Actions

Work Header

Manusia Merdeka

Summary:

Namaku Nugra, saya adalah manusia merdeka.

Work Text:

1965.


Ada ironi yang terlalu getir, bahkan untuk sekadar ditertawakan dalam kepahitan, sepasang tangan yang pernah bersumpah di bawah nama Tuhan untuk merawat kehidupan, kini dipaksa merawat mereka yang sekadar mengantre giliran menuju ajal.

Itulah realita yang harus ditelan bulat-bulat oleh Soedira. Di balik aliran darah priyayi yang diwarisinya, jiwanya telanjur berakar kuat pada penderitaan kaum kromo. Namun, kepeduliannya pada buruh dan kaum papa harus dibayar tunai dengan harga yang teramat mahal. Palu godam penguasa menghantamnya tanpa ampun, mengecapnya dengan stempel dokter komunis. Negara memang tidak langsung menghabisinya—barangkali kecerdasannya terlalu berharga untuk sekadar dijadikan pupuk kuburan—tetapi mereka merenggut nyawa dari hidupnya dengan merampas kemerdekaannya.

Dua tahun sudah ia terkurung di balik tembok tinggi sebuah lapas terpencil. Tempat itu seolah dibungkam oleh rahasia-rahasia kelam yang pelan-pelan menggerogoti kewarasan siapa pun di dalamnya. Dan baru dua hari yang lalu, nasib kembali mempermainkannya, ia ditunjuk sebagai dokter di kamp neraka ini.

Di ruang periksa yang redup dan pengap, aroma karbol menguar tajam, seolah sengaja dituang untuk mencuci dosa-dosa di tempat itu. Namun, sengatan bahan kimia itu tak pernah benar-benar mampu menyamarkan anyir darah dan pekatnya bau keputusasaan yang telanjur meresap ke dalam pori-pori dinding yang lembap.

Soedira duduk membatu. Tatapannya kosong, menembus meja kayu di hadapannya yang urat-uratnya mulai keropos dimakan usia. Pikirannya masih tertinggal pada tahanan yang baru saja ia tangani. Seorang yang diserang stroke. Separuh tubuh lelaki itu lumpuh, lidahnya terlalu kelu untuk sekadar merintihkan rasa sakit. Namun, ketidakberdayaan yang menyayat hati itu rupanya tak sedikit pun menyurutkan kebringasan para penindas. Lebam keunguan dan jejak siksaan baru masih tercetak beringas di kedua pipi sang tahanan.

Di bawah pendar lampu pijar yang bimbang antara menyala dan padam, Soedira perlahan mengangkat kedua tangannya. Ia menatap lekat-lekat sepuluh jemarinya. Jari-jari itu dulu begitu terampil meracik penawar dan menyambung asa. Kini? Ia tak lebih dari seorang penunda ajal. Ia mengobati luka dan memperpanjang napas para tahanan, semata-mata agar mereka memenuhi syarat fisik yang layak saat dada mereka kelak dikoyak peluru regu tembak.

Keheningan yang beku itu mendadak retak oleh lengkingan engsel jeruji dan derap laras panjang yang mengoyak sunyi. Pintu kayu didorong paksa, dan semesta Soedira seketika berbenturan dengan realita yang terlempar ke lantai ubin dalam wujud seorang pemuda yang bermuka baru, ia diseret masuk layaknya seonggok daging tanpa harga diri.

Raga pemuda itu dilemparkan begitu saja ke lantai. Bertelanjang dada, kulitnya yang legam kini menjelma menjadi kanvas mengerikan, dipenuhi peta luka, lebam kebiruan, dan bilur-bilur darah. Tubuhnya berselimut debu bercampur peluh, sementara dadanya naik-turun dengan napas tersengal, rakus memburu sisa-sisa oksigen di udara yang pengap. Meski raga itu tampak hancur, ia perlahan mendongak. Di bawah pendar cahaya lampu yang muram, sorot matanya menantang tajam—sebuah nyala yang menolak padam di ambang keputusasaan.

"Soedira! Bajingan ini tidak boleh mati. Kamu urus dia sampai sembuh," dengus seorang sipir militer yang berdiri menjulang di ambang pintu. Suaranya serak dan berat, mengalun membelah ruangan, lebih terdengar sebagai sebuah ancaman mematikan ketimbang titah biasa.

Sebelum melenggang keluar, sipir itu membetulkan letak laras panjang di bahunya, lalu tanpa aba-aba mengayunkan ujung sepatu botnya yang berlapis baja. Satu tendangan brutal terakhir menghantam rusuk sang pemuda. Terdengar erangan tertahan yang menyayat saat tubuh ringkih itu kembali terkapar, mencium ubin yang dingin. Engsel pintu besi berderit ngilu, disusul gemerincing putaran kunci yang berat. Mereka kembali terkurung, terpenjara dalam keheningan yang dipenuhi aroma anyir darah.

Dalam diam, Soedira bangkit dari kursi kayunya yang berderit. Wajahnya datar, berusaha menyembunyikan badai di dadanya. Ia meraih sebuah baskom seng berisi air dan segulung kapas usang. Perlahan, ia berlutut di dekat tubuh yang terengah-engah itu.

Namun, tatkala tangannya baru saja terulur untuk menyentuh lengan si pemuda, sebuah tepisan kasar dan bertenaga menyentaknya mundur.

Pemuda itu membuang muka. Dengan susah payah ia menarik napas, lalu meludah ke lantai, memuntahkan gumpalan darah pekat bercampur debu tepat di dekat ujung kaki Soedira. Saat pemuda itu kembali menoleh, tak ada lagi rintih kesakitan di wajahnya. Sorot matanya memancarkan kebencian murni yang menyala-nyala. Tatapan itu menguliti Soedira hidup-hidup, menghakiminya, menatap sang dokter tak lebih dari seekor anjing peliharaan serdadu.

Namun, tidak ada bara amarah di mata Soedira. Ia hanya menunduk, lalu dengan gerakan perlahan ia menyejajarkan tubuhnya dengan pandang tahanan baru itu. Di balik kemeja yang telah menguning, koyak, pria itu melihat sebuah codet tebal bekas hantaman popor senapan yang melintang kasar di atas tulang selangkanya—sebuah tanda mata tak terbantahkan dari siapapun yang telah keluar dari ruang penyiksaan.

"Kita sama-sama menunggu mati di sini," ucap Soedira tenang.

Kata-kata dan pemandangan luka itu bagai mantra yang seketika meruntuhkan tembok pertahanan sang tahanan. Pemuda itu terdiam, membiarkan rahangnya yang mengeras perlahan mengendur. Perlawanannya luruh tak bersisa saat Soedira mencondongkan tubuh, merengkuh raga yang penuh luka itu ke dalam bopongannya, menuntunnya naik ke atas ranjang periksa.

Di bawah pendar lampu yang temaram. Jari-jari Soedira yang panjang menelusuri tiap inci tubuh sang pemuda dengan kehati-hatian. Ia mendapati kuku-kuku tangan pemuda itu menghitam dan pecah—tanda siksaan pencabutan kuku di tangsi-tangsi interogasi—serta luka bakar bekas sundutan rokok yang memeta di atas kulitnya.

Saat kapas basah Soedira mengusap memar di dada bidang pemuda itu, menyeka darah yang mengering di leher dan mengoleskan salep di atas luka-luka robeknya. Jarak di antara mereka terkikis habis. Hembusan napas sang pemuda yang berat dan hangat menyapu sisi wajah setiap kali sang dokter mencondongkan tubuh untuk membalutkan perban di pinggangnya yang tegap. Sepasang mata yang nyalang itu kini hanya bisa menatap rahang Soedira.

“Apa yang membawamu ke neraka ini?” tanya Soedira memecah sepi, suaranya nyaris berbisik saat ia menahan siku pemuda itu untuk membalutkan perban terakhir.

Pemuda itu menelan ludah, membiarkan matanya terpaku pada jemari Soedira yang tengah menyentuh kulitnya. “Nugra, nama saya,” suaranya parau.

“Saya baru saja melangkah pulang sehabis seharian memanggul berkarung-karung beras di pelabuhan. Keringat di leher saja belum tuntas mengering, upah harian pun belum genap masuk ke saku celana. Tahu-tahu, segerombolan alat negara menghadang di lorong gelap dekat petakan saya.”

Nugra menghela napas yang terdengar ngilu di rongga dadanya, matanya menerawang menembus dinding sel yang kelam, mengingat malam jahanam di mana kewarasan negerinya telah mati.

“Mereka menggelandang saya ke tangsi militer tanpa surat perintah apa-apa. Mengikat saya di bangku besi, lantas menghantamkan popor bedil ke ulu hati. Mereka membentak-bentak, mendesak saya mengaku kalau saya ini orang partai. Disuruhnya saya mengiyakan soal ikut rapat gelap, menimbun senjata tajam, atau entah apa lagi tuduhan sinting yang lidah saya pun tak sampai untuk mengejanya.”

Sepasang mata legam itu perlahan meredup, menyisakan genangan keputusasaan yang getir.

“Saya ini cuma kuli kromo. Mengeja nama sendiri saja tidak becus, apalagi sudi mengurus perkara politik negara. Tapi di zaman edan ini, mereka rupanya cuma butuh tumbal buat menggenapi daftar buronan. Mereka meremukkan tulang rusuk saya, mencabut paksa kuku-kuku ini, lalu memaksa saya menempelkan cap jempol darah di atas kertas periksa yang aksaranya cuma nampak macam cacing kepanasan di mata saya. Mana ada pengadilan buat orang melarat macam saya? Esok atau lusa, mereka cuma mau menembak mati seorang kuli buta huruf demi tontonan pembersihan negara.”

Mendengar penuturan itu, gerakan tangan Soedira terhenti. Keheningan merayap perlahan, meresap ke dalam pori-pori dinding yang dingin. Diikat oleh keputusasaan yang sama, Soedira menatap lekat ke dalam manik mata Nugra yang menyimpan kelam malam. Dengan segenap kelembutan yang tersisa di ujung jemarinya, sang dokter mengusap sisa peluh yang merembes di pelipis pemuda itu.

Nugra menunduk, menatap tangan Soedira yang tengah mengusap sisa peluhnya. Jari-jari itu begitu lentik, bersih, amat kontras dengan kulit tangannya sendiri yang sekasar parut kelapa.

“Tanganmu terlalu halus buat ikut membusuk di neraka ini,” gumam Nugra pelan, memecah sepi. Sorot matanya kini menyimpan keheranan yang pekat.

“Pasti kamu orang berdarah priyayi, orang macam kamu, yang mestinya duduk nyaman di pusat kota... lantas nista apa yang kamu perbuat, sampai-sampai negara menyeretmu kemari, berdesakan dengan sampah masyarakat macam saya?”

Sebuah tawa yang getir, nyaris tak bersuara, meloloskan diri dari bibir Soedira. Ia membuang kapas berlumur darah itu ke dalam baskom seng, lalu menarik napas panjang yang terasa memberatkan dada.

“Saya bukan orang partai, Nugra. Apalagi bagian dari barisan merah yang mereka buru itu,” bisik Soedira, suaranya mengalun serak, menelanjangi kebusukan sistem yang menjeratnya.

“Gelar priyayi itu sudah lama saya tinggalkan. Saya hanya seorang dokter yang muak melihat kaum kromo mati kelaparan dan penyakitan di lumbung padi sendiri. Saya tinggalkan kemapanan, lalu membangun balai pengobatan di barak-barak buruh dan pesisir. Saya obati mereka tanpa memungut uang, dan saya ajari mereka mengeja huruf agar tak lagi sudi ditipu tengkulak.”

Soedira merendahkan tubuhnya, bertumpu pada tepi ranjang periksa hingga jarak di antara mereka kembali menipis.

