Actions

Work Header

Was It Something I Said?

Summary:

Setidaknya, Ao’nung ingat itu semua. Bahkan ketika ia terbangun saat terang matahari mengisi pandangan nya, saat ia sadari ruang di sampingnya kini dingin tanpa kehadiran Neteyam, saat ia mendengar samar Neteyam yang berbicara kepada seseorang dari ponsel nya.

Notes:

Was It Something I said — MyKey

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Guess it’s time for sadboy kiss and tell

Ao’nung melirik pada layar ponsel nya, nama yang ia harapkan untuk menghubungi nya kemarin malam baru muncul pagi ini. Satu, dua, tiga, sebelas panggilan tak terjawab. Ruangan yang redup meski matahari telah bertengger berjam-jam lalu itu hanya mendapat pasokan cahaya dari layar ponsel nya. Beberapa teks yang bahkan ia tak sanggup baca, tak kala telinga nya terus berdengung, kepala nya seolah berputar, matanya panas lelah menangis.

Itu Neteyam, benar Neteyam. Pacarnya yang selalu ia puja dan sayangi. Kekasihnya yang ia rela berubah untuk jadi lebih baik deminya. Neteyam, entah kemana tak dapat ia hubungi kemarin malam. Neteyam, dalam tangkapan kamera orang lain tengah bercumbu mesra dengan yang bukan dirinya.

Ao’nung yakin itu Neteyam. Namun mengapa hal yang kekasihnya janjikan padanya berbalik dengan yang ia lakukan?

You ruined my life, but i wish you well

Badan Ao’nung seolah lemas menjadi jeli, perkara otak yang tak berhenti berfikir sejak malam hingga fajar tiba. Tidur pun tak rela, ia ingin tahu jawaban nya segera. Ao’nung bersembunyi di balik selimut itu, berharap apa yang ia lihat hanyalah mimpi semata.

Pikiran nya menggelap, tatapan nya hilang. Ia terlelap, untuk beberapa jam karena faktanya badan nya masih butuh bernafas. Tak lama, gedoran pada pintu membuatnya terbangun. Pusing kembali hadiri penglihatan nya, dengan lunglai abaikan handphone nya yang berdering dan meraih gagang pintu.

 

Neteyam.

Neteyam, nama yang ia bawa dalam tidur sejenaknya itu.

Quit leaving me voicemails about your pain

“Ao’nung!” Pria di depan nya lantas menyerang si tinggi dengan pelukan. Baju nya terasa basah, Neteyam menangis.

Kenapa? Bukan kah dia yang harusnya menangis saat ini?

“Kamu kemana?! Ditelfon ga jawab, dichat ga jawab. Aku khawatir tau!” Neteyam terisak di pelukan nya, memberi pukulan ringan pada dada bidang nya.

Ao’nung tersenyum miris, lantas mengelus punggung kekasihnya lembut. “Aku ketiduran.” Jawabnya.

“Dari pagi sampai sore? Kamu ga tau seberapa panik aku!” Neteyam masih marah, masih kesal.

Ao’nung tidak menjawab, dia juga ingin marah. Ingin kesal kepada Neteyam. Satu pasang telapak tangan raih wajahnya, merasakan sentuhan dingin dari kekasihnya di atas kulit panas Ao’nung.

“Kamu demam.” Ucap Neteyam, nada nya lebih merendah.

Ao’nung diam, bahkan tak sadar akan kondisi dirinya sendiri.

Lantas Neteyam tarik tangan si lebih tinggi, raih sofa yang selalu menjadi tempat favorit mereka. Terkadang menonton bersama, Neteyam bersandar di pundak nya, Ao’nung tertidur di pangkuan Neteyam yang menyisir rambutnya. Begitu banyak memori indah.

Ao’nung benar benar berharap apa yang ia lihat hanyalah fantasi.

Neteyam menyusun kotak plastik berisi makanan yang ia bawa, mengeluarkan botol minum yang ia arahkan pada Ao’nung.

“Kalau sakit tuh bilang, biar aku rawat. Jangan diam aja susah dihubungin gitu.” Omel Neteyam, sembari mengambil beberapa pil obat dari dalam tasnya.

Shouldn’t have listen to the shit you say

“Kemarin kamu kemana?” Ao’nung buka suara, serak suaranya jelas di telinga Neteyam.

Yang ditanya sempat menoleh, sebelum fokus nya kembali pada butiran obat itu. “Aku udah bilang kan? Belajar, buat ujian.”

