Work Text:
Yukie pertama kali ketemu the love of her life di acara recital ukm paduan suara. Awalnya dia datang buat orang lainㅡMiwa, seniornya waktu SMA. Akan tetapi buket bunga yang dibelinya itu berakhir di pelukan Inumaki Toge.
Dari sana keduanya mulai dekat, merasakan banyak kecocokan dan sepakat buat melabeli hubungan mereka sebagai kekasih.
Banyak perubahan yang dibawa laki laki dengan rambut platinum blonde ini dalam kehidupan Yukie. Selain jadi sering nongkrong di perpustakaanㅡkarena spot yang paling dekat dari gedung fakultas masing masing adalah perpustakaan, dan keduanya kurang suka tempat yang terlalu bising dan penuh sama khalayak ramai dan asap rokok, Yukie jadi lebih kenal sama daerah sekitar kostannya.
Pujasera yang nyediain bingsu, ice cream goreng dan cappucino cingcau. Ada cafe tersembunyi yang enak buat dijadikan tempat nugas, karena space yang luas teebagi jadi indoor dan outdoor, jendela yang sangat memungkinkan cahaya masuk sehingga enggak sumuk dan suram. Dan yang paling utama adalah, wifinya 5G.
Tapi dampak yang paling vital adalah Inumaki yang rajin buat ajak Yukie lari.
Ya lari. Bukan sekedar jalan kaki atau bahkan jalan santai. Belum sampai ke tahap donwload STRAVA dan pamer mapsnya lalu dijadiin video buka kulkas alfamart sih, cuman hal itu bukan alasan Yukie menolak ajakan olahraga lari sama Inumaki.
“Kakak, orang orang pada jalan sambil jajan tau kalo CFD an.” keluh Yukie, matanya jelalatan ke deretan gerobak jajanan yang mulai dikelilingi pembeli.
Inumaki melirik sebentar lalu terkekeh, “dikit lagi nih. Habis itu kita jajan makanan deh. Kamu lagi pengen apa Kie?”
Yukie mencebik, masih mempertahankan jaraknya antara Inumaki supaya enggak terlalu berjauhan. “bingsu.”
Tanpa mengomentari atau menceramahi kalau makan yang dingin itu enggak baik, apalagi setelah lari, Inumaki langsung mengiyakan. “Okay.”
Inumaki tinggal sendiri di kota ini. Yukie belum pernah dengar secara mendalam soal keluarga kekasihnya. Setiap kali perempuan dengan rambut ash grey itu menceritakan soal orangtuanya yang masih lovey dovey atau keluarga kakaknya yang mirip sitkom tetangga masa gitu, Inumaki cuma memperhatikan. Enggak mengungkit kejadian versi keluarganya sama sekali, waktu ditanya apa dia risih dengan cerita cerita dari keluarga Yukie, lelaki itu menggelengkan kepala. Enggak sama sekali, katanya. Aku mau denger lebih banyak soal keluarga kamu.
Melalui informannya, Kak Maki, barulah Yukie paham kalau Inumaki diusir dari rumah sejak bangku tahun pertama SMA. Beasiswa demi beasiswa ia loncati bagaikan katak melompati teratai, bersamaan dengan uang saku yang masuk ke dalam kantungnya. Sejak SMA juga Inumaki sudah mulai bekerja paruh waktu, jadi tutor privat panggilan, joki tugas, jadi waiter di cafe. Sempat juga gelar lapak di CFD pada awal awal perkuliahan bareng bareng komunitas bakery dan pastry.
Untuk saat ini, selain membantu penelitian dosen, Inumaki Toge menikmati akhir-akhir masa jabatannya sebagai ketua ukm paduan suara. Rencananya setelah lpj nanti, mungkin ia akan mulai mencari tempat magang atau kalau ia cukup beruntung ia akan melamar pekerjaan dengan CV mentereng yang sudah mencakupi banyak bidang pekerjaan.
“Nih Bingsyuuuu.”
“Ahahahah, thank yuuuuu.” Yukie menyambut dengan girang seporsi bingsu dari tangan kekasihnya. “Kakak.”
“Hm?”
“Main ke rumahku yuk, main main biasa aja. Mama mau ketemu katanya.”
“Jadi agendanya main biasa atau ketemu orangtua kamu?”
“Hmm judul betulannya sih mau rayain ulang tahun kakak. Mau kan? Please bilang iya.”
“Aku enggak biasa rayain rayain ultah gitu. Negara Indonesia kali ulang tahunnya sampai dirayain.”
“Belum pernah sama sekali?”
“Iya.”
“Pernahin please, aku udah bilang Mama kalau kakak mau. Dan Mama udah excited mau baking kue buat kakak. Ya? Ya?”
Dan ya, singkat cerita disinilah Inumaki Toge, duduk di ruangan yang disebut ruang makan. Disampingnya ada Kiraran Yukie, kekasihnya yang tampil beda dari hari hari biasa. Rambutnya dicatok curly, mengenakan milk dress dan knit cardigan bertengger menutupi kulit lengannya. Wajahnya berseri seri sejak mereka masuk ke dalam rumah.
Di hadapannya ada orangtua Yukie yang menyambutnya ramah dari awal langkah pertamanya di dalam bangunan 2 lantai ini. Mama Yukie memotongi buah pear, sedangkan Ayah Yukie mengajaknya bicara soal orkestra. Ayah Yukie bukan bagian dari industri musik, apalagi penggemar orkestra. Lalu apa yang keduanya bicarakan?
“Ternyata lagu dangdut kayak Seperti Mati Lampu juga bisa dijadiin orkestra ya? Kemarin lihat di youtube ada kolaborasi Erwin Gutawa sama King Nassar.”
“Oh, itu ya. Bisa Om, waktu recital ukm….”
Impresinya, orangtua Yukie benar benar otang yang ramah. Entah karena mereka tahu soal keluarganya, entah supaya ia memperlakukan putri mereka dengan baik. Entahlah. Yang terpenting, saat ini Inumaki bahagia sekali.
Kalau ada kaleidoskop yang memuat moment 7 menit yang paling membahagiakan dalam hidupnya, maka hari ini termasuk ke dalamnya.
Tapi janganlah kita bicara soal kematian pada hari ulang tahun. Saat ini, Inumaki mau berfokus pada nyanyian selamat ulang tahun dan menyantap bersama kue yang dibuat oleh Mama Yukie.
***
“Kakak, stop wearing my glasses. It’s bad for your eyesight. Nanti ikutan rusak matanya.”
“Isn’t it bad for your heartbeat too?”
Malas deh kalau dia lagi sadar kalau dirinya ganteng.
“Ya, itu juga termasuk. Lepas deh.” Yukie mengangkat batang kacamata dari atas telinga kekasihnya. “Jangan senyum senyum gak jelas deh.”
***
Sejujurnya, Yukie enggak tahu kalau ajakan lari pagi Inumaki bakal bermanfaat disaat seperti ini. Dirinya baru beres kelas 4 SKS, dan bakal dilanjut 2 SKS menjelang sore. Langkahnya yang gontai menuju kantin tiba tiba terhenti waktu lihat laki laki yang ia kenal betul sebagai kekasihnya dikelilingi 2 orang berpakaian formalㅡbukan mahasiswa dilihat dari postur tubuh dan kacamata hitam.
Berbekalkan nekad, Yukie menerobos dari celah belakang, menarik tangan Inumaki dan berlari secepat mungkin. Entah kemana, yang penting mereka berjauhan dari 2 orang tegap berpakaian formal itu.
Mirip adegan dari drama drama korea, kurang sounstrack upbeat dan adegan saling tatapnya. Karena yang saat ini terjadi adalah Inumaki yang setengah teriak mempertanyakan eksistensi dan latar belakang kenekatan Yukie.
“Aku gak denger! Lari dulu ajaaa!”
Mereka masuk ke dalam cafe, langsung jalan bebek menuju booth foto. Tirai ditutup dan nafas keduanya tersengal sengal.
“Yang tadi hhh siapa Kak?”
“Hah?”
“Aku capek, haah, tadi yang pake pake jas hitam itu siapa? Enggak mungkin debtcoll kan?”
“Heh ngomongnya.”
“Terus…siapa?” tanyanya mencucu buat ketiga kalinya.
“Orang. Pokoknya kenalan aku.”
“Tapi kenapa kita dikejar?”
“Ya, soalnya mereka enggak tahu kamu siapa, Kie.”
“Jadi bukan karena Kakak diincer?”
Inumaki menggeleng, “kamu doang yang diincer.”
Ya Tuhan...
“Enggak apa apa juga sih, keliatan kan kalau sesi lari pagi kita bermanfaat kan? Makasih banyak ya, kebetulan aku lagi malas ngobrol sama mereka. Untungnya ada kamu, Kie.”
Manik violetnya terpaku pada layar mesin foto. Pantulan keduanya yang berdiri bersebrangan dengan pipi memerah, rambut yang sudah tidak karuan bentuknya, dan napas yang masih terengah-engah.
“Karena udah terlanjur di sini, sekalian foto yuk?”
***
Kiraran Yukie memang keliatannya jatang bete, mau baru bangun sekalipun atau karena kelasnya dibatalkan dosen. Bahkan setiap kali Inumaki mendekatkan alarm ponselnya yang berbunyi nyaring ke telinganya, Yukie cuman bakal bangun atau mengibaskan tangannya ke lengan kekasihnya karena bunyi super nyaringnya itu.
Pengecualian buat hari ini. Keduanya udah berencana buat sewa sepeda di taman kota. Siapa yang sangka kalau mereka bakal ketemu content creator tiktok. Singkat cerita, mereka diajak bikin konten, nah yang bikin Yukie bete adalah dia dikira adik dari Inumaki Toge.
“Eh gak boleh tau bete lama lama. Aku mau pulang nih.” Inumaki bersandar ke kusen pintu kostan, sedangkan Yukie melepas sling bagnya di atas meja.
“Ya udah pulang aja. Besok aku ada kelas pagi juga.” nadanya jelas masih bete, dan sama sekali enggak berusaha membuat kontak mata.
“Tapi masa masih marahan sih, kan kita enggak membiasakan masih berantem jelang malem, Kie.”
Inumaki duduk di kursi, menunggu Yukie buat jalan ke hadapannya. Air muka kekasihnya itu cemberut, bibir ditekuk dengan tatapan mata yang sama sekali enggan mengakui kehadirannya. Langkah kakinya enggak terlalu diperhatikan, sehingga Yukie enggak menyadari kalau kaki Inumaki udah terjulur di hadapan langkah selanjutnya, membuat Yukie tersandung dan dalam waktu sepersekian detik yang singkat, dia udah terduduk di atas pangkuan Inumaki.
Sengaja banget sih? batin Yukie.
“Lagian apa yang salah deh? Kamu juga kan suka panggil aku Kakak?”
“Ish, Kak-” Yukie menutup mulutnya, alih alih menyelesaikan katanya. “But that’s not make me your sibling instantly!”
Hening diantara keduanya, Yukie menendang pintu kostannya dengan ujung ujung jemari kakinya sekuat tenaga. “Kakak, dont look at me with that eyes….”
“What’s eyes, sayang?”
“Ugh, don’t sayang me in that voice too,” ia memalingkan kepala, matanya berusaha terpaku pada akuarium mini yang kosong.
Sementara Inumaki cuman terkekeh, he’s so sure of what he’s doing right now.
“Jadi akuariumnya lebih menarik ceritanya?”
“Mm, iyaa.”
“Kie, I can even hear your heartbeat right now.”
Dagunya dijawil, kemudian manik mata keduanya bertemu. Air muka cemberut Yukie tergantikan dengan pipinya yang merah dan matanya yang hampir membelalak.
“Apaa sih Kak?”
“Should’ve you say something right now?”
“Hmm?”
“Kita enggak membiasakan buat berantem jelang bobo, kan?”
Yukie mengangguk.
“Jadi? Masih bete?”
“Kalau aku bilang iya, gimana?”
“Well, aku ada banyak cara supaya betenya hilang.”
“Apaan sih ngomongnya.” Kepalan tangan Yukie bertumbuk pelan dengan permukaan kemeja Inumaki.
Alih alih membalas, lelaki itu menyamankan posisi duduk Yukie di atas pangkuannya, lalu mulai bercerita soal kejadian kejadian lucu di sekret ukm paduan suara.
“Yuta mulutnya pernah kemasukan kecoak, waktu itu dia lagi bobo nunggu kelas,”
“Bang Panda pernah ketimpa ee cicak, fresh from oven banget kaan?”
“Jorok!”
“Dia sendiri yang bilang lho! Ada anget angetnya.”
“Wleeeee. Sekret padus harus dibersihin ih. Memakan banyak korban.”
“Belom tau aja ceritanya Maki.”
“Kenapa Kak Maki?”
“Dia liat kembarannya di sekret, tau Mai kan?”
“Kak Mai kan ga ikut ukm apa apa. Ngapain dong ada di sekret?”
“Nah itu, Maki ngaku liat Mai lagi duduk depan meja rias. Mana waktu itu udah malem lagi, enggak ada siapa siapa.”
“Terus gimana dong?”
“Maki ngakunya lari sih, sampai lupa kunciin pintu. Padahal pas besokannya dicek sama Bang Panda, dikunci kok pintunya.”
“Betulan butuh jasa exorcism deh sekretnya.” Yukie merinding, bahunya terkendik. “Kalo Kakak gimana? Pernah liat kejadian apa?”
“Ah enggak pernah liat apa apa tuh.”
“Hiii makin serem gak sih?”
“Kenapa makin serem?”
“Soalnya berarti Kakak dijagain?!”
Rencananya Inumaki buat pulang berakhir gagal, karena baik dirinya sama Yukie sama sama takut. Berujung mereka tidur dengan keadaan kamar kostan Yukie yang diperdengarkan lagu religi.
***
Di awal awal kedekatan Yukie dan Inumaki, keduanya pernah pergi ke CFD buat jalan kaki biasa. Dengan iming-iming rekomendasi tempat kupat tahu enak sama InumakiㅡYukie yang termasuk kaum rebahan di weekend itu berhasil menamatkan 8k langkah. Selain itu, Yukie juga berhasil jaga image dengan enggak terlalu kelihatan ngos-ngosan dan capek maksimal, walaupun kenyataannya lutut dan paha dia udah bergetar minta duduk.
Inumaki enggak bohong soal rasa kupat tahunya. Porsinya cukup banyak dengan bumbu yang enggak terlalu encerㅡmasih masuk selera Yukie, dan yang terpenting harganya terjangkau.
Waktu lagi enak enaknya menikmati kupat tahu, tiba-tiba area disekitar mulai kedengeran ricuh.
Ya. Ada razia satpol PP.
Abang kupat tahunya enggak banyak berpikir sebelum tutupin pintu gerobak dan lari sambil dorongin gerobaknya cepat-cepat, mengamankan diri dari petugas yang mulai mengamankan gerobak gerobak di belakangnya.
Spontan, Inumaki dan Yukie ikutan lari—sambil buru buru bawa tas pinggang di tangan kanan dan piring berisi sisa bumbu kacang di tangan kiri.
Padahal sudah jelas yang dikejar bukan mereka, dan enggak ada sedikitpun kemungkinan buat mereka berpotensi jadi buronan SATPOL PP—mengingat penampilan mereka terlihat jelas sebagai orang yang mau jalan kaki sambil menikmati pagi cerah dan segar ini sama gebetannya, Inumaki Toge.
‘’Haduh, hah, hah, abangnya tadi belok ke mana ya?’’
“Kak, aku kalikiben.”
Napas keduanya terengah-engah, Inumaki udah membungkuk dengan kedua tangannya menangkup lutut, sementara Yukie duduk di bawah pohon bougenville.
Inumaki akhirnya duduk di pinggir jalan, enggak jauh dari Yukie. Didepannya ada 2 tumpuk piring yang nggak tahu harus dikembaliin ke mana. Hari sial emang nggak ada di kalender, emang.
“Yukie, tunggu disini dulu ya. Aku beli minum dulu sebentar.”
Beberapa menit kemudian, Inumaki jongkok lagi di depannya, sambil nyodorin botol air mineral yang udah dibuka. “Minum dulu.”
Selagi Yukie minum, Inumaki membersihkan piring-piring dengan sisa sambal kacang dengan sisa air minum miliknya, lalu mengelapnya dengan tisu yang kemungkinan dibelinya bersamaan dengan air mineral tadi.
“Perutnya masih sakit?”
“Udah mendingan.” Yukie menutup botolnya, “mmmm, makasih airnya.”
“Maaf ya Yukie, jadi dibawa lari-larian gini.”
“Eh, enggak usah minta maaf Kak. Lagian namanya razia enggak ada yang tau kapan-kapannya.”
“Duh, mana kamu sampai kalikiben ya, maaf banget ya.”
“Tapi kalo dipikir pikir lagi, kenapa kita ikutan lari ya?” Yukie terkekeh, “padahal kan kita gak dikejar juga.”
Inumaki ikutan ketawa, tangan kanannya menutupi wajah. “Hahaha, iya juga ya. Spontan ajaㅡ”
“Uhuy!!”
Di bawah pohon bougenville, sepasang insan manusia menemukan sambungan frekuensinya lewat selera humor yang sama. Keduanya tidak lagi sendirian, mengurangi jumlah manusia kesepian di dunia.
***
“Ra, Ara.”
“Heem, apaa?”
“Dipikir-pikir, adegan most replayed selama pacaran sama Kak Inumaki lari larian terus deh. Kayaknya bisa kalau dibikin kompilasi, kayak video core si tiktok.”
“Lah iya juga ya.”
“Iya kaaan, mana ini dia udah ngajak lari- pas CFD nanti.”
Nobara terkekeh, sambil balik baca artikel di laptopnya yang udah terbuka pada tab kesekian. “Buat latihan kali.”
“Latihan apaan coba?”
“Kawin lari!”
