Actions

Work Header

Korset

Summary:

Setelah kejadian ini, Haechan dan Mark tidak akan hanya menjadi sebatas rekan kerja di kantor... kan?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Bekerja di perusahaan swasta pada divisi dan tim yang sama dengan jobdesk yang berbeda, Mark dan Haechan hanya sebatas kenal dan tahu sebagai rekan kantor saja, tidak lebih. Mark yang bekerja dengan cekatan dan Haechan yang dikenal dengan segudang ide cemerlangnya. Baik Haechan dan Mark juga tidak pernah ingin mencampur adukkan urusan kantor dengan urusan personal mereka.

 

Terlepas dari hal tersebut, baik Mark dan Haechan bukanlah rekan kerja yang kaku. Keduanya sering mengikuti acara kantor yang diadakan, resmi atau acara dadakan seperti yang saat ini sedang diperbincangkan. Salah satu rekan divisi senior mereka mengajak divisi marketing untuk makan malam bersama dan berlanjut minum di bar. Hal yang sering dan sudah dari dulu menjadi kebiasaan, hingga seluruh rekan satu tim itu menyetujui ide mendadak yang dibuat.

 

Sesi makan malam dengan khidmat telah selesai dengan segala perbincangan tidak berarah, sembilan orang yang duduk dalam satu meja tersebut terlihat menikmati obrolan mereka. Sesi kedua pun dimulai. Beberapa rekan yang memiliki urusan lain memilih untuk tidak ikut ke bar, tersisa lima orang yang kini duduk melingkar pada satu meja.

 

Obrolan dibuka, cemilan sudah dipesan dan botol-botol minuman sudah tersedia beserta gelas masing-masing. Malam itu dirasa sempurna untuk menghilangkan penat setelah lima hari tersiksa dengan pekerjaan.

 

"Kita harus menyambut akhir pekan dengan bangun siang, jadi sekarang minum yang banyak, oke?"

Pak Youngho berseru dengan suara lantang agar suaranya tidak kalah dengan alunan musik dari lantai dansa yang berada tidak jauh, hanya berjarak beberapa tangga yang ada didepan mereka.

 

"Kalo kita semua tepar, siapa yang anter pulang dong?"

Mba Yeri yang duduk disudut kiri menatap kelima rekan kerjanya. Pertanyaan yang mengudara itu membuat mereka ikut berpikir. Mark mengajukan diri untuk mengantar, diikuti oleh Youngho dan Yugyeom. Mereka mengajukan diri bukan tanpa alasan, itu karena ketiga lelaki tersebut memiliki toleransi alkohol yang tinggi.

 

"Tahan minum berapa botol soju, Mark?"

Yang ditanya demikian terlihat berpikir sebentar.

 

"Pernah minum lima botol, ga mabuk, mba."

 

Mereka cukup terkesan mendengar itu, terlebih Haechan yang kini menatap Mark dengan intens. Netranya mengawasi tubuh Mark yang sebelumnya tidak pernah ia perhatikan dengan benar.

 

Gue minum satu botol soju aja udah agak pusing. Keren banget dia lima belum tepar juga, batin Haechan terkagum.

Dirinya jelas sangat iri. Namun Haechan punya satu kelebihan, seberapa tepar pun dirinya, di pagi hari kala bangun ia akan mengingat rentetan kejadian yang terjadi saat dirinya mabuk.

 

Haechan yang memang tidak memiliki acara untuk esok dihari pekan pun akhirnya menenggak minumannya tanpa berpikir. Toleransi alkohol rendah yang ia derita tidak lagi menjadi keraguan untuknya. Sebab dari kesepakatan yang dibuat bersama, Youngho akan mengantar pulang Yeri dan Yugyeom sementara Mark akan mengantar dirinya. Yang dimana informasi kalau rumahnya berada satu arah dengan Mark juga baru ia ketahui tadi.

 

Tidak lagi menghitung sudah berapa gelas yang ia minum, Haechan merasa kantung kemihnya penuh. Jadilah ia berdiri untuk pamit sebentar menuju toilet.

Dari gelagatnya yang sudah tipsy, Youngho menyarankan Haechan untuk diantar oleh Yugyeom, namun dirinya menolak dan berjalan sendiri walau dengan langkah sempoyongan.

 

Tidak lama setelah Haechan pergi, Mark ikut berujar. "I think i need to go to the toilet as well, permisi ya,"

Mendapat anggukan dari yang lain, Mark akhirnya berdiri menuju toilet.

 

Di sisi Haechan yang kini sudah selesai membuang air kecilnya, lelaki itu berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan dan berkaca. Wajahnya yang kecil terlihat merah padam efek alkohol yang dirinya konsumsi, suhu tubuhnya juga sedikit naik. Mengakibatkan korset yang dipakainya terasa gatal, Haechan juga merasa sesak sebab sudah seharian penuh memakai korset itu untuk menutupi bagian dadanya.

