Work Text:
Embrace, didiktekannya; segala hal yang pada detik ini membuatnya benci, merupakan awal mula dari seluruh puncak kemaksiatan emosi dan keterlibatannya dalam revolusi yang tak diinginkan menjadi inti—
Jauh sebelum keberadaan mekanisme kehidupan non-mortal ini; Embrace mengetahui dengan jelas bagaimana wujud seluruh sisi kevulgaran manusia. Salah satu perkara yang membuatnya tidak bisa mengacuhkan apa pun selain tumpuk dosa yang tertuai itu adalah kepercayaan konkretnya soal manusia ialah sebagai reinkarnasi iblis, para pengguna topeng kemuliaan : namun pada dasarnya terpastikan busuk di dalam. Embrace sanksi terhadap sekumpulan mereka yang selalu berpenampilan baik; berperilaku sebaik-baiknya badaniah penggambaran kuasa cipta, namun secara tak langsung menginjak seseorang yang tak berdaya sampai rata di balik alas sepatu mereka.
Dengan pikiran jernih dan mata kepalanya sendiri, Embrace menilai kesepakatan yang membuatnya tak bisa kembali memaafkan manusia dari dasar lubuk hati— adalah berawal dari, dia yang begitu kecil dan rapuh melihat bagaimana orang-orang atas nama masyarakat tanpa tahu malu memusnahkan satu sama lain, antar ras dan tanpa memandang siapa dan apa; dengan benar-benar luar biasa serakahnya.
Bangsa biadab yang mendirikan rumah dengan menendang rutinitas dan memutus hidup orang lain. Dari sekian kumpulan manusia yang dibersihkan oleh mereka itu, Embrace adalah salah satu dari korban ekspansi yang tertinggal di sebuah desa kecil nan terpencil, tempatnya dibesarkan oleh ibu, dan terlunta-lunta dia serta orang yang tersisa dari satu keturunannya memohon berkat pengampunan supaya setidaknya dibiarkan untuk tetap bernyawa. Kehidupannya yang dulu damai dan terarah, penganut setia apa yang diajarkan nenek moyangnya; tidaklah serta merta bertahan lama kendati Neraka hari itu jelas menumpas terang tentang alasan mengapa sampai hari ini dia mengutuk manusia. Di suatu masa dalam ingatan jelas itu ketika dia berlari sebagai anak kecil tanpa arah; terjatuh setelah kabur tunggang langgang di antara curamnya tanah terjal, kaki terjerat di belukar dan melesak masuk ke dalam kubangan. Pergelangan mungilnya terperangkap. Orang-orang jahat itu menyeretnya seperti anjing yang bersorak-sorai setelah sukses berburu makanan.
Embrace mengingat. Ialah seonggok bangsa bernama Viking yang membawanya ke pemukiman mereka, menjadikannya budak; tanpa membantai habis mati dirinya— (dia tidak tahu dia harus senang karena tidak pula memohon untuk menghadapi kematian, tapi; yang dilalui memang tak pernah jauh dari yang namanya menyiksa diri—) Embrace, yang dahulunya adalah anak baik berbakti tanpa ada niat mengingkar; dibesarkan dengan pemahaman jikalau dia butuh bertahan hidup, maka dia harus mampu menjilat kuasa orang lain dengan benar. Apakah ini pertanda soal mukjizat atau bukan? Tentang mereka yang mengajarkan? Dia tidak tahu bagaimana yang benar. Dia tidak dibunuh melainkan orang-orang satu darah yang pula tertinggal membawa peralihan agama itu sebagai jalan keluar— Embrace yang tidak tahu apa-apa, kini menjadi sabda Tuhan dengan mengajukan suatu daya perlindungan dari gereja.
Semuanya berjalan. Para Viking itu untuk sementara syukurlah tak menyerang. Setidaknya; mereka kini tidak membabat habis lagi membinasakan. Tetapi, pertikaian atas dasar kekuasaan memang tak pernah dapat dicegah. Suatu waktu berikutnya mereka makin bergerilya, makin tidak beradab tingkahnya. Bangsanya yang tersisa berunding. Mencari cara supaya bagaimanapun orang-orang vulgar itu bisa dikendalikan.
Sejujurnya, Embrace tidak pernah dipercayakan untuk memegang sihir. Kali pertama dia memegang buku itu pun, Embrace hanyalah seorang misionaris yang ditunjuk serta merta tanpa pernah menimba ilmu jenis apa pun. Apa yang membuatnya naik hingga saat ini barangkali adalah kegigihannya sendiri— ketika dia menjadi salah satu orang penting di antara penganut gereja, bangsa sialan itu tetap mengejarnya sampai mati.
( Sungguh Embrace tidak ingin semudah itu ini berakhir, setidaknya sebelum dia mampu memudarkan dendam ini; )
“To—!”
Napasnya naik turun. Embrace tercekat meraih apa pun di hadapan, tak tergapai; dan dia tidak mengerti apa yang memicu tantrumnya kala itu. Embrace tahu dia tidak seharusnya mengingat masa lalu, walaupun memang tindakan traumatisnya itu, pengorbanannya, rasa dukanya atas kepergian Wick adalah lonjakan status mental yang membuatnya semudah itu tidak stabil dan jatuh.
Wick, anjing kecilnya yang biasa mengaing penuh kekhawatiran, yang senantiasa pula setiap pagi menyambutnya dengan melingkar tenang dalam pangkuan; kini tak lagi ada. Sudah lama tak ada—
Embrace menahan napas dan menetralisir yang dapat diupayakannya pada hari itu juga; dia tidak bisa selamanya begini, kesedihan yang tergambarkan dengan bagaimana dia memeluk lututnya, bangun dengan lonjakan perasaan tidak mengenakkan itu setiap paginya. Dan yang jelas adalah Embrace mengaku tidak bisa semudah itu dia melupakan apa yang pernah menjadi beban pada pundak-pundaknya.
