Actions

Work Header

Liburan ber....(lendir)

Summary:

Sania pikir ini bakal jadi liburan yang santai. Nyatanya, dia malah harus kerja dua kali lipat selama liburan itu.

Work Text:

Long weekend kali ini Maha mengajak seluruh keluarganya untuk pergi berlibur di Villa yang sudah ia pesankan sebelumnya. Sengaja Maha pesan untuk merayakan malam tahun baru bersama keluarganya — Ayah,Ibu,Kavi,Sania dan anak pertamanya.

Tapi ada plan yang sudah dibuat ternyata Ayah dan Ibu akan pergi menyusul ketika acara di komplek perumahan mereka sudah selesai. Mendengar kabar itu membuat kedua pria itu menjadi lebih tambah semangat untuk bisa pergi ke Villa agar menghabiskan Sania — salah maksudnya agar bisa menghabiskan waktu bersama di malam pergantian tahun baru.

Maha memesan sebuah Villa yang masih berada di dalam satu kota tempat mereka, sehingga mereka tak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai di Villa itu. Sesampainya mereka bertiga di Villa, ternyata Sania baru diberitahu bahwa Ayah dan Ibu akan terlambat datang atau mungkin bagi keduanya mereka berdoa agar orangtuanya tidak perlu datang ke Villa.

Pikiran Sania sudah kemana-mana ketika baru diinformasikan oleh suaminya. Dia tahu bahwa berada di dalam satu atap dengan dua kakak beradik ini bukanlah hal yang tepat, setelah dirinya ketahuan bermain api dengan Kavi di belakang Maha dan pergumulan mereka bertiga. Nyatanya, itu bukanlah penutup permasalahan yang ada. Melainkan sebaliknya.. justru itu adalah gerbang pembuka untuk akhirnya secara sadar Maha merelakan istrinya dibagi dengan adiknya sendiri.

Kavi secara gamblang jadi sering main atau menginap di rumah kakaknya. Bukannya untuk bertemu dan bermain dengan keponakannya tapi malah waktunya ia gunakan untuk bertemu dan bermain kuda-kudaan dengan kakak iparnya.

Bahkan ketika Maha harus pergi meninggalkan Sania keluar kota untuk urusan pekerjaan. Tanpa pikir panjang, Kavi akan menggantikan posisi Maha di rumahnya dan meminta jatah kepada Sania.

Udah gila emang.

Tapi selagi kakaknya memperbolehkan dan tidak mempermasalahkan hal tersebut, Kavi lebih mengikuti alur kedua pasutri tersebut. Untung-untung main bareng sama kakak iparnya bisa jadi penghilang stress kuliah di semester akhirnya.

Seperti hari ini, ketika mereka bertiga sudah sampai dan Yuna — anak pertama mereka sudah tertidur lelap. Sania dengan di tubuhnya terbalut lingerie sheer lace berwarna hitam yang menutupi bagian intimnya, atau malah tak pantas juga untuk dibilang menutupi karena model lingerie karena memang berbentuk transparan dan tidak menutupi kulit putih susu miliknya.

Sania kini berada di atas pangkuan Maha, sambil mencium bibir tebal itu dengan lumatan penuh nafsu, tangannya bertengger apik di pinggang kecil istrinya, tangan Sania memilih untuk bergelendotan manja di leher Maha. Duduk di atas selangkan Maha, membuat Sania dengan sengaja menggesek sambil menggoda suaminya.

“Mmmhh…”

Desahan yang sedang keenakan keluar dari mulut istrinya, ketika dengan sengaja Maha gigit bibir Sania agar terbuka, lidahnya langsung merayap masuk ke dalam mulut Sania. Maha langsung membelitkan lidahnya dengan lidah Sania, menghisap lidahnya dengan kuat hingga saliva keduanya merembes keluar.

Bibir Maha udah mulai turun ke bawah buat jilatin dan nyedotin leher istrinya, sengaja Maha sedot biar ninggalin jejak kemerahan di bagian lehernya. Tangan Maha juga tidak mau diam ikut bergerilya mengerayangi tubuh indah istrinya, tali gaun tidurnya Maha singkap hingga memamerkan payudara montok dan bulat itu. Maha remas kedua dada Sania. Membuat air susu juga ikut keluar membasahi jemarinya. Maha pelintir pentil Sania yang mulai berasa tengganya.