Tanpa memikirkan sekeliling dan kemungkinan bahwa siapapun orang bisa masuk kedalam toilet, Haechan membuka kancing kemejanya untuk mencapai kaitan korsetnya. Dengan tidak sabaran membuka hingga menampilkan payudara miliknya dengan ukuran yang sama dengan payudara wanita kebanyakan.

 

Haechan menatap sayu payudaranya dari cermin didepan. Dirinya sudah sangat terbiasa memakai korset untuk menutupi payudara itu. Keturunan genetik, katanya. Haechan tidak dapat berbuat apa-apa untuk hal tersebut, lagipula dirinya juga tidak merasa terlalu terganggu dengan ukuran payudaranya.

Atensinya penuh pada jari yang bergerak naik menyentuh areola nya sendiri, membuat Haechan menggigit bibir bawahnya menahan birahi yang mulai memuncak. Dirinya tidak sadar bahwa presensi Mark sudah mematung sekian menit di pintu toilet. Haechan yang masih belum sadar akhirnya mengancingkan lagi kemejanya, barulah setelah itu ia sadar kehadiran Mark.

 

Mark yang tidak ingin ada kecanggungan pun berpura-pura untuk tidak melihat, dirinya memilih untuk menyelesaikan urusannya. Melihat masih ada Haechan disana berdiam diri, Mark akhirnya mengujarkan tanya.

 

"Itu lo pakai apa, Chan?"

Arah matanya menunjuk pada korset hitam yang Haechan pegang. Lelaki itu tersenyum manis, mengangkat tinggi korset itu dan melebarkannya untuk ia peragakan dihadapan Mark.

Ini korset buat nutupin tete aku, Mark, katanya.

 

"Emang kenapa harus ditutupin korset?"

Pertanyaan itu jelas Mark lontarkan karena ia ingin mendengar sendiri penjelasan Haechan. Walaupun dirinya sudah melihat payudara lelaki didepannya tadi secara tidak sengaja.

 

Mendengar pertanyaan itu membuat Haechan melenguh pelan, "Tete aku besar, ga kayak cowo normal, Mark."

Berbanding terbalik dengan wajahnya yang terlihat sedih, tangan Haechan yang bebas naik meremas payudara miliknya sendiri.

"Nih, segini besarnya,"

Tangan Haechan memperjelas pandangan Mark atas payudara Haechan dari luar kemejanya. Mark sadar, bagian dada Haechan terlihat lebih berisi karena korsetnya yang sudah dilepas, tidak seperti yang biasa ia lihat di kantor.

 

Shit.

Mark mengumpat saat pandangannya beralih menatap kejantanannya yang mulai membesar dibagian selatan tubuhnya.

 

"Can i see your boobs?"

Persetan.

Mark jelas sudah kehilangan akalnya saat dirinya bertanya demikian. Dirinya sudah siap untuk dimaki atau kalau dengan tiba-tiba Haechan berlari dari hadapannya. Detik selanjutnya yang terjadi justru semakin buat Mark melotot dan dengkulnya sungguh lemas.

 

Haechan perlahan membuka kancingnya dari atas. Pelan-pelan mengekspos tulang selangkanya yang terlihat sangat cantik dimata Mark. Semakin turun memperlihatkan belahan dada Haechan hingga total terbuka seluruh kancing kemejanya sampai menunjukkan perut rata Haechan, dengan pinggang sempitnya.

 

Lelaki dihadapan Mark sekarang terlihat sangat cantik. Tubuh Haechan total buat isi dalam kepala Mark berantakan. Opsi yang kini diperdebatkan dalam dirinya adalah berlari keluar dari toilet tersebut atau menarik Haechan untuk ia setubuhi sekarang juga.

Pilihan sulit.

 

Dan tubuh Mark dengan reflek berjalan mendekati Haechan, memperjelas pandangan matanya, menatap haus payudara Haechan seperti itu adalah hidangan penutup untuknya.

Haechan is a whole meal. And Mark could never resist this delicious meal that already serve in front of him.

 

Indra pendengaran Mark menangkap suara langkah kaki yang mendekat dari arah luar menuju toilet tersebut, membuat Mark menarik pergelangan tangan Haechan untuk memasuki bilik toilet yang berada diujung. Mark menempatkan dirinya duduk diatas kloset duduk yang tersedia, kemudian menarik Haechan untuk duduk diatas pangkuannya. Hal itu membuat wajah Mark kini berhadapan dengan payudara Haechan.

 

Poor him.

Mark tidak mabuk. Dirinya sangat amat sadar. Namun Mark merasa otaknya kosong, he's drooling over man's boobs, Haechan's boobs. His big boobs. Mungkin ukurannya sebesar genggaman tangan Mark. Atau sedikit lebih kecil karena tangannya yang besar. Karena kalau dibandingkan dengan miliknya yang rata, payudara Haechan jelas sangat menggoda nafsu birahinya.

