Work Text:
Gemerisik daun yang bergesekan terdengar luar biasa berisik malam itu.
Langkah tergesa-gesa kemudian menyusul pasti, menyibak kabut tebal yang menutupi jalan setapak yang sarat akan rumput-rumput liar nan tajam dan basah beserta ranting-ranting pohon yang jatuh tersembunyi di sela-selanya. Pastinya tajam ujung ranting yang menggores akan meninggalkan rasa nyeri meringis di kaki saat terinjak. Namun lelaki itu tidak peduli, kakinya yang telanjang tak beralas melindas dan menapak tanah suci Gunung Merapi dengan derap tak sabaran namun familiar luar biasa.
Udara lereng gunung yang luar biasa dinginnya seolah tidak memengaruhi badan kekar itu dalam perjalanannya menuju ke puncak. Badannya terbalut beskap beludru hitam pekat yang menjuntai rapi, memeluk cantik di pinggangnya yang ramping dan dadanya yang bidang. Blangkon dan hiasan melati panjang yang melingkari lehernya bergoyang kesana-kemari, kain jarik wiron bermotif parang kusumo yang masih baru dan berbau peti kayu tertarik di setiap langkahnya yang tergesa-gesa, menyulitkan perjalanannya namun dia sudah masa bodoh dengan segalanya.
Dengan tangannya yang memeluk tampah penuh berisi kemenyan, jasad ayam cemani yang setengah darahnya sudah ia minum sebelum ia melangkah menuju puncak Gunung Merapi, kembang setaman beraroma segar dan wangi, serta kelapa muda, pemuda dengan riasan wajahnya yang pucat namun sangat mempesona dan rambut perak klimisnya yang sudah ditata cantik dengan minyak rambut mahal turun temurun dari leluhurnya itu tersenyum lebar sembari menahan rasa tak sabarannya yang membuncah semakin dekat tujuan sambatan hatinya itu sudah berhasil ia tempuh.
Lagaknya bukan lagi seperti pendaki kebingungan yang tersesat di tengah jalur tanjakan menuju puncak gunung berapi tersohor di Jawa Tengah itu, melainkan seperti pengantin kinyis-kinyis, siap ijab kabul kepada pujangganya saat itu juga. Bedanya hari itu adalah Kamis Wage, malam Jumat Kliwon, tepat pukul sebelas malam hari.
Sorot iris matanya yang memerah bata menyimpan hasrat kegilaan yang tidak lagi dapat disembunyikan. Dicampur dengan seringaian bibirnya yang tak kalah gila di wajah tampannya, kombinasi itu memberikan nuansa janggal yang bisa saja sekejap lagi akan meledak di tengah kewarasan suci Gunung Merapi. Ketakutan dari dalam relung pemuda itu sudah lama binasa, membusuk diganti dengan gairah tercela yang kerinduannya semakin memekat menyesakkan dada semakin ia lama jauh dari tambatan hatinya.
Ia ingin cepat-cepat bersatu, melebur menjadi bubur, menyerahkan keseluruhannya secara utuh pada entitas bayangan yang selama ini hanya sudi menggerayangi sukmanya melalui mimpi-mimpi basah di malam hari yang sendu yang semu, namun terlampau memabukkan untuk dilupakan begitu saja.
Barang satu hela nafas terakhirpun pemuda itu ikhlas ia persembahkan jika bayarannya adalah sentuhan jinak jemari dingin nan mengayomi itu singgah di atas kulit kotor nan hina miliknya.
Langkah kakinya yang sedari tadi menapak tak sabaran pada tanah subur Gunung Merapi kemudian semakin melambat semakin dekat pandangannya menuju sendang di bawah pohon beringin syahdu yang senantiasa ia rindukan itu. Telapak kakinya yang sudah terluka berdarah-darah ia abaikan. Dengan meletakkan sesembahan yang ada di tampah itu ke atas batu besar berlumut, ia kemudian bersimpuh rapih di depannya. Kemenyan wangi yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari kemudian ia bakar tak menunggu sedetik lebih lama. Asap kelabunya mengepul, wangi semerbaknya memenuhi dada pemuda itu tanpa penghalang.
