Work Text:
Kamu mengecek handphone-mu yang mungkin sudah seratus kali berbunyi sejak tadi. Benar saja, semuanya pesan dan panggilan terlewat dari abangmu.
“Adek di mana?”
“Adek, angkat telepon Abang.”
“Yasudah. Abang nggak akan tanya lagi.”
Berikut pesan terakhir dari abangmu, tampaknya menyerah setelah 67 panggilan dan 136 pesannya kamu abaikan. Kamu menghembus napas kesal, menaruh kembali handphone-mu di meja. Tara di sebelahmu tampak khawatir, menepuk pundakmu pelan.
“Itu abangmu dari tadi telepon-telepon terus, nge-chat mulu juga. Kamu nggak bilang abangmu kalau kamu ikut kita?” tanyanya.
Kamu mengangkat pundak, meneguk gelas kecil di hadapanmu. “Bodoamat. Dia bikin aku kesel!”
Oke. Mari kita flashback ke pagi hari tadi.
Caleb bangun lebih dulu seperti biasa, mencium pipimu lembut sebelum dia bangkit dari ranjang untuk memakai celananya. Dia memungut piyamamu yang dilepas buru-buru semalam dari lantai, melipatnya rapi dan menaruhnya di nakas sebelah ranjang. Lalu, ia berjalan keluar, tentu setelah memastikan kamu masih tertidur dengan nyenyak terlebih dahulu.
Jam berbentuk apel di nakasmu menunjukkan pukul delapan lebih lima. Caleb kembali masuk kamar, kali ini sudah menggunakan celemek berwarna cokelat tua miliknya, meskipun tubuhnya belum terlapis kaus juga. Nampan berisikan roti panggang dan telur ceplok serta dua sosis gendut itu ia letakkan di pangkuannya ketika ia duduk di pinggir ranjang, mengusap kepalamu lembut.
“Adek, bangun yuk. Abang udah siapin sarapan buat Adek.”
Kamu menggeliat malas, menghadap samping membelakangi kakakmu. “Nanti aja… Adek masih ngantuk.”
Caleb tersenyum kecil. “Keburu makanannya dingin. Yuk?”
Tidak memperoleh jawaban darimu, Caleb menarik-narik lenganmu lembut. “Yuk, Dek. Abang hari ini ada janji sama Gideon. Nanti Abang telat.”
Kamu memanyunkan bibir, akhirnya membuka matamu. “Main terus,” protesmu.
Caleb terkekeh lembut. “Bukan main, Sayang. Abang udah janji mau training bareng Gideon pagi ini.”
“Padahal Adek juga bisa Abang ajak training. Adek nggak kalah jago sama Gideon,” kamu mengomel, mengucek matamu sembari beranjak duduk.
Caleb hanya tersenyum. Dia tahu dua minggu lagi kamu akan menstruasi—yang bahkan kamu sendiri tidak ingat—jadi mood-mu yang berubah-ubah tidak mengganggunya sedikitpun.
“Ya nanti besok Abang ajak Adek, ya. Kali ini Abang sudah janjian sama Gideon. Lagian kasihan tau dia tuh, Dek. Nggak punya pacar buat nemenin dia training,” ucap Caleb sedikit bercanda, berharap bisa mengangkat mood-mu walau sedikit.
Namun kamu merengut lagi. “Nanti besok? Jadi nanti apa besok?”
Caleb tertawa mendengar ucapanmu, membetulkan selimut yang terjatuh dari dadamu, mengekspos buah dadamu yang habis jadi santapannya semalam.
“Besok, Adek. Udah ah, ayo makan dulu. Ini tete Adek kemana-mana.”
Kamu mendengus, melirik nampan di pangkuan Caleb. Tampaknya barang di bawah nampan tersebut lebih menarik di matamu pagi ini.
“Abang…” kamu memanggil pelan.
“Iya, Adek?”
“Adek nggak mau sosis yang itu…”
Caleb tampak bingung. Ini adalah sosis kesukaanmu sejak kecil, penyelamat di saat kamu tidak mau makan apa-apa. Sekarang, kamu bilang tidak mau?
“Loh… Kenapa? Abang gorengnya kurang kering, kah?”
Kamu menggeleng. “Enggak… Tapi Adek mau sosis yang lain…”
Caleb mengangkat sebelah alisnya.
“Mau sosis Abang… Boleh, ya?”
Tawa kecil lolos dari bibir Caleb, tidak percaya apa yang baru saja dia dengar. “Adek belajar ngomong gitu dari mana, deh?”
