Work Text:
Entah sudah berapa lama decak kecup basah terus-terusan terpantul seakan menggaung dari dinding-dinding sekitarnya. Cuma ada gumam pelan, desah pasrah, sekali-kali kekeh berat suara maskulin yang menggoda anak lelakinya bolak balik bertukar nafas diambil sang ayah.
Gesek seprei yang samar beradu dengan decak basah dan desah. Gaung suara televisi yang menyiarkan seri kartun favorit Megumi dari ruang tengah merembes ke kamarnya, sayup terdengar diiringi gesek kain dengan kain dari gerak tubuh-tubuh birahi keduanya.
"Ayah..." Suara Megumi setengah desah mengemis lebih terdengar lemah kala kecupan ayahnya berhenti untuk sesaat.
"Mau apa, sayangnya Ayah?" Toji menggumam lagi. Ia jilat jejak liur yang meleler ke dagu buah hatinya, kemudian mengecup bibir kecil bersemu itu lagi hingga memerah desah tertahan.
Lidah yang menyapu rongga mulut itu lalu berbentur dengan milik si bocah lagi, pekik kecil samar terdengar saat Toji melepas ciumannya kali ini. Diambilnya beberapa detik untuk bernafas dalam-dalam, dan menghelanya dengan lirih desah yang masih saja terselip keluar.
"Mau..." Racau mulai terdengar tanpa makna, setengah merengek mengeluh karena nafsu yang mulai membuncah.
"Bilang. Ayah nggak ngerti kalo kamu cuma ngedesah doang."
Rengekannya makin menyedihkan.
"Astaga, baru dicium aja udah begini. Kamu nggak sabar banget ya, boolnya Ayah mainin lagi?" Toji tertawa pelan, gemas melihat bocah kecilnya kesulitan membentuk kata hanya karena diberi ciuman saja.
Megumi makin rungsing. Sejak Toji mulai memainkan bukaan analnya, bocah lelaki itu mulai mengenal rasa enak yang berbeda. Dimulai dari jari jemari ayahnya; satu, dua, tiga jari, bahkan hampir empat, hingga vibrator yang bergetar dan dildo yang melesak jauh di dalam analnya menempel bersinggung di bagian enak sampai Megumi menegang klimaks dengan kemaluan kecilnya yang berkedut tanpa disentuh.
Enak? Ayah sodok di bagian sini? Ayah kenain biji prostatnya terus-terusan biar Gumi makin enak, ya?
Begitu kata Toji tiap Megumi melolong dengan sekujur tubuh menegang menahan nikmat kala prostat bocahnya bolak balik distimulasi ujung objek yang memenetrasi.
Hari demi hari, Megumi bisa merasakan analnya berkedut ingin dikerjai terus-terusan. Ayahnyapun hanya bisa menyeringai mesum tiap dia pulang mencari nafkah dan melihat anaknya menunggu, menungging untuknya dengan celana terbuka menggantung di lutut.
Getar libido yang tumpah ruah mengguyur sekujur postur kecil Megumi, pasang surut dengan denyut yang seirama kedut lingkar ketat di selatan tubuhnya. Seiring ayahnya makin gemas membubuh kecup basah dan gigit keunguan, Megumi hanya bisa melemas mengangkang kedua kaki rampingnya lebih jauh.
"Ayah… Bool Gumi gatel…" Dengan kedua tangan kecilnya melebarkan kedua belah bokongnya, ia pertontonkan bukaan anal yang berkedut sedikit-sedikit ke hadapan ayahnya.
Seringai puas merekah pada wajah sang duda. Sudah bertahun-tahun bermain dengan jalang yang ia beli, baru sekarang ia lihat undangan kawin yang paling menggugah birahi— sosok buah hatinya sendiri.
"Buka mulutnya."
Dengan patuh, kedua bibir merona itu membuka pelan. Lidah Megumi terjulur dengan mulut menganga selebar yang ia bisa.
Kemudian meluncurlah liur ayahnya di permukaan lidah Megumi yang disambut refleks lenguh yang hampir terdengar orgasmik.
Dan lagi.
Lalu sekali lagi.
Hingga enam kali liur licin menggenang di rongga mulut bocah lelaki yang melemas itu, Toji terkekeh pelan. Ia gerayangi lidah becek buah hatinya dengan ibu jari, mengaduk basah leler liur anaknya dengan liurnya sendiri lamat-lamat.
"Mulut lonte emang harus becek kayak gini, Gumi," Toji berkata dibawah desau adorasi. "Telen, Sayang."
Megumipun meneguk tampungan liur di rongga mulutnya dengan lenguh yang terselip dari bibir. Dengan patuh, ia kembali menganga dan menjulurkan lidahnya agar Toji tahu kalau dia sudah menjadi anak baik bagi ayahnya.
Gemuruh geram rendah bergetar di dada lelaki yang lebih tua, libidonya makin terpantik menyala. Ia raih dan genggam helaian gelap anaknya dalam jambakan hingga menengadah dan memerah desah. Toji cium bibir kecil anaknya layaknya penuh dahaga, menjilat ke segala arah dalam rongga mulut itu dan menyeruput liur yang terus-menerus bertukar dan melebur jadi kental penuh birahi yang primal.
"Gumi… Megumi, anak pinternya Ayah," Toji menggumam sanjung di bawah nafas memburu. "Suka diludahin sama Ayah?"
"Ayaaah—"
"Jawab, Gumi, pereknya Ayah suka, kan, diludahin kayak tadi?"
Megumi merengek di antara decak basah. Dengan susah payah dia lawan keinginan untuk merengkuh leher ayahnya hanya untuk merasakan kenikmatan samar denyut anal yang dia paksa terbuka— denyut yang lebih inten dan terasa lebih mampat.
"Sukaaa… Ayah, Gumi pereknya Ayah yang suka diludahin—!"
Dan kemudian Toji hadiahi kejujuran anaknya dengan meludah kembali di muka bersemu bocah itu, liurnya meleler di pipi kiri Megumi. Lalu Toji jilat kembali dan meludah lagi hingga basah tepat di belah bibir anaknya yang terbuka sedikit.
"Oh, anak pinternya Ayah. Megumi, jalangnya Ayah yang paling nurut…"
Gumam Toji menggema di sisi telinga Megumi. Di saat mulutnya sibuk menyanjungkan degredasi, sebelah tangannya menjalar turun ke perut yang gembil— turun untuk mengurut sekilas area pelvis namun mengacuhkan tegang ereksi pra-puber yang berkedut, lalu memutari otot celah bukaan anal di sana dengan dua jemari kapalan.
Desau manja terselip dari bibir Megumi, pinggulnya terantuk naik sedikit dan celah di antara kakinya makin lebar mengangkang.
"Gumi, pinter," Toji kembali menyanjung dalam birahi. "Udah siapin pelumas biar licin, gampang Ayah mainin."
Lalu telunjuk Toji menyelip masuk ke celah licin itu, leler pelumas yang menghangat ke suhu tubuh melapisi lipat-lipat otot organ sekresi di dalamnya.
Megumi memekik pelan, pinggulnya kembali berusaha bergerak dan mengarahkan ujung jari ayahnya ke gumpal daging rangsang di dalam analnya.
"Ayaaah, mau…"
"Perek."
Lalu merangsek masuk jari kedua, lalu yang ketiga.
Di saat itulah Megumi melenguh kencang.
"NGOH—! Ayah masukkk… "
"Enak, Sayang?"
Isi kepala Megumi mengabur menikmati dengan khidmat rasa sempit sedikit menggigit di duburnya, jemari di sana mulai bergerak pelan keluar dan masuk berkali-kali seperti pola yang lama-kelamaan makin merangsang. Megumi merileks menyerah pada birahi yang membuatnya ingin dirangsang lebih, bola matanya memutar putih sebelum terkekeh pelan.
"Kenyaiyyyn… Kenyaiyn di syituuuh… Benyekinnn… "
Kenain di situ. Benyekin.
Toji menyeringai puas mendengar anaknya memohon untuk distimulasi prostatnya dengan kata-kata yang mulai sulit dimengerti karena otaknya makin berkabut.
"Kenapa, Sayang? Mau? Minta biji prostatnya dikerjain juga, iya?" Toji menekuk jemarina sedikit sebelum mengarahkan gerakannya beberapa derajat. "Gini? Dikenain kayak gini?"
"OHONGH—!"
Satu. Dua. Tiga.
Colekan-colekan di permukaan rangsang itu terasa seperti setengah hati, hanya ingin menggoda sedikit.
Kemudian gerakan ujung jemari lelaki itu berubah intens, menekan dan mengurut prostat yang belum puber itu hingga memerah dengus birahi yang seirama.
Empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas—
"NGUUUH—!"
Dan berhenti.
Sisa lolongan Megumi yang kepayahan melenguh rengekan kala jemari ayahnya ditarik keluar, meninggalkan pemandangan otot kemerahan yang mengintip dari celah cincin duburnya.
Toji jejali jemari licinnya di depan bibir Megumi, ia leleri permukaannya dengan pelumas yang melebur bersama bekas liur yang tadi ia ludahi. Hingga basah dan mengilap keseluruhan bibir kecil merona itu, layaknya bibir jalang yang bersolek.
Dengan senyum menyungging di wajah, Toji tinggalkan tubuh Megumi yang tergolek lemas di kasur sesaat. Ia hampiri lemari baju di sisi sebrang kamar dan meraih ke dalamnya sebelum mengambil sesuatu yang ia cari.
"Gumi, mau Ayah pakein ini biar enak, kan?" Toji bertanya retoris.
Dari sisi tempat tidur, mengalun desah tidak sabaran si lelaki yang jauh lebih muda. Megumi ingat alat itu adalah benda kedua yang pernah masuk ke analnya setelah butt plug perak berhias berlian imitasi yang dihadiahkan Toji saat ia mendapat nilai sempurna untuk ulangan matematika. Mainan seks yang ada di tangan ayahnya kini merupakan favorit barunya, dia ingat betapa nikmat getar samar di ujung perangkatnya serasa menyuntik tepat ke biji prostat yang masih belum sepenuhnya berkembang itu. Belum lagi bentuk batangnya yang bertekstur membuat Megumi menegang terus-menerus saat terasa bola demi bolanya memijat erat tiap digerakkan keluar masuk dari celah sempit lubang analnya.
"Buka pantatnya, Sayang," bimbing Toji setelah kembali mendekat untuk berdiri di sisi kasur, ia hadiahi belaian di paha gemetar buah hatinya dengan batang mainan seks di tangannya.
Yang diperintah makin mengangkang, kedua tangannya menahan belah bokong bersemunya untuk membuka dan mempertontonkan cincin otot yang berkedut di tengahnya.
"Masukin…" desah Megumi yang terdengar setengah merengek terselip dari bibirnya.
Toji tertawa, ia tampar main-main sisi paha dalam anaknya yang otomatis menyalak kaget.
"Oh, jalangnya Ayah udah bisa merintah-merintah, ya, sekarang?"
Megumi kemudian melenguh kencang saat ia merasakan bukaan analnya meregang, senti demi senti tekstur bola mainan seks itu berentet masuk perlahan hingga setengah panjangnya.
"Oh—! Masukin, Ayah, mentokin!"
Namun kemudian tangan Toji meninggalkan gagang mainan yang menancap itu demi meraih sebelah puting mengacung anaknya untuk digaruk gemas. Ia rangsang bundelan saraf sensitif yang menegang itu beberapa saat sebelum mencubitnya pelan, lalu menghadiahkan sentil menggigit sebelum meninggalkan Megumi yang melolong denguh dibiarkan tanpa stimulasi sama sekali.
"Nggak sabaran banget, perek enaknya Ayah, padahal mainannya udah Ayah masukin juga ke bool kamu," Toji terkekeh menegur dan mendecak. "Kenapa? Boolnya udah gatel? Minta Ayah mainin sampe kena tempat enaknya Gumi, ya?"
Kangkangan kaki Megumi gemetar lebih lemas, Toji melihat cincin analnya mengedut sesak terangsang oleh tutur kata-kata kotor yang dilayangkan ayahnya sendiri.
"Minta yang manis dong, Sayang."
Megumi kembali merengek, bibirnya menekuk cemberut namun dengan hati yang mantap tetap mengangkang lebar sambil mengangkat pinggulnya sedikit untuk menunjukkan liang duburnya yang tersumpal mainan seks setengah jalan. Dengan mata penuh dengan binar seduktif yang naif, ia suarakan rayuan persuasif:
"A—Ayah… Tolong mentokin mainannya ke dalem bool Megumi… Gumi mau dikenain prostatnya terus-terusan, biar bikin Gumi enak sampe kedutan itilnya…"
Dan apalah daya sang ayah untuk tidak menuruti kemauan buah hatinya yang paling ia sayang?
Toji kemudian menarik gagang mainan seks itu hingga hanya ujungnya yang menyangkut di bukaan dubur anaknya, lalu dengan sekali hentak yang kencang ia mendorong batangnya masuk seluruhnya. Ia aktifkan tombol getar perangkat perangsang itu pada setting ke 5 dari 10 tingkat kekuatan, menyuntik getar redam tepat di gumpal saraf sensitif yang membuat bocah itu terkesiap dan melenguh panjang sembari refleks mendongak saat menerima stimulasi yang ia tunggu-tunggu dari tadi.
"UUUHNG…"
"Enak, Sayang? Tempat enaknya Gumi udah kena?"
Megumi hanya mengangguk cepat, di belakang kelopak matanya yang tertutup sedikit ia seperti melihat titik-titik putih yang buat kepalanya berputar. Otot analnya yang secara refleks mengetat dan mengendur membuat stimulasi pada prostat bocahnya makin intens—
Tapi ia ingin lebih, selalu ingin lebih. Karena otak bocahnya yang masih belum sepenuhnya berkembang sudah dikorupsi dan diajari untuk menikmati kala otot analnya dibanjiri stimulasi.
"G—gerakin… Ayah, tolong gerak—"
Tidak usah dititah dua kali, dengan mantap Toji menggenggam gagang mainan seks yang menyembul dari anal anaknya lalu menggerakkannya dengan kuat.
Memekik lagi Megumi dengan lantang dan terdengar bergetar penuh birahi. Lolongannya binal bercampur puas kala Megumi merasakan biji prostatnya tertonjok-tonjok ujung mainan seks yang dihunuskan berkali-kali jauh di dalam kanal otot sempitnya. Getar nanggung yang merambat di prostat yang masih kosong itu seakan menjalar langsung ke ereksi bocahnya yang berkedut sedikit-sedikit.
Bocah yang terkapar pasrah itu mulai menegang dan merapal lenguh kualahan, hentakan maju mundur mainan seks itu mengurut lipatan otot-otot di dalam analnya dengan seksama dan menekan-nekan telak pada prostatnya yang membengkak seakan tanpa jeda.
Toji tergelak puas menyaksikan anaknya yang bolak balik matanya berputar memutih terguyur banyak stimulasi, makin cepat gerak tangannya hingga memutih buku-buku jari dari genggam tangan berotot itu di gagang yang mempenetrasi lubang perjaka bocah itu.
"Lonte binalnya Ayah dientot pake mainan aja sampe dengus-dengus bego kayak gini. Gimana kalo nanti ngewe sama kontol Ayah, hm? Bisa jadi perek goblok yang ketagihan dientot kontol Ayahnya sendiri kamu," Toji berkata dengan senyum menyungging di wajah. "Bisa-bisa nanti kamu tiap saat ngerengek kalo Ayah nggak nyelipin kontol di bool kamu… Megumi idup cuma jadi sarung kontolnya Ayah aja, mau? Jadi memek becek tempatnya Ayah buang peju? Ayah entot terus bool Gumi sampe dower, sampe peju Ayah bocor kalo bool kamu nggak disumpel pake kontol Ayah?"
"NGUH! NGUH! AYAH! K—kontol! Sarung kontol Ayah— ngoh! Mau! Mau dientot, mau jadi bego! G—Gumi bego! Gumi bego dientot—"
"Gumi bego? Bego gara-gara disodokin terus biji prostatnya? Iya?"
"OHONGH! B—bego! Disodokin! Disodok sampe bego! Gumi… Gumi enak! Ayah, Gumi enak banget! Ihingh—!"
Makin menjadi gerak pergelangan tangan Toji, ia hentak kuat-kuat untuk menghujani hujaman di bundel saraf rangsang anaknya yang makin lama membesar bengkak dan jadi sensitif luar biasa. Toji refleks menghela geram rendah sarat nafsu kala ia melayangkan pandangannya ke ereksi kecil Megumi yang berkedut-kedut memerah, daging kecil itu memantul-mantul di atas perut gembil di bawahnya seirama dengan tiap penetrasi yang ia hentak.
Lelaki yang lebih tua itu kemudian menghujam masuk perangkat perangsang itu kuat-kuat, lalu dinyalakannya tingkat penggetar yang paling tinggi hingga terdengar samar bunyi rotor yang teredam dan tenggelam oleh desah kencang Megumi.
"A—AYAH! ENYAK! NGHUH…!"
"Mau dientot lagi apa dibenyekin kayak gini aja terus-terusan sampe itilnya kedutan, huh? Bilang sama Ayah."
"UNGHUUUNGH—!"
"Jawab, lonte, jangan ngelenguh tolol aja bisanya," yang lebih tua menitahkan jawaban verbal yang lebih kongkrit. "Mau diulek begini biji prostatnya apa diobrak-abrik lagi boolnya? "
"D—diobrak-abrik! Bool Gumi, berantakin aja pake kontol-kontolannya! Entot yang kenceng, yang cepet, sodokin… Mau boolnya dientot mainan sampe itilnya kedutan!"
"Nah, anak pinter… Megumi, bool rapetnya Ayah, pinter minta ngentot—!"
Dan bergerak lagi mainan seks itu keluar-masuk dengan cepat, hujamannya telak menanam getar kencang tepat ke prostat bocah Megumi yang membengkak disiksa stimulasi.
Toji tergelak, ia saksikan dengan puas buah hatinya merupa jalang birahi terus-menerus mendengus seraya dengan gerak mantap yang mengoyak dubur memerah itu sampai terlihat kelewat elastis. Pandangan sang ayah bolak balik melata kemana-mana; dari wajah merona Megumi yang air muka sudah terlihat tolol, matanya bergulir ke atas hampir memutih seluruhnya, bibirnya mengerucut dengan lubang hidung yang kembang kempis mendengus-dengus kencang, dadanya yang naik-turun membusung berhias dua pucuk puting yang menegang, dan pusat selangkangannya di mana ereksi bocah seukuran kelingking dewasa memantul-mantul berkedut bertandeman dengan sundul ujung mainan seks menonjok-nonjok prostat di dalam analnya.
Wajah yang lebih tua kemudian mendekat pada wajah berpeluh dan bersemu di bawahnya, ia raup bibir mengerucut itu untuk mencuri sesi kulum-mengulum lidah sembari mereguk haus leleran saliva. Toji lepas ciumannya setelah beberapa saat lalu memutuskan untuk menempelkan kecup-kecup ringan di telinga buah hatinya. Di antara bubuhan cium, gigit main-main, dan jilat basah, ia membisik kotor:
'Lonte enaknya Ayah', 'Lobang onaninya Ayah', 'Bool perawannya Ayah udah pinter belajar jadi bool perek', 'Binalnya Ayah keenakan dientot di biji prostat', 'Perek pinternya Ayah bisa keenakan kedutan itilnya kalo disodokin bool sempitnya'—
'Lonte'
'Perek'
'Pinter'
'Bool'
'Itil'
'Kedutan'
'Sodok'
Mata bocah yang makin tak fokus itu menjuling, dengus nafasnya makin berat bersamaan dengan lenguh tolol terdengar seperti betina estrus di musim kawin. Megumi makin gemetar, siap meledak menguap jadi korban birahi yang kebanyakan distimulasi.
"NGOH! NGOH! NGOH! MAU KEDUT-KEDUT ITIL! NGUH! UH! ITIL, KEDUT! UH! UH! ENTOTIN SAMPE BENYEK, SODOK— AYAH, SODOKIN DI TEMPAT ENAK GUMI! SODOK—"
Lalu berhenti.
Toji bangkit menjauh meninggalkan sisi kepala Megumi, membiarkan batang mainan seks itu ditelan kedut cincin otot anaknya yang membengkak dan mematikan mode getarnya. Ia tertawa puas melihat pinggul sang buah hati bergerak-gerak frantik mencari stimulasi untuk mengejar orgasmenya sendiri.
"Ngapain ngentotin angin begitu, Sayang? Pengen banget itilnya kedutan ya?"
Otot anal yang menelan mainan seks itu refleks bergerak meremas menyempit dan meregang memeluk tekstur bola yang merangsang di dalamnya namun tetap terasa kurang, bocah itu tahu ia tidak bisa orgasme hingga kedut-kedut enak hanya dengan mengejan-ejan.
"Yaaah," Megumi merengek lebih kencang sembari berusaha mengontrol pinggulnya yang tanpa sadar terus bergerak mencari friksi adiksi. "Bool Gumi— mainin lagi boolnya! Gumi mau dimainin lagi boolnya…"
Birahi Toji melejit makin tinggi, ia tidak sabar ingin mengerjai celah anal bocah itu habis-habisan namun masih ingin lihat seberapa jauh kewarasan anak lelakinya bisa terdorong oleh stimulasi-stimulasi setengah hati. Ia bangkit dari duduknya untuk berdiri dan meraih pergelangan tangan Megumi, menarik tubuh berpeluh itu rebah telentang ke tepi kasur hingga kepalanya terbalik menggantung di sisi tempat tidur. Desau pekik bercampur antusias terselip dari bibir Megumi saat Toji perhatikan lamat-lamat mata besar buah hatinya yang mendongak menatapnya seakan melihat makhluk yang agung— tatap penuh adorasi, berserah diri untuk dititah ayahnya sesuka hati.
Gumam rendah maskulin mengudara pelan, senang melihat anak lanangnya makin berantakan karena stimulasi dan menyerah rebah di atas ranjang.
Toji bergerak pelan sambil mengurut dan mengelus ringan otot hangatnya yang setengah menegang dari balik garmen celana kolornya. Ia sejajarkan area pelvisnya dengan wajah bersemu di sana, yang menanti dengan kepala hampir menggantung lemas di pinggir ranjang.
Ia gerakkan pinggulnya maju hingga bagian depan selangkangannya menekan wajah buah hatinya yang mendesah tertahan. Dengan kekeh puas ia beri tekanan lebih hingga menempel menggesek di sepanjang wajah bocah di bawahnya; buah zakarnya yang berat dekat mata yang terpejam, batang kemaluannya hangat melintang di sisi hidung bangir dengan pucuknya yang berkedut di bibir bawah Megumi yang ranum.
Telapak tangan yang besar dan kasar mulai menyusuri tubuh pasrah yang tergeletak itu tandem dengan gesekan pinggulnya, perlahan meremas bagian dada yang kini sudah serupa gadis belia. Desah tertahan Megumi mengalun serupa rengekan terhalang sepanjang tegang yang masih bergerak, telapak tangan lebar milik ayahnya kini menjalar ke lekuk indah pinggang dan pinggul tubuh pra-pubernya. Dengan perlahan sampailah ke permukaan paha yang bergetar menahan birahi dengan elusan ringan— elus merangsang, membentuk pola-pola tak kasat mata dengan kuku-kukunya. Toji remat agak kuat sebelum akhirnya membimbing tungkai-tungkai kaki pendek itu untuk menciptakan jarak, kemudian disuguhi pemandangan ereksi bersemu anaknya dan tangkai mainan seks yang menyembul dari bukaan anal yang ia sumpal tadi.
"Ngangkang, Sayang," perintah Toji dengan erat genggamannya seakan merajah di kulit paha gemetar di bawah sana. "Tahan kakinya biar nggak nutup, Ayah mau liat itil kamu kedutan."
Dengan insting pelacur yang bagai mendarah daging, berkedutlah kelamin bocah yang merona itu beberapa kali. Rengekan Megumi mengalun pelan menyebar getar samar di sekitar ereksi sang ayah.
"Pinternya Ayah,"
"'Yah…"
"Emang lacur Ayah yang paling pinter," Toji memuji di bawah kekeh adorasi.
Kecup. Kecup. Kecup.
Dan Tojipun makin tergelak. Ia lihat anak lelaki kesayangannya memang sudah sepenuhnya menjelma serupa jalang kecil, mengecup dan mengecap tiap senti permukaan ereksi ayahnya sendiri yang masih terbungkus celana kolor tipis dengan deru desah dan desau. Seakan memberitahu seberapa inginnya ia dipergunakan oleh perkasa sang bapak yang menciptanya dari mani yang sama sumber asalnya.
"Ooh, perek binal, mau kontol Ayah, ya? Udah nggak sabar nyepongin Ayah sampe enak?"
Toji lihat buah hatinya mengemut sepetak fabrik kolornya tepat di bagian bawah kepala kemaluannya, ia dengar lenguh Megumi yang sarat dengan haus yang minta direguk untuk mengecap langsung panas kulit ereksinya yang mulai berkedut semakin responsif.
Dibebaskannya kejantanannya dari kungkungan kain tipis si lelaki yang lebih tua. Ia tekankan pusat selangkangan telanjangnya ke wajah Megumi erat-erat sampai ia dengar desau bocah itu mengambil nafas dalam-dalam, mereguk aroma keringat berbau jantan berjejak pesing sisa kencing dan juga pra-mani yang mulai mengumpul di pucuk otot perkasa itu.
"Ng—ngoooh…" lenguh gumam Megumi mengalun pelan, kemudian diiringi dengan kekeh kecil yang terdengar tolol bertandeman dengan kecap bunyi bibir membubuhi adorasi di sepanjang tegang ereksi telanjang bapaknya sendiri.
"B—bau kontol Ayah… Mwah… Kontol enak…"
Kecup. Kecup.
"K'ntol Ayah…" suara kecupan dari bibir ranum dengan kulit otot yang memanas terus berentetan. "Anget… G'de… Mwah, 'Ngumi— Gumi mawu… Mulut Gumi—"
Dihadiahilah satu kecup yang paling basah untuk membelai manja ujung kepala otot tegang itu. Megumi kecap anyir pra-mani ayahnya lamat-lamat, mengulum lendir itu lebur dengan liurnya sendiri hingga membangkitkan fiksasi dari adiksi yang ia ingin penuhi sedari tadi.
Sungguh, Megumi memuja setiap inci kulit telanjang, urat-urat menonjol, dan juga panas aura kejantanan tegang yang kini bersarang nyaman menutup hampir seluruh permukaan wajah bersemunya.
Kecup. Kecup. Kecup. Kecup. Kecup— dan satu jilatan melintang di sepanjang bagian bawahnya mulai dari biji pelir hingga pucuk basah bersunat yang berbubuh pra-mani.
"Kontolnya Ayah— uhm, mwah… Hehehe…"
Dan yang menonton dari tadi makin tersulut gairahnya.
Toji rasakan kedut tak sabar merambat di otot tegangnya yang menempel di permukaan wajah anaknya. Ia menggeram rendah, pinggulnya ia hentakan makin menjadi untuk menggesek sepanjang ujung hingga zakarnya di wajah bersemu itu. Ia rasakan friksi yang makin menjadi bergabung sensasi dengan getar gema desau tertahan Megumi yang seluruh wajahnya menempel erat terusak kelamin ayahnya untuk dijadikan alat masturbasi. Tiap hentak Toji infuskan aroma kelelakiannya ke dalam indera penciuman anaknya yang paling peka, membiarkan bocah kecil itu terkondisi untuk mabuk dan tunduk dalam bau khas lelaki penuh birahi.
"Oh, Gumi, lacurnya Ayah, cium terus kontolnya— Megumi, enaknya gesek-gesek di muka kamu, oh—"
Aah, sungguh ingin Toji onani saja di sana, menggesek terus-terusan biar terbenam seluruh wajah rupawan sang anak di selangkangannya sampai sulit bernafas hingga memuntahkan mani sehangat lahar di permukaannya begitu saja.
Tapi Toji tetap ingat mulut hangat Megumi serta instrumen kerongkongannya yang seakan tak punya refleks tekak— oh, sungguh kerongkongan paling nikmat yang serupa kemaluan.
Dengan segenap kontrol birahinya, lelaki yang lebih tua itu akhirnya menjauhkan selangkangan berpeluhnya dari wajah bersemu Megumi yang sudut pandangnya berjungkir balik. Ia lihat anaknya mengambil nafas dalam-dalam di bawah selimut tipis sisa-sisa aroma kejantanan ayahnya sendiri, raut air mukanya seakan kecewa karena direnggut adiksinya yang berupa bau pemantik birahi betina. Toji puas menonton pemandangan dibawahnya, mata nyalang yang bersepuh airmata tipis putus asa sang buah hati membuatnya ingin cepat-cepat mengerjainya lebih dari ini.
"Ayah pake mulutnya, ya?"
"Hnghhh—”
Ditepuk-tepuk otot menegangnya ke bibir rekah bocah lanangnya. Ia lihat celah kedua belah bibir itu makin lama makin besar, ingin segera mengecap bulat-bulat bentuk serta tekstur kekar kelelakian di depan wajah yang bersemu tegang dengan nafsu.
"Ngomong, Sayang. Dibilangin, Ayah nggak ngerti kalo kamu ngedesah doang."
"I—iya, Ayah."
"'iya, Ayah', apa?"
"Pake mulut Gumi… Gumi mau dipake mulutnya sama Ayah…"
"Anak pinternya Ayah…"
Dengan genggaman yang mantap, Toji raih rahang Megumi yang sudah melemas pasrah, ia jejali ujung kepala otot tegangnya ke antara celah bibir di bawahnya dan membimbing belah ranum itu hingga mengatup di sekitar kemaluannya. Toji mengerang puas kala buah hatinya mulai mengulum dan menggumam desah tertahan.
“Aah, ngentot— Megumi, lobang enaknya Ayah… Pinter—”
Yang diberikan pujian di bawah degradasi malah makin tersulut birahi. Megumi membiarkan insting betinanya melacur lebih lagi, ia paksakan kepalanya mengangkat hingga lehernya menegang untuk menyambut kejantanan ayahnya masuk lebih dalam. Senti demi senti ayahnya memenetrasi mulutnya sampai menjuling bocah itu menahan sensasi ganjil tekaknya yang tertekan dan tergesek masuk kepala phallus di awal bukaan kerongkongannya.
“Ooh, Megumi, binalnya Ayah… Ayah entot tenggorokannya sampe mentok, ya? Ayah pake mulutnya buat coli biar kontol Ayah enak, ya?”
Dengan satu hentakan pinggul, Toji melesak masuk lebih dalam ke kerongkongan anaknya sendiri. Ia rasakan lamat-lamat sensasi menyempit di sekitar otot tegangnya kala Megumi tersedak dan berusaha beradaptasi dengan melebarnya celah kerongkongan yang ikut bergemuruh menahan lenguh. Biji zakarnya yang hangat bertengger di antara mata dan pangkal hidung anaknya turut tergesek menempel makin erat ke wajah di bawahnya ketika Toji masih memaksakan ujung kejantanannya jauh lebih dalam di kerongkongan basah itu.
“Anak Pinter,” Toji menyanjung di bawah lenguh birahi yang makin menjadi. “Enakin kontol Ayah, ya?”
Lalu bergeraklah pinggul lelaki itu— menarik dan mendorong, terus-menerus hingga suara basah mengalahkan gema lenguh dan desau tertahan Megumi yang berusaha untuk tidak tersedak kala kerongkongannya dipakai semena-mena. Makin cepat dan makin kuat gerakan itu sampai Toji tidak peduli apa-apa lagi selain dikontrol insting hewani untuk mengawini mulut anaknya sendiri layaknya sarung onani pribadi.
Bunyi becek dan tersedak Megumi menjadi bahan bakar hawa nafsu Toji yang makin membuncah. Ia tidak dapat melihat jelas raut wajah Megumi yang ia duduki dan kangkangi kali ini, namun ia bisa membayangkan kedua bola mata anaknya yang menjuling layaknya jalang bodoh— ooh, melihat liur dan pra mani yang meleber di sekitar katupan bibir anaknya sendiri saja sudah membuat Toji tak kuasa untuk menahan denyut-denyut rangsang di otot membesarnya nikmat diurut lubang basah bak organ seks itu.
Toji terkekeh kencang, genggam tangannya melayang ke batang leher Megumi yang menyembul-nyembul menggendut tiap kali ia mendorong selangkangannya merapat ke wajah bersemu buah hatinya. Bunyi ‘gwok gwok gwok’ kencang menggema bertandem dengan ritme kawinnya, organ berlendir itu benar-benar sudah mewujud lubang kopulasi— basahnya, sempitnya, reaksinya, bahkan sensitifitasnya…
Karena Toji tahu, kemaluan bocah Megumi berkedut-kedut basah tanpa henti tiap kali bagian tekaknya tertonjok ujung kejantanan kekar ayahnya.
Makin menjadi sang ayah menggauli celah kerongkongan anaknya yang tumpah ruah oleh liur dan juga pra-maninya.
"Bocah lonteee—! Enak banget ya, memek-mulutnya dientot kayak gini, huh? Suka kalo tenggorokannya disodok kontol Ayah sampe mau muntah kayak gini? Emang bocah murah, beneran cocoknya jadi lonte aja… Mana ada anak yang mau nelen kontol bapaknya sendiri? Lagian cuma lonte yang mau tenggorokannya dibuat jadi alat onani orang lain— Bangsattt!"
Tak kuasa Toji merogol paksa mulut buah hatinya sendiri hingga di kepalanya yang tersisa hanya insting untuk kawin. Senatural bernafas, ia goyangkan pinggulnya maju mundur tanpa lagi berfikir dan ingat kalau yang sedang ia kawini itu hanya lubang kerongkongan. Bola matanya mulai memutar putih kala dia mendongak menyalak lenguhan-lenguhan nikmat sampai akhirnya berbuah kekehan puas, ia hentak ereksinya sekali dengan kuat hingga membuat permukaan batang leher bersemu anaknya menggembung mencetak bentuk ujungnya.
Dan ditahan posisinya itu beberapa saat. Satu detik berubah jadi dua, tiga, lima—
Toji gerakkan pinggulnya sedikit-sedikit, ingin masuk lebih dalam lagi walaupun ujung ereksinya masih nyaman menekan tekak mulut Megumi di dalam sana.
"Oohhh… Ngentot, enak banget— Gumi, binalnya Ayah… Tenggorokan rapetnya emang paling enak buat Ayah pake onani…"
Detik-detiknya makin panjang ditahan hingga sepuluh, dua puluh lima, tiga puluh satu—
"OHOGHK—"
Kerongkongan itu menyempit lebih kecil lagi. Di bawah sana, Megumi berusaha untuk terus bernafas dari hidungnya saat reflek tekaknya meronta dan memuntahkan reproduksi lendir liur pekat yang bercampur dengan enzim pencernaan dari sisi-sisi mulut tersumpalnya.
Sang ayah menyalak tawa puas saat ia tarik keluar otot tegangnya dari rongga kerongkongan anaknya. Ia gesekkan sepanjang batang ereksinya di wajah Megumi yang memerah megap-megap mereguk udara dari nafasnya yang direnggut sesaat, cairan pra-mani dan juga campuran saliva dan enzim pencernaan terpeper rata di permukaan yang tergesek kejantanan lelaki yang jauh lebih tua itu. Jejak basah berlendir pekat melumuri sepanjang wajah Megumi— pangkal hidung, cuping, bibir, hingga dagu, sembari yang dipakai masturbasi hanya bisa mengatur nafas dan menghirup dalam-dalam aroma jantan dan liur pada pusat selangkangan ayahnya.
"P—pinter, mangap lagi, Sayang,"
Sedetik setelah Megumi mengambil nafas panjang dan membuka bibirnya, ereksi Toji merangsek masuk hingga terselip kepalanya di bukaan tenggorokan anaknya lagi. Dengan dikendarai nafsu yang makin lama menguap makin tinggi, Toji rogol celah berlendir itu kuat-kuat hingga membuat Megumi tercekat lagi.
Gerak maju-mundur yang cepat menjadikan Toji bagai pejantan tanpa otak, hanya tahu insting kawin terus-menerus menjejalkan kelaminnya ke celah hangat sampai penuh sesak. Ia merasakan kerongkongan Megumi mengendur dan menyempit dengan getar redam lenguhan yang merambat sekan terasa jelas sampai ubun-ubun dan jari kaki. Beberapa saat setelah pergerakan frantik dari yang paling tua, sesekali ia tekan kembali kuat-kuat kepala ereksinya yang terselip jauh melalui tekak sang anak dan berhenti untuk menghitung detik-detik di dalam kepalanya yang berkabut— tidak terlalu lama namun tetap membuat Megumi tercekat dan tersedak campuran lendir di dalam saluran yang bergetar bolak-balik meremas.
Tiga, lima, tujuh kali Toji menanam pucuk kejantanannya jauh melewati tekak dan membuat sang buah hati tersedak batang ereksinya sendiri.
Tapi apa pedulinya? Megumi sendiri, kan, yang bilang ingin dipakai layaknya sarung onani?
"NG—GOHOEK!" Bunyi yang sudah hampir menyaru serupa suara muntahan itu kemudian diikuti oleh lirih lenguh yang manja kala pinggul Toji bergerak mundur hingga terlepas kembali ereksi perkasa itu dari celah mulut Megumi.
"Nafas, Gumi. Jangan lupa nafas. Mentang-mentang sekarang sibuk jadi lobang onani buat Ayah jadi lupa caranya nafas kayak manusia, ya?"
Kekeh pelan seakan menggema di sekitar ruangan ketika Toji lihat anaknya membubuhi kecup-kecup basah di bola-bola zakarnya yang berat dengan bunyi kecap dan juga tarikan nafas, Megumi tanamkan hidungnya di kulit antara dua pelir ayahnya untuk mereguk bau jantan dari selangkangan kokoh di hadapannya— nafas dalam, lalu menghela pelan dengan samar bunyi 'ngoh' terselip dari bibir bengkaknya untuk menghadiahi dirinya sendiri fiksasi dari adiksi sensori yang ia idap kini
Ooh, benar-benar jalang kecil paling pintar.
"Kamu beneran mau jadi sarung kontol Ayah yang nggak perlu nafas, ya? Lacurnya Ayah mau jadi lobang onani aja? Ngisepin bau kontolnya Ayah tiap hari?"
Pinggul Toji mulai bergerak kembali setelah ereksinya ia selipkan lagi ke celah kerongkongan anaknya— kini bergerak lebih cepat, hentak-hentaknya seakan lebih menonjok dan tergesa demi mengejar ejakulasi. Lalu ia meraih ke antara paha Megumi yang gemetar dan, akhirnya, menggenggam gagang mainan seks yang dari tadi bergeming menyumpal celah dubur bocah lemas di bawahnya.
Lenguhan pekik terkejut Megumi menggema di kerongkongan dan mulutnya yang tersumpal, membuat ayahnya makin menyeringai tidak sabar untuk bertandeman mengerjai tekak mulut sempit dan juga prostat bengkak anak lanangnya sendiri.
Tojipun menarik perangkat itu hingga ujung, dan menghujamnya kuat-kuat sampai memampat liang anal yang dikerjainya itu. Remasan otot kerongkongan Megumi makin sempit pula karena rantai reaksi yang berbuah lenguh tertahan memanja otot tegang yang merogol cepat di dalamnya.
"Ayah bantu benyekin biji prostat kamu ya? Biar tenggorokan Gumi makin rapet keselek kontol Ayah!"
Sisa beberapa menit setelahnya terasa seperti pola cabul yang berulang tanpa akhir. Terus-terusan bagaikan menghipnotis, walaupun lebih terlihat serampangan dan feral karena esensinya memang hanya berupa kegiatan kopulasi tanpa pembuahan untuk mengejar pelepasan.
Tarik, hujam. Tarik, hujam. Tarik, hujam. Tarik, hujam—
Kedut, kedut, menyempit.
Lalu lenguh tertahan yang terperah.
"Ngentooot—! Gitu, Sayang, keselek lagi! Pijet kepala kontol Ayah pake tenggorokan Gumi! Ayo, Sayangnya Ayah, lanang binalnya Ayah… Megumi, lobang ngewenya Ayah paling enak… Ah…!"
Hujam, hujam, hujam, hujam—
"ANJING—!"
"OHOEK—"
Megumi tersedak lagi. Toji tarik lepas ereksinya yang menegang memerah dari mulut Megumi, ia saksikan anaknya mengejar nafas dan menghirup udara yang tidak lagi beraroma pubisnya.
Yang dibawah melenguh kencang setelah meludah genangan lendir di rongga mulutnya, ia buka bibirnya lebar-lebar dengan lidah yang menjulur dengan siap mengecap mani hangat yang ia tunggu-tunggu. Tidak ada waktu untuk menyeka dan membersihkan sekitar mulutnya yang belepotan campuran liur, pra-mani dan enzim pencernaan pekat di sana.
"'Nyah… Anyaaah, pwejyuuuh… Pwejuh anyaaangh… Maw pwejuh Ayah—!"
Mau peju Ayah.
Insting berkawin Toji sudah diambang batas, ia raih kedua lutut anaknya untuk berpegangan dan ia remas kuat-kuat sembari melanjutkan gesekan pinggangnya ke wajah bocah yang berantakan itu. Ia lapisi permukaan wajah Megumi dengan lendir campuran liur, pra-mani, dan enzim pencernaan pekat yang membungkus sepanjang ereksi tegangnya hingga licin, membuat tiap senti kulit wajah anaknya hanya sebagai alat onani lagi.
"OH! Oh, Megumi— anak Ayah, ah! Rasain peju Ayah, Sayang! Telen peju yang Ayah tumpahin di muka kamu! Hoh! Ayah onani pake muka Gumi lagi— OH! PEJU AYAH BUAT KAMU, SAYANG! HOH, MEGUMI! MEGUMI—!
Dan memancarlah mani kental dari sang ayah, lecut demi lecut semprotan sperma Toji mendarat di lidah, bibir, hidung, dagu, hingga melesat ke leher dan tulang selangka anaknya. Toji melolong puas sambil mengurut sisa-sisa orgasmenya dari kelaminnya yang melemas perlahan-lahan, dengan isi kepala yang masih berkabut ia meracau macam-macam— 'Bocah lonte', 'Anak pinter', 'Lobang enak', 'Sayangnya Ayah'.
Hingga gelenyar puncak kenikmatan itu hilang sepenuhnya tinggal berbekas ritme nafas dan wajah anak lanang yang belepotan campuran sekresi, Toji tahu satu hal yang pasti harus ia lakukan untuk memberi kompensasi kepada bocah yang masih merebah pasrah di bawahnya.
Toji menunduk, mengecup sekilas bibir berselimut maninya sendiri itu sampai ia menerima lenguh manja dari Megumi yang sudut pandangnya masih terbalik dengan kepala menggantung. Lelaki yang lebih tua itu kemudian naik ke kasur dan mengungkung tubuh Megumi di bawahnya, ia bawa kedua tangan anaknya pada kedua tungkai berpeluh itu untuk menahan belakang lututnya dan mengangkatnya lebar-lebar.
"Sayang, Megumi, Sayang, Ayah mau liat Gumi keenakan buat Ayah."
Sebelum Megumi memberi jawaban ataupun sekedar angguk setuju, Toji sudah meraih gagang mainan seks yang menyembul dari duburnya dan menggerakkannya kembali— tepat dan telak dia hujamkan ke area buntelan daging sensitif yang membengkak besar di dalam.
Lolong memohon terselip dari bibir Megumi yang lama kelamaan menjelma jadi senyum tolol lagi. Bunyi denguh dan racau inkoheren mulai berkumandang lagi karena akhirnya— oh, setelah sekian lama dikerjai dan dipakai disuruh tunduk patuh jadi anak baik, ia diberi permisi untuk merasakan rasa enak tak terhingga yang dari tadi ia nanti-nanti.
"AYAHNG…! AYAHNG…! NGUH—!"
"Anak pinter, udah enakin Ayah. Ayah sekarang enakin Megumi sampe Gumi muncrat buat Ayah, ya?"
Hujam. Hujam. Hujam. Hujam.
Megumi terkekeh tolol di antara lenguh dan denguh nikmat, kepalanya seakan kosong sama sekali.
"HEHEHE... ENYAK, AYAH, ENYAAAK…!"
"Iya, Sayang, enak, ya, prostatnya?"
Hujam, hujam, hujam terus.
Rentetan percakapan kotor demi merangsang tubuh binal bocah belum puber itu berselingan dengan deru nafas dan denguh vulgar Megumi.
"NGOH! OH! AYAH— SAMPE ITIL! ENAKNYA SAMPE—"
"Anak lanangnya Ayah, anak nurut, muncrat, Sayang. "
Ah, Megumi sudah di ujung. Dia sudah nyaris berada di ujung kenikmatan duniawi yang paling jago buat adiksi. Terus-terusan saja Megumi dibuat begini, bisa-bisa kecanduan seks tanpa pelepasan yang menjanjikan nikmat tanpa henti.
"Lobang enaknya Ayah,"
Ereksi bocahnya mulai mengedut liar.
"Iya, kedutin itilnya buat Ayah."
Makin berkedut otot seukuran kelingking dewasa itu—
"Enak buat Ayah, Sayang, jadi perek pemuas nafsu buat Ayah yang cuma bisa kedut-kedut—"
Hujaman selanjutnya terasa lebih dalam, lebih kencang—
"NGUH!"
Dan bergetar.
Lepas tuntas sudah orgasme bocah itu, bergulung-gulung, berkali-kali lipat. Jemari kakinya bergelung, bola matanya berputar hingga putih, mulutnya merapal denguh dan racau inkoheren.
"NGOHOOOH— OH! OH! KEDUT! KENCENG! ITIL! BOOL AKU, KEDUT! NGHUH! ENAK! BOOL! ITIL! UHNG! AYAH—!"
Toji tetap menggerakan mainan seks di genggamannya itu telak ke arah prostat pre-puber anaknya yang kejang-kejang dilanda orgasme, otot anal di dalam ikut berkedut mencengkram dan melepas batang bertekstur itu hingga sedikit sulit bergerak lagi. Ia saksikan ereksi bocah anaknya berkedut-kedut intens, dada berpeluhnya membusung dengan puting yang membengkak tanpa stimulasi. Perlahan Toji kecup sepanjang leher tegang Megumi yang berbercak maninya sendiri, dengan lembut ia mulai mengecup dan menyanjung anak lanangnya yang patuh.
"Anak pinter, kedut-kedut buat Ayah… Enak buat Ayah sampe lemes. Lonte binalnya Ayah, keenakan sampe kayak gini, Sayang." Toji terkekeh pelan sembari mematikan mode getar pada perangkat pemuas di tangannya.
Beberapa saat yang terjadi hanya ada sisa denguh-denguh adiksi dari bibir mengerucut sang bocah, pinggulnya bergetar masih bergerak kecil-kecil terantuk orgasme yang kuat. Megumi yang mulai turun dari puncak orgasmenya akhirnya merileks kemudian, tungkai-tungkai kakinya yang tadinya terangkat tegang akhirnya jatuh mengangkang di permukaan kasur.
"Ayah… Enak…"
"Enak banget, ya?"
"Prostat enak aku disodok terus… Dibenyekin sampe enaknya ke itil aku…"
Toji tergelak kencang, dengan gemas ia kecup pelipis berpeluh Megumi.
"Makin ketagihan ya, kamu, boolnya dimainin terus?"
Megumi hanya bisa mengangguk pelan, mengiyakan adiksi seksnya yang menguat hasil doktrin cabul ayahnya sendiri.
Yang lebih tua mengecup daun telinga anaknya, Toji gigit main-main dan sesap perlahan hingga memerah desau lelah sebelum berbisik di perpotongan leher Megumi.
"Kapan-kapan Ayah entot pake kontol Ayah. Ayah rojokin boolnya, Ayah entotin sampe bikin prostat kamu lebih benyek. Nanti sekalian Ayah perawanin rahim-bool kamu…"
Bocah lelah itu mengernyit. Ia tahu rahim hanya dimiliki oleh perempuan karena waktu itu ia baca sekilas dari ensiklopedia milik temannya, namun ia juga tidak yakin laki-laki sepertinya punya rahim di dalam duburnya.
Tapi mau bagaimana lagi, pelajaran ilmu pengetahuan alam di sekolah belum pernah mengajarinya anatomi manusia yang lengkap. Bocah yang masih belajar di tingkat sekolah dasar mana mengerti detail organ dalam tubuh perempuan dan laki-laki.
"Gumi… Punya rahim… Di bool?" Tanya Megumi pelan.
Oh, anak pintar. Betapa polosnya, dan juga punya rasa ingin tahu yang tinggi.
Tinggal beritahu saja apapun yang Toji ingin Megumi mengerti, walaupun itu adalah sebuah misinformasi. Sang ayah sangat bisa mengedukasi bahwa celah bukaan colon di ujung anal anaknya merupakan organ penampung jabang bayi yang sama dengan rahim yang wanita miliki, ia bisa bilang juga kalau tempat itu memang seharusnya dimasuki oleh ereksi perkasa ayahnya agar bisa merasakan enak yang jauh lebih luar biasa dari sebelum-sebelumnya.
Dan Tojipun melakukannya.
"Ada bagian bool Gumi yang paling dalem yang belom pernah dienakin siapa-siapa. Biasanya dienakin pake kontol soalnya tempatnya jauh di dalem perut Gumi."
Sang ayah mengularkan sentuhan telapak tangannya yang kasar ke perut gembil anaknya, ia tekan ujung jemarinya di satu titik yang terletak beberapa senti di atas pusar Megumi.
"Kira-kira di sini, rahim-boolnya Gumi. Nanti bakal Ayah entot sampe lebar, biar tiap ngewe sama Ayah kepala kontolnya Ayah bisa gampang nyelip lagi di rahim-boolnya Gumi."
Megumi mengerjap pelan, membayangkan ereksi perkasa ayahnya yang setebal dan hampir sepanjang lengannya sendiri masuk ke dalam analnya yang terasa rapat. Apa sensasinya seperti saat sang ayah melebarkan celah bukaannya dengan jari-jari kapalannya pertama kali? Atau akan lebih perih menggigit?
Tapi, dimasukin jari Ayah aja udah enak. Kalo dimasukin pake kontol… Pasti lebih enak… Kan?
"Sakit nggak?"
"Nggak usah takut, Gumi. Buat anak Ayah yang lonte binal kayak kamu gini sih yang ada bakal keenakan sampe tolol," Toji berujar dengan senyum di bibir. "Kamu nelen kontol Ayah aja bisa sampe keenakan, apa lagi pas Ayah masukin kontol sampe mentok ke dalem rahim-boolnya kamu yang masih sensitif."
Binar penasaran berkelebat di dalam bola mata Megumi yang masih berkabut, ia mengangguk kecil untuk mengiyakan harapan cabul ayahnya.
"Iya… Kapan-kapan Gumi mau diperawanin rahim-boolnya sama Ayah…"
Toji terkekeh pelan. Memang binal kesayangan, sudah pasrah berserah jadi pemuas nafsu ayah sendiri untuk diajari macam-macam sampai garis asusila mengabur dan tidak lagi jadi tabu.
"Ng—nguh!"
Megumi melenguh kencang saat prostat yang sudah dari tadi terstimulasi tertonjok lagi oleh ujung mainan seks yang dihentakkan ayahnya kuat-kuat— hanya sekali, kemudian dicabut cepat hingga keluar seluruhnya dari celah sempit yang kini dibuat menganga beberapa senti. Leburan pelumas hangat dan sekresi cairan usus yang kental perlahan mengalir keluar mengotori sprei di bawah bokong bocah yang masih lemah merebah itu.
"Bilang apa?"
"M—makasih, Ayah..."
Lalu Toji terkekeh dalam, dua ujung jarinya menyangkut menyusuri seputar bibir anal bocahnya yang merekah seakan dower. Sekitar otot di sana makin elastis dengan kerut bengkak yang kini bagai ujung-ujung kelopak.
"Pinter, emang lobangnya Ayah paling enak... Ayah nggak sabar merawanin Megumi pake kontol Ayah."
Dan makin berkedut menganga celah merah segar anak lanangnya itu.
