Actions

Work Header

Abang Cuma Milik Adek!

Summary:

Adek yang takut kehilangan sang abang ke pelukan wanita lain memutuskan bahwa sudah saatnya dia menandai klaim terhadap Caleb yang sangat disayanginya.

Notes:

Hai... makasih yang sudah mau membaca. Ini pertama kalinya aku post fanfic CalebMC di AO3, pertama kalinya pula bikin fanfic sepanjang ini haha. Because I want to do something untuk memeriahkan birthday nya Caleb so why not... Hopefully there will be more in the future! Ini intinya hanya persenggamaan Abang dan Adek jd please don't expect too much plot hahaha! Bahasanya pun agak tidak sesuai KBBI. Semoga bisa bikin para reader sekalian bas-eh-menikmatinya!

Work Text:

MC marah. Marah besar.

Hari ini dia membuka instagram Caleb lagi. Dia tau dia harus mulai mengurangi obsesinya ini karena ujung-ujungnya bikin dia sakit hati. Dia mengecek instagram Caleb sesering minum obat... tiga kali sehari. Bahkan kadang lebih. Akibat menjadi adik yang terlalu posesif ke abang sendiri.

Abangnya memang terlalu sempurna. Tampan dan rupawan, tinggi dengan tubuh atletis dan indah seolah dipahat oleh pematung ternama. Cerdas luar biasa dengan kepribadian yang menyenangkan. Tidak ada cela. Dari dulu, semua orang baik laki-laki maupun perempuan selalu mengerubunginya kapanpun dan di manapun. Bagai laron yang mengerubungi cahaya.

Tapi Abang Caleb itu milik MC seorang. Dia tidak mau berbagi. Itulah alasan kemarahannya pagi ini.

Tadi malam MC sedih karena Caleb menghubunginya dan bilang dia tak bisa pulang ke Linkon akhir pekan ini, meskipun pada akhirnya Caleb menawarkan MC yang datang mengunjunginya ke Skyhaven. Karena akhir pekan ini spesial. Hari Sabtu tanggal 13 Juni nanti adalah hari ulang tahun Caleb yang ke-19. Rencana yang sudah ia susun untuk mereka menghabiskan waktu di Linkon di hari itu terpaksa harus dibatalkan, dan MC harus memutar otak lagi untuk rencana perayaan ulang tahun di Skyhaven. Itulah sebabnya dia membuka Instagram.

Secara otomatis jarinya mengklik profile instagram Caleb. Tidak ada yang aneh, isinya kebanyakan  foto-foto MC, kadang dengan Caleb, kadang dengan Nenek. Beberapa foto-fotonya bersama teman lelakinya. MC sudah hafal itu semua. Secara otomatis lagi jarinya mengetuk tab foto yang ditautkan. Foto-foto yang baru saja diunggah tadi malam, lalu menandai Caleb. Sepertinya berada di semacam kelab malam, abangnya itu dikelilingi teman-teman sebayanya. Tertawa bahagia di beberapa foto, tangan memegang segelas apa yang sepertinya minuman keras. Bahkan pada salah satu foto, si pemilik akun yang adalah seorang wanita sangat cantik mengunggah swafotonya yang sedang merangkul Caleb yang tidak melihat ke arah kamera, melainkan sedang tertawa ke arah temannya yang tak tertangkap kamera.

Darah MC mendidih melihatnya. Dia tahu persis abangnya tidak punya pacar karena MC selalu wanti-wanti. Abang boleh kuliah jauh-jauh ke Skyhaven, tapi Abang tidak boleh punya pacar. MC tidak akan merestuinya. Abang hanya tertawa saat itu, lalu mengacak-acak rambut MC.

"Dek, kaya Abang bakal ada hati sama cewek lain saja. Wanita di hati Abang cuma dua. Satu adeknya abang yang cantik, lucu, dan menggemaskan ini. Satunya lagi Nenek. Abang nggak butuh yang lain." janjinya saat itu.

Ya, mungkin Abang memang bisa setia dan menjaga dirinya. Tapi pesonanya terlalu luar biasa, mata-mata wanita lain yang jelalatan ke arah abangnya lah yang MC khawatirkan. Kadang ingin rasanya MC meminta abangnya untuk berpakaian tertutup dari leher hingga kaki, lengkap degan masker dan topi tiap kali keluar rumah. Agar ia tak dilirik-lirik oleh siapapun.

Dua hari lagi MC akan berangkat ke Skyhaven untuk merayakan ulang tahun Caleb. Nenek sudah memberinya uang saku tambahan untuk membeli kue ulang tahun untuknya nanti. MC juga sudah mengumpulkan uang jajannya selama beberapa bulan, yang tadinya ingin dia pakai untuk membelikan kado ulang tahun Caleb. Tapi sepertinya MC harus mengubah rencana. Abang itu punyanya, dan MC harus memastikan kalau Abang harus tetap menjadi milik MC seorang.

 

***

Skyhaven, 13 Juni.

Pagi-pagi sekali MC sudah diantar Nenek ke stasiun untuk naik kereta ke Skyhaven. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang ketika MC melangkahkan kakinya di kota terapung di atas langit itu. Caleb sudah menunggunya tepat di pintu keluar stasiun, tampak luar biasa tampan dengan baju kasualnya, lengannya memeluk sebuah buket bunga. Baby breath dan hydrangea, kesukaan MC. Dia langsung memeluk MC erat ketika tubuh mereka berserobok.

"Selamat datang di Skyhaven, Adek Sayang! Maaf ya mendadak Abang nggak bisa pulang karena 2 hari lagi harus ikut pelatihan Deepspace Tunnel jadi harus standby di sini. Tapi hari ini sampai besok Abang khusus buat Adek seorang."

MC merengkuh leher Caleb agar tubuhnya yang tinggi itu lebih menunduk untuk mendaratkan kecupan sayang ke pipi kiri dan kanannya, "Selamat 19 tahun, Abang Sayang! Sayang Adek selamanya, ya!"

Caleb hanya tergelak. Seakan-akan hal itu butuh diingatkan. Seolah-olah di saat dia terjaga, bahkan kadang di mimpi-mimpinya di malam hari saat terlelap, adik kecilnya ini pernah alpa dari pikirannya.

"Ini buat Adek?" MC berbinar-binar melihat buket bunga cantik yang dipegang Caleb, "Makasih Abang! Padahal Abang yang ulang tahun malah Adek yang dikasih bunga."

"Adek datang ke sini aja sudah jadi kado buat Abang. Adek ngga bawa kado pun ngga apa-apa." Caleb tersenyum hangat seraya meraih koper yang dipegang MC, menuntunnya keluar stasiun. "Pokoknya hari ini kita senang-senang dan makan enak, ya!"

MC tersenyum nakal dan misterius. "Siapa bilang aku nggak punya kado buat abang? Ada dong, tapi Adek siapin dulu, ya! Nanti malem Adek kasih, kalau kita udah balik ke asrama."

Seperti janji Caleb, hari itu ia habiskan untuk mengajak sang adik bersenang-senang di Skyhaven. Makan siang di sebuah kafe yang menjadi spot favorit para turis karena menu-menunya yang unik namun lezat. Menghabiskan hari di Skyhaven Amusement Park, dan diakhiri dengan makan malam di restoran romantis pilihan MC yang sudah ia cari-cari di internet dan di booking sebelum datang kemari, di mana MC memberikan Caleb kejutan kue ulang tahun yang besar yang dibawakan oleh pelayan restoran ketika mereka duduk di spot paling cantik di restoran tersebut, disponsori oleh Nenek.

"Makasih ya, Dek. Ulang tahun Abang yang sekarang berkesan sekali. Adek kado terbaik Abang tahun ini" yang hanya dibalas MC dengan senyum penuh rahasia.

Mengakhiri hari yang menyenangkan itu, sudah hampir pukul 11 malam ketika mereka sampai untuk bermalam di asrama Caleb. Kamarnya itu biasanya ditempati oleh 2 orang, tapi atas desakan Caleb, sang teman sekamar pulang ke rumahnya di akhir pekan itu, sehingga Caleb leluasa mengajak sang adik untuk bermalam bersamanya. Toh kedua kakak-adik itu sudah terbiasa tidur sekamar bahkan seranjang ketika mereka tumbuh besar, sehingga ini bukanlah hal yang tidak lazim. Apalagi kamar asramanya memiliki 2 ranjang yang nyaman.

Kamar asrama Caleb cukup besar namun nyaman, dengan jendela yang menghadap ke lautan awan. Ditempatkannya koper MC di samping kasur yang berada di paling dekat pintu, kasurnya sendiri.  Sementara dia akan menempati kasur teman sekamarnya malam ini.

"Mandi dulu ya, Dek, baru tidur. Banyak keringetan kan hari ini. Adek mau duluan mandi?"

"Abang saja yang duluan. Adek mau siap-siap dulu." Ketika Caleb masuk ke kamar mandi, MC membuka koper yang ia bawa dari Linkon, mempersiapkan peralatan perangnya malam ini. 'Siap-siap' yang dimaksudnya adalah: ia bermaksud merayu sang abang malam ini. MC lelah hanya berperan sebagai adik. Dia ingin lalat-lalat yang suka mengerubungi abangnya menjauh. Dan malam ini, dia akan mengklaim kepemilikan terhadap Caleb seutuhnya, termasuk kegadisannya. Malam ini, ia akan bercinta dengan abangnya.

Ketika MC sudah mandi dan mengeringkan badannya dengan handuk, ia mengeluarkan dan mengenakan senjata rahasia yang baru dibelinya 2 hari yang lalu itu. Sebuah babydoll lingerie yang imut namun luar biasa seksi berwarna merah muda transparan dan aksen toska muda, dengan celana dalam senada. Buah dadanya tidak ditopang oleh apapun di balik lingerie berbahan nilon tipis tersebut dihiasi oleh pita besar berwarna toska, dan MC merasakan putingnya sudah mengeras dan menonjol akibat gesekan dan udara malam yang dingin.

Setelah menghitung sampai 10 untuk mengumpulkan keberaniannya, MC keluar dari kamar mandi. Caleb tengah memunggungi pintu kamar mandi, duduk di kasur yang akan ditempati MC seraya menepuk-nepuk bantal agar sang adik biss beristirahat dengan nyaman. Ia sudah mengenakan kaos biru tua dan celana jogger abu-abu favoritnya.

"Sudah Abang rapikan, Dek. Kamu yang nyaman ya tidur—" Caleb berbalik, dan semua kata-kata yang hendak ia ucapkan tertahan di kerongkongan.

Sang adik tampak begitu menggoda dan luar biasa seksi, tanpa mengurangi kesan innocent yang melekat padanya. Dia tampak seperti malaikat namun juga penggoda yang memanggilnya ke jurang maksiat, jauh lebih erotis daripada bayang-bayang sang adik yang hadir di mimpi basahnya. Mata Caleb tak kuasa untuk tidak menjelajahi setiap senti kemolekan tubuh sang Adik, mulai dari puncak payudaranya yang menegang dan menggelap di balik nilon tipis hingga ke celana dalam yang menyembunyikan liang rahasianya, berakhir ke sepasang kakinya yang telanjang. Caleb bersusah payah menelan ludah, jakunnya naik turun. Dia bisa merasakan aliran darah menuju ke kontolnya yang bersemangat, berdiri tegak di balik celana joggernya, tanpa dihalangi oleh pakaian dalam.

"Dek? Apa nggak kedinginan?" Pertanyaan bodoh macam apa itu, teriaknya dalam hati.

MC menyadari efek yang ditimbulkan oleh cara masuknya yang luar biasa, senyum nakal dan menggoda tersungging di bibirnya. Batang keras milik Caleb tercetak jelas di balik celana, pertanda ia menyukai apa yang ia lihat. Berjalan perlahan agar tetap terlihat sensual, MC mendekati sang abang yang terduduk kaku di pinggir ranjang. Dengan berani, ia mengangkat tubuh mungilnya ke pangkuan Caleb dan duduk di sana. Tangannya melingkari leher Caleb.

"Selamat ulang tahun, Abang. Ini kado spesial dariku untuk Abang. Abang kan bilang tadi kalau aku kado ulang tahun paling spesial untuk abang. Jadi Adek seutuhnya milik Abang malam ini." MC berkata dengan suara rendah. Matanya menggelap penuh syahwat, merasakan kerasnya kontol sang Abang yang tak sengaja bersentuhan dengan lubang memeknya yg tertutup celana dalam nilon tipis. Caleb mengerang, dan MC bisa merasakan lubangnya berkedut karena kedekatan intim itu.

