Chapter Text
Tanda Kedewasaan
Embun masih menggantung di ujung daun padi ketika Hemi membuka jendela kamarnya. Pagi itu terasa sama seperti pagi lainnya di Desa Sumberjati.
Namun tidak bagi Hemi. Tepat 14 hari lagi, usianya akan menginjak tujuh belas tahun.
“Hemi, turun ke bawah nak, ibu dan ayah mau bicara dulu!”
Suara ibunya, Harmi, terdengar dari ruang tamu. Hemi segera merapikan rambutnya dan berjalan keluar kamar. Di ruang tamu ibu sudah menunggu dan bapak, Marko, duduk sambil menyeruput kopi hitam. Hemi langsung duduk dan termenung.
“Kok diam saja?” tanya Marko.
Hemi mengangkat bahu.
“Aku kepikiran soal ritual itu.”
Ayah dan Ibu Hemi saling berpandangan—Ritual Mengabdi.
Tradisi keluarga yang selalu dijalankan ketika seorang anak memasuki usia dewasa.
Selama dua minggu, anak tersebut harus mengabdikan waktunya sepenuhnya kepada kedua orang tua. Bukan untuk bekerja seperti pembantu, melainkan untuk belajar segala hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah. Seperti melayani, memahami, bukan hanya soal pelajaran kehidupan tapi juga tentang kebutuhan manusia. Reproduksi.
“Aku takut nggak bisa,” gumam Hemi.
Harmi tersenyum kecil.
“Nggak ada yang perlu ditakutkan. Ibu dan Bapak cuma mau memastikan kamu siap menjalani hidupmu sendiri nanti.”
Hemi menunduk. Sejujurnya ia masih merasa seperti anak kecil, Tetapi tidak di mata bapak dan ibunya.
Ada lekuk-lekuk lembut yang mulai dipahat oleh waktu. Pinggulnya melebar kokoh dan anggun, payudaranya yang besar tumbuh semakin berisi, semakin terlihat ketat dan kenyal, keindahan yang sedang bertumbuh. Kulitnya memancarkan kilau baru, meski terkadang dihiasi rona jerawat kecil yang menandakan gairah hormon yang sedang giat bekerja.
Maka dari itu ibu dan bapak mempersiapkan Hemi untuk menjadi wanita seutuhnya di usia dewasa nanti.
Malam itu, sebelum tidur, Hemi menandai tanggal ulang tahunnya di kalender yang tergantung di dinding.
Empat belas hari lagi. Hemi mulai bersiap untuk pindah ke sebuah rumah baru bersama ibu. Ruang tamu, dapur, kamar, sawah, sungai semua yang ada di tempat baru itu milik mereka berdua. Ibu dan Hemi untuk 1 minggu kedepan.
Suara air dari sungai kecil yang mengalir di belakang rumah mereka. Di dalam rumah, Hastuti sudah menyiapkan semuanya. Di atas dipan kayu sederhana, tersusun beberapa set pakaian lipat rapi—kain batik, baju harian, dan kemben tradisional yang biasa dipakai perempuan desa saat di rumah.
“Mulai hari ini kamu tinggal sama ibu di sini,” kata Hastuti pelan, “Dalam ritual ini, ibu juga ingin memastikan kamu paham tentang tubuhmu sendiri,”
Tangan halus ibu membelai rambut Hemi “Ibu mau lihat seberapa cantik tubuh kamu” tangan ibu turun menuju dagu dan menarik wajah Hemi ke depan wajah ibu. Dengan lembut ibu mengecup bibir halus Hemi dan menyesap pelan. Tangan ibu sambil bergerak turun dan menuntun Hemi untuk membuka bajunya.
Setiap hisapan lembut mengirimkan gelombang kejut yang langsung merambat turun ke ujung jemari dan dasar perut. Mata Hemi terpejam rapat saat seluruh panca indera mendadak pindah ke satu titik pertemuan bibir. Menerima sengatan tanpa diberikan celah bernafas.
Menghirup udara yang sama, mencium aroma kulit yang menguar, dan menyerahkan kendali tubuh pada gairah yang menuntun.
Ibu lepas sesapannya, “Hemi nggak perlu takut, dan malu sama ibu, Karena semua bagian dari kasih sayang,” lalu ibu melanjutkannya dengan mengelus bahu Hemi yang sudah tanggal, mulai turun ke dadanya yang besar dan berisi, ibu remas dan pijat pelan.
“Aa-Aahh” Dengan nikmat Hemi pun mendesah, tangan ibu mulai memijat dengan tenaga, memainkan puting Hemi yang mulai tegang, di pelintir dan di mainkan dengan penuh kenikmatan. Hemi meraih tangan ibu di payudaranya dan ikut memijat, pun mulai tidak bisa menahan desahnya.
“Enak bu, Aahhh rasanya, geli tapi, kok enak”
“Mulai ritual sampai akhir nanti, ini namanya tetek ya Hemi, kamu panggil ini tetek” jawab ibu
“AAHHH— tetek aku, enak banget bu, makin Ahh, makin guede rasanyahhh”
Ibu pun tak kalah desahannya, sambil meremas tetek anaknya yang kenyal itu, “Aaahhhh, montok banget kamu Hemi, pijetin punya ibu juga,” Hemi pun meraih tetek ibunya dari luar kemben dan memerasnya nikmat.
Setelah ibu merasakan tetek punya Hemi, sekarang Hemi di tuntun untuk berdiri dan melepaskan bawahannya, sisa celana dalamnya. Ibu usap naik turun dari luar lipatan memek tembamnya Hemi, dengan perlahan ibu melepas celana dalam putrinya.
Ibu tarik tangan Hemi dan menyuruhnya duduk dalam pangkuan, dia lebarkan paha putrinya dan mulai menyapa kulit halus di daerah kemaluannya. Hemi yang merasa asing, dia rasakan kegelian ketika tangan ibu mulai mengelus bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di daerah kemaluannya itu.
Titik di mana kesadaran melayang pergi, menyisakan getaran hebat yang merambat dari pangkal paha hingga ke ujung rambut.
Tangan lentik ibu meraba memek Hemi, tangan lihainya masuk ke lipatan-lipatan daging memek tembam itu, di goyangkan, di gerakan naik-turun. memek Hemi pun mulai basah. Jari-jemari yang bergerak lambat.
“B-buhh, Aaahhh, ini apa bu,” “Kok, rasanya gelihh bangethh,” “aaaahhh-“ Hemi mendesah nikmat sambil mijat dasyat tetek ibu, menyalurkan rasa gelinya menjadi dasyat.
“Ini namanya memek Hemi,” lalu ibu menyubit klitoris Hemi, membesar dan berdenyut ruangan itu penuh desahan, mengalirkan kehangatan ibu dan anak yang merambat ke seluruh pembuluh darah. Sentuhan ringan di tengkuk dan desahan yang saling bersahutan di balik telinga.
“Aaahhh” dengan basah memek Hemi, gerak tangan ibu semakin cepat bermain dengan memek tembem itu sambil menyetil dan menyubit gemas itil anaknya.
Keintiman di ruang sunyi tempat dua jiwa yang saling berdesahan membiarkan kulit bertemu kulit, dan membiarkan ketelanjangan, rasa hangat yang perlahan naik dari dasar perut, berdenyut mengikuti detak jantung yang kian berkejaran.
“Pipissss, aaahhh, hemihhh, mauu pipiss bu” Hemi tidak tahan. “Pipis ajaa sayanghh, keluarin semuanyaa” Desah ibu, dengan jarak yang terkikis perlahan, menyisakan udara hangat yang bertukar sebelum kulit benar-benar bersentuhan.
Bibir ibu dan Hemi dari awal yang bersentuhan menjadi saling mengunci, mengecap rasa satu sama lain, menyadari bahwa rasa haus ini hanya bisa dituntaskan malam ini.
Ciuman yang semula tenang berubah menjadi ganas yang menuntut, lebih dalam dan lebih mengikat. Ibu mencoba mengajarkan bagaimana hangatnya sebuah lidah yang di sesap, menjelajah hangat yang basah, saling membelit dan bertukar rasa dalam labirin mulut yang intim dengan Hemi yang masih mengejar dan menyesuaikan ciuman pertamanya bersama sang ibu.
Jari-jemari Hemi yang meremas payudara telanjang ibu karena kemben yang di gunakan sudah tidak sanggup menahan besar dan tumpahnya tetek tembam. Tangan ibu semakin cepat, Hemi lepas ciuman panas itu.
“PIPISSS BUUH, AAHHH” —SYURRRRR Otot-otot yang menegang tiba-tiba berkedut pasrah, membuka gerbang bendungan, cairan bening meluncur deras, pecah dari sela memek seorang anak gadis, membasahi keintiman dalam sebuah perayaan yang tak tertahankan dengan desah dan nafas yang saling memburu.
Perlahan tubuh Hemi melorot jatuh, terkulai lemas di atas ranjang yang kini menyimpan jejak basah di pangkuan Ibu seperti luapan badai.
Pandangan mata yang sayu Ibu penuh kasih sayng, menatap langit-langit kamar sambil merasakan sisa-sisa denyut hangat yang perlahan mereda.
Dan tanpa ia sadari, perjalanan menuju kedewasaan itu telah dimulai bahkan sebelum ritual Mengabdi dilaksanakan
— to be continued.
