Actions

Work Header

What If [1] Ruang Rehabilitas

Summary:

Menjadi kriminal pemula adalah satu hal, tapi menjadi mainan di tangan aparat seperti Ashton adalah urusan lain.

Notes:

Quick heads up! Ini adalah Alternate Universe (AU) tempat Ashton as a police officer dan Jemi as a drug dealer/bandar. Not canon compliant dengan cerita utama Jemi & Ashton yang sebelumnya, ya.
Mind the tags and enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:


Di depan kamera media, Jemi selalu tampak seperti putra mahkota yang sempurna. Dengan kemeja batik sutra yang pas di badan, rambut klimis dan senyum santun yang terpasang rapi di sebelah bapaknya—seorang pejabat tinggi negara yang namanya selalu hulu-hilir di berita nasional—Jemi adalah definisi anak emas. Namun, begitu malam tiba dan sorot kamera padam, semua kesantunan itu menguap, digantikan oleh keliaran seorang anak muda yang merasa dunia bisa dibeli dengan tanda tangan bapaknya.

Sebenarnya, dalam dunia gelap peredaran sabu, Jemi masih bisa dibilang seorang pemula. Umurnya yang masih belia membuat dia bertindak lebih berdasarkan ego, gengsi, dan pasokan adrenalin ketimbang perhitungan yang matang. Dia bukan tipe bandar profesional yang bergerak senyap di bawah bayangan. Sebaliknya, karena statusnya sebagai anak pejabat, gerak-gerik Jemi justru terlalu mencolok dan sangat mudah dibaca. Dia hobi memamerkan gaya hidup glamor, sering bertransaksi di kelab-kelab malam eksklusif yang itu-itu saja, dan membawa mobil sport dengan warna yang terlalu mencolok di jalanan ibu kota. Keangkuhannya sebagai anak elit membuat dia ceroboh dan menganggap remeh hukum, sehingga pihak kepolisian sebenarnya tidak perlu bekerja keras hanya untuk mengendus keberadaannya.

Kecerobohan khas pemula itulah yang membuat Jemi sering banget ketahuan dan sudah dua kali tertangkap basah dalam waktu singkat. Penangkapan pertama terjadi di sebuah penthouse mewah saat dia sedang asyik membagi-bagi kristal putih bersama lingkaran pertemanannya. Penangkapan kedua bahkan lebih konyol; dia terjaring razia karena menyetir ugal-ugalan dalam kondisi fly berat setelah mengantarkan barang.

Namun, seringnya dia terciduk sama sekali tidak membuat Jemi kapok. Alih-alih gemetar di balik jeruji besi, Jemi justru memanfaatkan setiap momen penangkapan untuk memamerkan kekuasaan bapaknya. Dia tahu betul bahwa ruang interogasi hanyalah tempat singgah sementara, sebuah formalitas sebelum bapaknya menelepon petinggi kepolisian, melenyapkan barang bukti, dan memutasi petugas yang berani menyentuhnya. Bagi Jemi, hukum hanyalah lelucon yang membosankan.

Sial bagi Jemi, kelakuannya yang terlalu frontal kali ini benar-benar membuat bapaknya habis kesabaran, terutama karena tahun pemilu sudah di depan mata dan pihak oposisi mulai mengendus borok sang putra mahkota. Demi menyelamatkan karier politik dan nama baik keluarga, sang pejabat akhirnya mengambil keputusan untuk menyembunyikan Jemi.

Dia dibuang ke sebuah fasilitas rehabilitasi swasta super VIP di pinggiran kota. Tempat itu terisolasi, steril, dan dijaga ketat, meskipun fasilitas di dalamnya lebih mirip hotel bintang lima daripada pusat penyembuhan. Jemi melangkah masuk ke dalam ruangan steril itu tanpa rasa penyesalan sedikit pun, membawa seluruh keangkuhan, tabiat berandalannya, dan rasa bosan seorang pemuda manja yang merasa tempat itu hanyalah sebuah persinggahan sementara sebelum dia kembali membuat kekacauan.

Fasilitas rehabilitasi yang seharusnya menjadi tempat penyucian diri dan penebusan dosa bagi para budak ketergantungan, mendadak berubah fungsi menjadi resor pribadi begitu nama besar bapak Jemi masuk ke dalam manifes sirkulasi uang lembaga tersebut. Di tempat di mana orang-orang biasa dipaksa mandi keringat dingin, gemetaran menahan sakau di atas dipan semen berdinding pengap, Jemi justru mendapatkan realitas yang sebaliknya. Sistem hukum dan pemulihan di negeri ini runtuh berantakan di bawah kaki kekuasaan, menyisakan sebuah ironi di mana lembaran uang ratusan ribu mampu membeli integritas para sipir dan dokter spesialis hingga mereka rela menutup mata rapat-rapat.

Ruangan VIP yang ditempati anak pejabat tidak pernah mencerminkan sebuah sel isolasi medis. Alih-alih bau disinfektan yang menusuk hidung atau dinding putih bersih yang mengintimidasi psikologis, kamar itu beraroma kayu cendana dan dilengkapi kasur pegas berukuran ganda dengan pendingin ruangan yang berembus konstan selama dua puluh empat jam. Kepala lembaga rehabilitasi itu bahkan secara berkala datang hanya untuk memastikan apakah menu makanan yang disajikan dari restoran bintang lima di pusat kota sudah sesuai dengan selera sang anak pejabat. Tidak ada jadwal ketat, tidak ada terapi kelompok yang memeras emosi, dan tidak ada kewajiban untuk bangun pagi demi apel kedisiplinan. Semua aturan baku itu menguap, digantikan oleh kesepakatan bawah meja yang nilainya bisa menghidupi seluruh operasional gedung tersebut selama setahun penuh.

Kondisi ini membuat Jemi tetap bisa mempertahankan tabiat buruknya tanpa perlu merasa terancam oleh label pasien. Di tengah keheningan malam kamar rehab, Jemi dengan santai duduk di tepi ranjang empuknya sembari menjepit sebatang rokok khusus di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Itu bukan rokok tembakau biasa, melainkan rokok yang sudah dimodifikasi dengan esens narkoba cair tingkat rendah—sebuah barang selundupan eksklusif yang lolos dari pemeriksaan penjaga berkat uang pelicin yang mengalir ke kantong komandan jaga setiap minggunya.

Ketika korek api dinyalakan, asap tipis beraroma manis yang samar mulai memenuhi ruangan steril tersebut. Jemi menghirupnya dalam-dalam, membiarkan efek kimia itu mengalir perlahan ke dalam sistem sarafnya. Dia bukan pecandu berat yang bakal kejang-kejang atau kehilangan akal sehat jika sehari saja tidak mengonsumsi sabu. Ketergantungannya berada di level superfisial, sebuah konsumsi tipis-tipis yang dia gunakan hanya untuk mencari sensasi relaksasi dan euforia instan demi membunuh rasa bosan. Jemi menyukai bagaimana zat tersebut membuat kepalanya terasa sedikit melayang tanpa harus kehilangan kendali penuh atas tubuhnya. Baginya, menghisap rokok modifikasi ini di dalam lembaga rehabilitasi milik negara adalah bentuk kemenangan tertinggi atas sistem yang selalu berusaha mendiktenya.

Bobroknya kekuasaan yang melindunginya terpampang nyata dari bagaimana asap rokok itu dengan bebas mengepul ke arah kamera pengawas di sudut langit-langit kamar. Di ruang monitor luar, petugas yang berjaga sengaja memalingkan wajah atau berpura-pura tertidur, tahu betul bahwa menegur pemuda di dalam kamar itu sama saja dengan menyerahkan surat pemecatan mereka sendiri keesokan harinya. Jemi sangat menyadari hal itu. Setiap tarikan napasnya yang diiringi kepulan asap adalah simbol dari betapa murahnya harga keadilan di tangan seorang anak pejabat, di mana sebuah tempat yang dibangun untuk menyembuhkan ketergantungan justru menjadi tempat paling aman untuk menikmatinya tanpa tersentuh hukum.

Namun, roda nasib Jemi yang selalu berputar di atas kemudahan mendadak macet total pada suatu siang yang dingin bagi kamar huni anak pejabat. Hari sialnya dimulai ketika sistem rotasi penjagaan di lembaga rehabilitasi itu diacak tanpa pemberitahuan oleh pimpinan pusat yang sedang diawasi ketat oleh dinas provost. Komandan jaga yang biasanya menerima uang sepeser pun dari Jemi mendadak diganti, dan daun pintu jati tebal kamarnya terbuka dengan ketukan yang tidak seperti biasanya—terlalu tegas, konstan, dan mengintimidasi.

Langkah kaki yang masuk ke dalam ruangan itu tidak terseret-seret malas seperti sipir-sipir korup yang biasa Jemi lihat. Sosok yang melangkah masuk adalah Ashton, seorang polisi muda yang baru dua tahun lepas dari masa pendidikan akademi. Ia juga baru saja dipindah tugaskan dari unit intelijen penyamar—sebuah divisi di mana identitas adalah mata uang utama dan penampilan adalah tipu daya. Kehadiran Ashton di ambang pintu langsung mengubah atmosfer kamar VIP yang semula santai menjadi tegang. Pemuda berusia dua puluh empat tahun itu memiliki postur tubuh yang luar biasa proporsional; tingginya hampir seratus delapan puluh empat sentimeter, dengan pundak tegap berbidang lebar yang membuat seragam dinas taktis kepolisiannya melekat tanpa cela, mempertegas otot-otot padat di balik kain gelap tersebut.

Berbeda dengan polisi kebanyakan yang berambut cepak rapi, Ashton memiliki potongan rambut yang agak panjang, jatuh sedikit berantakan di atas dahi dan tengkuknya—sisa-sisa dari tugas penyamaran terakhirnya di jalanan yang baru saja usai. Namun, jangan salah sangka, rambut panjang itu tidak memberikan kesan urakan, sepasang matanya yang hitam pekat menatap lurus dengan sorot yang dingin, tajam, dan penuh selidik.

Ashton bukan sekadar polisi bermodal otot. Di angkatannya, dia adalah lulusan terbaik yang menempati peringkat pertama, baik dalam ujian ketangkasan fisik maupun taktik hukum pidana. Di tengah bobroknya institusi di mana pangkat dan posisi bisa dinegosiasikan dengan lembaran uang puluhan juta, Ashton adalah anggota yang bersih. Dia bertarung di akademi murni menggunakan otaknya yang encer dan ketahanan fisiknya yang di atas rata-rata, tanpa sepeser pun bantuan dari koneksi orang dalam atau suap dari dompet orang tuanya yang hanya pekerja biasa. Dia menghafal seluruh pasal hukum di luar kepala, tahu persis hak dan kewajiban seorang tahanan, dan yang paling penting, Ashton memiliki idealisme keras yang belum terjamah oleh kotornya sistem birokrasi di luar sana. Dia tidak bisa diancam, dan dia tidak memiliki harga untuk dibeli.

Jemi yang saat itu sedang bersandar malas di ranjang dengan sebatang rokok modifikasinya yang masih mengepulkan asap manis, tidak peduli dengan aura intimidasi dari polisi baru ini. Alih-alih memalingkan wajah ketakutan seperti sipir lain, Ashton justru melangkah mendekat dengan langkah konstan yang berat. Sepatu larasnya mengetuk lantai marmer dengan ritme yang menuntut kepatuhan. Hidung tajam Ashton langsung mengenali aroma aneh yang memenuhi ruangan ber-AC itu; itu bukan asap tembakau biasa, melainkan residu kimia dari zat terlarang yang dihisap tipis-tipis.

Mata tajam Ashton langsung terkunci pada jemari Jemi yang masih memegang puntung rokok. Tidak ada keraguan, ketakutan, atau rasa segan yang biasa Jemi terima dari orang-orang berseragam ketika mendengar nama besar bapaknya. Ashton menatap Jemi seolah pemuda anak pejabat itu tidak lebih dari sekadar kriminal amatir yang kebetulan salah masuk ruangan.

Jemi tidak menurunkan kakinya dari atas meja kecil di samping ranjang. Sebaliknya, dia malah menarik napas dalam-dalam, mengisap rokok modifikasinya kuat-kuat, lalu dengan sengaja mengembuskan asap manis beraroma kimia itu tepat ke arah wajah Ashton. Bibirnya menyunggingkan senyum miring yang meremehkan—senyum songong khas anak orang berkuasa yang merasa dunia bisa dibeli dengan isi dompet bapaknya.

