Work Text:
Megumi anak yang cerdas, berbudi pekerti dan berakhlak baik kala bergaul di sekolah dan di luar lingkungannya. Megumi anak yang patuh, Megumi anak yang baik, Megumi anak lanang kesayangan ayahnya.
Megumi sayang ayahnya. Sangat, sangat sayang. Karena, layaknya ayah yang baik pada umumnya, ayahnya mengajarkan Megumi macam-macam.
Termasuk sentuhan-sentuhan yang membuat Megumi enak.
Ditanamkan terus-menerus hampir tiap hari, tiap malam. Otak bocahnya yang belum berkembang dipaksa untuk paham— kalau yang enak-enak itu semua karena rangsangan.
Kini Megumi sudah tahu apa yang dia inginkan, apa yang dia damba terus-terusan, adiksinya yang perlu fiksasi.
"Ayah, Gumi sange..."
"Loh, Gumi kan udah pinter onani sendiri, sekarang nggak usah minta sama ayah dulu nggak apa-apa kok, Sayang."
Dan begitu saja, Megumi pertontonkan selangkangan dimana daging kecil seukuran kelingking di pusatnya tegak menantang gravitasi. Jemari kecilnya hafal dengan langkah-langkah rangsang yang Toji ajarkan pertama kali beberapa bulan lalu. Sentuhnya mampir sebentar ke puting di balik kutang putihnya yang belel, menggaruk dan menarik-narik tonjolan yang tak kalah tegangnya dari kemaluannya yang jauh dari puber.
"P—pentil… Enak..." Megumi mulai meracau, kangkangannya makin lebar membelah dengan kedua kaki menggantung di sisi-sisi armrest sofa.
Toji terkekeh, ia abaikan tayangan berita pagi yang tadi ia berikan atensi lebih. Tangannya mulai mengelus ereksi yang mulai menegang di balik boxernya.
"Kapan-kapan Ayah ajarin Gumi muncrat cuma dari mainan pentil, ya?"
Megumi mengangguk cepat, lenguh kencang lepas ketika sengaja menarik kedua putingnya yang membengkak jauh dari dadanya.
"M—mau! Mau, ajarin Gumi muncrat… Mainan pentil dicubit-cubit—"
"Iya, Sayang. Ayah ajarin kamu biar jadi makin kayak lonte murah buat Ayah…"
Megumi merengek, ia mulai tidak sabar dan tidak puas hanya dengan merangsang puting-putingnya dari balik garmen tipis. Perlahan ia gerakan jemari-jemari kecil itu ke pusat selangkangannya, memijat-mijat pelvis tepat di dekat batang kemaluannya yang menyedihkan hingga kedut antisipasi menggerayang di ereksi bocahnya.
"Gumi, sayangnya Ayah, udah nggak sabar colek-colek itil, ya? Itu itilnya udah kedutan, basah banget lagi."
Tubuh Toji ikut memanas, ia remas sepanjang tegangnya yang menyumpal dibalik kain tipis itu. Ia tatap lamat-lamat kemaluan anaknya yang lacur berkedut-kedut kecil— ingin sekali ia cubit hingga melolong kencang anak lanangnya itu menahan ngilu dan nikmat yang geli.
Kekeh tolol terselip dari bibir gumi yang tersihir birahi. Dengan jari yang gemetar, ia bawa telunjuk dan ibu jarinya untuk menjepit ereksi kecilnya yang meleler lendir.
"Uhngh—! Ayah, itilnya— itil Gumi 'dah ngaceng!"
Megumi terkikik, mulutnya mulai membuka dan lidahnya mulai lemas diterpa nikmat kala jemarinya bergerak naik-turun sedikit-sedikit. Pinggulnya mulai bergerak gelisah ingin merangsang diri lebih dari gesekan di batang kecil kemaluannya.
Toji mendecak, ia gelengkan kepalanya pelan sambil menatap mata anaknya yang sudah berkabut akan nafsu birahi.