Caleb menggelengkan kepala. Sejak ia mengambil keperawananmu tiga tahun yang lalu—waktu itu kamu masih duduk di kelas dua bangku SMA—ia tidak pernah mengajarimu yang aneh-aneh selain bercinta selayaknya dua kekasih. Namun, sepertinya internet mengajarimu banyak hal yang tidak ia ajarkan padamu.
Kamu merapatkan lenganmu, membuat buah dada sintalmu di balik selimut tebal terhimpit. “Adek sepongin sama jepit di tete, ya?”
Caleb menghela nafas pelan. “Kamu habis nonton hentai mana lagi sih, Dek?” Tangannya mengelus rambutmu lembut. “Abang mau, mau banget malah. Tapi ini udah jam delapan lebih, Abang janjiannya jam sembilan. Toh semalem Abang ewe Adek sampe jam tiga, kan? Adek pasti lemes, laper. Sarapan aja ya, Dek?”
Bibirmu mengerucut lagi, merasa ditolak. Kamu menyambar nampan makanan dari pangkuan Caleb, menaruhnya di pangkuanmu sendiri.
“Yaudah!”
Caleb mengerjap, lalu wajahnya berubah sedih. “Adek jangan marah, ya? Nanti kalo Abang udah pulang kita main lagi.”
“Bodoamat! Sana pacaran sama Gideon aja!” ketusmu, menggigit sosis goreng dengan kesal.
Caleb meneguk ludah, tangannya otomatis bergerak menuju selangkangannya seperti merasakan sosis miliknya yang digigit.
“Adek… Jangan gitu dong, Sayang.”
“Pergi nggak? Sebelum sosis Abang yang Adek gigit sampai putus!”
Dan, di sini lah kamu sekarang. Bersama teman-temanmu, di tempat karaoke. Tadinya kamu mau bersantai-santai saja di rumah, namun rasanya sangat malas melihat wajah abangmu itu setelah dia menolakmu pagi ini. Jadilah kamu menyusup keluar, pergi ke pusat perbelanjaan dengan Tara dan Simone, lalu berlanjut ke tempat karaoke.
Kamu mengambil mic, menyanyi dengan keras, meluapkan rasa kesalmu—yang sebetulnya setengah dipengaruhi oleh hormonmu yang tidak seimbang—pada abangmu satu-satunya itu.
Setelah menyanyi keras-keras, kamu merasakan tenggorakanmu serak dan agak sakit. Teman-temanmu tertawa sedikit melihat keuring-uringanmu malam ini, menepuk pundakmu lembut sembari menyodorkan sebotol air mineral.
“Aku mau ke kamar mandi dulu,” pamitmu, melangkah keluar ruangan.
Di lorong yang temaram, kamu berjalan agak sempoyongan. Kamu minum sedikit, tapi sebenarnya memang kamu tidak begitu kuat minum alkohol banyak-banyak. Semua karena abangmu yang menjagamu ketat dari hal-hal yang merusak tubuhmu.
Kamu berhasil menemukan kamar mandi, segera masuk untuk pipis, dan mendesah lega saat kandung kemihmu kembali kosong. Kamu membersihkan diri, memakai kembali celana dalammu, dan melangkah keluar bilik untuk cuci tangan.
Tanganmu menahan badanmu yang sempoyongan di keramik wastafel yang dingin, merintih lemah. Agaknya menyesal meminum alkohol sedikit terlalu banyak malam ini.
Ketika kamu mendongak, matamu membelalak. Kamu berani bersumpah baru saja ada yang mengintip dari pintu kamar mandi. Kamu membalikkan badan, melihat sekitar. Pintunya sudah kembali tertutup, tidak ada siapa-siapa.
Mulai merasa takut, kamu buru-buru keluar dari kamar mandi, agak berlari kecil menuju ruangan tempat teman-temanmu berada. Namun, terkutuk lah memori-ikan-mas-mu, kamu tidak ingat ruangan nomor berapa yang kamu sewa bersama teman-temanmu tadi.
Sial, harusnya aku bawa HP saja tadi, batinmu merutuk kecerobohanmu sendiri.
Kamu melihat sekitar, masih was-was dengan penampakan di kamar mandi tadi. Apakah itu hantu? Setan penunggu karaoke? Atau apakah itu orang mesum? Ah, hantu wanita penunggu karaoke malah terdengar lebih tidak menakutkan ketimbang orang mesum.