“Aku ga bisa hubungi kamu juga.”

“Iya, aku tinggalin di kamar Kiri biar ga jadi distraksi. Kenapa deh?” Neteyam tertawa kecil, seolah pertanyaan Ao’nung terdengar kekanakan.

“Belajar?” Ao’nung tanya lagi, tatapan nya tak lepas dari mata sang kekasih, mencari kejujuran atau mungkin kebohongan di dalam nya.

“Iya Ao’nungg.” Neteyam membalas tatapan nya, minta si lebih mudah untuk teguk obat yang ia siapkan.

Ao’nung meneguk air tersebut, masih tak lepaskan tatapan nya pada sang kekasih. Neteyam abai, lanjut membuka kotak makan yang ia siapkan untuk pacarnya. Karena ia tahu, Ao’nung pasti belum makan. Karena Neteyam tahu, apa yang Ao’nung butuhkan. Tapi satu yang Neteyam tak tahu, tentang apa yang Ao’nung pikirkan.

Ao’nung raih tangan Neteyam untuk berhenti bergerak, arahkan jari jari lentiknya pada dada nya yang bergedup kencang.

“Jangan bohong ke aku, Tey.” Ucap nya, tanpa amarah, tanpa emosi. Hanya ingin kejujuran yang ia dapat.

Was it something i said?

Neteyam menangkat alis bingung, “Buat apa aku bohong, Nung?”

Ao’nung menarik nafas berat, darah mengalir cepat menegang di sekitar leher dan wajah nya. Ia ingin marah, ingin Neteyam benar-benar ucapkan kejujuran padanya.

“Kemarin kamu kemana?” Tanya nya, lagi.

“Belajar, udah aku jawab.”

“Terus siapa yang aku lihat, Tey?” Ao’nung tarik lebih kuat tangan Neteyam yang hampir lepas dari genggaman nya. “Jaket hitam kamu, jeans kesukaan kamu, hiasan rambut yang persis sama kayak hari ini. Sepatu boot hadiah dari papa kamu. Semuanya Tey, semuanya aku tahu jelas punya kamu.”

Neteyam terdiam, cukup lama. Atau dalam pikiran Ao’nung, cukup lama. Wajah lembut yang selalu ia hiasi dengan belaian dan kecupan manis itu mengerut, hadirkan senyum sesaat. Neteyam alihkan tangan nya ke leher lalu dahi Ao’nung.

“Kamu demam, Nung. Ayo aku antar ke kamar.” Neteyam hendak bangkit, sebelum Ao’nung tahan pergerakan nya.

“Ga usah alihin topik.”

That made you anxious, yeah, it made you upset?

Yang disebut kembali terduduk, alih-alih menjawab, ia berikan fokus pada kotak-kotak tadi. Kediaman kembali mengisi keduanya. Ao’nung bangkit, berjalan cepat ke dalam kamar dan kembali terduduk di samping Neteyam. Tinggalkan rasa bingung kepada si rambut lurus.

Langkah nya kali ini lebih berat, lebih gusar. Benda di genggaman tangan nya mengeluarkan cahaya terang, sebuah foto buram yang diambil sembarangan. Ao’nung arahkan benda itu kepada sang kekasih, 1 detik mungkin tak sampai, perasaan muak mengisi kepala nya.

Made you call me back at 3 am?

“Sekarang jujur, ini kamu bukan?” Tanya lagi, mencari kepastian dari bibir sang kekasih.

Muka Neteyam lantas menegang, matanya menatap rendah lalu kembali menatap lurus pada kekasihnya. Senyuman, sebuah senyuman sialan yang lagi-lagi ia hadirkan. Senyuman yang mulai detik itu perlahan Ao’nung benci.

“Bukan aku doang yang punya boot itu, jeans nya juga. Siapa sih yang kirim? Temen kamu?” Tanya Neteyam, terus berbicara sambil tangan nya kembali sibuk mengeluarkan sepasang alat makan berbahan plastik. Dia bicara seolah ini adalah topik yang ringan diantara mereka. “Kamu tau sendiri temen-teman kamu ga ada yang senang sama hubungan kita.”

Just to tell me your defense

“Aku bisa ngenalin pacar aku dalam kondisi apapun, Tey.” Potong Ao’nung cepat, suaranya kali ini lebih rendah. Ia lelah, lelah beradu kata ketika yang ia ingin dengarkan hanyalah jujur.