"Kenapa liat-liat? Mau?" Jemi terkekeh, nadanya merendahkan. "Sori, ya. Barang kelas premium kayak gini gak bakal kebeli sama sisa gaji polisi baru kayak lu."

Ashton tidak bergeming. Jangankan memalingkan wajah atau terbatuk karena asap yang menerpa mukanya, matanya bahkan tidak berkedip sedikit pun. Pria berambut agak panjang itu berdiri di sana seperti tembok beton yang kokoh—sama sekali tidak terpengaruh oleh provokasi murahan Jemi.

Tanpa sepatah kata pun, Ashton melangkah maju satu kali lagi. Gerakannya begitu tenang namun penuh tekanan intimidasi. Tangan kanannya yang kekar bergerak cepat, langsung merebut puntung rokok itu dari sela jari Jemi, lalu mematikannya tanpa ekspresi dengan cara meremasnya di telapak tangan sendiri yang kapalan, seolah bara api itu tidak ada rasanya sama sekali. Setelah itu, dia membuang puntung yang sudah hancur tersebut ke lantai.

"Aturan di sini bebas narkoba. Dan saya ngga peduli siapa nama yang tertulis di kartu keluarga kamu," suara Ashton datar, sedingin es, sukses membuat senyum songong Jemi sedikit memudar sebelum akhirnya berganti menjadi seringai yang lebih menantang.

Merasa egonya terusik karena gertakannya sama sekali tidak mempan pada si polisi baru, tabiat liar Jemi justru semakin terpancing. Alih-alih mundur ketakutan, Jemi malah berdiri dari ranjangnya. Dia sengaja mengikis jarak di antara mereka hingga dadanya hampir menempel pada dada bidang Ashton yang kokoh. Jemi mendongak sedikit, matanya dengan kurang ajar menyusuri potongan rambut Ashton yang agak panjang, turun ke rahang tegasnya, lalu tertuju pada kaos taktis hitam ketat yang mencetak jelas lekuk otot dada dan perut polisi muda itu.

"Oh, jadi lu tipe yang kaku dan sok idealis?" Jemi berbisik, suaranya mendadak berubah serak, penuh nada menggoda yang manipulatif.

Jarinya yang lancang mulai bergerak, berani menyentuh kerah kaos Ashton, lalu turun perlahan mengusap dada bidang yang keras seperti batu itu. Jemi sengaja memainkan posisinya sebagai anak pejabat yang kebal hukum untuk melecehkan harga diri aparat di depannya.

"Gua suka nih yang kayak gini. Biasanya yang luarnya kayak tembok beton, kalau udah ditaruh di bawah gua bakal paling berisik ngerintih," Jemi sengaja mendekatkan bibirnya ke telinga Ashton, mengembuskan napas hangatnya di sana sementara tangannya yang bebas mulai meraba turun ke arah sabuk kopel, sengaja meremas bagian depan celana taktis Ashton dengan frontal.

Bagi Jemi, seks dan kekuasaan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Selain menyandang status sebagai berandalan anak pejabat, dia adalah seorang homoseksual yang predatoris. Di atas ranjang, tabiat aslinya yang semena-mena justru keluar berkali-kali lipat lebih liar. Jemi selalu berada di pihak atas—seorang top dominan yang egois, yang tidak pernah peduli apakah korbannya menangis kesakitan atau kehabisan napas saat dia gempur abis-abisan dari belakang.

Bagi Jemi, tubuh manusia hanyalah komoditas. Siapa pun yang menurutnya menarik, tampan, atau menantang egonya, akan dia seret ke atas ranjang dengan paksa. Selesai bermain kasar dan mewek kepuasan, Jemi tinggal melemparkan beberapa ikat uang tunai puluhan juta ke wajah mereka sebagai upah penutup mulut. Dia terbiasa membeli kepatuhan, dan malam ini, dia pikir Ashton tidak ada bedanya.

Remasan tangan Jemi di bagian depan celana taktis Ashton semakin erat dan kurang ajar. Dia sengaja menggesekkan telapak tangannya di sana, mencoba memancing respons biologis dari si polisi baru sambil menatap tepat ke manik mata Ashton dengan pandangan merendahkan yang pekat.

"Gua tahu tipe-tipe kayak lu," bisik Jemi lagi, seringainya semakin melebar saat merasakan bahan kain tebal di bawah telapak tangannya tetap kaku. "Sok jual mahal di awal karena masih punya seragam. Tapi taruhan deh, begitu kontol gua masuk ke dalem lubang lu, lu bakal lupa sama semua sumpah jabatan lu."

Jemi sengaja memajukan selangkah kakinya, mengunci pergerakan Ashton di antara tubuhnya dan tepian meja marmer. Watak Jemi yang terbiasa mendikte permainan membuatnya merasa di atas angin. Dia sudah membayangkan bagaimana nikmatnya nanti menghancurkan harga diri polisi idealis ini—memaksanya menungging, disodok tanpa ampun sampai menangis, dan membiarkan cairannya muncrat mengotori lantai ruang rehab ini.

"Lu mau duit berapa? Seratus juta? Dua ratus juta buat sekali tidur sama gua?" Jemi terkekeh sinis, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari leher Ashton, menghirup aroma maskulin yang menguar dari tubuh tegap itu. "Sebut aja angkanya, bangsat. Bokap gua bisa transfer sekarang juga, asal malam ini lu pasrah gua dientot sampe ngowoh."

Namun, di luar dugaan Jemi, tembok beton di depannya sama sekali tidak retak.

Ashton tidak mundur, tidak gemetar, dan tidak memperlihatkan tanda-tanda terangsang ataupun ketakutan. Sepasang mata hitam polisi muda itu perlahan turun, menatap tangan Jemi yang masih menempel di selangkangannya dengan pandangan sedingin es, sebelum kembali mengunci tatapan Jemi dengan intensitas yang mendadak membuat bulu kuduk si anak pejabat meremang.

Sebelum Jemi sempat menarik kata-katanya, sebuah gerakan secepat kilat terjadi. Tangan kekar Ashton yang berurat langsung melesat maju, mencengkeram leher Jemi dengan cengkeraman besi yang begitu kuat hingga tawa songongnya langsung tertelan kembali di tenggorokan.

Ibu jari Ashton yang kasar menekan kuat di bawah rahang Jemi, memaksa kepala si anak pejabat itu mendongak drastis sementara seluruh beban tubuhnya didorong kasar sampai punggungnya menghantam dinding dingin kamar rehab. Cengkeraman di lehernya yang tiba-tiba membuat Jemi seketika kekurangan oksigen. Seluruh kendali superioritas yang dia banggakan runtuh dalam satu detik, berganti dengan keterkejutan mutlak karena untuk pertama kalinya ada orang yang berani memperlakukannya sekasar ini.

"Uang bapak kamu gak laku di sini," suara Ashton berat, rendah, dan bergetar berbahaya tepat di depan wajah Jemi. Polisi berambut agak panjang itu mengikis jarak, mengurung tubuh Jemi sepenuhnya di bawah bayangan tubuh tegapnya.

Ashton menunduk, mengunci tatapan Jemi yang matanya mulai sedikit berair karena syok dan sesak di tenggorokan. "Dan satu hal lagi yang harus kamu tahu... saya gak suka didegradasi sama kriminal amatir yang cuma modal nama bapaknya."

Ashton menambah tekanan pada cengkeramannya, membuat punggung Jemi semakin merapat pada dinding yang dingin. Ashton sama sekali tidak terkesan dengan status sosial yang dibawa Jemi. Baginya, pemuda di depannya ini hanyalah residu dari sistem yang rusak, dan dia bertugas untuk membersihkannya.

"Kamu pikir karena fasilitas ini, kamu bisa bersikap semau kamu?" Ashton berbisik, suaranya tajam menusuk gendang telinga Jemi. "Di mata saya, kamu tetaplah sampah yang tertangkap tangan membawa zat terlarang. Kamu itu tahanan, Jemi. Bukan tamu hotel."

Jemi, yang wajahnya mulai memerah karena pasokan oksigen yang menipis, mencoba menarik napas pendek. Bukannya takut, seringai tipis justru kembali muncul di sudut bibirnya yang gemetar. Rasa sakit di lehernya dan intimidasi dari Ashton malah memicu adrenalin yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

"Berisik, bangsat..." Jemi mendesis, suaranya serak namun tetap penuh tantangan dengan napas yang mulai tersengal. “Lepasin tangan lu... atau gua bakal pastiin... lu bakal kehilangan jabatan lu besok pagi, polisi sialan..."

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Jemi, membuat kepalanya terhentak ke samping. Suara hantaman kulit itu bergema di dalam ruangan yang sunyi. Ashton tidak melakukannya dengan emosi yang meledak-ledak; dia melakukannya dengan sangat datar, seolah-olah sedang mendisiplinkan binatang yang tidak mau menurut.

Telinga Jemi berdenging. Bunyinya menggema di ruangan yang sunyi itu, meninggalkan bekas merah yang kontras di kulit wajahnya yang putih bersih. Pipinya terasa panas membara, dan rasa asin darah mulai terasa di ujung lidahnya karena bibirnya sedikit pecah. Namun, sesuatu yang aneh terjadi di dalam diri Jemi. Alih-alih merasa terhina, rasa perih itu justru mengirimkan gelombang kenikmatan yang ganjil ke seluruh sarafnya. Kepala Jemi tersentak ke samping dengan keras. Selama ini, orang-orang hanya berani membungkuk dan menjilat kakinya; tidak ada yang pernah berani mengangkat tangan padanya, apalagi memberikan tamparan yang begitu menghina. Belum pernah ada satu orang pun—bahkan bapaknya sendiri—yang berani menyentuhnya sekasar ini.

Jemi kembali menoleh ke arah Ashton, menatap polisi itu dengan pandangan yang tidak lagi hanya sekadar songong, tapi mulai dihiasi oleh rasa lapar yang gelap.

"Cuma segitu?" Jemi tertawa kecil, meskipun dia masih menahan perih. Ashton kembali menarik dagu Jemi agar menatapnya, tidak membiarkan pemuda itu berpaling. "Jaga bicara kamu. Setiap kata kasar yang keluar dari mulut kamu, saya anggap sebagai bentuk perlawanan, dan saya punya hak buat menertibkan kamu secara fisik."

Jemi terdiam. Detak jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin yang aneh ke seluruh pembuluh darahnya. Rasa perih di pipi dan tekanan di lehernya justru memicu sensasi yang tak terduga. Matanya yang sedikit berair kini menatap Ashton bukan dengan kebencian penuh, melainkan dengan binar obsesi yang gila.

Jemi menemukan candunya.

Rasa sakit itu terasa sangat nyata, sangat jujur, jauh lebih memuaskan daripada rasa hormat palsu yang selama ini dia beli dengan uang.

Jemi menjilat bibirnya yang sedikit berdarah, lalu kembali menyeringai menantang, meski tubuhnya sedikit bergetar di bawah dominasi Ashton.

Melihat reaksi Jemi yang justru terlihat menikmati kekerasan itu, Ashton menyipitkan matanya. Dia tidak menyangka akan menghadapi psikologi yang sedatar ini. Ashton menarik kerah baju Jemi, menyeretnya menjauh dari dinding hanya untuk menghempaskannya jatuh ke lantai marmer dengan kasar.

"Saya tidak sedang bermain-main dengan kamu," ucap Ashton, berdiri tegap sambil menatap rendah Jemi yang tersungkur di bawah kakinya. "Mulai detik ini, setiap kali kamu bicara tidak sopan atau mencoba menyentuh saya lagi, saya pastikan kamu akan mendapatkan lebih dari sekadar tamparan. Mengerti, tahanan?"

Jemi menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu mendongak melihat kaki jenjang Ashton yang terbungkus celana taktis tepat di depan wajahnya. Bukannya marah, dia justru merasa gairahnya memuncak melihat sosok yang begitu keras dan tidak bisa ditembus ini.

"Oke, oke... saya mengerti, Pak Po-li-si," Jemi sengaja menekankan kata Pak Polisi dengan nada mengejek yang menggoda, sambil perlahan bangkit dengan gerakan yang sengaja dibuat luwes.