Kamu akhirnya memutuskan untuk berjalan ke resepsionis saja, berdoa lorong yang kamu jalani benar menuju sana daripada hanya memutar-mutar di bagian bilik-bilik ruang karaoke.
Lagipula, kenapa sih karaoke harus gelap-gelap seperti ini? Membuat orang susah saja. Apakah untuk mengurangi biaya operasional? Kamu menggelengkan kepala. Memang dasar kapitalis.
Kamu terus berjalan, namun kali ini kamu mendengar suara langkah lain di belakangmu. Sialan, umpatmu dalam hati. Kamu melangkah lebih cepat, namun langkah lain itu juga jadi lebih cepat.
Kamu melihat sekitar, masih pintu-pintu dengan bilik-bilik di baliknya. Masa kamu harus asal masuk untuk menyelamatkan diri? Tapi nanti kamu harus bilang apa? Pura-pura kenal agar orang yang mengikutimu berhenti? Lalu mau ditaruh di mana mukamu nanti? Terus kalau ternyata di balik pintu tidak ada orang, bagaimana? Orang yang mengikutimu bisa ikut masuk dan menahanmu di dalam. Memikirkannya saja kamu sudah mau menangis.
Nggak bisa. Aku harus berani. Toh, aku bisa membela diri. Abang kan sering ngajarin aku gimana caranya ngebogem orang jahat.
Akhirnya, kamu memutuskan untuk membalikkan badan, bersiap untuk meninju wajah siapapun yang mengikutimu tadi. Namun anehnya, tidak ada siapa-siapa. Alismu mengkerut. Heran. Takut. Apakah itu benar-benar hantu wanita penunggu karaoke?
Tiba-tiba, sebuah tangan menepuk pundakmu. Rasanya nyawamu seperti ditarik. Kamu berteriak, lantas berjongkok dan menutupi telingamu, menangis kencang.
“Hei, hei. Ini aku, Simone. Kamu kenapa?”
Simone mengguncang-guncang pundakmu pelan. Kamu mendongak, perasaan lega menyelimuti hatimu. Kamu memeluk Simone erat, masih menangis.
“Simone… Ada… ada hantu. Aku diikutin,” ucapmu di sela-sela sesenggukan.
Simone terlihat bingung, menoleh pada Tara. “Hei, aku panggilin taksi, ya? Aku antar pulang?”
Kamu menggeleng kencang. “Nggak. HP-ku di mana? Aku mau telepon abangku.”
Lima belas menit kemudian, Caleb datang dengan wajah panik, mencari-cari kamu yang sudah duduk di lobi karaoke dihimpit teman-temanmu, dengan jaket Simone tersampir di pundakmu. Pria yang mengurusmu sejak kecil itu menghela nafas lega melihatmu tidak kenapa-napa, berjalan mendekat.
“Adek, kenapa?”
Mata sembabmu melihat ke arah lain, hidungmu masih sibuk menyedot ingus yang keluar bersama tangismu tadi. Sebenarnya kamu sudah tidak apa-apa. Sudah tenang, sudah merasa baikan. Kamu hanya malu karena tadi kamu menelepon abangmu sambil menangis-nangis, minta dijemput, padahal kamu sedang dalam misi ngambek dengan Caleb.
Caleb melirik Simone dan Tara, yang hanya menggelengkan kepala dan mengangkat pundak. Cowok berambut cokelat itu melihat ke arahmu lagi, mengulurkan tangannya.
“Ayo, pulang sama Abang.”
Masih tidak melirik Caleb, kamu meraih tangannya, mengembalikan jaket Simone sebelum berpamitan ke teman-temanmu. Kamu berjalan keluar dengan tanganmu yang digandeng Caleb, mendesis kecil ketika merasakan dinginnya angin malam di kulitmu yang malam ini lebih banyak terekspos dari biasanya.
Plop.
Jaket yang awalnya dipakai Caleb sekarang berpindah ke pundakmu. Dikencangkannya jaket dengan wanginya itu di sekitar tubuhmu, membuatmu merasa dipeluk oleh sang empunya sendiri.
“Kenapa pakai baju gini, sih? Abang nggak suka, lho, lihatnya.”
Baju yang kamu pakai malam ini memang sengaja kamu gunakan untuk melampiaskan amarahmu pada abangmu. Hanya kemben hitam yang ketat dan rok kulit mini yang senada. Kaki jenjangmu dibalut boots hitam tinggi. Sebenarnya outfit yang sangat imut, kalau saja abangmu yang satu ini tidak cerewet soal penampilanmu.
“Ya nggak usah dilihat,” jawabmu asal, masih dengan bibir mengkerut.
Caleb menoleh padamu, hendak mengomel, namun tahu akan sia-sia karena kamu sedang PMS. Jadi ia hanya menggelengkan kepalanya, menggandengmu menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari pintu masuk karaoke tadi.
Sesampainya di mobil, setelah memastikan kamu sudah memakai sabuk pengaman, pria dua puluh lima tahun itu menancap gas, membuat mobilnya melaju dengan kecepatan sedang di jalanan yang sudah mulai sepi.
Hening. Abangmu yang biasanya cerewet itu tidak berkutik sama sekali. Kamu jadi merasa bersalah. Tapi, salah dia sendiri sudah membuatmu kesal pagi ini. Kamu pun menengok keluar jendela, matamu terpejam-pejam, masih sedikit di bawah pengaruh alkohol dan sedikit mengantuk akibat habis menangis.
Tidak lama, mobil abangmu sudah terparkir di garasi rumah. Baru saja kamu mau keluar, Caleb menahanmu. “Adek diam dulu di situ.”
Kamu menghentikan gerakanmu, meneguk ludah. Apa Caleb benar-benar marah kali ini? Ya, kamu sudah agak keterlaluan sih malam ini…
Kamu kembali duduk, menatap jari-jarimu yang bergerak gugup di pangkuanmu.
“Abang mau tanya. Kenapa keluar nggak pamit Abang?”
Kamu diam sebentar, sebelum akhirnya menjawab. “Tadi Abang belum pulang. Molor pacaran sama Gideon-nya,” ucapmu, alasan saja sebenarnya. Memang kamu tidak berniat pamit tadi.
“Adek, Abang ngomong serius.”
Kamu menggigit bibir bawahmu. “Iya… Maaf…”
Caleb menghela nafas, menoleh ke arahmu. “Terus, kenapa pakai baju kayak gitu? Abang nyium bau alkohol juga. Kamu minum?”
Ah, sial. Memang tidak ada yang bisa luput dari pengamatan Caleb soal kamu.
“Dikit…”
“Sama aja. Mau sedikit, mau banyak. Abang kan udah bilang, alkohol itu nggak baik. Abang aja nggak minum.”
Bibirmu mengerucut sedikit. “Iya, maaf…”
Caleb menggelengkan kepala, memijat batang hidungnya. Ia lalu menoleh padamu lagi, mendekatkan tubuhnya.
“Adek tahu kan, Abang sayaaang banget sama Adek. Kalau Adek kenapa-napa, nanti Abang gimana? Adek nggak kasian sama Abang?”
Kamu semakin menundukkan kepala, semakin merasa bersalah. “Iya… Adek minta maaf. Nggak bakal diulang lagi.”
“Janji, ya?” Tangan Caleb meraba paha mulusmu, mulai masuk ke dalam rokmu. “Jangan bikin khawatir Abang lagi, ya? Yang nurut sama Abang. Ya?”
Kamu mengangguk. Caleb tersenyum kecil, mengangkat dagumu lembut, lalu menempelkan bibirnya ke bibirmu. Abangmu satu-satunya itu menciummu dalam-dalam, seperti mengingatkanmu bahwa kamu adalah hanya miliknya seorang, bahwa semua perkataannya adalah benar dan harus dipatuhi.
Jari jemarinya sudah sampai di kemaluanmu yang masih tertutup celana dalam, mengelus-elus pelan daerah lembab itu.
“Ah… Abang…” desahmu di sela-sela ciuman.
“Shh…” desisnya pelan, membungkammu dengan ciuman. Ia terus mengelus-elus bagian paling intimmu itu dari luar celana dalam, sesekali menekan-nekan gundukan kecil di sana.
“Memek Adek kok udah basah aja? Beneran kepengen dari pagi, ya?” ucapnya rendah, menciumi pipi dan dagumu.
“Please, Abang…”
Desahan putus asamu membuat Caleb terkekeh. “Mau Abang kobelin memeknya? Atau Abang jilatin? Atau…”
Jemari Caleb menggeser kain yang memisahkan bagian paling intimmu dengan sentuhannya, menyentil-nyentil kelentitmu pelan. Kamu memekik, memegangi pergelangan tangan Caleb.
“Atau… mau Abang obrak-abrik pakai kontol aja?”
