Chapter Text
"Je."
"Hm?"
"Boleh minta tolong ga?"
Jaehyun menoleh.
Dia letakkan bukunya di atas meja, lalu melirik teman yang barusan mengajaknya bicara.
Yuta tengah garuk-garuk kepala, berdecak ragu, enggan menyampaikan suara. Meski pada akhirnya, dia buka mulutnya, "Temenin kembaran gue."
"Ngapain?"
"Dia baru dateng dari Korea, gaenak kalo sendiri doang di Apart. Gue mau pergi bentar sama Winwin soalnya besok doi mau balik ke China."
Kepala Jaehyun berkedut ngilu, "Terus? Emang kembaran lo kalo ditinggal bakal ilang?"
"Ya- engga sih," balas Yuta, "Tapi, gue minta tolong temenin dia main. Gue- sebenernya uda keburu janji mau pergi sama dia, tapi tiba-tiba Winwin bilang mau balik ke China besok. Bisa-bisa nyawa gue ilang kalau kembaran gue ngamuk."
Jaehyun putar matanya, "Lo yang janji kenapa gue yang repot?"
Yuta berdecak, "Tolong, dong. Sekali aja." Dia hela nafas panjang, "Tar apa yang lo mau gue turutin, deh."
Jaehyun melirik sinis, "Ini kalaupun gue nolak juga lo bakal maksa sampe gue bilang iya, kan?"
"Hehe. Pinter."
—
Jadi, begitulah awal-mula kenapa Jaehyun, mahasiswa yang merantau dari Korea ke Jepang, berdiri di depan tempat tinggal temannya yang berdarah keturunan campuran Korea-Jepang.
Yuta punya seorang kembaran, sosoknya kini tengah mata Jaehyun tangkap di ambang pintu apartemen, menyambut kedatangannya dengan begitu dingin.
Sedikit Jaehyun merasa tidak diharapkan kehadirannya, meski demikian dia masuk dan duduk di ruang tengah dengan kikuk.
Benar-benar tidak ada perbincangan yang terjalin di antara mereka; keduanya saling diam termakan sunyi.
Jaehyun tidak kaget dengan apa yang terjadi—malah, dia sudah bisa tebak dari sejak Yuta memaksanya datang.
Satu hal yang tidak orang ketahui tentang hubungan Jaehyun dan Yuta—bahkan, Yuta sendiri pun tidak tahu kalau dia tidak tahu—yakni tentang Jaehyun yang pernah dekat dengan kembaran Yuta, bahkan pacaran, meski hanya berlangsung dua minggu.
Pertama, hal itu terjadi karena mereka masih SMP—cinta monyet sialan yang mengubah hubungan mereka seumur hidup. Kedua, mereka sudah memilih putus kontak setelah berakhirnya hubungan mereka.
Singkatnya, mereka saling benci dan pertemuan hari ini adalah yang paling mereka hindari.
"Pulang gih, gausah disini."
"Yuta yang nyuruh."
"Nurut banget lo. Anjingnya?"
Kontras dengan hubungan Jaehyun dan Yuta yang penuh kesetiaan, dia dan kembaran Yuta itu punya jalinan penuh sulutan api diantara mereka.
"Kalo ga suka sana masuk kamar."
"Dih? Apart gue bukan Apart lo."
"Apart Yuta."
"Apart Yuta Apart gue juga."
Jaehyun mendenguskan nafasnya pasrah, "Denger," desisnya putus asa, "Lo gausa anggep gue ada, gue juga bakal ngabaiin lo dan ga ganggu hidup lo. Gue bakal pulang waktu nanti Yuta pulang. Aman?"
"Aman biji mata lo."
Taeyong menyorot sinis, dia sisir rambut depannya penuh congkak sebelum lewati Jaehyun dan menuju dapur, memamerkan otot lengan yang dia pompa beberapa bulan belakangan.
"Lagian-" dia tenggak minumnya, "Yuta juga tolol malah nyuruh lo ke sini," gumamnya kesal.
