Chapter Text
Holy fucking shit. Holy fuck.
Sherlock berhenti mati di depan pintu gedung flatnya, gedung 221 di Baker Street. Aroma manis menghanyutkan menyerang hidungnya, sensasi yang dihasilkan cepat merasuk ke sinaps otaknya dan bekerja untuk merangsang hormon seksualnya. Nafasnya berubah berat, setengah tersengal sembari membuka kunci pintu. Tangannya gemetaran saat memasukan mulut kuncinya.
Aroma yang menyentuhnya itu definately adalah aroma John. Lebih spesifik, aroma Omega yang sedang memasuki masa heat. Matang dan ingin segera dibuahi.
Lidah Sherlock mengecap bibirnya, terasa kering sekali entah mengapa. Si detektif Alpha membanting pintu flat dibelakangnya, ia buru-buru menaiki anak tangga secepat yang ia bisa. Semakin naik, aroma John semakin tercium dekat.
"Hngh," kepala Sherlock mulai berawan, fungsi rasionalnya hampir tergantikan oleh insting untuk bersatu dengan pasangannya. Afeksi mentah yang jujur, dipelopori oleh hormon yang melonjak tajam di dalam tubuhnya. "Johnnnn. John. John..." Mulutnya melafalkan nama John berkali-kali.
Nikmat, nikmat, John, John, John. Sentuh dia, gagahi dia, satukan tubuhnya denganmu, ikat dia di dalam. Buahi dia, buat dia hamil dengan anakmu.
Sherlock sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Dia harus segera bertemu John! Hasrat ini tidak tertahankan!
Bantingan suara pintu menggelegar di flat 221B, tempat tinggal mereka berdua. Bentuknya masih sama seperti yang tadi pagi, laptopnya John masih duduk nangkring di atas meja makan dan mug teh bekas mereka juga masih ada.
Sherlock menghirup udara di sekitarnya. Aroma John samar-samar tercium. Dia berada diruangan ini saat gejala awal heat-nya mulai terasa, tapi dia dengan segera menjauhkan diri dari ruangan terbuka agar aromanya tidak menarik perhatian Alpha atau Beta lain. Clever, John.
Geraman frustasi lepas dari mulut Sherlock.
Dengan penuh amarah dia beralih menuju kamar mereka berdua yang terletak diujung lorong, suhu badannya sudah menaik cukup drastis, jadi gerah banget rasanya. Mana Sherlock pakai beberapa lapis pakaian pula, aduh kok nyusahin sih.
Waktu sampai di depan pintu kamar, aromanya John tercium sangat, sangat, sangat kuat dari dalam sana. Cuman ada pintu kayu sialan yang memisahkan Sherlock dan John, omeganya yang mungkin sekarang sudah basah total karena produksi cairan lubrikasinya.
"Fuck this!"
Dalam sekali tendangan kaki, pintu kokoh itu terbuka paksa. Suara bantingan yang dihasilkan menggema keseluruh arah. Kalau Sherlock menambahkan tenaga sedikit lagi pada tendangannya, itu pintu bakalan copot dari engselnya.
Terengah-engah dan terangsang, Sherlock bergerak masuk kedalam kamar. Dia makin menjadi-jadi ketika melihat John dalam posisi terlungkup diatas lantai, panas, keringatan, dan celana jeans-nya basah di area selangkangan karena cairan lubrikasi. Oh fucking hell, ini salah satu cara yang cukup oke untuk membunuh seorang Sherlock Holmes.
"John."
Omeganya mengalihkan pandangan kepadanya, memfokuskan diri. Sherlock dapat melihat pupil mata John melebar dan gelap, John sama terangsangnya dengan dirinya sekarang ini.
Si Alpha bergumam, "Seharusnya kamu tidak mengalami ini untuk 3 minggu kedepan." Dia berdiri tegak di figura pintu, terlalu shock karena aroma kuat John seperti menampar indra penciumannya habis-habisan, membuatnya terbuai dalam kenikmatan bak bunga-bunga cantik yang bermekaran di musim semi.
John yang masih tergolek lemas di lantai menyeringai. Tak mampu berkata-kata karena mulutnya lebih banyak mengeluarkan suara desahan frustasi ingin disentuh.
Tanpa basa-basi lagi Sherlock berusaha untuk membuka---merobek---- segala lapisan pakaian yang ada di tubuhnya. Dia melepas jaket Belstaff, syal birunya, lalu jas hitam dalamannya, dan...
"Ah-ahh-- tidak! stop!" Lenguhan John menghentikan Sherlock yang siap merobek paksa kemeja ungunya. Kedua tangannya bahkan sudah mencengkram kedua sisinya. "Ti---Tinggalkan itu. Teta---tetap pakai itu." John meminta kepadanya.
"Oh, John..." Sherlock menyeringai lebar seperti bob-cat, dia menurunkan kedua tangannya ke samping. "Kamu dan fetish-mu itu." Kesukaan John kepada kemeja lengan panjang ungunya ini selalu membuat Sherlock terkesima.
Sesuai permintaan frustasi pasangannya Sherlock tetap memakai kemeja itu. Kemudian si Alpha bergerak cepat menyambangi John, merundukkan tubuhnya di atas John dan mulai menciumi setiap inchi tubuhnya. Menjilat bekas gigitan bond mereka yang terletak di tengkuk belakang. Cuman ada satu hal di dalam pikiran Sherlock saat ini, yaitu John. John. John.
Ciuman mulut terbuka membuat John serta Sherlock sama-sama mendesah nikmat, badan John mulai gemetaran kala sebelah tangan Sherlock merayap masuk kedalam jumper yang ia kenakan dan mengangkatnya sampai batas dada.
"Hush--- John..." Sherlock memutus ciuman mereka, melihat juntaian air liur tertarik dari mulut mereka berdua. Wajah pucatnya sudah bersemu merah padam, "J---Jangan pikir---pikirkan apa---apapun. Bi-biarkan aku..." Dia mendorong pinggulnya mendekati sela kaki John.
Mendengar John mengeluarkan desahan nikmat ketika dia mendorong pinggulnya kepada si Omega membuatnya puas. Celana bahannya menjadi semakin ketat tiap kali mendengar John mendesah, damn, suara desahan John itu berbahaya.
Sherlock melepaskan tawa kecil, "K-Kamu sudah siap untukku, Watson?" Telapak tangannya menjelajah sekitar dada dan perut John. Sorot matanya penuh kenafsuan. Pinggul mereka berdua bak menyatu jadi satu, melakukan gesekan mengejek satu sama lainnya.
"C-Christ..." John terengah kasar, kedua alisnya tertekuk karena setelah mendengar Sherlock mengatakan hal itu dia merasakan cairan lubrikasi keluar lebih banyak darinya. Suara baritone punya Sherlock membuatnya sangat responsif. "A-Apakah kamu p-perlu bertanya seperti itu!?"
Sebenarnya John tidak perlu bertanyapun Sherlock sudah tahu apa yang ia inginkan. Sherlock melakukannya hanya untuk mendapatkan izin yang sah dari John, tentu ia tidak ingin melakukan seks secara tidak konsensual bukan? Setelah izin didapatkan dari Omega tercintanya, tersisalah insting Alpha Sherlock untuk melaksanakannya.
Pertama-tama Sherlock harus mengenyahkan pakaian John. Di mulai dari celana jeans punya John yang bagian selangkangannya sudah basah membuat area gelap di tengah-tengahnya, basah karena cairan lubrikasi yang di produksi oleh tubuhnya John hasil dari rangsangan Sherlock. Sherlock cukup dibuat senang sama kenyataan kalau John yang biasanya tenang dan dapat menjaga emosinya bisa luluh-lantah sangat terangsang seperti ini karena dirinya.
Setelah Sherlock melepas celana jeans punya Watson, ia lalu mengamati pemandangan menakjubkan yang ditawarkan olehnya....
John Watson, tergeletak diatas lantai dengan jumper terangkat sampai dada, kedua kaki terbuka lebar memperlihatkan celana dalam merahnya yang sudah basah karena cairan lubrikasi. Bahkan membuat genangan kecil dibawahnya, mengindikasikan betapa inginnya dia disentuh oleh Sherlock.
Sherlock mendecakan lidahnya. "John... K--kamu terlihat sangat... Oh God..." Sekarang dia berusaha melepas celana bahannya yang sudah terasa sempit sekali dari tadi. Kedua tangannya gemetaran membuka restleting celananya, tidak sabaran.
John tahu Sherlock menyukai ini. Dia suka melihatnya kehilangan kontrol, Sherlock suka untuk mengambil alih keadaan... Omega manipulatif itu menggunakan kesempatannya, ia menekuk kedua kakinya dan menahannya dengan melilitkan kedua lengan di bawah lututnya. Sehingga dia berada di dalam posisi 'mempersembahkan' ke Sherlock, submisif dan siap.
"Sh-h-h-herlock...."
Ditambah pula John memasang wajah termelas yang ia miliki, sulit dipercaya kalau pria ini adalah seorang tentara yang mungkin dulu pernah membunuh orang dengan muka melas seperti itu. Sherlock sudah jatuh ke neraka sambil berpegangan tangan sama John. Keindahan di depan matanya ini tiada tara, ia tak akan menukarnya demi apapun.
"Well," Sherlock menjilat bibirnya yang terasa agak kering. Badannya merunduk rendah ke John, mereka berdua saling bertatapan lurus. Pandangan mata sudah gelap penuh kenafsuan. "Kamu--- sebaiknya menelepon klinik... Dan mengatakan... Kamu tidak akan masuk selama dua--- tidak, tiga hari."
"Tig--Tiga hari? Aku rasa tidak---tidak akan selama itu..." John bernafas pendek saat mengatakannya, sementara Sherlock malah memberinya tatapan serius.
"Let's see about that later..."
Sherlock akan membuat John menyesali komentarnya itu. Heat minimal berlangsung selama tiga hari, maksimal adalah satu minggu. Konsultan detektif Alpha itu menjamah John luar-dalam tanpa terkecuali, seluruh bagian tubuhnya tereksplor baik apalagi bagian organ reproduksi dalamnya. Ehem. Sherlock ujung-ujungnya membuat John bolos kerja selama seminggu penuh, knot serta spermanya memenuhi uterus milik John. Tidak bergeming, tidak keluar. Tetap pada tempatnya.
John pastinya tidak menyukai hal ini. Namun apa daya, dia tidak bisa berpikir jernih apalagi protes dibawah pengaruh hormon perangsang heat-nya. Proses kerja kognitif dan rasional dalam otak dimatikan, digantikan sementara oleh hormon endorfin yang membuat sensasi mabuk bahagia dan hormon perangsang yang membuat tubuh tetap menginginkan buat disentuh atau di gagahi.
Terlebih lagi ketika Sherlock merawatnya secara baik setelah masa heat mereka usai. Berpelukan tenang di atas tempat tidur mereka yang sudah hancur tidak jelas dan pakaian yang berserakan kemana-mana kesegala arah. Raut kepuasan terlihat jelas di wajah Sherlock dan John.
Masa heat-nya John bagi Sherlock terasa seperti liburan sekolah. Menyenangkan, panas, dan tidak pernah membosankan.
Seandainya saja masa Heat-nya John berlangsung selama-lamanya...Sherlock sama sekali tidak akan keberatan, as long as he got to see his Omega's pleasure face though.