Omongan kotor Caleb selalu berhasil membuatmu semakin melayang di atas udara. Vaginamu semakin basah, berkedut-kedut seperti minta disumpal.
“Kontol… Mau kontol Abang…”
“Minta yang baik, Sayang.”
Kamu menggigit bibir bawah. “Abang… Adek mau dikontolin sama Abang. Memek Adek mau disumpel pake kontol Abang… Please…?”
Caleb menyunggingkan senyum, kembali bersandar pada kursi pengemudinya. “Sini, pangku sama Abang.”
Kamu menurut, berpindah posisi ke pangkuan Abangmu.
“Adek Abang yang cantik… Yang paling manis…” ucapnya lembut, kedua tangannya bergerak ke pinggang kecilmu, mengelus-elus sisi tubuhmu. “Udah gede ya, sekarang? Udah berani pakai baju begini? Udah berani nggak dengerin kata Abang?”
Kamu diam, hanya mendesah-desah pelan.
“Abis ini Abang bongkar aja ya, lemari Adek. Abang buangin baju Adek yang begini-begini.”
Jemari telunjuk Caleb menarik turun kemben hitammu, mengekspos dadamu ke hadapannya.
“Nghh, Abang, jangaann…”
Caleb menatap ke matamu langsung, menggunakan mata-anak-anjing-sedihnya.
“Adek nggak mau nurut sama Abang lagi? Adek mau bikin Abang sedih, ya? Abang, lho, cuman mau Adek pakai baju yang nyaman dan aman, biar nggak diapa-apain sama orang jahat.”
Kamu balik menatap Caleb, kembali merasa bersalah. “Ya-yaudah… Tapi jangan dibuang… Masih bisa Adek pakai buat dalaman…”
Caleb langsung tersenyum lagi, tangannya menangkup payudaramu yang sintal. “Bener, ya? Dipakai buat dalaman aja? Nanti Abang beliin outer yang lucu-lucu.”
Kamu mengangguk, mendesah pelan saat Abangmu meremas payudaramu lembut.
“Tete Adek tuh lucu banget… Bulat kaya bakpao,” ucap Caleb, menjulurkan lidahnya dan menjilat putingmu yang sudah tegak dari tadi.
Wajahmu memerah mendengarnya. “Abang kenapa mesti bikin Adek malu, sih…”
Caleb terkekeh pelan. “Malu? Enggak, tuh. Emang Adek tukang?”
“Ih, Abang!!”
Caleb tertawa renyah, memeluk pinggangmu, membuat tubuhmu mendekat. “Bercanda, Dek.”
Si Abang membenamkan wajahnya di antara kedua buah dadamu, menghirup aromamu dalam-dalam, kalau bisa sampai paru-parunya penuh dengan hanya aroma adik kesayangannya.
“Abang…” Kamu menggesek-gesek vaginamu yang sudah becek ke penis tegak Caleb yang masih tertutup celana, sudah tidak bisa menunggu lagi.
Caleb mendongak, melahap putingmu sembari mata-anak-anjingnya terus menatap ke matamu. Ia menyedot pelan, meremas-remas bagian yang tidak masuk ke mulutnya.
“Ah, Abang…” kamu merengek pelan, rasanya mau menangis karena abangmu menggodamu sebegininya.
Caleb melepas putingmu dari mulutnya, menimbulkan bunyi plop pelan. “Adek nih ovulasi, tau. Dua minggu lagi Adek menstruasi. Pasti nggak ingat, ya?”
Kamu terdiam sejenak. Ah, pantas saja. Kamu sangat mudah marah akhir-akhir ini. Bahkan kemarin lusa, kamu sampai berapi-api saat tidak sengaja disenggol oleh bapak-bapak waktu mengantri minuman di mall dengan Tara. Kamu merasa lebih cepat kesal dengan Caleb, padahal biasanya kamu selalu lebih sabar dan hanya tertawa ketika abangmu itu menjahilimu. Juga, pagi ini, sampai sekarang.
Bersamaan dengan itu, tubuhmu juga seperti minta disentuh terus. Kamu hampir setiap saat melompat ke pangkuan abangmu tiba-tiba, menggesek-gesekkan kemaluanmu ke miliknya seperti kucing kecil yang sedang birahi.
Caleb tertawa kecil. “Tuh kan, nggak ingat.”
“Hehe. Adek lupa,” ucapmu sembari tersenyum kikuk.
Caleb menarik tengkukmu agar wajahmu mendekat, menciummu lembut. Satu tangannya kembali masuk ke rokmu, menggeser celana dalammu, memasukkan jari tengah dan jari manisnya ke dalam lubangmu yang hangat dan basah.