Caleb masih terlalu kaget untuk bersuara. Apakah ini kenyataan, atau jangan-jangan dia sedang terjebak di alam mimpi karena terlalu lama mendamba? Napasnya tercekat merasakan hangatnya napas MC di wajahnya dan lembutnya tubuh mungilnya di pangkuan.

Melihat sang abang yang sepertinya mengalami korslet sejenak, MC makin mencondongkan tubuahnya ke arah Caleb, dan mengecup bibirnya pelan. Mata Caleb semakin terbelalak merasakan bibir mungil MC yang bersentuhan dengan bibirnya. Tanpa berpikir panjang, Caleb meraih bagian belakang kepala sang Adik agar bibir mereka semakin bertaut tanpa ada jarak. Hanya perlu beberapa detik hingga ciuman pertama mereka yang malu-malu berubah menjadi ciuman yang jorok, basah, dan panas. Caleb melumat bibir MC dengan penuh nafsu, menggigit kecil bibir atas dan bawahnya, menjilati sela-sela bibirnya utk memberi kode kepada sang adik agar membuka mulutnya. MC menangkap kode tersebut dan membuka mulutnya, serta merta lidah Caleb menerobos masuk dan bergumul dengan lidah sang gadis di mulutnya yang hangat. Lidah Caleb menyisir tiap lekukan mulut MC, memetakan setiap celah dengan tekun. Saliva mengalir di sudut bibir MC hingga turun ke dagu, akibat bibir dan lidah kedua insan yang dimabuk kepayang.

Perlu beberapa menit hingga kedua kakak beradik itu memisahkan diri, kepala saling menjauh dengan nafas memburu, mengejar oksigen. Pandangan mereka berkabut, hawa nafsu sudah menguasai pikiran masing-masing.

"Adek kok nakal banget sekarang, pakai baju seronok gini pula? Siapa yang ngajarin?" ujar Caleb ketika nafasnya tidak lagi memburu kencang. Jemarinya perlahan menelusuri jengkal tubuh MC yang halus seperti mentega. Dari wajah, turun ke leher, hingga ke pinggiran lingerie sang gadis di dadanya, renda-renda kecil yang menghiasi tubuh.

"Aku siapin semua ini sebagai kadoku untuk Abang. Supaya Abang nggak lagi ngelihat aku hanya sebagai adik. Abang itu punyaku, punyaku saja!"

Walau kontol Caleb yang berdiri tegak sudah semakin keras setelah sesi ciuman basah mereka barusan, tak kuasa sang jaka merasa ukuran kelaminnya tersebut semakin membesar ketika mendengar klaim posesif sang adik. Secara naluriah, ditariknya badan MC semakin mendekat di pangkuan, hingga terasa olehnya batang kerasnya tersebut berada sejajar dengan liang senggama MC yang panas dan sempit, hanya terpisahkan oleh 2 helai pakaian mereka. Seolah mengejar kenikmatan yang sama, pinggul MC bergerak naik turun menggesek-gesekkan mekinya di batang kejantanan Caleb. Caleb pun menggeram nikmat.

"Adek kenapa jadi birahi gini? Gesek-gesek memeknya ke kontol Abang?" Ditariknya tengkuk MC makin mendekat, digeligiti dan dihisapnya area di mana pundak dan leher si gadis bertemu hingga muncul bercak-bercak kemerahan di kulitnya yang mulus. MC mendesah keenakan.

"Mmmhh Abang, buka, please..." rintih MC binal. Ditariknya kaos Caleb agar ia bisa merasakan kulitnya yang panas langsung di tangan. Caleb tertawa kecil, membantu MC dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi agar kaosnya terlepas. Tanpa atasan, tubuhnya yang berotot indah seolah dipahat terpampang seutuhnya di depan mata MC.

Ah, indah sekali. Sudah lama MC memimpikan ini, menelusuri setiap jengkal tubuh abangnya yang indah dan berotot dengan jari dan lidahnya. Satu persatu... banyak yang rasanya ingin ia lakukan, tapi klitorisnya sudah berkedut-kedut meminta pelepasan. MC mengikuti hawa nafsunya, ditelusurinya tulang selangka dan leher sang abang dengan lidahnya. Rasanya segar dan wangi sabun mandi. Perlahan-lahan lidahnya yang nakal semakin turun ke arah dada Caleb yang sejajar dengan matanya. Dadanya indah dan besar karena Caleb menghabiskan berjam-jam di gym demi membentuk tubuh atletisnya. Perlahan MC mengelus puting Caleb yang kecil dengan jempolnya, geli karena sang Abang mengeluarkan suara lenguhan keras karena keisengannya itu. Semakin berani, MC mengeluarkan lidahnya dan menjilati puting kecoklatan Caleb yang mungil, layaknya kucing kecil. Sesekali digigit-gigitnya gemas, lalu dihisapnya ke dalam mulutnya hingga pipinya mencekung. Tak lupa puting sebelah kanannya mendapatkan perlakuan serupa. Pinggul MC terus bergerak cepat naik turun, mencari kenikmatan dari peraduan dua kelamin yang masih tertupi pakaian. Ia bisa merasakan vaginanya semakin basah dan lengket hingga ke celana dalam nilonnya.

Butuh kemauan kuat bagi Caleb untuk menahan serangan-serangan MC yang tanpa henti. Tapi sang adik harus dihentikan, karena kalau tidak bisa-bisa dia mempermalukan dirinya sendiri dan langsung berejakulasi detik itu juga.

"Adek, stop dulu." Caleb terengah-engah. Wajahnya benar-benar terlihat cabul sekarang, muka memerah dan mata yang liar dan menggelap, hampir seluruh wajahnya basah oleh keringat, padahal malam itu cukup dingin. "Kita gantian sekarang. Adek harus rasakan juga pembalasan dari Abang."

Dengan mudahnya seolah MC hanya seringan bulu, Caleb menggendongnya dan memindahkan MC ke tengah kasur. Kepala MC bersandar di tengah bantal tubuhnya dikurung oleh tubuh Caleb yang jauh lebih besar.

"Adeknya Abang kenapa sekarang jadi tiba-tiba binal gini? Sejak Abang tinggal kuliah di Skyhaven, Adek jadi berani nonton porno ya?"

MC terkikik geli. Sebenarnya, bahkan saat-saat abangnya masih tinggal bersama di Linkon, MC remaja yang penuh rasa penasaran itu suka iseng menonton video porno di ponselnya pada malam hari. Dia suka membayangkan wajah laki-laki di video tersebut adalah abangnya, dan suatu saat nanti MC ingin melakukan hal-hal jorok yang ia nonton bersama Caleb. Butuh waktu lama dan motivasi kuat baginya untuk mengumpulkan keberanian...

Diraihnya tangannya ke wajah Caleb agar mendekat, dan disambutnya bibir sang abang dengan cumbuan mesra. Selama beberapa saat tak ada yang berbicara, hanya suara kecap basah ketika lidah dan bibir mereka bertaut dalam kerinduan.

"Abang.. memek Adek udah gatel banget. Pengen dimasukin..." rengeknya ketika cumbuan mereka berakhir.

Caleb tertawa kecil. Tidak sabaran sekali, si cantiknya yang masih perawan ini, "Nanti dulu ya, Sayang. Ukuran Abang agak... besar. Kasihan nanti kalau langsung masuk bisa-bisa Adek kesakitan. Kita lemesin dulu aja ya, Dek." Ditariknya celana joggernya hingga lepas dan dilemparnya sembarangan ke lantai. Kini Caleb telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi.

Bagai ditarik oleh gaya gravitasi, pandangan mata MC langsung tertuju ke batang kejantanan abangnya yang sudah menampakkan diri. Matanya membulat dan tertegun. Abang rendah hati sekali! Bukan agak besar lagi.. tapi besar banget! Bintang-bintang film porno yang pernah ia tonton pun tak ada apa-apanya. Berdiri tegak dan tebal hingga menyentuh pusar, kemerahan dan berurat, kontol abangnya terlihat sangat mengintimidasi. Ada sedikit cairan di celah kecil kepalanya. Rambut-rambut halus bak hutan memenuhi akarnya yang tebal. Kontol Abang bergerak pelan seolah bahagia mendapat perhatian penuh dari sang kekasih. Tanpa sadar, lubang vaginanya berkedut meratapi kekosongan.

Caleb tersenyum mendapati reaksi sang adik. Matanya terpana tanpa malu-malu menatapi kontolnya yang tegang, bibirnya membentuk o kecil. Setetes liur yang ia tak sadari sudah terbit menetes ke dagunya.

"Udah lihat-lihatnya, Sayang? Masa Abang doang yang dilihatin Adek, Abang kan juga pengen lihat. Bajunya Adek cantik banget, Abang seneng sama kadonya. Tapi kita buka dulu ya sayang bungkus kadonya ini, dalamnya pasti lebih cantik."

Berhati-hati agar lingerie cantik yang dibeli adiknya untuknya ini tidak rusak, Caleb membuka pita besar yang disimpul tepat di bagian dada, seolah-olah menggoda untuk dibuka layaknya pita pada bungkusan kado.

Hadiah utama yang ditemukan oleh Caleb adalah sepasang buah dada yang cukup besar, bulat, dan ranum. Pentilnya berwarna kecoklatan, warna tercantik yang pernah Caleb lihat. Dengan kesadaran penuh, diraupnya payudara kanan sang adik dan diremasnya pelan. Ah kenyal sekali... enak. Jempolnya bermain-main di puting, menggoda dan merayu hingga puncak payudara itu semakin tegang dan mengeras.

"Ngghhh... Abang. Nenenku geli. Mau diisep sama Abang." MC merengek manja.

Tanpa perlu diminta dua kali, Caleb menurunkan wajahnya mendekati payudara MC dan menjilati areolanya. Berputar-putar mengelilingi tanpa pernah menyentuh puncaknya, sengaja membuat MC frustasi. MC makin merengek, rindu merasakan puncak payudaranya dimainkan oleh lidah dan mulut abangnya yang basah dan hangat. Ditariknya rambut Caleb dengan frustasi, memohon dengan erangan agar Caleb berhenti menggodanya.

"Cantiknya Abang serakah dan nggak sabaran bangeet." Masih ingin sedikit menggoda MC namun dia sendiri pun sudah tak tahan dengan sajian nikmat tepat di depan mata. Ditiupnya sedikit udara ke puncak payudara sang adik, dan akhirnya dimasukkannya ke mulut.

Enak... enak sekali. Apakah puting selalu seenak ini? Apa ini karena milik MC? Tak ada satupun bagian tubuhnya yang tidak cantik. Rasanya manis dan memabukkan, Caleb tidak bisa berhenti menyusu. Bergantian dihisapnya pentil MC ke mulutnya, dihisap rakus dan digigit-gigit kecil. Puncak payudara yang sedang tidak berada di mulutnya ia mainkan dan pelintir di antara jempol dan telunjuk. Selama beberapa saat, di kamar itu hanya ada suara mulut Caleb yang sibuk mencecap serta menyusu, dan suara rintihan MC yang mendesah keenakan.

Tidak tahu berapa lama waktu yang dihabiskan oleh Caleb untuk melepaskan payudara MC dari mulutnya, tapi ketika akhirnya iya melepaskan pentil MC dengan suara 'pop' pelan, ekspresinya seperti orang mabuk.

"Enak banget nenennya Adek. Bikin abang mabuk kepayang." Caleb membersihkan sekitar bibirnya yang basah oleh air liur, "Abang boleh buka semua ya, Dek? Kakinya buka yang lebar, ya!"

Meninggalkan payudara MC yang dari tadi asyik dipermainkan oleh jari jemarinya, Caleb menjalankan misinya bergerak ke bawah. Menelusuri perut MC yang rata dan halus seperti mentega, masuk ke ceruk pusarnya hingga MC terkikik geli, sampailah pada pinggiran celana dalamnya yang berenda. Kaki MC dibuka lebar-lebar, dan Caleb menelan ludah ketika melihat spot basah tepat di bagian tengah. Diciuminya kedua paha kiri dan kanan sang adik hingga ia merintih. Kedua tangan Caleb berpegangan pada pinggiran celana dalamnya yang elastis, ingin mencari lebih jauh sumber basah tersebut.

"Angkat pantatnya sedikit, Sayang." MC melakukan seperti yang diinstruksikan, demi memberikan akses abangnya menelanjangi seluruh tubuhnya. Perlahan penutup tubuhnya terakhir itu dilucuti dari tubuhnya dan kedua insan tersebut polos tanpa sehelai benang pun, telanjang bulat.

