Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2022-07-09
Updated:
2022-12-14
Words:
14,950
Chapters:
5/?
Comments:
15
Kudos:
68
Bookmarks:
9
Hits:
1,053

Pemilik langit

Summary:

fanfic ini terinspirasi oleh kisah hidup Habibie. Dirgantara, negara muda di Asia, yang memiliki ambisi membuat pesawat agar bisa menyatukan ribuan pulau yang dimilikinya, pergi ke Jerman, negara yang tak begitu ia kenal di Eropa untuk mempelajari mesin dan teknik untuk membuat pesawat, dan akan tinggal disitu hingga ia menguasai ilmu cara membuat pesawat, ditemani oleh Ludwig, si tuan rumah yang juga tidak begitu mengenal Dirga namun tertarik pada sifat dan kecerdasan Dirga. Ludwig mempunyai ketertarikan besar terhadap mesin, merasa diberkahi teman baru yang mirip dengannya, dan begitu pula kakaknya, Gilbert, negara yang cerdas namun blak-blakan dan usil. Bagaimana Dirga, si negara muda yang pemalu dan sedikit minder menghadapi kakak beradik penggila mesin yang menjadi tuan rumahnya?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Prolog

Chapter Text

36.000 kaki diatas bumi, di dalam burung besi merobek serat awan tanpa ampun. Ditatapnya sang surya yang mengintip diantara awan, batinnya mengemis pada sang Surya agar mau membagi panasnya untuk menjadi api unggun tangannya yang bergetar menggigil sedingin es, ditambah telinga yang tersumbat dan berdenging. Tak henti-hentinya tangannya menjabat satu sama lain, menggenggam, digosok, dan ditiup setiap detik. Sekencang dan sesering apapun tangannya digelayuti, suhunya masih sama seperti ia habis mandi di pegunungan saat subuh. Anehnya, meski ia merasa kedinginan, terasa udara AC pesawat meniup leher, kening, dan ketiaknya yang basah oleh keringat seperti habis berlari marathon 10km.

“mas Dirga!” ia nyaris menonjok jendela pesawat saat pundaknya ditepuk. “eh, iya, maaf, kenapa pak?” dengan kalap, Dirga menjawab, sambil menggosok-gosokan tangannya dengan pelan.

“mbok kamu tidur saja daripada tanganmu digosok-gosok begitu. Bukannya keluar jin, malah berisik lho. Itu kakimu juga naik-turun kayak orang kena kejut listrik, ra iso turu aku jadine le*. (tidak bisa tidur aku jadinya nak).”

“masa’ sih berisik pak?” Dirga menatap tangannya yang sekarang tambah dingin ditiup AC karena berkeringat. Ia bahkan tidak menyadari tumitnya naik turun dengan ketukan 3/4 sebelum akhirnya kakinya ditepuk dengan gemas oleh pria disampingnya.

“kamu itu masih di pesawat begini saja sudah gugup, gimana nanti kamu sampai di Jerman? Bapak cuma nganterin lho le.” Ujar pak Wiryo, pria paruh baya dari Surabaya yang ditugaskan pemerintah untuk mengantar Dirga. Ia pernah menaiki pesawat sebelumnya saat zaman pendudukan Jepang dan diantara rekan-rekannya seperjuangannya yang lain, ia tidak trauma dengan pengalaman itu. Dan kebetulan Pak Wiryo—meski sudah 45 tahun—masih belum berkeluarga. Tak ada istri atau anak yang akan menunggunya, dan tak ada misi merayu istri mengambek dan anak yang merengek karena tidak diajak atau kurang menghabiskan waktu bersama mereka. “jangan-jangan kamu takut naik pesawat? Kamu itu pas zaman Jepang dan kemerdekaan, keseringan naik pesawat reyot, terbakar, malah pesawat nyaris kena bom, kamu malah bisa tidur pules, ra iso tangi blas! (tidak bisa dibangunkan sama sekali!)”

“ya tidak begitu juga pak, saya ke Jerman malah mau buat pesawat kan. Masa’ saya mau buat pesawat takut naik pesawat?” balas Dirga.

“terus kenapa tangan sama kakimu naik-turun kayak begini? Naik pesawat kok kayak naik delman.” pak Wiryo menunjuk kaki Dirga, yang masih berjinjit dan tumitnya masih naik-turun seperti kena tremor, sambil terkekeh.

“ya, baru kali ini saya ke Eropa pak. Jerman lagi. Saya tidak tahu banyak soal Jerman pak. Saya biasanya ke Eropa ikut pak Karno buat diplomasi atau buat ke Belanda...” Dirga terdiam sebentar. “dan saya ke Eropa bukan karena ikut pak Karno, bukan karena saya jajahan Belanda tapi untuk belajar...”

Dalam seumur hidup Dirga, belum pernah ia diperintah untuk pergi dari tanah airnya sendiri untuk menggarap ilmu. Dan ia diperintah untuk ke tanah Eropa. Bukan Malaysia, bukan Vietnam, bukan Cina, Jepang apalagi, bukan dimana pun di tanah Asia, namun Eropa! Dan ini disebuah negara yang belum dikenal betul oleh Dirga.

Terakhir kali Dirga bertemu dengan Jerman, yaitu pada saat 1945. Dirga ingat betul si Jerman, dengan mata birunya yang redup dan rambut pirangnya yang disisir rapih namun terlihat kusut, dengan wajahnya yang lelah namun dipaksa senyum, menawarkan radionya pada Dirga untuk menyebarkan berita kemerdekaannya. Meskipun pada saat itu, Dirga tahu, si Jerman itu sebenarnya tidak peduli dengan kemerdekaannya. Hanya saja ia sendiri punya keinginan terselubung. Ia tahu bahwa Dirga saat itu ingin menyingkirkan Abel, si Belanda, yang menghadang Dirga untuk menyebarkan proklamasi kemerdekaannya dan kebetulan, Abel adalah salah satu musuh si Jerman, karena Abel adalah salah satu anggota sekutu. Sayangnya meski secara tak langsung si Jerman ini pernah membantunya, Dirga kurang ingat dengan namanya yang rumit dan panjang itu. Jika pun ia ingat, lidahnya tak akan sanggup mengucapnya. Saat Dirga diberi tahu namanya oleh pak Wiryo sebelum berangkat, telinganya langsung angkat tangan dan hanya menangkap nama “Lu” dan sisa namanya terdengar seperti celotehan bayi yang berusaha berbicara tapi hanya bisa berkata “abububelubelushing.” Ia bahkan tidak meminta pak Wiryo untuk mengulangnya, hanya mengangguk, dan berkata “ooohh, iya iya.”

Dirga hanya tahu sedikit tentang si Jerman ini, dan itu hanya common knowledge—pengetahuan umum tentang Jerman yang diketahui negara lain, seorang negara yang memulai perang dunia dua kali, seorang negara yang dikenal tegas, keras, cerdas dan disiplin, dan yang membuat sekujur tubuh Dirga dingin dan tumitnya naik turun saat ini; seorang negara yang berkali-kali kalah perang dan dipermalukan masih dapat bangkit sendiri. Bagaimana bisa Dirga, negara yang baru merdeka kemarin sore, belajar ke tempat orang seperti ini? Dirga ingat sensasi ini, sensasi yang sering ia rasakan dalam hidupnya—jika kamu mengagumi dan menghormati orang terlalu dalam, rasa kagum itu bisa berubah menjadi rasa ketakutan.

