Work Text:
Chenle pikir setelah pengakuan tiba-tiba yang dilakukan Jisung di depan puluhan mahasiswa di kampus seminggu yang lalu akan membuat mereka bisa memiliki hubungan seperti pasangan lainnya. Maksudnya mereka tidak perlu berpura-pura tidak saling mengenal lagi seperti sebelumnya. Namun kini situasinya justru menjadi lebih buruk.
Park Jisung menghindarinya.
Padahal mereka tidak memiliki masalah apapun, dan jika diingat-ingat Chenle juga tidak memiliki kesalahan yang membuat Jisung harus menghindarinya begini. Ah, Chenle paling malas jika harus bermain tebak-tebakan apalagi perihal isi otak orang lain.
Ayolah, Chenle bukan peramal yang bisa membaca pikiran seseorang.
Namun tetap saja, Chenle bukan tipikal pria yang mendesak kekasihnya untuk segera memberi alasan atas kejadian ini. Chenle lebih memilih memberikan sedikit waktu untuk Jisung, maka selama seminggu ini ia biarkan Jisung menghindarinya.
Tapi tidak untuk hari berikutnya. Seminggu adalah batas maksimal toleransi yang bisa diberikan Chenle, dan saat ini setelah mengirim pesan chat untuk kekasihnya, Chenle sibuk menyesap batang nikotinnya sembari menatap pemandangan kota melalui rooftop kampus.
Netranya menatap ke bawah, memperhatikan mahasiswa yang sibuk berlalu-lalang di bawah sana. Menunggu dengan sabar sampai akhirnya terdengar suara pintu terbuka di belakang tubuhnya, lalu disusul suara derap langkah kaki yang mendekat.
“Chenle.”
Jika boleh memuji, Chenle sangat menyukai suara Jisung saat memanggil namanya. Jisung memiliki suara yang begitu rendah dan memikat, maka setiap pemuda itu melafalkan namanya, Chenle seolah dibawa tenggelam jauh ke dalam diri seorang Park Jisung. Berlebihan memang, namun Chenle tidak pernah berbohong akan penilaiannya.
Kepalanya menoleh untuk melihat wajah yang paling ia rindukan. “Kenapa lama?”
“Maaf, tadi aku ada urusan.” Jisung mendekatinya santai, namun Chenle tetap bisa menyadari kecanggungan yang ada disana.
Chenle kembali menyesap batang nikotinnya sebelum membuangnya ke tanah kemudian menggerusnya dengan sepatu. Meski batangnya masih panjang.
“Kenapa dibuang? Itu masih sisa banyak?” Jisung mengerjap bingung.
“Lo kan gak suka asap rokok.” Jawabnya santai. Chenle membalik tubuhnya hingga kini punggungnya bersandar pada tembok pembatas. Tangannya melipat di depan dada dengan netra yang menatap tepat ke dalam obsidian kecokelatan itu.
“Kenapa lo menghindari gue?”
Jisung terlihat terkejut, namun setelahnya berusaha bersikap biasa saja, “Gak ada. Perasaan kamu aja mungkin.”
Suara tawa Chenle menyahut setelahnya. Seolah Jisung tengah melontarkan lelucon yang mengocok perut. “Jangan pura-pura bego.”
Tangan kirinya masuk ke dalam saku celana, sementara kanannya terangkat lalu mengamit dagu yang lebih muda, menariknya hingga wajah itu tidak menunduk lagi, agar Jisung tidak bisa mengalihkan pandangannya. “Lo kenapa menghindar dari gue selama seminggu ini? Persetan dengan pembelaan lo. Gue cuma mau denger alasannya.”
Satu helaan napas terdengar. Jisung berusaha mengatur napasnya untuk meredakan rasa gugup yang selalu menyerangnya saat berada dalam situasi seperti ini, apalagi dengan Chenle sebagai lawan bicaranya. Padahal mereka sudah menjalin hubungan cukup lama. “Maaf.”
“Bukan itu yang pengen gue denger dari lo, Park Jisung.”
