Actions

Work Header

Seorang Sopir Bus dan Penumpang yang Selalu Turun Terakhir

Summary:

cerita tentang seorang penumpang yang selalu turun terakhir dari bus, hanya untuk mengobrol sebentar selama lima menit dengan si sopir.

Notes:

Karakter dari Haikyuu!! oleh Haruichi Furudate. Saya tidak mendapatkan keuntungan apapun dari karya penggemar ini.

Cerita terinspirasi dari sebuah novel dengan judul "Tentang Kamu" oleh Tere Liye.

[Silakan membaca!]

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Penumpang Terakhir   

Chapter Text

Pool  bus Garda, awal tahun. Musim penghujan kembali datang, hujan hampir tiap hari membungkus ibukota. Langit terlihat suram, tidak banyak penduduk yang mau menghabiskan waktu di luar dengan suhu sedingin ini. 

Akaashi duduk menunggu panggilan tes mengemudi. Wajahnya tenang. 

Ada sekitar empat puluh calon pengemudi yang dites pagi ini, Akaashi salah satunya. Kenma, sahabatnya, telah memenuhi tugasnya, yaitu untuk membantu proses pendaftaran pekerjaan paruh waktu Akaashi untuk menjadi sopir bus. Akaashi berasal dari luar kota, dia pindah sementara ke ibukota untuk melanjutkan pendidikan kuliahnya—banyak universitas berkualitas di ibukota. Merasa bosan dengan kegiatan sehari-harinya, dia memutuskan untuk mencari pekerjaan paruh waktu selama di sana. Lumayan, untuk menambah uang jajan,  katanya. Seperti sekarang ini, dia sedang menunggu panggilan tes mengemudi.  Kenma, yang juga bekerja di sana—dia bekerja sebagai pengawas suku cadang bus—berhasil mendapatkan dokumen yang diperlukan  Akaashi  untuk melamar kerja, termasuk lisensi mengemudi. Hanya kurang PCV  license, tapi itu bisa diurus kemudian jika Akaashi lulus.  

Nama Akaashi akhirnya dipanggil petugas seleksi. 

Akaashi berdiri, melangkah maju. Kenma yang duduk di meja administrasi memberikan semangat. Akaashi tersenyum mantap. Dia sudah siap mengikuti ujian praktik, setelah seminggu sebelumnya tes tertulis—yang menggugurkan separuh pelamar.  

Akaashi naik ke atas bus gandeng. Pengawas ujian memberikan kode agar dia bersiap-siap. Akaashi menarik napas dalam-dalam. Ini tidak sesulit yang dia duga, sepanjang dia tenang, konsentrasi, di bisa melewatinya. Apalagi dia sudah berkali-kali latihan membawa bus gandeng yang besar ini. 

Pengawas ujian mengangguk, menyuruhnya maju. Akaashi mulai menekan pedal gas. Bus gandeng berwarna oranye itu meluncur anggun ke lapangan yang disiram hujan deras. Akaashi dengan cekatan mengganti posisi persneling, menekan rem, gas, menyalakan lampu sign, bus melakukan manuver dengan lincah, melewati rintangan yang telah disusun, sekaligus mematuhi rambu lalu lintas dan petunjuk keselamatan yang telah diskenariokan. Hujan deras membuat tes lebih sulit, tapi baginya, itu sama sekali bukan sebuah masalah. 

Empat belas menit, bus gandeng itu kembali ke lapangan garasi. Akaashi membuka pintunya, lompat turun. Kenma berdiri, bertepuk tangan, berlarian mendekati Akaashi, memeluknya—yang membuat semua orang di sana termangu melihatnya, bagaimana tidak, Kenma hanya akan melakukan itu kepada Akaashi, sahabatnya, sedangkan bersikap tak peduli pada yang lainnya.  

Beberapa pengawas ujian—dari Dinas Transportasi Ibukota, termangu melihatnya. Itu rekor tes praktik, tanpa penalti kesalahan sedetik pun. Manajer Garda Pool Bus yang ikut menyaksikan tes tersenyum, mengusap kepalanya yang separuh botak, memberikan selamat kepada Akaashi.  

Seminggu kemudian, Akaashi resmi diterima sebagai sopir bus gandeng ibukota. Dia masih harus melewati beberapa  training, termasuk mendapatkan lisensi tambahan, tapi itu hanya soal waktu.  

Sekitar empat bulan kemudian, Akaashi mendapatkan penugasan, kantor pusat menempatkannya di rute penting, rute nomor 16, Garda hingga ke terminal Leaf. Dengan seragam yang gagah, Akaashi naik ke atas bus, duduk di belakang kemudi, tersenyum lebar, hari-harinya sebagai pengemudi bus di ibukota telah dimulai. 

Akaashi akan beranjak menuju 21 tahun pada pertengahan tahun ini. Di apartemen tempat tinggalnya, bahkan hingga di kampusnya, teman-temannya selalu saja menanyakan soal Akaashi yang sebentar lagi lulus, tapi tak kunjung mendapatkan calon.  

Soal belum menikah ini juga sering dibahas si kantor. 

Oleh Kenma misalnya, saat makan siang, dia dengan santai bertanya, “Akaashi, kamu mau aku jodohkan dengan temanku, orang sini?” 

Akaashi refleks menggeleng.  

“Eh, dia baik, loh. Kerja sebagai penjaga butik bunga. Seusia denganmu. Orangnya-” 

“Kalau begitu, kenapa tidak buat kamu saja?” 

“Hmm? Entahlah, aku hanya menawarkan saja, aku sendiri tidak terlalu suka dengannya.” 

“Lantas mengapa kamu menawarkannya kepada Akaashi jika kamu sendiri tidak suka dengannya? Haha, kamu ini lucu sekali Ken.” Salah satu rekan kerja ikut menimpali. Yang lain ikut tertawa. 

“Eh, hmm, tidak, mungkin saja Akaashi mau, iya `kan?” Akaashi tersenyum getir setelah mendengarnya. 

Ruangan kantin dipenuhi gelak tawa. Itu termasuk hal yang lucu. Akaashi melihat jam dinding kantin. Berdiri.  

“Hei, mau ke mana? Bukankah shift-mu sudah selesai?” Kenma menahan Akaashi. 

“Aku harus menggantikan shift  Kuroo.” Akaashi menjawab. 

“Lagi?” Dahi Kenma terlipat. 

“Iya, dia harus menemani ibunya ke dokter.” 

“Astaga!” Kenma menepuk dahinya, “Kamu percaya kalau si jangkung itu betulan mengantar ibunya? Kamu terlalu baik soal menggantikan  shift  sopir lain,  Akaashi. Entah kapan giliran mereka yang akan menggantikan  shift-mu?” 

Akaashi mengangkat bahu, segera meninggalkan kantin. Sudah hampir pukul satu, saatnya dia mengemudikan bus. 

Lima menit kemudian, bus gandeng rute 16 itu bergerak meninggalkan  pool, masuk ke halte pertama. Ini selalu menjadi rutinitas yang menyenangkan. Akaashi menekan tombol, pintu otomatis mendesis membuka, memastikan semua penumpang telah naik, kembali menekan tombol, pintu mendesis menutup. Menginjak pedal gas, bus bergerak lagi. Akaashi tersenyum, ini perjalanan seperti biasa ( di hari yang juga seperti biasanya ), tidak ada yang berbeda—mungkin (?).  

Jalanan padat, jam sibuk. Bus terisi penuh, beberapa penumpang bahkan berdiri. Lebih banyak penumpang yang naik dibanding turun di halte-halte berikutnya. 

Dua puluh menit, separuh perjalanan rute 16, bus berhenti di halte Tree Road Station. Mata Akaashi yang terlatih, melihat salah satu calon penumpang dengan kursi roda. Bus merapat di halte, Akaashi beranjak turun.  

Hello, Bu! Bisa kubantu?” Akaashi menyapa ramah. 

Ibu-ibu yang menggunakan kursi roda balas menyapanya, mengangguk. 

Akaashi dengan telaten membantu ibu-ibu itu turun dari kursinya, kemudian membimbingnya pelan naik ke atas bus.

“Ada yang bisa memberikan kursi?”  

Seorang pemuda yang duduk di dekat pintu berdiri, mempersilakannya untuk menduduki tempatnya sebelumnya. 

“Terima kasih.” Akaashi membantu ibu-ibu itu duduk. Gesit turun lagi, melipat kursi roda, menaikkannya. Lantas duduk di belakang kemudi. Menekan tombol. Pintu bus mendesis menutup. Selesai. Akaashi menginjak pedal gas, bus kembali bergerak. Itu sudah menjadi tugasnya sebagai sopir, membantu penumpang distabilitas. Sebagian penumpang juga memahaminya—meski itu membuat pergerakan bus menjadi terlambat. 

