Work Text:
"Liat ke depan, Sayang,"
Kaki kanan bocah lelaki itu berjengit kala ujung kuku telunjuk-telunjuk ayahnya menggaruk pelan pucuk puting memerah dada yang hampir serupa payudara gadis belia itu di tangan lebarnya. Desah lirih terselip saat garukan itu terus menerus menggerus permukaan puting yang merona.
"Ah... Ah… Ayah..."
"Liat nggak, kamu ngejan pas Ayah garuk? Yang dibawah ikut kedutan, keliatan dari kaca." Toji berbisik tepat di telinga kanan Megumi, lidahnya menyusuri bentuk tulang rawan daun telinga anak lanangnya yang gemetar sedikit-sedikit.
Lalu cubit kencang, dan ditarik main-main kedua puting bengkak itu.
"HNGHHH!!! SYAKITH—!" Megumi mendongak, memekik kata yang hampir tidak bisa dimengerti karena lidah dan rahangnya yang melemas. "NYAAAH— YAAHH, JANGAN—"
"Jangan apa, hah? Orang kamunya suka, dikerjain pentilnya kayak gini, ya kan? Bo'ol kamu kedut-kedut pengen dicolok, padahal cuma dimainin pentil aja. Gimana kalo yang dicubit-cubit itil kecilnya kamu ini?"
Megumi mengejan lagi, liang belakangnya mengencang di dalam. Kakinya yang kaku ditindih kaki ayahnya agar kangkangannya tidak berubah dan masih bisa memperlihatkan kemaluan kecilnya yang bengkak minta dijamah dan basah di pucuk hingga meleleh di bagian bawah perut gembilnya.
"K—kerjain aja! Kerjain itil aku!! Udah, pentilnya, udah—" Rengek Megumi, pinggulnya yang tertahan bergerak sedikit-sedikit mencari belai angin untuk merangsang ereksi bocahnya yang seukuran kelingking dewasa.
"Tapi Ayah maunya liat Gumi muncrat gara-gara dikerjain pentilnya aja. Gumi bisa kan, enak sampe muncrat mainan pentil?"
Rengekan Megumi makin tantrum, pipinya basah karena airmata frustrasi. Sebinal-binalnya Megumi, dia paling benci saat sang ayah menitah dirinya untuk orgasme hanya dengan merangsang puting-putingnya tanpa menyentuh daerah sensitifnya yang lain. Prosesnya terlalu panjang hingga acapkali di akhir percobaan, Megumi hanya merengek sampai lelah dan dihadiahi ngilu yang tak pudar dalam beberapa hari kedepan tanpa mampu meraih pelepasan sama sekali.
Tapi Toji tidak terlalu ambil pusing, melihat wajah anaknya yang menangis histeris layaknya jalang pasrah sudah cukup sebagai bahan bakar stimulus kala dia onani di antara belahan bokong anaknya.
"Nggak bisa—" Dengan suara mencicit yang bergetar sedikit, Megumi menggeleng cepat.
Lalu cubitan makin kencang, dan dipelintir kuat.
Bocah itu menyalak dan melengkungkan tubuhnya sesaat, dadanya membusung mengikuti tarikan putingnya yang terjepit menggigit.
"Bisa, pasti bisa. Gumi anak baiknya Ayah, kan? Gumi pasti bisa muncrat enak cuma dimainin pentilnya aja. Ayah mau kamu liat pas kamu muncrat enak, ya?"
Digesekkan bantalan ujung jari telunjuk dan ibu jari yang Toji gunakan untuk mencubit puting anak lanangnya yang makin bengkak. Gesek, gesek, gesek terus sampai lelaki itu melihat dari cermin ereksi Megumi yang berkedut-kedut reflek dan juga otot cincin rektum anaknya yang menutup dan membuka pelan di bawahnya.
"Gumi, sayangnya Ayah, liat mulut bo'ol kamu... Kedutan gitu... Enak banget ya, dicubit-cubit pentilnya gini? Enaknya sampe ke itilnya juga? Iya? Mangkanya jadi kedut-kedut yang di bawah?"