Informasi tambahan; Taeyong sudah telfon Yuta dan siap memaki kembarannya tapi ponsel kembarannya itu sengaja dimatikan agar tidak menerima protes darinya ditengah-tengah kencan. Bajingan.
"Je, lo pergi deh." Sekali lagi, Taeyong usir Jaehyun dengan nada yang lebih serius, "Ga seharusnya lo disini."
Tubuh Taeyong bersandar pada meja dapur, tangan masih genggam erat air dingin yang tadi dia lelehkan ke dalam kerongkongan keringnya.
Anehnya- suara Taeyong melemah, tidak sekuat sebelumnya. Sirat emosi reda, tidak segarang sebelumnya. Badannya terlihat begitu defensif, tegang, terlihat tangannya mencengkram marmer sampai jarinya berkerut.
Jaehyun memicingkan mata dan menangkap wajah Taeyong yang jauh lebih merah daripada saat dia baru datang.
Baru dia pejamkan matanya, tersadar kenapa Taeyong bersi keras mengusirnya pulang. Bukan semata-mata karena benci akan kehadirannya—termasuk salah satu faktor, betul, tapi bukan jadi faktor nomor satu.
Jaehyun pijat batang hidungnya yang nyeri seketika, dia hembuskan nafasnya panjang, "Mau aku bantu?"
Harum floral dengan notes yang begitu powdery menyumpal lubang hidung Jaehyun, begitu kuat sampai kepalanya berputar pusing. Sudah lama tidak dia sapa harum Taeyong yang lelaki itu berhasil sembunyikan beberapan waktu lalu. Ingatannya masih lekat menempelkan memori tentang aroma yang kini tengah dia hirup sampai nyaris mabuk.
"Masuk kamar, aku cariin suppressant."
Jaehyun langsung bangkit dari sofa dan merutuki sahabatnya di balik dada. Lagipula kalau dipikir-pikir, Alpha mana yang biarkan Alpha lain berada di satu ruangan bersama seorang Omega yang bukan mate-nya?
Cepat-cepat dia raih mantelnya, bersiap melewati hujan badai salju di luar sana—
"... Beberapa toko harus tutup karena badai yang belum kunjung berhenti. Pemirsa di rumah dimohon untuk jangan ke luar rumah sampai kondisi di luar mereda, sampai kami beritakan bahwa sudah aman untuk melakukan aktivitas di luar rumah. Park Ji Sung, melaporkan."
—langkahnya bergerak ragu saat dia dengar berita dari tv yang belum sempat Taeyong matikan.
Jaehyun putar kepalanya, menatap ragu ke si pemilik tempat tinggal. Kalaupun dia keluar dari Apart Yuta, dia pasti tidak diizinkan keluar oleh satpam di depan sana.
"Kamu masi punya ga? Kotak P3K ada? Kamu punya kotak obat ga?" Jaehyun panik, kalimat pengganti untuk menyebut dirinya dan Taeyong sudah berubah jadi lebih halus, menandakan mari turunkan ego dan emosi lebih dulu berhubung ada situasi yang lebih genting yang perlu diselesaikan.
"Habis." Taeyong menghela nafas panjang, "Jangan keluar dari kamar Yuta." Kalimat terakhir yang Taeyong ucapkan sebelum dia lari sebisa mungkin meraih kamar adalah meminta Jaehyun untuk patuh pada satu permintaannya—yang mana, Jaehyun lakukan tanpa banyak debat.
Duh, dia benar-benar ingin telfon Yuta dan sampaikan kendalanya, namun Yuta berada di luar jangkauan dan sudah dipastikan lelaki itu mendapatkan hari terbaiknya bersama winwin sekarang.
Ok- baik. Jadi, kiranya yang perlu dia lakukan adalah duduk di kamar Yuta yang membosankan sampai badai reda atau Yuta pulang dan barulah dia bisa bebas dari atmosfir yang sama sekali tidak menyenangkan ini.
Kamar Yuta tidak punya tv, hanya ada laptop yang terkunci dan beberapa buku komik langganan. Jaehyun tidak suka baca komik, dia lebih senang baca ensiklopedia, biografi seorang tokoh, tenggelam berjam-jam dalam jutaan kata, sampai terlelap dijemput mimpi.
