Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-02-14
Words:
2,133
Chapters:
1/1
Comments:
6
Kudos:
90
Bookmarks:
5
Hits:
1,197

Love blooms like a flower in spring

Summary:

"Kenapa kau ingin memilikinya?" Soobin bertanya dengan lembut pada yang lebih tua.

"Karena aku ingin keluarga kita utuh sepenuhnya. Kau, aku, dan bayi kecil kita. Dan orang tuamu juga menginginkannya, keturunan darimu. Terlebih lagi aku ingin membuatmu bahagia, seperti yang dilakukan omega lain untuk membuat alpha mereka senang dan berbangga. Membawa benih kecil itu, di rahimku."

atau

"Aku.. mengandung."

Yeonjun melembutkan suara namun tetap tidak bisa menyembunyikan seberapa bersemangat dirinya. Yeonjun menarik kedua garis bibirnya menjadi senyum yang mengembang begitu indahnya.

Soobin kehilangan kata-katanya, ia bahkan begitu tercekat hampir menjatuhkan rahangnya. Kedua matanya terbelalak tidak percaya.

Notes:

Saya tahu saya payah dalam menggambarkan ekspresi, namun saya akan berusaha lebih baik lagi kedepannya. Saya juga berharap dapat mengungkapkan dengan baik kehangatan dari kedua pasangan ini. Karena saya benar-benar jatuh cinta pada kehangatan itu ketika menulisnya. Semoga kalian menikmati karya ini. Selamat hari kasih sayang, aku mencintai kalian!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Jika Yeonjun adalah bunga yang terluka, maka Soobin adalah tangan yang bersedia merawatnya, menghabiskan sisa hidupnya membisikkan 'semuanya akan baik-baik saja' pada bunga yang begitu dia cintai. Menunggu kelopak itu merekah dengan indah, mengirimkan aroma cinta pada siapapun yang disayanginya.

"Sayang, apapun yang akan terjadi aku akan tetap mencintaimu, kita akan terus bersama dan akan selalu begitu."

"Jangan khawatirkan hasilnya, sayang."

Sorot mata Soobin menggali lebih dalam pada manik cantik Yeonjun, bunga yang berusaha membendung kilauan beningnya, mempersiapkan perasaannya untuk hasil terburuk yang telah berulang kali menghancurkan hatinya hingga lebur sepenuhnya.

Dieratkan yang lebih muda jalinan jemari miliknya pada jemari bergetar yang lebih tua. "Semuanya akan baik-baik saja."

Yeonjun duduk gemetar di atas kloset, netranya tidak dapat ia alihkan dari alat test kehamilan yang digenggamnya kuat dengan salah satu tangan. Alat itu pasti sudah menunjukkan hasilnya. Dia begitu cemas, bahkan lupa telah menggigit belahan indah bibir delimanya hingga beberapa tetes darah mengalir ke dagunya.

"Soobin, aku menginginkannya. Aku menginginkan bayi kita."

Yeonjun gencar mencari netra yang lebih muda, wajahnya memerah padam karena begitu menekan perasaannya.

"Aku akan sangat bersyukur jika Tuhan mempercayakan kita untuk merawat makhluk yang begitu kau idamkan itu sayang, kita selalu dapat memberikannya banyak luapan cinta." Soobin berusaha memancarkan feromon menenangkannya, membawa yang lebih tua berkeliling di ladang lemon dan memberi sentuhan musim panas yang menyegarkan.

"Tapi jika Tuhan tidak berkehendak begitu, bukan berarti kita adalah pasangan yang tidak layak. Bukan berarti doa yang kau panjatkan ditiap malamnya tidak berarti dan tidak didengar. Tuhan mungkin menginginkan kita menghabiskan lebih banyak waktu berbahagia, kau dan aku, hanya berdua."

"Semuanya akan baik-baik aja. Kau dan aku akan selalu baik-baik saja berdua, bersama." Soobin mengecup singkat jemari yang mereka tautkan.

Kalimat lembut yang selalu dilontarkan Soobin selalu menjadi alasan kekuatannya, menariknya keluar dari lembah kekacauan di dalam kepala mungilnya. Selalu berhasil melelehkan kerasnya hatinya.