“Tapi di negeri yang sedang mabuk darah ini, membela kaum miskin disamakan dengan pemberontakan,” lanjut Soedira, matanya berkaca-kaca memantulkan cahaya lampu pijar yang temaram.

“Mengajari kaum papa membaca dianggap sebagai tindakan subversif. Negara butuh kambing hitam yang punya pengaruh, maka mereka merampas saya. Mereka menempelkan stempel 'dokter komunis' di jidat saya, memfitnah saya sebagai dalang yang menghasut buruh untuk memberontak.”

Sang dokter meraih tangan kasar pemuda itu, menuntun jari jemari yang kuku-kukunya telah tercabut itu untuk menyentuh codet tebal di tulang selangkanya sendiri.

“Kamu pikir dengan status ini mampu menangkis siksaan penguasa, Nugra? Di ruang interogasi tangsi militer, darah saya tumpah sama derasnya dengan darahmu. Mereka merendam saya di bak kotoran berhari-hari, menyetrum tubuh saya, menyiksa saya habis-habisan agar saya bersedia mengakui tuduhan gila bahwa saya ini bagian dari partai. Tubuh saya sama hancurnya dengan tubuhmu.”

Nugra tertegun. Di bawah ujung jemarinya, ia bisa merasakan degup jantung Soedira yang berpacu liar. Di balik wajah yang tenang itu, tersimpan badai penderitaan dari seorang tak bersalah yang niat baiknya dihancurkan oleh negara.

“Lantas... kenapa mereka tidak menembak mati kamu?” tanya Nugra bimbang, suaranya nyaris tertelan keheningan.

“Karena rezim fasis ini sedang butuh puluhan ribu budak,” jawab Soedira dengan kepahitan yang mengiris nurani. “Mereka menangkapi orang-orang seperti kita bukan sekadar untuk dibunuh, atau kambing hitam, tapi untuk diperas tenaganya sampai tulang berserakan jadi debu. Dan budak-budak tahanan itu butuh saya untuk menambal tubuh mereka agar tidak keburu mati sebelum tenaga mereka habis.”

“Gelar saya ini bukan lambang kehormatan, Nugra. Ini rantai budak saya,” gumam Soedira dengan suara yang mulai bergetar.

“Saya dibiarkan bernapas hanya untuk membalut luka-luka di tubuh kalian, memastikan kalian cukup kuat untuk disiksa lagi esok hari atau agar kamu sanggup berdiri tegak saat peluru algojo akhirnya menembus dadamu. Saya cuma tahanan yang dipaksa menjadi perpanjangan tangan malaikat maut.”

 


 

Fajar di tapal batas kewarasan itu belum tuntas menyingsing ketika lengkingan peluit dan teriakan kasar para serdadu membelah udara pagi. Udara dingin yang masih menusuk tulang tak menjadi halangan bagi sepatu-sepatu bot itu untuk menendang pintu sel, menggiring para tahanan keluar layaknya kawanan ternak yang digiring menuju rumah jagal. Mereka diseret menuju hamparan lahan kosong yang dirajai oleh lautan ilalang liar.

Soedira tak luput dari barisan tahanan itu, di ladang ini, ia hanyalah budak yang dipaksa menunduk dan mencengkeram bumi. Gelar dokternya memang memberinya sedikit hak istimewa—pengecualian sementara dari kerja paksa hanya jika ada tahanan yang kolaps atau nyaris mati di tengah ladang. Namun selebihnya, tangan yang terbiasa memegang pisau bedah itu harus ikut tergores tajamnya ilalang, mencabut rumput demi rumput di bawah tatapan awas para penjaga bermata senapan.

Di sudut ladang yang tak seberapa jauh, kabut pagi tak mampu menyembunyikan nestapa yang membalut tubuh Nugra. Luka-luka sisa penyiksaan semalam masih basah dan meradang di balik kaus singletnya yang koyak. Setiap kali ia membungkuk, wajahnya berkerut menahan siksaan yang mengiris daging. Pemuda itu memaksakan diri mencabut akar alang-alang dengan jari-jemari yang tak lagi berkuku, tertatih-tatih menopang berat tubuhnya sendiri di atas sepasang kaki yang gemetar hebat. Tenaganya telah lama terkuras, dirampas habis oleh interogasi neraka.

Namun di tempat ini, kelemahan adalah dosa yang tak terampuni.

Seorang serdadu berseragam hijau legam menangkap siluet Nugra yang gontai. Dengan langkah yang diiringi derak sepatu bot yang mengancam, serdadu itu menghampiri sang kuli pelabuhan. Tanpa peringatan, moncong laras panjang senapannya ditodongkan dengan kasar, menekan keras tepat di pelipis Nugra hingga kepala pemuda itu terdorong ke samping.

"Bangsat merah tidak becus bekerja!"

Makian serdadu itu melengking bengis, menghantam gendang telinga Nugra dari jarak yang teramat dekat, menyakiti telinganya bagai lecutan cambuk. Ujung laras senapan yang dingin itu semakin menekan tengkoraknya, memaksa Nugra menunduk hingga wajahnya nyaris mencium tanah basah. Sang penjaga hanya butuh satu alasan kecil—satu saja perlawanan atau kejatuhan—untuk menarik pelatuk dan melepaskan sebutir peluru murahan menembus kepala sang tahanan.

Dari kejauhan, napas Soedira tercekat. Tangannya yang tengah mencengkeram akar ilalang menegang hingga buku-buku jarinya memutih. Di bawah langit pagi yang bisu, jantung sang dokter berdegup ngilu. Ia menelan ludah yang mendadak terasa seperti serpihan kaca, menyadari bahwa ia harus segera memutuskan, tetap menunduk merawat keselamatannya sendiri atau bangkit menantang laras panjang itu dengan dalih medis, demi merebut pemuda itu dari mulut maut untuk yang kedua kalinya.

Namun nurani selalu memiliki cara yang ganjil untuk membungkam rasa takut. Sebelum nalar sempat menimbang bahaya, sepasang kaki Soedira telah terayun membelah lautan ilalang. Langkahnya tenang, menuntun raganya memotong jarak hingga ia berdiri tepat di antara laras senapan yang dingin dan tubuh ringkih Nugra. Sang dokter merentangkan sebelah lengannya, menjadikan dada dan punggungnya sebagai perisai hidup bagi tahanan yang nyaris tumbang di belakangnya.

"Mau cari mati kamu, Dokter sialan?!" hardik serdadu berseragam itu. Urat lehernya menegang memerah bersamaan dengan laras panjang yang kini bergeser, menusuk keras ke dada Soedira. "Jangan mentang-mentang tenagamu masih dipakai, kamu pikir peluru ini tidak bisa menembus jantungmu!"

Di bawah bayang-bayang maut yang mengintai tepat di ulu hatinya, wajah Soedira tetap dingin. Matanya tak sedikit pun menunduk, namun suaranya mengalun rendah, melucuti amarah sang penjaga dengan kalkulasi utuh yang tak terbantahkan.

"Jikalau Tuan hendak memeras tenaganya sebagai kuli paksa, menghabisinya pagi ini tentu cuma jadi kerugian cuma-cuma bagi negara," ucap Soedira tenang.

"Dua tulang rusuknya retak, dan raganya tengah dirongrong infeksi. Supaya ia sanggup kembali bekerja dengan becus, ia mesti diberi rehat paling tidak tiga hari lamanya. Dan selama sebulan ke depan, berilah ia tugas yang enteng-enteng saja. Bila Tuan berkenan memberi kelonggaran itu, niscaya tenaganya bakal kembali pulih, dan Tuan leluasa memeras keringatnya sekeras yang Tuan kehendaki."

Sang serdadu mendengus kasar. Rahangnya mengeras, menimbang-nimbang untung rugi dari ucapan sang tapol. Di kamp pembuangan ini, seorang kuli yang bugar memang jauh lebih menguntungkan daripada seonggok mayat yang mesti repot-repot diuruk ke dalam tanah. Dengan decakan lidah yang sarat akan kekesalan, ia menyentak senapannya turun, lalu meludah tepat di atas daun ilalang dekat kaki Soedira.

"Bawa bangsat ini dari pandanganku. Kalau dalam tiga hari dia masih tak bisa berdiri, aku sendiri yang bakal menanam kepala kalian berdua di ladang ini," ancamnya seraya memutar tubuh, kembali berpatroli dengan derap bot yang mengangkuh.

Udara di sekitar mereka seketika melunak saat bayangan serdadu itu menjauh. Soedira segera berlutut di atas tanah yang lembap, menyelusupkan sebelah tangannya ke punggung Nugra dan sebelah lagi di bawah ketiaknya. Tanpa ragu, ia memapah tubuh pemuda yang napasnya berderak patah-patah itu. Raga liat sang kuli yang kini terasa teramat ringkih, dibiarkan bersandar sepenuhnya pada bahu Soedira.

Di bawah tatapan pucat langit pagi, Soedira membopong Nugra menjauh dari ladang siksaan. Berat tubuh pemuda itu menekan dadanya, menyatukan ritme napas mereka yang sama-sama tersengal. Tangan Nugra yang kotor mencengkeram erat kemeja lusuh sang dokter, seolah Soedira adalah satu-satunya jangkar kewarasan yang tersisa di neraka tempat mereka berdua.

Ruang periksa itu menyambut mereka kembali dengan keheningannya. Di luar sana, matahari perlahan mulai memanggang ladang pembuangan, namun di dalam kungkungan dinding basah ini, waktu seolah memiliki ritmenya sendiri. Soedira membaringkan tubuh Nugra dengan teramat hati-hati di atas ranjang periksa, membiarkan pemuda itu memburu napas sambil memejamkan mata menahan nyeri yang merambat dari rusuknya.

Sang dokter lantas beringsut mengambil baskom seng dan sehelai handuk kecil. Air dingin membasuh kain itu sebelum perlahan mendarat di dada Nugra, menyeka lumpur ladang, peluh, dan sisa keputusasaan yang menempel di kulit legamnya. Setiap usapan dilakukan dengan ritme yang teramat pelan. Di bawah jemari Soedira, raga yang babak belur itu tidak diperlakukan layaknya tumpukan daging buangan, melainkan serupa pusaka yang tengah dirawat dengan segenap puja.

"Kamu sungguh cari mati, Dokter," bisik Nugra memecah sepi, suaranya parau dan bergetar.

Kelopak matanya terbuka, menatap lekat pada rahang Soedira yang mengeras di bawah pendar lampu pijar yang berkejaran dengan cahaya pagi. Tangan Nugra yang kotor terangkat, mencengkeram pergelangan tangan Soedira, menghentikan sapuan handuk basah itu di atas dadanya.

"Bedil serdadu gila itu sudah menempel di dadamu. Kalau saja telunjuknya gatal sedikit, nyawamu sudah terbang di tengah ilalang tadi. Lantas buat apa... buat apa orang terpelajar sepertimu sudi pasang badan untuk kuli melarat macam saya?"

Tangan Soedira terdiam di atas dada Nugra, membiarkan denyut jantung pemuda itu merambat perlahan ke telapak tangannya. Ia menunduk, mempertemukan sepasang netranya dengan manik kelam sang kuli pelabuhan. Di kedalaman mata dokter itu, Nugra tidak menemukan rasa iba yang merendahkannya, melainkan sebuah keteguhan yang seketika menghangatkan jiwanya yang telah lama beku.

"Sebab di mata saya, nyawa seorang dokter dan seorang kuli pelabuhan tak ada bedanya. Kita ini sama-sama tahanan yang sudah tak dihitung harganya, Nugra," sahut Soedira.

"Jikalau nyawa saya yang tak seberapa ini mesti melayang pagi tadi, biarlah ia melayang lantaran merawat kehidupan. Bukan karena menunduk patuh pada laras senapan mereka."