Sayangnya, buku dengan tulisan banyak hanyalah buku pelajaran—Jaehyun benci genre itu karena sekalinya baca dia hanya bisa bertahan sadar lima menit sebelum terlelap terbunuh bosan.
Masalah lain yang dia hadapi; stok minum dan makan yang tidak ada sama sekali. Jaehyun tidak tahu harus sembunyi berapa lama, dia hanya tau pasti akan sangat lama. Matanya terpejam paksa penuh penyesalan, seraya dia baringkan tubuhnya di kasur mencoba putar otak dan cari jalan agar bisa keluar dengan aman.
Mungkin- mungkin tidak akan jadi masalah kalau dia keluar bentar dan ambil seteko air. Taeyong pasti di kamarnya, pasti tidak sedang di ruang tengah.
Pasti.
Iya, kan?
—
Kalau meja nakasnya tidak terbuat dari jati, mungkin sudah remuk habis karena genggaman kuatnya untuk menahan sakit yang menyandra dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Tubuhnya menggelepar seperti ikan kekurangan air ketika perutnya merasakan tusukan entah dari mana.
Meleleh gumpalan cairan dari analnya yang susah payah dia kempit—sebuah reaksi lumrah tiap kali seorang Omega masuk pada fase heat-nya.
Sakitnya meningkat lebih tinggi dari biasanya, tentu karena kehadiran Jaehyun yang entah mengapa wangi Alpha itu lolos ke kamarnya—harum musk yang sudah lama tidak dia sapa, buat kepalanya nyaris hilang arah.
Darahnya mengalir deras, penisnya mengacung kelewat kaku di balik celana, dan Taeyong hanya mampu merintih melawan masa heat yang kian lama kian parah.
"I swear to fucking god—"
Memang, apa sih yang sedang Jaehyun lakukan? Bukankah perintahnya cukup jelas untuk minta si Alpha diam di kamar kembarannya?
Taeyong buka pintu kamar, mengenyampingkan nyeri di seluruh sendi untuk lihat dimana Jaehyun berada.
"—Jung Jaehyun!"
Taeyong meracau frustasi, nafasnya cepat, wajahnya merah padam, desir darahnya mengalir layaknya air terjun menuju ujung penisnya. Keringat sebesar kepalan tangan dan pusing kepalang hanya karena lihat Jaehyun sedang tenggak minuman, leher tebal lelaki itu terjulur indah, buat dia gagal kedipkan mata.
Detik itu, Taeyong tahu pilihannya untuk keluar kamar dan memaki Jaehyun adalah pilihan yang sama.
Lututnya lemas, ambruk di atas lantai.
"...Alpha."
Taeyong gagal menang menjaga diri dan tidak dengan liar menyebarkan feromonnya, yang mana mampu berakhir memantik rut sang Alpha.
Seperti yang kini—sepertinya—tengah terjadi.
Duh, Taeyong bahkan tidak berani angkat dagu. Kakinya layu, jantungnya terpacu, tetes kerinhan mulai mengguyur; dia tahu apapun perang diantara mereka, dia sudah kalah.
Tubuhnya meringkuk nyaris sujud dengan tangan yang dia tekan melintang di perut sekuat tenaga menahan tendangan nyeri dari heat-nya, "J-Jaehyun."
Sementara Jaehyun menghelakan nafas panjang, menyisir rambutnya ke belakang penuh frustasi atas menghirup feromon Taeyong yang hanya sekitar satu depa darinya.
"Aku bantu, ya?"
Taeyong menggeleng cepat, "Pergi."
Jaehyun berdecak kencang, "Kita ga lagi nego. You show me where your meds are and I'll help you get back to your room. I'll get everything that I need and vent back to Yuta's room and you can deal with your heat."
Balasan untuk kalimat panjangngnya adalah isakan Taeyong yang sembunyi-sembunyi lolos keluar dari bibirnya.
"Taeyong. Get it?"
