Actions

Work Header

I'm Gravitating Towards You

Summary:

Sama seperti kalimat yang pernah Jiseok ucapkan terdahulu, ‘if jungsu is the universe, then i might be a star in his night sky’, pergerakan Jiseok kali ini benar-benar menggambarkan kalimat yang secara tidak langsung terngiang di kepala Jungsu. Hatinya menghangat, bak sinar mentari pagi yang membawa sebuah harapan akan hari yang baru. Terbang bebas pula jiwanya, ikut menari di udara bersama semilir angin. Meskipun tak seratus persen sama seperti ungkapan tersebut, ia mengitari Jungsu bak ia adalah sebuah planet yang senantiasa mengitari matahari. Seperti bumi yang selalu mengitari matahari, pun dengan bulan yang selalu mengitari bumi karena gaya gravitasi, Jiseok pun demikian.

Notes:

sudah di post di twitter dengan judul yang sama :]

Work Text:

“Lucu banget sih,” Jungsu berkata sembari menurunkan kedua lengannya dari atas kepala, kedua lengan yang awalnya memegang kamera ponsel yang sengaja dihadapkan ke bawah — sehingga merekam Jungsu melalui puncak kepalanya —kini beralih mengelus puncak kepala Jiseok di depannya. Ponselnya telah berpindah tempat di tangannya yang bebas seraya berkata, “Udahan dong, gemesnya. I feel like I’m walking a puppy,”

You’re one to talk.” Jiseok menyikut pinggang Jungsu dengan sengaja, lidahnya terjulur sembari bibirnya berkata ‘wlee’.

Sebuah senyum kecil terpatri ketika ia mendapati Jungsu hanya terkekeh ketika meresponnya. Jiseok tak ambil pusing, ia sudah cukup bersemangat ketika diminta menemani Jungsu untuk mengitari salah satu taman yang cukup terkenal di Paris. Secara tidak langsung mengisi baterai sosialnya yang butuh diisi setelah perjalanan panjang nan melelahkan. Beanie hitam yang telah menjadi sahabat karibnya masih senantiasa melingkari kepalanya, menjaga rambut yang kini sengaja diwarnai dengan dua tone warna yang sedikit berbeda ketika angin Paris kala itu berhamburan menyapu tubuhnya.

Mereka berdua berjalan santai setelahnya, membiarkan hangat panas matahari — yang suhunya masih bersahabat dengan keduanya — memayungi tiap langkah kaki mereka. Semilir angin dengan lihai menari di sisi tubuh mereka, membersamai simfoni indah yang tercipta dari tawa yang menguar di antara keduanya tiap kali Jungsu ataupun Jiseok melemparkan candaan terkait video singkat barusan.

Well, meskipun lebih banyak Jiseok yang mencibir Jungsu karena terus menerus mengasosiasikan dirinya dengan seekor anjing maltese putih.

Tapi, Jungsu tidak sepenuhnya salah, ‘kan?

Keduanya tengah menatap video singkat yang mereka ambil beberapa saat yang lalu sembari berjalan santai menikmati pemandangan yang disuguhkan dengan begitu indah oleh kota yang disebut, City of Love. Video yang diambil tanpa planning yang jelas hanya karena Jungsu menyukai suasana di sekitar taman yang mereka kunjungi, terlebih di sana ada Jiseok yang mengikutinya bak seekor anak anjing. Matanya berkelip bak ribuan bintang tengah menari di sana tiap kali ia merasa excited akan sesuatu yang ia temui. Jungsu merasa gemas hingga ia tak bisa untuk tidak mengabadikan momen ini dalam sebuah video singkat. Jungsu sesekali tertawa dan kewalahan menahan gemas tiap kali wajah Jiseok muncul di layar, terutama ketika ia berjinjit untuk sekedar memastikan figurnya benar-benar terekam kamera.

Ah, jantung Jungsu rasanya mau copot.

Gerakan simple itu cukup membuat Jungsu menahan napasnya tiap kali wajah mereka berdekatan. Hey, bukan salah Jungsu jika ia merespon seperti demikian — in Jungsu’s offense, hal tersebut wajar karena Jungsu tak mampu menyembunyikan heart-fluttering festivities yang mana membuat jantungnya berdegup kencang hingga ia tanpa sadar menahan napasnya.

Jiseok menarik lengan Jungsu ketika menyadari lelaki itu kembali menekan tombol lingkaran merah di ponselnya, “Video yang tadi jelek ah, Kak. Take ulang yuk?”

“Ngapain take ulang? Udah lucu gitu.” Jungsu menatapnya dengan raut wajah bingung, ia membiarkan Jiseok secara tidak langsung menggenggam lengannya. “Kamu lari-lari sana deh, aku videoin. Sounds good?

“Emangnya aku anak anjing apa?” Jiseok merengut, sebuah lipatan tercipta dengan natural di dahinya ketika mendengar kalimat Jungsu. “Gak mau ah, males. Maunya take ulang kok, malah disuruh lari.”

Jungsu terkekeh, melarikan tangan kanannya yang bebas untuk mencubit pipi Jiseok. “Mayah-mayah mulu, dedek.”

“Gue gibeng ya lu.”

Jungsu tertawa, namun ia tak dapat mengalihkan pandangannya dari semburat merah merona yang muncul di kedua pipi Jiseok. Ia selalu menyukai bagaimana pipi gembul itu terlihat kemerahan tiap kali Jungsu berhasil menggodanya dengan ucapan jayusnya yang terkadang membuat Jiseok hanya mampu menggelengkan kepalanya. Ah, kekasih mungilnya itu terlihat ratusan kali lebih menggemaskan jika pipinya berubah menjadi semerah tomat.

Jungsu membiarkan Jiseok menahan tangannya, sebelum akhirnya menarik tangannya yang sebelumnya berada di pipi Jiseok hingga berakhir singgah dengan nyaman di genggaman Jiseok. Sentuhan yang terjadi antara kedua telapak tangan itu menghantarkan hangat yang langsung melingkupi jiwa dua insan yang sedang dimabuk asmara itu.

“Yaudah, ayo take ulang. Mau kaya tadi apa gantian?” Ia mempersiapkan kembali kamera ponselnya untuk merekam ulang adegan seperti yang Jiseok inginkan.

“Kaya tadi aja.”

On it, capt.” Jungsu menaikkan kedua lengannya, begitu pula dengan kamera ponsel yang kini siap merekam keduanya tepat di atas kepalanya. Ia menunduk, menampilkan senyum kecil kebanggaannya seraya berkata, “We’re set, love,”

Tepat ketika Jungsu menyelesaikan kalimatnya, ibu jarinya sontak menekan tombol lingkaran merah di ponselnya. Layar ponselnya menampilkan puncak kepala Jungsu yang memberikan ilusi bahwa ia adalah sebuah titik yang bergerak di dimensi ini. Disusul oleh Jiseok yang kemudian berjalan mengitari Jungsu, seakan ia adalah satu-satunya hal paling berharga di universe yang sedang mereka jejaki.

Sama seperti kalimat yang pernah ia ucapkan terdahulu, ‘if jungsu is the universe, then i might be a star in his night sky’, pergerakan Jiseok kali ini benar-benar menggambarkan kalimat yang secara tidak langsung terngiang di kepala Jungsu. Hatinya menghangat, bak sinar mentari pagi yang membawa sebuah harapan akan hari yang baru. Terbang bebas pula jiwanya, ikut menari di udara bersama semilir angin. Meskipun tak seratus persen sama seperti ungkapan tersebut, ia mengitari Jungsu bak ia adalah sebuah planet yang senantiasa mengitari matahari. Seperti bumi yang selalu mengitari matahari, pun dengan bulan yang selalu mengitari bumi karena gaya gravitasi, Jiseok pun demikian.

Jungsu akan selalu menariknya dalam orbit khayal yang terbentang di antara keduanya. Jungsu akan memerangkap dirinya di sana, menghalau Jiseok untuk pergi ke arah manapun dan hanya tertuju pada Jungsu. Menjadikannya satu-satunya alam semesta yang hidup dan kekal, bagi Jiseok.

Maka dari itu, tepat ketika Jiseok mengitari Jungsu untuk ketiga kalinya dan Jungsu menekan tombol merah untuk mematikan rekaman di kamera tersebut, Jiseok berdiri tepat di hadapannya. Ia berjinjit seraya memajukan tubuhnya dan memberikan kecupan singkat di bibir Jungsu. Ciuman yang terlampau singkat namun membuat Jungsu membeku dalam posisinya.

Berbeda dengan Jiseok yang hanya menampilkan cengiran bodohnya setelah ia mencuri kecupan singkat tersebut lalu berlalu dari hadapan Jungsu secepat kilat.

Jungsu termenung, matanya berkedip beberapa kali sebelum ia tanpa sadar melarikan tangannya untuk menyapukan ujung jemarinya ke bibirnya. Merasakan kembali euforia yang membuatnya ecstatic — terlampau bahagia hingga ia merasa tubuhnya melayang, menjejaki kembali saccharine yang terasa begitu nyata di bibirnya. Maniknya senantiasa menatap figur Jiseok yang kini berada di depannya, ia berjalan mundur dari tempatnya sekarang namun tubuhnya senantiasa menghadap ke arah Jungsu, tak lupa ditemani dengan senyuman singkat yang semakin mengejek Jungsu.

Jiseok melambaikan tangannya dari jarak tidak terlalu jauh, senyuman manisnya tak pernah lelah menghiasi wajahnya yang terlihat semakin bercahaya karena terkena pancaran sinar matahari di atasnya. Ia berhenti sejenak lalu berucap, “On earth, Kim Jungsu!”

Ah, sial. Gemas sekali.