Actions

Work Header

Gudang kantor

Summary:

Mark dan Haechan semakin berani dan kali ini Yuta, karyawan kebersihan, hampir saja memergoki mereka.

Notes:

this story is part two of the previous story

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Semenjak kejadian di bar waktu itu yang disambung dengan seks pada sabtu pagi di apartemen Mark, keduanya kini sudah tidak secanggung dulu di kantor. Kendati begitu, baik Mark dan Haechan harus tetap berhati-hati agar tidak ketahuan tentang hubungan mereka. 

Well, technically they're not a lovers. 

Hubungan yang mereka jalani hanya sebatas rekan kerja yang sering berbagi hangat diatas ranjang. Co-workers with benefits type of relationship. 

Karena keduanya yang hidup sendiri, Mark di apartemennya dan Haechan yang menyewa kos tahunan, jadi agenda seks yang lumayan rutin dilakukan itu bergantian antara di kos atau apartemen mereka.

Namun lama kelamaan Mark dan Haechan menjadi kian berani. Dikarenakan bosan melakukan itu di tempat yang sama pada tiap akhir pekan, mereka jadi menggunakan waktu luang saat jam makan siang di kantor untuk melakukan hubungan badan. Seperti sekarang ini.

Saat rekan-rekan kerja lain tidak memperhatikan, Mark menarik tangan Haechan menuju tangga darurat di kantor mereka yang jarang orang berlalu-lalang. 

Mark kissed him with eager, risen up the sensual tension between them.

Buat Haechan dan segala egonya turut meninggi, ia mencoba membalas setimpal segala permainan yang Mark mulai. Pagutan keduanya semakin panas saat Haechan menggesekkan selatan tubuhnya pada paha Mark. Ia mendesah pelan diantara ciuman mereka, buat Mark akhirnya menghentikan permainan lidahnya pada mulut Haechan dan berganti memperhatikan raut wajah Haechan yang mengejar nikmatnya sendiri tanpa menjauhkan wajah keduanya.

Nafas mereka menderu dan menerpa wajah masing-masing. Mark jelas merasakan penisnya berkedut dan membesar dicelah pahanya sebab gerakan Haechan turut membuat kesejatian Mark tergesek pahanya yang memompa naik turun.

Kini hanya Mark yang masih terjaga pada akal sehatnya, ia memerhatikan sekeliling dan menurut penerawangannya, tangga darurat bukanlah tempat terbaik untuk melanjutkan hal yang pastinya tidak akan Haechan biarkan berhenti sampai disana. Sekadar esek-esek tidak akan membuatnya puas, Mark sadar akan itu setelah berpengalaman cukup meniduri lelaki cantik itu.

"We can't do it here, Haechan. We need to go somewhere else," ucapan itu membangunkan Haechan dari kenikmatan yang masih ia kejar.

Ia mendecak kesal sebelum akhirnya memutar otak juga. Haechan akhirnya terpikirkan satu tempat hingga kini dirinya menggandeng Mark keluar dari ruang tangga darurat itu setelah memastikan pakaian dan wajahnya tidak lagi berantakan.

Gudang. What a nice choice.

Namun Mark tetap skeptis sebab terlalu takut, beberapa karyawan kebersihan mungkin akan mengunjungi tempat itu. Menangkap sinyal gelisah dari lelaki dominan dihadapannya, Haechan dengan cepat mengunci ruang gudang itu dan membalikkan badannya menatap Mark. 

"You still want to do it, right?" 

Mark mengangguk menanggapi. Netranya berpendar untuk mencari spot yang bisa mereka pakai, namun ruangan itu penuh dengan tumpukan kardus berisikan berkas-berkas, juga beberapa device komputer dan meja kursi karyawan yang sudah tidak terpakai. Space yang tersisa sedikit dan tidak memungkinkan untuk merebahkan tubuh Haechan pada lantai. 

"Hold yourself together, kita cuma bisa ngentot sambil berdiri disini," katanya memperingati. "Turn around now." Mark rengkuh pinggang Haechan untuk ia hadapkan tubuh lelaki itu membelakanginya.

"Buka baju kamu." Titahnya mutlak. Haechan yang mendapat perintah itu manut dan membuka pakaiannya hingga korsetnya pun terlepas.

Payudara sebesar genggaman tangan Mark akhirnya terbebas dari himpitan kain yang menutupinya. Mark mengukung tubuh lelaki didepannya, merapatkan tubuh keduanya hingga deru nafasnya yang hangat menerpa kulit tengkuk Haechan.

Tangannya sudah bergerilya bebas memeras payudara Haechan, memijatnya dengan gerakan pelan yang berhasil loloskan lenguhan dari bilah bibir si empunya. Jemarinya piawai berikan gesekkan pada puting kecoklatan yang mencuat sebab sudah tegang karena stimulasi yang buat dirinya sensitif.

Lelaki dominan itu beri kecupan dan sesekali jilatan dari leher belakang hingga turun pada pinggang, membawa dirinya berlutut dan berhadapan tepat dengan pipi bokong Haechan.

Haechan menahan desahannya, mengantisipasi agar tidak ada yang mendengar. Hal tersulit untuk Haechan lakukan karena ia tipikal yang berisik saat bercinta, dirinya senang menyuarakan kenikmatan yang sedang dirasa. Namun begitu, dirinya tahu diri bahwa mereka sedang bersetubuh di gudang kantornya, Haechan setidaknya akan menahan desahannya sekuat tenaga asal tubuhnya mendapatkan nikmat dari sentuhan Mark.

Haechan dapat rasakan lututnya bergetar hebat kala lidah Mark bermain pada bibir analnya, membuat lubangnya berkedut inginkan sesuatu bersarang didalam sana.

Mark menyunggingkan senyum. Ia berdiri untuk menurunkan resleting dan mengeluarkan penisnya tanpa menurunkan celananya. Efisiensi waktu jika nanti mereka butuh dengan cepat keluar dari ruangan tersebut. 

Kesejatian milik Mark sudah lama keras, semenjak tadi saat rapat internal dirinya memperhatikan tubuh Haechan dalam balutan kemeja satin.

Ia membayangkan jelas lekuk tubuh lelaki itu, bagaimana payudara milik Haechan yang tertutupi korset membuat orang lain tidak akan pernah terbayang bahwa lelaki itu memiliki payudara berukuran besar dan berisi. Hanya Mark. Dan kenyataan kalau hanya dirinya sajalah yang bisa menikmati itu buat nafsunya meningkat. 

He's all mine, batinnya berkata.

Walau mungkin ucapannya lebih banyak tertuju untuk tubuh sempurna Haechan.

Mark slowly thrusting his penis into Haechan's hole.

Perih sedikit ia rasakan saat kejantanan besar itu seluruhnya masuk dalam dirinya, namun Haechan agaknya sudah terbiasa. Dinding rektumnya dengan mudah menyesuaikan satu-satunya penis yang sudah sering menyambangi lubangnya.

"Cepetin, Mark—ahh lagi yang dalem.." maka sesuai dengan permintaan, lelaki itu mempercepat genjotan penisnya hingga tubuh Haechan terhentak.

Genggaman Mark pada pinggangnya membantu lelaki itu menopang tubuhnya saat kakinya sudah tidak lagi menapak dengan benar. Haechan gemetar hingga tangannya dengan panik segera mencari pegangan pada tumpukan kardus di depannya.

Posisi dimana Mark memasukkan kesejatian pada lubangnya dari belakang selalu menjadi gaya favorit Haechan. Lelaki itu puas merasakan penis besar milik Mark masuk sepenuhnya ke dalam dirinya. Ia juga menyukai saat panggul si lelaki dominan menampar pipi bokongnya waktu penis Mark menggenjot masuk, hasilkan suara kentara yang mirip saat bertepuk tangan.

Mark menarik tubuh atas Haechan mendekat dan memeluknya dari belakang, buat pegangan lelaki itu berpindah pada surai Mark saat kepala lelaki itu mengendus sekitaran lehernya. 

"Tete kamu goyang-goyang tiap aku genjot," ia terkekeh memperhatikan payudara Haechan. "Nice tits, Haechan. Aku ga akan bosen muji tete kamu." 

Mark bawa tangannya menangkup kedua payudara dan ia remas cukup kencang hingga buat Haechan mendesis. 

"Sshh... pelan Mark," ucapnya mengingatkan. "Nanti tete aku kendor nghh.." 

Abai pada rengekan yang dilontarkan, Mark semakin membara pada setiap hentakannya agar semakin dalam penisnya menerobos masuk pada anal Haechan. Stimulasi yang ia berikan juga bertambah, jemari satu bermain pada puting payudara Haechan sementara tangan satunya mengocok kejantanannya.

"Anh—anjing... enak banget Mark.. mau lagi, terus please yang dalem. Fuck—hahh..."

Meski pelan, Haechan tetap bersuara untuk buktikan seberapa jago dan nikmat permainan lelaki dibelakangnya. Bukan sekali dua kali mereka berhubungan badan, namun tidak pernah Haechan tidak menitikkan air mata karena kenikmatan tiada tanding yang menderanya.

"Ketatin lubangnya, Chan. Nghh ngentot sama kamu selalu enak.."

"Aku pake terus lobangnya—ahh.. sampe ngowoh ya,"

Bisikan-bisikan kalimat sensual dan jorok itu sampai pada telinga Haechan. Ia menggulirkan bola matanya saat dirasa putihnya akan datang. Tangan Haechan menjambak surai Mark membuat lelaki yang lebih tua itu semakin dalam di ceruk lehernya.

"Enaa—akkhh.." keduanya menjemput pelepasan di waktu bersamaan. 

Mark cabut penisnya dari lubang Haechan, membuat mani yang tadi ia keluarkan meluber keluar saking banyak cairan ejakulasinya. 

Shit. Haechan is totally a mess. A pretty mess.

"Ini gimana aku lanjut kerja kalo seberantakan ini, Mark?" cicitnya pelan setelah memperhatikan betapa jorok tubuhnya sekarang. Mark terkekeh sambil membantu lelaki itu membersihkan kekacauan yang mereka sebabkan setelah memakai celananya sendiri.

"Ga tau. Otak aku kosong abis ngecrot di dalem kamu," jawabnya lucu. Walau begitu ucapan tadi memang benar adalah kenyataannya. 

Tok tok tok!

Ketukan pada pintu terdengar diikuti suara seorang pria yang memanggil. Haechan kenal dengan suara itu, Yuta, petugas kebersihan senior yang sering menyapa dirinya waktu makan di kantin kantor. 

Astaga, gimana cara mereka keluar dari sana kalau ada orang yang menunggu dibalik pintu?

"Kuncinya perasaan saya cantelin di pintu, deh. Kenapa sekarang ga ada ya?" Yuta menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Coba cari ke ruang kontrol kali ya.." lanjutnya lagi hingga tidak lama, Haechan dan Mark dapat mendengar suara langkah kaki yang menjauh.

Haechan mendorong Mark keluar lebih dulu dari ruang gudang tersebut. Pretend that you're looking for me, katanya sebelum kembali menutup pintu gudang itu.

"Eh mas mark, kenapa mas?" suara sapaan dari belakang tubuhnya mengagetkan Mark hingga lelaki itu berjengit. 

"Oh ini saya lagi cari Haechan, mas Yuta liat ga?" Mendengar pertanyaan tersebut pegawai itu menggelengkan kepala. Dan tidak lama Haechan keluar dari dalam ruangan gudang. 

"Eh mas Yuta, maaf ya tadi saya yang lagi di dalem. Abis cari berkas hardcopy nih, hehe.." jelas itu adalah kebohongan. Namun sepertinya Yuta tidak mencurigai apapun.

"Kenapa ga panggil saya aja mas Haechan, biar saya aja yang cari," tawarnya.

Haechan geleng kepala, "Gapapa mas Yuta, udah ketemu kok ini. Maaf yaa.."

Yuta cuma iya-iya aja, manut. Mark dan Haechan pun kembali pada ruang kerja dan melanjutkan aktifitas mereka. Meninggalkan Yuta yang masih berada di depan pintu gudang dan meneruskan hal yang harus ia selesaikan di dalam ruangan tersebut.

Kok bau sperma, ya?

Notes:

man with big titties >>>>

kudos and comment will be much appreciate<3

Series this work belongs to: