Actions

Work Header

Halloween Waltz : Duende

Summary:

Pada akhirnya, yang bisa mengerti jiwa seorang soliter, hanyalah mereka yang terkungkung dalam bahtera yang sama.

Notes:

Identity V © NetEase

Halloween Waltz : Duende
by dnw11, SeiYoshi

.

You can listen to
Duende © Composed and Produced by Savvy Sounds
while reading this fanfiction.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Pada akhirnya, yang bisa mengerti jiwa seorang soliter, hanyalah mereka yang terkungkung dalam bahtera yang sama."

 


 

Ia melihat, Huntsman itu; dengan mata dan jiwanya.

Bahwa desa yang dulu ia cintai kini sama saja dengan hilang ditelan bumi, meninggalkan ampas; sisa-sisa tulang kerangka milik bangkai bangau yang dilahap gerombolan gagak. Kepergian sang makhluk sesungguhnya diiringi dengan niat dan tujuan untuk kembali; hangat di hati kalau di sanalah tempatnya bersemayam; menikmati bulan purnama di malam hari, dengan kukukan burung hantu dan tangisan sunyi. Sejak awal, Huntsman memang tak pernah mencoba—maupun diajak—untuk menjalin hubungan akrab layaknya sesama penghuni desa dengan orang-orang yang bermukim, namun bahkan keadaan stagnan tersebut adalah hasil dari apa yang ia jaga dengan batinnya.

Huntsman, mengaku atau tidak, diakui atau tidak; adalah seorang pelindung yang memutuskan sendiri tempat ia mengabdi. Ia merasa tak butuh penghargaan, apalagi kasih sayang—sama saja dengan penduduk desa yang menatapnya kosong, seolah ada dan tiadanya ia, mereka tak akan pernah kesulitan. Mungkin memang benar; atau mungkin karena Huntsman meragu pada dirinya sendiri dan terlalu percaya kepada desa itulah; tatapan mereka kini beralih menjadi perpaduan antara takut dan jijik.

Seolah menunjuk, dengan picingan mata mereka, kalau “gara-gara kamu meninggalkan desa ini, kami harus menanggung semuanya.”

 

“Itu cuma ada di pikiranmu, Huntsman.”

 

Mungkin ia seperti orang asing, dengan baju compang-camping dan dada terbuka—berbicara dengan bahasa yang dapat dimengerti namun isi yang tak bisa masuk ke dalam kepala. Mungkin juga karena tato yang ada di sekujur tubuhnya, atau mereka berpikir hanya orang gila yang berkelana tanpa mengenakan alas kaki, tapi Huntsman masih teguh bahwa yang ia inginkan hanyalah kesejahteraan dari hunian lamanya. Ia pulang. Ia sudah pulang. Dengan mencium bau darah dan bisikan elang kalau desa itu sudah menjadi peternakan untuk bangsa lain. Yang penting ia sampai, percaya kalau tidak ada kata terlambat; dan mencoba membujuk mereka untuk berhenti.

Berhentilah menjadi sapi perah, wahai manusia-manusia nan agung!

Bahkan sebanyak mungkin darah dipasok dan tubuh bergelonggong—entah karena aspal yang kasar, atau memang mayat kering akan terlihat seperti itu—seharusnya bisa membangunkan mereka dari mimpi di siang bolong kalau mereka sudah tidak baik-baik saja.

“Jaga bicara Anda; hanya akan membawa petaka bagi kami.”

Huntsman menelan ludah ketika mendengar suara yang bergetar keluar dari bibir kepala desa. Rambut putihnya kini hilang sempurna, sama dengan kasihnya yang terasa bagaikan doa kepada Huntsman untuk hati-hati dalam petualangannya. Ia berubah menjadi pria tua bangka yang hanya berharap kepada ketiadaan dan takdir ... atau dewi penyelamat yang kali saja merasa bosan lalu turun ke bumi dan mengangkat mereka semua pergi menuju kahyangan. Sejak awal mereka memang tak mengharapkan perlindungan maupun mempercayai kekuatan yang dimiliki Huntsman.

Mungkin bagi mereka, Huntsman memang hanyalah orang yang hilang akalnya, berpura-pura menjadi salah satu di antara (tidak ada) yang terpilih, berlagak cakap-cakap dengan elang kurusnya, dan menjadi pengelana, ke tujuan yang aslinya tak ada di mana-mana. Padahal kali ini ia berbicara bukan atas dasar asas pandangan masa depan atau hal-hal klenik lain, ia bertemu dengan Reservist, yang mungkin sedang memanen jus segar untuk makanan sang Tuan.

Perempuan itu, yang berpakaian gelap-gelap seperti seorang suster, namun bertangan merah darah bagai seorang Bloodline biadab. Mengaku— dan Huntsman sekali lihat saja sudah tahu—  jika ia datang dari gereja. Ia menyapa seolah Huntsman adalah seorang pengembara dan menceritakan hal-hal penting semacam bagaimana gereja menjaga (baca: mengontrol) desa tersebut dengan cinta dan kasih sayang. Jadi, sudah seharusnya mereka menerima upeti. Tak perlu banyak. Cuma satu per bulan. Tidak pilih-pilih juga, dewasa, muda, wanita, pria, miskin, kaya, setelah dipenggal (Reservist bilang, dituntun menuju kekudusan yang abadi) maka semua akan sama di hadapan Tuhann...................................................................

 

“Huntsman, mereka memanggilmu.”

