Work Text:
"Anjir?"
Entah siapa yang sudah membuat sesuatu yang seharusnya menjadi fantasi ini direalisasikan.
Ya, semisal benar jadi kenyataan pun Ryouta sendiri pasti hanya tertawa pelan namun tetap mengingatkan teman dan viewersnya untuk hati-hati. Toh lactating bukan hal yang tidak wajar—jika dinalar sedikit lebih jauh—dasarnya manusia terlepas dari jenis kelaminnya memang mempunyai organ untuk itu.
'Tapi kenapa kenanya ke gue nyak?' pria bersurai ungu itu merintih pelan ketika dadanya kembali berdenyut.
Lebih mengejutkannya, cairan putih sedikit bening juga ikut keluar dari puting dadanya, seirama dengan rasa nyeri itu.
"Duh anjirr pegel bangett." Sejenak Ryouta terpikirkan oleh nasib wanita-wanita hamil saat merasakan perubahan fisiologis yang sama dengannya sekarang. Rasanya dia ingin memberi salam hormat penuh kebajikan pada para wanita yang berani untuk mengambil langkah ini.
Itu kalau dia sendiri tidak sedang meringkuk kesakitan.
Entah pikiran darimana untuk meringkuk itu, refleks saja mungkin. Intinya Ryouta merasa dadanya sangat nyeri dan berat. Dan lebih buruknya, dia tidak tau harus diapakan dadanya ini.
Kalaupun dia tau, mungkin sudah langsung dia amanahkan tanpa banyak babibu, mengingat dadanya yang terus membasahi permukaan bajunya itu dengan air susu. Sial, Ryouta merinding sedikit, dia cuma lactating doang kan ya? Bukan hamil???
Ketakutannya itu cukup untuk mendorong kemalasannya minggir sejenak dan mengecek kembali tubuhnya di cermin.
Hm… masih mulus, tanda-tanda buncit kekenyangan semalam pun sudah hilang.
Ya, yang aneh hanya dadanya yang terlihat lebih berisi dan masih mengeluarkan air susu tetes demi tetes.
"Jiir, apes tenan iki," Ryouta meringis kecil. "Gimana ya…"
Belum lama dirinya merenungkan dadanya, suara dering call menggelegar.
Niat awalnya dia masih ingin membiarkan ringtonenya mengisi keheningan, toh dia juga memang merasa super lemas untuk menanggapi siapapun di ujung line itu. Syukur syukur jika orang itu tidak meminta kerja atau uang pada Ryouta.
Satu miscall melambung di layar handphonenya. Ryouta mengerang pelan sebelum mencoba untuk tidur dengan posisi meringkuknya itu.
Panggilan selanjutnya masuk.
Ryouta hanya meraih handphonenya dan menulis pesan singkat sebagai balasan. Mengabaikan panggilan sepenuhnya sebelum tertidur pulas di tengah kasurnya dengan bantal yang diselipkan diantara dada dan tungkai kakinya.
.
Yesterday
Yot, jadi ke tempatmu, ga?
13:28
Yot?
13:39
Missed calls (2)
14:02
Sesuk ae, aku seng turu
14:19
Sama aku mau ngobrol sama kamu, awas besok malah ga dateng
14:20
Oh, oke…?
14:23
.
Berdiri di depan pintu masuk kediaman Ryouta bukan hal yang canggung baginya, ataupun memalukan. Toh wajar juga kalau semisal dia menunggu—sedikit banyaknya kebanyakan—lebih lama. Eray hanya mendengus pelan sembari mengetuk kembali pintu kediaman pacarnya itu
Ya, salahnya sendiri sih karena tidak mengabari Ryouta sebelum jalan kesini.
Jadi ketika Eray mendengar suara gedebag gedebug penuh kegaduhan dan aduhan, dia hanya bisa meringis sedikit. Semoga dia tidak disemprot oleh Ryouta hanya karena ini saja…
Krieet
"Yota, aku—"
Bahkan belum sempat Eray menunjukkan kealayan dirinya yang rindu dengan pacarnya itu. Ryouta sudah menarik kerah bajunya untuk masuk. Sedikit terlalu kasar karena Eray hampir saja terjerembab.
"Kenapa sih ka—"
"Ray, gue lactating."
Apa sih?