“nah, terus yo opo, apa yang kamu takutkan?” tanya pak Wiryo sambil memilah-milih majalah di balik kantong kursi di depannya. Rasa kantuknya sudah hilang sepenuhnya. Dirga sempat menawarkan koran di depan kursinya, namun pak Wiryo menolak.

“kalau misalnya saya gagal bagaimana pak? Kalau ternyata saya terlalu bodoh bagaimana pak? Yang ada saya buat malu warga.”

“kamu ini ke Jerman mau jadi pesulap atau mau belajar?” kata pak Wiryo membuka majalah gosip dengan cover wanita seksi dibalut kain merah yang ketat yang entah sudah sejak kapan rilisnya.

“saya masalahnya hanya tahu sedikit soal teknik membuat pesawat pak.” Dirga menggosok tangannya kembali, tanpa ia sadari dan masih dengan tumitnya yang naik-turun. “sejak saya dijajah, ditindas, dan disiksa berkali-kali... saya jadi berpikir, apakah pantas untuk saya menginjakkan kaki di tanah Eropa? Bukan untuk bekerja, tapi untuk belajar? Ah, apa pantas negara babu seperti saya ini belajar? Negara bodoh seperti saya yang mau saja dijajah berabad-abad oleh negara lain, mau membuat pesawat? Ditertawakan seperti apa saya nanti saat sampai di Eropa?”

“ku tanyakan ini; apa tujuanmu ke Jerman?” mata Pak Wiryo tidak berpindah sedikit pun dari halaman majalah yang ia pegang. Dirga mengintip sedikit majalah yang dibaca pak Wiryo. Ah pantas saja, matanya sudah terkena lem oleh foto Marlyn Monroe berpose erotis.

“....membuat pesawat?” jawab Dirga.

“kamu tahu cara membuat pesawat?”

“....tidak.”

“kalau kamu jawab ‘ya’, untuk apa kamu duduk disini?” pak Wiryo melirik Dirga. “Kalau kamu menganggap dirimu ini pintar, kamu tidak pantas ada disini. Kamu mungkin dikendalikan dan dijajah negara lain berabad-abad lamanya. Tapi kamu ini sudah merdeka. Kamu ini seorang negara. Dan jika menurutmu kamu ini negara bodoh,” pak Wiryo memindah halaman majalah, “itulah sebabnya kamu disini. Mencari ilmu. Memang, ini tidak akan menjadi mudah. Kamu akan tahu sendiri apa yang kumaksud nanti. Tapi ingat ini,” Pak Wiryo menolehkan kepalanya pada Dirga, dan menatap mata emasnya dalam-dalam, “tidak ada yang namanya gagal dalam menimba ilmu. jika suatu saat kamu berpikir bahwa kamu gagal, itu kamu belum selesai. Kamu harus menimba ilmu lagi. Lebih banyak lagi. Bawa pulang ilmu itu seutuh-utuhnya, le.”

Tatapan dan perkataan pak Wiryo membuat Dirga diam seribu bahasa. Tumitnya berhenti naik-turun. Keringat berhenti mengucur dari pori-porinya. Tiba-tiba, ia mendengar suara anak menangis, suara dua pengusaha membicarakan status ekonomi, suara wanita bergosip, dan suara langkah ketukan high heels dari pramugari. Telinganya seolah sudah kembali nyawanya, tangannya sudah tidak begitu dingin, dan dadanya terasa ringan sekali. Mata dan kepalanya tiba-tiba terasa berat, seolah nyawanya ikut tercabut oleh rasa tegangnya. Sedetik sebelum matanya tertutup Dirga menatap sang surya yang sekarang tidak bersembunyi dibalik awan, dan muncul dengan gagah, menatapnya balik. Seolah menyapa balik, tubuh Dirga terasa lebih hangat saat matanya tertutup rapat.

************************************************************************************************************************

Ditatapnya cermin itu tanpa henti. Tangannya sibuk menggelayuti dasi hitamnya yang sudah rapih. Berkali-kali ia tatap setiap anggota tubuhnya. Bajunya bersih dan rapih seperti biasa, tidak ada celah atau warna lain di celananya yang gelap, sepatu pantofelnya mengkilap, begitu mengkilap mungkin saja bisa dibuat berkaca, rambut pirangnya yang klimis disisir ke belakang, tidak ada noda atau luka di wajahnya. Meski masih ada kerutan-kerutan menghiasi dahinya yang membuat ekspresi wajahnya tegang dan sedikit menakutkan. Dicubit-cubitnya dahinya itu dengan paksa. Kalau saja ada kosmetik atau krim yang bisa menghilangkan kerutan wajah, pasti minimal satu lemari baju penuh dengan krim. Ia pernah menanyakan hal ini pada Feliciano, tapi Feli hanya bisa tertawa, “wajahmu memang biasanya begitu saat kau marah atau tegang. Kalau memang ada kosmetik seperti itu, tak akan bisa kau membedakan orang tua dan muda! Dan bahkan mungkin abangmu tak bisa mengenalmu lagi!”

Entah mengapa ia sedikit tegang. Ia tidak merasakan hal yang sama terhadap Kiku maupun Feliciano saat pertama kali ia beraliansi dengan mereka. Mungkin karena sudah sekian lamanya ia tak berhubungan dengan negara lain. Apalagi dengan negara Asia yang tidak begitu dikenalnya.

“eh eh, mau kemana pagi-pagi gini udah ganteng-ganteng? Wangi pula. Mau kencan sama Feliciano kau?” suara serak berseru sambil terkekeh dibelakangnya. Ia mendesah dan menatap pemilik suara itu dari kacanya, “kan kemarin sudah ku bilang bang, aku mau jemput orang di bandara.”

“Kenapa harus kau? Tak bisakah kau suruh orang?” pria suara serak itu membanting bokongnya diatas sofa sambil menonton adiknya yang masih menggelayuti dirinya sendiri di cermin yang entah sudah berapa lama ia disitu.

“bukan bang. Dia sama seperti kita. Seorang negara. Itu sebabnya aku harus menjemputnya.”

Abangnya berdehem panjang tanda mengerti. “Siapa dia? Untuk apa dia kesini?”

“namanya Indonesia, bang. Dia kesini untuk belajar katanya.”

“Indonesia?” dari cermin, terlihat dahi abangnya berkerut, “negara mana itu? Tak pernah dengar aku! Aneh sekali namanya!”

Sudah ditebak reaksi abangnya akan begitu, ia menghela nafas sambil menggeleng-geleng kepala. “Asia Tenggara bang. Aku dulu pernah ke tempatnya saat aku masih muda untuk melihat-lihat sedikit.”

“seperti apa negaranya?” tanya abangnya sambil merebahkan tubuhnya di sofa.

“tipikal negara tropis, banyak tanaman, banyak fauna, cuacanya hangat—“

“hah!” abangnya mengibas tangannya di atas kepalanya “mau belajar apa negara seperti itu disini? Kupikir akan didatangi negara pintar mesin, malah didatangi tukang kebun!” gelak tawa yang serak seperti gagak pecah.

“untuk apa negara pintar mesin kesini untuk belajar, kalau dia sudah pintar bang?”

“untuk apa tukang kebun belajar kesini kalau tidak mengurus kekayaan alamnya itu?” kata abangnya sambil memencet tombol channel TV, yang tiap channel memunculkan tampilan hitam-putih dengan semut hitam putih menggelayuti layar, mengeluarkan suara statis memekakan telinga, seolah ada perang diantara semut hitam dan putih itu. “Haish, antennanya pasti miring lagi ini.” Gumamnya.

“mungkin dia sudah tahu caranya, bang.” Ia berkacak pinggang, melihat seluruh tubuhnya yang sudah rapih sekali lagi. tidak ada yang kurang, hanya kerutan di keningnya masih ada. “bukankah lebih menarik kalau negara tropis yang katamu hanya tukang kebun berusaha belajar di tempat kita?”

“Jika aku tak pernah mendengar namanya, maka tak ada yang hebat darinya.” Abangnya terus memencet tombol mengganti channel, yang tiap channel hanya menampilkan sekelebat manusia yang sudah tak jelas lagi bentuk rupanya dan suara yang keluar berupa gumaman orang yang sudah tak jelas pula bicara apa ditutupi oleh semut-semut hitam putih yang berperang dengan mengeluarkan suara seruan perang yang tak karuan, yang berujung dipencetnya tombol merah, membuat ruangan yang tadinya berisik oleh suara statis memekakkan telinga, menjadi sunyi. Abangnya berdiri dan melempar remote itu ke sofa hingga memantul ke lantai. “aku akan mencoba membenarkan antennanya, lalu lanjut mengerjakan mesin mobil kita.” Abangnya mengambil burung kuning yang sedari tadi bertengger di kepalanya (bahkan adiknya sendiri lupa keberadaan burung itu sampai abangnya menggenggamnya), lalu melempar kunci pada adiknya. “jemputlah negara tukang kebun itu dengan mobil. Jangan malu-maluin kita yang setiap hari membuat mesin malah naik taksi.”

“namanya Indonesia, bang.” Kata adiknya sambil mengantongi kuncinya.

“tidak akan ku ingat.” Balasnya sambil terkekeh. “lemaskan sedikit wajahmu itu. Feliciano saja kadang takut dengan wajahmu, apalagi negara tropis yang tidak begitu mengenalmu.”

Adiknya mengikuti abangnya keluar, namun sebelum pintu depannya dibuka, ia memanggil “abang,”

“apa?”

“kalau nanti abang main sama Francis dan Antonio, coba kau tanyakan pada mereka negara tropis ini. Mereka pasti tahu siapa dia.”

Abangnya membalas dengan seringainya yang selalu terkesan meledek “negara tropis itu banyak, Ludwig. Nanti aku akan tahu sendiri juga darimu seperti apa dirinya.”

**************************************************************************************************************************

“bisa diulang pak e?”

“Luuuuuu...” pak Wiryo menunjuk-nunjuk mulutnya sambil dimonyongkan.

“Luuu...”

“twikh.”

“t-tuwih?”

“luu... twikh. Ludwig.”

Dirga mengerjap matanya berkali-kali. Dahinya mengkerut kusut dan mulutnya menganga lebar. Aneh sekali nama orang ini! Lebih aneh daripada Abel!

Pak Wiryo menepuk pahanya sambil mendecak lidahnya. “ngene le, ngene (begini nak, begini). Lu ini kamu tau toh caranya piye? Nah twikh nya ini, kalo ga bisa, awali tu, tapi agak disamarkan, sama wikh. Kalo pake huruf hijaiyah, wikh ini cara bacanya wa و kasrah ketemu sama kho خ mati, jadinya...?”

“oh!” mata Dirga menyala seperti menemukan mata rantai yang hilang seiring dengan seruannya. “twikh! Luu-twikh!” serunya dengan senyum yang mengembang lebar.

“naaaah!” pak Wiryo menepuk tangannya sambil menunjuk. “kamu kok malah pakai cara rumit kok bisa sih leeee, le...”

“Kalau saya mengerti perkalian, pasti saya mengerti penjumlahan.” Dirga nyengir kikuk. Sebenarnya, bahasa Jerman mirip dengan bahasa Belanda, bahasa yang dia kenal namun sudah ia lupakan dan seharusnya mudah dia pahami. menurutnya, bahasa Jerman menggunakan terlalu banyak serakan sehingga terdengar samar dan kurang jelas di telinganya, sedangkan bahasa Belanda, menurutnya lebih jelas dan tegas pengucapannya. Mungkin karena sudah berabad-abad lamanya ia dijajah oleh Belanda. Lagipula, hanya menggunakan modal bahasa Belanda yang sudah ia lupakan, tentu akan menjadi canggung dan kesannya tidak menghargai. Ia juga tahu dan amat berpengalaman dalam skenario “bahasa yang mirip bukan berarti bahasa itu sama”.
Ia sering bertikai dengan Mal, karena kesalahpahaman bahasa setiap kali mereka berbicara. Bahasa Dirga, yaitu bahasa Indonesia, sebenarnya adalah bahasa Melayu yang dimodernisasikan dan di sederhanakan, seharusnya mereka mengerti satu sama lain, namun jika berbicara dengan bahasa mereka masing-masing, yang ada mereka berakhir dengan bertikai atau menertawai satu sama lain. Terakhir kali ia bicara pada Mal, yaitu saat ia mengajak Mal keliling pulau Jawa dengan kereta. Besoknya, ia malah dijemput dengan mobil oleh Mal dan gusar setelah Dirga menyuruhnya untuk memarkir mobilnya saja karena tidak akan terpakai. Di bahasa Mal, kereta adalah “mobil”. Dan di sepanjang jalan, tak henti-hentinya mulut Mal monyong sambil melipat lengannya di depan dada karena ia sudah menghabiskan tabungannya untuk menyewa mobil dan ingin memamerkan skill menyetir ala pembalap sepanjang jalan (entah Dirga harus merasa bersalah atau lega karena dapat menghindari kecelakaan lalu lintas). Dirga tidak mau mengalami hal yang sama lagi, apalagi dengan negara asing.

“tapi apa ya sopan ya pakai nama depan langsung? Setahu saya budaya barat itu menyebut nama belakang dulu kalau baru kenal.”

“nama belakangnya Beilschmidt. Gampangnya beilsh-mit. Belibish amit-amit.” Ujar pak Wiryo. “tapi ya kalau kamu kesusahan, panggil saja dengan nama negaranya. Tidak ada salahnya juga toh?”

Memang tidak, tetapi Dirga merasa memanggil hanya nama negara saja tidak terasa ‘akrab’ dan terlalu formal. Dirga ingin mencoba berkawan dengan negara Eropa ini, untuk pertama kalinya. Negara ini dulunya pernah membantu Dirga melepaskan diri dari Abel, juga mereka menerima Dirga untuk belajar disana. Jika mereka tak ingin berkawan, tak apa. Setidaknya dengan mengetahui dan menyebut “nama” negara itu dengan fasih, bisa menjadi bentuk apresiasi sekaligus hormatnya pada negara itu.

“yo ora seh pak (ya tidak sih pak) tapi sekalian belajar bahasa Jerman kan bisa pak.” Kata Dirga sambil nyengir lebar. “oh iya pak, bapak tahu tidak orangnya itu seperti apa? Saya sudah mulai lupa sedikit sama orangnya.”

Pak Wiryo tersenyum. “yang paling tahu itu kamu. Kalau ta deskripsiin, ya itu sama kayak deskripsiin orang Jerman seperti apa. Nanti kamu tahu sendiri.”
**************************************************************************************************************************

Tak henti-hentinya sepasang bola mata yang sebiru langit itu menatap jam tangannya. Seharusnya pesawat yang ditumpang si Indonesia ini sudah mendarat. Ia meniup napas keluar dari mulutnya sambil menurunkan bahunya. Jantungnya berdetak kencang seperti sedang menonton pemain sepakbola dukungannya ingin mencetak gol. Ia merasakan keringat keluar dari pori-porinya. Sudah lama ia tidak bertemu negara “asing” dari benua nun jauh disana. Ekspresi apa yang harus ia tunjukkan? Kata abangnya “senyumlah lebih banyak sepertiku dan seperti Feli.” Namun menurut Feli, senyumannya saat tegang atau terpaksa malah terlihat seperti senyuman mengancam atau meledek, dan bahkan sering kali menakuti Feli, orang yang paling dekat dengannya. Apalagi, si Indonesia ini dikenal sebagai warganya yang ramah dan murah senyum seperti Feli.

Ia mencoba berjalan sebentar untuk menghilangkan rasa tegangnya. Namun, semakin jauh ia pergi, malah semakin tegang dirinya. Dadanya selalu bergejolak setiap kali melihat orang yang kulitnya agak gelap. Dan setiap orang yang ia lihat, pikirannya berkicau ribut, meneriaki posisi khayalan si negara tropis ini. “disitu! Itu dia! Oh, dia menyempil diantara orang gemuk ini! Orang yang akan keluar dari toilet adalah dia!” Bahkan orang yang jelas-jelas adalah warga negaranya dengan rambut pirang dan kulit putih pucat mulai terlihat seperti orang tropis. Ia bersyukur abangnya tidak ada disini menemaninya. Jika abangnya ada disini, mungkin bukannya menunggu si negara ini dan mencarinya, mungkin malah menertawai kegugupannya dan menggodanya.

Mungkin membeli sesuatu membuatnya lebih tenang, bisa juga sebagai jajan pengurang rasa canggung untuk si Indonesia ini, namun apa yang ia belikan? Apa yang disukai negara ini? Ia juga pernah dengar, negara ini adalah pusat rempah. Julukan yang diberi abangnya untuk negara ini tidak begitu salah; mereka memang pintar berkebun dan bertani. Negaranya kaya akan sumber daya yang begitu berlimpah. Makanan yang mereka buat pun menggunakan bumbu dan rempah yang mereka tanam di tanahnya yang subur, sehingga kuliner mereka khas dan terkenal dengan rasanya yang tiada tara sedapnya. Dibandingkan dirinya? Feli pernah berkata saat di masa perang dunia 2, salah satu wurst buatannya terasa seperti tahi. Ah, tapi akhir-akhir ini, Feli sering memuji wurst buatannya terasa lebih enak dan kian hari semakin berkembang rasanya. Tidak ada salahnya membelikan apa yang ada dan apa yang saat ini terbaik untuk tamunya ini. Kebetulan ada stand hotdog di depan bandara. Namun saat ia mendekati stand hotdog itu, rasanya ada yang janggal. Perasaannya berkata, ada sesuatu yang mengawasinya sedari tadi.

“Lu-Ludwig... Bei—Beilschmidt?” ucap suara itu terbata-bata.

Ludwig menoleh. Persis di belakangnya, berdiri seseorang, dengan kulit seperti kayu manis dan rambut hitam legam berkilau. Ilusi yang dibuat oleh pikirannya yang kalap tadi, sekarang benar-benar nyata.

“iya itu saya.” Balasnya. Matanya mengerjap berkali-kali, memastikan ia tidak salah lihat. “kamu um... Indonesia?” Sial, Ludwig lupa “nama” negara ini. Rasanya tidak etis dirinya dipanggil oleh “nama”nya dengan susah payah dan terbata-bata, sedangkan ia sendiri lupa nama tamunya. Pasti ini memalukan baginya, dan bagi tamunya ini.

Tak disangkanya, tanpa jeda, si Indonesia ini mengangguk dengan antusias, sambil tersenyum lebar. Senyumnya tulus dan matanya pun tersenyum, seolah tidak merasa direndahkan atau malu karena tak diingat namanya oleh Ludwig. Ia menyodorkan tangannya, “Panggil saja saya Dirga.”

Ludwig otomatis membalas Dirga dengan menjabat balik tangannya. Baru ia sadari, orang ini ternyata sama gugupnya dengan dirinya. Atau mungkin lebih gugup. Telapak tangannya basah penuh keringat, dan terlihat sedikit kilapan keringat pada dahinya, padahal cuaca disini sedang dingin, dan untuk negara tropis sepertinya, seharusnya ia menggigil berhadapan langsung dengan suhu disini. Mengetahui hal ini, membuat rasa tegang dan gugup layaknya tanah gersang, lenyap dihujani oleh air, dan bersamaan dengan itu, bibirnya mengembang menjadi senyuman.

“maaf saya lupa namamu.” Ujar Ludwig.

“halah, tidak apa-apa. Kamu ingat nama negara saya saja, sudah senang saya.” Balas Dirga, masih dengan senyuman lebarnya.

Mendengar itu, Ludwig lega abangnya tidak ikut, dan juga merasa bersalah abangnya bahkan tak pernah mendengar dan tak mau mengingat nama negaranya.

“mau saya belikan hotdog?” Ludwig menunjuk stand hotdog dengan ibu jarinya. “saya yang traktir. Pasti kamu lapar setelah di dalam pesawat lama sekali.”

“ah tidak perlu.” Balas Dirga, dan juga dibalas oleh perutnya yang meraung, membantah balasan Dirga.

Ludwig berusaha keras untuk tidak tertawa, apalagi melihat wajahnya Dirga yang sudah tidak karuan menahan malu. Baru kali ini ia melihat wajah seseorang yang berkulit gelap menjadi kemerahan. “saya belikan.” Ulangnya.

“...terimakasih.” balas Dirga sambil menahan tangis didorong rasa malunya.

Ludwig berjalan pelan, diikuti Dirga yang mengikuti dibelakangnya sambil menunduk, masih menahan rasa malu. Baru Ludwig sadari, betapa pendeknya orang ini. Saat Ludwig bertemu pandang dengannya pertama kali, orang ini terlihat tegap dan besar. Mungkin dikarenakan tubuhnya yang agak kekar dan tegap seperti polisi, ekspresinya ramah, namun ada aura keseriusan memancar darinya, mungkin karena alisnya yang sedikit tebal, dan karena perhatian Ludwig hanya tertuju pada orang ini saat ia sedang kalap mencarinya. Sedikit saja Ludwig memperlebar langkahnya, mungkin saja Dirga tertinggal jauh dibelakang. Biarlah mereka berjalan pelan, toh orang ini pasti sudah kelelahan berjam-jam di dalam pesawat.

“ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa tahu ini saya?” Ludwig memecah kecanggungan dan keheningkan diantara mereka. Ia yakin Dirga tidak mungkin bicara dengan kondisi tubuh kaku dan panas karena malu.

“...firasat?” balas Dirga, berusaha mengangkat kepalanya. “kata bapak yang mengantar saya, kalau saya ketemu kamu, saya pasti tahu, karena sesama “negara”.”

“memangnya bapak yang mengantar kamu kemana?” tanya Ludwig. Bukankah seorang pengantar yang ditugaskan negara harus mengantar “negaranya” sampai tujuan?

“Beliau saya suruh langsung istirahat.” Jawab Dirga. “Tidak enak saya dengan beliau, lagipula beliau sudah agak tua. Pasti kelelahan sekali beliau. Jika saya sebagai negara saja kelelahan, apalagi beliau yang manusia biasa, tidak seperti ya, saya dan erm….” Dirga termenung “Tuan Be-beilsh, Beils...sch... mit. Tuan Beilschmidt!” serunya diakhir sambil mengaduh berbisik karena ujung lidahnya tergigit saat mengucapkan kata “Midt”.

“tidak perlu begitu formal dengan saya, Dirga. panggil saja saya Ludwig. Tidak perlu pakai tuan, Dirga. kita ini negara, dan kita ini di zaman modern. Anggap saja kita ini sudah berkawan.” Kata Ludwig, menahan rasa geli dan tawa, juga rasa kasihan dengan Dirga yang bersusah payah menyebut nama belakangnya sampai tergigit lidahnya.

“oh, maaf!” seru Dirga. “saya selalu refleks memanggil orang bule—ah, maaf bukan, maksud saya orang yang baru saya temui dengan kata ‘tuan’, apalagi tuan—maksud saya, kamu, ya, penampilanmu tuan—ah maaf, penampilanmu, Lu—Lukh—Lukhwi— ah, maaf sebentar, Lu—Lutfi—ah kenapa bisa jadi Lutfi!? Lu—Ludwig, tuan Lud—oh, maaf maksud saya penampilanmu, Ludwig, terlihat seperti tuan-tuan elit yang berkelas yang dulu sering saya lihat di negara saya.” tersengol-sengol nafasnya, dan kembang-kempis dadanya setelah mengucapkan itu. Dirga berusaha terlihat normal dan antusias, mata emasnya menatap Ludwig, kulitnya tambah memerah, entah karena malu, atau karena omong banyak, atau keduanya. Mulutnya berusaha tertutup rapat, membentuk senyuman tipis, dengan hidung yang berusaha sesunyi mungkin menarik udara dingin memenuhi paru-parunya, dan meniup napasnya keluar, sesunyi mungkin. Yang tidak Dirga sadari, Ludwig tidak membalas tatapan Dirga, namun menatap perut Dirga yang tidak bisa menyembunyikan gerakan naik-turun yang heboh.

Sungguh menarik sekali negara ini. Ia bukanlah negara yang terlalu ramah seperti Feli, atau negara kaku yang disiplin dan melakukan segalanya dengan sempurna seperti Ludwig, ia hanyalah seorang negara yang mempunyai tata krama yang tinggi, namun sedikit kikuk dan pemalu. Ia tidak menunjukkan betapa ia mengagumi Ludwig, seperti Feli yang merayu dan memujinya pada apapun yang ia lakukan. Ia juga berusaha menjadi akrab, namun tidak ingin terlihat lancang. Meski ia selalu gagal menjaga imagenya yang professional, ia tetap berusaha, semalu apapun dirinya, selelah apapun dirinya.

Pemuda, seorang negara, yang canggung, kaku, pemalu, seperti di tengah-tengah gladiator, ia memegang pedangnya dengan kikuk, namun meski dihajar berkali-kali, tetap ia lawan rasa malunya, tetap ia lawan rasa canggungnya, dan tetap ia berdiri disitu, babak belur, dadanya naik-turun sambil mendesah dengan dramatis, dengan wajah merah dan lidah yang tergigit.

Ludwig seperti melihat kaca. Orang ini persis seperti dirinya.

“dua hotdog, tuan.” Penjual stand hotdog langsung sigap tangannya mengambil roti dan wurst setelah diperintah Ludwig. Dirga menatap penjual hotdog dengan gelisah. “Benar ini buat saya? Saya bisa bayar sendiri.”

Ludwig melambaikan tangan kirinya lalu tangan kanannya menempelkan uang di atas gerobak hotdog. “biarlah saya menjamu tamu saya, Dirga. saya yakin perutmu itu penuh dengan angin. Dan mulutmu kering juga terasa seperti darah.” Kata Ludwig sambil menyengir. Ia tahu kata-kata itu akan membuat Dirga malu, dan benar, kulit pemuda tropis ini, kini memerah lagi sambil tersenyum malu dan tertawa kecil untuk menghilangkan rasa malunya sendiri. Sedikit merasa bersalah Ludwig. Jika abangnya tahu ini, pasti ia akan mengungkit kejadian ini jika Ludwig menegurnya saat meledek atau menggoda orang.

“dua hotdog pak.” Seru penjual hotdog itu sambil menyodorkan hotdog masing-masing pada Ludwig dan Dirga. Dirga mengambil hotdog itu dengan senyum sambil mengangguk kecil dan mengucapkan “danke.” Ludwig hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah laku orang ini. Meski masih dalam kondisi malu dan bahasa Jermannya masih minim, tetap saja ia menunjukkan sopan santunnya pada penjual hotdog ini, meski si penjual hotdog tidak membalas senyuman Dirga.

Ludwig menatap Dirga, yang mengigit sebagian hotdog dan mengunyahnya dengan antusias, seolah lupa lidahnya tergigit tadi. Ia mengunyah sambil mengangguk-ngangguk kecil menatap gigitan hotdognya. “enak sekali hotdog ini! Tak pernah kurasakan sosis seempuk ini! Bagaimana cara mengolahnya?” Tanya Dirga sambil mengangkat hotdognya pada Ludwig.

Ludwig merasa amat tersanjung dengan pujian Dirga, si negara yang dikenal masakan kulinernya yang khas. Ah, benar Feliciano, wurstnya sudah berkembang. “Babi memang enak, Dirga. Sangat mudah mengolahnya—“ belum selesai Ludwig bicara, Dirga melotot, tangannya langsung kaku, dan hotdog meluncur dari tangannya yang tidak menggenggamnya.

Tentu ini membuat Ludwig terkejut bukan kepalang. Apa yang telah ia katakan? Apa yang telah ia perbuat? Ludwig menundukkan badannya menatap mata Dirga yang melotot dan dalam tatapan kosong, seolah nyawanya baru dicabut. Si penjual hotdog terheran dengan suara percakapan yang tiba-tiba terhenti, dan memajukan badannya keluar dari stand gerobaknya untuk melihat apa yang dilihat Ludwig.

“hei tuan! Kenapa kau?” seru si penjual vendor. Penjual itu melihat hotdog buatannya tidak ada diatas tangan mana pun. ia melihat ke kaki Dirga, dan tak jauh dari kakinya, seonggok hotdog setengah tergigit tergeletak mengenaskan.

“ah tuan! Kau muslim ya?!” seru penjual itu sambil tertawa terbahak-bahak. Ludwig ikutan melotot menatap si penjual itu. “kejadian sama seperti kemarin! Orang Turki langsung memuntahkan hotdog dari mulutnya setelah temannya memberi tahu terbuat dari apa hotdog itu.” Lanjutnya, tawanya tidak mereda sedikit pun “parah sekali memang, temannya itu mengusilinya setelah tahu orang islam tidak boleh memegang babi. Hai mister! Jangan-jangan kau juga begitu!?” katanya sambil menunjuk Ludwig.

“Tidak!” seru Ludwig. “Tidak Dirga, aku tidak bermaksud begitu, maafkan aku, sungguh, aku tidak tahu.” Ludwig memegang bahu Dirga yang sekarang mulai siuman dari shock nya. Sungguh memalukan! Apakah ini karma karena Ludwig sempat menggodanya?

Dirga menggelengkan kepalanya sambil meringis “tidak apa, Ludwig, tidak apa.” Katanya. Senyumnya yang meringis perlahan-lahan menjadi lebar hingga menunjukkan giginya, dan Dirga tak sanggup menahan tawanya. Wajahnya kini memerah, namun bukan karena malu, tetapi karena tawa berderai dari mulutnya. Terbahak-bahak Dirga, sampai bingung Ludwig dibuatnya.

“aih, lucu sekali... kalau ini terjadi di negaraku, pasti kau dihajar massa, Ludwig. Tak apa, Ludwig! Ada banyak beragam agama di negaraku, aku bukan negara muslim! Hanya aku tak terbiasa memakan daging babi.” Dirga mengelap air matanya dengan jari, sambil terkikik, sisa dari tawanya yang terbahak-bahak tadi. “maaf Ludwig, hotdogmu terbuang. Bisa kuganti?”

“tidak perlu Dirga!” serunya. “memang tak pantas aku menjamu tamu di tempat seperti ini, ikut aku Dirga, kupastikan perutmu itu kenyang di tempat yang layak!”

“hei mister, apa maksudmu ‘tempat seperti ini’?!” protes si penjual hotdog itu. “kalau aku cukup kaya, akan kubuka restoran besar, mister! Lagipula, hotdogku cukup enak bukan!?”

Ludwig tak menghiraukan penjual itu dan menepuk punggung Dirga untuk mengikutinya ke dalam mobilnya. Dirga masih terkekeh-kekeh, apalagi saat mendengar balasan si penjual itu.

“tak kusangka wajahmu bisa memerah juga, Ludwig!” celetuk Dirga.

Mendengar itu, Ludwig menjadi tambah malu dan kulitnya yang pucat dengan jelas memamerkan warnanya yang kini memerah. Entah ini adalah karma atau bukan, yang jelas, kini dibuktikan, bahwa negara Asia yang pendek, kikuk, dan canggung ini, benar-benar cerminannya.
**************************************************************************************************************************

Alunan musik klasik dari sekelompok pengamen, memainkan cello, viola dan violin dengan terampil di pinggir jalan terdengar samar, dengan suara ketukan sepatu hak renyah pelayan yang menghampiri mejanya untuk memberikan 2 lembar menu melangkah dengan ketukan yang sama, seolah menari bersama di tengah keheningan. Kepala Dirga tak henti-hentinya menoleh sana sini, matanya menerawang tiap sudut ruangan, tiap kursi, tiap meja, tiap jendela, tiap hiasan, tiap gelas, tiap pelanggan, semua tekstur, warna, bentuk, posisi, dijepret oleh mata Dirga dan disimpan baik-baik di kepalanya.

“Dirga, menunya sudah ada disitu.” Ujar Ludwig sambil membaca menu.

“oh!” seru Dirga, bola matanya turun, menatap menu yang entah sejak kapan sudah ada di depannya ini. Ludwig menyadari Dirga sama sekali tidak menyentuh—atau bahkan matanya jauh dari menu dan meja mereka. Sebenarnya ia sedikit geli dan gemas menonton tingkah laku Dirga, seperti anak kecil dibawa ke istana impiannya dalam mimpi. Matanya tak berhenti menerawang sana-sini, meski perutnya kosong, badannya melengkung ke belakang sambil memutar kepalanya hampir 180˚, entah apalagi yang ingin ia lihat. Ia bahkan tak menyadari bibirnya sedari tadi tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang mungkin saja sudah kering.

“Kamu yang paling tahu, Ludwig. Pilihlah makanan yang menurutmu terenak! Asal jangan babi.” Balas Dirga, masih tersenyum memperlihatkan gigi keringnya.
Ludwig berusaha menahan malunya atas kejadian hotdog sebelumnya dengan berdehem, “lalu minumnya?”

“apapun yang menurutmu enak, Ludwig, yang penting tidak mengandung alkohol.” Balas Dirga. matanya lanjut menerawang setiap sudut ruangan lagi, tak peduli apa yang dipilih Ludwig. Geleng-geleng kepala dibuatnya. Ludwig memanggil pelayan tadi, mata Dirga lebih melotot saat melihat pelayan yang barusan memberikan menu tadi datang, seolah baru pertama kali ia lihat pelayan ini, padahal pelayan ini adalah orang yang sama yang memberi menu padanya dan Ludwig. Matanya naik turun melihat pelayan ini dari atas hingga kebawah, dan terus mengikuti pelayan itu hingga ia pergi.

“cantik ya?” Ludwig mencoba basa-basi.

“iya, cantik sekali!” serunya menggebu-gebu dengan mata emasnya yang berkilau. “rambutnya lucu sekali, sangat keriting, tapi warnanya jingga! Baru kali ini aku melihat wanita dengan rambut seperti itu!”

Ludwig menyembur tawanya sedikit. Dirga agak terkejut dengan reaksinya. “kenapa Ludwig? Ada yang salah?”

“deskripsimu lucu sekali, Dirga. baru kali ini kulihat orang mengomentari kecantikan seseorang karena rambutnya lucu.” Sungguh orang yang polos yang pernah Ludwig temui. Saat ia bersama Feli, atau abangnya, atau geng abangnya, Antonio dan Francis, jika ada wanita cantik lewat, seketika pembicaraan mereka terhenti dan mata mereka mengikuti bokong wanita itu hingga lenyap dari pandangan mereka. Atau yang ekstrim Italia bersaudara, Feliciano dan Lovino, mereka akan langsung mendekati dan memuji betapa cantiknya wanita itu, serta menawarkan minum pada mereka.

“di negaraku, ada wanita sepertinya, rambutnya keriting, wajahnya pasti manis, namun semua orang di negaraku warna rambutnya hitam, tidak sepertinya yang jingga! Apakah rambut mereka sedari lahir seperti itu?” tanya Dirga.

“sepertinya iya.” Balas Ludwig. “mereka sebutannya ginger. Kudengar, wanita di Skotlandia banyak yang seperti itu. Apa semua orang di negaramu rambutnya hitam sepertimu, Dirga?”

Dirga mengangguk dengan semangat, “kebanyakan warna mereka hitam sepertiku, tetapi ada yang coklat, itu biasanya dimiliki anak-anak yang kelamaan bermain diluar.”

Ludwig tersenyum gemas melihatnya begitu antusias menceritakan tentang negaranya. Dipikir-pikir lagi, Ludwig tidak tahu banyak tentang teman barunya ini. Hanya mendengar desas-desus dan cerita negara lain tentangnya. Dan itu berujung pada insiden hotdog tadi pagi karena ia kurang melakukan research tentangnya. Namun jika Ludwig bertanya “seperti apa negaramu?” tentu kesannya ia terlalu meremehkan, seolah-seolah Dirga tidak begitu penting hingga tak pernah ia lakukan research. Namun ia sendiri tak tahu mulai darimana. Hanya ada satu pertanyaan yang menurutnya layak ditanyakan.

“Dirga, boleh kutanya sesuatu?”

“Tanyakanlah” balas Dirga.

“aku dengar, kamu kesini untuk belajar. Kenapa kau jauh-jauh datang kesini untuk belajar? Apa yang ingin kamu pelajari?”

Tersenyum Dirga dibuatnya. Senyum yang tidak bisa dimengerti Ludwig. Ia tersenyum, namun terlihat seperti menyeringai. Ekspresinya tidak bisa ditebak Dirga melipat lengannya di meja dan memajukan sedikit badannya. Bola matanya yang emas berkilat-kilat menatap mata Ludwig.. Ini bukan pemuda lugu dan pemalu yang Ludwig lihat selama ini. Ada sebuah hasrat atau ambisi, berkobar, meletup-letup dibalik matanya. “aku ingin membuat pesawat.” Jawabnya.

“pesawat?” Ludwig tak menduga jawaban ini. “kenapa pesawat?” ulangnya.

Dirga tidak menjawab, hanya tersenyum sambil sedikit mendengus. Ia menoleh saat mendengar suara langkah high heels renyah dari pelayan rambut keriting, membawakan pesanan mereka. Dirga memundurkan tubuhnya, mempersilahkan pelayan itu menaruh pesanan mereka.

“negaramu itu terkenal dengan mesin, Ludwig.” Kata Dirga sambil menatap makanan yang dipesan Ludwig. Königsberger Klopse. Bentuknya seperti bakso pucat, dan kuahnya amat sangat kental seperti saus. “aku butuh ilmumu agar aku bisa membuat pesawat.” Lanjutnya.

“tetapi kenapa pesawat, Dirga? tidak mobil? Bukankah mobil lebih efisien?” Ludwig yakin mobil buatannya lebih dikenal dunia dibanding pesawat. Ia sedang mengembangkan mesin mobil dengan abangnya akhir-akhir ini.

“akan kuceritakan alasanku ingin membuat pesawat nanti.” kata Dirga sambil memamerkan senyum andalannya pada pelayan rambut keriwil itu sebagai ucapan terimakasih. “aku akan mengikuti German course dulu. Lalu setelah aku lulus, aku akan langsung kuliah disini dan belajar teknik.”

“haruskah aku menunggu alasamu hingga kau selesai mengikuti German course?” tanya Ludwig setengah bercanda.

“tidak hanya itu,” Dirga menusuk “bakso” nya ini dan memutar-mutarnya di depan mata. “aku butuh peta agar aku bisa menjelaskannya padamu.”

Serumit itukah penjelasannya? Namun, harus ia hormati kegigihannya agar bisa menjelaskan keinginannya dengan detail pada Ludwig. Ludwig jadi semakin penasaran dan gemas dengan Dirga. sungguh pria unik dan misterius.

“setelah makan ini, ku antar kau hingga ke tempatmu menginap dan kuberikan peta untukmu, Dirga. Jangan kau buat aku mati penasaran.” Candanya.

Dirga tertawa setelah ia menelan Königsberger Klopsenya. “sabarlah, kawan. Ini tidak akan begitu menarik bagimu, simpanlah kekecewaanmu itu nanti.”

“kau malah membuatnya semakin menarik, Dirga.” balas Ludwig.

“kalau begitu akan kubuat jawabannya lebih menarik nanti.”
**************************************************************************************************************************

Ludwig melempar dirinya ke sofa sambil menghela nafas. Kepalanya disenderkan pada punggung sofa hingga menatap langit-langit ruang tengahnya. Tubuhnya terasa lelah, namun segar setelah pertemuannya dengan Dirga.

Tempat Dirga menginap tidak cukup jauh dari tempatnya. Butuh sekitar 1 jam perjalanan saja. Tempatnya tidak begitu sempit, namun tidak begitu luas juga. Ludwig sempat meminta maaf karena merasa tidak memberikan ruangan layak padanya, namun Dirga membalas permintaan maafnya dengan ekspresi serius, “ini sudah lebih dari cukup Ludwig. Aku malah takut jika ditempatkan di ruangan luas. Serius! Ku dengar semakin luas ruangan, semakin banyak setan berkumpul!” entah Dirga benar-benar serius atau bercanda, yang pasti itu menambahkan sifat Dirga yang unik dalam daftarnya; seorang negara yang tidak hanya lucu, lugu, pemalu, tetapi juga percaya pada hantu dan sepertinya penakut.

“eh eh eh” Ludwig tak perlu menoleh untuk tahu siapa itu “lagi seneng nih bocah, ahay.”

“jangan ganggu aku bang, aku capek.” Balas Ludwig dengan mata terpejam.

“lho lho lho, acaranya belum tayang kok sudah end credits.” Abangnya loncat dari belakang sofa dan duduk disamping Ludwig, dengan sengaja menimpa tubuh Ludwig.

“Apa sih bang,” Ludwig mendorong balik abangnya kesamping. “sudahlah, aku ngantuk.”

“diapakan kau sama negara tukang kebon ini sampai kelelahan begini?” katanya sambil menepuk kepala adiknya. “kau yang dulu disuruh tidur susah, sekarang malah langsung loyo begini. Ayo, ceritakan padaku, seperti apa negara tukang kebon itu?”

Ludwig tahu abangnya pasti akan begini. Ini gawat, jika Ludwig menceritakan Dirga, pasti abangnya akan penasaran dan mengikuti kemana pun ia pergi.

“seorang negara yang... serius, cerdas dan yah... menyenangkan.” Balasnya dengan jawaban paling membosankan yang bisa dia bayangkan.

“ohhh menyenangkan ya?” abangnya menyubit pipi Ludwig sekencang mungkin. “saking menyenangkannya, kau terlihat senang sekali. Seperti habis berkencan dengan Feli dan membuat mesin pertamamu, ya?”

“aku tadi berjalan-jalan dengannya keliling kota. Sudah lama aku tidak begitu.” Balas Ludwig sambil menepuk-nepuk tangan abangnya yang masih mencubit pipinya.

“kau tak begitu saat bersamaku.” Kata abangnya. “kau menyembunyikan sesuatu dariku.”

“kapan aku menyembunyikan sesuatu darimu?”

“kau pikir sudah berapa lama aku menjadi seorang negara dan sebagai abangmu?” ia melepas cubitannya dan menunjuk-nunjuk dahinya. “lihat, kerutan di dahimu hilang! Bahkan Feliciano jarang melakukan ini! Kau mungkin bisa berbohong pada siapapun tapi tidak padaku, abangmu yang maha tahu dan maha keren ini, Ludwig. Ceritakan.”

Ludwig menghela nafas. Pikirannya masih menerawang cara menjadi jujur tanpa membuat abangnya tertarik. Ia harus melindungi Dirga dari abangnya yang barbar dan menyebalkan ini.

“dia itu... mirip denganku. Agak canggung dan kaku. Mengagumi kita, tapi tak pernah ia tunjukkan secara langsung. Kau pasti akan menyukainya, bang.” Itu yang bisa Ludwig ucapkan. Jawaban paling membosankan yang sedikit lebih panjang.

“oh?” abangnya mengangkat salah satu alisnya. “kenapa aku akan menyukainya?”

“Ludwig Beilschmidt, kau adalah negara paling tolol yang pernah ada. Kau tolol kau dengar itu? tolol! Kenapa kau katakan bagian itu jika ingin membuatnya tidak tertarik padanya dasar tolol?!” sebuah bentakan yang amat keras dan jelas, menggema di kepalanya. Oh, bila saja ia bisa menghentikan waktu lalu memukul dirinya sendiri, pasti akan ia lakukan. Tak perlu ia bisa memutar balik waktu, ia sangat ingin metoyor kepalanya habis-habisan.

“karena....” jangan sebut pesawat, jangan sebut ia pemalu, jangan sebut ia kikuk, apapun yang membuatnya tertarik atau ingin menggodanya! “pengetahuannya tentang berkebun membuatku kagum, suatu saat nanti aku ingin mendapatkan ilmu berkebun dengannya.”

Abangnya mendengus kecewa “aku masih merasa kau menyembunyikan sesuatu dariku.”

“apa yang kusembunyikan darimu bang? Untuk apa aku menyembunyikan fakta seorang negara darimu?” karena jika ia tahu Dirga seperti apa, pasti abangnya yang usil ini akan mengejarnya kemana pun ia pergi. Ini gawat! Ia baru mendapatkan kawan baru yang menarik dan juga menyukai mesin, dan ia bisa stress lalu kabur ke negara asalnya karena abangnya!

Abangnya berdiri dan beranjak ke kamar mandi. diambilnya sikat gigi yang sudah disusun rapih oleh adiknya, lalu mengoleskan pasta gigi diatasnya “sejujurnya aku tidak begitu peduli, aku sendiri juga malas melayani negara asing.” Ia memasukkan sikat gigi di mulutnya, “jhahi, husherahkan ihi padamu” (jadi kuserahkan ini padamu.)

Tak pernah Ludwig merasa bersyukur dan lega atas sifat abangnya yang agak pemalas dan egois.
**************************************************************************************************************************

Dipandangnya tiap sudut kamarnya yang berukuran 2x4 itu. Ini kamar yang sangat layak dibandingkan tipikal kamar kost yang ada di negaranya. Kasurnya melayang diatas udara, disangga dan dibingkai oleh kayu yang sedikit reyot. Tidak seperti tipikal kamar kost di negaranya yang hanya memiliki kasur yang langsung bersentuhan dengan lantai, dan jendela berdebu yang patut disyukuri jika kacanya tidak retak atau bisa dibuka. Kamarnya berada di lantai dua, di dalam bangunan apartemen tua yang lumayan dekat dengan universitasnya. Sungguh, jika tempat kost ini ada di negaranya, pasti harganya hampir sama dengan beli rumah. Bagaimana tidak, kamarnya sudah ada kasur seperti hotel, dilengkapi jendela dan gorden yang tidak berdebu dan putih seperti baru dicuci, tak perlu takut kasurnya terkena banjir, sudah disangga kayu, ada di lantai 2 pula! Jika ada banjir dan kasurnya basah, artinya seluruh dunia sudah banjir dan negaranya sendiri pasti sudah menjadi Atlantis. Ada pula lemari dan meja belajar! Ia tidak harus menggunakan koper sebagai lemarinya dan tidak perlu tengkurap untuk belajar! Saat Ludwig mengantarnya kesini, wajahnya terlihat khawatir melirak-lirik tiap sudut ruangan. Berkali-kali ia berkata “aku tahu tempat yang lebih bagus jika kau mau, Dirga.” dan mengomentari bagian-bagian yang kurang dari kamar ini. Seperti ukuran kamarnya terlalu sempitlah, agak sedikit berdebulah, apalah. Dirga meyakinkan Ludwig bahwa ukuran kamarnya sangat sempurna, tidak terlalu sempit, namun tidak terlalu luas. Ia yakin ia tidak akan melihat setan di kamar yang sudah sempit, dihuni orang pula. Meski Dirga sudah berkali-kali diberi tahu pak Wiryo bahwa setan di Eropa tidak ada yang seram atau seheboh setan di negaranya, malah cantik-cantik kebanyakan. Setan yang terseram disana itu paling bentuknya seperti noni Belanda. Tidak ada kuntilanak, tidak ada genderuwo, tidak ada tuyul, apalagi pocong. Namun tetap saja, secantik apapun setan itu, setan tetap setan. Dirga lebih baik dimaling atau dimasuki pembunuh daripada melihat setan. Barangnya tidak ada yang berharga untuk dicuri, dan ia tak bisa mati dibunuh oleh manusia mana pun. namun setan? Tubuhnya mungkin akan baik-baik saja, namun jiwa dan raga tidak.

Jika soal debu, percayalah, rumah orang terdekatnya yang saat ini pemimpinnya—presiden Soekarno, mungkin lebih berdebu daripada ruangan ini. Bahkan, jika ia ke satu rumah siapapun itu di negaranya yang isinya ada 5 orang misalkan, gorden di rumah mereka jika disibak, pasti hidung dan wajah disambut oleh debu dan nyamuk yang mengamuk markas rahasia mereka diganggu.

Dirga melepas mantelnya yang lusuh dan berat, melemparkannya ke kasur. Secarik kertas juga ikut terlempar keluar dari kantong mantelnya. Baru teringat ia kertas yang diberi pak Wiryo sebelum mereka terpisah di bandara.

“kamu yakin ndak mau saya anter?” tanya pak Wiryo saat mereka menunggu koper Dirga keluar.

“yakin pak.” Balas Dirga dengan mantap. “bapak langsung istirahat wae pak. Bapak pasti capek.”

Pak Wiryo menggaruk belakang kepalanya, memang, ia sudah sangat lelah. Matanya ingin sekali menutup kelopaknya, jantungnya berdetak kencang, mengingatkan ia kurang tidur, rasanya ingin ia menjatuhkan diri ke lantai bandara yang dingin, lalu tidur. Ini jauh lebih melelahkan dibandingkan saat ia naik pesawat di zaman pendudukan Jepang. Kurang tidur tak masalah, ia, tubuhnya, dan dunia tahu kapan ia bisa tidur dan kapan ia harus melawan dan berlari. Tak ingat lagi tubuhnya rasa nikmat tidur. Ia hanya tidur agar ia tak mati. Namun saat ini, rasanya ia diizinkan tidur kapan saja, namun serapat apapun matanya tertutup, tak diizinkan ia pergi ke dunia mimpi oleh rasa takutnya dengan kepala pusing dan leher yang kram atau pegal akibat tidur terlalu lama. Juga karena Dirga yang tak bisa diam menanyakan hal ini itu dengannya di pesawat.

“yo wis,” pak Wiryo merogoh sakunya, lalu menarik punggung tangan Dirga dan menempel lipatan kertas diatas telapak tangannya. “ngkok mocoen iki.” (nanti baca ini.)

Dirga menatap lipatan kertas ini dengan bingung. “opo iki pak?” (apa ini pak?)

“nanti baca aja. Nanti. Jangan sekarang.” Balas pak Wiryo.

“dari siapa ini pak? Dari bapak sendiri?”

“kalau memang itu dariku, lebih baik kukatakan sekarang daripada kuberi kertas begitu. Pokoknya, orangnya bilang, kamu ga perlu tahu siapa dia. Baca saja kalau nanti sudah sampai di Jerman.” Pak Wiryo lalu menggenggam bahu Dirga dan menepuk-nepuknya “kalau begitu, aku duluan. Jaga dirimu baik-baik ya le.”

Dirga membuka lipatan-lipatan kertas yang semakin dibuka, semakin menunjukkan betapa lusuhnya dan tuanya kertas ini. Semakin dilihat, kertas ini tidak berwarna putih, melainkan berwarna kekuningan dengan bercak noda. Jika kertas ini adalah manusia, pastilah ia sudah ubanan dan keriput dimana-mana. Ada noda sidik jari, ada pula bagian bergelombang, tanda sudah terkena air. Aroma dari kertas ini pun khas aroma buku tua.

Saat dibuka sepenuhnya, kertas ini tidak ditulis dengan mesin ketik, atau bahkan pena, melainkan ditulis dengan pensil tumpul, lengkap dengan noda gosok dari karet di beberapa bagian.

Langit
Membentang diatas menjadi sebuah bait
Ku gapai dengan tanganku, kaki ku berjinjit
Ku iri dengan burung dengan sombongnya bercuit
bentangan sayapnya membuatku lara
dengan bebasnya ia mengudara
Diarunginya Samudra
Pergi dari selatan menuju utara
Meninggalkanku sendiri sengsara
Dirgantara
Ruang udara dan antariksa
Tak terbatas sepanjang masa
Diatasku kau berdiri dengan perkasa
Bawalah ku pergi ke angkasa
Terbangkan aku seperti burung
Mengarungi samudra
Menjadi pengembara
Kuingin melihat dunia
Lalu pulang pada ibuku kuberi cerita tentang dunia
Dirgantara
Engkaulah Nusantara
Milikilah langit dan udara
Teriakanlah namamu pada dunia!
Katakan pada dunia langit tempat kau berkuasa
Seperti namamu bagimu
Bentangkanlah sayapmu
Demiku, demi pejuangmu, demi nenek moyangmu
Demi rakyatmu, dan demi kau.