“Aku—” Jisung terlihat ragu. Bingung apakah ia harus berkata jujur pada Chenle atau memilih membuat alasan lain yang mungkin masuk akal. Otaknya berusaha berpikir keras, namun tidak berhasil, karena tatapan tajam dari Chenle berhasil membuat otaknya tak berfungsi.
“Jangan buat alasan konyol.”
Jisung menyerah. Pada akhirnya ia tidak akan bisa mengalahkan Chenle. Maksudnya, Chenle memiliki aura tersendiri yang selalu berhasil membuat Jisung takluk di bawah kakinya. Meski berusaha keluar dari jeratan aura dominan itu, Jisung tetap berakhir bertekuk lutut.
“Mereka bilang aku terlalu buruk buat bersanding sama orang terkaya di kampus.”
“Tapi lo sendiri yang bilang buat gak mikirin apapun label yang orang-orang kasih ke kita.”
“Iya, tapi—” Tapi Jisung merasa insecure. Mendengar orang-orang mengatakan kalau Jisung terlalu buruk untuk seseorang seperti Chenle membuat perasaannya menjadi bimbang. Membuatnya kembali menilai semua yang ia punya lalu membandingkannya dengan milik Chenle, hasilnya sangat jauh bertolak-belakang.
Jisung hanya mahasiswa biasa yang mengandalkan beasiswa untuk mendapatkan gelar yang ia dambakan, setelahnya mungkin ia akan bekerja di perusahaan biasa demi mendapatkan gaji untuk memenuhi kehidupannya. Tidak ada yang spesial sama sekali. Sementara Chenle, setelah lulus mungkin saja pemuda itu akan meneruskan salah satu perusahaan orang tuanya, atau mungkin melanjutkan studi ke luar negeri.
Seperti jarum jam yang menunjukan pukul 12:30, mereka seolah berdiri dalam satu garis yang sama namun menghadap pada tujuan yang berbeda.
“Park Jisung.” Chenle memanggil pelan. Melalui pancaran netra kecokelatan itu ia bisa merasakan semua keraguan yang menghantui Jisung. “Berhenti mikirin hal yang gak perlu lo pikirin.”
Chenle mendekatkan wajahnya, menatap wajah rupawan Jisung dalam jarak yang lebih dekat hingga ia dapat merasakan helaan napas memburu dari pemuda itu. “Gue maunya sama lo.” Chenle berbisik pelan kemudian memberi kecupan ringan di bibir. “Gue gak peduli sama yang lainnya, gue cuma peduli sama lo.”
Chenle tidak sedang berbohong.
Chenle bukan pria yang suka berbohong. Lebih tepatnya Chenle tidak bisa berbohong, dan Jisung mengetahui fakta ini dengan baik. Chenle bukan pria yang dengan mudah mengumbar kalimat manis, bahkan pujian. Maka saat kalimat-kalimat itu keluar dari bilah bibirnya, Jisung dapat merasakan kesungguhannya.
Tapi yang menjadi masalah disini, akankah kepedulian Chenle terhadapnya berlangsung lama? Atau hanya sementara seperti angin lalu?
“Jisung.”
“Hm?”
Kala itu Jisung merasa otaknya penuh hingga nyaris meledak. Jisung perlu pelarian untuk meredakan rasa frustasinya, dan Chenle langsung menyadarinya.
“Mau nginep di apart gue?”
Tanpa berpikir lebih panjang, Jisung langsung mengangguk patuh seperti anak anjing yang mengikuti perintah tuannya. Ya, Chenle adalah tuannya.
Keduanya berbaring diatas ranjang dengan Chenle yang mengukung tubuh Jisung di bawahnya. Ia bertumpu pada sikunya agar tidak langsung menindih Jisung. Netranya menatap lamat, memperhatikan setiap detail wajah rupawan kekasihnya.
“Lo tuh cantik banget, Ji.” Pujinya sebelum meninggalkan kecup di kening Jisung.
Yang dipuji meringis kecil, “But you're the prettiest.”
Chenle tertawa gemas, kemudian kembali menghujani Jisung dengan ciuman kupu-kupu di seluruh sisi wajahnya. Onyx bulatnya berbinar senang, bahkan siapapun yang melihatnya dapat menebak bahwa Chenle begitu memuja Jisung.
Ciuman yang Chenle berikan mulai menuruni rahang tegas milik Jisung, menyapukan ranum kemerahannya sepanjang garis rahang sampai bermuara di daun telinga yang lebih muda. Kecupan ringan ia berikan disana sebelum lidahnya keluar untuk menjilat kemudian mengulum dan memberikan gigitan kecil yang membuat tubuh di bawahnya menggeliat pelan.
“Le.” Jisung memanggil susah payah karena Chenle benar-benar tak memberinya waktu untuk bernafas lega. “Chenle.” Panggilnya lagi. Namun Chenle memilih tak mendengarkannya dan tetap menghujani leher Jisung dengan ciumannya.
“Zhong Chenle.” Jisung menahan pergelangan tangan Chenle yang mulai memainkan noktahnya. “Dengerin aku dulu, Le.”
Pada kalimat itu Chenle akhirnya mengangkat wajahnya. Netranya menatap bingung wajah Jisung yang telah merah padam, “Lo lagi gak mau main?”
“Bukan gitu.” Susah payah Jisung mengontrol napasnya yang telah memburu, kedua lengannya berpindah memeluk tubuh Chenle, “Aku pengen mimpin permainan kali ini.”
Chenle terdiam berusaha menimang keinginan kekasihnya. Seminggu yang lalu Jisung memang sempat mengatakan ingin mendominasi Chenle sesekali, dan ia pun menyetujuinya. Namun Chenle tidak menyangka Jisung akan menagihnya secepat ini.
“Gak boleh ya?”
Sebenarnya Chenle tidak pernah suka menjadi pihak yang tunduk, meski dirinya menjadi pihak yang dimasuki sekalipun. Bahkan dengan mantan-mantannya terdahulu, Chenle selalu menjadi pihak yang dominan. Mungkin karena sejak kecil Chenle sudah diminta untuk mengambil keputusan sendiri atas hal-hal kecil yang terjadi padanya, juga dibentuk untuk kelak bisa menjadi pemimpin, maka kini dirinya tak sanggup menjadi tunduk pada perintah orang lain.
Namun Jisung bukanlah orang lain. Jisung adalah seseorang yang mengisi ruang kosong di hatinya. Meski tidak ada yang bisa menebak kemana kisah mereka akan bermuara nantinya, setidaknya saat ini hanya Jisung yang ia puja.
Maka Chenle menggeser tubuhnya hingga terlentang di sebelah Jisung. Kepalanya menoleh kesamping, menatap Jisung yang terlihat sedikit terkejut —mungkin tidak menyangka kalau Chenle benar-benar akan menepati janjinya.
“Silahkan.”
“Kamu serius?”
Kepalanya mengangguk, “Buruan sebelum gue berubah pikiran.”
Menjadi dominan di ranjang bukanlah sekedar memberi perintah dan menjadi penguasa di ranjang dengan submisif yang tunduk menuruti setiap perintah sang dominan. Bukan hanya sebatas itu. Namun juga harus mengetahui apa yang sang submisif butuhkan, tau bagaimana cara memberi kenikmatan sebagai hadiah atas kepatuhan si submisif, dan juga memberikan after care terbaik setelah semuanya berakhir.
Dan Jisung tidak memiliki kemampuan apapun untuk menjadi seorang dominan.
Maka disaat ia telah berhasil mengukung tubuh polos di bawahnya, Jisung bingung apa yang harus ia lakukan setelahnya.
“Eum..” Jisung menggigit bibir bawahnya, begitu menyadari sejak tadi Chenle tersenyum menatapnya. “Aku bingung harus ngapain.” Gumamnya pelan.
Chenle terkekeh ringan. Kedua tangannya naik menangkup rahang yang lebih muda, lalu menarik wajah Jisung hingga dirinya bisa mencuri satu kecupan di bibir. “Ikutin naluri lo aja, gue bakal nurutin semua yang lo suruh. I trust you.“
Jisung sering kali kehilangan rasa percaya dirinya, sering merasa bahwa dirinya tidak akan berhasil dalam menggapai sesuatu yang ia inginkan. Namun Chenle selalu berhasil membuat kepercayaan dirinya naik, meski hanya dengan satu kalimat sederhana seperti, I trust you.