Eray melirik sinis kearah pacarnya seperti dia baru saja memakan kalung chokernya sendiri dengan saus keju. Ya, itu mungkin bisa dia tanyakan review rasanya, meski sepertinya dia akan mendapat pukulan dari Ryouta.
Dirinya hanya bisa menghela nafas, "Yot, fanfic mpreg mana yang menyakiti kamu…"
"Ra ono fanfic mprek mprekan cok, seriusan!" Ya, mungkin fanfic bergenre manusia setengah sapi itu. Tapi Eray sedikitnya merasa tidak yakin Ryouta berani membaca fanfic bergenre itu.
Sebelum pikiran Eray melayang lebih jauh. Dirinya ditarik kearah kamar tidur Ryouta, tepatnya kasur sang empunya.
Dan sebelum Eray bisa berkata apa-apa, Ryouta sudah menyibakkan bajunya hingga torsonya terpampang jelas di mata Eray. Teriakan ternodai ditahan Eray begitu dia melihat dada Ryouta yang sedikit membengkak dan putingnya yang juga sepertinya lecet.
Eray merengut kecil. "Kau nggak kasih obat putingmu kah—"
Dan di depan matanya, beberapa tetes air berwarna putih dan cenderung transparan itu, menetes pelan dari pucuk dadanya.
Eray termenung tanpa komentar apa-apa selama beberapa menit.
"This real?"
"Ril lah anjir, percaya sama pacarmu sikit napa." Eray mengangguk pelan mendengarnya. Pikirannya masih melayang pada hal yang secara biologis ini memerangi norma tubuh umumnya.
Ryouta sendiri yang merasa lebih lega karena sudah bercerita pada pacarnya itu kini mengangkat suaranya. "Oke, terus kamu ada saran gak, aku kudune ngapain?"
"Diperes aja ga sih?"
"Hah?"
Ryouta mengerti jelas kalau pacarnya yang satu ini seringkali melempar kata tanpa dipikirkan tata bentuknya. Namun untuk satu ini, Ryouta ingin memberi aba-aba. Jika salah, maka dia hanya akan mencibir terbuka. Jika benar—
"Ya, lu pijet gitu biar susu lu keluar. Bisa gitu ga sih?"
"CANGKEME COK, MINIMAL BILANG PIJET DARI AWAL GITU." Eray mengernyitkan dahinya akan reaksi Ryouta, seakan tidak menemukan titik permasalahannya. "Emang bedanya apaan?"
"Lu—" Ryouta menepuk dahinya, melupakan fakta tentang Eray yang paling terang. Ya, dibiarkan sejenak mungkin dia akan menyadari kesalahannya. Meski biasanya tidak begitu.
Eray mendengung pelan, seakan tengah memikirkan jawaban yang benar. "Atau aku coba sedot?"
Refleks Ryouta menutupi dadanya dengan tangannya, menjauhi Eray beberapa sentimeter.
"Ya, yang kayak gitu kan biasanya emang perlu dikeluarin, Yot, ASInya sih maksud aku. Karena kalo numpuk di dadanya juga ada resiko bahayanya juga."
"Iya…"
"Dan kamu kan gaada pump machine yang biasanya ibu-ibu menyusui punya, kan?"
"Wes wedi, tapi oke…"
Eray mengangguk kecil, "ya, pilihannya kamu keluarin ASInya entah dipijit sampe keluar atau pacarmu ini yang nenen ke kamu biar kamu nggak nyeri-nyeri ataupun resiko kenapa-napa dada kamu."
Ryouta termenung sambil memijat keningnya, berusaha menerima info persuasif yang diberikan oleh Eray. Ya, bukannya dia menolak sih, prospek yang diberikan justru menguntungkan dirinya karena dia tidak harus membeli barang yang entah kapan lagi dia pakai, dan dia mendapat handjob dari pacarnya itu.
Sial, sekarang Ryouta sedikit basah memikirkannya.
"Belajar dari mana sih, sampe kamu bisa ngasih argumen kayak begitu?"
"Dari kamu, beb." Dan cengiran dari Eray itu cukup untuk membuatnya langsung menggelengkan kepala. Menyuruh Eray untuk menunggunya yang ingin ke kamar mandi.
Eray hanya menghela nafas.
Entah harus lega atau khawatir dia harus menjaga tingkahnya seperti apa selanjutnya. Dirinya dan Ryouta hanya dibatasi oleh selapis tembok, jadi baiknya dia tidak bertingkah aneh-aneh di kamarnya ini.
