Work Text:
Flins bangun dengan sekujur tubuh penuh tanda merah. Dan ia tersenyum. Puas.
Tubuhnya sudah mejadi kanvas pribadi seseorang. Tuan Muda-nya.
Meski dia sudah melihat berbagai warna di dunia, perpaduan kulit putihnya dan tanda merah ini benar-benar tampak menggoda. Masih sama seperti yang ia utarakan dulu sekali saat skandal aristokrat dengan para manusia di Snezhnograd mencuat dan memicu banyak gosip. Dia merasa tanda-tanda merah di leher gadis-gadis bangsawan itu memang merona dan memancarkan pesona yang membuat mata melirik untuk kali kedua dan pipi merona membayangkan seberapa besar kekuatan untuk membubuhkan tanda kepemilikan di kuliat yang halus dan rapuh tanpa merusaknya seperti itu.
Tapi sekarang setelah ia juga memiliki tanda yang sama—di sekujur tubuh, tanpa terlewat satu jengkal pun—ia bisa mengatakan dengan jelas bahwa sensasi saat tanda-tanda merah ini dibubuhkan dengan bibir yang mengatup kuat, isapan yang seolah ingin melelehkan kulit, semua sensasi itu tak bisa diutarakan dengan kata-kata. Terlalu indah dalam kenangan, terlalu erotis dalam puisi.
Flins hanya bisa ingat desah napas sang tuan muda saat membubuhkan belasan tanda itu dalam nafsu yang lebih mirip gelenyar makhluk buas daripada tuan muda yang biasanya malu-malu dan berusaha tampak moderat dalam setiap situasi.
“Apa sudah cukup banyak aku menandaimu, Tuan Flins? Atau kau masih butuh lebih banyak lagi untuk meyakinkan hatimu?”
Flins tersenyum di depan cermin . Satu tangannya melingkar di pinggang, mereka ulang kejadian semalam ketika tangan yang—di luar dugaan—sangat kokoh, meski kecil itu, meraup pinggangnya dalam pelukan kecil yang tak bisa dilepaskan dengan mudah.
“Tuan … Flins, maaf, aku mungkin akan bertingkah kurang ajar selama beberapa jam ke depan. Kau bisa menghukumku nanti saat pagi.”
Flins menghela napas, tak bisa menahan senyum muncul di bibirnya. “Seperti biasa, Tuan Muda. Selalu membuat kejutan tak terduga.”
Aku tak bisa meremehkan anak-anak muda zaman sekarang.
Flins baru saja beranjak akan pergi mandi, tapi Illuga menggeliat di kasur dan membuka mata. Kedipannya lembut pada awalnya, tapi saat melihat Flins berdiri di depan cermin, memunggunginya dalam keadaan tanpa busana, Illuga langsung memerah. Flins tersenyum. Sepertinya kesadaran sudah datang membanjiri benak pimpinan muda Light Keeper itu.
Tangan Illuga gemetar memegang selimut dan Flins hanya bisa berpikir “imutnya” pada sang tuan muda. Benar-benar kontras dengan laki-laki liar yang membuatnya merintih memohon ampun semalaman.
“Oya, Tuan Muda, apa Anda tersipu malu pada mahakarya Anda sendiri? Saya kira Anda suka sekali melakukannya semalam sampai mengabaikan permohonan ampun dari saya.”
“T-Tuan Flins, itu—
Saat melihat senyum Flins, Illuga kembali menunduk. Muka dan telinganya memerah malu-malu.
“Oh, malu-malu lagi, ya? Seperti bisa diduga dari Tuan Muda.”
“Tuan Flins, kau cuma sedang mengejekku.”
“Mana mungkin saya berani. Saya hanya mengatakan reaksi Anda benar-benar khas Tuan Muda Illuga.” Flins mengurai rambutnya lagi dan memungut bajunya dari lantai. “Justru saya dan yang lain menyukai sisi Tuan Muda yang seperti ini.”
Nyaris tanpa suara, illuga mendekat dan sekarang dia memeluk Flins dari belakang.
“Kau dan yang lain?” Kedua tangannya memeluk pinggang Flins. “Lalu apa yang hanya kau yang suka dari aku, Tuan Flins?”
“Hanya aku?”
Illuga mengangguk.
Flins menyentuh pipinya. “Wah, wah, Tuan Muda. Sepertinya Anda tidak mendengarkan saya dengan baik semalam, ya?”
Pipi Flins langsung memerah. “E-eh? Me-memangnya kau bilang apa semalam, Tuan Flins?”
Flins mencubit pelan pipi Illuga. “Rahasia. Kalau saya ulangi, itu namanya bukan hak isimewa Tuan Muda.”
“Hak istimewa?” Illuga membeo.