“Maafkan saya, Wick …”
( Hari pertama di Skandinavia tanpa keberadaan temannya, tak banyak hal yang berbeda. )
Semenjak di umur yang membuatnya bahkan tak mampu untuk bersikap mandiri beberapa tahun lalu, Embrace telah begitu membenci Viking : amat teramat dari lubuk terdalam hatinya.
Kejadian ini adalah cerita beberapa tahun sebelumnya. Ketika dia terbiasa menjalani hari bersama penghuni gereja sebagai orang-orang sebangsa yang tersisa dari genosida. Seperti seorang pendeta pada umumnya, maka dia adalah laki-laki yang memberikan khotbah untuk memurnikan kesucian para pengikut agama di rumah Tuhan sana. Dia menjalaninya tidak lebih dari sekedar anggapan mengenai ini berupa kewajibannya, lalu semuanya terlewati begitu saja, sampai akhirnya dia berada titik di mana kejenuhan itu mencapainya.
Embrace menengadah lagi. Berkat siapa mereka menjadi begini melaratnya? Karena siapa sekarang dia menjalani hidup sebegini susahnya? Tentu saja, setelah binatang-binatang itu mengusirnya dari rumah yang seharusnya, sekarang Embrace bahkan tidak diperkenankan hidup damai meski sebagai seseorang yang sebatang kara.
Sesuatu yang diharapkannya berakhir; tidak, dari awal Embrace pula tidak percaya serta merta kebahagiaan akan benar-benar tersampaikan suatu hari nanti padanya. Dalam beberapa masa yang membuatnya merasa dihindarkan dari jahatnya Viking, perlindungan yang diberikan gereja pada akhirnya mencapai batasan yang membuat mereka semua, termasuk dirinya di antara penghuni gereja, berbalik dan lagi-lagi tak berdaya. Perilaku kekerasan Viking semakin merajalela, mereka akhirnya menyerang tempat ibadah di mana Embrace dan orang-orangnya tertinggal, mencuri ikon dan teks agama, dan membunuh para pendeta yang malang.
Tenaga serta air mata terkuras. Yang tersisa mungkin hanya Embrace dan beberapa pendeta yang secara beruntung, dapat lepas dari teror dadakan yang didapatkan. Oleh kedua tangan dengan jerih payah menyalurkan tenaga, mereka bergemetar takut pada akhirnya. Jika dengan membuat Viking mempercayai Tuhan adalah satu-satunya jalan— seorang pastor berkedudukan paling tinggi dari gereja, mencetuskan ide yang dianggapnya brilian sedemikian, tanpa sebuah observasi berarti, murni pendapat yang tentunya dapat dengan mudah oleh siapa saja menghakimi. Tapi pengeksekusian itu tidak ada yang berani menyanggahi. Atau mungkin, semua orang di sana hanya buntu mengenai apa yang seharusnya mereka perbuat tanpa mengerahkan peruntungan pada sisa nyawa mereka kembali. Dengan dalil yang membuat iblis bahkan dapat bertobat, diharapkan seluruh sikap tak beradab itu juga ikut lenyap.
Embrace pikir itu bisa menjadi satu-satunya cara, dengan mengangkat tangan di antara yang lainnya, dia menyetujui pengajuan sang pastor dan petinggi itu tersenyum kepadanya. Wick menggonggong dengan begitu bahagia— yang Embrace yakini yaitu sesulit apa pun rintangan dalam jalan bercabang di hadapan itu menghadangi, teman kecilnya ini pasti akan menggandeng dengan benar ke mana pun langkahnya memilih pergi. Embrace, beberapa kenalan dengan satu pekerjaan serupa, dikirimkan dari gereja ranah alokasi mereka bekerja beberapa waktu lalu setelahnya untuk melakukan misi khotbah. Semua pendeta yang tersisa mempercayai idealisme yang tersampaikan dari Bapa pemimpin itu.
Bagaimanapun, mengubah sudut pandang Viking untuk tidak menjadi buta pada petunjuk Tuhan adalah satu-satunya kesempatan tersisa yang bisa mereka kerahkan setidaknya buat saat ini. Embrace terlanjur muak atas perkara yang menjadikannya seseorang yang berpendirian teguh menghadapi maut berkali-kali— setelah dipastikan dia menjadi salah satu pendeta yang menjalani hilir mudik itu, Embrace tidak merasa sedikit pun patut menolak apalagi menyesali.
Dengan anjing hitamnya dan sebuah alkitab pemberian sebagai pedoman, seorang misionaris dengan segala kepercayaan diri meraih harapan yang bisa dia capai di antara lika-liku tantangan yang tak diketahui lagi dihadapinya : Embrace genap menempuh perjalanan pertamanya oleh suatu kepercayaan di mana, harapan untuk membuat kehidupan jauh lebih baik tersebut ada di depan mata.
( Embrace menuliskan beberapa kata pada buku lain yang dipegang. Mungkin soal, permintaan kepada Tuhan agar dibukakan jalan sehingga Wick bisa di sisi Embrace hingga akhir hayatnya. )
Seorang Skandinavia yang menyapanya pertama kali ketika dia sampai di wilayah Nordik Utara adalah orang yang menawarinya tempat untuk tinggal. Meski dia tidak tahu siapa; meski dia tidak pula mempertanyakan apa motif dari sikap baiknya. Embrace yang lemah dan kelaparan tidak bisa menolak— ditambah, dia juga tidak merasakan hawa kejahatan yang dipancarkan dari lelaki tua itu. Mereka berjalan ke rumah kumuhnya. Tidak besar, namun paling tidak nyaman ditinggali untuk beberapa waktu dan Embrace memastikan akan berhutang budi atas jasa dan tawarannya.
Embrace memperkenalkan dirinya sebagai seorang yang mengantarkan pesan dari Tuhan. Awalnya pria tua itu terkejut, menyatakan seorang misionaris adalah hal yang masih jarang ditemui di sini. Mengenai ini pula, sepertinya keturunan Skandinavia itu tampak tertarik untuk mendengarkan cerita Embrace lebih lanjut. Lihatlah dia sampai menarik-narik tangan Embrace keluar dari rumah, mengantarkan laki-laki kebingungan itu ke pusat pemukiman untuk diajaknya berbicara dengan kawan-kawan yang lain. Embrace menarik senyum gugup. Ini adalah agenda pertama dan utamanya yang harus dipenuhi saat itu juga, kesempatan yang jelasnya Embrace nantikan akan menjadi suatu keberhasilan gemilang.