Jemi berdiri sepenuhnya, menepuk-nepuk celana jins mahalnya yang terkena debu lantai tanpa rasa terhina sedikit pun. Matanya berani menatap langsung ke arah sepasang mata dingin Ashton. Luka di sudut bibirnya berdenyut perih, memberikan sensasi hangat yang justru membuat kepalanya terasa jauh lebih ringan dan bergairah daripada saat dia mengisap rokok kimianya tadi.

"Lu beneran beda ya dari polisi lain," Jemi menjilat sisa darah di bibirnya, kembali menggunakan bahasa aslinya yang santai dan penuh keangkuhan. "Biasanya anjing-anjing berseragam itu yang berlutut di depan gua sambil minta uang pelicin, tapi lu... lu malah mukulin gua."

Ashton tidak membiarkan provokasi verbal itu mengulur waktu. Dia melangkah maju, mempersempit jarak hingga tubuh tegapnya kembali membayangi Jemi. Tanpa peringatan, tangan kanan Ashton mencengkeram bahu Jemi, memutar tubuh pemuda itu dengan satu hentakan kasar hingga wajah Jemi menghantam permukaan dinding kamar rehab yang dingin.

"Menghadap dinding. Angkat kedua tangan kamu ke atas, telapak tangan menempel di tembok," perintah Ashton, suaranya berat dan tidak menerima bantahan. "Saya akan melakukan penggeledahan badan secara menyeluruh. Jangan bergerak kalau kamu tidak mau tulang rusuk kamu saya bikin retak."

Jemi mendengus geli, namun dia tetap mematuhi perintah itu. Dia menempelkan kedua telapak tangannya di dinding, sengaja memundurkan sedikit pinggulnya ke belakang hingga menempel samar pada bagian depan celana taktis Ashton. Jemi menolehkan kepalanya ke samping, menatap Ashton dari sudut matanya dengan pandangan yang sarat akan undangan seksual.

"Silakan periksa, Pak Polisi..." bisik Jemi, napasnya mulai agak memburu saat merasakan tangan kekar Ashton mulai bekerja di tubuhnya.

Penggeledahan di Bawah Kendali Ashton

Ashton memperlakukan Jemi layaknya kriminal jalanan kelas teri yang tidak punya harga diri. Tangan besarnya yang kapalan mulai menepuk kasar dari bagian pundak Jemi, turun ke dada, lalu meraba rusuknya dengan tekanan yang kuat hingga Jemi sempat terperangah tertahan. Tidak ada kelembutan sama sekali.

Saat tangan Ashton turun ke area pinggang dan mulai meraba saku-saku celananya dengan kasar, Jemi sengaja melengguhkan suaranya, membiarkan tubuhnya sengaja bergetar menerima sentuhan kasar yang mendominasi itu.

Begitu telapak tangan Ashton meraba paha bagian dalam Jemi dengan sentakan cepat khas prosedur kepolisian, Jemi langsung menggigit bibir bawahnya. Jantungnya berpacu gila-gilaan. Rasa dominasi dari pria di belakangnya ini benar-benar menyentuh titik sensitif ego Jemi yang biasanya selalu menjadi pihak yang menguasai orang lain di atas ranjang.

"Gimana? Gak ada sabu kan di kantong gua?" Jemi berbisik serak, kepalanya mendongak menempel ke dinding, matanya sayu menahan gairah yang memuncak. "Tapi kalau di balik celana dalam gua... lu gak mau periksa juga? Siapa tahu gua sembunyiin barangnya di dalem celana. Sini, gua request kocokin sekalian. Udah lama ga coli nih."

Ashton menghentikan gerakan tangannya tepat di pangkal paha Jemi. Dia bisa merasakan bagaimana tubuh anak pejabat ini menegang dan malah merespons gerakannya dengan cara yang menjijikkan bagi ukuran seorang tahanan biasa. Ashton mencengkeram bagian belakang kerah baju Jemi, menariknya ke belakang hingga kepala Jemi terpaksa mendongak menatap wajah dinginnya dari jarak yang sangat dekat.

"Saya sudah bilang, jaga mulut kamu, Jemi," kata Ashton, matanya menggelap penuh kilat kemarahan yang tertahan melihat kelancangan pemuda di depannya.

Jemi tidak menyembunyikan binar matanya yang sayu akibat pengaruh sisa rokok cair dan gairah yang menyengat. Tarikan pada kerah bajunya justru membuat napasnya semakin memburu. Dia bisa merasakan hembusan napas hangat Ashton di tengkuknya, sebuah kontras yang mendebarkan dengan cengkeraman tangannya yang sedingin es dan sekeras batu. Seringai di wajah Jemi melebar, memamerkan deretan giginya yang putih dengan sisa darah yang mengering di sudut bibir.

"Kenapa? Lu merasa terganggu, Pak Polisi?" tantang Jemi, suaranya serak, bergetar rendah di antara ruang sempit yang memisahkan tubuh mereka. "Lu tinggal lepas celana gua kalau lu emang mau buktiin kalau gua bersih. Gak usah munafik. Badan lu yang tegap kayak gini... gak mungkin gak punya nafsu, kan?"

Ashton tidak membuang kata untuk mendebat fantasi gila anak pejabat di depannya. Baginya, kelancangan Jemi sudah melewati batas kedisiplinan yang bisa ditoleransi. Tanpa melepaskan cengkeraman di kerah belakang kemeja mahal Jemi, Ashton menyentakkan tangannya ke bawah dengan kekuatan penuh.

KREEEKKK!

Suara kain sutra yang robek terdengar nyaring di dalam kamar yang sunyi. Kemeja bermerek milik Jemi terbelah dari bagian kerah hingga ke punggung, menelanjangi kulit punggungnya yang mulus namun dipenuhi oleh rajutan tato hitam berbentuk sayap kelam yang rumit. Sentakan kasar itu membuat tubuh Jemi terdorong ke depan, dadanya kembali menghantam dinding marmer dengan bunyi bedubup yang cukup keras. Sebelum Jemi sempat menikmati rasa perih di dadanya, Ashton sudah mengunci kedua pergelangan tangan Jemi ke belakang punggungnya, menggunakan satu tangan kekarnya untuk menahan kedua tangan Jemi agar tidak bisa bergerak.

"Saya tidak punya waktu buat meladeni fantasi menjijikkan kamu," bisik Ashton, tepat di samping telinga Jemi. “–dan saya tidak punya ketertarikan sedikit pun pada laki-laki, apalagi pada kriminal manja seperti kamu.” Suaranya datar, tanpa emosi, murni seperti seorang sipir yang sedang menundukkan narapidana pemberontak di sel isolasi.

Tangan Ashton yang bebas tidak lagi melakukan tepukan prosedur yang formal. Dia meraba kasar ke bagian pinggang celana Jemi, melepas gesper kulitnya dengan satu tarikan sentak yang membuat kancing celana Jemi terlepas. Dengan gerakan efisien dan dingin, Ashton menurunkan celana jins dan pakaian dalam Jemi sekaligus hingga batas lutut, membiarkan bagian bawah tubuh Jemi terekspos sepenuhnya di udara kamar yang dingin karena AC.

Jemi tersentak, memekik pelan saat merasakan kulit telanjangnya bersentuhan langsung dengan hawa dingin ruangan dan dinding marmer. Namun, alih-alih merasa terhina atau panik, jantung Jemi justru berdegup kencang hingga dadanya naik-turun dengan tidak beraturan. Sensasi ditelanjangi secara paksa, dikunci tanpa daya oleh seorang polisi yang sama sekali tidak memandangnya sebagai anak pejabat, memberikan gelombang kepuasan baru yang belum pernah dia rasakan dari para jalang atau pemuda sewaan yang biasa dia tiduri. Bagian depan tubuh Jemi menegang, mengeras sepenuhnya karena rasa sange yang tidak terbendung akibat dominasi brutal Ashton.

"Bangsat... lu beneran lurus, ya?" Jemi melengguh serak, kepalanya terkulai menempel ke dinding, sementara matanya terpejam erat menikmati sensasi pasrah di bawah tangan pria yang membencinya ini. "Makin lu nolak, makin bikin gua pengen liat lu di atas gua, Pak Polisi..."

Ashton melihat bagaimana tubuh di bawah kunciannya justru gemetar karena gairah masokistik yang menyimpang. Sorot mata Ashton semakin dingin. Dia tidak menyentuh bagian sensitif Jemi seperti yang diminta dengan kurang ajar; sebaliknya, Ashton menggunakan telapak tangannya yang kasar untuk menekan kuat bokong Jemi, memastikannya menempel rata ke dinding sementara tangan satunya memeriksa lipatan pakaian yang terjatuh di lantai untuk memastikan tidak ada bungkusan klip sabu tersembunyi.

Setelah memastikan seluruh pakaian Jemi bersih dari barang bukti fisik, Ashton menarik tubuh Jemi menjauh dari dinding dan mendorongnya hingga terjerembap di atas lantai marmer dalam kondisi setengah telanjang dan berantakan. Ashton berdiri menjulang di atasnya, merapikan sedikit kaos taktis hitamnya yang tidak bergeser satu senti pun, menatap rendah Jemi yang kini merangkak di bawah kakinya dengan napas tersengal-sengal dan tatapan mata yang sepenuhnya terobsesi.

"Ganti pakaian kamu dengan seragam rehab yang ada di lemari," ucap Ashton, suaranya kembali ke ritme semula—dingin, datar, dan tak tersentuh.

Tanpa menunggu jawaban atau melihat respons Jemi lebih lama, Ashton berbalik. Langkah kakinya yang mantap terdengar menjauh sebelum daun pintu yang tebal itu ditutup dengan bantingan tegas, menyisakan suara klik kunci otomatis yang menggema dari luar. Ashton benar-benar meninggalkan kamar Jemi tanpa menoleh sedikit pun.

Suasana kamar mendadak sunyi, hanya menyisakan deru halus dari pendingin ruangan. Jemi masih terduduk di atas lantai marmer yang dingin dengan kondisi kemeja sutra yang robek tak berbentuk dan celana yang melorot hingga ke lutut. Dia menunduk, menatap bagian depan tubuhnya sendiri yang menegang keras, sepenuhnya terangsang oleh interaksi brutal yang baru saja terjadi.

Jemi tertawa kecil, suara tawa yang terdengar serak dan sedikit gila di tengah keheningan.

"Gokil... gua beneran ngaceng. Fetish anjing," gumam Jemi pelan, menggelengkan kepalanya sendiri seolah tidak percaya dengan reaksi biologis tubuhnya.

Dia menyentuh pipi kirinya yang masih terasa panas dan berdenyut akibat tamparan Ashton, lalu beralih meraba lehernya yang memerah bekas cengkeraman kuat tadi. Rasa sakit fisik itu justru mengirimkan sinyal kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Selama ini, dia selalu menjadi orang yang mendikte kekerasan, memaksa orang lain tunduk dan merangkak di bawah perintahnya dengan imbalan uang. Namun, diseret, ditampar, dan ditelanjangi secara paksa oleh seorang pria lurus yang sangat membencinya ternyata memberikan sensasi kepuasan yang jauh lebih mematikan. Penolakan dingin Ashton tidak membuat ego Jemi ciut, melainkan menyalakan obsesi baru yang sangat liar di dalam kepalanya.

Dengan gerakan lambat, Jemi bangkit berdiri. Dia menarik celananya kembali ke posisi semula, lalu menendang sisa kemeja mahalnya yang sudah robek ke sudut ruangan. Jemi berjalan menuju lemari pakaian dengan tubuh yang masih setengah telanjang. Di dalamnya, berjejer rapi seragam rehabilitasi berwarna biru pudar—pakaian standar yang biasanya enggan dia sentuh karena menganggapnya terlalu murah dan merendahkan martabat seorang anak pejabat.

Namun kali ini, seringai miring kembali terukir di wajah songong Jemi. Dia mengambil setelan seragam itu, membayangkan bagaimana tatapan mata tajam Ashton saat melihatnya mengenakan pakaian tahanan tersebut besok pagi. Tempat rehabilitasi yang semula dia anggap sebagai tempat pengasingan yang membosankan untuk menyelamatkan karier politik bapaknya, kini mendadak berubah menjadi arena bermain yang sangat menarik. Jemi tahu dia punya banyak waktu di sini, dan dia bersumpah akan melakukan segala cara untuk meruntuhkan tembok beton aparat berseragam dengan jahitan bernama Ashton, tidak peduli seberapa banyak tamparan kasar yang harus dia terima lagi setelah ini.