Tetapi ada yang tidak, salah satu penumpang yang sepertinya sedang terburu-buru, berkali-kali melihat jam tangannya, mengeluh tidak suka. Ekspresi wajahnya kesal. Apalagi di halte berikutnya, juga ada penumpang distabilitas yang menggunakan tongkat, Akaashi kembali turun untuk membantunya naik. 

“Astaga, apakah hari ini adalah hari orang jompo? Mereka semua berkeliaran di jalanan?” Penumpang yang terburu-buru itu berseru, membuat penumpang lainnya menoleh kepadanya. Akaashi mengabaikannya, dia hanya fokus pada pekerjaannya—bukan untuk bertengkar. 

Bus kembali bergerak, dua halte lagi terlewati. Di halte ketiga, ibu-ibu yang menggunakan kursi roda turun. Akaashi mengangguk, dia membantunya. Menurunkan kursi roda terlebih dahulu, kemudian membimbing ibu-ibu itu turun, hingga akhirnya duduk mantap di kursi roda. 

“Bus ini sudah terlambat lima menit dari jadwalnya. Aku akan ditinggalkan kereta di Stasiun Terminal Leaf.” Penumpang yang terburu-buru itu berseru, kali ini lebih lantang. Wajahnya masam. 

“Tuan, biarkan aku yang mencemaskan soal tepat waktu bus ini tiba di halte terakhir. Penumpang tidak perlu mengkhawatirkan soal itu.” Akaashi berkata tegas. 

Bus kembali bergerak. Halte berikutnya, giliran penumpang distabilitas yang menggunakan tongkat hendak turun. Sebagian penumpang lain juga turun, bus sudah dua pertiga perjalanan.  

Oh come on! Kenapa dia tidak turun sekalian saja di halte sebelumnya? Jarak halte hanya dua ratus meter!” Penumpang yang terburu-buru memukul sandaran kursi. Wajahnya merah padam karena marah, lalu berdiri. 

Akaashi membimbing penumpang bertongkat turun. Kembali naik, kali ini dia tidak menuju bangku sopir.  

“Tuan, harap kembali duduk.” Akaashi berkata datar. 

Penumpang itu melotot. 

“Kamu yang bergegas kembali duduk, bus ini sudah telat sepuluh menit.”  

“Tuan, jika Anda tidak kembali duduk tertib, bus ini tidak akan ke mana-mana.” Akaashi berusaha tetap tenang, menatap lawan bicaranya—yang tingginya hampir 1,5 kali Akaashi. 

Penumpang itu hendak berseru, tapi akhirnya dia duduk kembali. 

Akaashi kembali duduk di belakang kemudi.  

Huh, ke mana sih, sopir sebelumnya? Setidaknya dia bisa lebih cepat mengemudikan bus ini dibandingkan dengan pengemudi baru ini. Hah!” Penumpang yang terburu-buru itu ternyata masih mengomel di kursinya, sengaja berseru dengan suara kencang—yang ternyata dapat mengundang kemarahan Akaashi. 

Akaashi menginjak rem, bus berhenti di suatu jalan—jauh dari halte sebelumnya, pun halte tujuan. Menekan tombol, pintu mendesis terbuka. Akaashi berdiri, melangkah di lorong kursi. 

“Silakan turun dari bus ini!” Akaashi berkata tegas. 

“Apa hak kamu menyuruhku turun? Aku punya tiketnya-” 

“Turun! Sekarang juga!”  

“Kamu seharusnya memastikan bus ini tiba tepat waktu.” Penumpang yang menjadi biang keributan itu berdiri, melotot. Balas menantang. Suasana di dalam bus menjadi tegang. 

“Sesuai peraturan angkutan umum kota, Anda telah mengganggu ketertiban umum, Tuan. Turun dari bus atau aku akan memanggil polisi!” 

Penumpang itu terdiam. 

Akaashi menunjuk pintu yang sudah terbuka sepenuhnya. Penumpang itu tidak punya pilihan lain, mau semarah apapun dia, sopir bus telah menyuruhnya turun. Masalah ini bisa menjadi serius jika dia melawan. Dia akhirnya melangkah menuju pintu sambil mengomel dengan kalimat yang tidak jelas. Persis penumpang berulah itu turun dari bus, penumpang lain yang menonton keributan bertepuk tangan mendukung Akaashi. 

Akaashi kembali duduk di kursi sopir tanpa banyak bicara. Menekan tombol, pintu mendesis tertutup. Bus gandeng rute 16 kembali melanjutkan perjalanan.  

Sepuluh menit kemudian, bus tiba di terminal Leaf  tepat waktu,  Akaashi  mempercepat laju bus di sisa perjalanan sebagai kompensasi keterlambatan sebelumnya. Penumpang berloncatan turun.  Akaashi  menyandarkan punggungnya, menghela napas panjang, mengelap dahinya. Dia punya waktu lima menit untuk beristirahat sebentar sebelum bus kembali bergerak ke Garda, jadwal shift-nya sudah selesai. Ini ternyata bukan perjalanan biasa di hari biasanya. Dia tidak menyangka akan bertengkar dengan seorang penumpang. 

Hello.” Seseorang menyapa. 

Akaashi menoleh. Salah satu penumpang belum turun, dia sepertinya sengaja menunggu.  

“Tadi itu keren sekali.” Penumpang itu tersenyum. Laki-laki, usianya mungkin sepantaran dengan Akaashi. Mengenakan seragam lapangan berwarna oranye—seperti teknisi, insinyur, atau sejenis itulah. 

“Anda sangat tenang menghadapinya.”  

Akaashi menggeleng, “Aku tidak setenang itu, aku sebenarnya nyaris pipis di celana karena ketakutan. Penumpang pemarah tadi tinggi besar.” 

Laki-laki yang menyapanya tadi tertawa, menjulurkan tangan. 

“Namaku Bokuto, aku berasal dari sebuah kota di barat.” 

Akaashi membalas uluran tangannya, “Akaashi.” 

“Apakah kamu sedang menggantikan shift sopir lain? Sepertinya sopir yang biasanya itu bukan kamu deh. Tapi omong-omong, senang berkenalan.” 

Akaashi mengangguk, menunjuk ke depan. Pengawas halte terminal Leaf  telah memberikan kode agar busnya kembali bergerak. 

“Oh maaf, aku akan turun.” Pemuda itu berdiri, sebelum tubuhnya menghilang di ramainya terminal, dia menoleh sambil berseru, “Sampai berjumpa lagi, Akaashi.” 

Akaashi mengangguk sekilas. 

 

 

 


 

 

 

Akaashi dengan cepat melupakan kejadian siang itu, tapi dia lupa nasihat lama yang justru sering dia kutip. Saat kita telah berhasil melupakan sesuatu, bukan berarti itu benar-benar telah terlupakan begitu saja, boleh jadi masih ada yang mengingatnya.  

Dalam kasus ini, bukan hanya mengingat, tapi juga menjadikannya spesial. 

Adalah Bokuto, usia 22 tahun, pengawas teknisi jaringan ibukota. Dia memiliki ijazah universitas, posisi pekerjaannya cukup baik. Bokuto juga tidak berasal dari ibukota, setelah lulus, dia langsung bekerja di ibukota. 

Dua minggu setelah kejadian itu. Shift  pagi pukul 07.30—Shift  normal  Akaashi, bus bergerak dari arah Garda  menuju terminal Leaf, jalanan padat.  

“Hai, Akaashi!” Salah satu penumpang yang naik di halte Tree Road Station menyapa. 

Akaashi menoleh. Jarang-jarang ada penumpang yang menyapa—bahkan sampai tahu namanya. Apakah sesama sopir atau staf pool? Atau teman sekampus yang mengenalinya?  

Laki-laki itu tersenyum, dia mengenakan seragam lapangan oranye.  

Akaashi menatap bingung. 

“Kamu lupa? Aku Bokuto.” Laki-laki itu tersenyum.  

Akaashi mengangguk, dia samar-samar ingat. Menunjuk ke dalam—agar Bokuto bergerak menuju ke kursi, jangan menghambat penumpang lain. 

“Oh, maaf.” Bokuto melangkah ke dalam. 

Empat puluh menit perjalanan, bus tiba di terminal Leaf. Akaashi punya waktu lima menit di sana. 

“Aku sudah menebak-nebak, kapan akhirnya naik busmu lagi, Akaashi. Setelah dua minggu, aku merasa beruntung hari ini.” Bokuto, menjadi penumpang terakhir yang turun, dia menyapa sebentar, “Kamu selalu berangkat sepagi ini?”  

“Ya.” Akaashi menjawab pendek. 

“Apakah ada lagi penumpang yang menyebalkan dua minggu terakhir?” Bokuto mencoba bergurau. 

“Tidak ada.” 

“Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lebih lama lagi. Sebelum kamu menyuruhku turun.” Bokuto menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Sampai bertemu lagi, Akaashi.” Bokuto pun turun dari bus. 

‘Ajaibnya’ urusan ini, besoknya, besok, dan besoknya lagi, Bokuto tetap naik di halte yang sama, jam yang sama, dan secara otomatis dia akan selalu bertemu dengan Akaashi. Menyapa pendek, lantas segera bergerak mencari kursi penumpang yang kosong. Setiba di terminal Leaf, kembali menyapa, mengobrol satu-dua kalimat. 

Tidak banyak yang dibahas, paling tentang cuaca, hujan, panas, atau keadaan jalanan, macet, lancar, atau sesekali Bokuto akan bertanya basa-basi. 

“Asalmu dari mana, Akaashi?” 

“Kota di barat.” 

“Oh ya, aku juga berasal dari sana, setelah lulus, aku memutuskan untuk bekerja di ibukota.” 

Akaashi mengangguk tipis, menunjuk ke depan, petugas terminal telah menyuruhnya maju. 

“Oh, maaf, Akaashi. Aku akan turun sekarang.” 

Satu bulan berlalu dengan cepat. Bokuto selalu naik bus Akaashi, tidak pernah absen walau sehari. Entah itu sebuah kebetulan, atau memang jadwalnya persisi sama dengan  shift  pagi Akaashi. 

Makan siang di kantin pool

“Hei! Hei!” Salah satu sopir mendadak berdiri, memukul piring kosong dengan sendok, membuat yang lain menoleh, “Perhatian semuanya. Aku akan mengumumkan sesuatu yang amat sangat penting.” 

Yang lain menoleh, termasuk Akaashi yang sedang makan siang. 

“Pengumumannya adalah Akaashi sekarang ternyata punya penggemar spesial!” 

Sopir itu menunjuk Akaashi. 

Wajah Akaashi mendadak merah padam. Pengunjung kantin dengan serempak pindah menatapnya. 

“Ada seorang pemuda, setiap pagi naik busnya, dan selalu mengobrol dengannya setiba di terminal Leaf.” Sopir itu tertawa. 

Akaashi lompat dari duduknya, menunjuk, menyuruhnya diam, “Itu bohong! Jangan percaya!” 

“Ayolah, Akaashi!” Sopir itu terpingkal, “Aku melihatnya tadi pagi. Sempat bertanya ke pengawas terminal. Nah, siapakah gerangan pemuda itu, Akaashi?” 

Sopir-sopir lain dan staf pool  ikut tertawa. Ini berita hebat. 

“Berhenti, Kuroo, atau aku lempar dengan makanan.” 

Akaashi melotot, wajahnya sudah seperti kepiting rebus. 

“Siapa nama pemuda itu, Akaashi?” Sopir yang diancam itu, mana mau berhenti menggoda Akaashi. 

Keributan di kantin reda sejenak ketika seorang manajer Garda Pool Bus masuk, ikut bergabung untuk makan siang. Tetapi tidak satu meja dengan Akaashi. 

“Siapa laki-laki itu, Akaashi?” Kenma yang duduk tepat di sebelahnya langsung bertanya, wajahnya mekar oleh rasa ingin tahu. 

“Bukan siapa-siapa.” Akaashi melotot. 

“Benar `kan ? Sekarang dia mengakuinya, bilang bukan siapa-siapa.” Kuroo, yang duduk di sebelah meja Akaashi berbisik, menahan tawa. 

“Dia memang bukan siapa-siapa, Kuroo!” 

“Semakin kamu bilang bukan siapa-siapa, itu justru memang siapa-siapa, Akaashi.” 

Akaashi kali ini sungguhan melempar Kuroo dengan potongan tomat dari mangkuk saladnya. 

“Hei! Ada apa ini?!” Si manajer menoleh—tomat itu salah sasaran dan malah mengenai belakang kepalanya. 