 

Yang disapa bangkit dari lamunannya. Mata itu menakutkan. Seandainya bukan karena para penjelajah yang merumorkan desa menjadi sumber infeksi Bloodline, ia tak akan percaya dan tak akan berniat kembali secepat ini. Setelah berdoa— bertapa di bawah lindungan pohon Yggdrasil, ia, yang merupakan Kesatria para Viking, memutuskan untuk kembali.

“Ada banyak hal yang bisa saya ubah.”

 

“Tapi salah satunya mungkin bukan hal ini.”

 


 

Huntsman selalu merasa jijik ketika ia bahkan hanya memikirkan namanya. Kaget karena gereja adalah pembantu— atau malah satu dengan vampir bengis berdarah murni seperti mereka.  

Ia pernah dengar tentang Bloodline, tentu saja; tapi yang tak pernah diduga adalah bagaimana mereka sudah tidak bergerilya, terang-terangan memasang poster di depan umum kalau “gereja adalah kami dan kami adalah gereja”; lalu menipu orang-orang lugu di desanya untuk dijadikan layaknya hewan ternak.

Yang ia lihat dalam pandangannya, seorang pengembara berlari, dua pelancong berkisah rumor misteri, seorang suster mendongeng ngeri; dan intinya, selain dua hal di depan; tak ada lagi yang berubah meski ia sudah pulang 9 hari lebih cepat daripada yang seharusnya.

Elang saktinya itu, memekik, mengabarkan kondisi dengan matanya yang jauh lebih tajam dan akurat. Sembari waswas, sang Huntsman memacu kakinya— andai saja ia bisa terbang seperti manusia burung, julukan yang bocah-bocah kurang ajar berikan padanya— dan mempercayai keajaiban yang sudah ia sedot dari sari akar Yggdrasil. Untuk apa pula dirinya berkelana, tapaannya hanyalah untuk meminta; hingga mata yang dikatakan tak berguna ini, bisa menjadi bantuan meski hanya sedikit. Dan mungkin ini saatnya.

Ini saat Huntsman, pria terkucil dengan topeng rusak itu; membuktikan kepada ratusan orang tuanya kalau ia bukan anak produk gagal.

 

“Kau memang bukan.”

 

Sang Reservist seolah menjadi pembawa bala, yang tak pernah hengkang dari dalam desa. Yang kini terasa semakin sepi. Yang tak lagi ada anak-anak menangis berebutan bola.

Sumur-sumurnya ditutup, gundukan yang berada di sawah bukanlah padi maupun gandum. Bar yang dulu lumayan ramai sudah dipaku dengan tanda “bangkrut” besar-besar. Restoran yang kadang Huntsman kunjungi? Cat oranye-nya tak lagi berseri. Bahkan gadis-gadis berminyak wangi itu kini malah berbau tanah, anyir, dan air mata. Semua berubah. Bukan lagi yang Huntsman ingat. Bukan lagi desa yang ia cinta(lindung)i.

“Wahai murid Yggdrasil yang mulia, ada apakah gerangan, mengunjungi tempat nan hina ini?”

Reservist berucap seolah-olah ia adalah kepala desa, atau suster pemimpin gereja khayalan di sana. Bahkan wanita dengan kulit gelap tersebut tak tahu—

 

“Kau salah, Huntsman.”

 

Berisik. Huntsman pun mengakui kalau ia memang tahu, hanya dari bagaimana pembantu agama itu memanggilnya dengan embel-embel Yggdrasil, maka seharusnya ia awas mengenai Huntsman dan berkah Tuhan miliknya. “Agama kita berbeda, jadi aku tak peduli,” adalah kalimat yang disiratkan Reservist ketika dengan senyum lembut penuh pengampunannya itu, fakta kalau darah yang mengeras di sela-sela kuku jarinya, adalah bukti kekerasan dan pemanenan.

“Desa ini senang, Tuan, karena gereja telah memilih mereka. Saya hanyalah pembawa berkat. Tuhan yang tahu apa-apa yang pantas untuk semua yang telah ia berikan.”

 

“Huntsman, kita sudah terlambat.”

 

Meski begitu, Reservist dan ujaran omong kosongnya tak juga menghentikan langkah Huntsman, kerikil-kerikil mulai tertanam di telapak kakinya seolah mereka membentuk sebuah sol sepatu. Sungguh miris, Yggdrasil yang memberikan mata itu, dan Huntsman juga yang tak mempercayainya—mencoba mengubah apa yang sudah ditetapkan oleh takdir.

Buku-buku jemari mengetuk pintu dengan deras. Malam hari yang dingin, dengan kabut menyebar di udara; sedikit cahaya bulan yang terpantul dari atas danau, lalu menghilang sejenak ditelan awan. Huntsman sedikit, bukan, SANGAT frustasi. Apakah tak ada seorang saja yang bisa ia ajak berdiskusi?

“... Anda,” di sela pintu yang berderit nyaring, ada seorang pria tua yang mengintip. Wajahnya terlihat tak senang (tentu saja, Huntsman sudah menduganya). Seolah enggan mempersilahkan masuk, hanya sebegitu saja spasi yang ia suguhkan; lalu muncullah setitik harapan, jika yang terjadi sekarang ini sedikit berbeda dengan yang disuguhkan Yggdrasil pada saya, maka saya masih punya kesempatan.

“Kepala desa ...” Huntsman mendekatkan tangan kanannya ke depan pintu, dan elang pandai yang sejak tadi berkeliling itu datang; mengerjapkan mata keemasannya berkali-kali, lalu menundukkan kepala, seolah ikut memberi salam bersama pemiliknya. “Saya sudah kembali dari menjadi seorang musafir.

Mohon maaf atas kelancangan saya, tapi buru—pelancong berbisik ke telinga saya yang hina ini jika desa yang sungguh saya cintai ada dalam mara bahaya. Mereka mencium bau amis dan, saya tak punya waktu banyak, tapi jika boleh, wahai Kepala Desa, dengarkan saya dan mungkin saya bisa menghentikan kebengisan Bloodline dalam menginjak-injak harta kita.

“Jaga bicara Anda; hanya akan membawa petaka bagi kami.”

Huntsman menelan ludah ketika mendengar suara yang bergetar keluar dari bibir kepala desa. Rambut putihnya kini hilang sempurna, sama dengan kasihnya yang terasa bagaikan doa kepada Huntsman untuk hati-hati dalam petualangannya. Ia berubah menjadi pria tua bangka yang hanya berharap kepada ketiadaan dan takdir ... atau dewi penyelamat yang kali saja merasa bosan lalu turun ke bumi dan mengangkat mereka semua pergi menuju kahyangan. Sejak awal mereka memang tak mengharapkan perlindungan maupun mempercayai kekuatan yang dimiliki Huntsman.

Mungkin bagi mereka, Huntsman memang hanyalah orang yang hilang akalnya, berpura-pura menjadi salah satu di antara (tidak ada) yang terpilih, berlagak cakap-cakap dengan elang kurusnya, dan menjadi pengelana, ke tujuan yang aslinya tak ada di mana-mana. Padahal kali ini ia ingin membuktikan keajaiban pohon Yggdrasil tersebut, namun apalah dirinya yang meleleh menjadi abu, kehilangan harapan; ketika kepala desa membuka pintu rumahnya lebar-lebar, dan nun jauh di dalam sana, Huntsman bisa melihat; dua tengkorak berbaju wanita tengah duduk seolah minum teh bersama.

“Kepala Desa ...”

Taklah ada yang lebih mencengangkan daripada aura kebencian yang terasa dari depannya, lalu aura tinggi, pemenang, berdiri di belakangnya. Jemari lentik berkuteks hitam perlahan merambat ke bahunya, lalu sang tua menunjuk hidung Huntsman seolah ia memiliki dua kepala.

“Ia yang sudah hilang akal ini, harus disimpan di dalam kotak kayu dan dibuang ke dalam hutan.”

Reservist mengangguk, dan menarik tudung Huntsman dengan begitu tidak sopannya.

 


 

Sejak awal, Huntsman sudah terbiasa dengan kesendirian, toh seorang pelindung tak boleh terlalu dekat dengan manusia. Sudah jadi takdirnya, dan burung elangnya, untuk menjadi seorang peninjau masa sekarang dan masa depan. Orang-orang dewasa menertawakannya, Huntsman kira karena ia tak pandai memerhati dan malah memberikan alasan kepada dirinya sendiri kalau kemampuannya belum sekuat itu.

Lalu untuk apalah dirinya, mau mengaku ataupun tidak, pergi menimba ke nun jauh di sana, hanya untuk dikurung dalam pondok yang jaraknya jauh kali lebih menyedihkan daripada pengasingannya yang lalu?

 

Reservist sedang duduk di kursi kayu..........................................

 

Huntsman memukul kepalanya berkali-kali.

 

Reservist sedang duduk di kursi kayu..........................................

 

Huntsman menggigit bibir, ia sedang tak mau meramal.

 

Reservist sedang duduk di kursi kayuuuuuuuuuuuu...................

 

“Huntsman, semakin kau menolaknya hanya akan menyakiti dirimu dan aku.”

 

Reservist sedang duduk di kursi kayu, tak menyentuh sama sekali air putih yang dituangkan dalam gelas kaca. Mau bagaimana lagi, Huntsman tak pandai dalam menyambut tamu—hei, ini adalah kali pertamanya! Tak pernah ada yang datang mengunjungi apalagi sampai duduk dan menatapnya tajam-tajam seperti ini. Kalaupun ada ketukan, palinglah hanya batu yang dilemparkan anak-anak atau paruh burung elang cokelat miliknya yang gatal hendak menggerus kayu. Meski Huntsman mengakui ini bukanlah jenis tamu yang ia inginkan. Kalau bisa, sih, ia sudah berdiri, menunjuk pintu keluar, lalu meminta Brooke— nama elangnya— untuk mengantar sang wanita suci pulang ke habitat sucinya pula. Ini bukan tempat yang pantas untuk suster tersebut. Huntsman bukan orang yang pantas untuk berbincang dengan mereka yang membantu para darah murni.

“Bagaimana jika Anda datang dan mengacau—bersama saya—ke perjamuan agung iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii..............................”

 

“Huntsman, fokuslah.”

 

“Bagaimana jika Anda datang dan mengacau—bersama saya—ke perjamuan agung itu?”

“Mengapa saya?”

“Karena bukankah Anda ingin melihatnya, Count’s Banquet,” diberi nada tekanan pada nama yang terdengar asing, “atau mungkin berbincang, meski cuma sepatah dua patah kata?”

Yang setelahnya dikisahkan Reservist adalah, mengenai seorang bangsawan, Count’s, yang menyendiri dalam sebuah istana, dan menikmati hari-harinya sebagai seorang penyendiri. Ia adalah pria yang tampan meski wajah dan bulatan yang tampak dari celah topeng tak mengesankan itu sama sekali. Postur tegap yang tinggi, sangat tinggi; mungkin Huntsman harus mendongakkan kepala demi melihat utuh wujudnya. Tak semua Bloodline seperti itu, jadi sebenarnya Huntsman penasaran mengapa Count’s memiliki penampilan dan sikap yang sangat berbeda.

