Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-07
Words:
895
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
5
Bookmarks:
2
Hits:
37

i wonder

Summary:

Soal Seungmin yang jatuh cinta (tapi nggak) seperti di film-film.

Work Text:

“Kali ini kenapa lagi?” Jeongin menoleh, melemparkan pandangan ke Seungmin yang bersedekap di pintu masuk.

Dengan penampilan super kacauㅡmata sembab dan hidung yang berairㅡ ditemani lagu Loud kepunyaan Olivia Dean yang diputar acak dari playlist, Jeongin berseru sengit, “Enggak tau. Pokoknya semua cowok sama aja!” Lalu kembali menjatuhkan wajahnya di atas bantal.

Seungmin ketawa, agak miris. Bersikap muluk-muluk dengan ngebayangin adegan klise dalam film ketika seharusnya di momen kayak gini, si pemeran utama laki-laki yang dari awal cuma dipandang sebelah mata bakal beranjak buat menghampiri si perempuan malang. Memberinya pelukan, dilanjut dengan keduanya menyadari kalau mereka ternyata belahan jiwa masing-masing, lalu diakhiri dengan adegan ciuman yang nggak rasional.

“Emangnya gue kurang cantik apa sih?! Kalau mau selingkuh tuh pinteran dikit gitu loh, jangan malah sama temen gue!”

Sialnya, perempuan malang yang harus Seungmin hadapi di kisah ini modelannya kayak Jeongin. Orang yang paling anti sama hal-hal berbau romansa tapi selalu pengen punya pacar dan berakhir dengan diselingkuhin karena nggak pernah menuhin standar “perempuan lembut dan mudai terbuai” yang tercipta di luar sana.

Seungmin menguntai langkah mendekati Jeongin, berlutut di samping sofa dan berhadapan langsung dengan wajah-setengah-tenggelam-di bantalnya yang udah mirip tomat siap panen. Merah merona. Bikin Seungmin pengen gigit salah satunya.

“Lo kurangnya apa? Kurang ajar sih menurut gue," kata Seungmin bercanda. Tapi, Jeongin nanggepinnya serius banget sampai harus nonjok bahu Seungmin sebelum jawab, “Ish, lo tuh!”

Setelahnya, dengan sangat nggak anggun, Jeongin menarik ujung lengan jaket kulit barunya buat mengelap sisa ingus karena tisunya habis. Walaupun dalam hati Seungmin udah misuh-misuh karena jaket itu baru keluar dari laundry tadi pagi, tubuhnya justru merespons sebaliknya dengan mengelus rambutnya yang lagi-lagi dipotong pendek. Kebiasaannya setiap putus cinta yang selalu bikin Seungmin takjub karena ia tahu Jeongin susah payah ngerawatnya.

Lo mah enggak ngerti. Ini tuh buat buang sial,” katanya, dulu banget. Waktu itu dia tiba-tiba ngajak main dan bikin Seungmin kaget karena datang dengan rambut sebahu padahal dua hari sebelumnya masih koar-koar kalau mantannya suka rambutnya panjang.

“Seungmin..” Jeongin tahu-tahu menaruh dagunya di pundak Seungmin, kedua lengannya melingkari leher Seungmin agak longgar. Dari jarak sedekat ini, Seungmin bisa merasakan hangat napasnya.

Seungmin menyahut seadanya, “Hm?”

“Menurut lo, gue gimana?”

“Maksudnya?”

“Cantik kah? Seksi kah? Imut kah? Menurut lo, gue gimana?” Sempurna! Kata yang selama ini hanya sampai di tenggorokan Seungmin rasanya meronta-ronta. Tapi, Seungmin lagi-lagi menahan diri.

“Hmm, gimana ya? Lo tuh jelek, ingusan pula.”

“Brengsek!”

Setelahnya nggak satu pun dari mereka yang bersuara. Masih dengan posisi paling nggak nyaman karena Jeongin harus mencondongkan tubuhnya untuk memeluk Seungmin yang posisinya lebih rendah, Seungmin membiarkannya menikmati lantunan lagu I Wonder kepunyaan Shawn Mendes yang berbunyi nyaring dari speaker.

Dari ngelusin rambut, sekarang tangan Seungmin beralih nepuk-nepuk punggungnya yang kecil. Karena Jeongin nggak kelihatan bakal beranjak, akhirnya Seungmin ikut bersenandung. Seungmin malah mikir dia ketiduran, jadi Seungmin terobos terus.

I wonder, why I'm so afraid of saying something wrong, I never said I was a saint. I wonder, when I cry into my hands I'm conditioned to feel like it makes me less of a man.“

Seungmin yang ngasih tahu dia soal lagu itu minggu lalu. Naksir Jeongin yang makan waktu hampir setengah hidupnya, bikin Seungmin akhirnya iseng-iseng pengen ngecek dengan ngirim lagu itu. Penasaran apa selama ini Jeongin cuma pura-pura nggak tahu bahkan setelah Seungmin nentang dia buat ketemu sama laki-laki lain yang nggak pernah jelas asal-usulnya, padahal selama ini ada Seungmin yang selalu nunggu dia buat noleh ke sampingnya.

Sialnya, kayak kata mas-mas iklan minuman karbonasi rasa lemon yang bilang kalau realita nggak seindah drama Korea, Seungmin cuma nerima balesan: Lagunya bagus. Makasih ya, Seungmin! Lalu, selesai. Tapi, seakan hidup dengan terjebak di lingkaran setan, Seungmin nggak bisa lepas darinya. Jeongin akan ketemu sama laki-laki lain; Seungmin akan marah-marah tapi tetep bilang, “Semoga langgeng,” pas mereka jadian; tapi setelah itu justru berakhir peluk-pelukkan lagi kayak gini kalau mereka akhirnya putus.

And I wonder if some day you'll be by my side. And tell me that the world will end up alright. I wonder... I wonder...“

Pas mulai deket reff Jeongin seakan mau narik diri karena ngerasa nggak nyaman. Dia hafal banget Seungmin nggak suka nyanyi di depan orang lain. Dan seperti dugaan Seungmin, dia emang tahu. Soal perasaan Seungmin dan antek-anteknya. Tapi dia aja yang emang jago banget pura-pura. Akhirnya Seungmin cuma bisa nahan dengan balik meluk dia, berharap Jeongin nggak pergi. Dan Jeongin nurut, terus Seungmin lanjut nyanyi lagi.

Waktu hampir sampai di penghujung lagu, Seungmin ngelepas pelukannya. Sambil natap Jeongin tepat di mata, Seungmin melantunkan bait terakhir dari lagunya. Jeongin emang nggak berkutik sama sekali, tapi Seungmin diam-diam berharap kalau dia bisa kooperatif kayak perempuan malang di film-film klise yang akhirnya sadar dan menjadikan Seungmin sebagai salah satu pemeran utama di hidupnya kayak yang udah-udah.

Fall in love with your best friend, they said.

“Right before I close my eyes. The only thing that's on my mind.“

It'll be fun, they said.

“Been dreaming that you feel it too. I wonder what it's like to be loved by you..“

Tapi, nyata, setelah lagu selesai, yang Seungmin dapat cuma Jeongin yang mengusap sisa-sisa air matanya kasar terus bilang, “Gue laper, pengen mie ayam.” Seakan yang Seungmin lakuin barusan nggak berarti apa-apa, dan berhasil mengundang tawa miris nggak tahu untuk yang ke berapa kalinya selama 13 tahun terakhir. Kembali menyadarkan Seungmin kalau dirinya nggak akan pernah jadi lebih dari seorang teman.

Emang bener-bener deh ini orang!