Chapter Text
kedua kelopak mata kim wooseok terpejam ketika air hangat yang turun dari pancuran menyentuh kulitnya yang lengket karena keringat, dan mungkin juga, lengket karena substansi hasil permainannya malam ini. sesekali wooseok menghembuskan napasnya panjang, sembari menggosok tubuhnya dengan campuran sabun dan air yang terus turun dari pancuran. entah berapa kali wooseok mandi di kamar mandi motel ini, mungkin ini sudah yang kedua puluh kalinya, wooseok lupa. yang pasti wooseok hafal betul seluruh sudut dan sisi kamar mandi ini. kamar yang ditempatinya berbeda nomor setiap kalinya. tapi paling tidak, interior kamar mandinya sama di setiap kamarnya, termasuk letak dimana sabun dan samponya berada (selalu di dalam pancuran, begitu pikir wooseok). wooseok tidak berlama-lama di dalam kamar mandi itu. setelah dirasa dirinya bersih (wooseok sudah menggosok seluruh sudut bagian bokongnya dengan sabun paling tidak tiga kali), keluarlah wooseok dari dalam kotak pancuran tersebut dan mengeringkan tubuh mungilnya dengan handuk. dilihatnya pantulan dirinya sendiri di depan cermin yang mengembun akibat uap air hangat yang menyebar dalam kamar mandi tersebut, wooseok hanya menghela napasnya. bagian kiri lehernya agak merah, berarti klien yang barusan menggigitnya cukup keras kalau sampai bekasnya terlihat seperti itu. pada akhirnya, wooseok hanya menurunkan bahunya dan berlanjut mengeringkan badannya, kemudian memakai beberapa helai pakaiannya yang (untungnya) masih bersih. hanya kaus tanpa lengannya saja yang tidak dipakainya, terkena sisa abu rokok. dirobeknya kaus tanpa lengannya yang memang sudah belel dimakan usia itu, kemudian dilemparnya asal di atas lantai kamar mandi yang cukup becek. setelah menarik resleting bagian depan jaket bomber mininya sampai ke bagian lehernya (yang kalau wooseok mengangkat tangannya ke atas, jaket bomber itu akan naik mengekspos perut langsingnya yang juga dihiasi garis otot halus itu), barulah dia keluar dari kamar mandi.
kliennya masih disini, masih berbaring di atas tempat tidurnya dalam keadaan telanjang. beruntung kliennya masih punya rasa sopan dan tahu malu, karena bagian bawah tubuhnya dari pinggang hingga mata kakinya ditutupi dengan selimut. bukannya wooseok tidak biasa melihat organ tubuh utama laki-laki, toh itu pemandangan yang dia lihat di setiap malamnya (punya orang lain maksudnya, bukan miliknya sendiri). tapi ya, ada rasa geli dan jijik saja buat wooseok karena mengingat beberapa jam yang lalu, kepunyaan kliennya itu ada di dalam analnya. di tengah cahaya remang kamar motel yang bercampur dengan warna merah mencolok dari dinding kamar motel tersebut (wooseok bingung sebenarnya, ada apa sih dengan desain kamar motel dan pilihan warna dindingnya yang selalu mencolok?), menyeruak asap putih yang muncul dari mulut sang klien. tawanya rendah sambil memandang wooseok,
"kapan aku bisa bertemu kamu lagi?" tanya si klien, bapak-bapak berperut tambun yang usianya kurang lebih lima puluh tahun (ini wooseok mengira-ngira saja), dengan nada penuh goda. tidak henti si bapak tua itu menjentikkan puntung rokok yang tersemat di antara jari telunjuk dan tengah tangan kanannya, matanya menatap wooseok dengan tatapan ingin. wooseok paling tidak suka percakapan basa-basi seperti ini. harusnya, setiap kliennya tahu tentang pekerjaannya sebagai pekerja seks komersial bahwa kemungkinan, mereka tidak akan bertemu lagi dengan wooseok di masa yang akan datang. wooseok sudah menetapkan aturan soal transaksi satu kali untuk selamanya kepada semua calon kliennya. yang artinya, begitu si klien sudah bermain dengan wooseok, maka itu lah permainan terakhirnya dengan wooseok. paling tidak, aturan itu yang bisa melindunginya dari kemungkinan-kemungkinan yang terburuk yang bisa muncul dari otaknya. tapi mungkin, si bapak tua ini baru tercemplung ke dunia ini, kira-kira begitu asumsi wooseok. maka, wooseok hanya memberinya senyum miring sambil melipat tangannya. matanya mengerling manis,
"mungkin lain kali. aku permisi dulu, selamat malam," ucapnya dengan nada sopan dan manis, kemudian meninggalkan si bapak lima puluh tahun itu dalam diam. langkahnya makin cepat begitu dirinya sampai ke bagian meja resepsionis. wooseok kemudian berhenti sebentar untuk mendatangi salah satu wanita resepsionis yang sudah kenal betul dengan wooseok,
"hey!" panggil wooseok kepada sang wanita resepsionis. dikeluarkannya beberapa lembar sepuluh ribu won dari amplop yang dimasukkan ke dalam kantung jaket bombernya, kemudian digesernya lembaran kertas berwarna hijau muda tersebut di atas meja,
"buat kamu, anggap aja hadiah dari teman baik," ujarnya sambil tersenyum menyeringai, lembaran itu langsung diambil oleh sang wanita. sang wanita yang sudah lama mengenalnya itu akhirnya mengambil secarik uang tersebut, kemudian memasukkan uangnya ke dalam kantung bajunya.
"thanks, wooseok. si bapaknya aku apain, tuh? biarin aja?" wooseok hanya mengangkat bahunya,
"don't care. paling juga beberapa jam lagi dia check out. aku pulang dulu. take care!" seru wooseok sambil melambaikan tangannya, yang kemudian dia berjalan mundur sampai akhirnya dia membuka pintu lobi utama motel tersebut.
wooseok memeluk dirinya sebentar karena kedinginan kala angin malam menerpa tubuh mungilnya. seumur hidupnya, dia rasa dia tidak akan pernah terbiasa dengan hembusan angin bulan oktober di kota seoul. tapi, pada akhirnya wooseok terus berjalan melawan pergerakan angin yang terus menusuk tubuh langsingnya, yang hanya berbalut jaket bomber mini dan celana kulit hitam yang bahannya sungguh ketat, memperlihatkan lekuk bokong serta kakinya yang kurus. bunyi langkah kaki akibat sepatu doc martensnya yang sudah tua termakan usia makin kencang suaranya, karena wooseok pada akhirnya berlari kecil melawan angin, tidak tahan oleh dinginnya. begitu dirinya sampai di halte bus terdekat, duduklah wooseok disana, menunggu bus yang akan mengantarkannya ke daerah rumahnya yang seharusnya, dalam kurun waktu lima belas menit, busnya datang.
dikeluarkannya bungkus kotak berisikan rokok beserta pemantiknya yang ditaruhnya di dalam kantung kiri jaketnya, dan dinyalakan satu linting rokoknya. asap rokok itu keluar lewat mulutnya perlahan. wooseok benar-benar menikmati bagaimana zat nikotin itu menyerap masuk ke dalam paru-parunya. paling tidak, merokok bisa membuat badannya lebih hangat dan membuat pikirannya lebih tenang. berkali-kali, dihisap dan dihembus rokoknya itu, sampai linting rokoknya berkurang panjangnya hingga ke ujung yang berwarna kecoklatan.