Huntsman, menyendiri, kesepian, dikelilingi malam dan burung elang kesayangan. Lalu apakah yang mengelilingi Count’s? Lukisan tak bergerak, tak bicara, lorong sepi bergema meski hanya karena suara tari solo. Menyedihkan. Mungkin. Huntsman sendiri merasa dirinya tidak juga menyedihkan, jadi jika merekaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa............................

 

“Ugh ....”

 

... Dalam bahtera yang samaaaaaaaaaaaaaaaaaaa .................

 

“Kh- Aakh—“

 

Se .... nnyaaaa ..... Huntsm ....

 

“Huntsman, pintumu ...”

 

Satu tarik napas yang menggebu-gebu seolah masuk ke tenggorokan; Huntsman mencoba mencari sumber udara. Sungguh ia belum sebegitunya terbiasa dengan berkah Yggdrasil. Ada banyak hal yang menyakiti dirinya—terutama isi kepala dan matanya, namun bagian yang tadi hendak membunuhnya itu sepertinya bukan; belum sesuatu yang boleh ia lihat.

Count’s. Count’s Banquet. Seorang Bloodline. Vampir berdarah murni.

Langkahnya berat menyusur dinding tripleks. Sarang sederhananya ini tak cukup luas namun ia tadi bersemadi di ujung kamarnya, dengan tertatih seperti itu, Huntsman cuma bisa menyeret kakinya yang berat. Entah kenapa Brooke memintanya membukakan pintu. Yang datang pastilah Reservist, seperti di dalam pandangannya tadi ...

 

Seharusnya Huntsman tahu dari cara mengetuk yang agak brutal terdengar begitu berbeda dengan apa yang ada di dalam ramalan. Kepala desa, yang kini pandang jijik itu berganti menjadi rasa takut meski bibirnya dipaksa tersenyum lebar. Bahu itu menggigil, atau mungkin hanya karena rasa ngeri saja; entah pada siapa. Huntsman mempersilahkannya masuk. Ia menolaknya. Meski maksud kedatangannya adalah untuk memohon, kepala desa masih punya rasa sombong untuk tak memijakkan diri ke dalam kandang hewan.

“Ini ...”

Lalu Huntsman menangkap, ternyata asal getaran tersebut adalah dari surat yang dibawa sang kepala desa. Dengan bau rum dicampur rosemary, musk, dan sedikit vanila; ketika membuka surat dan mengambil kertasnya, Huntsman mencium bau mawar yang begitu mendominasi dari dalam sana.

Sebuah undangan perjamuan, untuk desa pujaan hatinya.

“Huntsman ... Anda sudah tahu ... saya tua dan punggung saya tak lagi baik ... wakil saya punya penyakit maag kronis ... sekretaris adalah seorang pemabuk ... dan bendahara hanyalah wanita tua bangka dengan dada turun yang sudah lupa cara menggunakan pensil alisnya.

Kami tak cukup indah untuk ikut perjamuan agung ... jadi saya kira, anak muda yang berbakat seperti Anda ...”

Tak dilanjutkan olehnya, kalimat memuji itu.

Mungkin karena merasa bersalah atau bibirnya tak lagi kuat mengatakan hal-hal yang sebenarnya adalah sebuah kebohongan. Dan Huntsman, yang selama ini mencari celah untuk dapat berguna (sebagai ganti kasih) kepada desa tersebut, di balik sakit kepalanya, sesungguhnya paham begitu rupa.

Yang dibutuhkan darinya, bukanlah kekuatannya, namun kesendiriannya. Huntsman adalah seorang paria. Ia dianggap tak punya kekuatan ataupun kehendak untuk membangkang. Huntsman sadar, penduduk desa tersebut seolah membuangnya ke dalam kandang singa yang selalu memetik satu demi satu anggur yang ada di tangkai desa mereka. Tak akan ada yang mau bertemu Count’s, ditelanjangi tubuhnya, dinikmati sebagai jamuan lalu dihisap sampai tak bersisa.

Huntsman tersenyum. Ia tak menjawab selain mengambil surat yang disodorkan padanya. Kepala desa berkata untuknya pergi secepat mungkin karena tak akan ada kereta kuda ataupun pengawal yang akan menjemput dirinya. Mungkin hanya karena mereka tak mau ada cacat sedikitpun, atau Huntsman untuk kabur, tapi dengan sedikit berpura-pura, kepala desa menawarkan Huntsman untuk mampir ke rumahnya sebelum pergi mengembara untuk yang terakhir kali. Ia akan menyiapkan perbekalan sekadarnya. Sebagai bentuk terima kasih.

Lalu pak tua itu sendiri juga yang menutup pintu gubuk Huntsman.

Wanginya menggugah. Selera makan Huntsman lumayan naik karena ia tak banyak mengunyah apa-apa; namun Huntsman tak pernah memakan mawar sebelumnya.

 

“Enak-enak saja. Ada yang membuatnya menjadi selai.”

 

Haruskah ia percaya pada Brooke? Sembari merobek kertas itu, kecil-kecil, lalu mencicip satu robekan yang paling wangi.

“Aku tak pernah mencium sesuatu semewah ini.”

Menyedihkan.

“Hidup dalam kesederhanaan sama sekali tidak menyedihkan.”

Bahkan isi surat tersebut tak menjabarkan untuk apa ia datang ke perjamuan, untuk apa perjamuan tersebut dibuat, dan apakah yang akan mereka lakukan ketika tiba di sana.