Bocah yang dipermainkan hanya bisa mengangguk lemas, dengus-dengus dan lenguh 'ungh ungh ungh' berirama dengan tarikan-tarikan gemas di putingnya yang masih saja digesek dan dipelintir kencang menyiksa kedua pucuk daging yang kemerahan dan bengkak itu. Toji lihat tatapan Megumi mulai menyalang di cermin, tapi ia tahu kalau anaknya bisa melihat kemaluan serta bukaan rektumnya sendiri yang berkedut-kedut dan pinggulnya yang bergerak-gerak reflek. Seperti minta disetubuhi, atau minimal menggesek alat kelaminnya yang becek di udara kosong.
Toji menggeram pelan sebelum menggigit sisi leher pucat yang tegang itu kemudian bernafas di sebelah telinga anak kesayangannya. Jemarinya tetap sibuk, kini kembali menggaruk ujung puting dengan cepat sambil tetap menarik kencang.
"Lontenya Ayah keenakan ya? Sampe nyodok-nyodok pinggul, minta dimainin juga ya, yang dibawah? Digesek-gesek juga itilnya pake lendir enaknya Gumi, mau? Dicubit-cubit sambil digaruk-garuk lobang pipisnya? Ayah korek pake kuku lobang pipisnya biar makin bengkak ujung itilnya, bikin Gumi ngilu tapi enak— Oh, liat nggak tadi? Kedutan kenceng banget loh, itil nakalnya Gumi. Kerasa di bawah, ya?"
Pinggul Megumi makin bergerak-gerak gelisah membiarkan dirinya diperkosa angin dingin yang membelai kemaluan basahnya tiap dia bergerak. Matanya terpaku pada cermin, bolak-balik memperhatikan dada pucat yang putingnya tertarik dari ujung bengkaknya, dan juga pusat selangkangannya yang becek dan merona. Ereksinya yang mengacung dan berkedut mengilap dengan lendir yang bahkan bukan pra-mani. Areolanya yang terlihat elastis tertarik dengan putingnya yang merah dan terjepit di ujung-ujung kuku jari ayahnya. Mulut otot lubang rektumnya yang baru saja bergerak menutup dan membuka lagi minta diisi walau belum pernah sekalipun mencicipi penetrasi.
"A—Ayaaahhh..."
"Ayo, Gumi, lontenya Ayah. Muncrat yang banyak sambil Ayah kerjain pentil bengkaknya. Ayah tau kok, Gumi anak pinter yang bahkan bisa sampe pipis-pipis karena mainan pentil doang…" Toji jilat sepanjang leher tegang di hadapannya lalu menderu bisik cabul di telinga merona anaknya. "Lonte binal itu pasti bisa muncrat enak sampe pipis walaupun nggak dikerjain itil. Ngerti kan, Sayang?"
Jengitan lagi, lalu kedut di ereksi kecil dan sekitar cincin otot belakangnya terasa lebih intens.
"Malem ini, pentil-pentil kamu ini jadi itilnya Gumi. Jadi, Gumi harus muncrat sampe pipis kayak pas lagi ayah kerjain itil yang di bawah."
Lenguh kencang terdengar saat Megumi lagi-lagi menengadah. Pinggulnya satu, dua, tiga, empat kali ia goyangkan di udara demi belaian fana udara dingin di kemaluannya.
"Apa ini malem ini, Gumi? Jawab Ayah." Toji bertanya dengan jilat yang sekali-kali menusuk menggelitik lubang telinga Megumi.
Jepitan kukunya ia lepas, kini jari telunjuk dan tengahnya memijat area areola anak lanangnya yang sedikit mengkerut karena tensi yang daritadi mendera. Puting yang kini merah padam dan ukurannya seperti dua kali lebih besar dari sebelumnya diabaikan begitu saja, sensitif terkena udara.
Megumi melenguh pelan. Setelahnya, di tengah-tengah dengus putus asa, dia hanya merespon dengan bisik.
"I-itil..."
"Apa ini, Megumi. Jawab yang bener." Ulang lelaki yang lebih tua itu, tidak puas dengan jawaban putranya yang jelas-jelas sudah kewalahan dan inkoheren.
Ingin Toji mendapat jawaban kotor yang lantang dari anaknya yang jalang. Karena dia tahu Megumi suka juga kalau dipaksa berkata dan mendegradasi dirinya sendiri hanya untuk sang ayah.
Megumi menelan ludah sebelum akhirnya dengan lantang menjawab:
"Itil! Pentilnya aku sekarang jadi itil!!"
"Ah, emang anak binalnya Ayah..."
Lalu cubit, kemudian ditarik, dan digaruk-garuk cepat ujung bengkak kedua puting itu sambil diiringi pekik dengus dan lenguh Megumi yang berusaha keras untuk orgasme.
"Pinter, gerakin pinggulnya, biar itil Megumi yang di bawah bisa gesek-gesek ngentot sama angin. Enak kan, itilnya digaruk-garuk gini? Iya? Dipelintir ditarik-tarik gini suka? Enaknya dari itil yang di atas bikin itil yang di bawah makin kedutan kan? Lonte sange kalo dienakin itil atasnya bisa sampe kedut-kedut muncrat kan?"
Tidak ada jawaban verbal berbentuk kata dari Megumi yang menjelma menjadi jalang birahi. Yang keluar dari mulutnya hanya dengus-dengus bak binatang sedang estrus sambil menghentak-hentakan pinggulnya kuat-kuat ke udara, matanya juling dan air mukanya terlihat bodoh makin memantik nafsu ayahnya sendiri yang menikmati tiap detiknya.
Lalu lepas.
Dan kemudian diambil sedikit permukaan kulit ujung puting-puting itu dengan kuku sang Ayah, lalu dicubit kencang-kencang— lepas setengah detik, kemudian cubit lagi setengah detik, terus-terusan tanpa berhenti.
Megumi menjengit dengan jerit tertahan. Makin cepat pinggul berpeluhnya bergerak ke atas dan ke bawah, makin tinggi juga level selangkangannya yang terangkat dan terhampar lacur di depan cermin. Ia bersusah payah memfokuskan pandangannya yang bolak-balik bergulir ke belakang hingga gelap kepada pantul pemandangan ereksi bocahnya yang terpantul-pantul menyedihkan dengan lendir rangsang meleber di perutnya. Kemudian ia lihat keadaan puting-putingnya yang dibuat merona merah padam tanpa ampun, Megumi coba untuk membayangkan bahwa ujung daging di antara apit kuku-kuku ayahnya itu adalah pucuk kemaluannya yang butuh dikerjai habis-habisan.
Berkali-kali Megumi menjerit dalam pikirannya yang berkabut, 'Itil aku dicubit-cubit, itil aku dicubit-cubit!' hingga sensasi ngilu-ngilu sedap itu bisa termanifestasi di pucuk ereksi kecilnya yang makin lama berkedut makin sering. Pinggulnya makin terangkat tidak karuan, denguhnya makin panjang menjelma lenguh tolol.
Sekian lama akhirnya pucuk-pucuk bengkak itu dilepas dari cubitan, lalu digaruk cepat dan tanpa jeda. Permukaan puting-puting Megumi tergesek terus, bocah itu makin ahli berimajinasi hingga tiap-tiap geseknya terasa layaknya nyata mengorek lubang kencingnya di bawah sana.
Megumi rasakan kedut di pusat selangkangannya itu makin menguat.
Pahanya kram, pinggulnya tidak berhenti juga mengharapkan rangsang nyata tambahan dari belai angin yang minim.
"UH, UH, UH, AYAH, ITIL AKU— ITIL-ITILNYA AKU—!"
Toji menggeram, ia jilat sepanjang pangkal leher Megumi sampai telinganya hingga liur licinnya membentuk jejak basah di kulit berpeluh itu. Telunjuk-telunjuknya makin cepat bergerak mengorek permukaan bengkak puting-puting mengacung itu.
Toji tatap lamat-lamat pantul ekspresi anak lanangnya yang seakan kehilangan akal sehat, dengan bibir yang mengerucut merapal denguh dan lenguh inkoheren, serta matanya yang bolak balik memutih dan juling saat hilang fokus dalam usahanya meraih klimaks.
Memang jalang binal kesayangan Ayah.
"Muncrat, Sayang, ayo. Muncrat buat Ayah." Toji berbisik di bawah deru nafasnya, mengalahkan ribut desah Megumi yang makin tidak berakal.
"Pereknya Ayah, kedutin itilnya sampe muncrat—"
Dengan perintah vulgar yang terus-terusan digaung, isi kepala Megumi menghilang seketika.
"'TYIL— NGUH—!"
Pinggul Megumi tertahan di udara. Dari cermin terlihat batang ereksi kecilnya berkedut kencang, begitu juga otot analnya yang mengetat mengendur beriringan dengan kedut klimaksnya yang susah payah. Matanya terbalik ke belakang, badannya mengejan-ejan seperti orang sakaw sedangkan mulutnya merapal-rapal.
"ITIL… KEDUT-KEDUT… KEDUT ENAK— KENCENG! ITILNYA AKU KEDUT—! UNGH! UNGH—!"
Setelah beberapa detik, badan bocah itu melemas dan jatuh punggungnya ke dada sang Ayah. Yang ada kemudian hanya sisa lenguh nikmat dan desah nafas yang makin lama makin teratur. Dari cermin terlihat lendir licin yang meluruh dari celah kulup kemaluan Megumi yang lemas di atas perutnya, masih berkedut pelan beriring dengan cincin otot belakangnya yang mengatup sedikit-sedikit.
Toji terkekeh pelan sebelum mengecup pelipis Megumi yang berpeluh tipis.
"Binal kesayangan Ayah, Gumi sayang, anak pinternya Ayah..." Puji lelaki itu sambil mengelus lengan anaknya pelan.
Megumi hanya membalas dengan desau lirih, lalu melantun gumam lemah.
"Ayah, maafin Gumi… Gumi nggak bisa muncrat sampe pipis-pipis kayak yang Ayah mau…"
Toji tertawa, ia hadiahi lagi kecup gemas untuk anaknya yang patuh. Dua, tiga, empat kecup sayang tepat di pipi yang gembil.
"Nggak apa-apa. Ayah udah suka liat Gumi jadi anak pinter, bisa bikin itilnya kedut-kedut enak sendiri cuma dikerjain pentilnya aja." Ayahnya lalu mengecup daun telinga Megumi lagi.
"Enak?"
Megumi mengusakkan kepalanya ke dada lebar yang lebih tua sambil menutup matanya. Kini ia merasakan perih yang menggigit dari pucuk-pucuk dadanya yang dari tadi disiksa sampai bengkak.
"Enak, Yah..." Bocah itu menjawab pelan.
"Masih mau lagi, nggak?"
Lalu Megumi menyungging senyum lemas sebelum akhirnya menjawab dengan kangkangannya yang ia gerakkan atas bawah, seakan menggestur untuk menyerahkan kemaluan lemasnya agar dibuat tegang dan dipermainkan seperti putingnya yang membengkak dan ngilu-ngilu sedap.
Ia tatap mata ayahnya di pantulan cermin, lidahnya menyapu bibir bawah dengan seduktif.
"Mau... Sekarang garukin itil aku ya? Sampe bengkak, Ayah bikin aku kedut-kedut sampe muncrat?"
Dengan pinta vulgar dari anaknya sendiri. Toji menyeringai puas.
Ada gairah membuncah yang lagi-lagi ingin dipuaskan dengan menyaksikan anaknya yang penurut menggelepar lemas digerogoti nikmat yang tak putus-putus hingga subuh.
Iya, sekarang Megumi cuma serupa makhluk binal yang suka disiksa titik sensitifnya sampai mati rasa, dan Toji suka membuat sang anak lanang diterpa nikmat hingga permanen menjelma jalang.