Taeyong terlalu lemah, bahkan untuk anggukkan kepala saja dia nyaris gagal. Seluruh bulu tubuhnya meremang hebat kala kulit mereka bergesekkan guna Jaehyun mampu bopong Taeyong kembali ke kamar.
Bentuk dari insting, refleks dia sandarkan kepala pada bahu Jaehyun, secara otomatis hidungnya tertanam pada leher tebal Jaehyun.
Tangan Taeyong tiba-tiba melingkar posesif, memeluk Jaehyun yang hendak turunkan tubuh Taeyong di atas kasur. Lelaki dengan surai merah muda pudar itu terdengar merintih, mungkin pelukan yang diberikan dimaksudkan sebagai pengalih rasa sakit.
Tapi, kalau begini, Jaehyun jadi gagal pura-pura tidak peduli. Kala dia tangkap kening Taeyong berkerut kuat, dia tidak punya pilihan lain selain ikut baring di sisi Taeyong, memeluk Taeyong lebih erat, dan menyisir surai Taeyong dengan jemarinya.
Taeyong meringkuk layaknya udang, membentur tubuhnya. Jaehyun jadi enggan untuk tinggalkan, apalagi setelah dengar rintihan Taeyong perlahan jadi pudar.
Jaehyun melengoskan helaan nafas yang lebih berat, "Getting better?" dan tanpa tunggu panjang Taeyong mengangguk pelan—jauh berbeda dengan sikap seram yang awal Jaehyun sapa.
"Duh-" Taeyong menelan salivanya kasar, matanya terpejam kuat karena meskipun rasanya sudah jauh mendingan, bukan berarti sakit yang menghujam tubuhnya hilang seketika.
Tapi- Taeyong harus akui kalau dengan Jaehyun lekat di sisi, serangan nyeri yang menjalar ke seluruh sendi tidak se-ekstrim jika dia hanya sendiri; jadi, "Kalau temenin aku bentar, bisa ga?"
"Engga."
Ya- mana bisa.
"Jaehyun," suara Taeyong jadi rengekkan tertahan, "Gausa ngapa-ngapain. Di sini aja, kaya gini."
"Ya, ga bisa."
Bulat mata Taeyong menyorot sendu, berkaca-kaca, mengkilap terhampar cahaya. Berubah seketika jadi lebar sempurna, saat tubrukan tatapnya dengan Jaehyun berubah; tidak hanya sorot yang saling bertukar, namun kini bibir mereka jadi rekat.
Jaehyun merengkuh tengkuk Taeyong.
Saat Taeyong memandangnya penuh putus asa, kepala Jaehyun tidak bisa menahan diri lebih jauh lagi; refleks lengannya tarik Taeyong mendekat sampai si Omega terkesiap, kemudian dia tempelkan bibirnya pada bibir Taeyong—yang nyatanya dia rindukan.
Taeyong, di luar ekspektasi, buka mulut mempersilakan Jaehyun masuk meraup oralnya dengan begitu bersahabat. Lumatan yang awal terkesan mengejutkan, jadi terasa benar dan memang seharusnya, tatkala lenguhan Taeyong mengudara saat bibirnya diemut Jaehyun, bersamaan dengan pelukan yang dieratkan oleh Jaehyun.
"Tuhkan," bisik Jaehyun tepat di bibir Taeyong, "Kalo kaya gini, aku harus bantu kamu."
Kalau kaya begini, izin pun sudah tidak bisa Jaehyun sodorkan; situasi mereka sudah genting dan seulas izin hanyalah penghalang.
"Lagian, ngapain keluar kamar, sih," desis Taeyong, tangan merayap mencoba raih tengkuk Jaehyun, "Aku jadi bisa cium harumnya kamu and fuck it hurts me even more."
Taeyong julurkan lehernya untuk meraih bibir Jaehyun, kembali melumat sepasang daging empuk yang buat telinganya berdenging kesenangan. Kakinya mengapit kuat, apalagi kala dia rasa elusan lembut yang Jaehyun berikan di punggungnya. Lenguhan lepas begitu saja merasakan analnya kembali menyadarkan dia bahwa kondisi disana tidak baik-baik saja; meski sudah Taeyong coba abaikan, sia-sia jadinya kala Jaehyun mempererat pelukan.