“Bisa Anda jelaskan tentang hal itu lebih detail?”
Mereka menginginkan kelengkapan tujuan, dan menjadi alasan terang mengapa secara senang hati Embrace menceritakan apa yang ingin dia inginkan serta incar. Setelah mendengarkan, salah satu dari orang-orang itu menceletuk, merespons soal penjabarannya yang Embrace pikir tak sesuai dengan pendapatnya. Embrace seketika gugup.
“Kami sebenarnya tidak keberatan dengan permintaanmu,” yang dia maksud adalah tentang pembangunan gereja itu, “tapi Anda harus mematuhi persyaratan dari kami sebagai gantinya.”
“Benarkah? Persyaratan macam apa?”
Tanpa banyak mengajukan dinamika apa-apa, Embrace akan mengatakan bahwa dia pasti mengusahakan diri menyanggupi kesepakatan yang diamanatkan buat mengantarkan jalan bangsanya pada keberkahan. Baginya selama dia bisa lepas dari genggaman orang-orang jahanam, Embrace tidak perlu memikirkan konsekuensi berarti dalam bentuk apa pun.
“Korbankan anjing milik Anda.”
( Manusia, atas segala jenis dan rupa rasnya; tak pernah ada ubah jahatnya. Mereka menginginkan itu : penguburan hidup-hidup. Terhadap apa yang berharga. )
“Apa?”
Lagu pengantar pujian Tuhan berdendang ketika dia sampai di depan pintu gereja. Ini adalah hari Minggu ketika umat pada umumnya melakukan agenda untuk beribadah rutin mereka. Yang berada di tengah itu, adalah kepala pendeta yang mengajukan perjalanan bawahan pendeta. Embrace menurunkan tubuhnya, menghormatinya oleh kondisi bertekuk sebelah lutut, lalu mulutnya merapalkan apa pun mantra yang dia mampu lantunkan.
Semua umat melirik takjub, sebagian menepuk tangan mereka, mengantarkan Embrace pada kesediaan dan tanggung jawabnya. Orang-orang terpilih ini, termasuk Embrace di dalamnya; adalah mereka yang akan dikirimkan keberangkatan menuju ke Eropa Utara. Kegigihan serta kemurahan hati yang dipersembahkan cuma-cuma sebagai lencana yang telah dari awal disepakati, sebuah buku diperkenankan untuk menjadi alkitab penebus segala doa, melengserkan dosa.
“Atas nama Tuhan, berkatilah jalan pemuda ini. Dia berada untuk meninggikan nama kami.”
“Amen.”
Embrace diam-diam tersenyum kaku. Sebetulnya, mempertaruhkan nyawa bukanlah hal yang dia mau.
Di Eropa Utara, penguburan hidup-hidup, (terutama manusia) adalah hal yang sangat umum, selalu terjadi; dan berupa kodrat masyarakat di sana percaya secara alami.
Permintaan penduduk setempat untuk menukar pembangunan gereja terhadap nyawa anjingnya sebenarnya tidak luar biasa pada saat itu. Dalam artian, sebagai tradisi yang sudah ada sejak turun temurun, bukan merupakan hal pedih bagi mereka untuk merenggang satu atau dua nyawa makhluk hidup yang menetap di sana. Perihal yang lebih penting itu adalah mungkin kelangsungan apa yang dianut— namun, untuk seorang misionaris polos seperti Embrace, ini bisa dianggap sebagai permintaan yang jelasnya sangat mengerikan.
Embrace tidak pernah menduga bahwa ada saat di mana dia harus merelakan Wick semata-mata untuk sesuatu yang bukan merupakan pertaruhannya. Jika dia menilai ini secara pribadi, Embrace lebih memilih opsi agar tidak usah merelakan Wick sama sekali. Tetapi dalam ranah formalitas, tentu saja para pendeta akan mengutuk pilihan egois yang mengancam ini. Bapa berpesan : korbankanlah apa pun untuk kepentingan yang lebih tinggi.
Wick adalah anjing hitam yang selama ini menemani kisah hidupnya. Pantaskah Embrace membuat Wick mati dikarenakan suatu kewajiban yang dari awal pun bukanlah merupakan urusannya— Embrace bimbang, tak habis pikir, mencari petunjuk dan panggilan alam bawah sadar yang benar. Membiarkan sahabatnya sirna demi kelangsungan umat, atau dia tidak menyetujui apa pun sama sekali. (Alhasil, mungkin dialah yang akan dibakar kemudian dibuang hidup-hidup.)
Atas rasa kasihan setelah secara langsung melihat Embrace begitu terlihat terpuruk, perwakilan Skandinavia itu bersepakat untuk memberikan Embrace waktu berpikir. Dalam satu minggu, Embrace harus memberikan mereka jawaban atau penolakan itu membuatnya harus terusir : kembali ke tanah asal dengan tangan kosong, dan gagal dalam penyelesaian misi. Namun pada hari yang dijanjikan, Embrace menangis tersendu-sendu di hadapan. Dia mengakui dirinya merasa sangat tertekan, sedikit pun tak sanggup untuk menentukan opsi yang baik atas semua permasalahan. Jika dia memutuskan nyawa Wick sebagai inti transaksi, apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri ke depannya setelah ini? Yang mereka lakukan pastilah tak lebih dari sebuah siasat. Untuk menghentikan kekejaman, memang ada hal yang sama kejam juga harus dibayarkan pada muka.