 

Tanpa berpikir jernih, Mark memajukan tubuhnya mendekati telinga Haechan.

"Gue boleh nenen sama lo?"

Dan ia menjadi lelaki brengsek yang dengan kurang ajar menjilat daun telinga Haechan membuat empunya mengerang tertahan. Entah dirinya berhalusinasi atau tidak, Mark sedikit melihat gerakan kepala Haechan mengangguk atas pertanyaannya. Itu artinya tanda bahwa dirinya diizinkan..... kan?

 

Akhirnya Mark beri kecupan dari telinga menuruni tulang selangka Haechan, sesekali ia beri sesapan sensual. Meninggalkan beberapa tanda kemerahan disana. Kecupan halus itu semakin turun hingga dada Haechan, bilah bibir Mark bermain-main disana, ia bawa bibirnya mengawang pada kulit mulus Haechan.

His slow moves make Haechan wants more. Mark drives him crazy. Haechan now wants more. Haechan butuh kecupan yang lebih dalam, ia butuh hal lain dari Mark untuk memberi kenikmatan lebih pada payudaranya.

 

Mark tegakkan kembali wajahnya, mengarahkan tangan Haechan berada dibelakang tengkuknya.

"I will do you better, but promise not to make a noise or we will get caught, oke Haechan?"

 

Haechan sebenarnya tidak terlalu mendengar sebab jiwanya yang sudah melayang, namun ia mengangguk dengan segera. Detik kemudian dirinya sedikit mengejang dan melempar kepalanya kebelakang saat lidah Mark menyambangi putingnya. Jilatan, lalu sesapan dan gerakan memutar pada areola nya total buat Haechan merasakan kenikmatan luar biasa.

He is pleased.

Haechan belum pernah merasakan orang lain bermain pada payudaranya. Puting satunya pada mulut Mark dan putingnya yang lain dipelintir pelan oleh jemari Mark. Haechan sendiri tidak bisa mendeskripsikan kenikmatan yang ia rasakan.

 

Kepalanya pusing, wajahnya terlihat sangat cantik dengan matanya yang menyayu dan mulut terbuka tanpa suara. Kaki dan tangannya yang mengalung pada tubuh Mark semakin erat membuat jarak diantara keduanya menghilang.

Mark mendongak melihat hasil karyanya. Menikmati wajah kenikmatan rekan kerjanya yang semakin mengobarkan semangat birahinya. Netra sayu Haechan menatapnya seakan ingin mengatakan sesuatu, Mark yang cukup peka akhirnya mendekatkan telinganya pada bibir Haechan.

 

Alih-alih mendengar permintaan, Haechan justru menggerakkan tangannya pada tengkuk belakang Mark untuk mengarahkan mulut lelaki tersebut kembali berhadapan dengan payudaranya. Mark tersenyum. Dirinya tidak kuasa menahan kekehan tawa mengetahui Haechan sudah tidak bisa mengontrol nafsunya.

Mark menjulurkan lidahnya menyapa bergantian puting Haechan yang kini semakin tegang. Dengan juluran benda basah dan tidak bertulang itu, Haechan membusungkan dadanya hingga Mark menghisap payudaranya. Ia mengambil kontrol, kepala Mark hanya ditekan sedangkan Haechan yang bergerak mengejar mencari kenikmatannya. Mark semakin bersemangat mengulum dan menyedot puting Haechan. Gerakan retoris yang dilakukannya membawa Haechan pada pelepasan pertamanya. He cum untouched.

 

Mark berhenti dengan kegiatannya, membiarkan Haechan menikmati pasca pelepasannya. Kesadaran Mark untuk berpikir jernih mulai kembali, payudara yang baru saja ia cicipi adalah milik Haechan. Rekan kantornya.

 

Fuck that.

Mark mengenal Haechan sebagai rekan kantor yang pendiam. Haechan tidak pernah terlihat aneh, bukan juga orang yang neko-neko. Namun fakta bahwa lelaki itu selama ini menutupi dadanya yang berukuran besar dengan memakai korset jelas tidak akan bisa terhapus dari ingatan Mark bagaimana pas ukuran payudara Haechan untuknya.

 

Kewarasan yang baru saja ia miliki mulai terkikis, direnggut kembali oleh nafsunya sebab Haechan bergerak diatas tubuhnya. Dan Mark baru menyadari bahwa kini Haechan mencari kenikmatan untuk penisnya dengan menggeseknya pada milik Mark.

Haechan now dry humping him. What should Mark do? Melihat Haechan menikmati friksi yang dibuatnya sendiri, hingga lelaki itu kembali menjemput pelepasannya. Membuat celana bahan yang ia pakai basah, Mark melihat dengan jelas cairan Haechan dari luar celananya.