Eray menepuk wajahnya sendiri.
Pikirannya masih melayang bagaimana puting ranum merah itu menitikkan air susu didepan matanya. Bagaimana jika Eray menyentuh puting itu? Menyesapnya kuat dan memainkan yang sebelahnya dengan jahat? Apakah kalau dia gigit areola Ryouta susunya akan keluar lebih banyak? Kalau dia menyusu pada Ryouta sembari merojok lubang bawahnya apakah susunya akan lebih mengental? Atau justru keluar lebih deras?
"Shibal…" Eray merasa dirinya mungkin tidak bisa menahan entah keingintahuannya dan birahinya.
.
Sepertinya keduanya tidak bisa menenangkan tensi yang makin meningkat di dalam ruangan.
Entah Ryouta yang kebanyakan pikiran atau justru Eray yang overthinking. Namun keduanya berusaha keras untuk tidak berbicara soal problem yang sedari awal sudah Ryouta bahas. Ya, mungkin lebih baik begitu daripada dia harus mendengar ocehan bak pelangi dari mulut pacarnya itu.
Sayangnya seri yang mereka tonton sepertinya tidak mendukung agenda keduanya.
Entah apa yang merasuki Ryouta untuk memilih film yang belum pernah dia lihat ini, dan entah apa yang ada di pikiran Eray untuk menyetujuinya. Mungkin keduanya berpikir, film ini cocok untuk memerangi suara statis di kamar Ryouta.
"Apaan anjir, kok MC-nya ngikutin dia dah."
Keduanya malah secara aktif berkomentar dan memberi masukan. Genre action dari film yang mereka tonton juga tidak menolong. Beberapa kali Ryouta mencibir bagaimana stuntman yang gerakannya terlihat OOC dan bagaimana Eray berkomentar mengenai soundtrack film yang mereka tonton.
Sampai pada satu scene dimana terdapat dua sejoli yang tengah berpura-pura melakukan sex, namun berusaha membuatnya semasuk akal mungkin.
"Damn, awkward banget bejirr." Ryouta tertawa pelan.
Namun matanya selalu mencuri pandang bagaimana pasangan itu sedang mencoba untuk beraba dada dan meremasnya. Sial, wajar Ryouta terasa sedikit panas dengan bagaimana sekarang pasangan di film itu sedang mencoba merekreasi adegan penetrasi.
Ryouta menahan lenguhannya, dia bisa merasakan dadanya kembali berdenyut. Sial, kenapa juga dia harus menggunakan kaus tipis untuk saat ini.
Wes lah, kita drop aja filmnya. "Ray—"
Dan bohong jika Ryouta tidak merasa turned on ketika Eray meliriknya sejenak sebelum berpose seakan dirinya tidak juga merasa birahinya sedang naik.
Manik coklat terang itu menatapnya di mata sebelum turun perlahan pada dadanya, seakan mengecek apakah air susunya kembali tumpah ketika dia tidak melihat. Entah keingin tahuan atau kelaparan yang kini merasuki seorang Eray Syukri, namun pria itu menolehkan kepalanya kembali pada tontonan keduanya.
Sialan, Eray dan tingkahnya.
"Minat ga?"
Ucapan itu keluar dengan mudahnya, seperti dirinya meminta order makanan online.
Eray mendengus geli, tubuhnya beringsut mendekat kearah Ryouta diatas kasur ini, "apanya?"
"Bajingan, lu yang bikin gue sange ya." Keluh Ryouta sembali membiarkan tubuhnya dipeluk.
Oknum pendekap dari belakang itu hanya tertawa lepas, tangannya mulai aktif memijat dada Ryouta yang masih terlihat berisi, tidka berubah sejak kemarin. Sesekali memilin ujung putingnya, entah berharap ada buliran air keluar lebih deras atau berharap cubitan Ryouta terasa lebih menusuk kulitnya.
Memang usaha Eray sedikitnya berhasil, meski hasilnya super berantakan.
Ralat, melihat bagaimana buliran air itu hanya mengalir menuruni jemari Eray dan perut yang empu. Keduanya setuju proses ini akan memakan waktu dan tenaga.
Mungkin kewarasan Eray juga, kalau boleh jujur.
Jaket terlempar asal, bahkan sweater dan baju-baju yang tersisa di tubuh Eray hanya mengganggu prosesnya. Hampir saja Eray merobek bajunya jika Ryouta tidak mengingatkannya. Pikirannya hanya terfokus pada apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Gausah dijilat ya anjing."
Eray, tanpa mempedulikan raungan amuk Ryouta, hanya kembali membersihkan tangan dan pergelangannya menggunakan lidahnya. Mulutnya aktif mengemut pelan digit yang sebelumnya sudah teraliri air susu selama, entahlah, apa ini sudah setengah jam? Eray lupa tujuan utamanya disini.
Butiran itu terasa ringan dilidahnya, sedikit kental karena lemak, namun tidak yang amis seperti dugaannya.
"Ga manis Yot, enak."
Ya, Eray bisa menebak ekspresi apa yang Ryouta berikan sekarang, "mikir kids."
Tanpa menghiraukan reaksi Ryouta dan tanpa banyak berpikir lagi, Eray membalikkan tubuh Ryouta. Membiarkan empunya memekik terkejut sebelum dirinya mencoba menyusu langsung dari puting Ryouta yang sudah mulai memerah itu.
"Ray, anjir bentar!—"
Ah, tadi Ryouta ingin memperingatinya soal apa? Lidahnya masih disibukkan dengan rasa lembut yang terus menyentuh lidahnya, menggelitik papilanya dan membuatnya semakin penasaran dengan rasa aslinya.
Ah, ada beberapa yang menetes keluar.
Eray sedikit menyayangkan tetes yang berhasil lolos hingga dagunya. Tangannya yang juga menangkup pucuk dada satunya lagi tidak tinggal diam, membuat kekacauan kecil dan membasahi telapaknya dengan jarinya yang masih aktif memilin dan menarik-narik pelan puting Ryouta.
Sepertinya Eray mendengar namanya disebut, tapi mulutnya masih sibuk menangkup air susu Ryouta… ah, nanti saja. Ryouta juga pasti mengerti.
.
Mungkin Eray yang harusnya mengerti batasan Ryouta.
Karena setelah entah berapa menit ini—film yang mereka tonton sudah selesai—dirinya terus mengabaikan permintaan Ryouta untuk memberi jeda yang terlalu lama. Bahkan Eray tetap mengejar Ryouta yang sudah melemah dan ingin merebah.
Dan pemandangannya… Ryouta yang setengah menangis karena overstimulasi dengan kaus tipisnya yang tidak menyembunyikan apapun, disambah celana pendek yang kini sudah kuyup setelah Ryouta ejakulasi beberapa kali.
"Yot," Eray tertawa pelan, "kamu enak banget. Yot."
Belum sempat Ryouta melampiaskan amarahnya. Lengkingan desah terlepas ketika tangan Eray menyelinap untuk mengusap titik basah di celananya itu. Ryouta menggeliat pelan, Eray sedikit bingung kenapa Ryouta merasa tidak nyaman sebelum dia menyadari apa yang dia sentuh dibawah sana.
"Lah, Yot… dibawah sini juga..?"
Ryouta menoleh kearah lain, "…barengan sama lactatingnya.."
Tatapan Eray melembut begitu dia menyadari bagaimana Ryouta mungkin merasa tidak nyaman dengan ini.
Dia meraih tangan Ryouta yang mengepal di samping tubuhnya, matanya menatap bagaimana netra pink itu membuka kelopaknya sebelum bibirnya kembali menyapu milik Ryouta dan membawanya pada ciuman pelan.
Pagutan itu terasa lembut, dan Ryouta tidak bohong jika dia merasa terbuai oleh sapuan bibir Eray yang terus memintanya untuk membuka mulut. Lidah yang dia persilahkan masuk itu mengecap tiap liur yang ada di mulut Ryouta, menghantui giginya, dan menarik langsung lidahnya untuk bergumul.
Lidah keduanya saling meliuk dan meraba, meninggalkan jejak bening dan transparan ketika Eray menarik dirinya sejenak dari Ryouta.
"Aman?" Hanya dibalas anggukan.
"Lanjut ga nih?"
Ryouta terdiam sejenak, bibirnya berucap setuju cukup pelan, sebelum dirinya bisa mengkonfirmasi ulang jawabannya Eray sudah terlebih dahulu menyahut. Pria itu menuruni kasur sejenak untuk merogoh kantung jaketnya, sedikit membuat Ryouta turned off karena pria itu yang kelamaan.
"Oh?" Ya, mungkin Ryouta bisa maafkan, "Bagusla, inisiatif"
Eray hanya terkekeh pelan sebelum menaruh kondom dan lubricant yang entah sejak kapan dia beli itu di meja kecil samping kasur. Tak lupa, dia mulai menanggalkan baju keduanya hingga tersisa dalamannya masing-masing.
Biar ga di robek, komentar Ryouta, dan Eray hanya tertawa lepas mendengarnya.
Dan, oh, jika boleh jujur Eray ingin langsung mengasarinya kalau dia tidak ingat Ryouta masih perawan di tubuh ini. Keduanya pernah bersenggama, ya, namun bukan di lubang vagina—jadi Eray sendiri masih sedikit ragu bagaimana dia harus melakukan ini.
Sedikit merasa senang ketika Ryouta memberi anggukan afirmatif sebelum pasangannya itu kembali terlentang diatas kasur. Memberi tangannya akses untuk kembali menjamah permukaan tubuh Ryouta tanpa ragu, kembali memijat pelan dada Ryouta untuk memerah kembali air susunya.
Jemarinya mengelap pelan air susu yang keluar pada kulit torso Ryouta, seakan menggambar abstrak atau menulis kaligrafi yang dia tidak ketahui.
"Pelan-pelan ya—hng!~" itu sebelum mulut Eray kembali menjilat haus tiap permukaan kulit Ryouta.
Lidahnya terus meniti rasa air susu dari puting Ryouta yang ranum itu, merasakan bagaimana cairan dengan rasa familiar itu bercampur dengan asin keringat. Eray sendiri tidak berpikir dirinya into kink kink keras, dia sendiri menganggap dirinya cukup vanilla.
"Hahhng—Ray, sek. Sek, aku wes—ngg!~"
Eray tersenyum kecil sebelum melanjutkan jejak ciuman dan lumatan pada kulit Ryouta hingga dirinya mencapai pucuk diantara kedua kaki Ryouta. Menanggalkan dalaman yang membatasi dirinya dan kemaluan Ryouta.
Entah apa yang Ryouta katakan padanya soal penisnya yang berubah menjadi vagina stelah inj, toh dia juga sama terkejutnya. Mungkin beberapa kalimat seperti denial atau bahkan Ryouta yang merasa sangat tidak nyaman dengan tubuhnya sekarang.
Namun, oh, apakah Eray menolak untuk mengendus kelopak labia Ryouta dan mencium klitorisnya pelan?
Eray dapat merasakan bagaimana paha Ryouta menegang dan terkadang bermanuver untuk menedangnya. Toh ini yang selalu para pria atau posisi top rasakan ketika mereka berurusan dengan kesayangan mereka yang overstimulated. Jadi Eray hanya menangkap pelan lutut Ryouta, dan menggigit paha dalam pria itu.
"Sabar, dikit lagi aku makanin." Eray tertawa kecil, "ga sabaran banget, ya?"
"Gausah anjir—Ray, uah! AH! Ngghak ushaa~ ah! Ahng!~"
Entah saklar apa yang menyala di kepala Eray hingga dia memutuskan untuk berusaha mengulum seluruh permukaan kemaluan sang surai ungu pink itu. Mungkin penekanan pada berusaha karena mulutnya tidak sebesar itu, Eray sedikit menyesali fakta ini.
Padahal akan sangat menarik jika dia bisa bermain-main dengan bibir bawah pacarnya itu dengan leluasa.
Tidak apa, lidahnya masih bisa bermain-main pada lubang vagina Ryouta secara langsung. Meski dia masih harus menenggelamkan hidungnya pada klitorisnya.
"ERAY—UDAHANNH! HNGG!~"
Eray bisa merasakan lubang yang sedari tadi dimainkan oleh lidahnya itu mengeluarkan cairan, bertekanan cukup tinggi, jika dia boleh berkomentar. Wajahnya saja sampai ikut terciprat dan sebagian besarnya berhasil terperangkap di mulutnya.
Mengulum semua pelepasan Ryouta di mulutnya, Eray mengangkat kepalanya dan tersenyum kecil kearah Ryouta. Yang diberi senyum hanya menatapnya lelah sebelum melotot kaget ketika Eray, menelan semua cairannya tanpa babibu.
Ryouta sendiri bisa merasakan bagaimana tubuhnya bergetar mendengar suara menelannya.
"Jorok banget anjir, sengaja ya?" Eray hanya tertawa pelan atas tuduhan itu, tangannya meraih lube yang tergeletak dan mulai menuangkan isinya pada jarinya sendiri. "Tebak-tebakan aja deh, ya?"
Pihak dibawahnya itu hanya meringis kecil ketika jari Eray mulai menerobos lubang bawahnya.
Jika boleh jujur, Ryouta sudah mempersiapkan dirinya kalau semisal penetrasi perdana ini akan super duper menyakitkan. Berdarah juga mungkin, karena memang ada hymen yang harus tersobek kan? Itupun kalau dia juga punya hymen di periode entah singkat atau panjang ini.
Jadi ketika jari Eray sekarang sudah bertambah hingga tiga dan dirinya belum merasakan sakit seperti ditusuk, Ryouta hanya bisa mendesah kebingungan sebelum dirinya merasa lubang bawahnya kembali ejakulasi.
"Sakit nggak..?" Pertanyaan Eray dibalas gelengan lemah dan lenguhan pelan sebelum Ryouta membalas, "justru ngghak… ngg.. mang, emang biasanya ngga sakit ya?.."
Mendengar itu Eray hanya menatap Ryouta aneh, yang ditatap juga bingung apa yang salah dari omongannya.
"Tandanya kamu emang udah rileks, Yot… baguslah. Aku bakal panik kalo kamu sampe sakit sih."
Sial, Ryouta mengangkat tangannya untuk menjambak rambut Eray. Sedikit diacak-acak hingga empunya juga meringis sebelum menarik pucuk kepala itu untuk mencium bibir Eray. Sedikit banyaknya dia tertawa geli ketika yang diciumnya itu malah menahan pergerakan jarinya dan kehilangan komando tubuhnya.
"Piye toh Ray, jadi mau lanjut ngentotin aku apa gajadi?"
Eray kembali termenung mendengar provokasi dari Ryouta. Benar-benar linglung mengenai apa yang harus dia lakukan.
Sialan pacarnya ini, siapa yang mengajarinya untuk mengedutkan lubangnya ketika jarinya masih belum keluar? Siapa juga yang mengajarinya untuk mengalungkan lengannya di lehernya dan mencium rahangnya pelan dan bertahap begitu?
Ryouta sendiri hanya tersenyum lebar, "ayo dong, rojokin aku mas. Udah ngowoh gini lubangku."
Anjir, Ryouta.
Eray yang bahkan lupa sedari tadi dia menahan nafasnya. Ya, ya. Mungkin saatnya masuk ke adegan ranjang sebenarnya. Entah ekspresi apa yang ada di wajahnya sehingga Ryouta sendiri merasa ciut melihatnya.
"Kamu yang minta ya, Yot."
Jari di vagina Ryouta ditarik sejenak untuk melepas dalaman Eray. Dan kini, lapisan terakhir kain di tubuh Eray yang sedari tadi menahan penisnya yang tegang itu sudah berada di kaki kasur. Eray sendiri sadar dengan tatapan Ryouta yang terarah pada penisnya.
Lapar tanpa takut, pria dibawahnya itu bahkan tidak sadar kalau vaginanya kembali mengeluarkan cairan. Dan, tentu saja, Eray yang sudah memasang kondomnya itu juga merasa hampir saja dia ejakulasi.
"Basah banget, Yot." Eray mengerang pelan ketika penisnya bergesek pada labia Ryouta, "enak banget, sial. Yota.. Ryouta, ayo dong buka memek kamu."
Ryouta hampir saja klimaks dengan aksi ini, dirinya bernafas tak keruan sembari menatap Eray yang juga tak kalah berantakannya. Pinggangnya masih bergerak menggenjot penisnya hanya untuk kembali mengelus labia minoranya, mencium lubang vaginanya sejenak, namun belum berani untuk menerobos masuk.
Sialan, Ryouta bisa merasakan bagaimana vaginanya berkedut meminta sesuatu untuk mengisi lubangnya, bahkan sempat mengeluarkan cairan juga agar kepala penis itu bisa merangsek masuk lebih mudah.
Sialan.
"Shibal kamu Rayyh.. masukinnh—cepetan!"
"Mmph, boleh nih…? Beneran?—hng"
Rasanya Ryouta semakin dibuat gila oleh pria satu ini, desir libido terasa jelas di tiap gerakan pinggangnya. Eray hanya menunggu waktu dan konfirmasi Ryouta yang sudah diberi—baik vokal maupun gestur—secara gamblang, toh dia juga sudah memakai kondom. Tangannya yang masih mengalung di tengkuk Eray sudah gatal ingin berubah menjadi cekikan maut dan membalik posisi keduanya.
Beruntungnya Eray sudah kembali fokus dan serius memenetrasi lubangnya.
Entah ketidak beruntungnya atau justru sangat beruntungnya, Eray menggenjot Ryouta hingga seluruh penisnya langsung tertanam.
Tubuh Eray gemetar, kenikmatan yang melanda tubuhnya ini hampir membuat pelepasan pertamanya di vagina Ryouta menjadi memalukan. Dirinya tak kuasa menahan desah ketika merasa penisnya dipijat seolah-olah meminta disiram oleh sperma.
Oh, dirinya hampir pusing memikirkan itu dan hampir saja tidak memeriksa Ryouta yang juga sama terangsangnya.
Mencoba untuk tidak bergerak terlalu liar, Eray mengecup dahi Ryouta pelan. Mungkin bisa dianggap penenang sejenak, entahlah, Eray sendiri tidak yakin kalau penetrasi ini terasa nikmat atau justru menyiksa pacarnya.
Jadi dirinya turun sedikit, kembali mengulum puting dada Ryouta dan kembali menyusu sisa-sisa yang masih ada, diiringi desahan sang empu sebagai dukungan.
Gerakannya pelan, berusaha untuk tidak terlalu kasar, toh Ryouta belum lama ini menyesuaikan tubuhnya dengan kondisi diluar nalar ini. Eray hanya kembali mengecap air susu yang keluar, sedikit menyayangkan beberapa tetes yang sebelumnya lolos dan hanya mengotori tubuh Ryouta yang masih bergetar karena stimulasi.
Apa itu bisa dibilang mengotori? Karena menurut Eray, justru pacarnya ini jadi terlihat sangat menarik, seksi bahkan, di matanya. Eray kembali menjilat permukaan puting sebelahnya sembari merasakan bagaimana dinding vagina Ryouta memeras lembut penisnya.
"Yot.. Ryouta…" Eray merengek, "boleh ga lebih kasar dikit..? Boleh ya? Plis.."
Ryouta menggeliat pelan, Eray bisa melihat tremor singkat pada lengannya yang masih mengalung pada lehernya. Sembari menunggu jawaban, dia melepas pelan rengkuhan pacarnya dan mencium pelan tangan lembut itu. Tidak lupa sembari membisikkan kembali pertanyaannya.
Stimulasi pelan yang menerka dirinya seperti kutukan yang berbisik padanya untuk melepaskan dirinya dan segera menghajar lubang Ryouta hingga pacarnya itu menangis meminta ampun.
Jangan sekarang, nafas Eray bergetar menahan nafsunya. Netra coklat terangnya mengagumi binar kabur dari manik pink dibawahnya. Tenggelam dalam ekstasi dan euforia.
"Ryouta.." dirinya kembali merengek, puncaknya sudah dekat dan dia ingin mencapainya bersama Ryouta.
Panggilan itu dijawab dengan susah payah oleh Ryouta yang masih melenguh dan melengkung karena stimulasi berlebih. Bahkan Eray hampir saja percaya kalau dia menggigit puting Ryouta, bisa saja pria itu langsung ejakulasi.
"Cepeth… cepetan…"
Eray bisa merasakan pinggang Ryouta yang mulai menggeliat untuk menghujam dirinya pada penis Eray. Deruan nafas keduanya jatuh pada tempo yang berbeda, dan keduanya baru saling menatap lagi setelah beberapa waktu kehilangan fokusnya masing-masing.
Gawat.
"Mentokinnh.. Erayy, mentokin ajah~"
Benang kewarasan yang sudah ditarik tegang di kepala Eray putus seutuhnya.
Tangannya melepas lengan Ryouta, membiarkannya meremat bantal dan entah apalah itu, dan memegangi pinggang Ryouta. Mengelus tulang panggulnya yang tertutupi oleh kulit halus nan rapuh… ingin rasanya meninggalkan bercak disini. Mungkin dia bisa meremas lebih kuat? Tidak masalah kan kalau dia meninggalkan jejak disini juga?