Jari-jari Soedira bergerak memutar, melepaskan diri dari cengkeraman Nugra hanya untuk berganti mengusap sisi wajah pemuda itu. Ibu jarinya membelai lembut pelipis Nugra, menyingkirkan rambutnya yang lengket oleh keringat.

"Kamu punya tiga hari untuk rehat di ruangan ini," lanjut Soedira, suaranya kini merendah menjadi sebuah bisikan yang menyusup masuk ke ceruk hati Nugra. "Gunakan waktu ini untuk memulihkan napasmu. Jangan terburu-buru menyerah pada maut. Kamu mesti berkeras untuk tetap hidup, setidaknya agar kenekatan saya menantang laras bedil tadi tak berujung sia-sia."

Kata-kata itu meruntuhkan sisa-sisa tembok kepahitan di dada Nugra. Ada sebongkah rasa haru yang mencekik kerongkongannya. Kedua mata Nugra tertutup sesaat karena lelah di tengah neraka duniawi tempat manusia dipaksa saling memangsa, sepetak ruang menjadi saksi bisu takdir yang diikat oleh nestapa, dirawat oleh secercah surga di ambang kehancuran.

Napas Nugra yang berat berembus meloloskan rasa ngilu. Keheningan merajai ruang itu jenak, seolah waktu tengah sengaja menahan putarannya, memberi ruang bagi sisa-sisa adrenalin mereka pasca-ketegangan di ladang tadi untuk mereda. Soedira perlahan menarik tangannya, menjauhkan jarak di antara mereka lantas memeras handuk kecil itu ke dalam baskom seng hingga airnya yang keruh menetes perlahan.

"Jangan panggil aku Dokter," ujar Soedira memecah sepi. Suaranya tak lagi mengalun bak priyayi yang menjaga wibawa, melainkan lirih dan letih, melucuti tata krama dan kasta yang terlanjur membelenggu mereka. "Panggil aku Soedira."

Nugra perlahan membuka kelopak matanya yang terasa berat. Manik kelamnya menatap punggung Soedira yang tengah merapikan baskom di atas meja. Kening pemuda itu berkerut tipis, menyimpan kebingungan yang tertahan.

"Kenapa?" suaranya serak, menyerupai rintihan. "Pantang bagi kuli melarat macam saya menyebut nama seorang terpelajar secara sembarangan. Terlebih... bukankah gelar itu satu-satunya sisa kehormatan yang kamu punya di neraka ini?"

Soedira menghentikan gerakannya. Ia memutar tubuh, lalu bersandar pasrah pada tepi meja kayu yang keropos, menyilangkan lengan di depan dadanya. Sebuah senyum fana yang teramat getir terbit di bibirnya. Ia menunduk, menatap kemejanya yang kini ternoda oleh cipratan tanah dan lumpur ilalang.

"Sebab gelar itu adalah warisan dari kehidupan yang sudah lama mati, Nugra," jawab Soedira, suaranya sarat akan luka yang tak meneteskan darah. "Titel 'Dokter' itu adalah milik dunia luar yang telah membuang dan mengkhianati kita. Di tempat ini, sebutan itu tak lebih dari cap kepemilikan negara."

Soedira kembali mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah pembaringan. Tidak ada langkah mendekat yang tergesa, tidak ada sentuhan yang mengoyak batas raga. Hanya sepasang mata lelah yang mencoba mencari sepetak kewarasan di dalam manik kelam sang kuli pelabuhan.

"Di luar jeruji ini, di hamparan ladang paksa dan di bawah todongan laras senapan serdadu, aku memang tahanan yang ditugaskan menjadi dokter kalian," lanjut Soedira tenang. "Tapi di dalam ruang ini... jikalau kita harus sama-sama membusuk menunggu peluru regu tembak, setidaknya biarkan aku merasa menjadi manusia biasa."

“Soedira.” Satu kata ucapan Nugra itu jatuh menetes di atas batin Soedira. Nugra kelak akan mengukir nama Soedira lamat-lamat di dalam dadanya.

 


 

Matahari di luar sana mungkin tengah memanggang hamparan ilalang, namun di dalam ruang periksa, bayang-bayang kelabu masih bergelayut pekat. Perut Nugra yang mengempis tiba-tiba menyuarakan keroncongan yang lirih, mengoyak keheningan tipis di antara mereka.

Soedira tersenyum getir, lantas beringsut dari tepi ranjang menuju sebuah lemari besi berkarat di sudut ruangan. Dari balik pintunya yang berderit, ia mengeluarkan sebuah piring kaleng yang penyok.

"Hari ini lambungmu tak perlu merana digerus jagung grontol yang kerasnya menyerupai kerikil itu," ujar Soedira sembari berjalan menghampiri pembaringan. "Aku menyisihkan sedikit sisaan dari piring serdadu yang berjaga semalam. Ada kepal nasi putih dan sepotong tempe yang belum basi."

Alih-alih menyambutnya, Nugra justru memalingkan wajah, menatap kosong pada sepetak dinding lapas yang ditumbuhi lumut. Sorot matanya tumpul, dilumpuhkan oleh pasrah yang teramat kelam.

"Buat apa, Soedira?" suara Nugra mengalun hampa. Ia menyebut nama itu perlahan, mengecap suku katanya seolah tengah mengunyah pecahan kaca. "Buat apa menambal perut pada raga yang besok atau lusa bakal ditimbun di dalam liang lahat massal? Makan sisa makanan anjing-anjing itu cuma memperpanjang derita. Biarkan saja saya mati kelaparan di atas ranjang ini. Rasanya jauh lebih terhormat ketimbang memelihara napas hanya untuk dihabisi di depan regu tembak."

Soedira terdiam. Ia meletakkan piring kaleng itu di atas pangkuannya sendiri, lalu duduk kembali di sisi ranjang. Tidak ada raut tersinggung di wajah sang dokter, ia justru menatap wajah samping pemuda itu dengan pendar kelembutan yang menyesakkan dada.

"Keputusasaan adalah racun yang bekerja paling sunyi di kamp ini, Nugra. Ia jauh lebih mematikan dari penyakit disentri atau hantaman popor bedil," tutur Soedira lirih.

Jemari Soedira meraih piring itu, menyodorkannya lebih dekat ke dada sang kuli pelabuhan, menanti pemuda itu menoleh padanya. "Kamu keliru jikalau mengira aku mengais sisa makanan para algojo itu semata-mata karena aku ketakutan menyambut maut. Tidak." Soedira menggeleng pelan. "Aku berkeras merawat kelangsungan hidupku, dan hidupmu, karena di ujung keputusasaan inilah, harapan menjadi satu-satunya bentuk perlawanan yang paling masuk akal."

"Mereka telah merampas kemerdekaan kita, menghancurkan jari-jarimu, menelanjangi kewarasan kita di tengah hamparan ilalang," lanjut Soedira, suaranya mengalun teguh, merapalkan makna kehidupan pada telinga yang telanjur tuli oleh gema kematian.

"Namun selama paru-parumu masih sanggup meraup udara, dan selama jantungmu menolak untuk berhenti berdegup, sesungguhnya kamu sedang menertawakan wajah tirani mereka tiap detiknya. Bertahan hidup di neraka ini Nugra... adalah sebuah pemberontakan yang tak mampu mereka redam dengan peluru sekalipun."

Kalimat itu jatuh menetes di atas tanah batin Nugra yang kerontang, menumbuhkan secercah suar di palung keputusasaannya yang paling buta. Sang kuli menatap piring kaleng di tangan Soedira, lalu memandang wajah pria terpelajar itu lekat-lekat. Di balik kemeja yang kotor oleh lumpur tahanan, Soedira bukan sekadar dokter yang menambal koyak dagingnya, melainkan seseorang yang tengah berupaya keras menambal jiwanya yang hampir ditelan kehancuran.

Dengan tangan yang gemetar dan sisa tenaga yang merangkak naik, Nugra akhirnya mengulurkan lengan. Jemarinya yang kasar menyentuh pinggiran piring kaleng itu, sengaja membiarkan kulitnya bergesekan lembut dengan ibu jari Soedira lebih lama dari yang semestinya. Di bawah tatapan Soedira yang hangat dan tak melepaskan pandangannya barang sedetik pun, Nugra menerima piring itu, memilih untuk menelan sisaan kehidupan demi menemani sang dokter merawat sebuah pemberontakan.

 


 

"Napasmu sudah tidak sependek kemarin," gumam Soedira memecah hening, jemarinya menekan pelan beberapa titik di sekitar memar yang mulai memudar menjadi ungu kekuningan. "Bengkak di pelipismu juga menyusut. Kamu pulih lebih lekas dari dugaan saya."

Nugra tidak menepis. Pemuda yang dulu meronta bak hewan buruan yang tersudut itu kini duduk tenang, membiarkan otot-ototnya yang kaku mengendur di bawah pemeriksaan Soedira. Sebuah kekehan pelan lolos dari bibirnya yang masih berkeropeng.

"Mungkin lantaran ramuan daun antanan yang diam-diam kamu tumbuk semalam," sahut Nugra, suaranya terdengar lebih bertenaga. "Atau mungkin... karena selama hidup, badan saya sudah telanjur terbiasa dihajar nasib. Dibanding tendangan mandor pelabuhan, siksaan algojo kamp ini cuma beda di seragamnya saja."

Soedira tertawa getir mendengar kelakar kelam itu. Ia merapikan kembali kemeja Nugra, memastikan suhu tubuh sang kuli tidak lagi menunjukkan tanda-tanda demam, lantas memungut piring kaleng dari lantai dan menyodorkannya ke pangkuan sang pemuda. Ia sendiri mengambil piringnya, menatap bulir-bulir jagung grontol yang keras dan apak itu dengan raut wajah mual yang tak ditutupi.

"Makanlah pelan-pelan," ucap Soedira, mengambil sejumput jagung namun urung memasukkannya ke mulut. "Dua tahun, Nugra. Sudah dua tahun lambung saya dipaksa berdamai dengan pakan burung ini. Tadi di pelataran luar, saya melihat para serdadu itu makan daging dan nasi putih. Cara mereka mengunyah dan menelan... mengingatkan saya pada babi-babi rakus di peternakan paman saya dulu."

Nugra mengambil segenggam jagung, memasukkannya ke dalam mulut, dan mengunyahnya dengan rahang mengeras. Suara gemeretak biji jagung yang beradu dengan giginya terdengar jelas di keheningan sel.

"Biar saja babi-babi bertopi baja itu berpesta, Soedira," ucap Nugra setelah menelan paksa makanannya yang terasa menyerupai kerikil. "Daging yang mereka telan itu dibeli dari darah dan keringat kita. Mereka mengira dengan mengunyah makanan enak dan menenteng bedil, mereka menjadi penguasa. Padahal, mereka tak lebih dari budak ketakutan mereka sendiri."

Soedira menoleh, takjub pada kedalaman pikiran seorang pemuda yang mengaku tak pernah mengenyam bangku sekolah. Ia akhirnya ikut menelan sejumput jagung itu, membiarkan rasa hambar merajam lidahnya. "Kamu betul. Makanan tirani ini rasanya seperti pasir, tapi setidaknya, kita menelannya tanpa perlu melacurkan jiwa kita kepada negara setengah setan."

Mereka makan dalam diam selama beberapa saat, berbagi pahitnya jagung dan getirnya realita di bawah seberkas cahaya matahari yang menerobos dari celah jendela. Namun, perut yang perlahan terisi seolah memantik sebuah keberanian kecil di dada Soedira untuk membicarakan sesuatu yang selama ini diharamkan di kamp kerja paksa, hari esok.

"Andai kata keajaiban itu ada," Soedira kembali bersuara, matanya kini menerawang jauh menembus dinding lembap di hadapan mereka. "Jika suatu hari nanti rezim ini tumbang, dan pintu-pintu besi ini didobrak terbuka... apa yang mau kamu lakukan kelak, Nugra?"

Tangan Nugra yang hendak menyuap sisa jagung terhenti di udara. Ia menunduk, memandangi telapak tangannya yang dipenuhi kapalan tebal dan bekas luka bakar.

"Kuli pelabuhan buta huruf macam saya? Entahlah," jawab Nugra dengan nada datar, seolah harapan adalah barang mewah yang tak sanggup ia beli. "Dunia di luar sana barangkali sudah lupa pada orang-orang seperti saya. Paling-paling saya bakal kembali memanggul karung goni di Tanjung Priok. Menunggu punggung saya patah karena usia atau diciduk lagi lantaran alasan yang dibuat-buat."

Soedira menggeleng perlahan. Ia meletakkan piringnya di lantai, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, mencari sepasang mata kelam pemuda itu dan menguncinya.

"Tidak. Kamu tidak akan kembali memanggul karung, Nugra."

Nugra membalas tatapan itu dengan kerutan bingung di dahi. "Lantas saya mesti bagaimana?"

"Kamu bakal ikut dengan saya," ucap Soedira, suaranya mengalun tenang namun sarat akan keyakinan yang mengakar kuat. "Saya berniat membuka sebuah klinik kecil di pinggiran kota. Saya butuh seseorang yang bisa saya percaya untuk membantu administrasi klinik. Dan di sela-sela waktu senggang..."

Soedira tersenyum, sebuah senyum paling tulus yang pernah ia tunjukkan sejak memijakkan kaki di neraka ini. "...saya akan mengajari kamu membaca dan menulis. Kamu punya pikiran yang tajam, Nugra. Membiarkanmu buta huruf adalah sebuah dosa besar yang tak sudi saya tanggung."

Rentetan kalimat itu jatuh satu per satu, menghantam telinga Nugra dan meruntuhkan benteng pertahanan terakhir di rongga dadanya. Ada sesuatu yang luruh dengan hebat. Bukan ngilu karena sayatan luka fisik yang mengoyak daging, melainkan jiwanya yang telah disambut hangat.

Nugra memejamkan mata, menelan ludah yang terasa kasar, membiarkan kerongkongannya tercekik oleh haru yang menyesakkan. Di neraka yang pengap ini, di mana embusan napas esok pagi hanyalah kemewahan fana yang tak berani mereka angankan, sang priyayi justru berani membentangkan hal yang paling mustahil, sebuah janji tentang suaka, dan nyala lentera untuk menuntunnya pulang.

"Mengajari kuli membaca... dan menjadikannya pekerja di klinik?" bisik Nugra, sudut bibirnya bergetar tipis menahan luapan emosi yang terlampau asing baginya. "Kamu betul-betul sudah gila, Soedira."

"Zaman ini yang gila, Nugra," balas Soedira pelan, matanya menyiratkan kehangatan. "Kita cuma berusaha untuk tetap menjadi manusia."

 


 

Sore itu, ketika pengawas blok sedang sibuk berjudi di pos depan, Soedira memungut sepotong arang sisa kayu bakar yang entah bagaimana bisa terselip di sudut sel. Ia menggeser duduknya, merapat ke arah Nugra yang tengah menyandarkan punggung ke dinding lembap.

"Kemari sebentar," panggil Soedira pelan. Ia mulai menggoreskan arang itu ke atas lantai semen yang kehitaman, menggambar garis tegak dengan dua lengkungan di sisinya. "Ini huruf 'B', Nugra. Dan yang di sebelahnya, yang melingkar penuh ini, huruf 'O'."

Nugra mencondongkan tubuh, memicingkan mata menatap coretan kasar itu. Alisnya bertaut rapat. "Huruf 'B' ini bentuknya macam punggung kuli pelabuhan yang encok lantaran kelamaan mikul karung goni, Soedira. Melengkung tidak karuan."

Sebuah tawa tertahan lolos dari bibir Soedira. "Kamu ini, disuruh belajar malah menyamakan huruf dengan nasib." Tangan sang dokter kembali bergerak, merangkai beberapa huruf hingga membentuk sebuah kata pendek. "Sekarang, coba kamu eja yang ini."

Nugra menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Mulutnya komat-kamit, mencoba mengingat pelajaran singkat beberapa hari terakhir. "B... A... Ba. B... I... Bi. Babi?" tanyanya ragu, menatap Soedira untuk mencari pembenaran.

"Betul," sahut Soedira dengan mata berbinar. "Kamu tahu maknanya kata ini, kan?"

Nugra mendengus pelan, seulas senyum miring tercetak di wajahnya yang berdebu. "Tentu saja saya tahu. Itu kan mereka yang tiap siang berjaga di pelataran sambil nenteng bedil."

Kali ini, Soedira tak kuasa menahan kekehannya. Ia sampai harus membekap mulutnya sendiri agar suara tawa mereka tak memancing kedatangan para penjaga. Di tengah neraka yang merenggut kemanusiaan mereka, sepotong arang dan ejaan konyol ini menjadi oase yang merekatkan celah di antara keduanya. Kasta priyayi dan kromo telah lama lebur bersama debu di lantai sel ini.

"Mengingat lekuk-lekuk huruf ini rupanya lebih bikin encok otak ketimbang mikul beras lima karung di pelabuhan," keluh Nugra kemudian, bersandar kembali ke dinding dengan napas panjang. "Saya kira, orang-orang pintar macam kamu hidupnya enak. Ternyata isi kepalanya ruwet tiap hari."

"Makanya saya ajari kamu pelan-pelan," balas Soedira, suaranya melembut, mengusap debu arang di ujung jarinya. "Biar otakmu terbiasa. Kalau pikiranmu sudah kuat memikul huruf dan kata, kelak memikul kerasnya kehidupan juga bakal terasa lebih ringan."

Nugra menoleh, menatap wajah sang priyayi."Kehidupan saya dari lahir sudah berat, Soedira. Ditipu mandor, diinjak lintah darat, sampai akhirnya dilempar ke kandang ini gara-gara buta huruf dan cuma disuruh cap jempol di kertas yang tidak bisa saya pahami."

Pemuda itu terdiam sejenak, menatap lekat kata 'B-A-B-I' di lantai semen, lalu menyambung dengan nada yang lebih ringan. "Tapi ya... barangkali, kalau saya sudah pintar mengeja seperti kata kamu, setidaknya esok-esok saya bisa baca papan peringatan, supaya tidak sembarangan masuk ke kandang babi lagi."

Soedira tersenyum lebar. Ia menepuk pelan bahu pemuda di sebelahnya. "Itu baru semangat. Malam ini kita belajar menulis namamu. Supaya kelak, kalau kamu sungguhan jadi pekerja di klinik saya, tidak perlu pakai cap jempol lagi untuk bantu saya menebus resep obat."

"Klinik…," gumam Nugra, menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis. "Ya, ya. Terserah kamu saja, Tuan Guru."

Dan di sudut sel yang sempit serta pengap itu, di antara bau pesing dan bayang-bayang kematian, keduanya menemukan sesuatu yang membuat mereka tetap bertahan waras, segelintir candaan, sepotong arang, dan sebuah kedekatan yang saling menghidupkan.

Tawa ringan di sel sempit semalam menguap tak berbekas ketika terik matahari beringsut tepat memanggang ubun-ubun. Di tengah petak sawah berlumpur yang airnya menggenang setinggi betis, Soedira dan Nugra membungkuk sejajar bersama belasan tahanan lain. Tangan mereka terus bergerak menancapkan bibit-bibit padi ke dalam lumpur pekat, sementara peluh bercampur tanah mengalir deras memedihkan mata. Sesekali, Nugra meringis tertahan ketika harus membungkuk terlalu rendah, perban kasar di balik kemeja lusuhnya basah oleh keringat, namun pemuda itu menolak berhenti. Ia tahu, lengah sedikit saja, popor senapan serdadu siap menghantam tengkuknya.

"Seumur hidup, saya cuma tahu manggul berasnya di pelabuhan," gerutu Nugra dengan napas terengah, tanpa mengalihkan pandangannya dari genangan lumpur. "Sekarang malah disuruh bikin berasnya dari akar. Lelucon macam apa ini, Soedira?"

Soedira yang berada satu petak di sebelahnya menyeka keringat di dahi dengan punggung lengan, lantas tersenyum tipis. "Anggap saja kamu sedang belajar prosesnya, Nugra. Hitung-hitung latihan bersabar. Biar kelak kalau klinik kita sungguhan buka, kamu tahu betapa berharganya sepiring nasi putih yang kita makan."

"Nasi putih dari peluh kuli yang diancam bedil," balas Nugra getir, menancapkan satu bibit lagi dengan tenaga ekstra seolah melampiaskan amarahnya pada bumi.

Percakapan lamat-lamat itu terputus oleh lengking peluit dan bentakan kasar para penjaga. Waktu merambat pelan layaknya siput yang sekarat, hingga bayangan mereka mulai memanjang dan lumpur di kaki terasa semakin berat. Menjelang sore, tanpa diberi jeda untuk sekadar meluruskan pinggang, ujung-ujung bedil itu kembali menggiring mereka pindah. Dari basahnya genangan sawah, barisan tahanan didorong paksa menuju sebidang tanah kerontang di ujung timur kamp. Ladang ilalang. Tempat yang sama di mana Nugra nyaris meregang nyawa beberapa hari lalu.

Debu-debu kering langsung menyergap, berterbangan menyesakkan dada tiap kali rumput liar itu tercerabut paksa dari akarnya, menempel gatal di kulit mereka yang basah dan lengket. Soedira lekas mengambil barisan yang merapat dengan Nugra. Tangan sang dokter memang bergerak mekanis mencabuti gulma, namun separuh kesadarannya terpusat penuh untuk mengawasi kawan di sebelahnya itu. Ia bisa melihat bahu Nugra naik turun kian cepat, napasnya kembali tersengal, dan sisa-sisa bengkak di pelipisnya memerah hebat lantaran hawa panas. Namun, tak ada sekelumit pun keluhan yang lolos. Kuli pelabuhan itu hanya menggigit bibir bawahnya, mencabut ilalang dengan rahang mengeras, merawat dendam yang enggan ia biarkan padam.

Melihat ketangguhan itu, ada sesuatu yang bergemuruh di dada Soedira. Sambil terus membersihkan tanah yang keras, pikiran sang priyayi mengembara, membedah sosok pemuda buta huruf di sebelahnya. Di balik tubuh yang babak belur dan kotor itu, batin Soedira bergumam, tersimpan bongkahan daya hidup yang mengerikan. Selama dua tahun membusuk di kamp ini, Soedira telah menyaksikan banyak sarjana dan orang terpelajar hancur kewarasannya—mengiba, menjilat sepatu serdadu, hingga mati perlahan karena kehilangan harga diri. Tetapi Nugra, yang bahkan tak tahu wujud huruf 'A', justru matanya menatap dunia jauh lebih tajam dan jujur daripada orang-orang bergelar di ibu kota.

Seketika, Soedira menyadari bahwa keputusannya merawat Nugra kini bukan lagi sekadar pemenuhan sumpah seorang dokter. Pemuda kasar ini diam-diam telah menjelma menjadi jangkar kewarasannya di tengah lautan putus asa. Ada kebanggaan aneh yang menyusup di relung hati Soedira saat mengingat tawa mereka dan ejaan arang semalam.

Biar saja rezim laknat ini merampas gelar medisku, pikir Soedira, tangannya mencengkeram segenggam ilalang dan mencabutnya kuat-kuat hingga akarnya terputus. Biar saja mereka merampas kebebasanku setiap siang dan sore di ladang ini. Tapi mereka tidak akan bisa mencegahku menciptakan seorang manusia merdeka dari dalam kandang ini. Jika suatu saat saya mesti mati di tanah pembuangan ini, Nugra yang bakal berjalan keluar membawa pikiran yang sudah saya tajamkan. Dan itu, adalah bentuk perlawanan saya.

"Kamu melamun, Soedira?"

Teguran parau itu membuyarkan lamunan sang dokter. Ia menoleh, mendapati Nugra sedang menatapnya dari balik rimbun ilalang setinggi dada, menyeka debu tebal di bawah hidungnya dengan punggung tangan yang legam.

"Hanya sedang memikirkan susunan huruf untuk pelajaran kita malam nanti, Nugra," jawab Soedira santai, mengusap senyum di bibirnya yang pecah-pecah. "Tanganmu jangan sampai berhenti. Babi-babi berseragam itu sedang melotot ke arah kita."

Nugra mendengus pelan, seutas senyum miring kembali terbit di wajah lelahnya. "Kalau begitu, siapkan ejaan yang lebih panjang untuk nanti malam, Tuan Guru. Saya sudah bosan mengeja nama mereka."

 


 

Sudah dua bulan waktu merangkak dengan beringas di kamp ini. Dua bulan pula sejak malam pertama Soedira menuntun jemari Nugra yang kasar, kapalan, dan penuh luka robek, untuk mengeja huruf demi huruf di atas sobekan kertas pembungkus tembakau lecek. Malam ini, di tengah jadwal kerja paksa yang mencekik, Soedira telah merajut sebuah janji, ia akan kembali mengajari Nugra memoles kata. Sebuah perlawanan kecil, sebentuk asa yang sengaja mereka pelihara rapat-rapat agar tak sepenuhnya lupa rasanya menjadi manusia.

Malam merosot semakin pekat, membawa serta hawa dingin tak kenal ampun yang menusuk tulang-tulang keropos para tawanan. Dari kejauhan, di balik barikade kawat berduri yang memenjarakan nasib mereka, lolongan anjing liar terdengar bersahut-sahutan membelah keheningan kamp. Suaranya mengalun panjang dan serak, seolah tengah menyanyikan kidung duka bagi nyawa-nyawa yang membusuk tanpa nama di parit pembuangan.

Di depan jeruji sel penampungan yang berbau pesing, keringat basi, dan anyir luka, Soedira menopang tubuh Nugra yang bergetar. Ia menelan bulat-bulat sisa harga dirinya sebagai seorang priyayi dan dokter. Dengan napas yang sengaja dibuat memburu, wajah memucat, dan nada suara yang memelas, ia memohon pada penjaga. Ia berdalih bahwa demam kuli bernomor dada itu kembali mengganas dan napasnya nyaris putus.

Penjaga berseragam lusuh itu hanya mendecih kencang. Ia tengah mengantuk berat, matanya memerah setengah terpejam karena lelah berjaga. Melihat Soedira yang bersusah payah memapah Nugra, tak ada sebersit pun belas kasih di wajahnya, rautnya tak ubahnya seseorang yang muak melihat seonggok daging rongsok yang menyusahkan. Dengan gusar, ia mengibaskan tangannya, mengusir mereka layaknya lalat hama.

"Bawa sana ke ruang periksa! Bikin repot saja. Kalau sampai dia mati, awas kamu, jatah kuli potong padi besok berkurang!" bentak penjaga itu sambil kembali membetulkan posisi tidurnya di kursi kayu.

Soedira mengangguk patuh. Dengan susah payah, ia membopong tubuh ringkih Nugra menyusuri lorong temaram yang berbau apak. Setiap kali melangkah, Nugra mengerang panjang, napasnya sengaja dibuat-buat tersengal, seolah nyawanya sudah tinggal separuh. Wajah pemuda itu tertunduk, memamerkan raut kesakitan yang amat sangat.

Namun, begitu mereka melangkah masuk ke dalam ruang periksa yang berbau karbol dan pintu kayu ditutup rapat, erangan menyayat hati itu mendadak lenyap tanpa bekas.

Nugra menegakkan tubuhnya, melepaskan rangkulan Soedira, lalu mendaratkan pantatnya di atas dipan kayu dengan napas lega. Seulas cengiran usil terbit di wajahnya. "Bagaimana? Suara rintihan saya barusan sudah pantas menyamai sandiwara di siaran RRI belum, Soedira?"

Soedira hanya bisa menggelengkan kepala seraya mendesah panjang. Ia berjalan menghampiri meja usang di sudut ruangan, menyalakan lampu petromak kecil yang sinarnya langsung berpendar kekuningan mengusir gelap. "Kamu ini betul-betul bernyali rangkap, Nugra. Kalau sampai penjaga tadi tahu kamu cuma pura-pura sakit demi bisa belajar membaca di ruangan ini, tamat riwayat kita berdua."

"Halah, babi-babi itu terlampau malas untuk memeriksa, pikiran mereka cuma dipenuhi judi, tidur dan membunuh," kekeh Nugra, menepuk ruang kosong di sebelahnya. "Nah, sekarang, di mana arang atau kertasnya, Tuan Guru? Saya sudah siap mengeja kalimat yang lebih panjang."

"Nanti dulu belajarnya," potong Soedira tegas, berjalan mendekati sang pemuda. Latar belakang medisnya tidak bisa dikompromi walau dalam situasi sandiwara sekalipun. "Sandiwara atau bukan, kamu tetap pasien saya. Buka kemejamu. Saya mesti memastikan bekas jahitan dan memarmu sungguhan sudah mengering sebelum kamu saya suruh memeras otak."

Sambil mendecak pelan seolah digurui, Nugra menurut. Ia melucuti kemeja goni kasarnya yang basah oleh peluh, membiarkannya jatuh ke lantai.

Soedira mendekatkan petromak, lalu duduk di hadapan Nugra. Jemarinya yang dingin mulai meraba perlahan area di sekitar tulang rusuk pemuda itu, menekan beberapa titik untuk memastikan tak ada infeksi pada luka robek dan memarnya. Sesekali Nugra meringis tipis saat jemari Soedira menekan agak kuat, membuktikan bahwa sisa siksaan itu belumlah sembuh sempurna.

Namun, di tengah kesunyian ruang periksa itu, gerakan tangan Soedira perlahan melambat. Alis sang dokter bertaut rapat. Di bawah temaram cahaya petromak, matanya menangkap sebuah kejanggalan yang luput ia perhatikan di bawah terik matahari ladang dan gelapnya sel.

Ia mengusap pelan pundak hingga punggung Nugra. Bagian kulit yang tak terbakar matahari dan terhindar dari tumpukan daki debu ladang itu memancarkan warna yang kontras.

"Ada apa?" tanya Nugra, menyadari raut wajah Soedira yang mendadak berubah serius. "Luka saya membusuk?"

"Bukan," gumam Soedira. Ia menarik tangannya, menatap lekat-lekat kedua mata kawan senasibnya itu. Suaranya merendah, sarat akan selidik. "Nugra, Jauh sebelum kita diasingkan ke mari, saya sudah memeriksa dan mengobati ratusan kuli pelabuhan di klinik gratis saya. Saya hafal betul anatomi mereka."

Nugra terdiam, senyum usilnya perlahan memudar. Soedira menunjuk dada Nugra, lalu beralih menatap wajah pemuda itu dengan saksama.

"Punggung kuli pelabuhan yang biasa saya lihat itu kasar bak parutan kelapa. Kulit mereka legam dibakar matahari pesisir," Soedira menggeleng takjub, matanya kembali menyusuri lekuk bahu dan dada pemuda di hadapannya dengan tatapan memuji. "Tapi tubuhmu ini luar biasa. Kendati babak belur dan tertutup kotoran ladang tiap hari, kulitmu ini terlampau lembut dan putih untuk ukuran kuli angkut Tanjung Priok. Kalau daki dan tanah ini digosok bersih, kamu ini sebetulnya lebih pantas jadi raden mas di keraton ketimbang tukang panggul karung goni."

Mendengar pujian terang-terangan yang meluncur dari mulut sang priyayi, semburat merah tipis menjalar di telinga Nugra, meski sedikit tersamarkan oleh debu dan temaramnya cahaya. Pemuda kasar itu mendadak salah tingkah. Ia berdeham pelan, buru-buru menyambar kemeja goninya dan kembali menutupi tubuh bagian atasnya.

"Bicara apa kamu ini, Soedira," gerutu Nugra sambil mengalihkan pandangan, menyembunyikan wajahnya yang mendadak terasa hangat. "Barangkali waktu bayi saya ini sungguhan anak bupati yang jatuh dan tertukar dengan anak kuli di pasar. Sudahlah, tidak usah meracau. Lekas keluarkan arangnya. Tadi janjinya mau mengajari saya mengeja kalimat panjang."

Tawa renyah Soedira tak terbendung lagi. Suara baritonnya mengisi ruang periksa yang sunyi itu dengan kehangatan. "Iya, iya, Tuan Muda. Kesembuhan lukamu berjalan sangat baik. Tubuhmu memang punya daya tahan yang mengagumkan."

Masih dengan sisa tawa di bibirnya, Soedira bangkit berdiri. Ia berjalan menuju lemari reyot di sudut ruangan dan mengambil pensil tumpul serta robekan kertas bungkus obat yang sudah ia amankan diam-diam sejak siang tadi. Ia kembali duduk merapat di sebelah Nugra, menyodorkan "peralatan tulis" mewah mereka.

Di tengah ruang periksa itu, segala siksaan ladang dan kekejaman penjaga seolah tertahan rapat di luar pintu. Malam itu, Soedira dan Nugra kembali merawat sisa-sisa kemanusiaan mereka lewat ejaan huruf-huruf sederhana, diiringi seloroh ringan yang mengusir dinginnya tembok penjara.

Waktu dua bulan melesat di antara rutinitas siksaan fisik yang menggerus raga dan diam-diamnya pemberontakan malam mereka. Di sela-sela waktu kosong, entah saat istirahat curian di sudut sel atau di ruang periksa yang sepi, Soedira tak pernah absen mencurahkan dedikasinya menjadi guru bagi pemuda itu.

Malam ini, di bawah temaram cahaya yang sama, sebuah keajaiban kecil akhirnya tercipta utuh.

Mata Soedira tak lepas menatap pergelangan tangan Nugra. Tangan yang biasanya hanya kaku menahan beban karung goni puluhan kilo di pelabuhan itu, kini bergerak dengan luwes. Sepotong pensil tumpul sisa milik serdadu kamp menari tanpa jeda di atas selembar kertas kekuningan. Goresannya tak lagi ragu-ragu, tak ada lagi getaran kikuk, tak ada lagi alis yang bertaut karena kebingungan membedakan lengkungan huruf 'b' dan 'd'.

Begitu titik terakhir ditorehkan, Nugra menghentikan gerakannya. Pemuda itu menarik napas panjang, menatap lekat-lekat barisan aksara di tangannya selama beberapa detik, seolah masih belum percaya dengan apa yang baru saja ia wujudkan.

Sedetik kemudian, sebuah senyum lebar—yang paling cerah, lepas, dan merdeka—merekah di wajahnya yang dihiasi debu. Dengan mata berbinar-binar penuh kebanggaan yang meluap, Nugra memutar kertas itu dan memamerkannya tepat di depan wajah Soedira.

Di atas kertas bertekstur kasar itu, tertulis satu kalimat sempurna dengan ejaan yang tepat dan tegak: "Saya Nugra, manusia merdeka yang tidak akan mati di sini."

Melihat pemandangan tersebut, senyum Soedira mengembang sempurna. Rasa hangat yang luar biasa seketika merambat memenuhi dadanya, sejenak menghancurkan jeruji besi dan dinding beton yang mengurung mereka.

"Bagaimana, Tuan Guru?" tanya Nugra, suaranya sedikit bergetar menahan antusiasme. "Babi-babi di luar sana pasti akan jantungan kalau tahu kuli pelabuhan ini sekarang bisa menulis."

Soedira tertawa pelan, tawanya dalam dan bergetar oleh rasa haru. Ia meletakkan sebelah tangannya di bahu Nugra, menepuknya dengan rasa bangga.

"Ini bukan sekadar bagus, Nugra. Ini luar biasa," puji Soedira dengan nada suara yang sarat akan ketulusan. Matanya menatap lekat karya pemuda itu, lalu beralih menatap manik mata Nugra. "Goresan tanganmu sudah luwes, jauh lebih tegas dan berkarakter ketimbang tulisan para menteri dan sarjana di ibu kota. Dua bulan lalu, memegang sepotong arang saja jarimu kaku."

Mendengar pujian terang-terangan dari sang dokter priyayi, dada Nugra membusung ringan. Ia tak membalas dengan candaan bernada sinis seperti biasanya. Kuli pelabuhan itu hanya tersenyum semakin dalam, mendekap kertas kecil tersebut di dadanya bagaikan sebuah jimat, merayakan kemenangannya yang sunyi di tengah malam yang panjang.

Senyum kebanggaan di wajah Nugra perlahan mereda, digantikan oleh sorot mata yang tiba-tiba melembut, dalam, dan dipenuhi emosi yang jarang sekali ia perlihatkan. Ia meletakkan kertas berharga itu dengan sangat hati-hati di atas dipan, seolah benda itu terbuat dari kaca yang mudah pecah.

Lalu, tanpa aba-aba, tangannya bergerak maju dan menggenggam kedua belah tangan Soedira. Genggaman pemuda itu erat, hangat, namun terasa sedikit bergetar.

"Terima kasih, Soedira," bisik Nugra. Suaranya parau, nyaris tertahan di tenggorokan oleh beban perasaan yang selama ini ia pendam. "Dua bulan... dua bulan lamanya kamu bertaruh nyawa setiap malam. Menipu moncong senapan para penjaga babi itu hanya untuk memastikan saya tidak mati membusuk di sudut sel."

Mata pemuda itu berkaca-kaca di bawah temaram cahaya. "Kamu merawat saya bukan seperti merawat tahanan buangan, Soedira. Kamu merawat saya dengan kasih... sebuah kemanusiaan yang bahkan belum pernah saya terima seumur hidup saya di jalanan pesisir."

Sebelum Soedira sempat membalas kata-kata itu, Nugra menarik bahu sang dokter priyayi tersebut dan merengkuhnya ke dalam sebuah pelukan. Pelukan itu luar biasa erat. Di tengah ruangan sempit berbau yang menjadi saksi bisu penderitaan mereka, kuli kasar tersebut mendekap Soedira.

Soedira tertegun sejenak, namun senyum tulus perlahan mengembang di bibirnya. Ia membalas pelukan itu tak kalah erat, menepuk punggung Nugra dengan lembut, membiarkan kehangatan itu mengalir menyatukan mereka di tengah zaman yang gila.

Ketika pelukan itu perlahan terurai, pandangan Nugra tanpa sengaja terpaku pada lengan bawah Soedira yang tersingkap dari gulungan lengan kemejanya. Di sana, terdapat luka goresan yang cukup dalam dan memanjang, di mana pinggirannya tampak merah dan meradang akibat kotoran—bekas sabetan kasar ranting pohon berduri saat mereka dipaksa menebangi semak belukar di ujung ladang pagi tadi. Selama ini, sang dokter selalu terlalu sibuk memikirkan penderitaan orang lain hingga abai pada darahnya sendiri.

Alis Nugra bertaut. Sorot matanya seketika berubah meradang, namun kali ini bukan oleh amarah, melainkan oleh rasa peduli.

"Kamu ini dokter, tahu betul caranya menyambung nyawa orang, tapi membiarkan lukamu sendiri kotor dan terbuka begini," omel Nugra pelan, memutar peran yang selama ini selalu Soedira mainkan padanya.

Tanpa meminta izin, pemuda itu beringsut mengambil kotak medis usang di atas meja periksa. Ia mengeluarkan sebotol kecil cairan yodium dan segulung perban bersih yang tersisa. Nugra kembali duduk berhadapan dengan Soedira, menarik lengan sang dokter agar bertumpu di pangkuannya.

Dengan lembut Nugra meneteskan obat tersebut ke atas selembar kain kasa. Ia mulai membersihkan luka goresan itu. Sentuhannya sangat hati-hati, ditiupnya luka itu pelan tiap kali melihat rahang Soedira sedikit mengeras menahan perih. Setelah darah kering dan debu ladang itu bersih, Nugra membebat lengan Soedira dengan perban, melingkarkannya dengan rapi sebelum mengikat simpul.

Soedira menatap lamat-lamat pemandangan di hadapannya, tak mampu menyembunyikan rasa haru yang kembali mencekat dada. Ia melihat jemari Nugra yang biasanya hanya tahu cara memanggul beban ratusan kilo atau mencabuti ilalang dengan penuh dendam, kini bergerak dengan penuh kelembutan merawat tubuhnya.

Namun, setelah ikatan itu terpasang rapi, ia tidak segera menarik tangannya menjauh. Jemarinya yang kasar dan besar masih berdiam di atas pergelangan tangan Soedira, memberikan kehangatan yang kontras dengan dinginnya udara malam.

Ruang periksa itu mendadak dilingkupi kesunyian yang tebal, namun tidak mencekik. Kesunyian itu justru terasa melindungi, seolah dinding-dinding beton itu untuk sementara waktu berhenti menjadi penjara dan berubah menjadi tempat persembunyian rahasia mereka berdua.

Soedira menatap jemari Nugra yang menahan lengannya, lalu perlahan mengangkat pandangannya. Di bawah pendar petromak yang mulai meredup, mata mereka bertemu. Tidak ada lagi sisa tawa jenaka atau seloroh sinis yang biasa mereka jadikan perisai. Yang tersisa kini hanyalah dua manusia yang saling menelanjangi jiwa.

"Sentuhanmu ini hati-hati betul, Nugra," bisik Soedira memecah keheningan. Suaranya parau dan teramat pelan, seolah takut mengusik kedamaian rapuh di antara mereka. "Dulu saya pernah mikir siapa kamu sebetulnya, sebab tubuhmu tidak menyimpan kekasaran jalanan pesisir. Sekarang saya tahu, bukan cuma kulitmu... tapi jiwamu juga."

Nugra menunduk perlahan. Semburat kerentanan yang selama ini ia kunci rapat-rapat di balik sikap kuatnya akhirnya runtuh. Ibu jarinya tanpa sadar mengusap pelan punggung tangan sang dokter.

"Sebelum saya ketemu kamu, Soedira," ucap Nugra, suaranya nyaris seperti gumaman yang bergetar. "Saya selalu berpikir kalau dunia ini isinya cuma taring sama cakar. Siapa yang lemah bakal dikunyah habis. Saya buang jauh-jauh yang namanya kelembutan, karena di jalanan pesisir, hati yang lembek itu jalan paling cepat buat masuk liang lahad."

Nugra kembali menatap mata Soedira. Mata pemuda itu menggenang, memantulkan cahaya keemasan dari lampu di sudut ruangan. "Terus kita dibuang ke neraka ini. Ke tempat di mana manusia bahkan lebih rendah harganya dari anjing. Tapi justru di tempat paling celaka ini, saya malah ketemu manusia macam kamu. Orang yang sudi membuang kasta dan gelarnya, cuma buat duduk di lantai semen basah, ngajari kuli kasar macam saya ini mengeja nama."

Gemuruh haru seketika mencekik dada Soedira, menyumbat kerongkongannya dengan emosi yang terlalu pekat untuk sekadar diucapkan. Dengan gerakan perlahan namun sarat kepastian, ia membalikkan telapak tangannya. Jemari sang priyayi kini menyusup, membalas erat genggaman tangan kasar penuh kapalan milik Nugra yang bertengger di punggung tangannya.

"Jangan pernah lagi menyebut dirimu kuli buangan, Nugra," desis Soedira tajam, namun dilumuri kelembutan yang meluluhlantakkan. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, meruntuhkan sisa jarak yang memisahkan raga mereka yang babak belur. Di titik itu, ruang menyempit, menyisakan jarak yang hanya cukup untuk berbagi embusan napas yang saling bertautan

"Gelar medis, kebanggaan darah priyayi dari dunia luar... semua itu hanya omong kosong belaka," lanjut Soedira, menatap langsung ke dalam manik mata pria di hadapannya.

"Di hadapan maut yang mengintai dari ujung senapan setiap harinya, semua atribut itu tak lebih berharga, justru karenamu, yang mencegahku karam ke dalam kegilaan." Nugra memejamkan mata sejenak, membiarkan kehangatan genggaman Soedira meresap hingga ke pori-pori jiwanya.

Saat ia membuka mata kembali, jarak wajah mereka begitu dekat. Helaan napas Soedira yang tenang menerpa wajahnya secara teratur.

"Mimpimu bulan-bulan lalu..." bisik Nugra, matanya menelusuri raut wajah Soedira yang lelah namun penuh kasih. "Mimpimu kalau kamu bakal buka klinik kecil, dan saya jadi asistenmu yang tukang baca resep obat... kamu masih pegang janji itu kan, Soedira?"

"Itu bukan cuma janji, Nugra. Itu rencana hidup saya," Soedira tersenyum, senyum paling tulus yang pernah ia perlihatkan. Ia mengangkat tangannya yang bebas, lalu dengan ragu namun pasti, mengusap rahang tegas Nugra yang ditumbuhi sisa-sisa debu dan cambang tipis. "Kita bakal keluar dari sini sama-sama. Kita bangun klinik itu berdua. Saya tidak akan biarkan kamu balik lagi ke jalanan yang dingin."

Nugra memiringkan wajahnya, menyandarkan pipinya pada telapak tangan Soedira yang mengusap rahangnya, mencari kenyamanan dari sentuhan sang dokter. Di tengah dunia yang sedang hancur lebur di luar pintu kayu tersebut, percakapan malam itu mengikat mereka lebih kuat dari rantai besi mana pun.

Tangan Soedira masih betah di sana, menangkup separuh wajah Nugra. Ibu jarinya dengan sabar mengusap pelan tulang pipi pemuda itu. Nugra mematung, tak berkedip sedikit pun. Sepasang matanya yang terbiasa nyalang—yang tak pernah sudi menunduk pada maut maupun bengisnya siksaan kamp—kini luluh tanpa sisa, sepenuhnya takluk di bawah usapan Soedira. Tatapannya mengunci manik mata sang dokter lamat-lamat. Dalam sunyi yang menyesakkan, mata Nugra menelusuri setiap gurat kelelahan yang membingkai wajah Soedira. Di tengah nasib mereka yang gelap dan hanya menunggu ajal, hanya Soedira satu-satunya alasan yang membuatnya sudi bertahan hidup di neraka ini.

"Klinik kecil, berdinding kapur putih, di dekat pasar yang ada pohon beringinnya..." bisik Nugra pelan, mengulang kepingan angan-angan yang sering mereka bangun di malam-malam yang panjang. Suaranya serak dan berat, nyaris terdengar seperti orang yang sedang merapal doa.

Nugra memiringkan wajahnya, semakin menyandarkan berat kepalanya ke telapak tangan Soedira, seolah di situlah satu-satunya tempat ia bisa meletakkan senjatanya. Tangannya yang sedari tadi berada di lengan Soedira perlahan naik, menggenggam punggung tangan sang dokter yang menempel di pipinya. Ia menahannya erat-erat, seolah takut kehangatan itu bakal menguap ditiup angin malam.

"Saya yang bakal buka pintu buat pasien tiap pagi. Saya catat nama mereka di buku besar, pakai huruf tegak bersambung yang kamu ajarkan tadi," lanjut Nugra, napasnya berhembus hangat menerpa pergelangan tangan Soedira. "Terus kamu yang periksa mereka di dalam. Tidak peduli mereka orang gedongan yang sanggup bayar mahal atau cuma kuli miskin macam saya yang bisanya bayar pakai setandan pisang rebus... kita terima semua."

Ada jeda sejenak. Rahang Nugra sedikit mengeras sebelum ia kembali bersuara, kali ini dengan nada yang jauh lebih bergetar.

"Kamu tidak boleh mati di kamp jahanam ini, Soedira. Dan saya... saya juga tidak akan sudi mati sebelum saya bisa menulis nama saya sendiri di papan kayu depan klinik kita. Klinik Dokter Soedira dan Nugra. Janji ya? Kita harus hidup buat wujudkan itu."

Mendengar kalimat itu, ada sesuatu yang serasa patah di tenggorokan Soedira, tercekat hebat oleh emosi yang tak lagi mampu dibendung. Matanya memanas, menggenang oleh air mata yang memantulkan cahaya temaram barak yang kian redup. Ia membalas tatapan Nugra—tatapan yang teramat tajam menantang nasib, namun di saat bersamaan begitu rapuh—dengan sebuah senyuman. Senyum bergetar yang teramat tulus, membelah pekatnya rasa keputusasaan.

"Janji, Nugra. Janji," jawab Soedira mutlak. Ibu jarinya kembali mengusap pelan sudut mata Nugra. "Papan kayu di depan klinik itu cuma mau digores sama tulisan tangan asisten kesayangan saya. Kita bakal keluar dari sini bernyawa. Kita wujudkan rencana itu, sama-sama."

Kesunyian perlahan turun merengkuh, mengisolasi mereka dari dunia luar yang terlampau beringas. Tidak ada suara lain di barak itu selain samar derik serangga malam yang menyusup lewat retakan ventilasi.

Di dalam ruang periksa yang pengap itu—sebuah bilik suram yang biasanya cuma jadi saksi bisu atas erangan kesakitan, anyir darah yang mengering, dan tatapan-tatapan kosong yang putus asa—malam ini segalanya terasa berbeda. Di atas lantai yang dingin, tepat di bawah hidung maut yang setiap detik mengintai, dua laki-laki itu menanam sebuah sumpah lekat-lekat ke dalam dada.

Angan-angan itu kini telah membaur bersama darah. Ia menjelma menjadi satu-satunya tali yang menahan sisa kewarasan mereka agar tidak putus. Sebuah sauh tak kasat mata yang memaksa dua manusia ini untuk terus keras kepala, saling mencengkeram nasib satu sama lain, dan mati-matian menolak takluk pada ajal di dasar neraka yang sama.

 


 

Pagi buta, ketika kabut pekat masih menggantung rendah dan embun belum sempat menitik, kedamaian rapuh di ruang medis itu direnggut paksa.

Pintu kayu berderak keras ditendang dari luar. Suara langkah sepatu laras yang berat dan mengancam memecah kesunyian. Belum sempat Soedira mengumpulkan kesadaran penuhnya, dua orang tentara penjaga sudah meringsek masuk. Tangan-tangan kasar mereka mencengkeram lengan sang dokter, menyeretnya tanpa ampun keluar dari jeruji.

Soedira didorong dengan keras. Tubuhnya terhempas, punggungnya membentur dinding beton selasar yang kasar dan dingin. Napasnya tercekat sesaat ketika rasa nyeri menjalar di tulang belikatnya. Belum sempat ia menyeimbangkan diri, salah satu tentara dengan baret miring maju, mencengkeram erat kerah kemeja lusuh Soedira hingga sang dokter nyaris terangkat dari lantai.

Tentara itu mendengus, bau tembakau murahan dan keringat asam menyengat hidung Soedira. Matanya melotot penuh selidik, bibirnya menyeringai bengis.

"Pintar betul kamu ya, Dokter!" bentak tentara itu, meludah ke lantai tepat di sebelah tangan Soedira. "Kamu pikir kami ini buta? Telinga kami tuli? Bikin pemebrontakan apa kamu ngajari kuli dungu itu baca tulis diam-diam tiap malam, hah?!"

Soedira membalas tatapan tajam itu tanpa berkedip. Rahangnya mengeras, meski napasnya sedikit terengah karena kerahnya dicekik kuat.

Melihat Soedira bungkam, tentara itu tertawa sumbang. Tawa yang mengundang seringai merendahkan dari rekannya di belakang. "Atau... jangan-jangan urusan kalian di ruang medis tiap malam bukan cuma soal ejaan, eh? Priyayi terpelajar macam kamu kok mau-maunya lengket sama kuli jalanan. Apa jangan-jangan kalian berdua ini memang asu jantan yang doyan sesama jantan? Pantesan mesra betul sampeyan rawat dia!"

Olok-olok kotor itu menggema di lorong kamp yang sepi, disusul tawa serak para penjaga yang merasa di atas angin.

Namun, alih-alih ciut atau tersinggung oleh hinaan murahan tersebut, tatapan Soedira justru berubah menjadi sebentuk es yang tajam. Tidak ada sedikit pun rasa takut di kedua manik matanya. Dengan gerakan pelan, Soedira menepis kasar tangan tentara yang mencengkeram kerahnya. Ia merapikan pakaiannya yang kusut, lalu menegakkan punggungnya, menatap lurus ke dalam mata sang prajurit dengan arogansi yang tahu betul nilai nyawanya.

"Silakan tertawa," ucap Soedira, suaranya tenang, dingin, dan menusuk. "Dan silakan cabut pistol dari pinggangmu itu kalau kamu memang bernyali. Bunuh saya sekarang juga."

Tentara itu terdiam, tawanya mati di tenggorokan. Matanya menyipit melihat perlawanan mental yang tidak ia duga.

Soedira maju satu langkah, mengikis jarak, suaranya kini mendesis. "Tapi ingat satu hal baik-baik. Saya ini satu-satunya dokter di neraka ini. Satu-satunya manusia yang tahu bedanya obat disentri sama racun tikus. Kemarin, waktu letnanmu meregang nyawa karena malaria, siapa yang tarik dia dari liang lahat? Kalau besok perut kalian robek kena sabetan di hutan sana, kalian pikir mantri gadungan dari desa bisa menjahit usus kalian?"

Soedira menyapu pandangannya ke arah kedua tentara itu, senyum sinis kini tersungging di bibirnya.

"Tembak saya sekarang, dan kalian semua cuma tinggal menghitung hari nunggu giliran mampus dimakan penyakit di kamp busuk ini. Karena tanpa saya, kalian tidak lebih dari mayat berjalan."

Keheningan yang tegang seketika menyelimuti lorong itu. Para tentara bedebah itu saling pandang. Tangan yang tadi gatal ingin memukul perlahan turun, menyadari bahwa setiap kata yang dimuntahkan sang dokter tahanan itu adalah kenyataan pahit yang tidak bisa mereka bantah. Di tempat laknat ini, nyawa Soedira adalah perisai pelindung yang terlalu berharga untuk dihancurkan hanya karena ego serdadu jaga.

Mendengar gertakan Soedira, rahang tentara itu mengeras. Kilat amarah melintas di matanya, merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang tahanan. Dengan satu tendangan kilat ke arah lipatan lutut, ia membuat keseimbangan Soedira goyah hingga sang dokter terjerembap ke lantai semen yang dingin.

Tentara itu kemudian perlahan berjongkok, menyejajarkan pandangannya dengan wajah Soedira yang masih menahan ngilu. Bau tembakau dan napas asamnya kembali menerpa wajah sang dokter. Namun kali ini, alih-alih membentak, tentara itu menyeringai licik.

"Kamu pikir kamu sepintar itu, Dokter?" desis tentara itu, suaranya dipelankan menjadi ancaman yang mematikan. Ia menepuk pelan pipi Soedira, penuh ejekan. "Memang betul... saya tidak bisa seenaknya dor kepalamu sekarang. Tenaga dan otakmu masih laku di kamp ini."

Mata tentara itu memicing, menatap lurus menembus kewarasan Soedira. "Tapi si kuli anjing kesayanganmu itu? Si Nugra? Nyawanya di sini tidak lebih berharga dari lalat. Saya bisa bikin dia mati pelan-pelan di ladang hari ini juga, mematahkan tulangnya satu per satu sampai dia mampus, dan komandan tidak bakal peduli sama sekali. Gimana menurutmu, Dok?"

Mendengar nama Nugra disebut sebagai target, pertahanan tenang yang sejak tadi dibangun Soedira hancur lebur berkeping-keping. Akal sehatnya terlempar entah ke mana. Ada kemarahan yang mendidih di dalam nadinya.

Tanpa memikirkan status, tanpa memedulikan laras senapan yang mengelilinginya, Soedira mengepalkan tangan kanannya dan mengayunkannya sekuat tenaga.

Bugh!

Buku-buku jari Soedira menghantam telak pipi kiri tentara itu. Pukulan yang didorong oleh keputusasaan dan rasa ingin melindungi yang begitu besar hingga membuat sang tentara kehilangan keseimbangan dan terjengkang ke belakang. Rekannya di ambang pintu tersentak kaget, buru-buru mengokang senapan, bersiap menghantam Soedira dengan popor senjata.

Namun, tentara yang tersungkur itu justru mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memberi isyarat agar rekannya menahan diri.

Ia mengusap sudut bibirnya yang kini menyisakan cecap anyir darah. Bukannya mengamuk, wajah serdadu itu malah merekah oleh tawa terbahak-bahak. Tawa yang sumbang, menggema di lorong, dan dipenuhi oleh kepuasan seorang pemenang yang baru saja membuktikan hipotesis kotornya.

"Wah... wah... wah..." ejek tentara itu, perlahan bangkit kembali dari posisinya sambil menatap Soedira dengan tatapan jijik yang telanjang. "Ternyata betul tebakanku! Dipancing sedikit saja soal anjing peliharaannya, langsung menggigit brutal begini."

Ia meludah ke lantai, tawanya mereda digantikan oleh tatapan penuh cemooh. "Jadi desas-desus itu tidak meleset, ya? Dokter priyayi kebanggaan kita ini ternyata memang penyuka sesama lelaki. Menjual harga diri buat bermesraan sama kuli jalanan yang kotor! Benar-benar laknat dan menjijikkan kamu ini, Soedira!"

 


 

Sejak pagi jahanam itu, neraka yang mengurung mereka mendadak terasa berkali-kali lipat lebih menyiksa. Pukulan Soedira ke rahang sang tentara memang tidak berujung pada timah panas peluru, sesuai dengan perhitungannya. Namun, para penjaga berseragam itu tahu betul cara menghukum yang jauh lebih kejam daripada maut, mereka merampas kewarasan Soedira.

Pengawasan diperketat habis-habisan. Jadwal kerja mereka sengaja dibikin bentrok, di saat Soedira baru kembali dari ruang medis dengan mata merah kurang tidur, Nugra baru saja digiring ke luar kamp menuju ladang.

Kandang tidur mereka pun dipisah sejauh mungkin, menempatkan keduanya di ujung-ujung barak yang berbeda seolah mereka adalah tahanan berpenyakit menular yang tidak boleh bersinggungan. Mereka dilucuti dari satu-satunya hal yang membuat hidup di kamp ini tertahankan—kehadiran satu sama lain.