“Mmmh — ahh…” Sania keenakan pas pentilnya sengaja dicubit lalu ditarik oleh Maha dengan mulutnya terus kasih cupang di lehernya.

Kavi yang sejak tadi fokus buatin videoin kakak iparnya lagi dimainin sama suaminya, ngiler juga pas ngeliat dada montok Sania yang ngucurin air susu, “Enak mbak teteknya dipelintir?” tanya Kavi sambil ngarahin kameranya ke muka sange kakak iparnya.

“I-iyaa.. enak — ahh…”

Gak pake lama Maha langsung lumat dada sintal istrinya, pentilnya Maha mainin pake lidahnya, dia putar dan dijilat cepat kaya anak kucing lagi minum. Pas Maha bibir sengaja dia kempotin buat hisap pentilnya, tangannya juga ikut ngeremesin dadanya biar air susunya juga ikut keluar. Sania sampai melengkungkan punggungnya, menekan bagian selangkangannya di atas gundukan Maha, rasanya enak pas pentilnya disedot dan memeknya diteken di atas kontol suaminya.

“Anjing! Gak kuat gue, sexy banget nih lonte,”

Tadinya Kavi mau ikutnya nantian aja tapi pas ngelihat Sania yang udah keenakan, bikin nafsunya jadi tinggi. Pengen ikutan bikin kakak iparnya ini jadi makin kelonjotan, kameranya pun taruh sambil dia atur agar bisa merekam kegiatan mereka bertiga.

Maha lepasin kuluman mulutnya di dada montok istrinya, dia ubah posisi Sania agar Maha dan Kavi bisa sama-sama dapet enak dari tubuh si Cantik itu.

“Balik badan sayang,” titah Maha sambil membantu Sania untuk berbalik, membuat wanita itu menungging berpegangan pada sisi tempat tidur.

Posisi yang menguntungkan untuk semuanya, Maha yang memilih untuk bermain di bagian belakang, Kavi bisa bermain di bagian atas milik istrinya. Tentunya, Sania dapet enaknya ketika seluruh titik kelemahannya diberikan stimulasi secara bersamaan oleh kedua kakak beradik itu.

Kavi raih wajah Sania dengan kedua tangannya, “Sini cantik, bibirnya aku ciumin,” lalu ia lumat bibir kakak iparnya dalam ciuman yang dalam. Bibir Sania sudah masuk kedalam kuasa Kavi, ia hisap bibir bawah dan atas secara bergantian, hingga Sania cuma bisa ngikutin ketika lidah adik iparnya memaksa masuk mengajak lidah Sania untuk bertarung di dalam mulutnya.

Di bawah sana, dengan mudahnya Maha langsung menurunkan pakaian yang membalut tubuh istrinya hingga menggantung di bawah kakinya. Sebenernya juga sejak awal baju itu tidak ada fungsinya karena, at the end Sania juga akan bertelanjang bulat. Melihat tubuh istrinya makin hari terasa makin semok di mata Maha.

Plak!

Maha tampar kedua pantat sintal istrinya. Tubuhnya langsung tersentak pelan saat tangan Maha mendarat di atas pantatnya, ciuman bibirnya dengan Kavi langsung terlepas karena desahan kaget yang keluar dari mulutnya. “Aaahh…” desah Sania yang langsung Kavi lumat kembali bibir itu dengan tangannya menahan kepala Sania.

Melihat pantat istrinya mantul-mantul karena ulahnya. Maha langsung berlutut di kaki Sania, sambil ia lebarkan kedua kaki istrinya. Memek istrinya tembem walaupun sudah sedikit ngowoh mungkin karena sering diisi oleh dua kontol secara sekaligus. Tapi Maha bisa jamin jepitan dan kempitan memek Sania masih tetap yang paling nikmat.

Tiupan dari mulutnya yang sengaja dilakukan oleh Maha dan hampir membuat kedua kaki Sania melemas, wanita itu mengerang kepalanya mendongak, ketika ditambah tangan Kavi yang kini juga sedang ikut meremas tetek montoknya yang terus Kavi ulenin sambil pentilnya juga ikut kena garuk jarinya.