Jemi menyarungkan seragam biru pudar itu ke tubuhnya. Bahannya kasar, kaku, dan terasa sangat kontras dengan kulitnya yang terbiasa dibalut kain-kain mahal dari desainer ternama. Tapi saat dia menatap pantulan dirinya di cermin retak di pojok ruangan, Jemi justru merasa lebih hidup. Seragam ini adalah simbol bahwa dia adalah milik Ashton sekarang—setidaknya dalam hierarki di dalam gedung ini.

Dia mengancingkan baju itu satu per satu, sambil membayangkan jari-jari Ashton yang kasar tadi merobek kemeja sutranya. Rasa perih di pipinya masih ada, sebuah tanda mata yang lebih berharga daripada jam tangan ratusan juta yang biasa dia pakai. Jemi merebahkan tubuhnya di ranjang empuk yang kini terasa membosankan. Dia butuh tantangan. Dia butuh tembok beton itu retak di bawah godaannya.

Pagi buta, tepat pukul enam, pintu kamar Jemi kembali berdentum. Suara langkah kaki yang berat dan teratur itu sudah sangat dikenalnya meski baru mendengarnya kemarin. Ashton kembali, membawa aroma udara pagi yang segar dan aura intimidasi yang belum luntur sedikit pun.

Ashton berdiri di ambang pintu, membawa sebuah nampan plastik berisi nasi putih, sayur bening, dan sepotong tempe. Tidak ada lagi menu bintang lima atau pelayanan ramah dari sipir korup.

"Bangun. Sepuluh menit untuk makan, setelah itu kamu harus ikut sesi olahraga rutin di lapangan tengah," perintah Ashton. Matanya menyapu ruangan, berhenti sejenak pada sosok Jemi yang sudah duduk tegak di atas ranjang dengan seragam biru pudar yang terpasang rapi—meski kancing paling atasnya sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan sedikit tato yang mengintip di pangkal lehernya.

Jemi memberikan senyum termanisnya, jenis senyum yang biasanya membuat orang-orang bertekuk lutut. "Selamat pagi, Pak Polisi. Tidurnya nyenyak semalam? Gua sih nyenyak banget... sampe mimpi basah."

Ashton tidak bereaksi. Wajahnya datar seperti patung, seolah kata-kata Jemi hanyalah angin lalu yang tidak punya arti. Dia melangkah masuk, meletakkan nampan makanan itu di atas meja marmer dengan bunyi brak yang cukup keras.

"Makan. Saya tidak punya waktu buat dengerin igauan kamu," sahut Ashton dingin. Dia berdiri tegak di dekat pintu, kedua tangannya tertaut di belakang punggung, memperhatikan setiap gerak-gerik Jemi dengan mata elang yang tidak pernah berkedip.

Jemi berjalan menuju meja, sengaja dibuat-buat agar langkahnya terlihat malas namun anggun. Dia duduk, menatap makanan rakyat jelata di depannya dengan dahi berkerut, lalu beralih menatap sepatu laras Ashton yang hitam mengkilap tepat di samping kakinya.

"Tempe? Lu serius?" Jemi terkekeh, mengambil sepotong tempe itu dengan dua jari, seolah benda itu adalah barang asing yang aneh. "Bahkan kucing gua di rumah makannya salmon. Lu mau gua makan ini? Gimana kalau lu aja yang suapin gua? Siapa tahu rasanya jadi lebih enak kalo lewat tangan lu."

Ashton sedikit menunduk, mengunci pandangan Jemi. "Di sini kamu bukan anak pejabat. Kamu cuma tahanan rehab yang butuh didisiplinkan. Kalau kamu gak mau makan, ya sudah. Tapi jangan harap ada makanan lain sampai malam nanti."

Jemi justru semakin tertantang. Dia menggigit tempe itu pelan, matanya tetap menatap Ashton dengan berani, lidahnya sengaja menjilat bibirnya yang masih sedikit luka.

"Galak banget sih, Pak Polisi," bisik Jemi dengan nada manja yang dibuat-buat. "Lu tau gak? Cowok-cowok yang sok lurus dan kaku kayak lu itu... biasanya kalau udah belok bakal jadi yang paling liar. Gua bener-bener gak sabar pengen liat muka lu pas lu akhirnya sadar kalau gua gak bisa lu jinakin pake cara-cara kasar kayak gini."

Ashton maju satu langkah, membuat bayangannya menelan tubuh Jemi sepenuhnya. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga Jemi bisa mencium aroma sabun maskulin dan keringat tipis dari tubuh polisi itu.

"Satu menit lagi. Kalau makanan itu belum habis, saya anggap kamu menolak hak makan pagi dan kamu akan saya seret ke lapangan sekarang juga," ucap Ashton, suaranya rendah dan mengancam, sama sekali tidak terpengaruh oleh godaan Jemi.

Jemi tertawa renyah, meski hatinya berdebar kencang. "Gua suka kalo lu main kasar, Pak Polisi. Seret gua sesuka lu, I can’t wait."

Ashton tidak membuang waktu untuk membalas ucapan Jemi dengan kata-kata. Sorot matanya tetap sedingin es. Dia melirik jam di pergelangan tangannya, lalu dengan satu gerakan cepat, tangan kekarnya mencengkeram lengan Jemi, menyentakkannya berdiri dari kursi hingga mangkok makanan di meja sedikit bergeser. Jemi bahkan tidak sempat menelan kunyahan tempe terakhirnya dengan benar saat Ashton menyeretnya keluar dari kenyamanan kamar VIP tersebut.

Koridor gedung rehabilitasi yang biasanya sepi mendadak terasa begitu panjang dan mengintimidasi. Begitu melangkah ke lapangan tengah, hawa panas matahari pagi yang mulai merangkak naik langsung menyengat kulit. Tidak ada lagi perlakuan istimewa. Ashton benar-benar melempar Jemi ke dalam realitas sistem rehabilitasi normal yang sesungguhnya—sebuah rutinitas disiplin semi-militer yang selama ini berhasil dibeli oleh uang bapaknya agar tidak perlu Jemi jalani.

"Lari. Keliling lapangan dua puluh kali. Sekarang," perintah Ashton, berdiri tegap di tepi lapangan dengan kedua tangan bertumpu di pinggang, memperhatikan Jemi dengan tatapan tanpa kompromi.

Jemi mencoba terkekeh, meski dadanya sudah mulai berdegup kencang melihat luasnya lapangan berkerikil di depannya. "Dua puluh kali? Lu bercanda, kan? Kulit gua bisa merah semua nih—"

"Satu kata keluhan, saya tambah lima putaran. Mulai lari, Jemi," potong Ashton, suaranya berat dan penuh penekanan yang membuat Jemi sadar bahwa polisi ini tidak sedang menggertak.

Jam-jam berikutnya berubah menjadi neraka jahanam bagi sang anak pejabat. Tubuh Jemi yang hanya terbiasa untuk bersenang-senang, mengonsumsi obat-obatan, dan menjadi penguasa di atas ranjang, dipaksa runtuh di bawah tekanan fisik yang konstan. Ashton tidak memberikan kelonggaran satu detik pun. Setiap kali langkah kaki Jemi melambat karena kelelahan, Ashton akan meneriakinya dengan tegas, memaksa kaki Jemi yang mulai lemas untuk terus bergerak di atas kerikil tajam.

Setelah lari yang menguras seluruh tenaganya, Jemi tidak dibiarkan istirahat. Ashton langsung menghajarnya dengan rangkaian kalistenik berat: push-up di atas tanah kering, jumping jacks, hingga plankdi bawah terik matahari yang mulai membakar seragam biru pudarnya. Tubuh Jemi yang manja mulai memberontak. Napasnya menjadi pendek-pendek, tenggorokannya terasa kering seperti berpasir, dan seluruh otot di tubuhnya mulai menjerit kesakitan.

Saat Jemi ambruk dengan kedua lutut menghantam tanah karena sudah tidak kuat menahan berat badannya sendiri, ujung sepatu laras Ashton langsung menekan pundaknya, mendorongnya kembali ke posisi semula. Tidak ada kekerasan yang melanggar hukum, melainkan tekanan psikologis dan fisik yang intens, memaksa Jemi mematuhi seluruh regulasi lembaga yang selama ini dia sepelekan. Jemi dipaksa membersihkan area latihan, melakukan baris-berbaris, dan mengikuti bimbingan mental yang menguras emosinya. Keangkuhan Jemi dihancurkan habis-habisan oleh sistem yang berjalan sebagaimana mestinya di bawah komando Ashton.

Ketika seluruh rangkaian kegiatan itu selesai menjelang siang, Ashton menyeret Jemi kembali ke kamarnya. Begitu pintu dibuka, Jemi praktis terjerembap jatuh ke lantai marmer. Dia bahkan tidak punya sisa tenaga untuk sekadar merangkak naik ke atas kasur empuknya.

Jemi telentang di lantai dingin, tubuhnya basah kuyup oleh keringat bercampur debu lapangan, dan napasnya terdengar parah seperti orang yang hampir kehabisan nyawa. Seluruh badannya gemetar hebat karena kelelahan yang luar biasa. Dia benar-benar dihajar habis-habisan oleh realitas bahwa di hadapan Ashton, dia tidak lebih dari seorang pesakitan yang lemah.

Ashton berdiri di ambang pintu, menatap tumpukan tubuh berantakan di bawah kakinya dengan pandangan yang tetap datar, dingin, dan tidak tersentuh.

"Sesi siang dimulai jam dua. Pastikan kamu sudah bisa berdiri tegak saat saya kembali membuka pintu ini," ucap Ashton tegas, sebelum akhirnya menarik pintu itu hingga tertutup rapat dan menguncinya dari luar.

Di dalam kamar yang kembali sunyi, Jemi memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu. Dadanya naik-turun dengan tidak beraturan, dan rasa sakit yang teramat sangat menjalar di setiap jengkal ototnya. Namun, di tengah rasa lelah yang menyiksa dan tubuh yang remuk redam itu, seulas seringai tipis yang gila perlahan kembali terukir di sudut bibirnya yang kering. Rasa tak berdaya ini, rasa didominasi total hingga tidak bisa berkutik di bawah kendali pria lurus seperti Ashton, justru mengirimkan gelombang kepuasan aneh yang membuat akal sehatnya semakin terobsesi.


Sesi siang terbukti jauh lebih menghancurkan daripada latihan pagi. Selama tiga jam penuh, Jemi dipaksa memeras seluruh sisa tenaganya untuk membersihkan koridor blok, memindahkan barbel besi di bawah pengawasan ketat, hingga melakukan gerakan disiplin fisik yang membuat kedua paha dan betisnya kaku seperti batu. Tubuhnya yang biasa dimanjakan dengan alkohol mahal dan kenyamanan tanpa batas dipaksa tunduk pada kedisiplinan yang menguras fisik. Seluruh persendiannya terasa ngilu, otot pahanya berkedut hebat akibat lari dan hukuman kalistenik di bawah terik matahari, dan seragam rehab biru pudar yang dikenakannya kini terasa lembap oleh keringat yang mengering. Jemi hanya bisa telentang di atas kasur, menatap langit-langit kamar dengan napas yang masih tersisa satu-satu. Seluruh badannya mati rasa, berdenyut perih, dan memar merah bekas tamparan serta cengkeraman Ashton kemarin kini mulai berubah warna menjadi kebiruan.

Tepat pukul tujuh malam, bunyi klik pada gagang pintu kembali memecah keheningan. Langkah kaki konstan yang berat itu terdengar mendekat. Jemi bahkan tidak perlu membuka mata untuk mengetahui siapa yang datang; aroma maskulin yang bercampur sisa keringat taktis itu sudah sangat familier di inderanya.

Ashton melangkah masuk dengan nampan plastik di tangan kanannya. Kali ini, seragam taktis hitamnya sedikit basah di bagian punggung, pertanda polisi muda itu juga baru saja menyelesaikan tugas luar yang berat. Potongan rambutnya yang agak panjang tampak sedikit berantakan, membingkai rahang tegasnya yang selalu mengatup rapat.

Brak.

Ompreng itu diletakkan di atas meja dengan kasar. Di atasnya, tersaji menu malam lembaga rehab: sebongkah nasi putih yang mulai mengeras, sayur sawi bening tanpa kaldu yang tampak pucat, dan sepotong tahu goreng yang sudah keriput kehabisan minyak. Sama sekali tidak ada warna, aroma, ataupun bentuk yang bisa menggugah selera makan manusia normal.

Jemi perlahan membuka matanya yang sayu. Dia mengubah posisinya menjadi bersandar pada kepala ranjang, melirik sekilas ke arah nampan, lalu mendengus jijik.

"Makanan sampah apa lagi ini, Pak Polisi?" Jemi terkekeh serak, suaranya terdengar habis akibat berteriak menahan lelah siang tadi. "Lu beneran mau bikin gua mati kelaparan, hah?"

Ashton berdiri tegak di sisi ranjang, melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya yang tegap. Sepasang mata hitamnya menatap rendah Jemi dengan pandangan sedingin es, tidak terusik sedikit pun oleh keluhan sang anak pejabat.

"Itu makanan standar untuk semua pasien di sini. Saya tidak punya kewajiban untuk menyesuaikan selera kamu," jawab Ashton, suaranya berat dan penuh otoritas. "Makan sekarang. Dalam lima belas menit, nampannya akan saya ambil lagi."

Melihat respons Ashton yang sekeras tembok beton, tabiat liar dan gairah menyimpang Jemi justru kembali terangsang. Dia menyeka sudut bibirnya yang masih terasa agak perih, lalu pandangannya mulai turun, menyusuri lekuk tubuh Ashton dengan kurang ajar. Matanya mengunci kaos taktis ketat yang mencetak jelas otot dada Ashton yang bidang, turun ke arah ikat pinggang kopel, hingga berhenti di selangkangan celana taktis polisi muda itu.

Seringai miring yang songong kembali terukir di wajah Jemi yang tampak lelah namun penuh obsesi.

"Gua gak sudi masukin makanan sampah ini ke dalem mulut gua, Pak Polisi," bisik Jemi, suaranya mendadak berubah serak, penuh dengan nada cabul yang sengaja diembuskan ke arah kaki jenjang Ashton. "Daripada gua makan nasi dingin sama tahu busuk ini... gimana kalau gua makan lu aja? Sumpah, liat badan lu yang sekel dan padat begini jauh lebih bikin gua laper."

Jemi menjilat bibirnya sendiri perlahan, menatap wajah kaku Ashton dengan pandangan yang begitu lapar. "Gua lebih milih ngunyah leher lu yang berurat itu... nyicipin keringet lu yang seharian ngehajar gua di lapangan. Badan lu kelihatan jauh lebih menggugah selera daripada semua makanan di ruangan ini, bangsat."

Meracau semakin liar, Jemi sengaja memajukan wajahnya hingga hampir menyentuh bagian depan celana taktis Ashton. Kelelahan fisiknya justru membuat rem kendali di otaknya blong sepenuhnya.

Ashton tidak bergeming, namun rahangnya tampak semakin mengeras mendengarkan igauan cabul itu.

"Gua serius, bajingan," Jemi meracau makin berani, lidahnya sengaja menjilat bibir bawahnya sendiri seolah sedang membayangkan mangsa di depannya. "Lu gak mau suapin gua pake sesuatu yang lain, hm? Gua udah lama gak ngerasain yang tebel dan keras di dalem mulut gua. Jejelin aja kontol lu yang lurus itu ke tenggorokan gua. Bakalan bikin gua jauh lebih kenyang daripada sup tahi ini. Gua jago nyepong kok, kalem."

Jemi tertawa rendah, membiarkan suaranya yang serak menggema sensual di dalam kamar ber-AC. Sifat aslinya yang selalu ingin menguasai dan memperlakukan orang semena-mena di atas ranjang tetap menyala, meski tubuhnya sendiri saat ini sudah remuk redam di bawah dominasi fisik Ashton.

"Sebut aja berapa nominal yang lu mau, Pak Polisi," bisik Jemi lagi, matanya berkilat liar penuh provokasi. "Gua bakal suruh bokap gua beli lu seutuhnya dari institusi sialan ini. Gua pengen banget lagi, sialan, lu di bawah gua, nahan kedua tangan kekar lu ke kasur, terus gua rojok lubang lu pake kontol gua sampe lu nangis-nangis mohon ampun sama gua. Gimana?"

Ashton mendengarkan seluruh racauan kotor itu tanpa memalingkan wajah, namun rahang tegasnya tampak mengeras, pertanda ada kemarahan yang sedang ditekan kuat di balik ekspresi manusianya yang dingin. Polisi muda itu menunduk, mengunci tatapan mata gila Jemi dengan sorot yang luar biasa menusuk. Kehadiran Ashton yang menjulang tinggi di atas Jemi langsung memberikan tekanan atmosfer yang begitu pekat.

"Kamu pikir kata-kata menjijikkan kamu bisa bikin saya lepas kendali dan mukul kamu lagi, Jemi?" suara Ashton terdengar sangat rendah, bergetar berbahaya di dalam ruangan yang sunyi. "Saya sudah bilang, saya tidak punya ketertarikan pada laki-laki, dan saya tidak akan pernah mengotori tangan saya untuk melayani fantasi sakit kamu."

Ashton maju setengah langkah, ujung sepatu larasnya menyentuh ujung kaki Jemi, memaksa anak pejabat itu untuk mendongak lebih drastis.

"Waktu makan kamu tinggal sepuluh menit. Kalau dalam sepuluh menit makanan itu tidak masuk ke perut kamu, saya sendiri yang akan menyeret kamu ke sel isolasi bawah tanah yang tidak ada kasurnya. Dan di sana, kamu bisa meracau cabul sepuas kamu pada dinding kosong sampai suara kamu habis," ucap Ashton tanpa emosi, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti ancaman nyata yang tidak main-main.

Jemi merasakan bulu kuduknya meremang mendengar ancaman itu. Rasa takut yang bercampur dengan gairah masokistik yang menyimpang membuat dadanya kembali naik-turun dengan cepat. Tembok di depannya benar-benar terlalu kokoh untuk diruntuhkan, dan kenyataan bahwa Ashton tetap memandangnya dengan rasa jijik murni justru membuat Jemi merasa seperti baru saja menemukan puncak kenikmatan baru dalam hidupnya yang selama ini terlalu mudah dikendalikan oleh uang.

Mendengar ancaman tentang sel isolasi bawah tanah, Jemi tidak langsung mundur. Rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya justru membuat otaknya bekerja dengan cara yang semakin menyimpang. Di mata Jemi, kemarahan Ashton yang tertahan adalah sebuah kemenangan kecil—retakan pertama pada dinding beton yang selama ini tidak bisa ditembus.

Sambil menghela napas panjang, Jemi akhirnya menurunkan kakinya dari ranjang. Dengan langkah agak pincang karena ototnya yang kaku, dia berjalan mendekati meja makan, lalu menyeret kursi di sana. Bukannya menyentuh ompreng makanan, Jemi justru duduk menyamping dan membiarkan tubuhnya bersandar malas pada tepian meja marmer, menantang balik tatapan Ashton.

"Sel isolasi?" Jemi menggeleng-gelengkan kepalanya, berpura-pura kasihan.

Jemi melemparkan kepalanya ke belakang, tertawa terbahak-bahak hingga suaranya yang serak bergema di sudut-sudut kamar yang sunyi. Tawa itu penuh ejekan yang ditujukan langsung pada harga diri pria yang berdiri tegap di depannya.

"Gua baru sadar sesuatu," Jemi berkata dengan nada yang mendadak tenang namun sangat berbisa. "Lu sok kaku, sok lurus, sok gak nafsu sama gua... itu bukan karena lu punya integritas tinggi sebagai polisi. Lu sebenernya gak bisa ngaceng, kan? Lu itu impoten, Pak Polisi."

Jemi menyeringai lebar, menatap rahang tegas Ashton yang tampak mengeras hingga otot-otot di pelipisnya berdenyut.

"Badan doang gede, di dalem celana lu mati. Lu gak bakal berani buka celana di depan gua karena lu takut gua tau kalau lu itu cuma pecundang yang burungnya gak guna. Cupu lu, bangsat."

Begitu kalimat menghina itu selesai diucapkan, sebuah sirkuit di otak Ashton putus. Mata polisi muda itu mendadak menggelap, pekat oleh amarah yang tidak lagi bisa dibendung oleh protokol mana pun.

Dapet lu, anjing, pikir Jemi bersorak menang di dalam hati. Jemi merasa di atas angin saat melihat emosi Ashton tersulut. Sebagai seorang top dominan yang egois dan selalu berkuasa di atas ranjang, Jemi mengira amarah Ashton akan membuatnya ceroboh, memberi Jemi celah untuk membalikkan posisi, mengangkanginya, dan menyeret si tembok beton ini masuk ke dalam permainannya.

Namun, rasa menang itu hanya bertahan satu detik.

Sebelum Jemi sempat menyusun taktik di kepalanya, Ashton bergerak secepat kilat. Tangan kekar Ashton mencengkeram baju depan Jemi dan dengan satu sentakan kasar, dia membanting tubuh pemuda itu ke atas meja marmer. Ompreng itu terlempar ke lantai, isinya berhamburan menciptakan suara dentum yang keras.

BRAK!

Jemi mengerang saat punggungnya menghantam permukaan marmer yang keras. Otaknya langsung berputar, mencoba mengumpulkan kesadaran untuk melawan dan membalikkan keadaan. Dia terbiasa menjadi pihak yang menindas, pihak yang menggauli siapapun yang dia mau. Jemi sudah bersiap mengayunkan kakinya untuk mengunci pinggang Ashton, berniat merebut kendali.

Tapi gerakan Ashton jauh lebih taktis dan mengintimidasi. Polisi berambut agak panjang itu langsung mengurung tubuh Jemi, menindihnya dengan seluruh beban tubuh yang padat dan berat. Kedua pergelangan tangan Jemi dikunci kuat ke atas kepala dengan satu cengkeraman besi, sementara sikut Ashton yang lain menekan dada Jemi hingga pemuda itu megap-megap kekurangan udara.

Jemi seketika kelabakan. Napasnya tercekat, dan jantungnya berpacu gila-gilaan saat menyadari arah permainan ini melenceng jauh dari fantasinya.

Kenapa jadi dia yang mendominasi? batin Jemi panik.

Ekspektasi Jemi runtuh total. Dalam pikirannya, dialah yang akan merobek pakaian Ashton, dialah yang akan ngerojok lubang polisi ini sampai memohon ampun, seperti yang biasa dia lakukan pada jalang-jalang sewaannya. Tapi dari gerak-gerik Ashton yang sama sekali tidak bisa digeser satu senti pun, Jemi sadar dia salah perhitungan.

Ashton tidak sedang memberi celah. Pria itu justru maju dengan intensitas yang mengancam, dan sepasang lututnya yang dibalut celana taktis tebal dengan paksa menyelip di antara kedua paha Jemi, menyentak kaki Jemi hingga terbuka lebar di atas meja marmer.

Jemi benar-benar panik sekaligus syok melihat dominasi fisik yang begitu nyata dari aparat di depannya. Tatapan mata Ashton yang dingin kini berubah menjadi tatapan predator yang siap mengoyak mangsa. Gerak-gerik polisi ini tidak menunjukkan tanda-tanda seorang bawahan yang bisa dibeli; Ashton bergerak seperti seorang penguasa yang akan menghancurkan harga diri Jemi sampai berkeping-keping.

Bukan Ashton yang akan menungging di bawah kendalinya. Sinyal bahaya di otak Jemi berbunyi nyaring, menegaskan satu kenyataan pahit yang membuat bulu kuduknya meremang malam ini, Jemi-lah yang akan dipaksa membuka paha lebar-lebar di bawah kukungan pria lurus yang baru saja dia pancing setannya.

"Kamu bilang saya impoten, Jemi?" suara Ashton terdengar sangat rendah, hampir seperti geraman tertahan tepat di depan wajah Jemi.

Ashton menyentakkan pinggulnya ke depan, menekan bagian selangkangannya yang kini terasa mengeras dan menonjol besar di balik kain celana taktisnya, tepat menghantam milik Jemi yang juga sudah menegang. Tekanan panas dan keras itu begitu nyata, membuat Jemi spontan melengguh serak dengan mata membelalak lebar.

"Tadi kamu menantang saya buat membuktikannya, kan?" Ashton menunduk, mengunci tatapan Jemi yang mulai campur aduk antara panik, kelabakan, dan gairah masokistik yang mendadak meledak hebat di dadanya.

Tanpa belas kasihan, tangan bebas Ashton meraih ujung celana seragam rehab Jemi yang sudah melorot sebagian. Dengan satu sentakan kuat, pakaian itu ditarik paksa hingga menelanjangi bagian bawah tubuh Jemi sepenuhnya di atas meja dingin.

Jemi gemetar, hawa dingin marmer menyentuh kulitnya, namun panas dari tubuh tegap Ashton yang menghimpitnya jauh lebih membakar. Jemi hanya bisa diam tidak berkutik saat menyadari bahwa dominasi ini sepenuhnya nyata—dia tidak lagi memegang kendali, dan malam ini, dia akan merasakan bagaimana rasanya dihancurkan total oleh pria yang gagal dia jinakkan.

“Lu mau ngapain?” Jemi bertanya dengan suara yang bergetar panik. Skenario di kepalanya runtuh total. Ini benar-benar berbeda dengan fantasinya. Dia pikir dia bisa mengendalikan situasi, tapi pria di atasnya ini sama sekali tidak berniat memberikan celah baginya untuk membalikkan posisi.

Bunyi derit kain dan denting logam dari gesper sabuk kopel yang dibuka dengan sentakan kasar bergema nyaring di ruangan itu. Jemi bisa merasakan jantungnya seakan mau lompat keluar dari rongga dada saat melihat Ashton, dengan gerakan yang sangat efisien dan dingin, mulai menyingkirkan penghalang terakhir di antara mereka.

Sisa kain seragam rehab yang melekat di tubuh Jemi dirobek tanpa ampun, menyisakan bunyi seretan kain yang koyak secara paksa hingga pemuda itu kini telanjang sepenuhnya di atas meja marmer.

Di bawah sorotan lampu ruangan yang terang, bentuk tubuh Jemi terekspos tanpa sehelai benang pun. Kulitnya yang putih pucat tampak begitu kontras dengan permukaan marmer kelabu yang dingin serta siluet gelap dari kaos yang dikenakan Ashton. Tubuh Jemi tergolong ramping namun memiliki lekuk otot atletis yang terawat, tipe tubuh yang biasa dia pamerkan di kelab-kelab malam mewah.

Namun kini, keangkuhan fisik itu sirna. Kulit halusnya meremang hebat, dipenuhi oleh merinding akibat sentuhan langsung hawa AC ruangan yang menusuk. Di atas punggung hingga merambat ke sisi rusuk dan pinggulnya, jalinan tato hitam berbentuk sayap gelap yang rumit kini terlihat utuh, bergerak naik-turun seiring dengan napasnya yang memburu.

Tidak hanya tato, jejak-jejak interaksi mereka sejak kemarin juga tercetak jelas di tubuh polos itu. Memar kebiruan bekas cengkeraman kasar tangan Ashton tampak menghiasi kedua pergelangan tangan Jemi yang dikunci di atas kepala, sementara sudut bibir dan rahangnya masih menyisakan rona merah yang berdenyut perih.

Jemi tampak begitu rapuh, terbuka, dan tidak berdaya di atas meja keras itu. Kedua paha mulusnya dipaksa mengangkang lebar oleh tekanan kaki Ashton, mengekspos bagian paling intim dari dirinya yang kini justru menegang keras—sebuah respons biologis yang memalukan sekaligus jujur atas dominasi penuh yang sedang menerpanya. Tubuhnya gemetar halus antara syok, dingin, dan luapan gairah yang semakin tidak masuk akal.

Sebelum Jemi sempat mencerna seluruh rasa syok akibat ketelanjangan yang mendadak ini, Ashton menarik ikat pinggang tebalnya yang terlepas.

WUTTT—CTASS!

Ujung ikat pinggang itu melayang cepat di udara, menyabet kulit paha telanjang Jemi dengan keras. Rasa panas yang membakar langsung menyengat seketika, meninggalkan bilur kemerahan yang kontras di atas kulit putih Jemi yang mulus.

Jemi terlonjak hebat, pekikan sakitnya tertahan di tenggorokan. Rasa perih yang luar biasa itu membuatnya megap-megap kehabisan udara, dengan dada yang naik-turun dengan sangat cepat dan tidak beraturan. Air mata spontan meleleh di sudut matanya karena kejutan rasa sakit fisik yang begitu intens. Dia belum pernah dipermalukan dan disakiti secara fisik seperti ini seumur hidupnya.

"Sakit ‘kan, Jemi?" bisik Ashton, suaranya sangat rendah, menekan kembali tubuh Jemi yang menggeliat perih ke atas meja. "Kamu yang minta saya membuktikannya, jadi jangan coba-coba memohon untuk berhenti sekarang."

Ashton kembali memaksa kedua paha Jemi terbuka lebar dengan sentakan kasar. Alih-alih menciut karena rasa sakit akibat sabetan ikat pinggang tadi, tubuh menyimpang Jemi justru merespons dengan cara yang gila—pusat tubuhnya justru mengacung lebih tegak dan mengeras, sepenuhnya terangsang oleh rasa perih yang membakar kulitnya.

Ashton mengunci pinggul pemuda itu dengan lututnya sendiri, menekan berat tubuhnya agar Jemi tidak bisa bergeser barang satu senti pun, bersiap untuk memberikan pembuktian yang sesungguhnya hingga membuat sang anak pejabat benar-benar bertekuk lutut malam ini.

“Ngga gini, anjing... Lu yang harusnya ngangkang, tolol!” maki Jemi dengan suara yang bergetar hebat.

Ego dan harga dirinya sebagai seorang yang biasa berkuasa mencoba memberontak untuk terakhir kali, meskipun tubuhnya sendiri sudah lemas tak berdaya di bawah kukungan kokoh Ashton.

Ashton tidak menggubris makian itu. Tanpa sepatah kata pun, matanya yang pekat menatap rendah Jemi sementara tangannya bergerak turun, menarik ritsleting celana kargonya dengan satu gerakan lambat yang terdengar begitu mengintimidasi di dalam keheningan kamar.

Begitu penghalang itu terbuka, Jemi seketika memaku. Matanya membelalak lebar, dan untuk pertama kalinya, rasa ngeri yang murni menyergap benaknya. Ada perbedaan ukuran yang teramat kontras di antara mereka. Sesuatu yang kini terekspos di depan matanya membuat Jemi menelan ludah dengan sangat susah payah; tenggorokannya mendadak terasa kering kerontang.

Namun, di balik rasa paniknya, tubuh Jemi yang menyimpang justru memberikan reaksi yang jujur. Alih-alih menciut, kemaluan Jemi justru tampak berdenyut dan kedutan hebat hanya karena melihat ukuran pria di atasnya. Reaksi biologis itu seolah mengkhianati mulutnya yang tadi menghina Ashton sebagai pria impoten.

Jemi merutuki perbuatannya habis-habisan dalam hati. Kenapa dia harus memancing kemarahan pria ini? Hanya dari melihat ukuran itu saja, akal sehat Jemi yang tersisa langsung menjeritkan satu kenyataan: malam ini, dialah yang akan hancur.

Ashton mendengus dingin melihat reaksi tubuh Jemi yang gemetar. Tangannya tidak bergerak ke arah botol air atau benda tumpul lainnya. Dengan gerakan yang efisien, Ashton meraih sebuah botol bening dari tumpukan barang yang tadi dia geledah dari dalam laci nakas Jemi—sebuah pelumas mahal merk impor yang diselundupkan Jemi ke panti rehab.

"Kamu sudah menyiapkan ini sejak awal, kan?" bisik Ashton, suaranya sangat rendah dan berbahaya di samping telinga Jemi. "Sepertinya kamu memang sudah tidak sabar ingin merasakan bagaimana rasanya diperlakukan seperti jalang."

Jemi ingin membantah, ingin meneriakkan bahwa pelumas itu bukan untuk dirinya yang berada di posisi bawah, tapi lidahnya kelu. Bunyi klik dari tutup botol yang dibuka paksa terdengar begitu nyata. Ashton menuangkan cairan kental dan licin itu dalam jumlah banyak ke telapak tangannya, lalu tanpa peringatan, dia langsung mengoleskannya secara kasar ke rintangan terakhir di antara kedua paha Jemi yang sudah terbuka lebar.

“Ngga gini, anjing...tunggu gua baru per-tAkh!” Jemi memekik kencang saat dua jari kasar Ashton melesak masuk secara paksa, melumuri liang senggamanya tanpa ada sedikit pun kelembutan. Jari-jari itu mengoyak ketatnya lubang kawin Jemi, memicu rasa perih yang bergesekan langsung dengan dinginnya cairan pelumas. Sensasi ekstrem itu justru membuat kontol Jemi yang sudah berlumur precum sejak tadi semakin menegang keras dan kedutan hebat menahan rangsangan yang terlalu intens.

Jemi mulai megap-megap kehabisan napas, dadanya naik-turun dengan sangat cepat hingga tulang rusuknya mencuat di balik kulitnya yang polos. Air mata luapan gairah yang menyimpang bercampur rasa sakit yang pekat mulai menggenang dan luruh di pelupuk matanya, membasahi pelipis.

Rasa perih menyengat seketika saat dua jari tebal Ashton yang sudah licin oleh pelumas melesak masuk tanpa peringatan, mengoyak dinding dalam liang senggamanya dengan gerakan menggeledah yang kasar. Jari-jari itu menekuk dan memutar di dalam, memaksa lubang kawin Jemi yang sempit untuk meregang paksa dan menyerah pada gesekan brutal yang tidak menyisakan kelembutan sedikit pun. Setiap tusukan jari Ashton sengaja menekan titik-titik sensitif di dalam sana, mengabsen pertahanan Jemi hingga berkedut-kedut basah membanjiri meja.

Tekanan fisik Ashton yang luar biasa berat mengunci pinggul Jemi dengan lututnya, menekan sendi-sendi paha Jemi hingga terbuka paksa secara maksimal. Meja marmer yang dingin di bawah punggungnya terasa semakin kontras dengan hawa panas membakar yang menguar dari tubuh tegap polisi di atasnya. Jemi benar-benar terjebak, tidak memiliki ruang sedikit pun untuk sekadar menggeser pinggul atau meloloskan diri dari intimidasi fisik yang mengurungnya, sementara kontolnya sendiri justru semakin ngaceng dan kedutan hebat di depan perutnya yang rata akibat siksaan jari yang disusupkan Ashton.

“Diam,” perintah Ashton, suaranya luar biasa rendah dan penuh intimidasi.

Jemi sama sekali tidak bisa menutup mulutnya. Begitu jari-jari tebal Ashton menekuk di dalam dan menghantam sebuah benjolan sensitif di dinding liang senggamanya, Jemi langsung memekik kencang dengan kepala yang terlempar ke belakang. Seluruh tubuhnya tersentak, punggungnya melengkung hingga tidak lagi menyentuh meja marmer, hanya bertumpu pada bahu dan pinggul yang dikunci kuat oleh Ashton.

“AHH! Bangsat—! Akhh, pelan-pelan, bajingan… ahhh … ahh!” teriakan Jemi pecah, suaranya yang serak kini dipenuhi dengan desahan yang tidak bisa dia tahan lagi.

Sepanjang hidupnya, Jemi selalu menjadi pihak yang memasukkan, pihak yang mengontrol, dan pihak yang mendominasi. Dia tidak pernah tahu kalau diperlakukan secara kasar seperti ini bisa memberikan sensasi yang begitu mematikan. Rasanya aneh, sangat asing, namun saraf-saraf di sekujur tubuhnya justru berteriak minta lebih.

Setiap kali jari Ashton menabrak titik nikmat di dalam lubang kawinnya, perut Jemi terasa seperti diaduk oleh ribuan volt listrik. Dia meracau tidak jelas, kepalanya menggeleng-geleng di atas meja sementara matanya membelalak buram karena air mata gairah.

Nngghhh! Lebih dalem... ah, sialan! Di situ, anjing... terus.. enak banget tolol…” Jemi mulai berisik, egonya sudah lumat habis terbakar nafsu. Dia tidak peduli lagi dengan harga dirinya. Jemi terus ngedesah panjang, suaranya memenuhi ruangan, bersahut-sahutan dengan bunyi becek pelumas yang dipicu oleh gerakan jari Ashton yang semakin cepat dan brutal.

Hanya karena kobelan jari di dalam liang belakangnya, kontol Jemi mulai mengucur cairan bening di ujungnya. Batang kemaluannya berkedut-kedut hebat, berdenyut searah dengan jantungnya yang mau copot. Jemi merasa seperti berada di ambang jurang; dia hampir mencapai puncak hanya dengan stimulasi jari, sebuah fakta yang membuatnya merasa benar-benar hancur sekaligus terbang tinggi.

“Pak nghhh... gue mau keluar... ahh, bangsat, jangan stophh... ahh lagi! lagi!” Jemi memohon-mohon dengan suara parau. Seluruh tubuhnya sudah gemetar hebat, pinggulnya bergerak liar menyambut setiap tusukan jari Ashton yang menghantam titik terdalam di liang senggamanya. Jari-jarinya mencengkeram pinggiran meja marmer hingga memutih, pasrah sepenuhnya pada jari-jari kasar polisi yang sedang mengobrak-abrik seluruh saraf nikmatnya tanpa ampun.

Namun, tepat saat kontol Jemi sudah berkedut hebat di ambang putihnya, Ashton tiba-tiba mencabut kedua jarinya dengan sentakan dingin.

Kehampaan mendadak itu menghantam Jemi seperti tamparan keras. Sensasi nikmat yang sudah menumpuk di ujung sarafnya seolah menggantung di udara, menciptakan rasa sesak dan frustrasi yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Jemi tersentak, punggungnya jatuh menghantam meja marmer dengan lemas, matanya yang berair menatap Ashton dengan tatapan tidak percaya sekaligus penuh dendam.

“Aparat kontol!” maki Jemi, napasnya memburu tidak beraturan. “Kenapa berhenti, bangsat?! Dikit lagi... gue dikit lagi keluar, anjing!”

Ashton berdiri tegak di antara kedua paha Jemi yang masih terbuka lebar dan gemetar. Tidak ada raut kasihan di wajahnya; yang ada hanyalah tatapan otoriter yang seolah sedang menelanjangi sisa-sisa harga diri Jemi. Dia mengusap cairan pelumas yang tersisa di jarinya ke perut Jemi yang rata, sebuah gerakan yang sangat menghina namun terasa begitu intim.

“Saya tidak ingat pernah memberi kamu izin untuk keluar, Jemi,” suara Ashton terdengar sangat rendah dan tenang, namun mengandung ancaman yang membuat bulu kuduk meremang.

Jemi merintih frustrasi. Kontolnya yang masih tegang sempurna itu berdenyut-denyut nyeri karena tidak mendapatkan pelepasan. Dia ingin sekali meraih miliknya sendiri dan menyelesaikannya, namun tangan Ashton dengan cepat kembali mengunci pergelangan tangan Jemi ke atas kepala, menekannya ke meja marmer dengan kekuatan yang tidak bisa dilawan.

“Gua... gua mau keluar pak polisi... ahh, tolong... keluarin... sange..” Jemi meracau, egonya sudah lumat total oleh kebutuhan biologis yang menyiksa.

Ashton justru menyeringai tipis—sebuah pemandangan langka yang terlihat sangat buas. Polisi itu meraih pinggul Jemi, menarik tubuh pemuda itu hingga bokongnya berada tepat di tepian meja marmer, memberikan akses yang sangat luas pada lubang kawinnya yang masih merah dan terbuka akibat kobelan tadi.

“Kamu ngga butuh jari saya lagi untuk keluar,” bisik Ashton tepat di depan bibir Jemi yang gemetar.

Tanpa peringatan, Ashton memosisikan kepalanya di antara kedua paha Jemi dan menempelkan ujung kontolnya yang besar, panas, dan berurat tepat di mulut liang senggama Jemi. Sebelum Jemi sempat menarik napas, Ashton memberikan satu hentakan pinggul yang sangat bertenaga, menghujamkan seluruh panjang kejantannya ke dalam hingga tandas ke pangkal.

“AGHHH—! Sakit…”

Jemi memekik kencang, lengkingan suaranya yang serak memutus keheningan kamar dengan begitu dramatis. Matanya terbelalak lebar dengan urat-urat merah yang mencuat di sudut kelopak matanya yang basah; dia merasa seolah tubuhnya benar-benar terbelah dua oleh ukuran kontol Ashton yang luar biasa besar dan tebal. Tanpa ada jeda untuk beradaptasi, kejantanan raksasa itu menyumbat liang senggamanya tanpa ampun dalam satu hentakan mentah yang menghujam lurus hingga ke dasar. Rasa penuh yang meregang paksa, menyiksa, sekaligus memberikan sensasi nikmat yang mengerikan langsung memenuhi setiap inci kesadarannya. Dan ini adalah pertama kalinya bagi Jemi berada di posisi bawah; rasa sakitnya luar biasa membakar, namun di saat yang sama, hantaman keras itu menabrak titik nikmat prostatnya dengan begitu telak hingga otaknya serasa meleleh.

Sensasi tubrukan telak di liang belakangnya memicu reaksi berantai yang tak tertahankan pada bagian depannya. Kontol Jemi yang sempat tertahan di ujung tanduk sejak tadi, akhirnya menyerah pada kedutan orgasmik yang hebat. Kepala kontolnya yang memerah benderang mulai berdenyut pasrah, bersiap menyemburkan cairan putihnya ke udara. Namun, sebelum setetes pun pelepasan itu sempat melesat keluar, ibu jari Ashton yang besar dan kasar sudah menekan lubang di ujung kontol Jemi dengan sangat kuat, menyumbat saluran udaranya tanpa belas kasihan.

Jemi langsung memekik tertahan, tubuhnya kejang ekstrem di atas meja marmer.

Nngghhh—akhhh! Pak polisi nhhhgghh... lepasin... please, gue mau keluar!” Jemi merintih frustrasi, kepalanya menggeleng liar di atas meja marmer.

Orgasmenya dihancurkan begitu saja, tertahan di dalam pangkal paha tanpa bisa dikeluarkan—sebuah siksaan dry cum yang membuat seluruh cairan semennya terperangkap paksa sementara otot-otot internalnya terus memompa gila-gilaan di dalam. Siksaan penahanan itu membuat Jemi semakin lemas kesakitan, tak berdaya menghadapi gelombang stimulasi yang tumpang tindih antara rasa frustrasi seksual dan kepuasan batin.

Kedua pahanya yang mulus kini bergetar setengah mati di udara, otot-otot kakinya menegang hingga mengalami kram nikmat yang berbaur dengan rasa sakit yang pekat. Seumur hidupnya yang bergelimang kemewahan dan seks bebas yang membosankan, Jemi tidak pernah merasakan sensasi yang seintens dan senikmat ini; sebuah kehancuran fisik total yang justru membuatnya merasa sangat hidup di bawah kukungan sang aparat.

“Belum, Jemi. Saya belum selesai dengan kamu,” bisik Ashton, suaranya terdengar seperti geraman predator di telinga Jemi yang sudah merah padam.

Ashton sama sekali tidak berniat memberikan jeda bagi Jemi untuk meratapi orgasmenya yang dirampas. Sambil terus mengunci pergelangan tangan Jemi ke atas kepala dan membiarkan ibu jarinya menyiksa ujung kontol Jemi yang kedutan. Ashton mulai menarik pinggulnya keluar hingga hampir lepas dari liang senggama Jemi, hanya untuk kemudian menghantamkannya kembali ke dalam dengan hentakan yang lebih bertenaga.

PLAK! PLAK!

Bunyi kulit pantat Jemi yang beradu keras dengan paha kokoh Ashton bergema di ruangan itu, bercampur dengan suara becek pelumas yang semakin nyaring setiap kali kontol berurat itu keluar-masuk merobek pertahanan Jemi. "Ahhh! Akhh! Pak polisih—nggghhh, ampun, anjing! Ah! Ah!" Jemi benar-benar jejeritan hancur, suaranya yang semula lantang kini sudah habis total, menyisakan desahan serak yang terdengar begitu berisik, sensual, dan berantakan di dalam ruangan. Setiap kali kontol besar Ashton menghantam maju, titik nikmat prostat di dalam liang senggamanya ditabrak habis-habisan tanpa belas kasihan. Jemi menggelengkan kepalanya frustrasi di atas meja marmer, air matanya menetes deras, sepenuhnya dikuasai hidup dan matinya oleh polisi yang mengukungnya dengan brutal.

"Ahh! Ahh! Sakit, bangsat... tapi enak... nghh, perut gua mau pecah! AGHH! kencengin, anjing... rojokin gua lagi!" Jemi meracau liar, kehilangan seluruh urat malunya saat pinggulnya secara tidak sadar malah mendesak maju, menantang setiap sodokan dalam yang diberikan Ashton.

Mendengar Jemi yang semakin berisik, Ashton justru memperparah siksaannya. Ibu jari tangan Ashton yang menyumbat ujung kontol Jemi tidak tinggal diam begitu saja. Sambil menahan lubang kemaluan itu tetap tertutup rapat untuk menggagalkan orgasmenya, ibu jari Ashton mulai bergerak maju-mundur, menggesek dan memainkan kepala kontol Jemi dengan tekanan yang kuat dan ritme yang konstan.

Gesekan kasar pada bagian ujung itu terasa luar biasa intens dan menyiksa. Kontol Jemi yang tersumbat kini makin membengkak hebat, memerah tua, dan berdenyut kesakitan karena aliran peju yang tertahan di dalam pangkal paha dipaksa untuk terus berproduksi akibat hantaman brutal dari belakang. Batang kemaluannya terasa panas, tegang maksimal, dan linu setengah mati. Setiap gesekan dari ibu jari Ashton mengirimkan rasa sakit yang teramat ekstrem, berbaur dengan gairah masokistik yang membuat Jemi hampir gila.

Di bawah tekanan internal yang sudah di ubun-ubun dan gesekan jempol Ashton yang tanpa jeda, peju Jemi yang sudah tidak mampu lagi dibendung akhirnya mulai memaksa keluar. Cairan putih kental itu tidak bisa menyembur bebas ke udara; melainkan merembes dan meluap hebat, merayap paksa keluar di setiap celah-celah kecil yang tersisa di sekitar jepitan kuat ibu jari Ashton.

Peju putih yang kental itu meleleh di sela-sela jari mereka, melumuri telapak tangan Ashton dan mengalir turun membasahi perut rata Jemi yang terus berkedut-kedut kejang. Jemi hanya bisa melengguk pasrah dengan sisa napas yang putus-putus, merasakan bagaimana liang senggamanya terus-menerus dirobek oleh kontol berurat Ashton, sementara bagian depannya disiksa hingga mengeluarkan peju secara paksa di bawah kuasa penuh sang aparat.

“Pak... nghhh... lepasin jempol lu, anjing... gue pengen keluar... gue mau ngecrot, akh! Tolong, Pak Polisi, keluarin... capek, ngh, sakit banget...” Jemi merengek parau, kepalanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri dengan rambut yang lepek oleh keringat. Seluruh keangkuhannya sebagai anak pejabat telah runtuh total, berganti menjadi rengekan mengiba seorang jalang yang frustrasi karena orgasmenya ditahan di ujung tanduk.

Namun, Ashton sama sekali tidak berniat mengabulkan permintaan itu. Polisi muda itu justru mendengus rendah, menikmati bagaimana tatapan liar Jemi kini berubah menjadi tatapan memohon yang menyedihkan.

Sambil terus membiarkan kontol besarnya tertanam penuh menyumbat liang senggama Jemi, tangan bebas Ashton bergerak ke atas. Bukannya melepas sumbatan di ujung kemaluan Jemi, telapak tangan kekar itu justru melayang, memukul ringan perut bawah Jemi yang menegang keras.

PLAK! PLAK!

Jemi memekik kencang, tubuhnya tersentak hebat di atas meja marmer. Tepukan konstan namun bertenaga di perut bawahnya itu mengirimkan gelombang kejut yang luar biasa menyiksa ke kantung kemihnya yang sudah penuh sesak oleh peju yang tertahan.

"Pak Polisi! AGHH! Jangan dipukul, bangsat! Sakit—ahh, nghhh!" Jemi menjerit histeris.

Siksaan Ashton tidak berhenti di sana. Karena postur tubuh Jemi yang ramping dan otot perutnya yang tipis, setiap kali kontol berurat Ashton menghantam lurus ke dalam, batang kejantanan yang besar itu samar-samar mencetak tonjolan keras dari dalam, menyundul dinding perut bawah Jemi. Ashton dengan sengaja melayangkan pukulan tepat di atas permukaan kulit perut Jemi yang tercetak oleh bentuk kontolnya sendiri.

PLAK!