“Saya mohon …”
Dia bersujud seperti apa pun tak berarti orang-orang Skandinavia atau pun pendeta akan mendengarkan keluh kesahnya. Suatu tradisi adalah tradisi, tak bisa digantikan apa pun sampai mati, tentu saja mereka harus memenuhi yang menjadi konsekuensi. Jika Embrace ingin menyerah saat ini, maka tidak ada kata terlambat selama proses itu belum mereka laksanai. Tapi yang pasti— dia dipastikan akan terbuang, tak diterima di mana pun lagi, dan hidupnya akan lebih melarat dibandingkan pada saat ini.
Pemimpin Skandinavia bertanya sekali lagi : kali ini dengan spesifikasi pertanyaan yang Embrae sama sekali hindari.
“Mana yang lebih penting bagi Anda? Keberlangsungan umat, atau anjing Anda?”
“Dua-duanya adalah yang penting bagi saya!” itu yang dijawab Embrace sembari nyaris putus asa mengais-ngais belas kasih sekecil apa pun, “tapi …”
“Tapi?”
( Dia harus bisa membuang salah satunya. )
Penguburan itu akhirnya menjadi pilihan yang akan Embrace laksanakan. Dia tidak bisa mengelak. Dia tidak bisa mempertahankan apa yang menjadi kemauan. Meski rasanya berat, meski rasanya dia akan selamanya membenci dirinya sendiri setelah ini. Dia tidak bisa menahan apa pun yang menjadi persyaratan— karena baginya, jika inilah satu-satunya cara, harapannya, tak akan lagi ada kesempatan yang bercela di antara mereka.
Terlepas dari prosesnya, hasilnya adalah anjingnya mati dalam perjanjian ini. (Di sisi lain, naas; khotbah yang dijalankannya tidak banyak mempengaruhi hasil positif.)
Ah, tentu saja. Hasil itu makin memperparah keadaan di mana dia menjadi semakin direndahkan. Ketua pendeta yang berakhir menyalahkan, sisa-sisa pengikut yang memberinya sebuah pandangan prihatin lagi meremehkan. Sesungguhnya, Embrace mengakui dari awal ambisinya untuk menempa juga salah. Dia menurut dan nekat. Semudah itu. Tanpa suatu perbelakan yang memadai dan kekuatan yang memang tidak pula dia miliki. Padahal, yang dia yakini mengenai aman dan tentram itu adalah rasa bahagia di mana kalaupun dia hidup berdua susah payah cuma dengan Wick, sejujurnya itu akan sangat lebih bisa ditolerir tingkat kepayahannya. Tapi yang dia takutkan adalah bukan kesulitan setelah dia menolak permintaan syarat itu : pendeta yang tidak main-main, pasti berkehendak buat membunuhnya sekaligus bersama Wick tanpa perlu memberikan alasan tambahan lagi.
Seperti yang disebutkan, kepercayaan pada banyak Dewa di Eropa Utara sebagian besar dimotivasi oleh kepentingan pribadi. Tuhan tambahan seperti Yesus tidak mampu mengubah kode etik mereka. Dari situ Embrace merasa apa yang telah dikorbankannya adalah merupakan kesia-siaan, sebab apa yang dia dapat dari itu pun tak sedikit pun sesuai dengan apa yang menjadi kehendak awal. Siapakah yang harus disalahkan? Ketidakpemahaman, atau ketidakmampuannya? Embrace merana. Setelah kehilangan Wick, pengorbanan itu bahkan tak membuahkan apa-apa.
Di antara ketidakstabilan itu, yang Embrace pikirkan adalah keinginannya menghancurkan dunia. Dunia ini terlalu kejam untuk ditinggali, pengakuannya; di antara rasa sakit yang membuncah dan air mata. Di setengah kesadaran yang membuatnya limbung itu— beberapa hari belakangan karena rasa sedih ditinggalkan Wick, dia dijuluki sebagai mayat berjalan. Embrace tidak memiliki keinginan dan tujuan apa-apa lagi, tekanan hebat akibat kebodohan yang membuatnya mati-matian menyalahkan diri sendiri. Tapi apa yang harus dilakukan dengan itu semua kendati dia tidak punya apa pun ataupun penopang berarti lagi—
Lalu sebuah kultus, komunitas orang-orang terlarang yang selalu diperintahkan warga Skandivia setempat untuk tak sampai terlibat ke dalam.
“Tuan Embrace, bergabunglah bersama kami.”
Ajakan itu diarahkan dengan sebuah tangan terulur. Kabut menyelimuti pandang, tetapi Embrace sepenuhnya sadar. Bagi nuraninya yang masih berada dalam fase terguncang, tentu saja Embrace tidak merasa dia harus memedulikan apa-apa. Oleh sebuah dalih yang membuatnya menyebarkan ajaran ayat, hari itu dia mengikuti kultus tersebut ke mana mereka membawanya pergi.
( Dia akan menciptakan Neraka untuk mereka junjung sendiri. Nikmatilah, nikmatilah. Panas yang sama membara ini. )
Manusia pengisap darah itu adalah makhluk abadi. Mereka tidak akan mati termakan usia dengan tetap bernyawa selama beratus-ratus tahun dan kebal pada senjata macam apa pun selain memusnahkannya tepat dengan memenggal kepala atau menghunus pisau di jantung. Persayaratan untuk melangsungkan kehidupan itu hanya satu : bukan makanan, mereka meminum darah, menyuplainya dari manusia yang tidak kekal sama sekali.
Sebutannya adalah vampire. Istilah dalam mitologi yang biasa digunakan dan terkenal di mana-mana. Karena memang secara rupa dan kinerja rantai tersebut juga demikian. Dan di antara vampire itu, ada seorang yang disebut sebagai bloodline. Penguasa dari Tome yang selama ini menjadi alkitab prosedur sirkulasi semua ciptaan dan metode menempuh di muka bumi.
Kultus membuahkan hasil yang semestinya. Jika cara damai tidak bisa tercipta sebagaimana yang Embrace perjuangkan atas seluruh itu sebelumnya, maka dia tinggal menciptakan jalan yang menyakitkan bagi mereka semua sekalian saja. Embrace tanpa berpikir panjang menyerahkan dirinya pada kultus. Membuat dirinya sebagai suatu persembahan api iblis, menghasilkan kekuatan yang membuatnya tak bisa mati meski secara kodrat, tak menghilangkan stimulus rasa sakit.
Bagaimana dunia ini tercipta, bagaimana perjalanan hidup manusia selama ini memiliki siklus yang membuat segala sesuatu terdapat awal serta akhir yang tak pernah tersambung secara semestinya. Dia yang memegangnya, penentuan adalah semua atas kehendaknya. Buku alkitab yang menjadi petunjuk itu, adalah kelahiran dari sistem mereka yang baru. Penciptaan dunia yang pada konsepnya adalah berupa pengembangan takdir oleh segenap tulisan yang menjadi bahan ganjaran. Tapi, pada akhirnya pun laki-laki itu memutuskan menghilang. Alasannya bukan soal tak mengemban lagi tanggung jawabnya.
Bukan. Bukan itu. Namun, siapa juga yang sebenarnya akan tahu mengenai— apa inti dari tujuannya?
.
.
Embrace selalu berdoa di altar, tetapi bukan sebagai seorang pendusta.
“Anda tahu bagaimana cara vampire lahir di dunia ini?”
Embrace tahu dia tidak patut untuk menyatakan apa pun yang menjadi pikiran tabunya. Sesuatu tidak akan berjalan baik dengan seluruh penjabaran rahasia gelap itu, ya; dia tahu ini adalah dosa besar dengan mengumbar aibnya sendiri atas statusnya sebagai vampire pertama, mantan manusia yang menyusun jalan berdarah itu.
“Apa?”
Yang dulu pernah diperbuat karena kebencian terhadap manusia, adalah membuat perjanjian dengan iblis sebagaimana dia kini juga mewarisi darah dan kebanggaan mereka. Dengan menukar sajak yang terdapat dalam Tome, dia menitikberatkan hidup itu dalam beberapa penggubahan dengan detail begini definisinya : kehidupan yang tercipta terus menerus, tanpa ada pertumbuhan dan perkembangan. Stagnasi yang membuat manusia kemudian menukar keselarasan esensial dan alur mereka. Dan siapa pun yang menginginkan, apa yang menjadi bayaran mungkin tak pula tampak terlalu memberatkan.
Semua manusia itu hina. Mereka membunuh hanya demi kekuasaan, merampas kemerdekaan lawan yang dianggap lebih lemah, dan tentunya perbuatan itu adalah sebagai akumulasi tindak kepuasan pribadi semata. Sebelum orang terdekatnya dibunuh, Embrace bertanya pada Viking mengenai apa bentuk kesalahan yang pernah diperbuatnya. Namun mereka menjawab tidak ada. Memang tidak pernah ada segala sesuatu semacam itu : Embrace, baik pada di mana posisinya, pada di mana seluruh umat manusia.
( Secara ringkas, Embrace dulu hanyalah seorang anak kecil yang diporak-poranda, lalu dipaksa untuk menjadi penyebar agama. Bangsa yang membuat pertukaran keyakinan itu sebagai ajangnya merelakan seorang teman yang selama ini menjadi teman sehidup sematinya— hal yang sampai detik ini; tidak dapat Embrace terima kenyataannya. )
Yang di depannya memandang dengan sebelah alis mengernyit dan melempar tatapan penuh tanya. Embrace tertawa saat menceritakan rekap kehidupan masa lalunya. Itu sudah terjadi beberapa dekade lalu. Tak terhitung apa yang pernah terjadi; dan kini dia masih hidup, tapi tidak sebagai eksistensi yang dapat mati.
Hanya dengan sekilas menyinggung kembali mengenai masa lalu menjengkelkan itu, sejujurnya Embrace tak dapat memungkiri dirinya merasa pedih. Ada sesuatu yang lebih luar biasa membuatnya mengambil dan memanfaatkan kemampuan itu. Menyebarkan apa yang dia mampu, apa yang dia pahami, sampai seluruh makhluk di muka bumi tak peduli apa status mereka, tidak lagi bersisa di sini.
“Dan ya, Anda benar. Saya menerima pertukaran itu. Saya merelakan Wick, tapi sebagai gantinya, saya mendapatkan jalan menuju Tome sebagai pondasi utama kekuatan saya. Anda penasaran bagaimana kitab ini bekerja?” Embrace memperlanjut detail apa pun yang bisa diberikan. Senyumnya menukik tajam. Lawan bicara tampak tertarik dengan apa yang dia sampaikan. Sama sekali tidak seperti Embrace pada umumnya, dia merasa dia terlalu arogan jika tuntas menceritakan apa yang menjadi persembunyiannya.
“Saya biarkan api itu membakar segala hal tentang saya. Setelah itu, saya berubah dan bertahan sebagai seseorang yang bahkan dapat hidup tanpa perlu mengonsumsi apa-apa.” Embrace menjeda— “Darah. Hanya darah yang dapat menuntaskan dahaga saya,”
“Vampire— vampire, katamu?”
Orang itu menebaknya dengan cerdik. Dan Embrace tidak berbicara omong kosong, sudah menerima apa yang akan terjadi semenjak kontrak itu dibentuk. Penciptaan Tome atas suatu dasar mukjizat yang memungkinkannya menerima kuasa dan mungkin Embrace tidak berniat lagi memedulikan dunia yang telah merenggut segala sesuatu darinya. Dia muak dan tak ingin berjuang menjadi apa-apa. Cukup mempertaruhkan segala sesuatu sampai di sini, tidak lebih; lalu semuanya menjadi abu-abu saja.
Vampire pada dasarnya cuma membutuhkan darah untuk bertahan hidup. Itulah mengapa Embrace juga merasa berdosa dengan membuat suplai utama aliran organ itu diambilnya langsung dari seseorang yang bersih lagi tak mengetahui apa-apa terhadap nasibnya. Dia memerangkap korban semudah itu— tapi inilah cara yang dia tempuh dengan membuat vampire semakin berkembang biak; sehingga tidak ada lagi manusia picis ini tersisa akibat mati kehabisan darahnya. Lantas jika manusia tidak ada lagi, bagaimana dengan nasib para vampire itu sendiri?