begitu busnya sampai, dibuangnya puntung rokoknya asal dan diinjaknya puntung rokok itu sampai hancur, dan wooseok masuk ke dalam bus. wooseok tidak kaget, si supir bus tentu saja melihatnya dengan tatapan jijik dan menghakimi, seakan wooseok adalah bagian dari kelompok manusia yang tidak pantas duduk di dalam busnya. tapi wooseok sudah, dan memang tidak pernah peduli. dia terbiasa dengan tatapan itu. maka dengan cuek dia naik ke dalamnya dan duduk di bagian kursi paling belakang.
di dalam perjalanannya, kepala wooseok disandarkan di jendela bus, wooseok menatap pemandangan yang disuguhkan dari balik jendela itu dengan pandangan kosong. sesekali menatap ke atas, melihat langit berwarna biru bercampur hitam. tidak ada bintang disana, mungkin termakan oleh asap polusi dan zat karbon monoksida. maka, kini pandangannya kembali ke jalan raya, melihat suasana daerah itaewon yang makin malam, makin ramai dikunjungi orang-orang dari berbagai kalangan. wooseok kenal betul dengan itaewon dan segala dunia malam gemerlapnya. jelas dia tahu, karena wooseok sudah menjadi bagian dari dunia itu dalam waktu yang cukup lama. wooseok kemudian mengeluarkan amplop putih berisikan berpuluh puluh lembar sepuluh ribu won (tidak terhitung) dan lima lembar lima puluh ribu won itu dari kantung jaketnya. wooseok belum sempat menghitung berapa nominal uang yang diterimanya. tapi paling tidak, secara kasat mata, rasanya uang hasil kerjanya malam ini cukup untuk membayar sewa apartemennya selama dua minggu.
wooseok mendengus sebentar, kerja katamu, pikirnya. lucu bahwa wooseok menganggap kalau ini adalah pekerjaan utamanya. karena kalau wooseok bisa memilih berbagai versi realita, wooseok juga maunya tidak ada dalam versi realita yang seperti ini, dimana dia bekerja menjadi pekerja seks komersial di daerah yang dikenal dengan gemerlap dunia seks bebasnya. tapi, ya beginilah yang bisa diterimanya. maka, yang wooseok bisa lakukan hanya menerima kenyataan pahit tersebut dan menelannya kuat-kuat. karena wooseok juga butuh makan. dan tampaknya, sampai sekarang ini, hanya tubuhnya lah yang bisa dijadikan sumber mata pencahariannya.
pandangan wooseok kembali menengadah ke atas. ditatapnya gedung-gedung pencakar langit yang menampilkan kelap-kelip lampu warna-warni. campuran spektrum warna yang mencolok di tengah gelapnya awan dan dinginnya malam itu membuatnya menghela napas panjang untuk sesaat. yang kemudian, menatap kelap-kelip itu lama membuatnya berandai-andai,
"must be nice. to live up there and be rich," gumam wooseok dari balik jendela sambil membayangkan dirinya ada di antara orang-orang kalangan atas itu, sebuah mimpi naif yang tidak akan pernah diraihnya dalam jangka waktu yang lama. paling tidak, itu yang ada di pikirannya saat ini. tapi soal masa depan memang hanya sang pencipta yang tahu. maka, wooseok diberi kesempatan oleh sang pencipta untuk terus berandai dan bermimpi.