Caleb terkesima melihat memek sang adik terpampang nyata di depan matanya. Organ intim yang selama ini hanya ia bisa bayangkan dan hadir dalam mimpi-mimpi basahnya kini bisa ia raih, bahkan sesaat lagi akan menjadi tempat kontolnya berlabuh. Memek MC kemerahan dan ditutupi rambut-rambut halus, liang senggamanya sangat becek dan terus mengeluarkan nektar hingga membasahi sprei.

"Lihat di sini ada yang kecil di tengah memek adek namanya klitoris. Salah satu bagian sensitif wanita." Jari telunjuk dan jempol Caleb bermain dengan kelentit MC yang menonjol, menekan-nekan dan mencubitnya pelan, dihadiahi oleh erangan dan desahan sang adik. Kakinya semakin dilebarkan, "Lalu di tengahnya lagi jauh agak ke dalam ada lubang namanya vagina. Nanti kontol Abang masuk ke sini untuk ngentotin Adek." Jari-jarinya yang besar menyodok ke dalam lubang senggama MC yang sempit namun basah, "Tapi karena Adek belum pernah penetrasi sebelumnya jadi harus dilonggarin dulu biat nanti nggak sakit waktu abang masukin."

Bahkan 1 digit yang dimasukkan Caleb ke lubang meki adiknya itu terasa sangat ketat. Jempolnya mengelus-elus kelentit MC agar dia tetap rileks, sementara telunjuknya mendorong ke dalam dan meregangkan lubang senggamanya. Cairan nektar tak henti-henti membasahi jarinya, Caleb pun memasukkan jarinya yang kedua, membuat gerakan menggunting di dalam liang senggama MC agar penetrasi dengan kontolnya yang tebal tidak terlalu menyakitkan untuk adiknya tersayang.

Sensasi abangnya yang mengobok-obok liang senggama MC begitu enak sampai-sampai ia merem melek keenakan, mulutnya tak henti-henti mendesah dan mengerang. Caleb sungguh sangat pintar mencari titik-titik sweet spot MC, yang membuat si gadis serasa melihat bintang. Ketika Caleb menekukkan jari telunjuknya dan menyentuh G-spot MC dengan lihai, tubuhnya menggelinjang karena nikmat.

"Bang, Adek pengen pipis, berhenti dulu." ia merengek seraya menggoyangkan pinggul, berharap 'siksaan' sang abang bisa di pause sesaat. Tapi bukannya menyingkirkan tangannya dari kemaluan MC, Caleb malah semakin mendekatkan wajah agar bisa melihat lebih jelas. Gerakan jarinya mencoblos dan meregangkan lubang MC semakin intens, jempolnya bergerak makin cepat menggoda kelentit si manis.

"Nggak apa-apa, Sayang, pipis aja. Abang mau lihat."

Dan seperti adik yang patuh, MC tidak bisa menahan hasrat dan memuncratkan cairan beningnya tepat di wajah abang. Caleb tersenyum cabul, merasa puas bisa membawa gadisnya ini ke puncak kenikmatan. Disekanya cairan bening yang dimuncratkan tadi dari wajahnya dan dicicipi. Apapun yang berasal dari sang adik tentulah enak.

"Abang.. mesum banget. Itu jorok bang pipis Adek sampai muncrat ke muka Abang." MC berusaha duduk, meraih wajah Caleb dan membantu mengelap cairan yang membasahi wajahnya. Caleb hanya bersandar manja.

"Mana mungkin. Semua bagian dari Adeknya Abang nggak ada yang jorok."

MC mengelus-elus wajah abangnya dengan sayang, membersihkan sisa-sisa cairan yang membasahi wajah tampannya. Caleb hanya tersenyum dan sedikit-sedikit mengecup tangan MC. Persis seperti anak anjing, pikir MC dalam hati. Si gadis menelusuri hidungnya yang mancung dan indah ketika sebuah pikiran nakal terbersit di benaknya.

"Bang."

"Hmm?"

"Adek mau main lagi. Tapi mau ganti posisi." tangannya terus menerus memijit hidung mancung sang abang, "Boleh nggak aku dudukin hidung Abang?"

Caleb sedikit terkejut dengan permintaan MC, yang dilontarkan seenteng meminta beli es krim. Tapi melihat betapa cabulnya adiknya itu malam ini, ia sedikit mengerti. Malah ia merasa senang dan bangga bahwa bagian-bagian tubuhnya membangkitkan nafsu syahwat gadis kesayangannya ini.

"Beneran deh, Dek. Kok baru ditinggal sebentar Adek udah cabul gini?" Caleb tergelak.

"Abang juga cabul!" pipinya dikembungkan seperti ikan buntal membuat Caleb gemas, "Boleh yaa abang, please? Please?"

"Hmm, boleh deh. Tapi syaratnya Abang boleh jilmek sama colmek Adek, ya!"

Ah, dasar abang nakal! Bahkan menanggapi permintaan adek yang cabul, si abang malah minta yang lebih cabul lagi. Tapi MC semakin sange mendengarnya. Memeknya bahkan sudah terasa basah lagi hanya dengan membayangkannya.

"Dek, ngeces lho!" goda Caleb lagi, dibalas dengan MC yang memukul bahunya pelan, "Yuk, sini tukeran."

Dengan sigap Caleb memutarbalikkan posisi mereka, kini kepala Caleb yang bersandar ke bantal, tubuh MC menduduki dadanya yang bidang dan berotot.

"Angkat badannya ke atas lagi, Sayang. Dudukin muka Abang, pegangan ke sandaran kasur."

MC  berlutut bergerak ke atas dengan bantuan Caleb hingga kedua pahanya mengurung kepala sang abang dengan pahanya. Mata Caleb yang sewarna batu amethyst berkilap-kilap melihat meki adek yang basah tepat di depan matanya.

"Kalau Abang sesak nggak bisa nafas nanti Adek digeser aja, ya!"

Tapi kalau abang mati kehabisan nafas karena dibekap sama meki Adek mah Abang bahagia, Sayang. Pikir Caleb dalam hati, tapi tentu saja tidak diutarakannya keras-keras karena khawatir sang adik malah jadi paranoid.

"Tenang aja, Abang kan kuat." Caleb merangkul kedua paha MC yang sintal dengan kedua tangannya, menuntun si gadis untuk menduduki wajahnya.

Sentuhan pertama hidung abang di kelentitnya yang mengeras membuat MC bagai tersengat listrik. Hanya sepersekian detik setelahnya, bisa ia rasakan organ tubuh abangnya yang basah dan tak bertulang menjilati lubang vaginanya yang berkedut. MC mendesah keras, mencengkram sandaran ranjang untuk menjaga keseimbangannya. Oh, seperti fantasi liarnya selama ini, menduduki hidung abang memang enak sekali.

Caleb menjilati lubang senggama adiknya yang basah oleh nektar yang manis. Sesekali dicecapnya cairan itu dengan lidah dan giginya, tak lupa hidung mancungnya digesek-gesekkan ke klitorisnya yang menegang. Benar seperti dugaannya tadi, setiap jengkal tubuh sang adik enak dan manis. Mendapatkan tambahan semangat dari desahan-desahan dari MC dan tubuhnya yang bergetar hebat, Caleb menjulurkan lidahnya memasuki liang vagina sang gadis. Lidahnya bermain-main, mengecap dan menggoda dinding lubang tersebut, memaksanya untuk memuntahkan lebih banyak cairan untuk disambut Caleb ke mulutnya yang rakus. MC mendesah penuh nikmat dan menggerakkan pinggulnya maju dan mundur, menikmati sensasi hangat dan basah lidah sang abang di liang senggamanya dan kelentitnya yang disodok-sodok oleh hidung abangnya yang mancung dan runcing. Tangan Caleb menggenggam erat pantat MC yang empuk, membantu menuntun pinggulnya bergerak berirama, maju-mundur, naik-turun...

"Enak ya, Dek? Abang jilmekin sama colmekin gini?"

"Mmmhh... Abang... enak banget lidah dan hidung abang kena memek Adek. Hisap terus, please, Abang."

Mulut dan lidah Caleb penuh oleh vagina adiknya. Siapa sangka hanya dengan mencicipi memek wanita tercintanya ini serta mendengarkan desahannya yang penuh kenikmatan, kontolnya sendiri terasa makin tegang dan penuh, tegak paripurna. Rasanya berdenyut-denyut ingin dijepit oleh meki yang saat ini ia kulum dan jilat bak pria penuh dahaga yang menemukan asupan air setelah lama mendamba.

"Abang.. nnghh Abang aku nggak kuat. Rasanya Adek pingin crot lagi." Wajah MC benar-benar tidak karuan sekarang dan dia bersyukur abangnya fokus ke bagian bawahnya hingga tidak bisa melihatnya. Keringat, air mata, dan liur membasahi wajahnya. Lidahnya terjulur dan matanya tak fokus, sangat cabul persis seperti bintang film porno yang pernah ia tonton. Ia mencoba pindah posisi agar tidak lagi squirt di wajah sang Abang, tapi Caleb malah memeluk pahanya lebih kencang, menahannya agar tidak bisa kabur.

"Abang, nanti aku pipisin muka Abang lagi. Lepasin, please..." MC makin merengek tapi tak mempan. Caleb tak akan membiarkan makanan lezatnya lepas dari cengkraman.

MC tidak tahan lagi. Puncak kenikmatan sudah menangkapnya dan ia pun merasakan ledakan ekstasi datang menyerbu, cairan squirtnya muncrat dan langsung disambut oleh mulut abangnya yang rakus, walaupun masih ada yang berhasil lolos dan muncrat di seluruh wajahnya. Orgasmenya begitu kuat hingga ia merasakan guncangan hebat yang membuat buku-buku jarinya yang berpegangan pada sandaran ranjang memutih dan jari kakinya menekuk. Caleb tertegun, karena baru menyadari saat MC pelepasan tadi, tanpa sadar kontolnya juga memuntahkan cairan sperma. Tanpa sentuhan apapun, hanya dari memberikan kenikmatan pada gadisnya.

Vagina MC berkedut-kedut kencang akibat orgasme barusan. Perasaannya campur aduk; puas karena dapat pelepasan, lemas karena orgasmenya yang dahsyat, malu karena lagi-lagi dia pipis yang kedua kalinya di wajah Caleb. Tapi rasanya enak sekali... dan MC masih ingin lebih. Ia masih ingin merasakan kontol abang di lubang senggamanya, menyodok rahimnya dengan brutal.

Pelan-pelan MC turun dari posisinya, membaringkan badannya kembali ke matras, kepalanya bertumpu di dada Caleb. Tangannya menggerayangi dada bidang abangnya, turun ke perutnya yang berotot dan merasakan sesuatu yang basah dan lengket di sana.

"Abang, keluar juga kah barengan Adek?" MC tersenyum jail. Tangannya semakin menjamah ke bawah.

Caleb yang baru saja pulih dari orgasmenya langsung bereaksi ketika digoda sang adik, secepat kilat mengganti posisi mereka dan kini Caleb berada di atas MC, mengungkung seluruh tubuh MC dengan tubuhnya yang besar.

"Adek ini nakal banget, dari tadi godain Abang terus-terusan. Mau Abang hukum, ya?" bisiknya di telinga sang adik, sebelah tangannya meraih tangan MC yang mungil dan menuntunnya ke penisnya yang masih sangat tegang, "Rasain nih kontol Abang masih tegang banget gara-gara Adek. Pengen banget ngontolin Adek, ngobok-obok memek Adek. Mau nggak, Sayang?"

MC takjub pada batang kemaluan Caleb yang kini ada dalam genggamannya. Besar dan keras, namun permukaannya sangat lembut. Bahkan tangan mungilnya tak mampu untuk melingkari seluruh diameter penis sang abang.

"Mau banget please, Abang, Adek mau dikontolin Abang. Adek mohon..." suara MC memelas manja.

Siapa yang kuat kalau adiknya sudah memohon? Selama 19 tahun Caleb hidup, dan 12 tahun sejak sang adik hadir di hidupnya, Caleb hidup demi memenuhi kebutuhan dan keinginan MC. Tidak akan pernah Caleb merasa tenang jika adiknya kekurangan sesuatu. Mungkin didikannya membuat MC tumbuh sedikit manja, tapi ia tetap adiknya tersayang yang selalu akan dimanjakan oleh Caleb sampai kapanpun.

Caleb merasakan kontolnya bergetar hebat, tak tahan untuk akhirnya memasuki lubang memek MC yang sempit dan basah. Tetap, kenyamanan sang gadis adalah hal paling utama, ia merasa bertanggung jawab untuk meminimalisir segala rasa sakit yang dirasakan oleh MC saat persetubuhan pertama mereka ini. Sekali lagi dimasukkan jarinya satu per satu hingga 4 jarinya masuk ke sana tanpa ada halangan, meregangkan lubang senggama sang gadis. Lubang itu sudah sangat basah sekarang, apalagi setelah dua kali squirt hanya dengan foreplay, juga sudah cukup elastis. Caleb berdoa semoga ini sudah cukup.

"Cantik, coba sini dua kakinya ditaro ke bahu Abang, biar Abang gampang masuknya. Yak, Anak pinter... Bilang kalau sakit, ya!" Caleb berlutut dan memposisikan dirinya dan MC, menggesek-gesekkan kepala kontolnya di pintu masuk memek sang adik yang sangat basah, dan perlahan serta berhati-hati mendobrak masuk.

Merasakan bahwa akhirnya penis sang Abang memasuki liang senggamanya yang belum pernah terjamah selain olehnya, MC memutar bola matanya ke atas. Rasanya agak tidak nyaman dan rasa sakit menyengat ketika kontol tebal Caleb meregangkan lubangnya yang sempit, tapi hanya beberapa detik hingga friksi antara dinding vaginanya dan kemaluan Caleb menciptakan gelombang kenikmatan yang perlahan membuncah. Tanpa sadar sang gadis memenuhi lengan berotot dan punggung abangnya yang lebar dengan cakaran-cakaran halus, hanyut dalam gelombang desahan kenikmatan.

Caleb sangat telaten dan sabar, menggerakkan pinggulnya naik dan turun. Batang kemaluannya dimasukkan sedikit demi sedikit ke liang senggama MC, ditarik sampai mendekati pintu keluar, kemudian didorong masuk lebih jauh. Keringat membasahi pelipisnya dan ia mati-matian menahan gejolak di penisnya yang merasakan kenikmatan tak terhingga hanya dengan memasukkan kontolnya ke lubang memek sang adik. Ia tidak ingin ejakulasi lebih dahulu, kenikmatan MC harus nomor satu.

Ketika kontol Caleb sudah sepenuhnya berlabuh di lubang kelamin MC, dahinya berkerut kencang karena mati-matian menahan ekstasi. Di tengah pandangannya yang berkabut dipandanginya wajah cantik sang adik yang dikuasai syahwat, pupilnya berputar ke atas sehingga hampir menyisakan seluruh bagian putih mantanya, desahan-desahan inkoheren keluar dari mulutnya yang separuh terbuka. Tubuh MC sekarang terlipat dua sepenuhnya dalam posisi mating press, dikecupnya kening, pipi serta bibir MC.

"Sayang, lihat kontol Abang sudah masuk sampai mentok." Caleb mengecup seluruh wajah MC lagi, mengisap satu spot di lehernya yang mulus hingga muncul bercak kemerahan. Disentuhnya perut adiknya yang rata, sekarang ada bagian menggembung di sana di mana penisnya yang memasuki si gadis tercetak jelas, "Abang udah boleh gerak belum?"

MC merasakan lubang vaginanya yang penuh oleh kontol abangnya dan ingin lebih, mengangguk kencang. Mendapat lampu hijau, Caleb menggoyangkan pinggulnya maju mundur, kontolnya bergerak di lubang meki sang adik dalam hentakan berirama. Ruangan itu dipenuhi dengan suara gesekan kulit dan kecipak basah. Mereka berdua terhanyut dalam nafsu birahi, bibir saling berpagut, lengan saling merengkuh. Ritme hentakan pinggul Caleb makin lama makin cepat dan tak teratur, tak kuasa menahan nikmatnya sensasi dinding vagina MC yang berkedut dan memijat penisnya.

"Adek, Abang mau keluar. Keluarinnya mau di luar apa di dalam, Sayang?" Caleb tahu pasti kalau sang adik sedang dalam kondisi aman, resiko kehamilan sangat rendah saat ini. Menstruasi berikutnya masih seminggu lagi.

"Ngghhh abang di dalam aja. Adek mau peju abang menuhin memek Adek. Ada pil kontrasepsi. Adek juga mau keluar, Bang."

Dimainkannya jarinya di kelentit MC dan diputar-putarnya dengan ahli. Barulah ketika ia merasakan sang adik mencapai puncak kenikmatan dan mendesah keras hingga lagi-lagi memuncratkan cairan squirt-nya, memijit-mijit kontol Caleb dengan dahsyatnya; Caleb mengizinkan dirinya berejakulasi. Semburan sperma tanpa henti dimuntahkan tepat ke mulut rahim MC, disertai desahan dan lenguhan keras keduanya.

Tubuh besar Caleb jatuh menimpa MC, namun hangatnya berat badan abangnya itu justru ia sambut dengan tangan terbuka. Caleb bersabar menunggu napas gadisnya itu melambat dan teratur, mengelus-elus rambutnya dengan sayang.

"Dek?"

"Hmm?"

"Kerasa nggak? Kontol Abang masih tegang di dalam. Enak banget memek Adek, Abang ketagihan banget nggak cukup sekali," terkejut, MC merasakan batang milik Abangnya yang masih tertanam di tubuhnya kembali mengeras. Orang gila, stamina macam apa ini?

"Abang.. Adek udah capek..."

"Sekali lagi ya, Dek? Please? Adek tinggal nerima aja biar Abang yang kerja."

Caleb menatap MC dalam-dalam dengan senjata utamanya, puppy eyes nya yang ia tahu persis tak bisa ditolak oleh sang adik.

"Hnggg yaudah deh, tapi janji dulu! Sekali aja, ya!" "Abang usahakan, ya!" Caleb mengeluarkan kontolnya dari lubang meki sang adik dan membuat sebagian spermanya mengalir keluar, "Sekarang balikin badan Adek. Nungging depan Abang."

Caleb membantu adiknya berbalik, bantal yang tadinya ada di kepala sekarang menopang wajah MC. Badannya ditekuk hingga menungging, siap untuk digagahi. Caleb menghujani tengkuk, punggung hingga ke pantat MC dan membuatnya terkikik geli.

