sedang asik menerima hisapan sensual Bima di bawah sana, sontak tertawa mendengar kalimat yang artinya entah apa, yang baru saja dikeluarkan yang lebih muda.

"Hahaha Bimaaaa! Ngghh—" 

"Bwenwer mwas—" Bima berbicara sembari mengulum titit Sadewa yang kian mengembang di dalam mulutnya. "Jwosjwis bwanget twitwitnya—" 

Sadewa sebenarnya masih ingin tertawa. Akan tetapi geli hatinya terhenti oleh sempit mulut Bima yang kian ketat, membawa kejantanannya melesak ke pangkal tenggorokan yang lebih muda. Gerakan yang membuat Sadewa kembali gila karena kelihaian Bima di bawah sana. Hingga lupa ia akan segala. Akan harga diri yang biasanya ia junjung tinggi.

"Fu— iya— gitu biiimmhhh—" Desah Sadewa keenakan. "Gi— ngghh—"

"Gwini mas?"  

"Iya Bim— gi— nnggghhhh so fucking good Biim. Good boy— aahh–" 

Mendengar pujian Sadewa yang sangat jarang Bima dapatkan, si Jejaka berambut ungu ini kian melancarkan aksinya. Ia sedot milik Sadewa, sembari ia mainkan lidahnya di kepala kejantanan yang lebih tua— yang kini semakin basah oleh cairan pra-ejakulasi yang bercampur dengan liur kekasihnya 

Dan saking nikmatnya permainan mulut Bima, kini tangan Sadewa ikut pula memain-mainkan lembut rambut kekasihnya; seakan memberi tahu bahwa Bima telah dengan benar melakukan tugasnya. Ia tarik sesekali saat Bima menghisap batangnya tanpa aba-aba. Ah, Sadewa sudah hampir terbang ke surga.

"Fuu– mmhhh–"  Dan hanya seperti itu, Sadewa tersungkur dalam pusaran badai hasrat Bima, kekasihnya, hingga dirinya tak dapat melarikan diri.

Sedang yang lebih muda, mendapat sentuhan begitu rupa, kian liar saja dirinya di tengah selangkangan Sadewa. Ia majukan kepalanya, ia mundurkan pula sembari mengulum batang nikmat lelakinya. Ia kecup-kecupi kepalanya yang banjir berair. Membuat Sadewa semakin menggila. 

Belum lagi kini ia naikkan satu tungkai Sadewa, Bima taruh jenjang kaki kekasihnya di lebar bahunya sambil ia coba jangkau celah sempit di belakang tubuh Sadewa. Sebuah posisi porno yang semakin pula membuka titik-titik syahwat yang lebih tua; membuat Sadewa menggila.

Semakin tinggi pula oktafnya yang lucah. Terlebih ketika kini jari gendut Bima, dengan tanpa permisi, menerobos liangnya yang sempit. Sadewa tak lagi ingat pada dunia. Di sepi Di Antara, Sadewa mengaing bagai anjing pertama kali kawin ketika. Tepat ketika perpaduan hangat mulut Bima juga gempal jemarinya mendobrak titik sensitif Sadewa di bawah sana. Membuatnya lupa diri.

"Ewnwak ywa mwas?" Tanya Bima dengan kejantanan Sadewa memenuhi mulutnya.

Retoris karena setelahnya tak ada lagi kata. Tak ada suara yang jelas terdengar silabelnya. Hanya desah ah– ah– Biim– enak– Biiim– yang keluar dari mulut Sadewa; yang kini tengah kejang-kejanh akibat semburan endorfin yang membawanya terbang ke surga. 

Dan layaknya jemaat yang taat, Bima menenggak tiap tetes mani Sadewa hingga tak bersisa. Ia teguk tiap mililiternya dengan khidmat. "Banyak banget, Mas, hehehe," kekeh Bima sambil bangkit dari posisinya jongkok tadi. Berdiri, sembari mengecup-ngecup wajah Sadeea dengan bibir yang baru saja dipakainya melahap yang lebih tua di bawah sana. "Tapi aku belum loh, Mas."

"Bentar, Bim, aku baru ke—" tengah berkata, tubuh Sadewa dibalikkan oleh besar tenaga yang lebih muda.

Bima pegang tengkuknya. Ia tahan agar Sadeea tak melawan. Sedang tangan satunya lagi ia pergunakan untuk memelorotkan celananya sendiri. Membebaskan kejantanan yang mengkilat, dilapisi oleh banyaknya cairan nikmat karena sedari tadi Bima sudah menahan diri.

"Gak apa-apa, mas. Malah bagus gitu." Sembari berkata, Bima naikkan kaki Sadewa ke atas counter. Ia buka tungkai jenjang sang Bartender, sebelum kemudian– tanpa permisi –ia hentakkan kejantanannya yang tak berpengaman masuk ke dalam anal Sadewa yang belum longgar sepenuhnya. "Sempit banget– maaasshhh–" racau Bima kala ia rasa kerut anal yang lebih tua memeluk miliknya.

Lalu tanpa ragu, tanpa menahan tenaganya yang seperti tenaga ribuan kuda, Bima hunjamkan lagi kejantanannya ke dalam liang Sadewa yang kini terbata. Tak tahu harus berkata apa ia ketika dipakai begitu rupa. Belum lagi kini lebar tangan Bima berusaha menjangkau dadanya, membuat Sadewa kehilangan sepertiga kewarasannya lagi.

"Duh mas– aaahhh– liang mas Dewa makin ngetat kalo aku mainin nenenya– anj– ngghhh– mas Dewa suka, ya digrepe-grepe?" 

 

"Bacot kau!" Sadewa tak menjawab sekenanya. Terlalu sibuk ia menerika gerakan liar Bima di sempit liangnya. "Nngghhh– Bimaa–" 

 

"Aduh mas udah hnggghhh– gak tahan gue mas," Bima kian lapar. Ia pegang ramping piggang Sadewa, sambil ia hentakkan kejantanannya masuk ke dalam. "Gue keluarin di dalem ya ma– hnggg– maass–" rengek Bima lagi.

"Yabg bener aja kau koc– aaahh–" Sadewa sempat ingin menolak.

"Mass– enak maasss–" 

Namun kemudian terlambat karena Bima telah memenuhi tiap rongga liangnya hingga sarat akan mani. Penuh dirinya di bawah sana diisi sibstansi yang lebih muda.

Dan bukannya berhenti, Bima malah kembali menggerakkan pinggulnya. Mendobrak liang Sadewa untuk kali kedua. Mencipta alunan surga akibat perpaduan besar kejantanan yang lebih muda dengan anal Sadewa yang penuh. 

 

"Lagi ya, mas–" 

 

"Bim nanti du–" 

 

"Bodo amat mmmhhh– maasss–" 

 

Bima tak peduli, ia hentak Sadewa lagi. Berkali-kali. Berkali-kali, hingga lelakinya lupa diri.