Actions

Work Header

The Tinker and The Target

Summary:

kumpulan one-shots antara Peter Guillam / Hector Dixon dalam berbagaimacam tema.

Notes:

JANGAN TANYA KENAPA.
TTSS & WT NOT BELONGS TO ME.

Chapter 1: The Cursed Tie

Chapter Text

 

Hector Dixon menatap lama kotak hadiah yang ada diatas tangan berlapis sarung tangan kulitnya.

 

Kotak cantik berwarna putih dengan plastik pembungkus bening yang memperlihatkan isi dari kotak tersebut, sebuah dasi berbahan sutra kualitas tinggi berwarna biru muda seperti langit cerah.

 

.... Dixon berdecak kesal, kenapa dia malah membeli barang ini sih? Seingetnya tadi dia lagi jalan-jalan doang menelusuri kota, nyari kerjaan atau orang yang bisa diapain kek gitu... Dibunuh, misalnya... Terus Hector ngeliat etalase toko baju laki-laki yang memang terkenal di jalanan sana, mereka memamerkan koleksi dasi baru musim ini. Warnanya cantik dan elegan, apalagi mereka memamerkannya memakai setelan jas yang cocok dipakai dengan dasi itu.

 

Mata Hector jatuh pada sebuah dasi warna biru yang dipasang bersama setelan vest berwarna coklat gelap. Sontak dia langsung kepikiran sama Peter Guillam...

 

"Eugh, fuck this..." Dengan kesalnya Hector menaruh hadiah kecil itu dibalik kantong trench coat-nya. Berharap tidak ada yang melihatnya keluar dari toko sambil bawa-bawa kotak itu.

 

Peter Guillam adalah seorang pria yang bekerja di bawah naungan MI6. Dia memiliki rambut pirang terang dipotong berponi depan dan punya mata biru cerah keperakan. Dia juga tinggi semampai, tubuhnya bagus lalu cekatan pula. Mengingat dia bekerja sebagai mata-mata Inggris.

 

Peter dan Hector lagi menjalin hubungan intim yang cukup serius, mungkin... Eh, tapi gak jelas ah hubungan mereka kayak gimana. Putus nyambung melulu kerjaannya, kadang-kadang bisa mesra banget tapi ntar bisa cuek banget. Kok bisa ya pacaran labil begitu?

 

Nah mumpung mereka lagi adem, Hector kepikiran buat ngasih Peter sesuatu. Hector ingat kalau Peter pernah cerita kalau dia sering kali kehilangan dasi, pertama karena dia lupa menaruhnya di mana dan paling sering hilang kalau lagi tugas lapangan.

 

Walhasil si pembunuh bayaran  membelikan dasi biru bermotif garis-garis miring simpel yang terbuat dari bahan sutra halus tersebut buat Peter. Hector rasa Peter akan sangat cocok menggunakan warna biru, karena warna matanya berpadu pas sekali...

 

Sambil tersenyum kecil Hector pergi melenggang menelusuri jalan lagi.

 

Dia masih ada satu klien buat di bunuh sebelum bisa pergi mendatangi flat punya Peter untuk memberikan hadiahnya secara langsung. Apa yang bakalan Peter katakan tentang hadiah ini, ya? Hector udah takut aja Peter gak suka sama pilihan dasinya, terus ujung-ujungnya gak dipakai...

 

Ah, tapi masa sih Peter kayak begitu?

 

 


 

 

Hector sampai ke flat punya Peter pada pukul 8 malam. Rencananya sih dia mau langsung ngasih kado kecilnya itu ke Peter setelah yang bersangkutan pulang kantor, Hector hafal betul jadwal kerja kantoran punya Peter makanya dia bisa aja gitu kepikiran buat dateng sebelum Peter pulang. Ceritanya kayak mau ngagetin gitu loh.

 

Pintu flat punya Peter bernomor '35'. Hector membayar petugas lobi bawah supaya bisa menunggu di depan pintu pas, soalnya penjagaan gedung apartemennya ketat banget. Maklum lah, apartemen khusus dari kantor...

 

Hector berdiri bersandarkan dinding disebelah pintu kamar Peter. Di tangan ada kotak hadiah berisikan dasi buat Peter. Hector menatapnya penuh damba, menerka-nerka bagaimana sosok Peter kala memakai dasi pemberiannya ini... Dia pasti bakalan terlihat makin cakap, astaga.

 

Hector membayangkan Peter memakai dasi hadiah darinya dan lalu mengucapkan, "Terima kasih, Hector!" Sambil tersenyum cerah dan muka merona merah. Dua hal itu bisa bikin Hector merinding senang dari ujung kaki sampai ujung rambut.

 

Kemudian Hector mengecek jam tangannya, jam 8:25. Wah, Peter telat 20 menit... Ada apa gerangan? Biasanya jam segini dia udah nongol, lagi naik tangga pakai masang muka mesem setengah mati karena kerjaan gak jelas. Ah, mungkin aja dia kena macet di mana gitu. Peter kan kalo mengendarai mobil leletnya setengah mati kalau lagi gak ada urusan genting.

 

Akhirnya Hector memutuskan untuk tetap menunggu Peter, sampai tidak terasa jam setengah 11 malam datang secara tiba-tiba. Hector yang tadinya menunggu sambil berdiri bersandarkan dinding jadi duduk merosot mojok, kepala merunduk diantara kedua lutut kaki yang di lipat ke dada. Ngantuk banget, mana kaki udah pegel pula...

 

"Sialan, mana pula ini orang...." Hector mendumel kesel sendirian. Udah gondok nungguin Peter gak pulang-pulang, tumben banget nih...

 

Doa-nya supaya Peter cepet dateng terjawab 2 menit kemudian saat ada langkah kaki menaiki tangga lorong flat. Hector menduga itu pasti Peter, penghuni flat disini rata-rata sudah tutup pintu dari jam 9 malam. Cuman ketinggalan Peter yang kadang tidak jelas jam pulang kerjanya.

 

Hector bermuka sumringah, harapannya menaik.

 

Cepat wajah sumringahnya itu berubah jadi wajah heran tatkala melihat Peter muncul dari bawah tangga bersama dengan seorang wanita yang melingkarkan kedua tangannya di lengan Peter. Bisa kelihatan jelas sekali kemesraan mereka dari kejauhan.

 

Sudah begitu wanita yang melekat ke Peter mulai menggoda, "Oh Peter... makasih banget buat hari ini... Aku sangat senang bisa menghabiskan waktu bersamamu, kamu tidak tahu betapa inginnya aku lebih dekat kepadamu." Rambut merah panjang miliknya bergesekan sama pundak Peter saking deket banget jarak mereka berdua.

 

"Sama-sama. Pergi makan malam bersamamu sangat menyenangkan sekali, kamu enak diajak mengobrol." Kata Peter, yang berusaha berjalan lurus bersama sang wanita. Hector melihat kalau Peter sedikit mabuk, sementara teman wanitanya obviously sangat mabuk.

 

Hector berlari pergi dari depan pintu, segera menghindari mereka berdua. Dia bersembunyi dibalik belokan lorong, kepala mendelik keluar setengah untuk melihat Peter sama wanita itu berhenti di depan pintu flat-nya Peter.

 

'Siapa wanita itu!? What in the world...' Kepala Hector penuh sama pertanyaan campur makian.

 

Wajar lah! Siapa sih yang gak kesel ngeliat pacar sendiri ---tunggu, emangnya mereka beneran berpacaran gitu sekarang?---- jalan sama seorang wanita, pake pegangan tangan dan mesra-mesraan segala, terus...

 

...Wanita itu mencium Peter. Di mulut.

 

Even worse, Peter membalas ciumannya.

 

Mereka berciuman dengan mulut terbuka cukup lama. Desahan sang wanita terdengar erotis ke seluruh lorong, Peter mendorongnya sedikit ke pintu; menangkap teman wanitanya dibawah pegangannya.

 

Hector teranga lebar melihat pemandangan tersebut. Semua badannya kaku seketika...