“Benar, karena saya tidak mungkin mengatakan hal semacam itu kepada orang lain selain orang yang saya percaya. Dan orang yang saya percayai malam tadi adalah Tuan Muad Illuga seorang.” Flins menaruh tangannya di dada, tepat di tanda yang Illuga tinggalkan. Tempat inti nadi tubuhnya berdenyut hangat dan hidup. “Buktinya sudah jelas terpampang di depan mata Tuan Muda sendiri. Saya tidak mungkin menyerahkan tubuh saya sejauh ini sampai menjadi milik Tuan Muda sepenuhnya jika saya tak menaruh harapan pada apa yang kita punya semalam.”
Flins berhenti sejenak dan—oh.
Dia hanya bisa menggambarkan wajah Illuga mirip seperti Midsommar berry yang terlalu matang.
“Oya.” Flins tersenyum. Tangannya menyentuh dagu Flins. “Anda ternyata tidak lupa pada apa yang saya katakan semalam, sepertinya.”
Flins dengan sengaja menundukkan wajahnya sampai ke telinga Illuga.
“Tuan Muda, nakal ya 💙 .”
Illuga langsung bergetar mendengar nada menggoda itu dari Flins. Dan Flins tertawa pelan. Illuga mirip ikan-ikan kecil yang bermain-main dengan kail pancilnya semalam dan Flins tak bisa menahan senyum. Tapi ketika dia lengah seperti itu, kedua tangan Illuga menangkap pipinya. Menatpanya dari dekat. Matanya berkilat: kesal dan malu, tapi juga ada tekad yang membuatnya terpikat semalam.
Ah. Flins merasakan gelenyar itu menyala sekali lagi. Sorot mata itu sama persis seperti sorot mata yang membuatnya lemah dan menaklukkannya dari ujung kepala sampai ujung kaki semalam. Hanya beberapa jam lalu. “Illuga.”
Flins memanggil gelar itu dengan suara yang sama yang ia gunakan semalam: bukan suara yang meledek, bukan pula suara yang formal seperti yang biasa para Ratniki lain gunakan kepada Illuga. Ini sesuatu yang berbeda.
“Flins.” Illuga berbisik tepat di bibirnya. Bukan nada seseorang yang hormat kepadanya, penasaran kepadanya atau segan padanya. Bukan pula nada seorang atasan kepada bawahan atau kolega. Ini nada khas Illuga. Nada yang baru didengar dan didapatkan Flins semalam. nada yang eksklusif hanya untuknya. Dan Flins tak bisa lebih senang lagi. “Jangan menggodaku. Aku bisa saja mengulangi apa yang aku lakukan semalam tanpa bisa berhenti hari ini.”
“Oh, sungguh? Kau perhatian sekali, Tuan Muda.” Flins yang usianya jauh lebih matang, tentu saja tak merasa gentar dengan peringatan itu. Dia malah ingin mengujinya lagi. Dia ingin tahu, seberapa jauh anak muda zaman sekarang bisa membuatnya lemah tak berdaya.
Flins pun melingkarkan lengannya ke pundak Illuga. “Tapi aku sudah berusaha keras sampai memberimu isyarat sejelas ini, apa kau masih belum paham kemauanku?”
Tangan Illuga membelai dagunya. “Kau tidak lelah? Aku tidak terlalu kasar semalam?”
“Semalam adalah malam paling sempurna. Sampai rasanya bagai mimpi paling liar yang pernah aku bisa idamkan.” Flins tersenyum, mendekatkan bibirnya dengan sengaja. “Ingatkan aku, Tuan Muda-ku. Maukah kau ingatkan aku kalau semalam itu nyata?”
Flins dengan sukarela menjatuhkan dirinya kembali ke ranjang yang empuk. Ranjang yang beraoma persis seperti Illuga. Persis seperti seks semalam. Percintaan mereka yang panas semalaman suntuk. Dan Flins tak ragu-ragu membuka seluruh dirinya untuk dilihat oleh Illuga, disantap bulat-bulat oleh matanya yang berkilat penuh nafsu.
“Nah, apa yang kau tunggu, Tuan Muda? Tidak baik membuat pasanganmu menunggu terlalu lama. Itu etiket dasar saat bercinta.”
Illuga meraih tangan Flins dan menciumnya. “Kau selalu bisa mengejutkanku, Tuan Flins.”
Dia pun mendekat sekali lagi, mencapai keintiman yang tak pernah diizinkan mereka berdua, selain kepada satu sama lain.
“Kau akan terkejut pada apa saja yang dunia ini sudah ajarkan kepadaku.” Flins menggenggam tangannya.
Illuga balas menggenggam tangannya erat. “Tunjukkan padaku … ya?”
Flins tersenyum dan sekali lagi, tangannya memeluk tubuh Illuga dengan mesra. “Dengan segenap jiwa ragaku … Illuga.”
Dalam dekapan sinar
mentari, tubuh mreka berdua meleleh dalam satu bayang-bayang teduh, sekali lagi.
***