Mungkin bagi kepala desa ... yang seperti itu sama saja seperti surat hukuman mati.

Kini Brooke tak perlu lagi mengingatkan Huntsman soal bunyi ketukan pintu. Maulah ia beranjak dari kursinya, namun wanita tersebut lebih dahulu membuka pintu, sangat tidak sopan, tapi apalah dia yang hanya sebatas, yang jelas, tak lebih mulia daripada seorang biarawati gereja.

“Tuan Huntsman, izinkan saya.”

Sedikit terburu-buru menyembunyikan kertas—makanan malamnya—ke dalam amplop.

“Ini adalah kali kedua kita bertemu, bukan begitu?”

Jika secara nyata, ya. Secara spiritual? Selama Huntsman menetap sekitar dua bulan di dalam pondok tengah hutan tersebut, mungkin ia sudah beberapa kali melihat Reservist dalam kepalanya. Langsung lah muncul sosok seorang wanita anggun yang begitu kuat dan hebatnya. Mampu mengendalikan iblis (atau malaikat, tapi mana ada malaikat semengerikan itu?), mengoleksi tengkorak yang menjadi medianya, berbibir hitam dan stocking jaring yang lumayan. Huntsman sedikit terdistraksi. Tapi dari itu saja ia sudah bisa menebak sedikit bagaimanakah Reservist itu.

Yang paling mendominasi, adalah ketakwaannya kepada Count’s. Yang paling buram, adalah ALASAN, mengapa ia begitu tunduk pada sang Bloodline. Apakah itu urusan Huntsman? Tentu tidak, namun pria itu, yang sepi dan sendiri, ingin punya teman mengobrol. Bukannya terus-terusan seperti orang gila dan menganggap suara yang ada di kepalanya adalah cicitan burung elang miliknya.

 

“Hei, aku ini sungguhan!”

 

“Saya akan langsung saja,” kedua tangan biarawati dilipat di bawah dadanya, punggung itu bersender kepada kursi yang berderik. Mungkin saja bagian kaki tersebut sudah dimakan rayap; bau kayu lapuk yang sejak lama Huntsman biarkan begitu saja. Hunian yang sempit bagaikan sebuah kurungan. Balik lagi pikirannya soal Reservist yang taklah cocok masuk ke peti mati seperti ini.

“Bagaimana kalau Anda bersama saya, pergi ke jamuan tersebut? Kita ... tidak ... Anda ... punya kekuatan untuk mengacaukannya.”

Padahal baru saja beberapa puluh menit yang lalu, namun Eli sudah lupa (atau memang sakit kepala membuatnya susah mengingat?).

“Mengapa saya?”

“Karena bukankah Anda ingin melihatnya, Count’s Banquet,” diberi nada tekanan pada nama yang terdengar asing, “atau mungkin berbincang, meski cuma sepatah dua patah kata?”

Reservist hampir meneruskan ucapannya, hendak mengenalkan sedikit bagaimana wujud Count’s yang seharusnya awam di telinga Huntsman, atau bahkan siapa pun kecuali orang gereja; karena ia adalah seorang terasing. Huntsman tak mau dengar. Ia menjadi sedikit agak agresif. Sakit kepalanya memaksa, untuk meminta Reservist datang di lain hari—atau ia saja yang besok akan mendatangi wanita tersebut ketika tengah bekerja memanen hasil. Raut wajah sang biarawati terlihat sedikit emosi. Tak mungkin ada seorang pun yang suka jika diusir dari kunjungannya— hei, tapi Reservist sendiri masuk tanpa ijin jadi mereka memiliki skor sama.

“Satu hal lagi, Huntsman,” kali ini sebagai pelampiasan, meski Reservist sudah berdiri di ujung pintu. “Tinggal di dalam kandang burung seperti ini sama saja dengan tengah dipasung.”

Lalu dibantingnya daun pintu peyot itu.

 

“Huntsman ...”

 

“ ... Jaga pintunya, biarkan aku beristirahat ...”

 

“Semoga tidak bermimpi buruk.”

 

Brooke terbang, menggulung diri di samping pintu dan memejamkan matanya. Huntsman sendiri kini sudah merebah di atas jerami. Kain tipis yang awalnya menjadi seprai, kini ia tarik dan lipat sebagai pengganjal leher. Dipejamkan matanya. Lupa berdoa kepada Dewa dan Pohon Yggdrasil. Atau mungkin memang sengaja.

Ia tak goyah, namun penasaran, pada Bloodline tersebut.

Count’s Banquet.

Nama yang aneh.

Tapi bisa komentar apa, si Experienced Huntsman itu?

 


 

“***, kalau tidak berdoa, kau akan dapat mimpi buruk, lho.”

 


 

Saat itu, Count’s sedang bersenandung syahdu. Suara yang menggema di ruang dansa kosong, postur tegap dengan gestur tangan seolah sedang memeluk—menuntun wanita cantik mengikuti irama lagunya. Satu dua tiga. Satu dua tiga. Memutar. Sekali lagi, tiga dua satu, tiga dua satu. Sempurna. Bahkan baju kebangsawanannya yang berwarna merah keemasan terlihat begitu mengilau.

“Tuan Huntsman, Anda baik-baik saja?”