Ia mengocok vaginamu pelan di awal, namun kocokannya berubah cepat bersamaan dengan ciumannya yang mendalam. Caleb menelan desahan putus asa-mu, satu tangannya yang lain menurunkan resleting celananya. Ia menarik keluar penisnya yg tebal, mengocoknya pelan.
Tanganmu melingkar di sekitar leher Caleb, mulai jadi berantakan dalam mencium balik abangmu itu.
“Abang… Adek mau pipis…”
“Pipis aja. Sini, basahin kontol Abang.”
Kamu mendesah kencang. Punggungmu melengkung, gemetar hebat saat cairan bening mengucur dari vaginamu, membasahi tangan dan penis tegak abangmu yang sudah siap memasukimu.
“Hebat… Adeknya Abang pinter banget…” puji Caleb lembut, memelankan kocokannya di dalammu.
Kamu kembali merengek, memeluk leher abangmu dengan lunglai.
Caleb akhirnya mengeluarkan jemarinya dari dalam lubangmu, membawanya ke bibirnya yang tipis dan kering, menghisap-hisap nektarmu dari jari-jarinya.
“Adek manis banget, Sayang. Adeknya Abang, Sayangnya Abang.”
Caleb menarikmu mendekat lagi, menciummu panas. Namun kali ini, ia memosisikan penisnya di jalur masukmu, dan tiba-tiba—dengan evol manipulasi gravitasinya—membuatmu terjatuh tepat di batang tebalnya, membuatmu memekik kencang.
“Abang!!!”
Yang dipanggil hanya tersenyum cabul, sengaja membuat tubuhmu sangat berat agar penisnya bisa masuk seutuhnya, mencium bibir rahimmu mesra.
“Enak, Abang mentokin?” ucapnya songong.
Bola matamu memutar, hanya terlihat putihnya saja. Mulutmu menganga lebar, air liur hampir menetes dari sudut bibir cantikmu.
Abangmu yang memang jahil itu terkekeh melihat ekspresi tidak senonohmu, mengangkatmu sedikit menggunakan evol-nya, menahanmu di udara.
“Lihat, muka Adek sampe bloon kaya gini,” katanya mengejek, mulai menggerakkan pinggulnya ke atas, menyodok-nyodok lubangmu dengan penisnya yang tebal dan berurat.
“Adek kalau lagi ovulasi antara bikin Abang sedih dan seneng… Senengnya kalau Adek jadi binal kaya kucing kecil yang birahi, sedihnya kalau Adek marah-marah terus ke Abang…”
Caleb mendongak, menatap lekat matamu yang entah kemana irisnya. Pinggulnya masih bergerak cepat, tidak memelan sedikitpun. Memang stamina pria satu ini ada gila-gilanya.
“Abang nggak mau berantem sama Adek… Abang nggak mau dimarah-marahin Adek terus… Abang nggak kuat kalau Adek diemin Abang… Semuanya bikin Abang sedih…” ucapnya dengan mata memelas, kontras sekali dengan penis besarnya yang mengacak-acak dinding vaginamu.
“Abang bantu biar nggak ovulasi lagi, ya? Biar nggak usah menstruasi lagi. Abang penuhin rahim Adek pake peju Abang, biar Adek hamil anak Abang.”
Kamu sudah hilang akal sejak penisnya memasuki vaginamu, dan makin kosong lagi otakmu mendengar kata-kata biadab abangmu yang paling kamu cinta itu.
“Ngh… I-iyaah… Mau… Hamil anak Abang…” racaumu tidak jelas.
Mata Caleb berubah sayu, tampaknya jadi bego juga melihat adiknya yang paling dia cinta itu tampak sangat pasrah dibalut kabut ungu-oranye evol-nya yang masih menahanmu di udara.
“Mau beneran? Abang crot-in di dalem. Abang tahan pake evol Abang biar peju Abang nggak ada yang keluar dari rahim Adek, ya?”
Kamu mengangguk-angguk asal, mendesah-desah kencang merasakan kemaluanmu diobrak-abrik penis tebal abangmu.
Caleb terkekeh kecil, nafasnya mulai tersengal-sengal. “Adek Abang cantiiiik banget. Kalau hamil anak Abang, pasti makin cantik lagi. Perutnya jadi bulet, tetenya makin gede, pipinya makin gembul…”
Caleb merengkuhmu kembali ke pangkuannya, tidak lagi menggunakan evol-nya. Ia mendongakkan sedikit kursi pengemudinya, membuatmu bersandar pasrah di atas tubuhnya.
“Abang… Enak… Memek Adek enak banget…” rengekmu, memeluk abangmu lemah sementara dia memelukmu kuat-kuat.
“Kontol Abang juga enak, Dek… Memek Adek pinter banget ngejepitnya… Beneran Abang hamilin aja ya, Adek? Abang nggak kuat…”
Kemaluan berurat dan tebal itu merundung vaginamu yang mulai memerah dengan teganya, kepalanya mencium-cium mulut rahimmu dengan kotornya, membuatmu semakin tidak berkutik di atas abangmu satu-satunya.
“Mau… Mau dihamilin Abang… Mau peju Abang menuhin rahim Adek…”
Perkataanmu membuat Caleb sampai pada puncaknya. Ia membuka pintu mobil tiba-tiba, membawamu keluar dibantu evol-nya, memaksamu berdiri bersender pada pintu kursi belakang mobilnya. Lalu, ia keluar dan menghimpitmu di antara mobil dan tubuhnya yang masih berbusana—selain batang penisnya yang mencuat keluar dari balik resletingnya.
“Adek nungging yang cantik ya, Sayang,” ucapnya rendah, membuka gespernya lalu dengan buru-buru memelorotkan celananya.
Kamu sudah tidak bisa berkutik. Diewe abangmu sendiri di garasi mobil? Ya sudahlah, biar terjadi. Toh, kamu juga sudah kepalang birahi.
Caleb membuatmu menungging dengan evol-nya, menaikkan rok kulitmu sampai ke pinggang, menarik turun celana dalammu yang sudah tidak karuan.
“Siap-siap ya, Dek. Abang beneran bakal hamilin Adek.”
Kedua tangan besar Caleb menangkup bongkahan mulus pantatmu, menariknya untuk mengekspos lubangmu yang sudah ngiler kemana-mana, memerah, menganga menyedihkan.
“Memek Adek cantik banget… Enak ya, dibuli sama kontol Abang? Dicium-ciumin rahimnya sama kepala kontol Abang?”
Ah, gila. Abangmu satu itu memang selalu tahu cara membuatmu dimabuk ekstasi. Kamu pun keluar saat itu juga, mengucurkan cairan bening dari vaginamu.
Caleb awalnya sedikit terkejut, namun kemudian tertawa cabul. “Nggak Abang pegang, lho? Cuman Abang liatin,” godanya.
Kamu mulai menangis, menggelengkan kepalamu. “Lagi, Abang… Memek Adek mau dikontolin lagi… Tolong sumpelin memek Adek pake kontol Abang yang besar itu…”
Caleb mendengus senang, meringis lebar. Lagi-lagi, ia memasukimu tanpa aba-aba, mencengkeram bongkahan pantatmu gemas.
Kamu menjerit, tanganmu mencakar-cakar jendela mobil Caleb pasrah, mendesah dan menangis hebat saat Caleb mulai menusuk-nusuk lubang kawinmu menggunakan kejantanannya.
Caleb bergerak dengan liar, seperti orang kesetanan. Kalau saja evol-nya tidak menahanmu, kamu pasti sudah tersungkur lemas di lantai.
“Hamil… Mau hamilin Adek… Adek jadi mama ya, habis ini? Di rumah aja, ngurus anak-anak Abang… Hamil, ngelahirin, nyusuin anak Abang, ngasuh mereka… Abang bikin hamil setiap tahun mau, ya?”
Kamu hanya mengangguk-angguk pasrah, matamu mulai berkunang-kunang.
Caleb memelukmu dari belakang, pinggulnya tidak pernah berhenti menyodokmu, semakin cepat dan berantakan. Tangan besarnya meremas-remas payudaramu yang menggantung, bergoyang-goyang seirama hentakan pinggul Caleb.
“Adek Abang dulu kecil banget… Susunya nggak segede ini… Pantatnya nggak sesemok ini… Ah… Abang suka banget Adek tumbuh jadi kaya gini… Semua berkat Abang yang ngebesarin Adek jadi milik Abang… Satu-satunya hal paling penting di hidup Abang… Cuma punya Abang… Cuma punya Abang… Cuma punya Abang…”
Caleb mulai meracau tidak jelas, tampaknya sudah dimakan birahi juga. Otaknya benar-benar kosong sekarang, menyamai punyamu.