Sepi kemudian menyeruak kembali.
Barang satu desir anginpun enggan berhembus.
Kedua tangan pemuda itu menangkup, bibirnya bergerak komat-kamit tanpa berjeda meski sejenak demi menarik nafas panjang.
“Duh, Gusti Raden ingkang jumeneng ing Sendang mriki.
Wengi iki, kawula sowan marang panjenengan, ngaturaken ganda arum menyan lan sari kembang setaman kagem nyuwun welas asih panjenengan mugi kersa nampi kawula dados garwa.
Kawula pasrahaken raga kawula, sukma lan getih kawula, marang panjenengan. Tresnanipun kawula mboten apus-apus, sumangga pedhotaken umur kawula menika kawula mblenjani.
Duh Gusti Raden ingkang kawula tresnani. Kawula nyuwun, rawuha.”
(Wahai Gusti Raden yang bersemayan di mata air ini.
Malam ini, saya mampir datang kepadamu, mempersembahkan wangi harum kemenyan dan sari kembang setaman demi meminta kasih sayangmu agar mau menerima saya menjadi suamimu.
Saya pasrahkan raga saya, jiwa dan darah saya kepadamu. Rasa cinta saya tidaklah bohong semata, silakan putus umur saya jika saya berhianat.
Wahai Gusti Raden yang saya cintai. Saya mohon, datanglah.)
Belum genap pemuda itu—Eunho—selesai mengecap, riakan air yang terdengar dari tengah sendang kemudian berkecipak perlahan. Harum aroma melati pekat yang menusuk indera menyeruak tanpa aba-aba, menyebabkan rasa anyir di pangkal tenggorokan Eunho yang terasa amat familiar dan dirindukan.
Tidak lama setelahnya, netra merah menyala pemuda itu mengkilat. Bayangan hitam memekat dan memisah dari bayang-bayang pohon beringin yang meneduhi sendang, bergerak gemulai di atas riak air yang bergelombang cantik di bawah kakinya.
Sosok itu kemudian semakin berwujud, semakin kasat mata.
Tubuhnya ramping luar biasa. Helai surainya berwarna merah muda semu-semu pemalu, panjang menjuntai menyentuh tumit pucat pasi sosok itu dengan indah. Dadanya yang telanjang terbuka bidang, kulitnya seputih pualam yang nyaris bercahaya memantul di bawah sinar rembulan.
Cantik, indah. Namun amat sarat akan kematian yang tak sabar menguliti jiwa.
Tanpa menunggu si pemuda yang menahan nafasnya sepanjang ritual itu berhenti untuk mengagumi sosoknya, jemari bulat nan lucu di pucuk tungkai sosok itu kemudian mengayun di atas air tanpa kembali menimbulkan riak berarti. Syahdu nan sendu mendekati dengan keanggunan khasnya sebagai seorang raja lelembut suci nan sakti yang menagih upeti.
“Cah bagus…”
Alunan merdu kemudian menggema di relung jiwa Eunho, menggetarkan seluruh rongga dadanya, membinasakan setiap saraf tubuhnya saking rindunya mereka pada sosok gemulai nan anggun yang melayang di depannya.
“Ganda arum awakmu wis nggugah anggonku tapa. Wis tak enten-entenana lakumu tekan kene. Wani temen, Cah Bagus, awakmu larung raga, sowan dhewekan ing sendang iki.”
(Anak tampan… aroma harum tubuhmu sudah membangunkanku dari pertapaku. Sudah aku tunggu-tunggu kehadiranmu sampai di sini. Berani sekali, Anak Tampan, kamu membuang ragamu, datang sendiri ke sendang ini.)
Pemuda itu—Eunho—merunduk dalam-dalam, keningnya menyentuh tanah di bawahnya yang lembab. Badan tegapnya tersujud, kedua tangannya tertangkup memohon, memberikan sembah dalam arti tertinggi yang mampu ia beri dengan tubuhnya yang bergetar hebat—penuh dengan ekstasi akan alunan suara yang sudah ia damba-dambakan kehadirannya sejak ia baru saja sempat menginjak usia perjakanya yang dirusak oleh mimpi basah bergairah bersama sosok bersurai merah muda panjang di depannya.
Menahan girang yang membuncah, Eunho menundukkan wajahnya makin dalam.
“Sembah sungkem kawula dhumateng Gusti Raden ingkang kawula tengga-tengga,” susulnya lirih, suaranya yang parau menahan emosi yang meluap-luap, sarat akan permohonan diri yang pasrah. “Sowan kawula mriki badhe ngaturaken janji kawula marang Gusti Raden, ugi ngaturaken raga tuwin sukma kawula, kagem panjenengan.”
(Sembah sujud saya haturkan kepada Gusti Raden yang saya tunggu-tunggu. Kedatangan saya kemari untuk menyerahkan janji saya kepada Gusti Raden, dan juga menyerahkan raga serta jiwa saya untuk Anda.)
Sosok samar kasat mata yang sudah berada tepat di ujung kepala Eunho kemudian menyeringai tipis. Jemari tangannya yang berkuku panjang hitam memaksa pemuda itu untuk terduduk, menengadahkan rautnya yang memohon akan belas kasih murahnya menghadap pada dirinya yang diam-diam puas akan tekad dan hasrat menggebu-gebu kelangenan hatinya yang sudah ia tunggu kehadirannya sejak wujudnya masih berupa nyawa lemah dan kecil.
“Cah bagus sing tak tresnani.” Wajahnya ia rendahkan, ranum dinginnya kemudian berada tepat di samping telinga sang pemuda. “Ampun kesusu. Awakmu ngerti ta, nyawiji karo aku ora ana bedhane karo pedhote gulumu saka alam donya? Awakmu mung bakal dadi abdi, dadi kelangenanku dhewe lan ora bakal isa bali maneh.”
(Anak tampan yang aku sayangi, tolong jangan terburu-buru. Kamu tahu kan, jadi satu denganku tidak ada bedanya seperti putusnya lehermu dari dunia? Kamu hanya akan jadi pelayanku, jadi mainan kesayanganku sendiri dan tidak akan bisa kembali lagi.)
Bisikannya tak ubahnya seperti bisikan iblis setan hina yang bersemayam dalam neraka, hendak berniat untuk memperingati namun hasilnya tak ada bedanya dengan rayuan seksi nan menggugah hati bagi siapapun yang mendengarnya.
Begitupun dengan pemuda malang yang sudah jatuh lebur di genggaman dedemit penjaga sendang Gunung Merapi itu. Alih-alih mundur, Eunho justru memiringkan wajahnya, mendayu manja pada lelembut sakti nan indah tak tertandingi, menempelkan sisi pipinya pada wajah sang lelembut dengan mesra. Matanya terpejam nikmat, mencicip sayang-sayang akan sentuhan beku sosok kesayangannya yang mati namun terasa lebih hidup dari apapun yang sempat ia rasakan di dunia manusia.
“Kawula sampun lila, Gusti Raden,” bisik sang pemuda, desahan lega nan hasrat memuncak yang tak sempat tertahan menyelip di sela-selanya. “Kawula mriki sanes dipeksa marang wong liya, Duh Gusti Raden ingkang sampun kawula ugemi wonten sajroning manah.”
(Saya sudah ikhlas, Gusti Raden. Saya kemari tidak dipaksa oleh siapapun, wahai Gusti Raden yang saya simpan erat-erat dalam hati.)