 

"Hhhmmm," si wanita sialan memutuskan ciumannya duluan. Ia menarik dasi yang Peter kenakan. Dasi berwarna merah agak cerah dengan motif garis-garis miring hitam menghiasinya. "Dan hari ini kamu memakai dasi pemberianku, senang sekali rasanya. Kamu memang tahu bagaimana caranya membuat seseorang jatuh cinta padamu, Guillam..."

 

Wanita itu mencondongkan wajahnya, ingin mencium Peter lagi. Tapi Peter menghindarinya pakai menahan kedua pundaknya dengan tangan. "Uhmh, well... Dasi ini adalah dasi pemberian dari wanita cantik, bagaimana mungkin aku tidak memakainya..." Ungkap Peter.

 

"Awh. Kamu terlalu manis, Peter... Lain kali aku akan membelikanmu dasi lain... Oke? Uhmmm." Bisik si wanita.

 

Hector mendengar jelas setiap perkataan mereka berdua. Mulai dari makan malam, hadiah dasi, kencan dan sebagainya...

 

Jadi... Selama menjalin hubungan sama Hector, Peter diam-diam sering jalan juga sama orang lain? Makan malam bersama? Diberikan hadiah juga? Dan dia melakukan semua itu dibelakang Hector yang tidak melirik orang lain sama sekali setelah berhubungan sama Peter...?

 

Gimana gak sakit coba ngeliatnya?

 

Sementara Peter dan si wanita entah siapalah itu namanya mengobrol pelan di depan pintu sambil si wanita sesekali menggoda Peter supaya dibolehkan menginap (yang tentu saja merupakan ajakan seks), Hector membanting kotak hadiahnya ke lantai. Dan lalu menginjaknya sebanyak 3 kali.

 

Hector tidak perduli kalau dia merusak hadiah yang sudah ia bungkus rapih sendiri itu.

 

Peter tidak peruli kepada perasaannya, untuk apa dia juga harus perduli lagi?

 

Dia pergi meninggalkan tempat terkutuk itu melalui tangga darurat di dekat jendela lorong. Hector tidak kuat melihatnya lebih lama lagi, karena air mata mengancam keluar dari pelupuk matanya. Hal yang mengherankan, soalnya Hector tidak pernah menangis lagi semenjak remaja.

 

Udara dingin menyapa si hitman secara cepat kala kakinya menyentuh jalan setapak di samping gedung apartemen. Kepalanya terasa berat dan kosong, yang ingin Hector lakukan sekarang adalah kembali ke apartemennya atau ke safe house buat melakukan target practice demi menenangkan hatinya yang bergemuruh.

 

'Brengsek kamu, Guillam... Kenapa... Aku kira...'

 

Tentu Hector mengira kalau hubungan mereka baik-baik saja, hubungan mereka berat namun baik. Peter sangat perhatian dan sabar menghadapinya, Hector sendiri juga melakukan hal yang sama. Dia sudah merasa nyaman bersama Peter, ia membiarkan pria itu melihat sisi lain dari dirinya yang belum pernah dilihat sama orang lain.

 

Hector menyayangi Peter.

 

Peter adalah satu-satunya orang yang perduli kepadanya ketika yang lain saja takut untuk melihatnya secara langsung di mata. Apakah semua perhatian itu hanya sebatas permainan semata? Peter melakukan hal yang sama juga kepada orang lain?

 

Pengkhianatan Peter lebih melukainya dari apapun. Hector pernah di tembak, dipukuli, ditendang, dimaki, dan dianiaya dengan cara-cara yang terbilang sadis--- semua itu tidak sakit, tidak ada satupun yang mampu menggoyahkan hatinya yang sepertinya sudah tertelan hilang di dasar hati.

 

...Tapi Peter...

 

.....Peter yang seharusnya bukan siapa-siapa bagi Hector...

 

Kenapa dia jadi yang paling menyakiti hati Hector, kalau dia bukan siapa-siapa?

 

Karena Peter-lah yang mengingatkan Hector kalau dia masih memiliki hati.

 

(END)