Kamu menangis keenakan, vaginamu berkedut-kedut memijat penis abangmu, membuat si cowok mendesah-desah di telingamu.
“Adek… Abang mau keluar… Keluar di rahim Adek… Mau hamilin Adek…”
Kamu pun mendahuluinya, memuncratkan cairan bening dari sekitar penis abangmu. Caleb mendesah kencang, akhirnya sudah sampai putihnya.
Pria semok itu menghentakkan pinggulnya dalam-dalam ke pantatmu, berusaha meraih sedalam mungkin, memuncratkan cairan spermanya yang kental dan banyak ke dalam rahimmu yang sedang fertil.
Vaginamu menyedot-nyedot penis besar Caleb, memerahnya sampai kering. Caleb masih memelukmu dari belakang, menarik dagumu lembut untuk menoleh ke arahnya, lalu menciummu dalam-dalam juga.
Setelah beberapa saat, Caleb mengeluarkan penisnya dari dalam vaginamu, membuat pejunya menetes-netes dari lubangmu yang merah dan menganga.
Tentu Caleb tidak serius saat bilang mau menghamilimu. Ia akan membuatmu minum pil KB setelah ini, seperti biasanya. Bukannya apa-apa, Caleb hanya tidak mau kamu tersiksa dengan kehamilan dan melahirkan, tidak mau kamu punya anak tanpa merasa siap terlebih dulu, tidak mau memaksakan kehendaknya atas tubuhmu yang sebetulnya sepenuhnya hakmu. Kamu mungkin bilang mau hamil tadi, tapi itu di tengah-tengah aktivitas panas kalian. Kamu tidak sedang dalam pikiran yang cukup jernih untuk mengambil keputusan sebesar itu.
Kamu tergeletak di dekapannya saat Caleb mengangkat tubuh lemasmu masuk ke dalam rumah, menanggalkan pakaianmu, lalu membawamu masuk bersamanya ke bak mandi yang sudah diisi air hangat.
Setelah membantumu meminum pil darurat, Caleb memelukmu di atas ranjang, sudah sama-sama memakai piyama kembar yang hangat dan nyaman.
Kamu pun terlelap. Merasa begitu aman di pelukan abangmu. Begitu dicintai, begitu diperhatikan, begitu diurus.
“Goodnight… Adek sayang Abang…” gumammu sebelum benar-benar hanyut dibawa kantuk, menuju alam mimpi yang selalu indah di saat kamu tertidur di pelukan abangmu.
“Goodnight, Sayang… Abang juga sayang Adek. Sayang banget.” Caleb tersenyum, mengecup keningmu lembut.
Pria itu memandangimu yang tertidur nyenyak, tertawa sendiri di dalam benaknya. Kamu lagi-lagi jatuh ke dalam permainannya. Tapi tidak masalah. Kamu aman, Caleb bisa pastikan itu. Kamu hanya tidak bisa kemana-mana, tidak bisa pergi dari dekapan Caleb yang terasa aman sekaligus berbahaya pada saat yang sama.
Kamu tidak berhalusinasi tadi saat kamu di kamar mandi tempat karaoke. Seseorang sungguhan mengintipmu dari balik pintu. Malah, seseorang tersebut menyewa ruangan di sebelah ruanganmu dan teman-temanmu hanya lima belas menit setelah kamu menyewa milikmu.
Seseorang tersebut mengikutimu saat kamu tersesat di lorong gelap tempat karaoke, berjalan sendirian dengan bingung karena seseorang tersebut tahu pasti kamu tidak ingat nomor ruanganmu. Dan ketika kamu menoleh, seseorang tersebut buru-buru masuk ke salah satu bilik yang kosong, menggunakan evol-nya untuk tidak membuat suara, sehingga tampak seperti dia hilang tiba-tiba.
Lalu saat handphone-nya bergetar tidak sampai lima menit kemudian, sudut bibirnya tertarik. Rencananya sudah berhasil.
Kamu memang tidak bisa tanpa dia, kan? Dia sudah menyetelmu sedemikian rupa—seumur hidupmu, sejauh yang bisa kamu ingat—untuk selalu bergantung kepadanya. Dengan begitu, kamu tidak akan bisa kemana-mana. Kamu hanya akan jadi miliknya. Terus berada di dalam lingkaran yang dia ciptakan, hanya berisikan kamu dan dia.
Adek dan Abang. Adeknya Caleb, Abangnya Adek.
Selama nafas Caleb masih hangat dan berhembus.