"Abang mau masuk lagi, ya..." Melebarkan kedua belahan pantat MC untuk memperlihatkan lubang vaginanya yang basah dan berkilap, Caleb mengusap-usap batang kemaluannya tepat di depan mulut kemaluan adiknya, dan dalam satu hentakan, memasukkan seluruh batang kerasnya itu hingga mentok ke ujung. Vagina MC meregang sedemikian rupa mengakomodasi kontol besar Caleb yang tegang.

"Mmmhhh Abang, kok nggak bilang mau langsung dimentokin?"

"Maaf sayang, Abang udah gak tahan banget. Adek nyaman, nggak?"

Caleb sangat menyukai posisi doggy style ini. Entah kenapa, kontolnya terasa masuk jauh lebih dalam ke lubang meki adiknya. Tetap sempit walau licin, penisnya itu masuk lebih mulus ketimbang penetrasi pertama tadi. Liang senggama sang adik serasa seperti rumah baginya sekarang: hangat, nyaman, dan selalu menyambutnya dengan cinta. Caleb menggerakkan pinggulnya maju dan mundur, menggenjot sang adik dengan suara plok-plok-plok teratur ketika bijinya menepuk-nepuk pantat sang gadis, yang membuat keduanya mendesah nikmat.

"Hngggh enak bang. Adek suka kontol Abang mentokin memek Adek."

Caleb merengkuh tubuh sang adik dari belakang, tangannya kini meraih kedua payudara MC yang bergoyang dan memilin-milin pentilnya dengan jari. Pinggulnya terus bergerak dengan hentakan-hentakan brutal, sementara mulutnya menggigit, menghisap, dan meninggalkan ciuman-ciuman basah dan bekas kemerahan di bagian tubuh adiknya yang bisa ia raih. Punggung, tengkuk, bahu, dan bagian dalam telinga MC diserbu oleh mulut Caleb, sementara payudaranya diremas dan dimainkan oleh tangannya yang ahli, dan vaginanya terus menerus disodok oleh penisnya yang besar dan tegang. Semua stimulan itu membuat si gadis merem melek keenakan. Bantal yang menopang wajahnya telah basah oleh liur dan air mata. Lubang mekinya berdenyut pertanda pelepasannya sudah datang mendekat.

"Abang, Adek udah mau cum lagi. Hnggghh..."

"Hufhh...Cum aja, Sayang. Nanti Abang temenin, ya. Kita sama-sama."

Caleb mempercepat ritme genjotan pinggulnya, mengejar puncak kenikmatan. Penisnya ditarik sampai hampir meninggalkan lubang vagina MC dan kembali mentok sampai ke ujung, dan dalam beberapa hentakan, liang senggama adiknya berdenyut-denyut kencang dan meremas kontolnya dengan dahsyat, mengakibatkan cairan pejunya menyembur deras tepat ke rahim sang adik. Caleb memeluk tubuh sang gadis erat-erat, melepaskan ejakulasinya hingga tetes terakhir.

Mereka bertahan selama beberapa menit dalam posisi itu sementara Caleb memulihkan staminanya kembali. Dikeluarkan penisnya yang akhirnya sudah melunak dari tubuh adiknya, beberapa cairan sperma yang melesak keluar ia dorong masuk kembali dengan jarinya. Ini adalah bukti penandaan teritori darinya, seperti anjing yang menandai area kekuasaannya dengan urin.

MC tampaknya sudah nyaris pingsan karena orgasme berkali-kali saat pengalaman pertama pula baginya. Caleb mengecup pelipisnya dengan sayang.

"Tunggu sebentar ya, Cantik. Jangan pulas dulu." Caleb bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi. Secepat kilat ia bersihkan dan basuh seluruh tubuhnya dari sisa-sisa pergumulan barusan. Seselesainya ia mandi, MC sedang berbaring tengkurap di tempat yang sama seperti ketika ditinggalkan tadi dengan mata terpejam.

"Dek, mandi dulu ya, Sayang. Itu nanti badannya lengket, lho."

"Hmmm..." MC hanya bergumam pelan dan membalikkan badan, kedua tangannya direntangkan ke arah sang abang, mata masih terpejam.

Caleb tersenyum melihat manjanya adik kecilnya itu, tapi ia bertanggung jawab mutlak karena gara-gara dirinya sang adik sampai kelelahan. Digendongnya MC ke kamar mandi. Setelah memastikan bahwa air yang keluar dari shower terasa hangat dan nyaman, diturunkan si gadis ke lantai. Mata MC masih tetap terpejam dan bersandar seutuhnya ke tubuh abangnya yang kokoh, bahkan saat pancuran air shower membasahi tubuh.

Caleb menyabuni dan membilas setiap jengkal tubuh dan wajah adiknya dengan hati-hati, lalu setelahnya mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan memakaikan kaosnya yang sangat kebesaran untuk MC. Dibaringkan tubuh adiknya yang setengah tertidur itu di ranjang sebelah, sementara ranjang yang menjadi saksi bisu percintaan hebat mereka dan telah basah oleh berbagai macam cairan tubuh ia bersihkan dan diganti spreinya dengan yang baru dan nyaman. Setelah membersihkan semuanya, kembali digendongnya tubuh sang adik yang sudah tak bertenaga ke ranjangnya sendiri. Ketika mereka sudah sama-sama berbaring bersisian di posisi yang nyaman, direngkuhnya tubuh mungil MC dalam pelukan, menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut. Matanya sudah mulai terpejam ketika MC memanggilnya dengan suara yang berat karena kantuk.

"Abang..."

"Hmm?"

"Adek lihat instagram Abang 3 hari yang lalu. Adek marah banget lihat ada cewek yang selfie sambil pegang-pegang Abang. Abang nggak boleh izinin cewek-cewek deketin Abang lagi, ya! Pokoknya Abang cuma milik Adek!"

Sebuah sirkuit berputar di otak Caleb, dan dia seketika memahami tingkah laku adiknya malam ini. Motif kenapa sang adik yang selama ini bahkan tidak pernah genit kepadanya, tiba-tiba begitu cabul minta disetubuhi. Ternyata kecemburuanlah yang membuatnya berani.

Caleb tersenyum gemas dan mengecup puncak kepala MC dalam dekapannya.

"Iya, Adeknya Abang tersayang. Abang cuma milik Adek. Sekarang tidur, ya..."