Jisung meninggalkan satu kecupan di kening kekasihnya, lalu kembali menatap pupil bulat cantik pria di bawahnya, “Kalo nanti aku agak berlebihan tolong marahin ya.” Dan Chenle membalasnya dengan seulas senyum tipis disertai anggukan pelan.
Kemudian Jisung mulai memberi kecupan pada setiap inci tubuh kekasihnya. Sementara tangan lebarnya mengusap halus bahu Chenle, menyapu turun hingga bertemu pada salah satu titik kecokelatan yang telah mencuat tegang. Senyum kecil mengulas di wajah Jisung, sengaja memainkan jarinya melingkar di sekitar noktah itu tanpa berniat menyentuhnya.
“Park Jisung!” Chenle menggeram tertahan. Mulai frustasi karena Jisung tak kunjung memainkan noktahnya.
Jisung mengangkat wajahnya untuk melihat bagaimana wajah frustasi kekasihnya, “Minta yang bener dulu. Kamu maunya apa?” Balasnya dengan nada yang begitu tenang. Sangat berbanding terbalik dengan Chenle yang terlihat tak sabaran.
“Anjing!”
“Zhong Chenle.”
Bagai tersihir, suara rendah yang melafalkan namanya itu berhasil membuat Chenle menjadi lebih tenang. Netra bulatnya yang awalnya kehilangan fokus, kini berhasil menatap tepat di obsidian milik Jisung.
“Coba bilang dulu apa yang kamu mau.” Jisung kembali mengulanginya. Masih dengan nada suara yang begitu tenang dan mata yang menatap teduh.
Namun entah mengapa Chenle justru merasa menjadi kecil. Seolah Jisung berhasil mendominasinya hanya melalui suara dan tatapan matanya.
“Gue—”
“Yang sopan ngomongnya.”
“Aku..” Chenle meneguk ludahnya susah payah. “Aku mau Jisung. Mau diewe sama Jisung, dipake buat muasin Jisung.” Kalimatnya begitu berantakan. Aneh, Chenle tiba-tiba tidak bisa memikirkan kalimat lain yang lebih pantas untuk digunakan. Padahal ia tidak biasanya begini.
Suara kekehan pelan terdengar. Jemari lentik milik Jisung mengusap sudut bibir Chenle yang basah. “Kamu sampe ngeces gini. Pengen banget ya?”
Chenle langsung mengangguk antusias membuat Jisung tak bisa menahan senyum gemasnya. Chenle memang memiliki sisi menggemaskan seperti ini, meski pemiliknya terkadang tidak mengakui.
Jisung melakukan setiap tahapnya begitu perlahan. Memberikan sentuhan-sentuhan lembut yang menghantarkan sengatan kecil ke seluruh tubuh Chenle lalu bermuara pada satu titik di bagian selatannya. Hingga tanpa disadari Chenle mengeluarkan desahan yang jauh lebih banyak dari biasanya.
“Shhhhh. Ji, please.” Netra bulatnya berkabut dengan air yang menggenang di pelupuknya.
“Iya, sayang.” Jisung seolah bisa menebak apa yang diinginkan Chenle, maka ia segera mengakhiri permainan jarinya di bawah sana.
Jisung menyamankan posisinya, kemudian menaikkan satu tungkai Chenle di pundaknya untuk memudahkannya memulai permainan inti mereka malam ini. Lalu secara perlahan ia mendorong kejantanannya memasuki Chenle, membelah lubang yang sejak tadi berkedut seolah merengek untuk dipenuhi.
Selama proses itu, Jisung tak sekalipun mengalihkan pandangannya dari wajah Chenle. Ia memperhatikan setiap ekspresi yang tercipta di wajah cantik itu; rambut legam yang berantakan dengan beberapa helainya menempel karena keringat, dahi yang mengernyit karena merasakan sedikit rasa sakit, netra terpejam erat dengan airmata menetes di sudutnya, dan bibir membengkak yang mendesah lega ketika Jisung berhasil masuk sepenuhnya.
Gila. Jisung bisa menjadi gila hanya dengan menikmati wajah erotis kekasihnya.
Jisung merunduk, menopang tubuhnya dengan satu tangannya, sementara tangan yang lain menangkup wajah cantik pujaannya. “Chenle, mulai sekarang cuma aku yang boleh liat kamu berantakan kayak gini. Yang lain gak boleh.”
Chenle membuka matanya, ia terkekeh pelan. Jisung masih saja sepolos ini bahkan saat mereka sedang melakukan hubungan intim. “Ya memang aku bisa kayak gini sama siapa lagi? Cuma kamu aja, kan.”
“Siapa tau? Pokoknya yang lain gak boleh.” Ujarnya dengan nada protektif yang tersirat disana.
“Kalo gitu kita gak boleh putus dong? Misalnya kalo kita putus, artinya aku bisa pacaran sama yang lain, terus nanti aku diewe—”
Jisung langsung mengecup ranumnya, bahkan sebelum Chenle berhasil menyelesaikan kalimatnya. “Gak usah ngomongin putus. Aku gak mau putus sama kamu.”
Chenle tak bisa menahan tawa gemasnya, “Misalnya, baby.”
“Gak usah dibahas lagi. Kita gak bakal putus!” Jisung mengerucutkan bibirnya, salah satu kebiasaan Jisung yang selalu berhasil membuat Chenle tak bisa menahan rasa gemasnya.
“Iya. Sekarang lanjutin mainnya.”
“Oh.” Jisung hampir lupa dirinya harus memimpin permainan malam ini. “Maaf.” Ia kembali meninggalkan kecup di ranum Chenle sebelum mulai menggerakan pinggulnya perlahan.
Jisung kembali menegakan tubuhnya. Tangan lebarnya mengusap halus tungkai Chenle yang masih bertengger di bahunya, lalu ia beri kecupan-kecupan kecil sebelum menyesapnya hingga meninggalkan jejak kemerahan disana.
“Chenle kamu cantik banget.” Pujinya sebelum meningkatkan tempo gerakan pinggulnya.
Sementara Chenle sibuk mengeluarkan desah, tangan-tangan mungil itu juga sibuk mencari pelampiasan atas seluruh rasa nikmat yang diberi. “Ahh— Jisung.”
Chenle membusungkan dadanya, dirinya merasa begitu penuh hingga bisa meledak kapan saja. Tinggal sedikit lagi sampai dirinya mencapai putih, Jisung tiba-tiba berhenti bergerak.
“Eh?”
Jisung tak bisa menahan tawanya begitu melihat wajah Chenle yang kebingungan. Ia melepas penyatuan mereka.
“Kok berhenti?” Chenle bertanya dengan nada suara yang sedikit meninggi. Mungkin kesal karena Jisung menghentikannya padahal sedikit lagi Chenle bisa menikmati euforianya.
“Balik badan, sayang.”
Terdengar erangan malas dari pria yang lebih tua dua bulan darinya, namun tubuh itu tetap bergerak mengikuti perintahnya.
“Buruan!”
“Siapa yang kamu suruh buru-buru?”
Chenle menggigit bibir bawahnya begitu mendengar suara rendah di belakang tubuhnya. “Maaf.” Gumamnya pelan.
“Hm.” Jisung kembali menyapukan tangan lebarnya sepanjang garis punggung kekasihnya. Terus mengusap hingga sampai di tulang ekor, hingga tubuh itu menggeliat tak nyaman. “Cantik.” Pujinya untuk yang kesekian kali.
Bagi Jisung, Chenle memang selalu terlihat cantik, begitu indah hingga memaksanya untuk terus menaruh perhatian pada pemuda itu. Chenle memiliki daya tariknya sendiri; saat menyesap batang nikotinnya, saat memberi tatapan malas pada orang-orang disekitarnya, bahkan tetap terlihat menarik dikala tidak melakukan apapun. Jisung pasti sudah gila.
Jisung kembali menenggelamkan kejantanannya disana sebelum Chenle kembali memarahinya karena tak kunjung melanjutkan permainan. Kini hentakan pinggulnya menjadi lebih keras dari sebelumnya, hingga tubuh yang menungging di hadapannya tersentak kemudian mengejang nikmat.
“Lagi, lagi.” Chenle merasa sudah hilang kewarasan begitu Jisung berhasil menyentuh titik nikmatnya di dalam sana.
Setiap hentakannya berhasil menghantarkan berjuta rasa nikmat yang membuat tubuhnya terasa melayang. Mungkin ini yang dirasakan oleh pecandu narkoba; merasa begitu mabuk dengan kepala yang meringan dan seluruh beban kehidupan terasa menguap, begitu candu hingga ia menginginkannya lagi dan lagi.
Park Jisung adalah narkoba bagi Chenle.
Kamar itu terasa begitu panas meski pendingin ruangan telah bekerja ekstra dengan pengaturan suhu paling rendah. Suara derit ranjang yang saling menyahut dengan suara desahan dan suara tamparan kulit bertemu kulit seolah menjadi musik klasik yang biasanya dimainkan ketika menyantap makanan mahal di restoran mewah. Iya, malam ini Jisung memang tengah menyantap makanan mewahnya.
Jisung memeluk tubuh Chenle yang mulai bergetar, satu tangannya sibuk memainkan noktah yang telah bengkak, sementara tangan lainnya sibuk memberi stimulus pada kejantanan milik Chenle yang sejak tadi mengeluarkan precum.
“AHHH—JISUNG” Chenle berteriak frustasi. Tubuhnya seolah tak mampu menampung seluruh kenikmatan yang diberi. Terlalu banyak, terlalu nikmat. Siku tangannya bahkan tak mampu lagi menopang tubuhnya hingga wajahnya terbenam pada bantal empuk di bawahnya.
Dalam beberapa hentakan setelahnya Jisung dapat mendengar dengan jelas desahan panjang yang teredam di balik bantal bersamaan dengan tangannya yang terasa hangat dan basah akibat cairan putih milik Chenle. Kemudian ia menyusul setelahnya, dengan hentakan terakhir yang sepenuhnya menelan kejantanannya di dalam sana. Memenuhi Chenle dengan putihnya.
Tubuhnya ambruk menindih Chenle, keduanya masih menikmati euforia yang begitu memabukan. Bahkan tidak peduli dengan tubuh lengket yang saling menempel.
“Chenle.” Jisung memanggil pelan hingga pemilik nama menoleh kearahnya dengan wajah memerah yang terlihat begitu indah. “Am I good enough?“
Chenle mengangguk, wajahnya mendekat kemudian meninggalkan kecupan di ujung hidung Jisung, “Yes, you are.“
Jisung tak bisa menahan senyum senangnya. Obsidiannya berbinar, “Bersih-bersih dulu yuk, biar gak lengket.” Ajaknya.
“5 menit lagi, aku masih pengen kayak gini dulu.”
Akhirnya Jisung mengalah, mengikuti keinginan Chenle untuk menunda acara bersih-bersihnya dulu. Membiarkan Chenle menikmati sisa euforia yang masih terasa, sementara Jisung memilih meninggalkan kecupan-kecupan kecil di sepanjang bahu hingga leher belakang kekasihnya.
Meski hubungan intim mereka telah usai, bukan berarti tugas Jisung sebagai dominan dadakan malam ini usai begitu saja. Setelah memandikan Chenle dan memakaikan piyama tidur, kini Jisung sibuk kesana-kemari membersihkan sisa-sisa jejak cinta mereka. Memungut pakaian yang terlempar sembarangan, mengganti seprai, bahkan menyemprotkan pengharum ruangan.
Selesai dengan semua tugasnya, tungkainya langsung melangkah menuju ruang tamu untuk menemui kekasihnya.
“Chenle?”
“Oii.” Chenle menyahut dari arah balkon. Jisung bisa menebak pemuda itu pasti tengah mengisap batang nikotin lagi.
Jisung berderap mendekat, menyandarkan lengannya pada pintu balkon, “Kamarnya udah aku bersihin.”
Chenle masih duduk di teras, sibuk menghisap batang nikotinnya. “Padahal gue udah bilang biar besok gue yang bersihin. Lagian kita bisa tidur di kamar sebelah.”
Jisung mengerucutkan bibirnya. Padahal ia hanya ingin dipuji atas kerja kerasnya malam ini. “Jorok tau kalo dibiarin lama-lama.”
Chenle terkekeh, “Iya iya, makasih, baby.” Ujarnya dengan sedikit nada godaan disana membuat Jisung mencebik kesal.
“Masih lama gak ngerokoknya?”
Chenle melihat batang nikotinnya yang tinggal separuh, lalu kembali menatap Jisung, “Kenapa?”
“Mau ikut duduk.”
“Oh.” Tanpa berpikir panjang, Chenle langsung menggerus sisa batang rokoknya pada asbak, lalu mengibaskan tangannya untuk menghilangkan sisa asap rokoknya. “Udah, sini!” Setelahnya ia menepuk sisi kosong di sampingnya.
Keduanya duduk berdampingan, menatap lurus dengan suguhan pemandangan kota di malam hari. Kerlap-kerlip lampu yang menyala pada gedung-gedung pencakar langit dan jalanan yang masih ramai itu terlihat seperti bintang yang bertaburan indah. Mereka hanyut ke dalam pikiran masing-masing.
“Chenle.”
“Ya, sayang?”
Masih dengan pandangan yang menatap lurus, Jisung melanjutkan, “Banyak yang ngomongin kita di kampus. Mereka sibuk bahas diantara kita siapa yang atas siapa yang bawah. Terus ada juga yang bilang kalo aku gak mungkin jadi pihak atas karena tindakanku gak nunjukin demikian.”
Chenle mengernyit bingung, “Maksudnya?”
Jisung menolehkan kepalanya, hingga netra keduanya bertemu. “Maksudnya sebagai top aku seharusnya yang jagain kamu, yang manjain kamu, bukan sebaliknya.” Jelasnya pelan. Ia berusaha sebisa mungkin merangkai kata yang baik agar tidak menyinggung perasaan Chenle.
Namun Chenle justru terpingkal mendengarnya.
“Chenle?”
“Hahahahaha.. maaf.” Masih dengan sisa tawanya Chenle melanjutkan, “Mereka siapa sampe berani ngatur hubungan kita?”
“Bukan siapa-siapa sih, tapi kamu gak ngerasa kayak gitu juga?”
“Ya engga lah.” Kedua tangannya membingkai wajah Jisung, menatap teduh obsidian cantik yang menjadi favoritnya. “Sayang, dalam hubungan ini gue gak peduli dengan peran-peran kayak gitu. Lo suka, gue suka, yaudah kita jalanin.”
”...Gue gak mau lo terpaksa jadi orang sok kuat demi bisa ambil peran itu. Cukup jadi diri lo sendiri aja. Gue disini mau punya pacar bukan superhero.” Sambungnya.
Jisung tertawa geli mendengar penjelasan kekasihnya. Meski begitu tetap ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. Siapa yang menyangka seorang Zhong Chenle yang katanya menyeramkan justru memiliki sisi manis seperti ini?
“Lo cukup tetep jadi anak penurut aja.”
Jisung mengangguk patuh, “Aku juga seneng jadi anak penurut sama kamu.”
“Good boy.” Chenle mengakhirinya dengan kecupan di bibir sebagai hadiah untuk Jisung malam ini.
Jisung selalu merasa dirinya memiliki kekurangan di berbagai sisi, merasa tak pantas jika harus bersanding dengan orang terpandang seperti Chenle. Namun entah mengapa Chenle selalu berhasil memberikan jawaban atas setiap kekurangan yang Jisung keluhkan. Membuat Jisung kembali merasa utuh meski dengan segala kekurangan yang ia miliki.
Meski tidak bisa menebak kemana kisah mereka akan bermuara nantinya, setidaknya untuk saat ini hanya Chenle yang ia puja.
—• selesai.