"You have anything with you?"
"I don't bring my meds."
"Dildo? Anything?"
"Fuck-" Taeyong mendesis kasar, kepalanya keram hanya dengan bayangkan benda yang kiranya bisa sumpal lubang bocornya, "Siapa yang traveling pake bawa dildo segala."
"Kan- emergency purpose."
Perut Taeyong mengejang geli, penisnya mengacung kian kuat kala tidak sengaja tersenggol kaki Jaehyun.
"Nope." Taeyong geleng kepalanya kuat, "F—fuckh-" dan lolos lagi rintihannya diterjang nyeri yang seakan memeras perutnya. Dia pegang kuat tangan Jaehyun, dia coba gosokkan hidungnya pada leher Jaehyun untuk cari bantuan.
Sayangnya, hal yang dia lakukan malah menyusahkan Jaehyun yang kini menggeram menahan hasrat. Daritadi kepalanya pusing hebat mencoba cari jalan keluar agar bisa bantu Taeyong tanpa sentuh kembaran temannya itu, tapi kalau begini siapa yang bisa tahan. Bahkan gelutan antara dia, logikanya, dengan sisi Alpha yang terus menerus berontak untuk ditahan agar tidak mencuat keluar, kini memamerkan hasil lewat sorot matanya yang kian kelam.
Taeyong tangkap perubahan yang perlahan menelan Jaehyun, dimana langsung dia tangkup wajah Jaehyun dan membenturkan lagi bibir mereka. Melumat Jaehyun dengan begitu kelaparan.
Dia loloskan lenguhan lepas saat Jaehyun remat pinggang rampingnya, mengelus kulit punggung yang terpampang karena kaosnya sudah entah sejak kapan tersingkap.
Jaehyun masih dalam gelutnya, dalam proses negosiasi bagaimana caranya mereka berdua tetap selamat setelah lewati cobaan kejam yang kini tengah terjadi. Namun, rasanya mustahil mengingat kondisi hidungnya tersumpal feromon Taeyong yang kian kuat, belum lagi kini badan Taeyong mulai terekspos dari dada sampai perut karena baju kaos yang tergulung sampai dagu.
Terpamer jelas dua dada Taeyong yang agak bengkak, putingnya mengacung keras dengan warna merah padam. Areolanya ikut merona, tersipu dipandang sampai segitunya.
Turun matanya lihat perut Taeyong datar, begitu kurus terkurung pinggang ramping yang meliuk lucu. Jaehyun usap pusar Taeyong dan lelaki dibawahnya itu langsung membusungkan perut, haus akan sentuhan yang buku jarinya berikan.
"Here's the deal." Jaehyun menghembuskan nafasnya kasar, mengakui kekalahannya, "Tell me what you hate, what you like," lalu dia telan salivanya kasar, "—and when is your last sex?"
"Hm?"
"Your last sex. When."
"Uh- well—"
"Well?"
"Years- ago?"
"And when was it exactly?"
"When- the last time you fucked me."
—
"Ahh-" Taeyong bergetar di sela ciuman mereka, tangannya di dada Jaehyun mengepal kuat, sementara pinggangnya menjorok ke belakang mengejar rabaan halus dari jemari Jaehyun yang mengelus lembut.
Rahang Taeyong di genggam erat, bibirnya benar-benar diraup habis dengan begitu lapar, dan yang mampu dia lakukan adalah pegangan pada baju Jaehyun erat-erat, dengan pinggang yang bingung haruskah maju dan menggesekkan penisnya pada celana jeans Jaehyun atau mundur dan minta Jaehyun masukkan jemarinya pada lubang anal yang berkedut tidak tahu malu.
Pipi pantatnya di remat gemas sampai tercetak bekas merah disana. Cairan yang terus keluar bergumpal-gumpal, Jaehyun balurkan sepanjang kulit bokong Taeyong yang mampu dia sapa.
"F—fuck-" Taeyong meracau putus asa, apalagi kala lubang analnya di elus pelan tanpa ada niat dicolok secepatnya. Peluh dari pelipis langsung mengalir sebesar tinju rasanya. Dia balas ciuman Jaehyun tidak kalah berantakan, "M-masukin," dan di sela lumatan, dia memohon pada Jaehyun untuk segera melempar bantuan.
Telunjuk Jaehyun belum sempat dibalurkan dengan saliva, namun lancar masuk merasuki lubang dubur yang aktif membuka-menutup, lengkap dengan lelehan cairan pelumas yang mandiri terproduksi; memudahkan Jaehyun untuk lesakkan satu jari dari bermain di dalam rongga ketat itu.
Jaehyun bergerak melepas pagutan bibir mereka dan duduk diantara dua kaki Taeyong yang langsung mengangkang lebar, menampilkan bagaimana pantat kecil itu tengah mengemut telunjuk kering Jaehyun sampai basah kuyup.
Sebelah lutut Taeyong ditahan agar tidak menutup saat Jaehyun coba dorong dua jari untuk masuk ke dalam lubang senggama sempit nan panas itu; yang mana diterima tanpa hambatan, hanya ringis kesakitan yang jadi respon dari si pemilik lubang senggama.
Pinggang Taeyong naik tinggi, penisnya yang mengacung sampai nyaris menyundul pusar ikut bergerak berantakan—ke kanan, ke kiri—menuruti gerak risau Taeyong yang tidak sabar agar jari Jaehyun masuk lebih dalam, menekan prostat yang sudah begitu tidak sabar untuk dihancurkan.
Muka Taeyong merah padam sampai dada, desahannya tidak lagi dia tahan; bebas dia udarakan.
Beda dengan Jaehyun yang diam seribu kata karena lelah mengumpat dalam dada, melihat jarinya dua ruas dipijat dengan begitu keras. Lubang Taeyong sempit, bahkan melesakkan jari tengah agar bermain bersamaan dengan telunjuk saja susah. Dia coba tekuk jarinya, menggaruk lubang anal yang begitu halus menyentuh buku jarinya, membuat Jaehyun pening seketika.
Dia coba pelan menarik tangannya, lalu masuk lagi menggosok lubang Taeyong dengan jarinya. Lelehan desah frustasi Taeyong seketika membakar ambisinya untuk bergerak liar; cuma, dia sadar belum saatnya.
"Pantatnya rileks, biar aku bisa masukin satu jari lagi."
Taeyong patuh.
Dia kembali ratakan seluruh punggung sampai pinggang untuk rata di kasur. Penuh harap cemas menunggu jari Jaehyun masuk lagi agar lubangnya tersumpal penuh.
Geli menyapa perut saat bibir Jaehyun hujamkan kecupan, mencoba alihkan perhatiannya dari lubang yang kini rasanya seperti terbakar, di robek jadi dua bagian, padahal hanya dilesakkan satu ruas jari tambahan.
Dagu Taeyong terangkat naik, pinggangnya ikut mengudara mengejar ciuman Jaehyun pada pusarnya—Taeyong senang tiap kali Jaehyun menyapa perutnya, ingat dulu sesenang apa dia setiap kali Jaehyun datang dan merengkuhnya, mengusap perut datarnya seakan dia sedang hamil tua, atau tiap kali mereka bercinta maka akan selalu ada bekas gigitan—
"NG-AKH!" — yang meninggalkan jejak biru keunguan di beberapa sisi pinggangnya, hasil kunyahan gemas gigi Jaehyun pada perut datarnya, seperti yang kini Jaehyun tengah lakukan.
Taeyong kembali meraung, meloloskan desahan dengan nada tinggi, saat gigi Jaehyun mencapit kulit perutnya cukup kuat dan tiga ruas jari Jaehyun keluar masuk tanpa jeda, mengocok cairan heat nya sampai beberapa menetes keluar.
Kala Jaehyun lengkungkan jari, menggaruk prostatnya tanpa henti, perut Taeyong mengejang hebat—orgasme yang dia tahan dari awal mulai mencoba mendobrak kemaluannya.
"Jaehyun!"
Tiba dia panggil Jaehyun disela desahnya, disela pantatnya yang kini tengah dimainkan dengan nikmat, Taeyong melolongkan lenguhan panjang tatkala bersamaan dengan lubangnya dimanjakan, penisnya masuk ke dalam oral hangat Jaehyun.
Kepala penisnya bergetar riang, dikecup dan diemut oleh Jaehyun bagai mainan. Kian panas perutnya, kian geli menjalar dari ujung kepala sampai ujung kaki, sampai seluruh jarinya melengkung hebat, saat penisnya diseruput dengan begitu nikmat bersamaan dengan prostatnya yang dipijat kuat; maka muncrat orgasme Taeyong tanpa mampu dia tahan, memenuhi seluruh ruang mulut Jaehyun yang dengan setia menelan spermanya.
Jaehyun sedot ujung penis Taeyong sampai yang punya merintih kesakitan, merasa sudah tidak punya stok sperma untuk Jaehyun telan—Sayangnya, Jaehyun masih lapar.
Sebelah jari Jaehyun mengocok penis Taeyong yang baru saja mencapai puncak. Tanpa peduli, dia korek dengan kukunya. Lubang kecil yang tertanam di bagian tengah kepala penis Taeyong yang kini warnanya merah pekat—dan Taeyong sama kagetnya dengan mereka yang mengira Taeyong sudah kering testisnya, ternyata ada beberapa bulir sperma yang masih terperangkap, yang masih setia Jaehyun sedot sampai keluar semua.
Kemaluan Taeyong terasa nyeri sampai nyaris kebas. Pinggangnya risau mencoba lepas dari Jaehyun meski mustahil karena penisnya masih bersarang di mulut Jaehyun dan lubang analnya masih tersumpal tiga jari Jaehyun.
Dia remat ruas jemari Jaehyun dengan mengetatkan lubangnya, "Jaehyun- udah—" Taeyong dengan putus asa mencoba menarik jari Jaehyun keluar dari analnya, namun yang ada gerakannya di sambut dengan tekanan oleh tangan Jaehyun yang lain di perut bagian bawah dan lagi, lubang duburnya digenjot tiga ruas jari sampai lolos raungan Taeyong seketika.
"JAEHYUN!" Bentak Taeyong disela lubangnya yang seketika jadi area main jari Jaehyun. Penis lemasnya terlempar kanan-kiri, kemudian tidak lama kembali tegak berdiri.
Dua telapak kaki Taeyong langsung bertumpu di kasur, pinggangnya menukik naik sementara tubuh bagian atasnya masih terlentang di atas tempat tidur. Dia genggam seprai sekuat tenaga sementara Jaehyun keluar-masuk dari lubangnya tanpa istirahat.
Wajah Jaehyun begitu tegas, kaku, seakan benar-benar dia ingin lihat Taeyong kembali kejang dan menyapa pelepasan kedua, secepatnya.
Jaehyun usap perut bawah Taeyong dengan begitu lembut, kontras dengan tiga jarinya yang keluar-masuk menggesek dinding dubur Taeyong sampai berkedut hebat, sampai lumer cairan Taeyong makin banyak membasahi tangannya.
Taeyong mengejan kuat saat prostatnya ditumbuk begitu kasar, bersamaan dengan geli di ujung perut yang tidak absen dia rasakan; Taeyong kembali melepas untaian spermanya begitu deras sampai wajah Jaehyun ikut kena.
Lepas seluruh sentuhan Jaehyun dan ambruk seketika tubuh Taeyong di atas kasur dengan nafas berantakan yang sulit dia atur.
Matanya sayu enggan terbuka, namun bisa dia lihat Jaehyun hendak pergi dari sisinya, yang mana kemudian langsung Taeyong tahan tubuh Jaehyun dengan lingkarkan kaki di pinggang mantannya.
"Jangan pergi."
Menyedihkan.
"Jaehyun, tolong-" Taeyong tarik nafasnya dalam-dalam, lalu dengan nada bergetar, "—bantuin."
Dia mengajukan sebuah permohonan.