Sensasi ekstrem langsung meledak di kepala Jemi. Rasanya luar biasa aneh—perpaduan antara rasa ngilu, sakit yang menyengat, sekaligus sensasi geli yang teramat sangat yang langsung menyergap saraf-saraf prostatnya dari dalam dan luar secara bersamaan. Pukulan di perut bawah itu justru membuat lubang kawin dan liang senggama Jemi berkedut-kedut histeris, menjepit kontol Ashton semakin erat dan memicu desakan klimaks yang jauh lebih gila.

"Geli, anjing! Ahhh! Geli banget, bajingan... jangan dipukul! Gua mau mati, akhh! Keluarin... bikin gue ngecrot, Pak... nggghhh!" Jemi teriak kesetanan dengan sisa-sisa suaranya yang serak. Air matanya mengalir semakin deras, membasahi seluruh wajahnya yang memerah padam.

Rasa geli dan nikmat yang tumpang tindih itu membuat Jemi tidak bisa lagi mengontrol tubuhnya sendiri. Pinggulnya bergerak kejang, bergetar setengah mati di atas meja marmer dingin, berusaha mendesak maju mencari pelepasan yang terus-menerus dirampas oleh jempol kokoh Ashton.

"Kamu mau keluar?" bisik Ashton dingin, suaranya terdengar sangat kontras dengan jeritan frustrasi Jemi yang berisik. Polisi itu kembali memukul pelan tonjolan kontolnya yang mencetak di perut Jemi, membuat pemuda di bawahnya kembali melengking hebat. "Tahan semuanya di dalem, Jemi. Nikmati rasa sakitnya sampai kamu tahu cara menutup mulut kotor kamu itu."

Ashton kemudian mencengkeram erat pinggul Jemi yang gemetar, mengangkatnya sedikit untuk memberikan sudut menghujam yang lebih mematikan. Tanpa memedulikan rengekan Jemi yang semakin histeris karena siksaan di perutnya, Ashton kembali menarik kontol beruratnya hingga ke ujung lubang, sebelum akhirnya menumbuk liang senggama Jemi kembali dengan hentakan brutal yang berkali-kali lipat lebih cepat dan bertenaga.

Hantaman brutal yang bertubi-tubi di liang senggama serta pukulan konstan di perut bawahnya benar-benar merusak seluruh sistem saraf Jemi. Sensasi penuh, ngilu, dan tekanan hebat di kantung kemihnya berbaur menjadi satu siksaan yang teramat nyata. Jemi sudah tidak bisa membedakan lagi antara desakan gairah mematikan atau kebutuhan biologis yang mendesak.

“Pak... nghhh... Pak Polisi, tolong... lepasin, anjing... gue mau keluar!” Jemi meracau histeris, air matanya sudah membanjiri seluruh wajah. Kedua kakinya kejang benderang di udara, menjepit pinggul tegap Ashton dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki.

“Gue mau pipis, Pak... ahh! Beneran kebelet, sakit banget perut gua... AGHH! Lepasin jempol lu, bajingan! Gue mau pipis sama ngecrot sekaligus... sakit, Pak... ampun!” rengek Jemi dengan suara yang pecah dan parau.

Tekanan di perut bawahnya membuat Jemi benar-benar merasa sesak setengah mati, seolah jika Ashton menghantamnya sekali lagi tepat di titik itu, saluran kemihnya akan jebol dari dalam. Keangkuhan sang anak pejabat kini lumat total; dia menangis tersedu-sedu, memohon-mohon pasrah di bawah kukungan aparat yang menguasai penuh seluruh tubuh dan harga dirinya.

Melihat Jemi yang sudah benar-benar hancur, gemetar hebat, dan merengek meminta ampunan karena rasa sakit yang bercampur desakan pipis, Ashton akhirnya memberikan kelonggaran. Polisi itu mendengus rendah, melirik kontol Jemi yang sudah membengkak merah tua dan berkedut hebat di bawah tekanan ibu jarinya.

"Silahkan kriminal nakal," bisik Ashton.

Tepat saat Ashton menarik pinggulnya mundur maksimal untuk melakukan satu hentakan pemungkas, dia tiba-tiba menarik ibu jarinya dari ujung kemaluan Jemi. Bersamaan dengan itu, Ashton menghantamkan seluruh panjang kontol beruratnya ke dalam liang senggama Jemi dengan satu dorongan pinggul yang luar biasa bertenaga.

SYUUUUURRR!!!!

AGHHIKKK—!!!

Jemi melengking tinggi, tubuhnya tersentak ekstrem hingga melengkung kaku di atas meja marmer. Begitu sumbatan itu lepas dan prostatnya dihantam telak, pelepasan yang ditahan-tahan itu meledak tanpa ampun. Cairan peju kental yang super banyak menyembur berantakan ke udara, berbaur dengan aliran air pipis yang keluar secara paksa akibat tekanan brutal dari sodokan Ashton di dalam perutnya.

Semua cairan itu memancar keluar sekaligus, mengotori perut rata Jemi, dada, hingga merembes ke permukaan meja marmer dingin. Jemi kejang-kejang gila, matanya mendelik ke atas dengan napas yang benar-benar tersendat di tenggorokan. Kram nikmat dan rasa lega yang luar biasa tajam menyergap seluruh kesadarannya, membuat kepalanya terasa kosong melompong.

Jemi langsung lemas seketika, jatuh berdebam di atas meja marmer seperti boneka tali yang diputus. Tubuhnya masih gemetar halus, menyisakan kontolnya yang berkedut-kedut mengeluarkan sisa peju dan pipis yang meleleh pasrah. Sementara di bawah sana, liang senggamanya yang sudah longgar dan basah kuyup masih terus berdenyut-kedut pasrah, menerima sisa-sisa kedutan kontol besar Ashton yang tertanam penuh di dalam dirinya, menandai penundukan mutlak sang anak pejabat malam ini.

Meskipun Jemi sudah terkujur lemas dengan kesadaran yang hampir mengambang, Ashton sama sekali belum selesai. Polisi itu mendengus berat, napasnya yang panas dan memburu berembus kasar di ceruk leher Jemi. Urat-urat di lengan dan leher tegap Ashton mencuat tegang, menandakan bahwa sang aparat kini mulai mengejar putihnya sendiri yang sudah mendesak di ujung karir.

Tanpa memberikan ampun pada liang senggama Jemi yang sudah porak-poranda, Ashton mencengkeram kedua sisi pinggul Jemi dengan sangat kencang hingga menyisakan bekas kemerahan yang baru. Dia mulai menarik kontol besarnya hampir keluar, sebelum kemudian menghantamkannya kembali ke dalam dengan ritme yang jauh lebih cepat, konstan, dan brutal.

PLAK! PLAK! PLAK!

Bunyi tamparan kulit yang basah oleh keringat dan pelumas bergema nyaring di ruangan itu, beradu dengan suara decakan becek dari lubang kawin Jemi yang menjepit ketat setiap sodokan maju-mundur Ashton. Jemi hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah, matanya terpejam rapat dengan bibir yang terus terbuka, mengeluarkan desahan parau yang terputus-putus.

Hebatnya, siksaan fisik itu belum berakhir bagi bagian depan Jemi. Setiap kali kontol besar Ashton menghantam lurus ke dalam dan menumbuk prostat serta kantung kemihnya dari dalam, tubuh Jemi merespons secara involunter. Meskipun sudah lemas habis-habisan, kontol Jemi tidak berhenti mengeluarkan sisa-sisa cairannya.

Di setiap sodokan dalam yang menghujam, lubang kemaluan Jemi yang lemas kembali berkedut, memaksa campuran air mani putih yang tersisa dan sisa air pipisnya yang hangat untuk menyembur keluar sedikit demi sedikit. Cairan keruh yang bercampur itu merembes pasrah, meluap di atas perutnya yang bergerak naik-turun drastis, lalu mengalir turun mengotori sela-sela paha dan permukaan meja marmer yang kian mendingin.

"A-ahh... ngggh... Pak... akh! Keluar lagi... stop... ahh!" Jemi merintih parau, merasakan bagaimana sensasi geli dan linu yang aneh kembali menyengat saluran kencingnya setiap kali Ashton menyundul bagian dalamnya tanpa belas kasihan. Dia benar-benar dikuras habis-habisan, dibuat tak berdaya hingga cairannya dipaksa keluar sampai tetes terakhir.

Ashton mengabaikan rintihan itu. Fokusnya sudah sepenuhnya terenggut oleh jepitan liang senggama Jemi yang luar biasa nikmat dan menjepit hebat akibat efek orgasme tadi. Kecepatan sodokan Ashton meroket ke tingkat yang mematikan. Dia menghantam lubang Jemi bertubi-tubi tanpa jeda, membuat tubuh ramping di bawahnya bergetar hebat dan bergeser maju-mundur di atas meja marmer.

"Jemi... ngghh..." Ashton mengerang rendah, suaranya sangat serak dan dalam, dipenuhi gairah hewaniah yang pekat.

Merasakan kedutan hebat di pangkal pahanya sendiri, Ashton memberikan tiga sodokan brutal terakhir yang menghantam hingga ke titik terdalam Jemi. Tepat pada hentakan pemungkas, Ashton menanamkan seluruh panjang kontolnya sedalam mungkin, mengunci pinggul Jemi erat-erat dengan tubuh tegapnya agar tidak ada satu senti pun celah yang tersisa.

CROOOOTT!! CROOOOTTT!!!!

Ashton menegang kaku, kepalanya terkulai di bahu Jemi saat kontol beruratnya mulai memuntahkan seluruh lahar putihnya yang panas dalam jumlah banyak. Cairan mani yang kental dan panas itu ditembakkan bertubi-tubi, membanjiri bagian terdalam liang senggama Jemi yang berkedut-kedut pasrah menerima kepunyaan sang aparat.

“Ahhhhh... nggghhhhh... Pak... AGHHH-nghh...”

Jemi mendesah panjang untuk terakhir kalinya, sebuah lengkingan parau yang bergetar di tenggorokannya yang kering. Suara itu bukan lagi makian atau protes, melainkan murni erangan pasrah yang terulur panjang seiring dengan setiap semburan lahar panas Ashton yang menghantam dinding dalam liang senggamanya. Kedua mata Jemi mendelik sayu ke langit-langit kamar, pandangannya buram oleh air mata yang terus merembes ke pelipis.

Setiap tembakan peju tebal Ashton terasa begitu nyata, menyengat bagian terdalam lubang kawin Jemiyang berkedut-kedut histeris, mencoba menjepit dengan sisa saraf yang sudah lumpuh. Rasa panas yang meluap di dalam perut bawahnya membuat Jemi merasa benar-benar penuh, seolah tubuh rampingnya telah sepenuhnya diinvasi dan ditandai oleh sang aparat.

Nnggghhh... ahh... ah...” Desahan Jemi semakin mengecil, berubah menjadi renggutan napas yang putus-putus.

Bersamaan dengan itu, seluruh sisa tenaga di tubuh Jemi benar-benar lenyap, mengalir keluar bersama dengan sisa cairan kontolnya yang masih merembes pasrah di atas perutnya. Kedua pahanya yang tadi menegang kaku kini jatuh terkulai lemas di sisi tubuh Ashton, bergetar halus tanpa daya akibat kram nikmat yang menyiksa. Jari-jarinya yang mencengkeram pinggiran meja marmer melepas pegangannya, jatuh terkulai di atas permukaan batu yang dingin.

Jemi membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya dalam dominasi mutlak yang menghancurkan seluruh harga dirinya malam ini. Tidak ada lagi sosok anak pejabat yang angkuh, egois, dan suka merendahkan orang lain. Di atas meja marmer yang kotor oleh campuran peju, air pipis, dan pelumas itu, Jemi telah lumat total. Dia sadar, sedalam apa pun dia mencoba menyangkalnya nanti, tubuh dan sarafnya telah menyerah sepenuhnya menjadi wadah penundukan bagi pria yang tadinya ingin dia jinakkan.

Saat Ashton perlahan menarik tubuh tegapnya menjauh, menyisakan bunyi plop basah dari lubang Jemi yang kini terbuka longgar dan mengeluarkan lelehan sperma bercampur pelumas, Jemi hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat. Dia menarik napas berat yang gemetar, meringkuk lemas dalam posisi telanjang bulat tanpa bisa menyembunyikan kehancurannya lagi di depan sang aparat.


 

Notes:

Criticism, suggestions, and pairing requests. DM me at enakcekali on X, okay?