“Ah—“

Entah sejak kapan, gadis itu berganti menjadi Huntsman itu sendiri. ia ragu, apakah pandangannya tadi hanyalah sedikit distorsi dari penglihatan yang ia punyai, atau mungkin Huntsman cuma sedang bengong di siang bolong. Ia mendehem. Hei sungguh Huntsman mana pernah berdansa! Kakinya seolah bergerak sendiri dan sebenarnya Count’s lah yang memperlakukannya sebagai boneka marionette. Namun pengalaman baru itu adalah hal yang tak mungkin bisa Huntsman lupakan. Terutama soal dua lubang merah yang menatapnya dalam dari balik rambut peraknya. Seandainya diatur lebih sedikit rapi, ia pasti tampan, tapi begini saja sudah tampan, tapi Huntsman sendiri berpakaian miskin tanpa rasa fesyen. Kenapa bisa Count’s mau berdansa dengannya. Aneh juga.

(Kenapa bisa, Huntsman yang begitu tak suka kepada Bloodline, kini mau bergandeng tangan dan bergerak seirama?)

Mereka beralih menuju kamar Count’s, di mana pria tersebut menurunkan topi panjangnya, meletakkan jas merah-hitam itu di atas kursi. Ia duduk di depan perapian, kursi paling besar yang ada di ruangan itu; sambil meminum anggurnya.

Huntsman tak pernah belajar banyak bahasa dan kosakata, namun leher Count’s yang ringkih dan pucat itu, jika digores sedikit saja maka warna merahnya tak akan langsung hilang sempurna. Tapi siapa juga yang mau menggores di situ. Mungkin dirinya. Huntsman tak tahu, sekarang, sebenarnya ada di mana ia berada?

Menatapi Count’s dalam kesendirian, bibirnya tak lagi bersenandung. Perapian telah mati. Burung hantu tak bernyanyi sama sekali.

Suara tegukan. Air yang dituang ke dalam gelas. Dentingannya yang menabrak meja.

Gelap. Sepi. Sunyi.

Count’s menangis.

Huntsman tak bisa melihat air matanya, namun ia yakin, Count’s sedang menangis. Sama seperti dirinya, di dalam gubuk itu, dalam kesendirian yang abadi.

 


 

“Anda suka dengan makanannya?”

Yang disajikan adalah sebuah kalkun besar, yang SANGAT BESAR, Huntsman sering berburu tapi ia baru pernah lihat yang sebesar itu. Memanglah para Bloodline pasti punya— dan makan— semua kualitas terbaik. Count’s di depannya masih menatap karena Huntsman tak juga memakan makanan yang sudah disajikan. Aslinya ia sudah berair liur, namun penampilan busuknya ini, Count’s saja mungkin yang tidak peka, kalau daripada makanan, seharusnya ia terlebih dahulu memberikan Huntsman baju yang layak.

Winenya juga. Ayo.”

Makanan yang dibumbu dan dimasak secara profesional ternyata memang lebih enak daripada buatan sendiri, meski jika Huntsman yang memasak ia bisa menyesuaikan kematangan daging ataupun rasa sesuka-suka dia. Ini dikatakan sebagai sebuah jamuan namun mereka hanya duduk berduaan saja, seperti insan yang sedang dalam masa kencan buta. Kali ini Count’s mengenakan seluruh bajunya yang lengkap. Ia mengusap pipi dan bibir Huntsman dengan sapu tangan putihnya, pelan-pelan, lalu meletakkan sapu tangan tersebut di atas tangan pelayan. Huntsman sedikit peduli. Kapan Count’s berpindah tempat? Namun lagi-lagi suara nyanyian selalu menghipnotisnya.

Kali ini ia (sejujurnya, ia tak pernah)  tak tahu melodi apa yang disenandungkan—ke mana tata krama bangsawan ketika sedang makan!—namun rasanya cocok saja mengiringi tiap suapan yang ia telan. Manis. Asin. Asam. Pahit. Entahlah yang penting enak. Namun Count’s di sebelahnya tersenyum tipis.

“Terakhir kali saya makan seperti ini adalah ketika bersama dengan sau(......) dan (......)man saya.”

Huntsman tak dapat menangkap kalimatnya, tapi ia diam saja.

“Saya akan senang jika Anda banyak makan. Sudah lama saya tidak ditemani.”

Mereka ada dalam kesendirian yang sama; entah sudah yang ke berapa kali Huntsman menyimpulkan hal tersebut. Sembari mengingat-ingat apakah ia pernah mengajak cakap vampir tersebut. Mungkin belum. Tapi bibir Huntsman tak mau terbuka apalagi bersuara. Ia hanya asyik mengunyah, lalu menyuap lagi, mengunyah lagi, menyuap lagi ...

Sesuatu tiba-tiba datang dan berbisik di telinganya, seorang vampir itu, diumpamakan kasta, adalah berada di ujung puncak segitiga. Bloodline yang termasyhur, purnama raya, apalagi Count’s, yang ada di depannya ini, adalah seorang bangsawan yang dipilih tome sebagai penjaganya.

Tunggu sebentar, memangnya tome itu apa?

Bertanya begitu malah menghadirkan jawaban yang entah benar atau tidaknya. Buku kehendak alam, takdir manusia, karya tangan seorang Bloodline besutan dewa. Dongeng. Andai saja Count’s tak ada di depannya saat ini.

“Huntsman, hati-hati dengan langkah Anda.”

Mereka tengah menuruni tangga curam dan obor yang dipegang oleh Huntsman terasa begitu panas; sepanas daging kalkun makan malamnya. Diturunkan penutup kepala agar tak tersambar api, berapa kali menjauhkan kepala karena topeng bertanduknya itu terasa agak panas. Huntsman sendiri tak tahu ke mana Count’s membawanya pergi. Jendela pun tak ada sama sekali. Hanya rasa lembap, berjamur, berlumut; Count’s kesusahan memutar kunci gembok sebelum akhirnya ia bisa masuk ke dalam ruangan rahasia tersebut.