Keterasingan itu terus mencekik perlahan, hingga pada suatu siang yang terik, takdir seolah sengaja menguji sisa-sisa kesabaran mereka. Kala itu Soedira tengah digiring melintasi pelataran tanah merah, dan tanpa sengaja matanya menangkap siluet yang amat ia kenal. Di sudut pelataran, di bawah bayang-bayang atap seng yang bocor, sekumpulan kuli pekerja paksa tengah beristirahat memakan jatah siang mereka. Di antara wajah-wajah kuyu itu, ada Nugra. Pemuda itu duduk bersila dengan tubuh bersimbah peluh, tangannya yang kapalan memegang mangkuk kaleng penyok berisi jagung grontol tabur kelapa parut basi.

Melihat rahang Nugra yang mengunyah pelan, melihat sepasang bahu lebar yang kini tampak lebih letih dari biasanya, akal sehat Soedira menguap begitu saja. Kakinya bergerak nyaris tanpa perintah, mengambil langkah demi langkah dengan tergesa, menerobos tatapan para tahanan lain, sementara hatinya berteriak memanggil nama pemuda pesisir itu.

Namun, baru saja jarak terkikis, ujung laras senapan yang dingin dan keras tiba-tiba menghantam dada kiri Soedira, tepat di atas jantungnya. Tubuh sang dokter oleng ke belakang, menahan nyeri akibat benturan besi tua tersebut, diiringi bentakan seorang penjaga bermuka bopeng yang urat lehernya menonjol menahan amarah. Jari telunjuk penjaga itu bertengger di pelatuk senapan, meneriaki Soedira dengan kasar agar lekas mundur menjauh atau dadanya akan berlubang saat itu juga.

“Mau mati kamu, Soedira!”

Soedira hanya bisa mematung dengan napas memburu, menatap tajam penjaga itu sebelum mencuri pandang ke arah Nugra dari balik punggung sang serdadu. Di seberang sana, Nugra menghentikan kunyahannya, menatap ngeri pada laras senapan yang mengancam dada sang dokter. Pikiran bodohnya berteriak menyuruhnya bangkit menerjang, namun ia sadar sepenuhnya bahwa satu pergerakan ceroboh hanya akan mengundang maut bagi Soedira.

Maka, pemuda itu hanya menundukkan pandangan, mencengkeram lututnya sendiri kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gemuruh di dada. Di saat penjaga itu akhirnya mendorong tubuh Soedira untuk menjauh dan memaksanya kembali berjalan, tembok ketegaran yang selama ini Nugra bangun runtuh dalam diam. Tanpa sepengetahuan sang dokter yang perlahan menghilang dari pandangan, setetes air mata luruh membasahi pipinya yang kotor oleh debu ladang, menjadi saksi bisu dari keputusasaan yang terpasung.

Kesedihan yang tertahan di siang terik itu nyatanya terus membekas, terbawa hingga malam larut merangkul kamp dalam keheningan yang mencekam. Saat Nugra berjalan tertatih kembali dari kerja paksa dengan tubuh remuk redam, kakinya yang diseret membelah pekatnya malam tiba-tiba terhenti di dekat pos penjaga. Matanya menangkap tumpukan sampah kertas yang dibuang sembarangan—sisa-sisa bungkus tembakau dan nota logistik kamp yang lecek. Dengan debar jantung yang memburu dan gerakan cepat, tangannya memungut potongan-potongan kertas kosong itu sebanyak mungkin, lalu meremasnya masuk ke dalam saku celana lusuhnya sebelum ada laras senapan yang mengintainya.

Sesampainya di sudut baraknya yang lembap dan gelap, Nugra duduk meringkuk di bawah secercah cahaya rembulan yang menerobos dari celah papan kayu. Dengan tangan yang masih gemetar karena kelelahan, ia merogoh sakunya, mengeluarkan kepingan arang kecil yang selalu ia sembunyikan di balik jahitan celananya. Ia meratakan kertas lecek itu di atas lututnya, menarik napas panjang seraya memejamkan mata sejenak, memanggil kembali bayangan wajah sang dokter yang rela mengorbankan nyawa dan harga diri demi membelanya.

Perlahan, di bawah temaram cahaya bulan, tangan kasarnya mulai menggoreskan arang tersebut, mengeja kembali kata-kata yang pernah diajarkan oleh manusia yang telah mengembalikan harga dirinya itu. Bentuk hurufnya masih kaku dan miring,

saya merindumu...Soedira.

Kertas lecek bertuliskan kerinduan itu tidak lantas ia simpan kembali ke dalam saku celananya, melainkan perlahan diselipkannya di antara sela-sela jemarinya yang kasar. Nugra menggenggamnya erat-erat sepanjang sisa malam, mendekap tangannya sendiri di atas dada seakan carikan hina tersebut adalah satu-satunya jimat penolak bala yang mampu menjaga kewarasannya agar tidak direnggut oleh dinginnya lantai barak.

Pagi-pagi buta sekali, di kala kabut masih menebal dan embun belum usai menitik, Nugra telah bangkit sebelum peluit para penjaga memekakkan telinga untuk menggiring barisan tahanan. Dengan langkah yang sengaja diperlambat di tengah pengawasan fajar yang remang, ia dibawa menuju area ladang bersama para kuli lainnya.

Matanya yang tajam di bawah alis yang berkerut diam-diam mencari celah, mengamati setiap sudut yang luput dari jangkauan pandang dan laras senapan para serdadu. Tepat saat pengawas lengah, ia menepi ke arah sebuah pohon rindang yang akarnya mencengkeram bumi dengan kokoh di pinggiran ladang.

Sambil berpura-pura membenarkan ikatan tali celananya yang longgar, Nugra merendahkan tubuh. Tangannya dengan sigap memindahkan sebuah batu kali yang separuh terkubur tanah. Di ceruk gelap dan lembap di bawah batu itulah ia meletakkan surat rapuhnya yang dilipat serampangan, lalu menutupnya kembali dengan hati-hati, menjadikannya perisai dari sapuan angin dan intaian mata-mata kejam.

Sebelum lekas bergegas menyusul barisannya agar tidak mengundang curiga, pemuda pesisir itu menoleh untuk terakhir kalinya ke arah bongkahan batu tersebut, menelan ludah getir seraya merapalkan sebait asa yang sunyi ke udara pagi, berharap takdir sudi berbaik hati menuntun langkah Soedira ke bawah pohon itu untuk menemukan sepotong hatinya yang sengaja ia tinggalkan di sana.

 


 

Sudah berbulan-bulan lamanya putaran waktu di kamp jahanam itu terasa seakan membeku. Bagi Soedira, berpisah dari Nugra adalah siksaan yang lebih pedih dari hantaman rotan. Tiap malam ia dirundung nelangsa, rindu menggerogoti ulu hati hingga merampas lelapnya. 'Gusti, sisakan napas untuknya di neraka ini,' rintih batin Soedira saban malam, kala sepi merajam dada.

'Biar pemuda keras kepala itu tetap bisa makan jagung grontolnya tiap sore, dan biar dia tidak lupa huruf-huruf yang sudah susah payah kuajarkan.' Dalam pejaman matanya yang lelah, ingatan Soedira selalu lari pada hangatnya pelukan malam itu, pada kulit putih halusnya yang bersembunyi di balik daki kerja paksa, dan tatapan teduh Nugra yang selama ini jadi jangkar kewarasannya.

Lamunan memilukan itu seketika buyar. Soedira mendapati dirinya tengah mematung menatap tembok kotor ruang medis. Di depannya, ada seorang prajurit penjaga yang menggigil hebat dijangkiti malaria. Di dalam dada sang dokter bergemuruh rasa muak yang pekat, matanya menatap tajam jarum suntik di tangannya. 'Gampang betul menghabisi nyawamu sekarang,' desis Soedira dalam hati, napasnya tertahan amarah. 'Cuma butuh satu gelembung udara kosong kutusukkan ke urat nadimu, dan kamu akan membusuk pelan-pelan, membayar semua penderitaan kami.'

Namun, akal sehat yang tersisa masih menahan tangannya. Ketegangan batin itu belum juga reda ketika seorang tentara lain melangkah masuk santai sambil menyalakan rokok linting, menjemput kawannya yang sakit itu.

"Eh, Dok," sapa tentara itu kasual, mengepulkan asap tipis ke udara seolah mereka sedang mengobrol di warung. "Selesai kamu urusi kawanku ini, lekas bawa cangkul ke ladang dekat pohon rindang di barat sana, ya. Tadi subuh ada tahanan nekat lari. Ya sudah, kami bedil saja kepalanya di tempat. Kamu bersihkan sisa-sisa darahnya, lekas cangkul tanahnya sebelum lalat pada kumpul."

Setibanya di sana, tangannya yang mendadak sedingin es mulai mencabuti ilalang liar di sekitar batas tanah. Di bawah sengatan matahari, hidungnya dipaksa menyesap bau anyir darah segar yang masih menggenang di tanah kemerahan itu. Perutnya mual, akal sehatnya diaduk-aduk oleh ketakutan yang menjalar beringas. Merasa lututnya tak lagi sanggup menopang bobot tubuh, sang dokter menjatuhkan diri, duduk terengah menyandar pada bebatuan besar tepat di bawah naungan dahan pohon.

Di sanalah, saat jemarinya tanpa sadar mengais tanah di celah bebatuan untuk mencari tumpuan, ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal. Soedira menggeser bongkahan batu kali itu, dan napasnya sontak tercekat.

Di dalam ceruk tanah yang lembap, terselip selembar kertas bungkus tembakau yang lecek dan berdebu. Kertas itu dilipat seadanya, disembunyikan dengan kehati-hatian yang luar biasa.

Dengan tangan bergetar hebat, Soedira mengambil dan membuka lipatan rapuh itu. Di atas lusuhnya kertas, hanya ada satu baris goresan arang yang kaku, ditulis kecil-kecil dan berantakan.

saya merindumu...Soedira.

Hancur sudah sisa-sisa pertahanan batin sang dokter. ‘Nugra,’ rintih batin Soedira, sementara pundaknya mulai terguncang hebat menahan isak. 

Air matanya tumpah menderas, jatuh menitik membasahi secarik surat usang di pangkuannya. Di tengah kepungan bau anyir kematian yang menyumbat kerongkongan, tangis Soedira pecah dalam sunyi yang paling menyayat.

"Aku di sini, Nugra... aku di sini. Aku juga merindumu," bisiknya parau, suaranya habis ditelan semilir angin ladang. Ia mendekap kertas kotor itu ke wajahnya, menghirup dalam-dalam sisa aroma tanah dan peluh yang tertinggal di sana, merapal sangkal dengan sisa kewarasannya yang nyaris putus, menolak percaya mati-matian bahwa darah yang merembes di tanah tempatnya berpijak ini adalah milik seseorang yang baru saja susah payah mengeja namanya.

 


 

1979.

Tahun-tahun berikutnya merayap seperti siput yang memikul beban dunia. Kamp itu kini hanyalah puing-puing berlumut yang dimakan semak belukar, namun bagi Soedira, setiap jengkal tanahnya adalah arsip luka yang tak pernah kering. Tidak ada lagi pertemuan rahasia di ruang periksa, tidak ada lagi derak arang di atas kertas bungkus tembakau, dan tidak ada lagi tahanan muda dengan tatapan teduh yang menjadi sauh bagi kewarasannya. Nugra hilang, tertelan zaman yang kejam, meninggalkan Soedira dalam sisa hidup yang terasa asing dan hambar.

Hari di mana gerbang besi itu akhirnya dipaksa terbuka bukanlah hari kemenangan bagi Soedira, itu adalah hari di mana ia dipaksa mengakui kekalahannya pada semesta.

Saat para tahanan lain berhamburan keluar dengan tangis bahagia, Soedira melangkah keluar sendirian dengan secarik kertas yang sudah nyaris hancur. Soedira kehilangan Nugra selamanya.