"Gumi, inget apa kata Ayah? Hm?"
Bocah itu tergagap sebentar, sebelum akhirnya menyingkirkan apitan kedua jarinya di batang ereksinya dan membiarkan otot kecil itu berkedut lepas.
"Inget, Ayah. G—Gumi inget apa kata Ayah."
"Apa itu, Sayang?"
Deguk saliva terdengar meluncur dari kerongkongan Megumi yang makin gemetar. Pelan-pelan ia kembali bergerak.
"Yang Gumi punya ini,"
Ia raih kemaluannya lagi, kali ini hanya pangkal dekat pelvis mulusnya diapit di jari.
"—Namanya itil."
Megumi saksikan sendiri kemaluan kecilnya berkedut-kedut didegradasi menjadi sebutan genital perempuan.
"Kalo itil—"
Mendekatlah sebelah tangannya dengan jari telunjuk yang terjulur gemetar.
"Nggak bisa dicoliin,"
Makin mendekat, Megumi bersumpah bisa merasakan belai angin antara tegang ereksi dan juga telunjuknya yang seakan menggaruk tak kasat mata.
"B—bisanya—"
Lalu dengan ringan, hinggap ujung telunjuk itu di pucuk kulup kemaluannya. Ia tekan pelan-pelan tepat ke lubang kencingnya yang banjir dengan lendir.
Bola matanya mulai bergulir ke belakang, bocah itu sudah mau gila hanya karena satu sentuhannya sendiri.
"Bisanya dicolek-colek— NGUUUHH—!"
Seperti kesetanan, ia gerakkan jari telunjuknya itu hingga ujung kukunya seakan menggaruk kulup kemaluannya cepat.
Megumi meracau berisik, ia lantunkan kata-kata kotor sambil menahan lidahnya yang makin lama makin lemas menjulur keluar dari mulutnya yang sekali-kali terkekeh seperti orang bodoh.
"L—LIYAT, AYAHHH… 'KU COLEK-COLEK ITYIL—! ENYAK! NGILU! ENYAK— KULUPNYA ENYAK! NGYIIIHHH—!"
Toji sumringah, ia benar-benar sudah mengubah anaknya menjadi jalang bodoh hanya untuk ayahnya sendiri. Daging kecil yang tegang itu rela disiksa dan dipermainkan dengan perintah bejat ayahnya. Lelaki kekar itu akhirnya menyelipkan batang tegangnya keluar boxer, ia urut naik-turun sambil atensinya ia pusatkan pada gerakan jari anaknya yang menyiksa ujung kemaluannya sendiri.
"Lonte kecil jadi goblok onani di depan ayahnya sendiri… Enak, ya, mainan itil? Temen-temen kamu jam segini udah pada berangkat sekolah, kamu malah ngobelin lobang pipis sendiri." Kekeh Toji, puas melihat Megumi yang menengadah mendengus-dengus dan mendesah tidak karuan.
"ENYAK, AYAH… KOBEL LOBANG PIPIS… KOBEL SAMPE MUNCRAT— GARUKIN ITILLL—!"
"Itil lontenya enak? Digaruk-garuk gitu? Garuk sampe bengkak ya? Megumi garuk sampe lobang pipis Megumi nggak bisa rapet lagi karena digesek-gesek terus pake kuku."
Gerak telunjuk Megumi makin cepat. Rasa ngilu yang menyiksa ujung kulup sensitifnya membuat kepalanya berputar, pinggul rampingnya bergerak-gerak maju-mundur mengharap sensasinya bisa berkali lipat lebih nikmat. Racau dan kekeh tidak bermakna membuat bocah itu makin terlihat seperti jalang tolol yang kewarasannya kian menipis digerus stimulus seksual yang berlebihan.
Mana ada bocah sebayanya yang gemar onani setiap hari sambil ditonton ayahnya sendiri?
"Emang bocah lonte… Mending kamu berenti sekolah aja, nanti Ayah ajarin jadi sarung kontolnya Ayah yang bisa Ayah entot kapan aja Ayah mau. Terus Ayah garukin itilnya dari belakang sambil Ayah kobelin bo'ol kamu pake kontol gede ayah… Ayah tonjok biji prostat kamu dari dalem terus-terusan, sampe kamu bisa muncrat sendiri walaupun itil kecilnya nggak dimainin. Biar itilnya kedut-kedut sendiri sampe meler-meler, tetep Ayah genjot sampe Ayah buang peju berkali-kali di bo'ol legit kamu. Abis itu Ayah kencing di bo'ol lonte kamu sampe perut kamu gede kayak bocah hamil—'
Megumi yang sedang setengah waras tidak mengerti apa yang dimaksud Toji. Ia masih dengar kata 'sarung kontol' 'entot' 'prostat' 'genjot' dan 'peju' tapi otak bocahnya yang belum berkembang tidak bisa memproses semua itu, apa lagi dengan keadaannya yang kini hanya bisa melenguh-lenguh tolol seperti anjing sedang birahi.
Tapi mendengar ayahnya ingin buang air kecil di anusnya—
"HNGHHHHH AYAH, KENCINGIN BO'OL LONTE GUMI. KENCINGIN— NGUH—!"
Tubuh Megumi menegang kencang, desah panjang memanggil ayahnya merapal terus-terusan kala orgasmenya menerpa kuat. Ujung jari telunjuknya berhenti bergerak di atas lubang kencingnya, kewalahan karena merasakan intensnya tiap kedutan klimaksnya yang merayapi kemaluanya.
"K—kedut-kedut… Itil Gumi… Kedut-kedut enyak… Nyeh…"
Sekujur tubuh kecil bocah itu bergetar. Megumi raih bagian bawah kepala kemaluannya yang masih berkedut heboh dengan apitan jari sebelah tangannya dan telunjuk sebelahnya kembali menggaruk kulup meronanya. Terus-menerus Megumi tetap menggerakan ujung jarinya di kulup menggenang itu dibarengi denguhan binal menahan stimulus diri yang berlebihan. Sampai akhirnya, ia tekan lebih kencang di lubang kencingnya sambil terus menggaruk.
"Aaah, pipis—"
Dan terpancar kencing yang pesing dari ujung kulup kecilnya yang memerah dan bengkak. Megumi terkekeh pelan dan melenguh-lenguh sepanjang kencingnya mengalir sembari batang ereksinya berkedut-kedut melemas.
"Gumi muncrat enak… Pipis enak… Liat, Ayah, itil lontenya Gumi pipis enak… Ayah, pipisnya Gumi enak banget..."
Dengan rentet racauan sehabis klimaks anaknya, Toji menggeram kencang. Ia berdiri dari duduknya, tangannya makin cepat mengurut sepanjang tegangnya sambil terbirit-birit menghampiri bocah lanangnya yang masih mengangkang lemas.
"Ah, ngentottt… Gumi… Megumi, lonte binalnya Ayah… Ayah mau muncrat… Ayah muncratin peju anget Ayah ke Gumi— bangsat—!"
Lalu banjiran sperma tumpah ruah di selangkangan anaknya sendiri. Lecut mani pertamanya kencang menembak tepat di ujung kulup yang tersingkap sedikit karena terlalu banyak dikoyak dengan ujung jari, membuat Megumi melenguh merasakan sensasi hangat yang seakan mengelus ujung kemaluannya samar. Semprotan-semprotan lainnya meluncur membasuh kemaluan kecil anak lelakinya sampai kuyup hingga Toji terkekeh puas melihat pemandangan basah yang tercampur kencing anaknya.