Pintu ditutup di depan Huntsman, namun untuk apa ada ilusi jika menyentuh saja Huntsman tidak merasakan apa-apa? Sang pria berjalan santai, masuk melewati ilusi pembatas tersebut, lalu di sana, Count’s melihat ke arah tome yang berdebu. Usang. Lapuk.

Setelah entah sekian lama; akhirnya terjamah lagi dengan tangan manusia.

Count’s tampak sedih. Apakah ia sebegitu susahnya berpisah dengan tome atau karena seseorang spesial yang memberinya diari bumi tersebut? Bukan urusan Huntsman, lagi-lagi, ia tahu, ah sungguh andai saja ekspresi Count’s taklah se-mengkhawatirkan itu; sudah ikut campur darah kompleks penyelamatnya.

Lalu ia tengah berada di dalam pesta. Meski semua orang berteriak ketakutan atas kereta kuda yang menerobos dan seorang pria mengangkat tinggi-tinggi pedangnya. Pemberontak? Pembunuh bayaran? Mungkin ini yang dimaksud Reservist ketika ia malu-malu berbohong atas dasar apa ia mengundang Huntsman. Padahal Huntsman benci Bloodline. Padahal Huntsman baru pertama kali ke perjamuan. Padahal Huntsman ...

“Count’s ...” Desahnya. “Nampaknya ada yang salah dari penilaian saya.”

 


 

Tak semua vampir adalah pembunuh berdarah dingin. Ada yang meminumnya tanpa pilah-pilih, dalam satu tenggak sekaligus; untuk menghormati tiap tetesnya. Count’s sendiri sebenarnya tak mau— ia yang bilang. Tapi darah manusia layaknya bensin untuk mobil, dan, meskipun ada mobil-mobil lain yang tak perlu menggunakan bensin; mobil milik Count’s akan SELALU membutuhkannya. Tak bisa diapa-apakan lagi. Memangnya tubuh itu ia sendiri yang rancang?

Lalu diajaknya melihat taman belakang manor yang dipenuhi batu nisan, baru dan lama, dengan ukiran nama mereka. Mungkin adalah rakyat desa. Mungkin juga budak yang dibeli dengan koin-koin emas. Ditatapnya semua itu dengan diam dan syahdu. Huntsman mengintip dari balik punggung Count’s, lalu ia berpindah ke salah satu makam, sehabis itu, bagaikan kilat, tubuhnya sudah berada di depan sang Bloodline.

Count’s seolah tak melihat Huntsman. Ia hanya terus-terusan menjelajahi tiap jengkal kuburan dan menyedihi lumut yang tumbuh di ukiran nisan. Bahkan seorang Bloodline pun memiliki hati. Bagaimanakah Count’s menutupi kesendirian itu. Apakah ia hampir gila, sama seperti Huntsman.

Apakah sang pria, melihat pria yang satunya dengan kacamata cacat karena rasisme akan jenis tubuh dan naluriah mereka. Kalau ya, Huntsman merasa masih belum terlambat. Ia peluk tubuh Count’s yang kurus; tangannya hanya mengawang di udara.

Mereka kesepian. Hidup dalam sebuah ruang soliter dan jauh dari keramaian. Lalu merindu, dari lirik mata ke luar jendela, kepada kasih yang tak pernah diterima. Meskipun Huntsman adalah manusia pilihan Yggdrasil; meskipun Count’s adalah pemilik sah tome yang sekarang.

“Saya tak akan menggunakan tome ini. Ini bukan milik saya.”

Mereka kembali ke dalam ruang gelap nan lembap tersebut; meski bilang begitu tapi Count’s menepuk luarnya dan kuku runcing tersebut meniti tekstur luar kitab suci nan agung.

“Yang memilikinya suatu hari nanti akan kembali. Saya hanya perlu menunggu dan bertahan.”

Huntsman menahan napasnya.

Count’s Banquet,

Lalu siapa yang akan menyelamatkan Anda dari keheningan yang kekal ini?

 


 

“Saya senang Anda datang ke jamuan saya.”

Tak lagi membuka mata, Huntsman mendengar setiap napas yang didesahkan Count’s padanya. Itu adalah kali pertama mereka bertemu. Namun rasanya seperti sudah menjalani kehidupan, rute yang tak henti berputar. Padahal jarum jam masih berdentang. Teng. Teng. Teng.

Ah, ini sudah hampir pagi.

“Count’s,” Huntsman menyentuh cincin di jemari sang bangsawan, “saya tidak sabar, akan bertemu Anda.”

Bukan di sini.

Bukan di alam eutimia ini.

 


 

“Saya merindukanmu, Brooke.”

Di sampingnya, burung elang itu sudah mengusap-usap takut. Huntsman tak juga bangun meski sudah 24 jam lamanya. Ia bermimpi panjang—yang dianggapnya adalah pandangan masa depan, atau mungkin masa lalu, bahkan, masa dimensi lain di mana mereka adalah sahabat. Bahkan ini tak masuk akal bagi Huntsman, ya sejak awal tak pernah ada hal masuk akal yang tertinggal dalam dirinya; jadi sesukanya saja mau berpikir bagaimana.

Kepada Count’s yang kurus kering, jangkung nan kikuk, bermata tajam penuh pilu. Huntsman bergetar. Desa itu tak lagi ia pikirkan. Count’s sanggup memenuhi kepalanya hanya dari deskripsi Reservist yang bahkan ia tak tahu keabsahannya. Ayolah, Reservist adalah seorang pemuja. Begitulah matanya memandang Dewa. Mungkin Count’s tidaklah seagung dan sekudus itu.