“Bapak belum tahu? Ada yang  naksir  Akaashi.” 

“Oh ya? Siapa orang yang malang itu?” Si manajer bergurau, di akhiri dengan tertawa. 

Begitu pula dengan suasana kantin, kantin kembali dipenuhi gelak tawa. Akaashi bergegas meninggalkan kantin sebelum dia kembali menjadi bahan ejekan. 

 

 

 


 

 

 

Bagaimanalah urusan ini, Akaashi memang belum pernah mengalaminya. Selama masih di sekolah menengah, dia belum pernah mengenal apa itu cinta. Dia hanyalah anak rajin yang selalu memikirkan sekolah, ditambah jadwal-jadwal kelas tambahannya yang lain. Itu semua hanya mengenai sekolah, bahkan sampai sekarang di kampus pun, dia masih saja hanya fokus pada sekolah. Meskipun bolehlah sekali-sekali, mengingat memang memasuki usia remaja. Kalau saja dia mau, sejak sekolah menengah, Akaashi  memiliki banyak penggemar. Mau dari kalangan perempuan, sampai kalangan laki-laki? Mungkin sakingnya, dia tampan, dan pintar? Tentu saja, murid pintar kesayangan para guru. Itu kalau dia mau, tapi pada saat itu, dia sama sekali tidak tertarik pada hal-hal seperti itu. Jadi ya, wajar saja, baru kali ini Akaashi merasakan pengalaman itu. 

“Laki-laki? Hmm, apakah dia tampan, Akaashi?” Kenma bertanya saat hanya mereka berdua yang sedang di bengkel, memeriksa stok suku cadang, oli, dan keperluan bus. 

“Berhenti bertanya soal itu.” Akaashi melotot. 

“Aku hanya bertanya,” Kenma menatapnya, “Kamu tidak harus marah-marah, `kan?”  

Akaashi terdiam, benar juga. Tapi tadi siang dia ditertawakan seluruh pengunjung kantin hanya gara-gara rumor mengenai lelaki tersebut. 

“Teman-teman sopir memang suka saling menertawakan. Dan mereka masih pada tahap normal-normal saja, tuhTapi kalau semisal Kuro sudah melewati batas, panggil saja aku, akan aku hajar si jangkung jelek itu. Omong-omong, apakah pemuda itu tampan?” 

Akaashi merah padam—tapi setelahnya dia mengangguk kecil. 

Kenma tertawa. 

“Orang mana, Akaashi? Apakah sama juga dari luar kota sepertimu?” 

“Iya, dia juga berasal dari kota di barat sepertiku.” 

“Wow, tuh  `kan, kalian juga berasal dari kota yang sama. Kalau dilihat-lihat dari kamu, sepertinya dia juga tampan, ya?” 

Akaashi menunduk, “Dia bukan siapa-siapa, Kenma, dia hanya seorang penumpang.” 

“Ayolah, mana ada hanya seorang penumpang jika setiap pagi, selama sebulan ini, dia selalu turun paling akhir dari bus, mengajakmu mengobrol sebentar?” 

“Mungkin memang begitu kebiasaannya, Kenma, selalu menyapa singkat si sopir, tidak semua laki-laki menyukai sesamanya.” 

“Hmm, kamu bisa benar, tapi kamu juga bisa salah.” 

Akaashi mengangkat kepalanya, menoleh kepada Kenma dengan ekspresi wajah kaget, “Maksudmu?” 

“Mengapa tidak kamu tanyakan langsung saja kepadanya? Toh, bisa jadi dia memang benar-benar menyukaimu. Soalnya aku belum pernah mendengar kasus ini terjadi pada sopir-sopir lain, seperti, seorang penumpang yang selalu mengajak mengobrol saat sudah sampai di halte terakhir, ya`kan?  

Kenma benar, pernyataannya membuat Akaashi berpikir lebih keras, apakah kebiasaannya memang seperti itu atau dia benar-benar suka kepada Akaashi? 

“Aku turut senang mendengar kabar ini, Akaashi.” 

“Dia bukan siapa-siapa.” Akaashi menyergah. 

“Sekarang bukan siapa-siapa, tapi besok, lusa, tiada yang tahu`kan?” Kenma senyum-senyum sendiri—hal yang akan dia lakukan hanya kepada sahabatnya—lantas melangkah mendekati montir bengkel, meminta data-data terbaru.