Yeonjun mengais keberaniannya, mendekatkan alat itu agar dapat dilihat jelas baik bagi netra miliknya maupun Soobin, cintanya. Mendaratkan lirikan sekilas pada yang lebih muda, akankah dia juga akan kecewa? jika negatif adalah satu-satunya hal yang akan menyapa mereka. Perlahan membuka bungkusan jarinya, sebelum alat itu menunjukkan garis satu menyedihkan, satu-satunya hal yang ia dapatkan.

Bendungan air mata itu tidak sanggup lagi ditahannya. Semuanya berebut mengalir, menetes membasahi pipinya. Kepalanya diselimuti kabut kekecewaan. Dadanya tercekat kuat, seakan rantai besi meremasnya tanpa belas kasihan. Ia melupakan cara untuk bernafas.

"Hey, kau mendengarku? Sayang, bernapaslah."

Suara Soobin seakan diredam gemuruh laut terdalam. Feromon penenang yang biasanya berhasil digunakan yang lebih muda untuk memberi kedamaian pada yang lebih tua seakan tidak berfungsi hari ini. Yeonjun larut dalam kekecewaannya, dan kedua lengan itu sigap mengguncang singkat yang lebih tua.

"Sayang tarik napasmu" Sambut lembut Soobin. Yeonjun akhirnya dapat mendengar suara itu dengan jelas, perlahan berusaha menghirup banyak oksigen dari udara. "Bagus, dan hembuskan." Yeonjun menghela berat nafasnya.

Namun tetap saja, Yeonjun membenci dirinya, membenci alat test kehamilan sialan ini, membenci situasi terkutuk yang tidak bosan-bosan menghampiri dirinya. Ia tak bisa berhenti menangis tersedu-sedu, membuang sebanyak mungkin kekesalan dari dalam dirinya.

Soobin sigap menangkap kedua bahu yang kecewa, mensejajarkan dirinya untuk mengusap punggung yang lebih tua. Mendekapnya begitu erat. Membawa yang lebih tua tenggelam di dadanya, meredam seluruh isak tangisnya.

"Soobin, aku menginginkannya."

Yang lebih tua mendongak, menampakkan kelopak cantiknya yang memerah. Kilauan air mata berantakan membasahi wajahnya. Raut kecewa dan kekesalan menyatu menyapa Soobin dengan getaran yang begitu menyayat hati.

"Aku menginginkan bayinya, Soobin. Beri aku, bayinya."

Sambung yang lebih tua dengan suara paraunya. Membenamkan jauh wajahnya pada dada yang lebih muda. Meremas pakaian Soobin begitu erat, melampiaskan kekesalannya.

Soobin berakhir menggendong Yeonjun ke luar dari kamar mandi. Yang lebih tua meringkuk dalam bungkusan tangan yang lebih tua, redaman isak tangis yang terus ditahannya membuat itu semakin terdengar menyakitkan. Yeonjun bahkan tidak sanggup menatap mata yang lebih muda, dia selalu mengambil segala kesimpulan sepihak.

Soobin kecewa, pada dirinya. Pikir kepala mungil yang lebih tua.

•••

5 tahun.

5 tahun bukanlah waktu yang singkat. Bagaimana Soobin menjadi secercah cahaya, di dunianya yang begitu gelap gulita. Hidup sebagai omega yang tidak diinginkan orang tua adalah hal yang paling menyedihkan yang pernah dialaminya. Bagaimana dia berjuang menyambung hidup dengan berbagai makanan sisa yang orang lain tinggalkan. Menjaga kehormatan dari beribu alpha yang dengan angkuhnya ingin mengklaim atau sekedar mencicipinya.

Yeonjun akan mati, segera setelah ia kehilangan arah serta tujuannya untuk bertahan. Entah keajaiban apa yang datang menyapanya. Langkah kaki berat yang diayunkannya, membawanya sampai pada surga yang menyerupai manusia.

"Saya tidak bermaksud lancang, tapi saya pikir anda ketakutan dan ada sesuatu yang mengancam anda. Jika anda tidak keberatan saya ingin membantu anda."

Soobin...
Dia begitu lembut, begitu penyayang.
Yeonjun tidak akan menyesal jika keberuntungan satu kali seumur hidupnya dipakai untuk mendapatkan laki-laki ini. Seseorang yang memiliki senyum termanis di dunia. Yeonjun selalu memikirkan yang lebih muda di dalam lamunannya, bagaimana orang asing ini dalam sekejap dapat berubah menjadi dunianya.

Soobin terlalu sempurna, untuk menjadi nyata.

"Maafkan aku, hyung. Kau mungkin saja akan membenciku setelah ini atau akan menatapku berbeda. Tapi, aku tidak ingin menjadi pengecut dan menyesalinya."

"Aku mencintaimu, Hyung."

Hari demi hari yang dijalani Yeonjun dengan Soobin adalah untaian karma manis yang ia pikir ingin selalu dia rasakan. Memiliki pasangan untuk berbagi kasih dan keluh kesah, seseorang yang akan selalu membawanya pulang. Soobin adalah dunianya.

"Aku juga mencintaimu, Soobin."

•••

Nyatanya kita semua tau, hidup tidak hanya tentang bunga yang bermekaran. Kadang, itu tentang badai yang meluluhlantakkan. Memporak-porandakan taman bunga yang bermekaran hingga hancur berantakan.

"DASAR JALANG! BAGAIMANA OMEGA LIAR SEPERTIMU BISA MERAYU SOOBIN KAMI."

Sebelum Soobin sempat menarik Yeonjun di pelukannya, Yeonjun kembali ditikam oleh kalimat lain yang tidak kalah tajamnya.

"KAU SIALAN, KAU BAHKAN TIDAK DAPAT MEMBERINYA KETURUNAN."

Taman bunganya hancur berantakan.

Hatinya mungkin akan terus membiru, mengetahui dialah penyebab kegagalan itu.

"Rahim anda, bermasalah. Akan sulit bagi anda untuk hamil."

Yeonjun merasa gagal untuk dunianya. Gelap malam yang mencekik membangunkannya, kerap membuatnya menyelam singkat di dalam pikirannya. Untuk membawa makhluk indah itu dalam dekapan hangat dunianya. Ia bahkan tidak keberatan jika menukar dirinya sebagai harga yang semestinya.

 

•••

 

"Selamat pagi, sayang. Bagaimana perasaanmu."

Yeonjun perlahan melabuhkan pandangannya pada laki-laki manis dihadapannya. Berbaring miring, menumpuk beban kepala pada lengan kirinya. Hanya agar dapat menatap wajah cantik milik Yeonjun lebih jelas.

"Buruk, kurasa."

Yeonjun melingkarkan kedua tangan pada tubuh yang lebih muda. Enggan membiarkan dunianya menjauh. Soobin mengelus pelan belakang yang lebih tua, dengan tangan yang lain mengusak rambutnya. Soobin mencium kening Yeonjun perlahan, menangkup kedua pipi yang lebih tua.

Yeonjun cantik.
Bunganya yang selalu indah.

"Bagaimana ini, aku jatuh cinta lagi padamu."

Soobin memanyunkan bibirnya. Menatap mendalam pada kekacauan pikiran yang lebih tua. Yeonjun menyipitkan matanya, sebelum mulai memukuli pelan dada yang lebih muda.

"Kau bajingan yang tidak serius!"

Yeonjun membalikkan badannya menghindari yang lebih muda. Tidak lama sebelum jari jemari yang lebih muda menarik tubuhnya dari belakang, membungkus Yeonjun di dalam dekapan hangatnya.

Soobin menciumi tengkuk yang lebih tua perlahan, kemudian beralih menjilati tanda kawin yang ia tinggalkan berapa tahun silam. Yeonjun hilang akal. Yang lebih muda tidak pernah gagal menariknya untuk menjelajah di ladang lemon yang menyegarkan. Memberinya beberapa energi untuk memulai hari.

Soobin sangat puas berlama-lama mengitari padang bunga mencium aroma nektar bunga samar dari tengkuk kekasihnya. Ia perlahan menuntun Yeonjun berbalik, untuk melihat wajah cantiknya. Membentuk senyuman kecil ketika yang lebih tua masih menatapnya malas.

"Tumpahkan kepadaku, semua yang kau rasakan saat ini."

Yeonjun segera menatap yang lebih muda. Berpikir keras sampai lupa mengatur raut wajahnya. Soobin tertawa kecil, menatap yang lebih tua dengan gemas.

"Aku masih sangat kecewa. Aku sangat berharap kita dapat memilikinya, bayi kecil."

"Kenapa kau ingin memilikinya?"

"Karena aku ingin keluarga kita utuh sepenuhnya. Kau, aku, dan bayi kecil kita. Dan orang tuamu juga menginginkannya, keturunan darimu. Terlebih lagi aku ingin membuatmu bahagia, seperti yang dilakukan omega lain untuk membuat alpha mereka senang dan berbangga. Membawa benih kecil itu, di rahimku."

Soobin tidak mengalihkan pandangannya dari yang lebih tua, mendengarkan dengan teliti kata demi kata yang ia sambung dengan banyak berpikir.

"Kau benar, suatu kebahagiaan bayi kecil dapat hadir diantara kita. Aku akan begitu mencintainya. Tapi pandangmu, keinginan membawa makhluk kecil itu ke dunia semata untuk menyenangkan serta membanggakanku.. itu tidak terasa benar, sayang. Kau tau bahwa sendiri bahwa kaulah satu-satunya kebahagiaan ku, tidak peduli apapun yang dikatakan orang lain. Kita bahagia, berdua bersama."

Yeonjun memancarkan aroma nektar manis yang mengharumkan seisi ruangan, menyelinap lembut ke dalam indra penciuman yang lebih muda.

"Aku mencintaimu, Soobin."

Yeonjun mengecup pelan bibir yang lebih muda. Merekahkan senyum indahnya, menggetarkan hati yang lebih muda.

"Aku lebih mencintaimu, Yeonjun."

 

•••

 

Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga musim ke musim telah kedua sejoli itu lalui bersama, tanpa beban atau kewajiban yang harus dipenuhi. Mereka sudah dapat mengikhlaskan hal itu sepenuhnya. Soobin selalu ada di sana. Kepingan hati berserakan yang lebih tua perlahan disambungkan oleh yang lebih muda. Membangun jembatan kuat menuju hatinya. Soobin siap menjadi plester luka dan sembuh bersamanya.

Soobin sedang membaca buku di ujung sofa ketika Yeonjun dengan suara gemetar berteriak memanggil namanya.

Perjalanan menuju asal suara tidak semulus yang ia kira, ia bahkan beberapa kali terbentur meja dan beberapa kaki kursi karena terlalu mengkhawatirkan yang lebih tua. Apa dia sakit? dia terluka? atau dia mendapatkan berita yang buruk. Soobin tidak dapat memikirkan apapun selain berlari cepat menuju cintanya.

Sampailah Soobin di depan pintu dari asal suara kekasihnya itu memanggil.

"Sayang.. katakan apa yang salah. Apa yang baru saja terjadi?"

Soobin perlahan mendekati Yeonjun yang berlutut dengan kedua kakinya di lantai kamar mandi. Yeonjun terus menerus meneteskan air matanya seraya menatap Soobin lebih mendalam.

Soobin meraihnya jauh ke dalam pelukan, menyebarkan aroma ketenangan.

"Sayang, katakan padaku. Ada apa?"

Yeonjun melingkarkan kedua lengannya pada leher Soobin, mencium bibirnya lama. Soobin bingung ketika Yeonjun tiba-tiba saja menariknya dalam ciuman hangat yang tergesa-gesa. Namun soobin larut dalam kehangatan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, otaknya mengisyaratkan.

Yeonjun menatap manik Soobin dengan serius, ia bahkan menangkup dua belah pipi Soobin begitu erat. Mata Yeonjun berbinar begitu indahnya, membuat Soobin jatuh lebih dalam.

"Aku.. mengandung."

Yeonjun melembutkan suara namun tetap tidak bisa menyembunyikan seberapa bersemangat dirinya. Yeonjun menarik kedua garis bibirnya menjadi senyum yang mengembang begitu indahnya.

Soobin kehilangan kata-katanya, ia bahkan begitu tercekat hampir menjatuhkan rahangnya. Kedua matanya terbelalak tidak percaya.

"Sayang, buat aku percaya kalau ini bukanlah mimpi."

Mendengar perkataan yang lebih muda, Yeonjun segera mencubit paha Soobin sekuat tenaga.

"Pak Soobin, kau akan segera menjadi Ayah!"

Yeonjun mengekspresikan segala cintanya dalam kerutan di hidungnya, menyalurkannya pada kelopak yang menelan separuh matanya. Ini adalah salah satu hari paling membahagiakan dihidupnya, dimana diantaranya adalah ketika ia bertemu dan menikah dengan laki-laki yang sedang tercengang di depannya.

Soobin bahkan tidak sempat mengerang kesakitan. Beban kepalanya tersandar sepenuhnya pada salah satu bahu yang lebih tua. Ia menangis bahagia. Ia tidak menyangka akhirnya momen membahagiakan ini akan menghampiri dia dan cintanya. Ia mengendus lebih banyak nektar manis dari tengkuk yang lebih tua, serakah untuk mendapatkan semua.

Soobin segera menciumi setiap inchi wajah cantik itu tanpa ada satupun yang terlewat, sebelum akhirnya melabuhkan ciuman terakhirnya pada bibir cantik milik cintanya.

"Benar, aku akan menjadi ayah. Aku akan menjadi ayah yang menyenangkan, sayang. Aku akan membawakannya semua hal indah di dunia."

Soobin melayangkan senyum bahagianya, memekarkan sejumlah bunga indah di dalam dada yang lebih tua.

"Terima kasih sayang, terima kasih. Terima kasih banyak. Kau benar-benar mewujudkan keinginan kita. Kita akan membentuk keluarga kecil yang akan selalu dibanjiri oleh kasih sayang satu sama lain. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu"

Soobin membawa yang lebih tua untuk berdiri, mendekapnya lebih erat sekali lagi. Yeonjun balas mendekap tidak kalah erat, membenamkan seluruh beban kepalanya pada dada bidang yang lebih muda. Soobin menyisiri rambut Yeonjun, mengusap-usapnya lembut. Melayangkan ciuman sejuta kalinya pada kening Yeonjun.

Soobin perlahan berlutut dihadapan yang lebih tua, menyibakkan kaos nyamannya ke atas, ingin melihat lebih jelas dimana tepatnya bayi kecil itu berada. Soobin lagi-lagi tidak dapat menahan agar senyumnya tidak merekah. Ia membelai perut Yeonjun halus sebelum menciumi perut itu dengan penuh kasih sayang.

Soobin berpikir keras, mendongak dengan wajah yang penuh pertanyaan pada yang lebih tua.

"Sayang, bagaimana kita akan memanggilnya. Dan bagaimana kau ingin dipanggil olehnya?"

"Dia mungkin baru berumur satu minggu dan aku bertaruh dia tidak lebih besar dari biji kenari. Kenari terdengar lucu, bukankah begitu bin? Untukku, kukira aku akan bahagia jika bisa dipanggil 'papa', itu terdengar sangat baik."

"Baik, kenari kesayangan ayah. Ini kali pertama kita mengobrol dan kau cukup dengarkan ayah ya nak, kau setuju?"

Soobin mendekatkan telinganya, berpura-pura mendengar respon dari kenarinya.

"Ayah anggap itu sebagai iya! Jadi, kenari sayang. Ayah hanya ingin memberi tahumu bahwa kau memilih keputusan yang tepat untuk berada di rahim papa, dia kesayanganku jadi cobalah untuk berhati-hati agar tidak membuatnya sakit dan kerepotan, kau berjanji kenari?"

Yeonjun hanya dapat menatap Soobin dengan penuh kebahagiaan, air mata itu kembali menetes, akhirnya dia dapat merasakan perasaan kebahagiaan yang hampir membelah kedua dadanya dan menampakkan ribuan bunga bermekaran.

"Kenari sayang, terima kasih sudah memilih kami."

Notes:

Tolong tinggalkan komentar maupun pujian jika kalian menikmatinya. Kritik yang membangun juga akan saya terima dengan senang hati! Terima kasih sudah mampir dan membaca. Tolong kembali lagi kapan-kapan.