“Makin kenyel aja, toket kamu mbak,”

“Ahh.. i-iyaa.. hhng — aahhhhh…”

Denger Sania yang udah melenguh keenakan karena kelakukan kakak beradik itu yang lagi ngerjain Sania. Kavi udah gak sabar pengen cepet-cepet hangatin kontolnya di dalam mulut kakak iparnya. Dengan cepat, Kavi langsung menurunkan boxer dan celana dalam yang ia pakai. Kontol tegang itu langsung mencuat mengenai wajah Sania yang ada di depannya.

“Sambil dikulum mbak, biar mulutnya gak berisik,” perintah Kavi yang sengaja nepukin kontolnya di atas wajah kakak iparnya. Diberikan perintah seperti, langsung dituruti oleh Sania.

Kepalanya agak dia turunin, kedua kaki Kavi dibuat mengangkang di depan kakak iparnya dan langsung dilahap kontol Kavi pakai mulutnya yang udah jago buat ciuman dan sepongin kontol kakak beradik itu.

“I-iya.. ahh — enak banget. Susah kalo udah mulut lonte,” batangnya Sania remesin dan kepala kontolnya Sania emut persis kaya Maha yang sering juga lagi ngemutin biji klentitnya di bawah sana. Makin Maha isep dalam biji klentit istrinya, kuluman kontol Kavi makin terasa nikmat sambil sesekali Sania kulum kepala kontolnya teksturnya kaya bakso urat yang sering dia makan.

“Sshhh… mbak — ahhh….”

Kepala Kavi keliyengan rasanya kontolnya udah mulai membengkak di dalam mulut Sania. Tahu Kavi yang sebentar lagi mau sampe puncaknya dan ngerasa seneng karena untuk kesekian kalinya dia bisa bikin kedua kakak beradik itu keenakan. Sania malah makin semangat buat keluar masukin kontol adik iparnya.

“Mmmhh… i-ingyah… enakhh…”

 

Maha dengan lidahnya juga lagi jilatin belahan memek yang halus dan terasa panasnya, lidahnya juga sesekali nusuk lubang memeknya yang udah kedutan. Mulut Maha sengaja dibuat melumat bibir memek Sania, dia emutin labia minora istrinya yang udah bergelambir, dia sedotin terus sambil menyesap cairan bening yang ikut keluar. Bibir luar memeknya pun juga ikut Maha emutin bunyi kecupan basah dan kontol Kavi yang berada di mulut Sania bercampur jadi satu.

“Aaahh — nghh…”

Masih kurang puas dan ego Maha sangat tinggi, rasanya kurang kalau memek istrinya hanya dimainkan oleh lidahnya saja. Dengan cepat dua jari panjang berurat milik Maha langsung ia lesakkan ke dalam lubang memeknya, biji klentitnya juga masih Maha jilatin terus menerus bikin Sania jadi tambah sensitif. Setiap itilnya disedot oleh suaminya punggungnya langsung ngelengkung.

Badan Sania menggelinjang ngerasain memeknya dimakan habis-habisan oleh suaminya. Ditambah tangan Kavi yang tengah menahan tengkuk kakak iparnya, sengaja Kavi dalemin kontolnya sampai menyumbat kerongkongan Sania dan membuat pemiliki susah bernapas.

“Nghh… piw — pishhh…”

“Pipis sayang, tunjukin memek bocor kamu,”

Makin Kavi tekan kontolnya, Maha juga ikut ngencengin kocokannya sambil salah satu tangannya ngucek itil Sania. Maha bisa merasakan memek istrinya yang semakin mengetat dan berkedut hebat hampir klimaks karena ulah mereka berdua. Mulutnya masih ketutupan batang gede Kavi, suaranya merengek sambil airmatanya menangis, bokongnya juga udah ikutan naik turun gak sabar mau keluarin pipisnya.

Hingga Kavi tahan kepala kakak iparnya, semburan bening campur kental miliknya keluar di mulut kakak iparnya. Diikuti tubuh Sania yang menggelinjang hebat, cairan bening squirt juga merembes banjirin genjotan tangan Maha. Kavi lepasin kontolnya yang abis dapet deep throat enak biar cewek itu bisa nafas lega.

Sisa peju milik Kavi merembes keluar dari mulut Sania. Nafas wanita itu tak beraturan setelah dirinya dibuat pipis oleh Maha dan Kavi. Tubuhnya langsung ambruk, setelah pelepasan pertamanya.

Belum… tugas Sania masih belum selesai setelah dirinya sudah pipis. Dia masih punya tugas buat bikin hangat kontol kakak beradik itu. Maha mengambil tempat bersandar pada headboard kasur, lalu menarik istrinya agar mendekat kepadanya, sambil berbisik lirih di tengah kesadaran Sania yang hampir hilang, “Jangan pingsan dulu sayang, memeknya belum kena kontol kan,” lalu pinggul Sania diangkat lurus sama pinggul miliknya.

Gak langsung Maha masukin, kontolnya udah tegang precum nya juga udah keluar tapi masih kurang licin buat masuk ke lubang memek istrinya. Maha gesekin batang kontolnya di antara belahan memek Sania, makin Maha gesek bikin Sania kegelian sendiri karena biji klentitnya kena sundul kepala kontol suaminya. Sebenarnya gak perlu digesekin Maha yakin kontolnya udah bisa langsung masuk tapi rasanya juga kurang nikmat kalo batang kontolnya belum kena gesekan memek cantik istrinya.

Sania yang udah sensitifnya bukan main. Digesekin sama suaminya cuma bisa melenguh keenakan.

“Nghh — masukin mash.. gatel.. ahh memek aku…”

Bokong Sania dia angkat dan dengan mudahnya kontol Maha langsung masuk ke dalam lubang memek ngowoh istrinya. Keduanya melenguh keenakan. Kedua tangan Sania bertumpu di sisi samping tubuh Maha. Melihat penis kakaknya sudah masuk ke dalam lubang memek kakak iparnya, Maha dengan cepat langsung memberikan kode kepada adiknya dan langsung diterima oleh Kavi.

“Aaahh… dalem banget mas..”

Posisi dengan Sania berada di atas Maha bikin kerasa kontol suaminya nancep kedalem bikin Sania keenakan pas memeknya nanti disodok sama kontol suaminya. Di tengah kesadarannya, Sania gak sadar kalo Kavi yang awalnya menjauh kini tubuhnya mendekat kepadanya sambil jarinya yang lagi kocokin kontolnya sendiri. Sania pikir adik iparnya itu mau minta disepongin lagi. Saat Kavi mulai mendekat, kepala Sania ditarik oleh Maha kebelakang ia lumat bibir seksi itu.

Sengaja Maha lakukan agar lubangnya lebih rileks dan tidak tahu bahwa akan ada satu kontol lagi yang akan masuk ke dalam memeknya. Hingga akhirnya Kavi arahin palkonnya ke lubang Sania dan pelan tapi pasti Kavi lesakkan seluruh batang kontolnya ke dalam lubang kakak iparnya. Sania sontak langsung melenguh kaget, tangannya mencengkram lengan Maha.

“Aarrrghh… sakit mas…” rengek Sania dengan airmatanya kembali keluar.

“Sstt… kaya gak pernah dikontolin dua kontol aja sih, sayang. Jangan diketatin, gitu dong — ahh… sayang.”

Penuh rasanya beneran penuh di memek Sania yang terasa semakin ngowoh ketika dua kontol ngaceng kakak beradik itu tengah berada di dalam lubangnya.

Kavi yang berada di depan Sania berpegangan pada kedua dada sintal Sania, dirinya perlahan mulai genjotin dari depan sesuai instruksi dari kakaknya yang bilang Kavi bisa mulai duluan. Di belakang sana, Maha juga gantian buat keluar masukin kontolnya persis kaya punya Maha. Mereka gerak pelan dulu sampai memek Sania kerasa rileks dan ikut nikmatin manuver mereka.

“I-iyaa.. penuh — enakhh…ahhhhh…”

Sania bingung sendiri, tubuhnya melengkung setiap ada yang keluar maka akan terasa ada yang menyundul lubangnya memeknya. Rasanya enak tapi di satu sisi rasanya juga memeknya terasa ingin penuh.

“Suka kan, sayang?”

“Suka mas… suka dikontolin banyak — ahhhh…”

Sania melenguh kaget ketika pentilnya disesap dalam oleh Kavi, “Mau nyusu mbak,” ucap Kavi sambil dia remesin kedua dada Sania dan kedua pentil Sania dia dempetin abis itu dia kenyot bersamaan, membuat air susu miliknya ikut terminum oleh Kavi. Didalam mulutnya, pentil Sania ikut dijilat dan ditekan oleh lidahnya.

Ngerasain pentilnya dimainin adik iparnya dan memeknya penuh diisi oleh kedua kontol, Sania cuma bisa menjambak rambut Kavi, mulutnya menganga sampai gak sadar air liurnya ikut keluar. Suhu pendingin kamar itu rasanya tidak berfungsi jika dibandingkan dengan panasnya kegiatan mereka, membuat tubuh mereka bertiga sudah mengkilap karena keringat. Gak mau kalah tangan Maha menyelinap masuk ke area selangkangan istrinya untuk menemukan biji klentitnya. Langsung Maha kucek biji klentit, bikin sensasi jepitan kontol di dalam lubangnya jadi makin nikmat.

Gerakan yang tadinya santai perlahan naik dan naik makin intens. Ototnya terus ngeremes dua kontol itu sekaligus tiap ujung batang mereka kena ke dinding terdalam memeknya. Bunyi bokong Sania bertepuk manis dengan tepukan di atas perut Maha.

Mulut memek Sania terasa ngilut. Tapi sensasi lubangnya penuh sama dua kontol bikin rasa sakit itu tergantikan dengan rasa nikmat yang susah untuk diungkapin dengan kata-kata. Ditambah tangan Maha yang kadang mengelus perutnya atau sengaja turun ke biji klentitnya kembali. Rasanya sesekali bisa membuat dirinya terasa rileks ketika lubang memeknya terus dihujam oleh mereka berdua.

“Mas… gue duluan ya. Gak tahan banget — ahh…”

Maha sengaja pelanin genjotannya. Dia peluk tubuh istrinya dari belakang sambil ia kecupi punggung dan tengkuk lehernya. Sambil dari belakang Maha memberikan afeksi positif kepada istrinya yang mampu membuat dinding rahim Sani mengetat.

Kavi cengkram pinggang Sania buat pegangannya yang ingin makin nambahin kecepatannya. Konaknya beneran udah di ujung… kontolnya kerasa semakin membesar. Rasanya ada dua kontol yang satu ukuran normal dan yang satunya lagi hampir ingin meledak kedalam rahimnya, lubang Sania ikut kedutan lagi dan lagi kepalanya udah putih melayang entah kemana. Yang jelas rasa itu kembali lagi semakin nyata dan nyata.

Hingga kemudian matanya total putih, pinggulnya bergetar seirama dengan Kavi yang nyemburin peju kentel nabrak dinding memeknya.

Kavi udah mulai pelanin gerakannya, tinggal nikmatin orgasme yang bikin dia juga ngerasa gila itu. Pejunya yang banyak itu meluber saking ga cukup ruang di dalam sana buat nampung. Maha yang ikut rasain efeknya juga jadi ga sabar.

“Jangan dilepas, Kav, biar memeknya penuh peju kita,”

Masih dengan kontol Kavi di dalem Maha balik nyodok lagi dari belakang. Nggak pakai jeda langsung kecepatan penuh nusukin batangnya dalem. Efek remesan klimaks memek Sania bikin bucatnya sendiri udah rembes dikit tadi. Badan lemes Sania sampai ikut keangkat saking kencengnya Maha nyodok dari belakang.

“Aahh… mass.. maha — ahh… ahhh ahhh…”

Kavi juga merem keenakan kontolnya yang sensitif habis orgasme jadi makin enak kena remesan memek Sania dan gesekan kontol Maha. Ga lama suaminya itu ikutan nyembur ngisi memek Sania sama peju keduanya malam ini. Dan… Sania kelojotan ga berbentuk di dalam pelukan keduanya.

Peju Maha bercampur sama punya Kavi, peju mereka meleleh pas Kavi nyabut kontolnya. Lelehannya jatuh ke perut ke bawah sampai netes ke karpet saking banyaknya. Sepasang manusia yang masih bertumpukan itu ngatur nafas sambil balikin kewarasan yang sejenak tadi melayang entah ke mana.


COMMISSIONS