Dua tangannya yang sempat tertangkup memohon kini bergerak melingkupi jemari dingin nan pasi milik lelembut yang menggerayangi dagunya. Matanya, yang semakin berkilat memerah kala sinar rembulan mampir sekejap pada wajahnya, memohon dengan sepenuh hati, menitikkan air mata penuh dengan harapan yang tak kunjung datang wujudnya meskipun sudah di depan mata.
“Gusti Raden,” lirihnya lagi mendayu manja, mengijinkan dirinya sendiri untuk lancang menatap langsung netra magenta sang lelembut yang senantiasa menenggerkan tajam matanya pada dirinya. “Kawula saestu langkung milih pejah tinimbang kedah gesang tanpa sih asih panjenengan.”
(Gusti Raden, saya sungguh memilih mati daripada harus hidup tanpa rasa kasih sayang Anda.)
Barang hidupnya selama 25 tahun pun rela ia persembahkan bulat-bulat jika bayarannya adalah lambaian kasih sang lelembut yang sudi diberikannya pada kulit najis yang tak putus mendambakan dinginnya sensasi ekstasi yang ditimbulkan olehnya.
Eunho kepalang jatuh tersungkur, mati binasa di tangan lelembut penuh dengan asmara yang ia pilih sendiri sebagai tujuan hidupnya.
Tawa ringan, yang menggema dan menusuk akal sehat siapapun yang mendengarnya, keluar dari bibir sang lelembut dengan luwes, menertawai kelancangan mainan yang ia pilih untuk datang. Gaungannya, pekikan ganjil yang sempat terselip di sela-selanya, membuat seisi hutan dan sendang enggan untuk bergerak dan bersuara. Seolah dunia merestui hasrat bejat keduanya, bayangan kasat mata yang memperlihatkan seberapa cantiknya sosok berbalut jarik berhias emas di pinggangnya itu tampak semakin solid, tampak semakin jelas rengkuhannya pada Abdi kesayangan.
Sang lelembut terkekeh, jempolnya yang berkuku panjang dan berulir nadi hitam legam kemudian menggesek, mengusap bibir merah merona milik Si Abdi, kelangenan-nya. Sorot matanya sarat akan kepuasan, puas akan nafsu syahwat yang tak capai-capainya ia siram pada si Abdi di mimpi-mimpi basahnya, puas akan bejatnya niat mereka, puas akan penuhnya penyerahan diri yang pemuda itu sembahkan pada kepemilikannya.
“Duh cah bagus.” Jemarinya kemudian turun, mengusap nadi leher yang masih memompa begitu kencangnya, menopang bulir-bulir kehidupan mainan kesayangannya. “Yen ngono, bukaen seserahanmu. Coba tak sawang, sepiro ngganthenge pengantenku sak durunge tak gawa nang alamku.”
(Wahai anak tampan. Kalau begitu, bukalah seserahanmu. Coba aku lihat, seberapa tampannya pengantinku sebelum aku bawa ke alamku.)
Bisik-bisik lelembut itu sarat akan hawa nafsu, bejat bukan kepalang. Namun Eunho tak mengindahkan, malah ia semakin panas, semakin tak sabaran akan malam-malam yang kemudian bisa ia habiskan berdua bersama lelembut pengisi hati dan raga yang sudah ia tunggu selama ini.
Di bibir sendang yang riak airnya hitam legam itu, di bawah pengawasan Gunung Merapi yang senantiasa bijaksana itu, sang pemuda kemudian tersenyum tipis, mendesah. Tangannya yang berotot, bernadi kuat, perlahan melepas kancing beskap hitam beludrunya satu persatu, menanggalkan balutan pakaian dari tubuhnya yang kekar, bersiap merayakan malam pertama bersama lelembut sebelum ia mencapai keabadian bersamanya.
Malam-malamnya yang habis tak bersisa hanya ia lewati dengan bayang-bayang indah sang lelembut, memuaskan dirinya sendiri dengan sentuhan semu yang tidak melegakan dahaganya, dan mencapai puncak tak dahsyat tanpa dambaan hatinya, kini pupus sudah. Kekasih hatinya mengizinkan kelancangannya, memberikan penghargaan atas kesabarannya, membolehkan dirinya bersatu berpeluh syahwat dengan entitas suci nan indah itu malam ini.
Denting benik emas terakhir kemudian menitik, terdengar lirih namun terasa luar biasa keras menampar hati pemuda yang saat ini bertelanjang dada. Kulitnya yang seputih salju, pucat tak wajar, tersibak dari kain beludru hitam beskap miliknya yang mengurung sosok kekar berotot kuat yang kini menantang dinginnya kabut Gunung Merapi. Desiran angin dan hawa yang menggigit seharusnya menggerayangi pori-porinya, namun ia tidak bergeming. Darahnya justru memanas, berpacu liar tepat dibawah amatan bejat netra magenta yang menelanjangi setiap jengkal lekuk raganya.
Susah payah Eunho menahan desis penuh kenikmatan yang tak kunjung menemukan kebebasan dari pangkal lehernya.
Sang lelembut mematri netranya lekat-lekat pada dada sang pemuda yang terengah-engah, menyusurinya dengan jemari yang berkuku hitam panjang dan runcing lamat-lamat, menyentuh kulit hangat raga manis yang masih hidup di bawahnya, dan menyisakan sensasi dingin yang sangat candu—memabukkan tak ubahnya dengan secangkir tuak yang leluhur Eunho simpan apik-apik di dalam kendi.
Lentiknya jemari lelembut kemudian berhenti tepat di atas dada kiri Eunho, mengusapnya penuh sayang, dan menekan detak jantung sang pemuda yang berdegup liar. Ujung bibir lelembut itu kemudian tertarik cantik, terkekeh mengejek seberapa hidupnya mainan yang ia jaga dekat-dekat semenjak sukmanya lahir di dunia.
“Banter temen deg-deganing atimu, Cah bagus,” bisik lembut sosok itu. Alunannya merdu bukan kepalang; menghipnotis barang siapapun yang mendengar. “Ana apa, ngger? Kok atimu katon ora ayem. Apa iki merga wedi ro aku, dedemit, apa merga nepsumu sing lambah-lambah?”
(Cepat sekali degupan jantungmu, Anak Tampan. Ada apa, nak? Kok jantung kamu tidak tenang. Apakah karena kamu takut denganku, setan, atau karena nafsumu yang sudah meluap-luap?)
Senandung katanya yang parau tajam menghujam jasmani sang pemuda, merusak kewarasan yang sedari awal sudah bersisa kurang dari separuh. Pemuda itu kemudian menggeleng, mengabaikan ngilunya tusukan kuku runcing sang lelembut yang menembus kulitnya perlahan. Ia malah mengangkat tangannya, melingkupi telapak dingin sang lelembut dengan penuh asih yang bergetar tak sabar.
“Mboten, Gusti Raden. Kawula mboten ajrih kaliyan panjenengan.” Eunho menundukkan wajahnya, mengecup lengan sang lelembut dengan mesra, kemudian menatap sayu wajah lelembut yang tak jauh darinya. “Jantungipun kawula sansaya rikat namung amargi kawula kalangkung bingah, saestu sampun mboten sabar badhe nyawiji kaliyan panjenengan, pepujaning ati ingkang suci saha satuhu kula tresnani.” Tatapannya semakin mabuk, semakin mendamba, semakin membara. Dadanya yang tertusuk bukannya menjadi jinak malah semakin menguat degupannya seolah seluruh tubuhnya tak kuasa menahan dahaga akan belaian kasih sayang lelembut.
(Tidak, Gusti Raden. Saya tidak takut pada Anda. Jantung saya semakin cepat hanya karena saya terlalu bahagia, benar-benar sudah tidak sabar ingin menyatu dengan Anda, pujaan hati saya yang suci dan yang sangat saya sayangi.)