Dan tangannya menahan benturan yang hampir terjadi karena sodokannya.
Ah, apa dia terlalu antusias? Kaki Ryouta mengenjang kaku, tangannya juga aktif berpegangan pada apa yang ada diatas kepalanya. Tapi dinding Ryouta juga meremasnya pelan, mengeluarkan cairan lagi seakan menyuruhnya untuk melanjutkan apa yang tertinggal.
"Benerhan.. boleh..?" Eray kembali mengelus tulang panggul Ryouta sebelum kembali menghujam lubangnya.
Enak, enak banget.. bercinta dengan pacarnya tidak pernah membuatnya bosan. Terlebih setelah berminggu-minggu ini dia dan Ryouta belum bertemu. Apakah dia hanya haus perhatian? Haus sentuhan? Atau memang otak cabulnya saja yang berjalan terlalu mulus?
Ryouta…
"Ray—ah! Lagi! Lagiihh!~ Ngg!"
Oh?
Ah.. hahaha, Ryouta juga…
Hentakan pada lubangnya itu kini tidak lagi jatuh dalam tempo yang masuk akal. Eray hanya ingin masuk, masuk, dan merasakan bagaimana tubuh Ryouta merespon kedatangannya. Pinggangnya bahkan tidak henti menguak lubang itu—membuat paha Ryouta yang ada di kedua sisinya mengapit pinggulnya.
"Kamu yang mau aku lanjut ya…" Eray tertawa seperti orang termabuk, hentakan selanjutnya kembali membuat Ryouta mendesah nikmat, "mmm.. dikit lagi Yot… kamu..?"
Desau nafas dan rengekan pelan dari Ryouta yang masih dihujani rodokan dari Eray tidak bisa dia ambil sebagai balasan. Out of pettiness, Eray menggigit pelan puting Ryouta, seakan menuntut jawaban langsung. Paha yang mengapitnya kembali bergetar, menendang udara dan bukannya pelaku itu sendiri.
"Mmyah! Iyah, sikit lagi—AH! Eray!~ haang!!~"
Melihat bagaimana Ryouta masih mencoba menjawab pertanyaan meski mulutnya sudah penuh dengan saliva yang belum ditelan, cukup menjadi memori yang Eray simpan baik-baik untuk dirinya sendiri.
Hentakannya semakin kuat, dan omongan keduanya semakin tidak jelas, setengah mabuk kepayang setengah karena desahan. Tidak mengambil pusing, Eray menyuruh Ryouta untuk diam dengan mengulum bibir pria itu, beberapa kali menggigit pelan dan mengamit lidah yang ada didalam rongga Ryouta dengan miliknya.
Kemelutan lidah keduanya dibayar oleh penis Eray yang mencapai klimaks dibarengi oleh Ryouta yang juga squirting.
Desahan Eray ikut tertelan taktala pijatan pada dinding vagina itu berhasil mengais keluar semua spermanya. Entah hanya bayangannya saja atau Ryouta sempat melenguh protes karena dia tidak bisa merasakan sperma Eray dalam lubangnya.
Oh, baiklah, itu bisa nanti saja dulu.
Keduanya kurang lebih jatuh diatas kasur dengan keadaan tubuh yang kebas dan penis Eray yang masih berbalut kondom.
"Aku—aduh, aku buang dulu kondomnya ya."
"Ngga lanjut ae sekalian, mas?"
Eray yang sudah terduduk berkedip pelan mendengar ucapan itu, bahkan tangannya yang baru saja mengikat ujung kondom itu terhenti di tempatnya.
"Ya?"
"Kamu baru ejakulasi sekali, kan?"
Ah, oh.
Oh tidak, senyum tengil itu kembali terpatri di wajah Ryouta yang masih segar dengan air liur pasca ciuman mereka tadi. Sial, bahkan Eray sendiri merasa malu atas apa yang baru saja dia lakukan pada tubuh pacarnya itu. Kenapa juga dia bisa merasa malu? Entahlah. Eray tidak tahu harus menangis atau tertawa.
"Nenenan koen durung kelar lho, mas"
Memangnya laktasi bisa membuat libido orang meningkat ya?