( Kehancuran. )
Mereka akan mati. Tanpa pasokan makanan. Seperti manusia yang tak bisa menemukan air ataupun bahan makanan apa pun yang bisa kerongkongan mereka nikmati.
“Ada batas waktu yang membuat vampire akan binasa tanpa mengonsumsi darah manusia. Tetapi, karena sebagian hati nurani dan norma ‘manusia’ yang masih melekat pada diri mereka, ada juga vampire yang memilih jalan damai untuk tidak melakukan apa-apa terhadap rasa kelaparan mereka.” Embrace tersenyum begitu manis. Suatu siratan yang begitu kontras terhadap apa yang keluar dari mulutnya. Ah, ada makna lain. Dan dia tidak menyebutkannya. “Bukankah ini genosida yang menyenangkan? Ah, eutanasia. Tentu saja itu sebutannya.”
Lawan bicara melirik penuh sanksi. Akhir-akhir ini, keberadaan vampire juga bukan merupakan rahasia umum di antara penduduk. Tapi memperlihatkan diri secara terang-terangan, adalah tindak kebodohan paling unggul. Ada batasan di mana melakukan suatu candaan itu tidak terdengar lucu. Tapi rancu itu membuat lawan bicara tidak merasa juga diyakinkan, dia bimbang dan terdiam. Satu bulir keringat muncul. Dia berada dalam bahaya, dan Embrace yang cekatan bisa dengan mudah melenyapkan.
“Jangan menyebut saya gila, Pemburu.” Suara ditekan, intimidasi yang dipancarkan; walaupun Embrace berakting seolah tenang. “Karena semua ini juga disebabkan oleh dosa manusia yang membuat saya jadi membenci dan membuat saya tersiksa.”
Embrace memberi pengakuan itu, tentang mengutuk dunia, menyalahkan apa yang pernah terjadi sebelumnya : satu-satunya keinginan terpendam Embrace adalah dia tidak ingin melihat lagi kebohongan di antara kemaksiatan dan kebajikan eksistensi manusia— dan tentu saja, Embrace kini dapat dengan mudah mengetahui mana yang merupakan kenyataan, dan omong kosong yang terlontar belaka.
Sang pemburu tidak banyak bertanya lagi, karena percakapan itu ditutup dengan keputusan bulat sang pendeta yang berkata, dia memutuskan untuk segera pergi. Pemburu juga dibuat tutup mulut, jika dia tidak ingin siapa pun atas nama keluarganya ditemukan mati dalam keadaan kehabisan darah, dia akan habis jika berani menyebar apa pun setelah upaya yang membikin Embrace menangkap ini.
Yang mereka tinggalkan kini; atas nama dunia fana yang mudah hancur, adalah panggung yang Embrace nantikan bagaimana Neraka itu bergerilya. Mereka akan kiamat. Apa yang Embrace tuju adalah, mungkin, membuat Tome itu diperkenalkan kepada umat. Bukan sebagai incaran dan pedoman yang membuat makhluk selayak mereka mampu menghadapi petunjuk kebinasaan, tetapi mungkin Embrace hanya ingin melihat mereka tertunduk tanpa tujuan dan pasrah pada kuasanya saja.
Pemburu sial yang terlambat menyadari bahwa Embrace yang mengajaknya bicara tadi adalah akar dari permasalahan yang membuat ranah sekitarnya dipenuhi dengan kemelaratan. Transaksi informasi dibatalkan, dia tidak sempat menyebar apa pun dan hanya memberikan kerugian yang dirasakannya sebagai sebelah pihak : lehernya digigit tanpa pertahanan, lalu dihisap mati pula tanpa jejak.
Embrace menyamarkan para pemuja sebagai penganut gereja yang baru, tanpa memberikan jejak apa pun mengenai Tome dan kutukan, tetapi malang dia cepat ditemukan oleh pemberontak dan diburu. Sebagian dari penganut baru, hamba biasa yang menghormati Tuhan selayak itu; tidak menyadari apa yang telah terjadi dan tetap tinggal di gereja— kedatangan dari orang-orang Nordik yang tiba-tiba entah mengapa mengincar sebagian dari mereka, dan jejak Embrace lenyap setelahnya.
Tertulis di Tome : seiring waktu, seiring dengan bertambahnya jumlah vampire memenuhi pemukiman, semua jiwa manusia dan kekuatan hidup akan diserap oleh Cthugha. Api raksasa yang menukar hitung mundur kematian dengan keabadian, apa yang Embrace sematkan pada Tome sehingga mengubahnya menjadi sedemikian sekarang. Embrace menantikan hari-hari itu : hari di mana tidak akan ada lagi bayi baru lahir, reproduksi setiap umat yang lantas gagal, namun manusia biasa akan tetap menua sekaligus berjuang di antara ancaman vampire yang siap kapan saja menerkam mereka. Kehidupan mereka yang mortal tak bisa bertahan dengan baik dan akan binasa karenanya— setelah itu, para vampire tidak akan lagi memiliki sumber pasokan makanan, mati kelaparan secara menyedihkan. Semua kelangsungan semesta tidak akan ada lagi, mengantarkan pada akhir literal yang Embrace dambakan.
Embrace menulis Tome di bawah premis seluruh pengetahuan ini. Perjanjian itu dibuat dengan konsekuensi dan arti akhir yang begitu dia pahami. Semenjak kebencian ini dimulai, dia kehilangan motivasi awalnya, senang menyaksikan runtuhnya peradaban sebagai obsesi tersiratnya. Embrace hanya peduli tentang apakah rencana ini dapat terwujud dengan benar suatu hari nanti— apakah para vampire berhasil menyebarkan dan menyalurkan kekuatan hidup manusia untuk Tome, dan menjadi pilihan menyenangkan; yang membuat mereka mengambil jalan sisa hidup sebagai vampire atau memutuskan untuk merelakan diri sebagai kurban santapan.