Toji mengurut ereksinya yang melemas pelan-pelan, memeper ujung ototnya di paha dalam Megumi yang masih lemas terbuka lebar. Ia gerayangi pusat selangkangan yang basah itu pelan-pelan hingga jemari tebalnya hinggap di kemaluan bocah binalnya. Ia colek genangan maninya yang kuyup di selangkangan anaknya dengan ujung jari telunjuknya.
"Gumi pinter, emang lonte kesayangan Ayah… Karena Gumi udah pinter onani sendiri buat ditonton Ayah, Ayah kasih hadiah, ya?"
Megumi menjengit kala otot kecil yang lemas itu dipaksa berdiri oleh apitan jemari tangan kiri ayahnya.
Lalu kewarasan Megumi yang belum sepenuhnya terkumpul buyar lagi saat ujung kuku telunjuk Toji yang licin karena colekan mani menggaruk lubang kencingnya setelah menarik kulup kemaluannya kebawah. Ia siksa ujung kemaluan bengkak itu sampai tubuh anak lanangnya menegang kejang-kejang menahan stimulus yang berlebihan bagai orang sakaw.
"NGUUUUHH… NGUUUUHH… YAH, ITYIL GUMIII… JAN GAYUK ITYIL GUMI 'GI… NGUUUUHH…"
Jangan garuk itil gumi lagi.
"Loh, Ayah kasih hadiah kok Gumi nggak mau? Ayak garuk-garuk lagi itilnya pake peju Ayah biar Gumi makin enak. Mana makasihnya, Gumi?"
Seperti jalang bodoh, Megumi melenguh kencang dengan mata yang memutih dan mulut yang membuka dengan denguh.
"NGUH… NGUH… NGUH— A—AYAH… M'KASI… MAKASIH, AYAHHH—"
"'makasih' apa, ngomong yang bener. Lonte goblok keenakan sampe nggak bisa mikir, hm? Nggak tau terima kasih."
"MAKASIH… UDAH GARUKIN ITIL GUMI… ITIL GUMI DIGARUK-GARUK LICIN PAKE PEJU AYAH… ENAK—"
Tiada ampun, Toji makin menghujam ujung telunjuknya hingga cetak kuku bisa mungkin tertinggal melintang di atas lubang kencing yang terbuka.
"Muncrat buat Ayah, Megumi… Buat itil lemesnya kedut-kedut lagi…"
Megumi makin menegang, pinggulnya bergerak-gerak liar kala ujung kemaluannya dicubit kecil. Ujung dua jari ayahnya itu kemudian digesek di tengah-tengah cubitannya.
"AYAH—"
Kemudian dilepas. Toji saksikan kemaluan kecil itu kini berkedut-kedut kencang, anaknya melolong lantang melepas klimaksnya yang hampir ngilu karena kembali dirangsang paksa.
"KEDUT-KEDUT LAGI… ITIL AKU— KEDUT-KEDUT ENAK..."
"Lonte pinternya Ayah… Pinter, kedut-kedut enak lagi itilnya cuma buat Ayah…" puji Toji puas sambil menghadiahi kecup ringan di pucuk membengkak yang barusan ia kerjai habis-habisan.
"A—ayah…" Suara Megumi mengalun lemah.
"Iya, Sayang?"
"Gumi udah boleh dianter ke sekolah belom…?"
Ayahnya tersenyum, ia kecup puncak kepala anaknya yang berpeluh.
"Basuh dulu selangkangannya sebentar ya? Nanti yang beresin sofa biar Ayah aja, " Toji akhirnya menggendong tubuh Megumi. "Kalo udah nanti panggil Ayah, biar Ayah bantuin Gumi pake seragam. Telat sedikit nggak apa kan?"
Megumi mengangguk, ia peluk leher ayahnya kuat-kuat.
Megumi sayang ayahnya. Walaupun waktu berangkat sekolahnya harus molor lima belas menit dari jadwalnya, ayahnya tetap mau membuat Megumi enak.