Lantas Neteyam menghela nafas lelah, senyum sarkas kembali ia hadirkan. “Aku belajar, Ao’nung. Kamu tahu seberapa penting ujian aku. Ngapain juga aku malam malam—“

“Aku telfon Kiri kemarin malam.” Ao’nung, lagi-lagi memotong.

Was it something i said?

Kini lawan bicaranya lagi-lagi terdiam. Tangan nya tak lagi menyentuh container berisi makanan hangat itu. Kepala nya tertunduk, membiarkan kepangan rambut itu terjatuh ke bawah. Neteyam dapat rasakan udara yang menampar kulit panas nya kala Ao’nung menabrakkan kasar punggungnya ke kepala sofa. Suara ludah yang ia telan jadi satu satunya sumber kebisingan di sunyinya ruangan itu.

Ao’nung memejamkan mata, pikiran nya penuh. Jidatnya seolah semakin melebar, takkala segala kemungkinan yang akan terjadi setelah hubungan mereka berakhir memenuhi pikiran nya. Dia bahkan ragu, entah harus melepas atau bertahan sedikit lebih lama. 3 tahun lamanya, tak mungkin semuanya lenyap secepat itu kan?

Made you anxious, yeah, it made you upset?

“Iya aku bohong.” Suara Neteyam kali ini tak lagi diisi dengan kepercayaan diri, malu seolah mengiringi kata-kata nya. “Aku belajar sampai jam 8. Sehabisnya aku keluar, ga bawa ponsel, ga bilang siapa-siapa.” Lanjutnya masih belum berani menatap lautan biru milik pacarnya.

Lately, i fear there’s no end in sight

Ao’nung masih terdiam, berusaha merakit kata-kata kala tenggorokan nya panas seolah terlilit batang bunga mawar yang tajam. “Kenapa harus bohong?” Ucapnya gusar, kulit bibirnya seolah pecah saking keringnya.

“Karena aku bilang ke kamu aku belajar semalaman. Aku ga mau kamu khawatir.” Neteyam, paruh terdengar suaranya. Tenggorokan nya pun ikut panas, sama paniknya dengan sosok dihadapan nya.

“Jadi itu benar kamu?”

“No.” Jawab Neteyam cepat. “Maksudnya, emang bener aku ke bar. Mungkin di area sana? Aku gatau juga. Aku cuman datang buat jemput Lo’ak. Itu doang.” Kali ini ia menatap Ao’nung, berusaha mendapatkan kepercayaan dari kekasihnya.

I know you’re never there, but you might

“Bar? Jemput Lo’ak?”

“Lo’ak call aku, okay? Dia terlalu drunk dan ga mungkin kan aku suruh dia naik cab aja?” Kali ini nada nya lebih meninggi, pandangan Neteyam kembali berfokus pada biru nya Ao’nung. “Please percaya aku?”

“Terus yang difoto—“

“Ao’nung, i swear to eywa, aku bahkan cuman pake pajama sama sweater waktu keluar dari rumah.” Neteyam lagi lagi memotong. Badan nya kini sudah bergerak cepat meraih pergelangan tangan Ao’nung ke dalam genggaman nya. “You could be wrong too, Nung.”

Rasa takut seolah menusuk tubuh nya berkali kali lipat, Ao’nung biarkan Neteyam mengenggam telapak tangan nya yang sudah berkeringan dingin. Panas dan pusing tak henti hentinya menyerang fokus nya, ia ingin tidur saat ini juga. Ia ingin tidur lalu terbangun dan menyadari bahwa semua ini hanyalah mimpi.

“Sorry i have to lie to you, but please, baby. Can i please get your trust in me again?” Lembut kali ini ucapan Neteyam terdengar. Halus, polos, penuh harapan. Elusan hangat menyentuh kulit Ao’nung.

Yang ditanya hanya menggelengkan kepala, ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa takkala segala perasaan yang membuatnya merasa mual. Ia tekuk kedua kakinya, berusaha melepaskan genggaman Neteyam sambil menenggelamkan kepala nya diantara kedua tekukan kaki nya.

“Ao’nung, please, we can still make this work. Please, baby?”

Maybe if I try, i could sleep it off

Suara terpendam dan serak terdengar dari Ao’nung yang masih bersembunyi di pelukan kedua kakinya, “Kamu bohong apa lagi?”

“Baby, nothing.” Balas Neteyam, berusaha alihkan pandangan Ao’nung ke mata emas nya. “Aku udah bilang semuanya ke kamu. Kamu tau aku ga suka bohong ke kamu.”

Ao’nung tidak membalas, namun getaran dari kedua pundaknya cukup untuk membuat Neteyam panik. Ao’nung menangis terisak, nafas nya berat dan pendek. Kepala nya pusing, penglihatan nya menghitam. Ia bisa dengar dengan samar Neteyam memanggil namanya berkali kali.

“Aku— hiks, Aku takut. Takut kamu ninggalin aku.” Jawabnya di tengah tangisan itu.

Kepala nya kali ini terangkat, secara otomatis beristirahat di telapak tangan Neteyam yang sedari tadi menyisir halus helaian rambutnya. Hadirkan basah dari air mata turut membanjiri telapak tangan sang kekasih. Neteyam bergerak cepat, memeluk badan besar Ao’nung dengan tangan yang satunya.

“Aku takut.” Lagi-lagi Ao’nung ulangi, takkala pandangan nya sudah benar-benar gelap, pantulan dari lampu ruangan itu seolah menari nari secara horizontal di dalam kepala nya.

“That’s just you, Ao’nung.” Neteyam belai lembut pipi sang kekasih. “Ga mungkin aku ninggalin kamu. Ga akan pernah.” Ucapnya pelan, berusaha beri ketenangan kepada sang pacar.

I see you when i sleep so i don’t sleep at all

Detik selanjutnya yang Ao’nung ingat ia sudah berjalan lemah ke arah kamar tidur dengan Neteyam yang menuntun nya. Hal yang Ao’nung ingat adalah Neteyam meletakkan handuk kecil hangat di atas dahi nya sembari menggosok beberapa bagian kulit tubuhnya. Yang Ao’nung ingat, pakaian dari kemarin yang bau keringat itu sudah diganti dengan pajama nyaman kesukaan nya. Dan yang Ao’nung ingat pasti, Neteyam mengucapkan selamat malam kepadanya sambil terus menyisir lembut rambut nya, dan tertidur di samping nya.

Setidaknya, Ao’nung ingat pasti bagaimana kecupan lembut di bibirnya sempat Neteyam tinggalkan sebelum kedua matanya terpejam dan jauh di dalam alam mimpi.

Setidaknya, Ao’nung ingat itu semua. Bahkan ketika ia terbangun saat terang matahari mengisi pandangan nya, saat ia sadari ruang di sampingnya kini dingin tanpa kehadiran Neteyam, saat ia mendengar samar Neteyam yang berbicara kepada seseorang dari ponsel nya.

Slowly all my thoughts start singing my favorite song

Saat kata-kata itu keluar dari bibir yang jadi miliknya, bibir yang ia cumbui di tengah malam panas, bibir yang meninggalkan kecupan singkat kemarin malam setelah pertengakaran mereka. Saat kata-kata yang lagi-lagi ia harapkan hanyalah fantasi nya semata keluar dari bibir sialan itu.

“Aku bilang jangan call kan? I’m at my boyfriend’s.” Lalu sunyi.

“Iya, i think he knew.” Hening, lalu dengungan tanpa henti mengisi pendengaran Ao’nung.

“Don’t worry. He won’t be a problem.” Pusing kembali mengisi pandangan nya. Walau matanya terpejam, Ao’nung berharap indra pendengaran nya tak berfungsi saat itu juga.

“Your place at 8, kan? Aku telfon lagi nanti.”

Was it something i said?

Lalu suara gusar terdengar dari sumber itu, tak lama pintu kamar terbuka. Ao’nung bisa dengar pasti langkah kaki pacarnya itu, dengan sendal rumah selaras yang mereka beli satu tahun lalu. Ruangan di sampingnya terasa berat, Neteyam kembali berbaring. Tangan kecilnya meraih punggung Ao’nung yang membelakangi nya, kepala terbenam di antara panas tubuh nya.

“Get better soon, baby.” Ucap Neteyam lembut, membawa dirinya kembali ke alam mimpi.

Tapi tidak dengan Ao’nung dan airmata yang membendung, hadirkan aliran di sepanjang pipinya. Ia eratkan genggaman pada seprei di bawahnya, berharap ia bisa tertidur dan tidak terbangun dikemudian hari.

Made you wanna go and bitch to your friends?

Notes:

So what do we think 0___0