Kemudian, Embrace menggunakan Tome yang baru ditulis tentang para pemuja. Dia memanfaatkan kemampuan cuci otak Tome untuk mengubah beberapa kultus menjadi orang Kristen yang setia, sedangkan yang lainnya menjadi vampire secara cuma-cuma. Embrace membentuk vampire pengisap darah untuk menghentikan siklus tak menyenangkan ini, untuk merampas semua yang menjadi ketakutan dan dendamnya sahaja, membekap api mitologi Nordik hingga habis tanpa perlu merasa tercela. Konsep yang tidak mudah dijabarkan tanpa mencoba langsung bagaimana buku ini bekerja— caranya mudah, tentu saja; tinggal meninggalkan kehidupan lama dan membentuk kontrak saja.
Selama periode waktu yang lama, jumlah vampire akan meningkat seiring penghabisan api Muspelheim. Hari yang sama ketika tidak ada api yang tersedia untuk menciptakan mengulang kehidupan, adalah saat di mana Ragnarok dan kehancuran Eropa Utara telah berada di depan mata.
( Atau bisa dikatakan, bukan hanya Eropa Utara yang mengalami kiamat; tapi bisa jadi semesta— ya, tanpa terkecuali. )
Di tengah pengasingan, Embrace akan duduk dan menjadi seseorang (vampire) yang terakhir tertawa.
Bukankah menakutkan ketika sebuah ciptaan tidak hanya menyebar, tidak dapat diubah, dan juga secara langsung menyebabkan genosida? Embrace tahu dia menggunakan cara licik untuk menghancurkan apa yang menjadi mukjizat tentang merasai keberkatan bernyawa itu sendiri. Jika dari awal tidak pernah ada yang mengusiknya di masa lalu, maka dendam itu sekalian saja membuat manusia di dunia membayar dosa yang sudah terpupuk sehingga mereka tak bisa berdiri dengan tenteram lagi.
Embrace berbohong mengenai bahwasanya Tome adalah benda suci yang dapat mengubah keyakinan orang, membawa para penduduk Eropa Utara yang percaya pada Cthugha kembali ke gereja dan membiarkan mereka tetap di sana dan berperan sebagai seorang penyembah yang ditujukan cuma untuk bertobat sepanjang hayat. Walaupun hal semacam ini; pada dasarnya, adalah bukan berupa Embrace jika dia meremehkan orang-orang tidak akan menemukan apa yang menjadi perbuatan maksiatnya.
.
.
Tapi, biarlah. Embrace dengan senang hati menanti kapan kebinasaan selayak itu akan datang secara tepat hari tak hanya terhitung padanya. Ah, betapa indahnya.
Bukan misi namanya jika Embrace tidak bersembunyi dari gereja seraya terus memperluas garis keturunan vampire. Embrace berencana pula menyerahkan buku tebal itu kepada bloodline yang terpilih untuk mereka simpan, sementara dalam waktu yang lama lagi tak menentu itu dia pergi ke pengasingan entah di mana keberadaan. Akibat kesadaran diri soal kedamaian dunia yang berada pada ujung tanduk; didengarnya dari beberapa orang yang masih berkontak— gereja dan garis keturunan vampire mencapai kesepakatan gencatan senjata untuk tidak saling menyerang. Embrace tidak senang : betapa sesuatu semacam itu tidak sesuai dengan ekspektasi dan perencanaannya.
Embrace mencari cara. Di antara seluruh garis keturunan yang memegang kendali nyawa, ada jenis vampire yang bisa menjadi pilihan di mana Tome akan diserahkan. Dan adalah Count’s Banquet, seorang vampire dengan topeng menyalak yang tak memperlihatkan muka memenuhi kriteria itu sebagai seorang vampire kelas atas yang tertinggal di dalam istana. Tome memilihnya sendiri untuk dijadikan pewaris terhormatnya, Embrace menyadari sebab itu adalah apa yang tertera.
Atas segala kepercayaan yang membuat Embrace menurut akan pilihan itu, Embrace tak perlu berpikir panjang supaya cepat-cepat menitipkan amanat kitab tersebut pada satu-satunya sosok vampire yang dianggap Tome mampu.
“Kenapa harus saya?”
Itu adalah perkataan yang bisa Embrace tebak akan keluar dari bibir Count’s tepat saat mereka mengadakan janji temu. Pertemuan mereka berdua diawali dengan kunjungan Embrace pada kediaman Count’s, dia dibesarkan sebagai vampire yang mendiami istana secara istimewa. Seorang bloodline yang berhak mewarisi keseluruhan tahta dan tata cara. Mereka duduk di ruang luas utama bersama dengan pelayan yang mengantarkan masing-masing segelas minuman bergizi bagi kesehatan mereka. Dalam artian : tentu ialah darah, kendati sebuah jamuan bukanlah hal yang aneh dilakukan buat penghormatan bagi seorang vampire pencipta.
“Apakah Anda perlu mendengar alasannya?”
Count’s belum menganggukkan kepala : namun Embrace tak harus mendengar balasan apa-apa. Embrace membaca dengan pasti apa yang ada di pikiran Count’s saat itu dengan mempertanyakan soal tujuan Embrace yang entah mengapa pula menyerahkan amanat tertinggi ini padanya. Tome itu diletakkannya di atas meja. Seolah-olah bukan merupakan barang yang harus mereka jaga dan tampak tak berharga. Meski melalui topeng yang sebagian besar menutup muka kecuali bagian matanya, oleh intuisinya Embrace tahu dia tengah menatap begitu tajam ke arahnya. Bersamaan dengan satu tarikan napas, Embrace akan memulai kembali seluruh penjelasan yang tertinggal dan diharapkan Count’s dapat mengerti alasan dia melakukannya.
Namun tak mengapa, semua pada dasarnya adalah ketidakseimbangan lagi ketimpangan. Segala sesuatu yang tidak diketahui yaitu merupakan pemakluman. Embrace menjabarkan apa yang dipahaminya, selagi waktu kepergian itu belum memisahkan komunikasi di antara mereka.
