Work Text:
Tawa menggema di sudut kelas bersahutan dengan rintik air dari langit yang berlomba-lomba mencapai dasar bumi. Derap langkah beradu dengan lantai basah menciptakan cipratan kecil di sekitarnya. Air yang menggenang di kubangan memberikan bayangan bergetar dari apa saja yang berada di dekatnya.
Dunia memang butuh dipahami. Beberapa saat lalu, matahari memancarkan sinarnya begitu percaya diri, menyinari siswa-siswi yang mengeluh kepanasan saat pelajaran olahraga. Mereka menganggap eksistensi terik itu sebagai gangguan, seolah matahari datang untuk mengejek. Manusia memang tidak tahu malu, mereka mengeluh, merapalkan berbagai pengharapan supaya sang mentari tidak bersinar sekuat itu. Padahal di sisi lain, mungkin ada seorang ibu yang sedang bersyukur karena jemurannya dapat kering sempurna hari ini.
Begitu olahraga selesai, awan-awan gelap berdatangan, menelan sinar sang surya tanpa sisa. Yang awalnya hanya satu dua, kini segerombolan awan hitam tersebar di seluruh langit sejauh mata memandang. Seakan tak lagi sabar, satu persatu rintik air itu berjatuhan ke bumi membasahi setiap bagian tanpa pandang bulu. Kerumunan yang tidak sempat berteduh seketika pecah, bergerak cepat mencari naungan, berebut ruang di bawah atap atau sekadar membuka payung di tengah derasnya hujan.
Bel sekolah telah berdenting sepuluh menit yang lalu. Namun, para siswa nampaknya masih enggan menapakkan kakinya menuju gerbang sekolah. Sebagian disibukkan dengan pekerjaan sekolah yang sengaja dikerjakan lebih awal supaya waktu luangnya jadi lebih panjang. Ada pula yang bercengkrama dengan teman dekat, membicarakan banyak hal tak penting yang dirasa penting untuk diceritakan.
Ohyul mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi di depan kelas. Sepasang earphone bertengger manis di kedua telinganya. Sebuah instrumen kini tengah ia dengar, seluruh suara bising tenggelam bersamaan dengan terbukanya buku cerita di genggamannya. Sebetulnya, ia tak benar-benar ingin membaca buku tersebut, ia hanya tidak tahu harus melakukan hal apa sembari menunggu hujan reda. Sisa tenaga yang sudah ia siapkan dari rumah mulai menipis, tubuhnya sudah lelah menghadapi pelajaran hari ini. Hujan yang tak memberikan petunjuk reda dalam waktu dekat, membuat Ohyul terpaksa harus menghemat energi sosialnya untuk beberapa waktu ke depan.
Pemuda pemilik mata bulat itu menghela napas, menurunkan bukunya sedikit kasar karena bosan mulai menggerogoti dirinya. Bola mata Ohyul bergulir mencari objek yang menurutnya menarik, selaras dengan bulu mata panjang dan lentik yang naik turun tanpa disadari. Kaki kanan yang tidak diketahui sejak kapan mulai bergerak di tempat dengan tempo teratur. Sementara kaki kiri yang tadi ia tumpangkan ke atas lutut, kini kembali menapak lantai. Sorot matanya menangkap satu objek familiar, seseorang yang amigdalanya sudah kenali dengan sangat baik.
Kim Ryul.
Spontan, jantung Ohyul berdegup kencang, memukul-mukul dinding rusuknya meronta ingin keluar. Iramanya menjadi kacau tak beraturan. Tangannya kini terasa dingin, entah karena suhu yang kian semakin rendah atau karena perasaan gugup yang terus menjalar. Ia mengepalkan jemari, meremas kecil buku yang masih berada di tangannya. Seketika dunia terasa menyempit baginya, bagai disulap hanya Ryul-lah orang yang memenuhi seluruh pandangan Ohyul.
Di tengah lapangan sana, terlihat Ryul sedang berlarian mengejar bola bersama teman-temannya, menantang hujan yang kian menderas. Satu momen yang pas untuk mengisi waktu kosong sebelum pulang sekolah, seolah dunia tidak akan berakhir esok hari. Beberapa anak lelaki itu mengobrol dengan volume suara yang cukup kencang, terdengar gaduh dan riuh, bahkan orang-orang di sisi lapangan bisa saja mendengar apa yang mereka katakan. Tidak ada yang istimewa dari topik obrolan itu, mereka tertawa pada hal-hal remeh yang tidak begitu lucu. Ada temannya yang jatuh karena terpeleset, mereka tertawa. Ada yang gagal menendang bolanya, mereka tertawa.
Semua itu tidak lepas dari penglihatan Ohyul. Tiap gerakan Ryul menjadi poros bagi penglihatannya. Saat pemuda itu menyunggingkan tawa karena suatu alasan konyol—celetukan atau tingkah laku temannya, sudut bibir lelaki di depan kelas itu tanpa sadar ikut tertarik ke atas, melengkungkan senyuman manis yang tidak bisa dicegah.
Aneh. Bagaimana mungkin suara tawa yang bahkan tak ia ketahui penyebabnya bisa menjadi penawar paling ampuh untuk hari yang melelahkan ini? Lihatlah, cara mata Ryul yang menyipit saat tergelak, bahu yang turut berguncang mengikuti irama tawanya, tetapi kakinya masih tetap lincah menggocek bola ke berbagai arah.
Tiba-tiba, di sela tawanya, Ryul menoleh sejenak ke arah koridor. Entah kebetulan atau takdir, dua pasang mata itu terkunci satu sama lain selama beberapa detik. Jantung Ohyul seakan hampir copot, membuatnya reflek menunduk, kembali menyembunyikan wajahnya di balik buku yang tak lagi ia baca. Namun, seluruh tubuh Ohyul terasa seperti balon yang tengah diisi oleh helium. Semakin ringan dan bisa kapan saja melayang di udara jika tidak ada yang menahan. Beban-beban di pundak yang menumpuk, mendadak luruh, menyisakan sensasi hangat yang datang entah dari mana.
Ohyul mengeluarkan catatan kecil dari ranselnya. Ia mengeluarkan penanya dan menggoreskan tinta itu di atas kertas.
Halo, Diary!
Hari ini, Ryul melihatku. Atau mungkin hanya perasaanku? Ah, entahlah. Rasa senangku hari ini mungkin melebihi luas lautan di bumi. Kakak pasti akan mengejekku kalau ia tahu apa yang terjadi hari ini.
Ohyul menyadari satu hal. Sesuatu yang Ohyul tahu bahwa itu tidak akan pernah menjadi miliknya. Sesuatu yang terlalu jauh. Bahkan untuk sekadar berangan pun ia merasa sungkan.
“... Papi!”
Ohyul tersadar dari lamunannya kala ada cipratan kecil yang sengaja diarahkan ke wajahnya. Ia menggeleng seolah menyadarkan diri, menghalau bayangan masa lalu yang baru saja melintas di kepala. Di hadapannya ada sosok kecil berkulit putih dengan pipi gembil sedang menatapnya penuh tanya. Melihat mimik wajah bocah itu mengundang tawa kecil dari seseorang yang disebut papi itu.
“Udahan main hujannya?” tanya Ohyul seraya berlutut di depan sang buah hati. Tangannya dengan telaten membungkus tubuh sang anak dengan handuk, upaya untuk menolak angin tak lagi masuk ke pori-porinya. Ia mendekap erat tubuh kecil itu, merasakan anggukan pelan di bahunya sebagai jawaban dari pertanyaan yang ia lontarkan.
“Sayang!” Panggilan itu datang dari arah lain. Ohyul menoleh. Di sana, Ryul berdiri, memberikannya cengiran khasnya yang sama persis, seolah waktu tak benar-benar mengubah apapun.
“Rul, ih! Basah, lho, tidak peluk-peluk ya, Papa.” protes Ohyul saat tubuh basah itu menyusup di antara dirinya dan si kecil. Namun, protesnya hanya dibalas tawa renyah dari Ryul dan anaknya, Louis. Ryul kemudian mengecup singkat pipi Ohyul. Dingin, rasa bibir suaminya itu terasa membeku, efek terlalu lama mandi hujan bersama Louis. Ohyul mendengus pelan, namun senyum di wajahnya tak bisa ia sembunyikan.
Ryul meraih handuk di dekatnya yang telah disediakan dan bergegas menyusul langkah Ohyul. “Mikirin apa sih sampai ngelamun kaya gitu?” tanya Ryul lembut.
Ohyul terdiam sejenak, tersenyum tipis. “Bukan apa-apa, Papa. Aku cuma... Keinget pas SMA. Liat kamu hujanan sama Adek, aku jadi kaya déjà vu.”
Ryul terkekeh, lalu menatap lekat suaminya. Ah, ternyata Ohyul sedang bernostalgia. Pada masa itu, ia memang tidak mengenali Ohyul. Namun, hari ini segalanya berbeda. Ia telah menyerahkan seluruh dunianya, jiwa dan raganya, untuk satu-satunya orang yang kini memegang kendali atas hatinya. Kwon Ohyul.
Ryul mengecup puncak kepala Ohyul, mengingatkannya bahwa masa lalu hanyalah tumpukan kenangan yang tersimpan, sementara masa kini adalah napas yang mereka jalani bersama. Ohyul mengukir senyuman. Tak disangka, pemuda yang dulunya hanya bisa ia lihat dari balik jendela kelas yang berkabut, kini menjadi sosok yang paling dekat dengannya, bahkan lebih memahami dirinya daripada ia sendiri. Hujan tetap turun, tetapi kali ini, ia menyuguhkan ketenangan, bukan lagi jarak yang memisahkan.