*
sementara dari lantai dua puluh tujuh sebuah penthouse di bilangan kawasan mewah di seoul, berdiri seorang laki-laki yang usianya belum mencapai tiga puluh tahun. posisi berdirinya tenang di ruang rekreasinya. dari balik jendela besar penthouse tersebut, laki-laki itu disuguhkan pemandangan berbagai gedung pencakar langit yang terlihat mikroskopis dan memancarkan titik cahaya warna warni. lucu bagaimana di malam hari pun, seoul terlihat masih sibuk, seakan kota itu tidak pernah mau untuk beristirahat sejenak dari hingar bingarnya. lelah berdiri, akhirnya laki-laki muda tersebut duduk terkulai di atas kursi malasnya. digulungnya lengan kemejanya sampai ke siku dan dibukanya kancing pertama kemejanya (laki-laki itu belum sempat mengganti kemejanya sedari dia kembali dari kantornya. terlalu malas). kembali dia meneguk birnya, sebuah minuman yang sesungguhnya jarang dia konsumsi. dirinya sendiri juga bingung kenapa malam ini pilihannya jatuh pada bir kalengan yang dia bisa beli di toko serbaguna. toh, lee jinhyuk adalah seorang yang bisa memilih jenis minuman alkohol apapun di dunia ini. kalau dia mau, dia bisa saja minum bergelas-gelas juglar cuveenya sampai puas (masih ada dua botol juglar cuvee yang disimpan secara khusus di dalam lemari minuman alkoholnya). tapi malam ini, mungkin, jinhyuk ingin mencoba sesuatu yang baru. karena kadang, minuman paling mahal di dunia ini belum tentu bisa melepaskan penatnya.
dirasa jinhyuk sudah menyesap tetes terakhir birnya, ditaruhnya kaleng bir kosong di atas meja kopi yang ada di sebelah kursi malasnya. matanya mau tidak mau menangkap kedip lampu notifikasi ponselnya yang tergeletak di atas meja kopi. bahkan di hari sabtu tengah malam seperti ini, lampu notifikasi ponselnya tidak berhenti berkedip. kesal dengan kedipnya yang makin frantik, maka dengan gusar jinhyuk membalik layar ponselnya supaya dia tidak bisa melihat kedip lampu itu. untuk malam ini, jinhyuk tidak mau sama sekali membuka puluhan pesan email yang barusan masuk itu. ini hari sabtu, dengusnya, biarkan aku beristirahat dengan tenang, dengusnya lagi.
bukannya jinhyuk tidak bersyukur dengan keadaannya. justru, harusnya dia jadi orang yang paling merasa bersyukur di dunia ini. menjadi chief executive officer di usia terlampau muda adalah impian bagi kebanyakan orang seusianya. percayalah, tidak banyak teman-teman kolega yang seusianya yang bisa punya kesempatan ini (jinhyuk bisa memvalidasi ini, dia melihatnya dengan matanya sendiri). tapi, dibalik kuasa yang begitu besar, akan selalu ada suatu konsekuensi yang tersembunyi di baliknya. dan buat lee jinhyuk, konsekuensi menjadi ceo perusahaan warisan mendiang ayahnya adalah dia harus hidup dalam mode autopilot, dimana dunianya selalu diisi oleh kerja kerja dan kerja. awal-awal, jinhyuk masih bisa menakar dirinya sendiri. lama-lama, dirinya muak. kerja kerja kerja. begitu terus dari pagi sampai malam. jinhyuk mendengus kala dia mengingat perkataan seseorang yang kerapkali terlontar ketika jinhyuk sudah muak dengan hidupnya. kalau kamu tidak kerja kamu dapat uang darimana, itu yang selalu dilontarkan oleh manajer sekaligus asisten pribadinya.
jinhyuk menghela napasnya panjang, berdiri lagi sambil menatap ke bawah dari jendela besarnya. dari atas sana, semuanya terlihat kecil dan mikroskopis. jinhyuk tiba-tiba mengangkat tangannya, tangannya seakan ingin menggapai berbagai rangkaian gedung yang kini terlihat seperti miniatur di matanya. tapi tentu saja, jinhyuk tidak akan bisa menggapainya. maka, jinhyuk kembali memasukkan tangannya ke kantung celananya.
"must be nice," lirihnya pelan, hanya jinhyuk yang bisa mendengar suaranya sendiri,
"to be ordinary," lanjutnya lagi. dan mungkin, ucapan lee jinhyuk di malam itu dianggap sebagai doa oleh sang pencipta. karena tidak lama lagi, lee jinhyuk akan dipertemukan sesuatu, atau seseorang, yang tidak biasa untuknya.