“Tome memilih Anda.” Singkatnya di akhir.
Tome tak akan pernah merasa bersalah terhadap seseorang yang ditakdirkan sebagai pemegang kuasa terhadap isi dan kekuatan di dalamnya. Laki-laki itu seharusnya bersyukur. Barang keramat yang mustahil didapatkan siapa pun; serta banyak vampire yang tak bisa dipungkiri menginginkan kepemilikan. Embrace telah melakukan pekerjaannya dengan baik selama menjaga buku itu sampai pada batas yang membawanya menginginkan pengganti. Count’s yang bersikap ragu sejujurnya tak masuk pada perhitungan kemungkinan itu sama sekali.
“Tapi—”
Embrace tak berminat menambahkan penjelasan apa pun. Dia menghilang : semudah itu lenyap tertelan gulitanya malam. Rembulan di sana itu, memancarkan sinar yang begitu menyilaukan— titik tertinggi di mana segala vampire yang berada ini akan mengaliri kekuatan maksimal demi memerangkap mangsa masing-masing ke tangan. Dan Embrace, meninggalkan nama, semua tentangnya; menghilang, tanpa sisa di kemudian harinya. Jejak apa pun yang tak dapat pula diikuti oleh siapa-siapa.
Pemilik Tome selama berabad-abad dirahasiakan. Namun ada saja desas-desus yang menyertai petunjuk mengenai di mana sebenarnya buku itu disembunyikan.
Di antara orang-orang yang pernah bertanya mengenai kinerja penciptaan Tome melahirkan vampire itu; maka adalah Bloody Swords yang paling ingin tahu. Dia penasaran bagaimana mendapatkan kekuatan Tome sekaligus mencari sampai teliti tanpa pamrih, setidaknya ada informasi yang ingin didengarnya tentang siapa vampire beruntung yang kini bertanggung jawab atas penyimpanan.
Bloody Swords mengobsesikan konsep bagaimana keseimbangan immortal terus menghirup udara tanpa perlu bersusah payah mengonsumsi itu. Meskipun dikatakan dia juga salah satu bagian dari mereka— untuk beberapa alasan, Bloody Swords menyimpan ketertarikan tersendiri pada fungsi dan isi dari Tome, sehingga kesempatan yang diperdendangkan oleh Lady in the Mirror suatu hari membukakannya pada arah ke mana sebenarnya apa yang dia ingini. Pemberitaan itu disampaikannya dari suara dalam cermin yang biasa bertengger di kediaman, sebab serpihan Lady in the Mirror juga tertinggal bersamanya. Dia bersepakat untuk menginformasikan tragedi dunia luar sesuai apa yang bisa dikumpulkannya.
“Kau bilang, perayaan perjamuan akan diadakan di kediaman Count’s!?”
“Benar. Dia mengundang manusia dan ingin mengangkat pembicaraan tentang buku itu,”
Bloody Swords mengernyitkan dahi. Tak menyangka hal tabu semacam itu bisa terjadi, dan yang paling membuatnya tak habis pikir adalah tentang bagaimana jika pengadaan jamuan makan malam itu malah memicu para keturunan pemburu datang untuk mengacaukan suasana. Dari dulu, hubungan vampire dan pemburu memang tidak pernah baik : jelas saja alasannya mengapa, dikarenakan pemburu datang untuk membunuh inkarnasi iblis yang jahat selaik mereka. Tapi mengapa si idiot itu mau mengadakan sebuah jamuan yang serta merta mengumpulkan semua orang dari berbagai kalangan yang terang-terangan mengincar untuk menghadirinya secara merata? Apa dia sudah gila?
Inilah mengapa Bloody Swords sedari awal tidak menginginkan penjatuhan hak Tome pada vampire tak berkompeten seperti dirinya. Count’s adalah vampire malas yang bahkan tak tertarik untuk berinteraksi banyak dengan makhluk-makhluk sebangsanya sendiri. Tetapi dengan pernyataan bahwa Tome yang justru memilih Count’s untuk menjadi pemegang kuasanya, adalah kenyataan yang membuat Bloody Swords tak memiliki kemampuan untuk mengelak realita tersebut sama sekali. Embrace kini dikabarkan melakukan pengasingan yang lebih ekstrem di antah berantah sana. Benar-benar lenyap dalam beberapa ratus tahun terakhir.
Sementara itu, sebenarnya secara tak tertulis akan lebih masuk akal jika dari awal Embrace lebih mengutamakan pemberian Tome kepada Lady in the Mirror. Namun dikarenakan Lady in the Mirror melakukan terlalu banyak kekejaman selama dia dibebaskan berjalan dengan dua kakinya, dia dibunuh dan dicabut tubuh fisiknya untuk mencegah pelanggar di masa depan. Jiwa perempuan itu tetap terperangkap di cermin, menjadi roh iblis di dalamnya— seandainya dia mempertahankan perbuatan kebajikan hingga sekarang, maka bagi Bloody Swords; semua ini akan jauh lebih mudah.
Bloody Swords tidak percaya ini. Dan yang terburuk, adalah karena perjamuan itu mengundang seluruh khalayak yang tak perlu. Apa yang akan manusia lakukan jika mereka menyadari kekuatan magis dari Tome? Bagaimana jika mereka juga mengincar buku itu?
( Seperti dirinya? )
“Aku tidak bisa membiarkan ini. Tetapi …”
Bloody Swords serta merta mengiyakan saja kedatangannya pada perjamuan. Secara khusus, untungnya dia juga diundang sebagai seorang vampire terhormat ke istana. Walaupun atas segala hal yang menghancurkan rencana awalnya yang telah susah payah dibangunkan : Bloody Swords mawas diri bahwa dia harus mencari cara yang lebih efektif lainnya. Dia akan merebut eksistensi Tome itu; menjadikan kitab tersebut sebagai miliknya, sehingga tidak akan ada lagi vampire payah yang nekat menempuh jalan berliku terjal kecuali dirinya. []