Sang lelembut menyeringai, bahagia akan penyerahan mutlak yang pemuda itu sembahkan padanya. Amis darah yang merembes dari jemarinya yang tertancap dalam membuat netra magenta lelembut semakin menyala, hasrat posesif yang sudah sejak awal tertanam dalam jiwanya menyeruak tak terkendali. Tangannya terangkat, beralih bergerak cepat mencengkram tengkuk sang pemuda malang yang tak sadar-sadarnya ia dimanipulasi oleh sosok purba penunggu sendang Gunung Merapi, menarik wajah sang pemuda mendekat padanya. Bibir dingin lelembut menyentil lembut bibir sang pemuda seringan kupu-kupu, menyebabkan erangan tertahan menyelip diam, tak kuasa sang pemuda tahan.
Samar-samar, indera penciuman sang pemuda mengecap aroma dupa yang basah dan melati yang membuat batinnya semakin buyar, semakin mabuk. Basah getih yang mengalir di dadanya malah membuatnya gemetar. Nafasnya semakin terengah-engah, enggan untuk menyia-nyiakan barang sedetikpun lebih lama dari aroma wewangian lelembut yang dermawan—murah hati membagikan kenikmatan bagian dirinya untuk raga najis tak berharga yang sayangnya masih bernyawa.
Sang lelembut kemudian mendesis, sama-sama menemukan kenikmatan dari hangatnya bibir sang pemuda. Tangannya yang mencengkram tengkuk pemuda semakin mengerat, tak mengindahkan napas sang pemuda yang tinggal menjadi satu-satu. “Cah bagus. Nyawijining ragamu marang aku dadi mantra sing naleni sukmamu saklawase, ora bakal tak culke nganti kiamating jaman.” Lidah lelembut kemudian membelai bibir ranum sang pemuda, menjilat nikmat darah hangat yang sempat menitik di ujungnya.
(Anak Tampan. Menyatunya ragamu denganku menjadi mantra yang mengikat jiwamu selamanya, tidak akan aku lepaskan hingga kiamatnya zaman.)
“Getihmu.” Tangan lelembut itu menjalar ke dada Eunho dengan lembut, menekan tepat di atas jantungnya.
“Balungmu.” Usapan itu bergerak naik, mengusap otot leher Eunho yang mengencang cantik.
“Eluhmu.” Jemarinya kemudian mengelus bibir Eunho dengan dinginnya yang menyertai kental, seringaian lelembut berwajah pucat itu melebar, menjilati bibir bawahnya dengan raut wajah tak senonoh yang mematikan. “Kabeh,” lanjutnya, “Kabeh dadi nggone aku, yo, cah bagus.”
(Darahmu, tulangmu, dan air matamu. Semuanya, semuanya jadi milikku, ya, anak tampan.)
“Inggih, Gusti Raden. Inggih,” jawab Eunho cepat-cepat, tangannya menumpuk pada pergelangan pucat pasi yang masih bertengger di atas bibirnya, kemudian mengulas senyum tipis sarat akan hasrat tak terbendung dan gelenyar nafsu yang tak tertahan. “Sedaya-dayaning kawula, sampun kagem panjengan sedaya.”
(Baik, Tuan Raden. Seluruhnya saya sudah menjadi milikmu segalanya.)
Kenikmatan ujung jurang yang pemuda itu rasakan membuatnya mengerang lepas. Cengkraman kuat pada tengkuknya sedari tadi membuatnya melayang pada batas antara hidup-tak hidup tak ayal membuatnya semakin menggila. Ditambah dengan belaian pada bibirnya yang semakin membiru, pemuda itu tak tahan untuk mendongak. Otot rahangnya mengetat, menajam kuat, membuat netra magenta lelembut semakin menggelap.
Bibir beku sang lelembut kemudian kembali mendekat pada wajah penuh dambaan yang bernafsu bejat bukan kepalang sang pemuda, lalu mengecup bongkahan membiru hangat milik mainannya dengan nafsu yang tak kalah purba dan buas. Napas jarang-jarang mainannya ia telan habis-habis, membiarkan kelangenan gagah perkasa yang tak pernah lelah menelanjangi dan menguasai raga fana sang lelembut yang sengaja ia layangkan tiap malam jumat di mimpi basah sang pemuda kini berusaha untuk melegakan dahaga birahinya dengan lancang.
Sang lelembut semakin bingah, semakin puas akan benih yang ia tanam kini tumbuh dan mekar memenuhi kodrat syahwat iblisnya yang tak pernah terpuaskan.
Lekuk dadanya yang bidang.
Sosok mengayominya yang kekar.
Manis peluh darahnya.
Sang lelembut tak tahan bergetar di bawah pagutan sang pemuda yang menggelegak basah di ranumnya.
Membiarkan tangan sang pemuda yang sudah di awang hidup-tak hidup melingkari pinggang rampingnya, sang lelembut kemudian beranjak dari posisinya yang bersimpuh bersamaan dengan sang pemuda lancang yang masih mabuk akan kenikmatan, menarik melangkah bersamanya menapak kembali pada riak sendang yang samar-samar berkecipak riang.
Setengah badan bagian bawah sang pemuda yang masih terbalut jarik parang kusumo kemudian ikut melangkah bersama sang lelembut layaknya anjing yang cucuknya dimabukkan oleh kekuasaan sang majikan. Matanya yang semakin kosong tak menyadari bahwa saat ini ia melayang, menapak permukaan air sendang yang segelap tinta malam itu bersamaan dengan sang lelembut. Seolah seperti digiring, kabut putih Gunung Merapi kemudian mengelilingi dua sosok yang semakin tenggelam dan semakin samar di tengah sendang. Kilatan merah darah magis berkelebat sekali dua kali, menemani sejoli beda alam yang akhirnya menunaikan ritual pengikat sukma selamanya.
Sang lelembut kemudian membalas rengkuhan sang pemuda, melingkarkan kedua tangannya pada leher kekar sang pemuda dengan penuh rayuan iblis yang sensual dan menggoda. Bibirnya yang terlumat kebas tersungging puas menatap iris mata sang pemuda menjadi memerah darah dan menyala. Melepas sekilas pagutan liar antar keduanya, sang lelembut yang sosok semampainya setinggi hidung mbangir sang pemuda kemudian berbisik pelan di telinga pucat pasi sang pemuda.
“Ayo, cah bagus. Nyawiji karo aku. Tak duduhi swarga kanikmatan sing ora bakal isoh awakmu rasakno dening alam donya.”
(Ayo, anak tampan. Menyatu denganku. Akan aku tunjukkan surga kenikmatan yang tidak akan bisa tubuhmu rasakan di alam dunia.)
Sang pemuda mendesah, menggeram panjang. Tubuhnya kini seolah sangkar yang menghalanginya bebas untuk melanglang buana. Gelisah tak karuan, keras kepala berusaha menempel dan menyatu akan sosok lelembut pujaan hati yang ada di dekapan kokohnya.
“G-gusti Raden…”
Sang lelembut tersenyum puas, menarik tengkuk yang ia peluk erat mendekat kembali padanya. “Dalem, sayang?”
Sejoli yang berupaya putus asa akan sukma masing-masing semakin tenggelam di dalam sendang yang hitam pekat, menelan keduanya habis-habis semakin dalam malam jumat kliwon terlewat, meninggalkan sepi yang kembali berkuasa di puncak Gunung Merapi, menyisakan kepulan asap kemenyan wangi yang perlahan mati ditiup desiran angin.
Sendang itu merayakan tuan baru yang menemani raga purba sakti mandraguna yang dielu-elukan paras eloknya kesayangan alam ghaib seantero nusantara.