Huntsman melepas topengnya, warna perak yang mengingatkannya pada sesuatu yang tertentu, ia poles hingga mengilap. Meski satu tanduknya hilang, netra ungu yang memancarkan kebanggaan akan menatap Count’s dengan sungguh-sungguh melewati dua lubang tersebut.

Pakaiannya, ia rapikan sedikit. Meski robekan tersebut tak mungkin bisa ditambal. Tato yang mengukir tubuh setelah ia mendapat berkat Yggdrasil pun tak jua bisa disembunyikan. Ini penampilannya yang terbaik dan yang terbaik untuk Huntsman hanyalah dengan tidak telanjang bulat. Ia sungguh tak punya apa-apa.

 

“Kecuali aku.”

 

“Iya,” tersenyum simpul, “kecuali Anda, Brooke.”

.

...

Dan Count’s yang berada dalam eutimia itu ... ah ...

...

Huntsman malah mengada-ada.

 


 

“Apakah mata Anda melihat sesuatu?”

Reservist menarik napas berat—seolah kecewa—melihat Huntsman menggelengkan kepalanya. Sang biarawati membuang muka sambil berpikir tak ada gunanya ia susah payah mau ditumpangi hingga Huntsman bisa tiba 30 kilo lebih dekat menuju tempat acara. Mungkin ia salah sudah berharap. Hahaha. Jangan terlalu dipikirkan. Anggap saja liburan semalam dan hari ini ia resmi hanya berniat memasok stok makanan untuk Count’s. Meski aslinya tak ada apa-apa di dalam kereta kuda.

“Jika Anda bisa tahu sesuatu, itu akan mempermudah Anda.”

“Saya tahu,” Huntsman mengelus-elus Brooke, elang itu tampak patuh kepada sang pemilik. “Saya akan berusaha.”

Mungkin aneh jika Reservist tertawa kencang hingga tudung keagamaannya miring ke sana-sini. Berusaha? Huntsman berkata seolah tak tahu apa yang akan terjadi nanti. Gunakanlah mata batin itu. Untuk apa Huntsman mengorbankan semua kewarasannya jika pada akhirnya Yggdrasil tak memberi apa yang sepadan untuk itu semua?

Didelikkan mata itu, bahkan Reservist tak ingin lagi melihat Huntsman, yang kotor, mengenaskan; layaknya kecoa tanpa kepala.

Sambil memacu kudanya, “Saya harapkan keberhasilan Anda, Huntsman.”

 


 

“Wanita itu meremehkan kita, Huntsman.”

 

“Wajar saja. Saya memang tak mau bilang apa-apa.”

 

“Kalau begitu, apakah kamu sudah menentukan pilihanmu?”

 

Langkah Huntsman terhenti sejenak, bukan berpikir; hanya mencari paduan kata yang apik. Sebelum mengambil secarik kertas dari dalam tas perbekalan yang diberikan kepala desa. Ada pensil juga. Sudah lama Huntsman tak menulis, tapi jika sambil memikirkan orang itu, maka pena akan bergerak dengan sendirinya.

 


 

“Huntsman, aku tak tahu kau pandai menulis surat.”

 


 

“Count’s Banquet yang Terhormat,

 

jika tidak ada yang mengerti perihnya Anda dan luka Anda yang menganga, apakah saya, yang bernasib sama dengan Anda, bisa untuk mengolek hati?

Anda adalah Bloodline. Dan saya adalah ******. Anda adalah vampir. Dan saya adalah budak Yggdrasil. Anda adalah pewaris tome. Dan saya hanyalah ia yang seenaknya bermain peran dan membayangkan Anda ada di sana.

Count’s yang saya hormati. Reservist bilang akan ada sesuatu yang terjadi di perjamuan Anda. Saya dan ramalan saya ingin membaca dan mengirimnya pada Anda, namun bahkan bisa jadi Anda lebih tahu daripada saya. Brooke juga bilang ia tak yakin bisa tiba sendirian dan menyusup ke dalam kastil Anda. Kami akan mengetahuinya bersama-sama nanti.

Count’s, yang begitu agung.

Saya sudah bertanya kepada Yggdrasil,

Di malam ketika saya berdoa,

Apakah saya boleh merindu...

Kepada dia (Anda),

Yang belum pernah saya temui sebelumnya?

 

...

Count’s, yang saya ******.

 

Tertanda,

Yang MEMBENCI Bloodline, namun merinai perihal Anda.

 

Experienced Huntsman.”

 


 

“Harus kuapakan surat itu?”

 

“Tidak ada,” Huntsman tersenyum, menggumpalkan suratnya. Tak ada wangi mawar maupun vanila, hanya tengik dari jerami dan kayu lapuk saja.

Bahwasanya, burung yang dipasung itu, kini terbang menuju kehampaan yang lainnya. Kali ini dengan nafsu pribadi; tak sekadar terjebak dalam nubuat semata.

 

“Ini rahasia milik saya saja.”

 

Huntsman pun menganga dan menelan seutuhnya.

Notes:

Ini adalah fanfiksi hasil kolaborasi dari dua Author, ditulis dalam format 4 oneshot dalam satu seri dengan 4 sudut pandang karakter yang berbeda pula. Untuk detail lebih lanjut, silakan baca deskripsi pada Series Ao3 - Halloween Waltz bersangkutan.

Tag mature for the Series future update.
The remain part will be contain Aesop x Victor and Jack x Eli pair.

Series this work belongs to: