Work Text:
Hari ini adalah awal dari bulan Februari. Bulan yang katanya merupakan bulan kasih sayang, bulan yang spesial karena hanya memiliki 28 hari dan 29 hari setiap empat tahun sekali.
Selain itu Februari juga menjadi bulan kelahiran Jisung, tepatnya di tanggal 5. Mungkin karena itu juga Jisung menjadi lebih semangat memulai harinya di bulan yang baru ini.
Jisung bangun lebih pagi dari biasanya, memulai ritual paginya dengan mengagumi wajah tampan suaminya yang masih terlelap lalu memberi morning kiss di kening sebelum pergi melesat ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
“Chenle, bangun. Hari ini kamu ada meeting pagi, kan?” adalah kalimat pertama yang Jisung ucapkan begitu keluar dari kamar mandi. Hanya dengan sehelai handuk yang melingkar di pinggangnya, ia berderap menuju lemari, mencari pakaian yang hendak ia gunakan hari ini.
Kepalanya menoleh sekilas untuk memastikan suaminya telah terduduk di ranjang meski dengan mata yang masih separuh terpejam, “Cepet bangun terus mandi. Nanti biar aku yang siapin baju kamu.”
Jisung dapat mendengar suara Chenle yang berdehem pelan, disusul suara kaki yang melangkah malas-malasan. Pikirnya Chenle langsung menuruti perkataannya, namun sepasang lengan justru memeluk tubuhnya dari belakang.
“Chenle.” Jisung memanggil pelan, tangannya masih memegang kemeja yang hendak ia pakai. “Nanti kamu dimarah sama papa lagi loh.”
Bukannya melepas pelukannya, Chenle justru mendekap semakin erat. Kepalanya bersandar di punggung telanjang suaminya. “5 menit aja.”
Jisung menghela napasnya pasrah, lagipula ia tidak akan pernah bisa menang melawan Chenle dalam perdebatan semacam ini. “Sisa 4 menit lagi.”
“Hmm.” Chenle bergumam pelan. Telapak tangannya mengusap tubuh bagian depan milik pria dalam dekapannya. Membelai halus otot perut yang terbentuk jelas, kemudian naik hingga telapaknya tanpa sengaja —atau memang disengaja— bergesekan dengan noktah yang mencuat malu-malu.
“Chenle. Ini masih pagi.” Jisung merengek, namun tetap tidak menepis tangan Chenle yang mulai memilin noktahnya.
Chenle terkekeh pelan, “Gantian. Kemarin sepanjang malem kamu nyusu sampe dadaku perih.”
“Tapi itu kan memang jatahku.”
“Kalo gitu sekarang gantian aku yang minta jatah.” Telapak tangannya berpindah turun, kembali melewati otot perut milik Jisung hingga bermuara pada penis yang bersembunyi di balik balutan handuk. “Aku mau sarapan susu kental manis.” Gumamnya bersamaan dengan tangan yang meremas disana.
Jisung kembali merengek, “Aku udah mandi.” Keluhnya.
“Aku janji kamu gak bakal perlu mandi lagi. Aku bakal habisin semuanya.”
Chenle membisikkan kalimat sensual itu tepat di belakang telinganya, membuat Jisung sedikit mendecak karena demi Tuhan— Chenle benar-benar tau semua kelemahannya.
“Sekali aja ya.” Jisung mengalah, lebih tepatnya tidak bisa menolak karena jemari mungil suaminya begitu lihai bekerja di bawah sana hingga penisnya mulai mengeras.
Suara pekikan senang terdengar, kemudian Chenle buru-buru membalik tubuh Jisung agar menghadapnya, menatap wajah tampan yang terlihat sedikit merajuk itu lalu memberi kecupan di bibir. “Makasih, sayang.”
Setelahnya Chenle berjongkok di hadapan Jisung, tanpa membuang waktu, tangannya langsung menarik satu-satunya kain yang melingkar di pinggang suaminya hingga benda favoritnya menyembul menyapanya.
Telapak tangannya menggenggam batang penis Jisung, lalu menjulurkan lidahnya untuk membelai dari pangkal hingga ke ujung. Menjilatinya seperti tengah menikmati eksrim, memastikan seluruh bagiannya basah sebelum dimanjakan oleh mulutnya.
Mereka telah menikah selama dua tahun, dan mungkin sudah melakukan hubungan intim lebih dari seratus kali. Namun entah mengapa Jisung selalu merasakan gejolak yang sama setiap kali mereka melakukannya; perasaan senang, jantung yang berdetak cepat, kupu-kupu yang terasa berterbangan di perutnya, bahkan rasa kagumnya akan keindahan Chenle. Seolah mereka baru pertama kali melakukannya.
Chenle mulai menggerakkan kepalanya, maju-mundur hingga batang penis itu keluar-masuk di mulutnya. Lidahnya terus bekerja memanjakan kepala penis yang mulai mengeluarkan precum, membelai secara melingkar dan terkadang menggunakan ujung lidahnya untuk menggoda lubang kecil di ujung penis hingga suara desahan menyapa gendangnya.
“Sssshhhh.. Chenle..” Telapak tangan Jisung meremas helai kelam suaminya, sedikit mendorong kepala Chenle agar penisnya masuk lebih dalam.
Jisung selalu menyukai cara Chenle memberikan pelayanannya, karena pria itu sangat peka dengan sedikit saja hint yang diberi. Buktinya setelah Jisung mendorong kepalanya, Chenle langsung bisa menebak apa yang Jisung inginkan. Maka, Chenle mendorong penis panjang itu ke dalam mulutnya, seluruhnya, bahkan sebagian batang penis itu sampai masuk ke dalam kerongkongannya.
Jisung memejamkan matanya, napasnya mulai memendek dan terdengar begitu berat menyatu dengan desah tertahan yang keluar dari mulutnya. Menandakan bahwa dirinya begitu menikmati pelayanan yang diberikan suaminya.
Chenle selalu terlihat indah di mata Jisung, apalagi disaat pria itu tengah mengulum penisnya dengan netra bulat yang menatap polos ke arahnya. Jisung berani bertaruh Chenle lebih indah dibanding sunset yang biasa mereka nikmati untuk melepas lelah.
Bahkan tetap telihat begitu indah meski cairan putihnya tak sengaja muncrat dan mengotori wajah tampan suaminya.
Dua tahun berlalu setelah mereka terikat oleh janji suci pernikahan, namun tidak banyak perubahan yang terjadi antara keduanya. Jisung masih sibuk dengan pekerjaannya di yayasan sedangkan Chenle bekerja keras mengurus kantor pusat sesuai perintah ayahnya meski pria itu kerap mengajak Jisung untuk kabur ke pedesaan dan menghabiskan sisa hidup mereka disana dibandingkan mengurus bisnis yang membuatnya sakit kepala.
Jisung melangkah santai menyusuri koridor kantor yayasan tempatnya bekerja, hendak membeli minuman segar di kantin sebagai rewards kecil setelah ia berhasil menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk di mejanya.
Namun ketika ia memasuki area kantin, samar-samar gendangnya menangkap obrolan dari beberapa staff yang sedang menyantap makan siang mereka.
“Kemarin gue ketemu Chenle, sumpah cakep banget. Stylenya ganteng dan rapi, mana parfumnya juga wangi banget, duh.“
“Chenle tuh memang nyaris sempurna sih. Anak tunggal tampan dan kaya raya, sayangnya malah naksir sama cowo.“
“Jisung tuh kayak tipe-tipe boti yang ganjen gitu gak sih—“
Tuk.
Satu per satu minuman kaleng ditaruh di meja hingga membuat staff wanita itu langsung terdiam begitu menyadari Jisung memergoki mereka yang tengah bergosip.
“Ini minuman biar ngobrolnya makin enak, tenang, gak pake sianida kok.” Jisung menjelaskannya dengan senyum kecil di wajah, setelahnya ia membungkuk ringkas lalu berbalik pergi.
Namun sebelum benar-benar meninggalkan kantin, ia kembali menoleh, lalu bicara dengan nada yang sedikit ditinggikan agar staff-staff itu mendengarnya.
“Oh iya, aku yang setiap pagi siapin baju buat Chenle, aku juga yang pilihin parfumnya. Jadi makasih banyak pujiannya loh, berarti aku berhasil bikin suamiku keliatan lebih atraktif.”
Jisung tak terlalu ambil pusing dengan obrolan tersebut, lagipula ia sudah sering mendengar gosip hingga sindiran serupa. Bahkan pernah ada gosip tentang perselingkuhan Chenle yang langsung membuat riuh yayasan dan kantor pusat, tapi Jisung bahkan lebih tau bahwa suaminya bukan pria yang seperti itu, dan perlahan gosip itu menghilang begitu saja.
Meski Jisung tak pernah ambil pusing, ia tak juga bisa menampik gosip-gosip itu terkadang mengganggu saat pikiran overthinkingnya mulai muncul. Namun setiap kali itu terjadi, Chenle selalu berhasil membuatnya tersadar bahwa pria itu hanya memujanya.
“Aku cuma cinta sama kamu, dan aku gak pernah peduli sama penilaian orang lain tentang hubungan kita.” adalah kalimat dari Chenle yang selalu terlintas dalam pikirannya setiap kali mendengar penilaian orang lain tentang hubungan mereka, dan Jisung memilih untuk berpegangan teguh pada kalimat itu.
Jisung melajukan mobilnya menuju kantor pusat untuk menjemput suaminya. Hari ini Chenle memiliki jadwal yang super sibuk, jadi Jisung mengatakan akan menjemput agar Chenle tidak perlu menyetir dalam kondisi yang kelelahan.
Ia memakirkan mobilnya di depan gedung pencakar langit milik suaminya, lalu mengambil ponsel untuk memeriksa bubble chat terakhir yang dikirimkannya pada Chenle.
Belum dibaca, berarti Chenle masih sibuk dengan pekerjaannya. Maka Jisung memilih turun dari mobilnya, melangkah masuk ke dalam gedung pencakar langit itu untuk pergi ke ruangan suaminya.
Kantor pusat yang biasanya selalu ramai kini cukup lenggang karena jam kerja sudah selesai tiga puluh menit yang lalu, hanya tersisa beberapa staff yang lembur terlihat masih berlalu lalang. Begitu sampai di ruang kerja suaminya, Jisung mengetuk pintu di hadapannya lebih dulu —meski Chenle sudah berulang kali mengatakan untuk tidak perlu melakukannya, karena Jisung merasa tak sopan dan takut mengganggu kalau-kalau Chenle tengah berbincang bersama orang penting.
“Masuk.“
Jisung langsung mendorong pintu di hadapannya hingga terbuka lebar, netranya langsung bersirobok dengan Chenle lalu berpindah menatap pria yang duduk berhadapan dengan suaminya.
Oh, ternyata ada tamu.
“Sayang?”
“Maaf, aku kira gak ada tamu.” Ucapnya canggung.
“Gapapa. Sini masuk.”
Jisung menatap ragu, namun Chenle terus bersikeras menyuruhnya untuk masuk, hingga mau tak mau kakinya melangkah menuruti perintah suaminya. “Maaf ya.” Gumamnya begitu duduk di samping Chenle.
“Gak usah minta maaf.” Chenle mencubit pipinya gemas, lalu beralih menatap pria yang sejak tadi memerhatikan mereka, “Oh iya, kenalin ini Jisung, suami gue.”
Pria itu tersenyum tipis sembari mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Jisung, “Gue Kevin.”
“Jisung.” Jisung tersenyum canggung, lalu buru-buru menarik kembali tangannya. Netranya berpindah menatap Chenle, “Ini masih bahas kerjaan ya?”
Chenle menggeleng, “Udah kelar, ini kita cuma ngobrol santai aja.”
“Iya, kita cuma ngobrol santai kok.” Kevin turut menimpali. “Btw, suami lo cantik juga ya.” Pernyataan itu ditujukan untuk Chenle yang langsung dibalas dengan tawa ringan.
“Iya dong.” Chenle menjawab santai. “Jisung tuh cantik iya, ganteng iya, lucu iya, penurut iya, enak juga iya, duh, paket komplit pokoknya.” Lanjutnya.
Kini Kevin yang tertawa, “Padahal kalo sama gue lo pasti bisa lebih enak lagi. Gini-gini gue mainnya jago.” Ia bahkan tidak berusaha untuk menjaga kalimatnya meski Jisung jelas-jelas berada disana dan paham betul maksud arah pembicaraannya.
Chenle tergelak geli, “Gue gak suka sama yang kecil-kecil.”
“Punya gue gede.”
“Ah bohong, dari foto yang pernah lo kirim aja udah keliatan jelas kontol lo kecil.” Tangannya menepuk-nepuk paha Jisung, “Jauh kalah sama punya Jisung.” Ucapnya santai namun berhasil membuat Kevin menghentikan omong kosongnya.
“Tadi apa maksudmu tentang foto yang pernah dikirim sama Kevin?” Jisung langsung bertanya begitu Kevin pamit undur diri. Netranya mengikuti gerak-gerik Chenle yang sibuk membereskan meja kerjanya, “Sayang..” Panggilnya karena Chenle tak kunjung menjawab.
“Minggu lalu dia ngirim foto penisnya, terus langsung aku block. Makanya sekarang dia dateng buat bahas kerjaan sekaligus minta di-unblock, tapi aku gak mau.”
“Kenapa kamu gak bilang ke aku?”
Chenle menoleh ke arahnya, “Karena bagiku gak penting?”
“Tapi tetep aja..” Jisung mengembungkan pipinya tanda dirinya tengah merajuk. “Aku pengen tau semuanya meski hal yang gak penting sekalipun.”
Chenle terkekeh gemas, ia kembali menghampiri Jisung dan langsung duduk di atas pangkuan suaminya. “Iya, maaf. Lain kali aku bakal laporan ke kamu ya.” Jemarinya menyisir helai halus suaminya, lalu menyampirkan ke belakang telinga seperti kebiasaan yang sering dilakukan pria itu. “Jangan ngambek ih, kan bentar lagi ulang tahun.”
Jisung merengut berusaha menahan diri untuk tidak tersenyum namun gagal, “Tapi penisnya beneran kecil?”
Chenle mengangguk, “Ngapain juga aku bohong?”
“Terus kalo gede, kamu suka?”
“Aku udah cukup satu. Penismu udah bisa bikin aku merem-melek, ngapain juga nyari yang lain yang belum tentu bisa nurut sama aku?”
Ah iya Jisung lupa, Chenle lebih suka dengan pria yang penurut dibanding pria yang memiliki penis besar. Itu juga menjadi alasan mengapa Chenle sering mengatakan Jisung sebagai paket komplit karena Jisung memiliki keduanya.
“Iya deh aku percaya.” Jisung melingkarkan lengannya di pinggang Chenle, kepalanya mendongak untuk menatap wajah pria dalam pangkuannya, “Ngomong-ngomong hari sabtu kamu ada acara penting gak?”
“Gak ada. Kenapa?”
“Mau nagih hadiah ulang tahun, hehe.”
Chenle mencubit pipinya gemas, lalu memberi kecupan di bibir, “Mau hadiah apa?”
“Aku mau kamu. Boleh?”
“Oh.” Chenle mengerling nakal, “Kalo itu sih aku gak bisa nolak.” Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Jisung, memberi kecupan di sepanjang garis leher.
“Tapi aku gak mau cuma main kayak biasanya loh.” Jisung memiringkan kepalanya, memudahkan Chenle untuk melakukan yang diinginkan, “Aku mau yang agak beda.”
Chenle bergumam pelan, “Yang beda gimana, hm?”
“Nanti pas hari sabtu aku kasih tau.” Jisung sedikit menahan napasnya begitu lidah suaminya menyapa kulitnya. “Tapi kamu gak masalah kan?”
“Aku gak masalah kok. Lagian permintaanku pas ultah tahun lalu pasti lebih parah dibanding permintaanmu nanti.”
Jisung meringis pelan, tiba-tiba kejadian dimana Chenle memintanya menjadi manusia kue sebagai hadiah ulang tahun kembali terlintas dalam benaknya. Iya, kue. Benar-benar kue yang berbahan dasar tepung dan dihiasi cream warna-warni itu.
Jisung yang telanjang berbaring di atas meja makan dengan potongan kue menyelimuti sekujur tubuhnya. Chenle menjadikan penisnya yang berdiri tegak sebagai lilin. Melakukan make a wish, lalu menyantap kue ulang tahunnya sekaligus menyantap Jisung sepanjang malam.
Ah, bahkan Jisung masih bisa mengingat rasa lengket krim yang menempel di kulitnya dan tubuhnya yang lemas karena Chenle berhasil membuatnya keluar berkali-kali.
“Iyasih, gak bakal sampe segila itu.”
Chenle tertawa geli, ia kembali duduk tegap dengan netra yang menatap wajah tampan suaminya. Telapak tangannya mengusap halus rahang tegas itu, lalu mengamit dagu suaminya, “Aku bakal lakuin apapun demi bikin kamu seneng di hari ulang tahunmu. Bahkan aku juga gak masalah kalo kamu minta main sepanjang hari.”
Jisung kembali meringis ngeri, “Gak— aku gak segila kamu.”
“Kalo gitu itu jadi permintaanku buat ultah tahun ini.”
Kalimat itu berhasil membuat Jisung mendelik kaget, “Sayang... kamu mau bunuh aku?”
Chenle membalasnya dengan tawa lepas, “Gak bakal sampe mati, ih.” Ia menarik wajah Jisung mendekat lalu meraup bibir yang membuatnya candu, “Toh, kamu juga bakal ketagihan.”
Hm, untuk yang satu itu Jisung tidak bisa membantahnya, karena segila apapun ide yang terlintas di benak suaminya selalu berhasil membuat Jisung ketagihan dan berakhir merengek agar Chenle melakukannya lagi.
Sabtu, 4 Februari 2023
Chenle melangkah keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan dirinya. Benar-benar memastikan dirinya bersih luar dan dalam karena malam ini ia harus menepati janjinya pada Jisung beberapa hari yang lalu.
Tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang masih basah sembari memperhatikan Jisung yang sejak tadi berkutat —entah dengan apa— di ranjang.
“Ngapain kamu?”
Jisung menoleh lalu terkekeh pelan, “Sini deh liat apa yang aku beli.”
Chenle langsung menghampiri, melihat lebih dekat benda yang ingin dipamerkan suaminya. Netranya mengernyit bingung, “Apaan ini?”
“Ish, masa kamu gak tau?” Jisung membentangkan lembaran kertas tebal yang dominan dengan warna merah muda itu, “Ini ular tangga, sayang. Ular tangga buat seks.” Jelasnya.
“Oh..” Chenle mengamati mainan itu, membaca setiap kegiatan seks yang tertulis di masing-masing kolom, “Tapi bakal ribet gak sih, harus ngocok dadu, mindahin pion, ngatur timer. Mending langsung ngewe—” Kalimatnya terhenti begitu menyadari suaminya memasang ekspresi merengut dengan pipi yang mengembung.
“—Tapi karena ini ulang tahunmu, jadi ya semuanya terserah sama kamu, kan.” Lanjutnya.
“Kamu gak mau ya?”
“Aku mau kok.” Jemarinya menoel dagu Jisung, “Jangan ngambek dong, ganteng.”
Jisung mendecak pelan, lalu mengangsurkan benda yang sejak tadi ia sembunyikan, “Kamu pake ini ya.”
Chenle mengambilnya hingga suara lonceng yang menempel pada benda itu terdengar nyaring. Kalung kucing berwarna hitam yang dihiasi lonceng dan liontin berukirkan nama Chenle.
Chenle menghela napasnya, ternyata mereka berdua memang sama-sama gila. “Aku langsung telanjang atau tetep pake baju dulu?”
“Pake celana dalem aja biar gak ribet. Aku siapin mainannya dulu.”
“Hm.” Chenle pergi ke depan cermin, memakai kalung yang diberikan padanya lalu mengamati pantulan dirinya disana. “Nanti sesekali aku perlu ngeong gak sih, biar kayak kucing beneran.”
Melalui pantulan cermin Chenle dapat melihat Jisung yang langsung menoleh cepat dengan netra yang berbinar, gemas sekali. “Ide bagus.”
Selesai dengan semua persiapannya, Jisung langsung bersiap pada posisinya yang duduk bersandar pada kepala ranjang. Setelahnya Chenle langsung menyusul duduk di atas pangkuannya. Keduanya sama-sama nyaris telanjang, hanya satu kain tersisa yang menutupi area privasi masing-masing.
Papan ular tangga pasutri itu dibentangkan di sisi ranjang yang kosong, dengan dua dadu dan satu pion yang artinya mereka siap memulai permainnya.
“Pionnya kenapa cuma satu?” Chenle bertanya bingung.
“Kamu aja yang main.” Jisung melingkarkan lengannya di pinggang Chenle, “Pokoknya aku cuma nerima enaknya aja.”
Chenle mendecak, namun tangannya tetap mengambil dadu lalu melemparnya pelan hingga menunjukkan total tiga titik yang berarti pionnya harus maju sebanyak tiga kotak.
“Sweet kissing selama dua menit.” Gumamnya, tangannya sibuk mengatur timer pada ponsel lalu kembali memberi atensinya pada Jisung yang sudah menunggu.
Kedua tangan telapak Chenle menangkup rahang tegas suaminya, kemudian memberikan kecupan sebanyak dua kali di bibir sebelum meraup pelan bibir tebal suaminya. Sweet kiss, Chenle berusaha menahan dirinya untuk tidak terbawa suasana dan justru memberikan ciuman yang menuntut. Chenle telah berjanji untuk memanjakan Jisung malam ini, maka ia sebisa mungkin berusaha menepatinya.
Chenle melumat bibir atas dan bawah itu bergantian, perlahan, dengan sesekali menjulurkan lidahnya untuk menyapu halus daging kenyal itu. Jemarinya mengusap pelan pipi Jisung, memberikan afeksi agar prianya menjadi lebih rileks.
Tanpa terasa suara dering nyaring menyapa gendang keduanya yang menandakan dua menit telah berlalu. Chenle menjauhkan wajahnya, lalu mengusap sudut bibir Jisung yang basah.
“Enak gak?”
Jisung mengangguk tanpa keraguan, “Selalu enak.”
Chenle membalasnya dengan senyum tipis, lalu kembali melempar dadu untuk melanjutkan permainan mereka.
Pionnya maju empat langkah hingga berhenti pada kotak dengan tulisan, “Nenen.” Gumamnya, membuat Jisung langsung memekik senang.
“Cih,” Chenle sedikit membusungkan dadanya, memudahkan Jisung untuk meraup putingnya yang telah mencuat. “Cuma 3 menit ya.”
Jisung mengangguk asal. Mulutnya langsung sibuk mengulum noktah suaminya, persis seperti bayi yang tengah menyusu, hanya saja ini bayi berukuran besar.
Selagi menyusu, kedua telapak tangan Jisung meremas bongkahan bokong suaminya, mulutnya berpindah dari satu puting ke puting lainnya untuk memastikan keduanya mendapatkan perlakuan yang adil. Sementara Chenle sibuk mengamatinya, sambil sesekali jemari kecil itu menyisir helainya yang berantakan.
“SSSHHH.” Chenle menahan napasnya ketika Jisung menggigit putingnya, lalu kembali mengulumnya dengan lidah yang bergerak nakal menggoda putingnya yang Chenle yakini telah membengkak.
“Rakus banget gigitnya.”
Jisung terkekeh pelan, menganggap kalimat itu sebagai pujian. Netranya menatap ke atas, mengamati wajah cantik suaminya yang mulai memerah. Entah Jisung yang terlalu memuja atau Chenle memang terlihat begitu indah, sampai di titik Jisung akan tetap memuja meski Chenle menginjak dan meludahi wajahnya.
Suara dering timer kembali terdengar, namun Jisung masih enggan melepaskan kulumannya.
“Udah tiga menit, ganteng.” Chenle hendak mendorong Jisung menjauh, namun pria itu justru memeluknya erat dan semakin membenamkan wajah di dadanya.
Chenle menghela napasnya pelan, pada akhirnya membiarkan Jisung menyusu lebih lama sembari dirinya kembali melempar dadu. Kini pionnya melangkah maju sebanyak enam kotak hingga berhenti pada kotak yang tidak memiliki misi apapun, membuat Chenle harus kembali melempar dadunya.
Lima langkah, “Dry-humping selama tiga menit.” Tangannya kembali mengatur timer lalu menatap pria yang masih sibuk mengulum putingnya. Melalui sorot mata itu saja Chenle bisa menebak Jisung tidak berniat menyudahi acara menyusunya.
“Kamu yang milih permainannya, tapi malah kamu yang ngelanggar rulesnya.” Chenle menjitak pelan kepala suaminya, “Aku maafin karena kamu mau ulang tahun.” Dan Chenle dapat melihat kelopak cantik itu menyipit dikala pemiliknya tersenyum dengan mulut yang penuh.
Chenle kembali melanjutkan permainan, pinggulnya mulai bergerak pelan, maju-mundur hingga penis keduanya yang masih terbungkus fabrik saling bergesekan. Chenle menggigit bibir bawahnya, menikmati sensasi rangsangan yang diterima bagian selatannya setiap kali bertubrukan dengan milik Jisung.
Suara desahan mulai keluar dari bilah bibirnya, pinggulnya bergerak lebih cepat dan sengaja menubrukkan bagian selatan mereka lebih kasar dibanding sebelumnya. Chenle dapat merasakan celana dalamnya mulai basah karena precum yang mengalir dari ujung penisnya yang mengeras, begitu pula dengan milik Jisung.
Otaknya terasa mengosong, tubuhnya terasa semakin meringan. Chenle selalu menyukai sensasi ini setiap kali mereka berhubungan seksual. Rasanya seperti membuang seluruh rasa lelah setelah melalui hari yang panjang, melupakan masalah hidup yang rumit dan pergi ke tempat ternyaman yang hanya bisa dikunjungi oleh mereka berdua.
Saat dirinya mulai menggila, suara dering nyaring kembali terdengar hingga membuat Chenle mengumpat kesal. “Gue lagi enak-enaknya, fuck, timer anjing.”
Jisung melepaskan kulumannya hanya untuk tertawa, tangannya beralih mematikan timer lalu menggantikan Chenle untuk melempar dadu dan menjalankan pionnya.
“Fingering selama tiga menit.”
Chenle menghentikan gerakan pinggulnya, “Apa?”
“Fingering.” Jisung mengambil botol lubrikan yang telah ia siapkan sebelumnya, “Buka celanamu.”
Chenle mendecak pelan, “Siapa sih yang bikin mainan kayak gini, nanggung banget udah di ujung malah keganggu timer.” Ia terus mengoceh, turun dari pangkuan Jisung untuk melepas kain terakhir yang menempel di tubuhnya hingga kini Chenle benar-benar telanjang bulat.
“Tapi seru tau.”
Sorot matanya menatap sangsi, “Kamu tadi ngelanggar rules loh.”
“Kan aku yang ulang tahun.” Jisung mengerucutkan bibirnya, “Lagian aku suka nyusu sama kamu.”
Chenle memutar bola matanya malas, ia kembali naik ke ranjang, “Pahamu pegel gak? Aku duduk di pangkuanmu dari tadi.”
Jisung meringis, baru menyadari pahanya sedikit terasa kebas, “Dikitt.”
“Yaudah.” Chenle menjatuhkan tubuhnya di ranjang dengan kaki yang mengangkang lebar di hadapan Jisung, “Lanjutin kayak gini aja.”
“Tapi aku mau gaya lain.”
Chenle mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Jisung, “Gaya apa?”
“Nungging kayak kucing. Soalnya habis ini dapet misi doggy-style, tapi diubah aja jadi cat-style.” Jisung menjelaskannya dengan netra yang berbinar senang, seperti anak kecil yang tak sabar memerima hadiah dari orang tuanya.
Chenle langsung membalik tubuhnya hingga tengkurap, memposisikan kedua tungkainya melipat seperti orang yang tengah bersimpuh, dan menggunakan bantal untuk menopang tubuh bagian depannya. Persis seperti kucing betina yang siap digagahi.
Jisung menuangkan cairan lubrikan pada tiga ruas jarinya, lalu kembali menyetel timer sebelum memulai misinya.
Perlahan, jari panjangnya mengusap secara memutar mengelilingi lubang milik suaminya, sengaja menggoda hingga suara decakan kesal terdengar menyapa gendangnya.
“Jisung—Nnghhhh..” Sebelum Chenle sempat mengomel, Jisung lebih dulu menenggelamkan tiga jarinya sekaligus yang langsung diremas kuat oleh dinding rektum pria itu.
Jarinya keluar-masuk secara perlahan, bermain disana sekaligus mempersiapkannya sebelum mereka masuk ke permainan inti. “Enak gak?”
Chenle mengangguk, “Lebih dalem dong, ganteng.” Dan Jisung langsung menuruti dengan menghentakan jari panjangnya masuk hingga tubuh Chenle mengejang nikmat.
“Hnggg.. Jarimu enak banget, sayang.”
Jisung selalu suka dipuji, apalagi orang yang memujinya adalah Zhong Chenle. “Makasih, sayang.” Ia mendekatkan wajahnya pada punggung putih Chenle, lalu menggunakan lidahnya menjilati permukaan kulit itu seperti tengah menikmati eskrim kesukaannya.
Chenle kembali mendesah, kedua lengannya memeluk erat bantal yang menopang tubuhnya. Atas segala nikmat yang ia rasakan saat ini, Chenle kembali merasa beruntung memiliki Jisung sebagai suaminya.
Good boy, penurut, polos (meski terkadang nakal), memiliki jari bahkan penis panjang yang selalu berhasil membuat Chenle menjadi sinting. Ah, sial, Jisung benar-benar paket komplit.
Chenle tengah menikmati service yang diberikan suaminya, netranya bahkan terpejam erat dengan mulut yang terus mengeluarkan desah. Namun tiba-tiba Jisung justru mengeluarkan jarinya.
“Huh?” Chenle membuka matanya dan baru menyadari timer sialan itu kembali berbunyi. “Fuck.“
Jisung tertawa, “Tenang, ini bentar lagi kita masuk ke inti.” Ia melempar dadu, sudah merasa yakin kalau selanjutnya mereka akan melakukan doggy-style yang berarti mengharuskan pionnya maju sebanyak enam kotak.
Namun titik pada dadu justru menunjukkan pion harus maju sebanyak lima kali, yang membuat Jisung buru-buru mengubah salah satu dadu hingga totalnya menunjukkan enam titik.
“Enam kali.” Gumamnya sambil menggerakkan pion hingga berhenti pada kotak yang mereka inginkan.
Chenle mendengus geli, “Dasar curang.”
“Gapapa, ini kan ulang tahunku.” Jisung langsung melepas celana dalamnya, lalu membaluri penisnya dengan lubrikan sebelum bersiap pada posisinya.
Timer kembali diatur untuk yang kesekian kalinya, kali ini selama lima menit. Jisung hanya berharap timer itu tidak berbunyi di saat yang tidak tepat.
Kakinya bersimpuh di belakang tubuh Chenle, memposisikan penisnya pada lubang yang telah siap untuk dipenuhi. Penisnya didorong masuk hingga perlahan mulai tenggelam sepenuhnya di dalam rektum pria di bawahnya.
Jisung menjatuhkan tubuhnya di atas Chenle, memeluk suaminya dari belakang lalu mulai menggerakkan pinggulnya perlahan.
“Shit.” Jisung mengumpat pelan begitu menyadari setiap kali ia bergerak, permukaan kulit mereka juga ikut bergesekan yang membuat gairahnya mulai meletup-letup.
Jisung memberikan kecupan kupu-kupu pada setiap inci permukaan kulit putih suaminya, terus naik hingga leher belakang. Napas beratnya berhembus disana, memberikan kecupan pada kalung yang melingkar di leher Chenle lalu mulai menyesap rasa pada kulit bersih itu hingga meninggalkan bekas kemerahan.
“Hhh.. Chenle..” Mulutnya beralih mengulum daun telinga suaminya yang telah memerah, lalu berbisik dengan suara rendahnya, “Aku mau denger suara kucing.”
Chenle menggigit bibir bawahnya, merasakan gejolak aneh dalam dirinya ketika Jisung menginginkannya untuk mengeong. “Meow..” Dan ketika suara itu keluar dari bilah bibirnya, ada perasaan malu dan senang yang bercampur menjadi satu.
“Nnghhh.. meow..” Setelahnya Chenle tidak mengerti mengapa ia justru menikmatinya.
“Lucu banget.” Jisung memeluknya semakin erat, membenamkan wajah di ceruk leher Chenle lalu mulai mempercepat gerakan pinggulnya.
“Ahhh— Jisung.” Mungkin saat ini Chenle benar-benar sudah menjadi sinting. Seluruh tubuhnya begitu sensitif jadi setiap sentuhan di kulitnya membuatnya semakin hilang akal.
Setiap kali Jisung menghentakkan penisnya, tubuh Chenle akan ikut tersentak maju hingga noktahnya yang telah membengkak harus bergesekan dengan bantal, membuatnya merasakan perih yang anehnya sekaligus menghantarkan nikmat ke seluruh tubuhnya. Tidak hanya itu, penisnya yang mengeras juga bergesekan dengan seprai membuatnya merasakan nikmat yang begitu banyak disaat bersamaan.
Jisung juga tak kalah sinting. Ia paling suka disaat mereka berada dalam posisi yang intim. Kulit tubuh mereka yang mengeluarkan peluh saling bergesekan tanpa penghalang apapun, aroma tubuh Chenle yang manis sekaligus maskulin membuatnya semakin hilang akal. Ditambah lagi dengan dinding rektum yang memanjakan penisnya di dalam sana. Sedikit melonggar agar penisnya masuk dengan sempurna, lalu mengetat saat ia menariknya keluar, membuatnya merasakan pijatan yang begitu nikmat hingga penisnya terasa semakin membengkak.
“Sinting! Rakus banget lubang lo, sayang. Minta banget dihamilin ya.”
Kalimat itu membuat Chenle tertawa di tengah-tengah desahannya. “Ayo, hamilin gue kalo bisa.” Ucapnya menggoda.
Timer kembali berdering, dan Jisung buru-buru mematikannya tanpa menghentikan gerakan pinggulnya, karena jika mereka berhenti sekarang, Jisung yakin keduanya akan langsung turn-off, jadi sebaiknya ia selesaikan segera.
Suara kulit yang bertemu kulit, ranjang yang berderit, napas yang menghela berat dan desahan yang melantun lembut. Semua suara itu saling bersahutan, menggema di dalam kamar mewah milik mereka yang anehnya terasa begitu panas meski pendingin ruangan telah bekerja maksimal.
“Fuck.” Jisung mengumpat merasakan dirinya hampir meledak di dalam sana.
Hingga pada beberapa tusukan berikutnya, keduanya mencapai putih hampir di saat yang bersamaan. Jisung menumpahkan seluruh cairannya yang begitu banyak di dalam sana, bahkan terus mendorong-dorong penisnya untuk memastikan tidak ada cairan yang terbuang —meski tetap saja merembes keluar hingga mengotori paha dalam suaminya. Sedangkan milik Chenle mengotori seprai hingga bantai yang dipeluknya.
“Chenle, maaf, aku keluar banyak banget. Sampe becek gini.”
Chenle terkekeh pelan, “Gapapa, aku juga keluar banyak.”
Jisung masih enggan melepaskan penyatuan mereka, atau sekedar melepas pelukannya. Masih ingin menikmati euforia yang meletup-letup dalam dirinya.
Wajahnya mengusak di leher Chenle, “Kayaknya aku terlalu cinta sama kamu.” Gumamnya.
“Tiba-tiba banget?”
“Kamu cakep, cantik, indah banget pokoknya. Meski kamu lebih suka jadi dominan, kamu selalu ngasih kesempatan juga buat aku. Kamu juga gak pernah maksa aku harus ini-itu, padahal aku yakin pasti banyak orang di sekitarmu yang bilang sifatku lebih cocok jadi bottom karena lebih manja dan penurut. Kayaknya tahun ini aku harus berubah ya.”
Chenle menolehkan kepalanya, “Baby boy, coba liat sini dulu.”
Jisung mengangkat wajahnya hingga netra keduanya bertemu, dan Chenle langsung menghadiahi sebuah kecupan di hidungnya, “Aku udah sering bilang kan, aku gak peduli sama orang lain. I do really love you, sama kayak kamu yang juga cinta sama aku. Terus aku juga udah sering bilang aku memang suka manjain kamu, suka liat kamu nurut kayak baby boy tapi juga nakal di ranjang. Gak usah berpikir buat berubah, lagian apa juga yang mau diubah.”
Jisung merengut, “Aku mau keliatan lebih manly.”
Chenle memutar bola matanya malas, “Manly tuh kayak gimana sih? Yang ngerokok kayak aku? Yang suka berantem? Yang suka ngomong kasar? Atau yang gimana?”
Jisung terdiam, ia juga tidak mengerti apa arti dari manly sebenarnya. “Maaf.”
“Gak usah minta maaf, mending pikirin ini mau lanjut main atau udahan?”
Senyum kecil mengulas di wajahnya, “Mau lagi, boleh?”
Chenle mendengus geli, lalu kembali mengecup ujung hidung suaminya sebelum melempar dadu yang sempat mereka abaikan.
“Missionary selama lima menit.”
Jisung akhirnya melepaskan penyatuan mereka, dan Chenle langsung membalik tubuhnya hingga terlentang. Kakinya yang sejak tadi menekuk kini mengangkang lebar, bersiap untuk permainan selanjutnya.
Namun dikala Jisung hendak kembali membenamkan penisnya, Chenle tiba-tiba menginterupsinya, “Baby boy.“
“Eung?”
“Aku mau peluk bentar dong.” dan Jisung langsung menurut, ia membungkukan tubuhnya agar Chenle dapat memeluknya.
Chenle melingkarkan lengannya pada bahu Jisung, memeluknya erat lalu memberikan kecupan di pipi sebelum berbisik, “Happy birthday, my one and only baby boy.“
Oh. Jisung melirik ke arah jam digital pada nakas. 00:10. Hari telah berganti yang menandakan Jisung resmi menginjak umur yang baru di tanggal 5 Februari ini.
Netranya menatap Chenle dengan senyum mengulas di wajah, “Makasih, sayang.”
“Aku suka setiap kali liat kamu nyampirin rambut ke belakang telinga, liat kamu senyum malu setiap kali aku godain, liat kamu marah tapi gak bisa beneran marah, liat kamu ngambek sambil ngembungin pipi setiap aku cuekin. Aku suka semuanya.” Satu tangannya mengusap pipi Jisung, lalu memberikan kecupan di bibir tebal itu, “I love you, Jisung.”
Jisung melipat bibirnya ke dalam, berusaha menahan diri untuk tidak salah tingkah. Namun ia lupa, suaminya adalah Zhong Chenle.
“Salting gak?”
“IH!” Jisung langsung membenamkan wajahnya di bahu Chenle yang tertawa gemas. Malu sekali.
Chenle menepuk-nepuk punggungnya, “Ayo buruan main lagi, ini masih banyak loh yang harus kita lakuin.”
Jisung mengangkat wajahnya, “Kita main sampe finish ya.”
“Iya makanya ayo mulai lagi.”
“Tapi sebelum lanjut,” Jisung kembali duduk tegap, “Aku boleh foto kamu sekarang gak?”
“Pake bahan coli?”
“Aku gak pernah coli lagi, tapi ya pengen aja simpen foto kamu yang berantakan kayak gini.”
Chenle mengangguk santai, “Silahkan. Sekalian video juga gak masalah.”
“Kalo video ribet.” Ia mengambil ponselnya, mencari aplikasi kamera lalu mengarahkannya pada Chenle yang berbaring pasrah di bawahnya.
Tangannya yang bebas meremas dada suaminya, lalu mulai mengambil gambar beberapa kali.
“Coba gaya kayak kucing.”
Chenle mengepalkan kedua tangannya lalu menempelkannya di pipi seperti yang biasanya dilakukan orang-orang saat meniru kucing, “Kayak gini?”
Jisung mengangguk, “Aku foto ya.”
Sebelum Jisung mengambil gambarnya, Chenle memasang wajah pasrah dengan sorot mata yang menatap sensual dan bibir bawah yang sengaja digigit.
“Shit.“
“Udah berapa kali kamu ngomong kasar malem ini, ganteng?”
Jisung kembali menaruh ponselnya, “Habisnya kamu bikin aku sinting.”
Chenle tertawa, kakinya semakin mengangkang lebar, memamerkan rektumnya yang berkedut, “Ini udah siap bikin kamu makin sinting lagi loh.” Setelahnya ia kembali tertawa begitu berhasil membuat Jisung mengumpat untuk yang kesekian kalinya.
Malam itu mereka kembali melempar dadu, menjalankan pion dan mengatur timer yang selalu berbunyi disaat yang tidak tepat. Terus begitu sampai pionnya melewati kotak terakhir yang menandakan permainan telah usai.
Bonus part
Keduanya duduk berhadapan di dalam bathtub. Jisung duduk bersila dengan menyisakan sedikit ruang di antara kakinya untuk Chenle duduk disana, dan Chenle melingkarkan kakinya di pinggang Jisung.
Mereka selalu berendam bersama seperti ini setiap kali melalui malam yang panjang. Meneguk segelas wine sambil membicarakan hal-hal penting sampai tak penting sekalipun.
“Nanti malem mau makan di resto sekalian ngerayain ulang tahunmu gak?” Chenle membuka pembicaraan sambil menikmati winenya.
Jisung memiringkan kepalanya, “Berdua aja?”
“Memang mau ngajak siapa lagi?”
“Orang tua kita.”
Chenle mengangguk pelan, Ia kembali meneguk minuman mahal itu, namun kali ini tidak langsung ditelan. Jemarinya mengamit dagu Jisung, menyatukan ranum keduanya dan membiarkan Jisung mencicipi rasa pahit minuman itu melalui mulutnya.
“Nanti coba aku tanyain ke mereka dulu.” Jawabnya setelah Jisung menelan semua minuman yang ia berikan. Tangannya mengusap sisa wine yang menetes dari sudut bibir suaminya, Chenle sangat suka melihat Jisung yang penurut seperti ini.
Jisung mengangguk patuh, “Oh iya, aku mau bahas sesuatu sama kamu.”
“Bahas apa?”
“Eum.. agak serius sih, tapi bingung gimana bahasnya.”
“Bilang aja ke pointnya dulu, nanti baru kasih penjelasannya.”
Jisung tidak langsung membalasnya, pria itu terlihat masih berpikir harus membahasnya saat ini atau nanti saja, dan Chenle selalu bersedia menunggu dibanding mendesak prianya untuk segera bicara.
“Aku pengen adopsi anak.”
Satu kalimat itu tiba-tiba keluar dari bilah bibir Jisung, yang berhasil membuat Chenle terkejut. Bahkan sangat terkejut, karena melihat dari track record perjalanan hubungan mereka, Jisung tidak pernah berniat menikah atau bahkan memiliki anak. Jadi saat Jisung bersedia menikah dengannya, Chenle sudah merasa seperti memenangkan lotre, dan kini Jisung bahkan mengutarakan keinginannya untuk mengadopsi anak.
Chenle merasa seperti memenangkan piala dunia.
“Tapi aku masih gak yakin.”
Lanjutan kalimat itu membuat Chenle mengerjapkan matanya, “Kenapa?”
Jisung menggeleng, “Aku takut gak bisa jadi orang tua yang baik.”
Chenle tersenyum tipis, “Kayaknya semua calon orang tua juga ngerasain hal yang sama deh.” Ia menaruh gelas winenya, lalu menangkup pipi suaminya hingga netra keduanya bersirobok, “Aku juga gak bisa yakin bilang kita bakal jadi orang tua yang baik, tapi, kita bisa belajar pelan-pelan dari sekarang sampe yakin untuk adopsi anak.”
”..Kita bisa konsultasi ke psikolog dulu, perbaiki hal-hal yang kurang di hubungan kita, ikut kelas parenting, iseng-iseng main ke panti asuhan, dan lainnya sampe kita beneran yakin.”
Netra kecokelatan itu berbinar senang, “Aku sempet iseng ngobrol sama kak Mark, katanya kerjaanku bisa dikerjain di rumah aja. Jadi kalo misalnya nanti adopsi anak, aku bisa jagain di rumah.”
“Loh, aku juga bisa kerja di rumah kok.”
“Ish, jangan ngawur.” Jisung menyentil pelan dahi suaminya, “Kamu kan pewaris tunggal, jadi mending aku yang ngalah.”
Chenle mendengus pelan, “Tapi kalo kamu kerja di rumah sambil jagain anak pasti bakal tetep susah, karena fokusmu harus kebagi dua.”
“Ya aku coba dulu, kalo gak kuat baru deh resign.” Kedua lengannya melingkar di pinggang Chenle, menarik tubuh itu lebih dekat, “Terus nanti aku juga mau belajar masak biar gak nyusahin kamu, aku juga udah sempet nonton di youtube beberapa resep yang katanya cocok buat pemula. Terus jug—”
Cup.
Chenle memberikan kecupan di bibirnya. Sekali, dua kali, tiga kali. Lalu menatapnya teduh, “Aku mau kamu janji satu hal dulu sebelum kita ngobrol lebih jauh.”
Jisung memiringkan kepalanya bingung, “Janji apa?”
“Ini rumah tangga kita, jadi jangan berusaha sendirian. Aku bisa kok bangun lebih pagi buat masak sebelum pergi ke kantor. Aku juga bisa ambil cuti sesekali kalo memang kamu lagi banyak kerjaan. Kita nikahnya bareng-bareng, jadi aku gak mau kamu doang yang berusaha.”
Kini Jisung yang memberikan kecup di bibir suaminya, “Iya, aku janji.” Kepalanya bersandar di bahu Chenle, “Aku juga janji bakal jadi baby boy yang lebih penurut lagi.”
“Beneran?”
“Huum.”
Chenle tersenyum tipis, tangannya masuk ke dalam air, bergerak di dalam sana lalu menggenggam sesuatu yang sejak tadi ia cari hingga suara rengekan suaminya terdengar.
“Chenleeeee... tadi aku udah keluar banyak banget, kakiku lemes.”
“Sekaliiiii lagi, pantatku daritadi ngerengek minta dipenuhin.”
Jisung menggeleng rusuh hingga helainya terasa menggelitik di leher Chenle, “Sumpah, aku capek banget.”
“Nanti aku kasih nenen.”
Kepalanya langsung terangkat, netra cokelatnya menatap antusias, “Sampe aku ketiduran ya?”
Chenle mendengus geli, “Iya, baby boy.“
Jisung langsung mengangkat tubuh Chenle agar duduk di pangkuannya, bersiap melanjutkan malam yang panjang lagi meski sang surya sudah mulai memancarkan sinarnya. []
—• selesai.