 

"You already cum twice, now my turn,"

Haechan tidak memberikan respon, dirinya sibuk mengatur napasnya. Mark mempertajam indra pendengarnya, dan saat dirasa tidak ada orang lain diluar toilet, dengan segera Mark mengubah posisi mereka. Haechan ia bantu untuk duduk diatas kloset dengan posisi bersila, sementara dirinya berdiri menghadap lelaki itu.

Dengan begitu, Mark mulai menurunkan celananya, hanya sedikit untuk mengeluarkan penisnya yang sudah tegang sempurna dengan cairan pra ejakulasi yang sudah membasahi dalamannya.

 

"Besar.."

Haechan tertawa, dirinya tersenyum sebelum akhirnya mengulum bilah bibirnya agar basah. Haechan sapa ujung penis Mark dengan telapak tangannya dengan gerakan memutar, membawa cairan mani Mark pada batang kejantanannya. Tangannya mulai bergerak mengocok batang penis Mark, sementara kini lidahnya menginvasi kepala penisnya. Memberikan lumatan dengan gerakan sensual yang buat Mark menggeram rendah.

Netra mereka bertemu, mata Mark terpaku pada wajah Haechan saat mengulum ujung penisnya. Mark rasanya akan gila. Kenikmatan pada penisnya, lalu keindahan wajah Haechan. Rasanya berlebihan. Permainan Haechan juga bukan sekedar memberikan oral seks pada penisnya, Haechan membakar nafsunya dengan sesekali memberikan kecupan pelan pada pucuk penisnya, menjilat dari ujung batang hingga kepala penis dan bermain pada bola zakarnya.

Mark merasakan akan segera mendapatkan putihnya, dirinya juga sudah kepalang tidak tahan, maka itu tangannya menjambak surai belakang Haechan untuk ia bawa semakin dalam kejantanannya dalam mulut hangat Haechan. Lelaki itu jelas dibuat kaget, Haechan dapat merasakan ujung penis Mark masuk mengenai pangkal tenggorokannya.

 

Setelah berdiam dalam posisi tersebut, Mark mulai menggerakan pinggulnya untuk memaju mundurkan penisnya dalam mulut Haechan, memakai mulut lelaki itu untuk mengejar pelepasannya. Mark dengan jelas merasakan lidah lentur Haechan yang ikut bermain didalam mulutnya, memberikan kenikmatan lebih pada penis Mark.

Hingga tidak lama kejantanannya mengeluarkan cairan ejakulasinya dalam mulut Haechan. Mark tarik keluar penisnya, membuat mani Mark ikut turun ke dagu Haechan. Lelaki itu masih memberikan kocokan sebentar pada penisnya, mengeluarkan sisa spermanya pada wajah dan dada Haechan.

 

Keduanya mengambil napas teratur agar lebih tenang. Mereka saling menikmati setelah memberi kenikmatan untuk satu sama lain.

Menit selanjutnya, Mark membantu Haechan untuk kembali berpakaian juga dirinya kembali memakai celananya. Ia menuntun Haechan keluar untuk dibersihkan wajahnya, sementara dada dan celana Haechan yang masih basah itu dibiarkan oleh Mark.

 

Dirinya menggenggam tangan Haechan untuk keluar dari toilet dan kembali pada meja rekan mereka hanya untuk mengambil barang keduanya, hal itu jelas disambut pertanyaan.

 

"Haechan udah teler, gue anter pulang aja, Pak," jawab Mark seadanya pada Youngho yang terlihat masih aman sementara Yeri dan Yugyeom sudah tipsy.

Setelah mendapat izin untuk pulang lebih dulu dari Youngho, Mark berjalan menuju mobilnya sambil memapah Haechan. Sebab informasi yang ia tahu hanyalah rumah Haechan yang searah tanpa mengetahui persis dimana rumah Haechan, Mark akhirnya membawa lelaki itu menuju tempat tinggalnya.

 

Sabtu pagi hari Haechan membuka matanya dan hal pertama yang ia lihat adalah dirinya yang tertidur tanpa baju atasan dan Mark yang memeluknya sembari menyusu pada payudaranya. Ia melenguh, tangannya menyusuri surai hitam legam Mark.

Memorinya bekerja, memutar kejadian semalam yang buat Haechan akhirnya membiarkan Mark pada kegiatannya. Hingga yang terjadi selanjutnya adalah adegan ranjang yang cukup panas pada Sabtu pagi yang dingin itu. 

Notes:

it took me a whole week to make a decision buat upload cerita ini. more of mahae fic will be upcoming hehe. thanks to ka baelin pakar dan suhu per-nenen-an ini. kudos and comment will be much appreciate!

Series this work belongs to: