Actions

Work Header

Those Hot Baristas

Summary:

Cautions! These two hot boys are so gay and it is so not recommended to fuck your co-worker on the workplace.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Erangan keras itu terdengar begitu nyaring dari arah dapur cafe, tapi tidak ada yang mendengarnya sama sekali. Cafe sudah tutup dari dua jam yang lalu, dan kini sudah masuk waktu tengah malam. Tidak lagi ada pengunjung, bahkan pegawai lain yang berada disitu.

Tanggung jawab menutup cafe malam ini ada pada Donghyuck, seorang barista muda yang sudah lama bekerja di cafe Neo Dream ini. Tetapi tak disangka, Mark, pegawai baru yang lebih tua satu tahun di atas Donghyuck, mengatakan bahwa malam ini ia mau menunggu Donghyuck tutup cafe untuk mengantarkannya pulang.

Tapi bukannya langsung menyelesaikan tugas dan menutup segera gerai cafe, mereka malah berakhir membuat skandal di dapur. Entah siapa yang memulai duluan, tidak ada yang ingat pasti, segalanya berjalan terlalu cepat dan panas, Mark kini berlutut di hadapan pemuda tan itu, menghisap dan mengocok kontolnya tak tahu tempat.

“A-aahh Mark! Stop,” keluh Donghyuck dengan suara seraknya “gue udah mau bucat.”

“Keluarin.”

Suara Mark terdengar begitu rendah dan tegas. Tubuh Donghyuck langsung lemas, kendali diri untuk menahan semburan spermanya di ujung palkon seketika hilang.

“AAAHH!!” Donghyuck melenguh tinggi, bahkan sampai terdengar sampai keluar dapur. Untungnya cafe sudah benar-benar sepi, gak ada orang lagi selain mereka.

Dengan tangannya yang setengah gemetar, Donghyuck menjambak rambut Mark. Ia menarik rambut legam cowok itu untuk memaksanya menengadah. Menjauhkan kepala Mark dari selangkangannya.

“Udah bangsat, lo mau bikin gue pingsan atau apa?!” bentaknya lemas. Wajahnya sudah kacau parah, matanya sayu dan suaranya parau. Hampir nangis, tapi Donghyuck masih tahan. “Lo kalo nyepongin gue kayak orang gak ada otaknya ya?!”

Mark terkekeh, lantas menjulurkan lidah dan menjilat ujung penis Donghyuck yang masih sedikit-sedikit mengeluarkan cum.

“Bukannya lo yang kalo udah disepong langsung jadi tolol?” Mark menyeringai.

Tubuh Donghyuck lantas menegang kembali ketika  tangan Mark yang masih mencengkeram miliknya ngocokin penisnya lagi dengan cepat. Reflek Donghyuck lebarin lagi pahanya yang setengah nyender di meja dapur sampe badannya kelojotan.

“A-aaahh udahh! Udah an-hhhjingg!!”

Mark bangun, setengah kungkung tubuh gemetar Donghyuck untuk menyudutkannya di meja itu dengan tangan kiri yang masih setia kocok penis Donghyuck yang teganya tak ia pelankan sama sekali. Malah sengaja ia tambah lagi kecepatannya saat ia amati seluruh tubuh Donghyuck kelojotan gak karuan. Tanpa sadar mengigigt bibir memandangi ekspresi kewalahan Donghyuck di bawahnya.

“M-mmark.. abang please, ampun! Fuck, pelan… nghh!”

Tangan Donghyuck terangkat untuk meremat kaus hitam laki-laki itu. Sungguh cengkraman yang lemah dan tak bertenaga sama sekali. Donghyuck bahkan gak bisa berdiri kalau bukan karena ditopang sama meja besi yang rapuh ini. Sementara Mark kini memijat penisnya sewaktu ia sudah siap semburkan lagi mani putihnya.

“Uu-u-udahh.. Mau bucat lagii,” dari suaranya yang tadi terkesan galak, kini Donghyuck malah merajuk seperti kucing kecil yang kesakitan. Ia menatap mata gelap Mark yang mengungkungnya “jempol lo awasin, Mark… Please, gue udah mau pipis.”

“Iya, ini udah,” bisik Mark yang kini menghidu leher Donghyuck yang penuh peluh. Ia terkekeh kecil. “Cium dulu, nanti gue bolehin lo keluar.”

Cepat-cepat tangan Donghyuck berpindah dari bahu lebar cowok berkacamata itu ke rahangnya, untuk ia tangkup dan dekati dengan miliknya, dan raup bibir tipis bau rokok milik Mark untuk ia sesap dengan rakus dan ceroboh. Cumbuan Donghyuck ketara sekali penuh nafsu dan tak berarah, sepertinya otaknya udah penuh sama kata bucat, bucat, mau bucat.

Sementara Mark, tertawa kecil di antara lumatan lemah pemuda itu. Ia merasa sedikit geli merasakan ciuman acak dari bibir penuh yang kenyal itu. Menari di atas miliknya dengan berantakan, tapi jujur saja Mark suka. Menandakan seberapa pasrah dan kacaunya Donghyuck ia buat, ia senang mengetahui hal itu.

Maka saat ia balas mengigit bibir tebal Donghyuck, ia pijat perlahan palkon cowok itu yang udah merah padam. Donghyuck menjerit tertahan dengan bibir yang masih digigit Mark, semburan maninya mengucur putus-putus secara percuma ke lantai dapur, yang sudah lama penuh aroma seks.

Mark lepaskan esapannya pada bibir penuh Donghyuck dan biarkan laki-laki itu menetralkan deru nafasnya yang memburu. Donghyuck menatap nanar ke lantai, yang kini sudah terdapat kubangan pejunya yang terbuang sia-sia. Banjir, Donghyuck baru sadar seberapa bocor dan kacaunya dia dibuat oleh Mark malam ini.

Jemarinya yang masih menangkup rahang Mark gemetar, Mark bisa rasakan. Dengan sengaja cowok yang lebih tua itu cumbu kembali lehernya buat Donghyuck sedikit terkesiap, dan berbisik di atas kulitnya yang basah akan keringat.

“Bocor banget lo, udah kayak perek abis dientot abis-abisan. Padahal belom juga lobang lo gue kontolin,” ucap Mark dengan nadanya yang khas, tanpa ada tendensi emosi sama sekali. Datar dan berat. “Emang udah bener paling mirip lo sama perek. Buang-buang peju, ini kontol nggak ada gunanya selain buat dikures pejunya sampe kering.”

Donghyuck meringis, merasakan seluruh tubuhnya merinding merasakan tawa kejam Mark di kulitnya. Menjalar dari leher dekat nadinya, hingga ke pusat tubuhnya. Penisnya yang masih setia dalam genggaman Mark, kembali berdenyut justru ketika bisikan kotor Mark itu dilantunkan tepat di telinganya.

“Apa? Gatel lagi kontol lo ini?” Mark kembali mengusap lembut penisnya dengan jempol, bikin Donghyuck tegang lagi “yaelah, kecil gini mah bukan kontol kali ya namanya. Perlu gue kucekin lagi, hm? Itil lo ini mau gue garukin lagi?”

Donghyuck menampar kecil pipi Mark yang mengeras itu. Wajahnya tampak marah, meski hanya bisa beri perlawanan yang gak berarti.

“Kurang ajar lo! Kontol gue tetep kontol ya namanya, bukan itil!” Alis Donghyuck mengerut, Mark lagi-lagi ngocokin punya dia yang baru aja selesai ejakulasi. “N-nnghh stop. Stop dikocokin lagi, gue baru aja bucat goblok.”

“Sengaja, sengaja dikocokin terus biar lo lemes terus pingsan,” secara perlahan, Mark membalikan tubuh Donghyuck dan meremas pantatnya dengan kencang “Katanya tadi mau dienakin, mau dipake sampe pingsan. Lagian lo emang enakan dipake pas pingsan. Biar lo nurut, gak banyak omong.”

Donghyuck mendengus, wajahnya nampak gak senang walaupun tubuhnya berbanding terbalik. Nurut-nurut aja pas diposisiin nungging di depan meja.

“Bacot, katanya lo paling demen denger suara desahan gue.”

Tangan Mark yang tadinya bertengger pada pinggul bohay Donghyuck kini naik membungkus leher tan Donghyuck. Mencekiknya dengan hati-hati dan memulai permainannya dengan mengelus lembut pipi pantat cowok itu lalu menamparnya kencang.

Plak!

“Gue seneng denger desahan lo,” plak! “bukan ocehan lo yang cerewet itu.”

Bohong, sebenarnya Mark sedang berbohong. Baik desahan maupun ocehan Donghyuck dua-duanya Mark suka. Tapi kalau gak dipancing begini Donghyuck mana mau secara sukarela cerewetin Mark yang tipenya lebih pendiam dan pasif. Mark suka, Mark suka dengar suara apapun yang keluar dari bibir penuh itu, tapi Mark lebih suka lagi dengar suara rintihan Donghyuck yang keenakan tiap lagi di-prepare begini.

A-aa-ahh… Ahhss M-mmarrgghh…..!”

Mark tersenyum, puas lihat betapa kesulitannya Donghyuck raup nafas sekarang karena saluran nafasnya ia himpit. Puas meremas dan menampari pantat gendut Donghyuck sampai kemerahan, Mark mulai membelai lubang yang berkedut-kedut di antara himpitan daging sekal itu hingga buat punggung Donghyuck melengkung tegang.

“Udah puas dari tadi kontol lo gue enakin, sekarang giliran gue.”

Donghyuck keliatan sedikit panik. Tangannya menepuk-nepuk telapak Mark yang mencekiknya keras, buat Mark paham dan melonggarkannya sedikit. Kini Donghyuck bisa setidaknya bernafas dan bicara walaupun parau.

“K-kondom… lube, lobang gue.. Masih kering.”

“We still have mine and yours spit,” ucap Mark acuh, dia lupa bawa kondom dan lube kali ini. Lagian siapa juga yang ngira bakal ngewein co-workers bohay lo di dapur cafe pas pulang kerja begini? “lagian kata lo tadi udah prep.”

“Ya gue prepare buat longgarin doang, tolol,” protes Donghyuck. Tangannya mencekal lengan Mark yang bertato, menekannya lumayan kencang. Tampaknya ia lumayan khawatir “gue pukul kepala lo kalo abis ini bool gue lecet ya bang, anj-”

Donghyuck meringis. Kepalanya dipaksa untuk menghadap ke depan lagi. Mulutnya disumpal dua jari Mark yang langsung mengobrak-abrik lidahnya. Setelah puas akhirnya jemari itu keluar, tinggalkan jejak liur Donghyuck yang menetes hingga ke leher, dengan nafas kacau yang disebabkan tindakan tiba-tiba dari Mark itu.

Kemudian, tanpa diberi jeda untuk berisap, anal Donghyuck langsung dihujam oleh dua jemari Mark yang merangsek masuk ngobelin pantatnya dengan keras. Donghyuck kewalahan, badannya sampai maju-maju terentak meja karena kaget terima benda yang tiba-tiba menyusup ke analnya.

“Ck, longgarin gimana sih ini lobang lo juga masih rapet,” Mark terdengar sedikit marah, bikin Donghyuck sedikit ciut.

Dari depan, Donghyuck berusaha mendorong tubuh Mark yang semakin lama semakin menghimpit badannya ke atas meja. Donghyuck mencekal lengan bertato Mark, dan mencengkeramnya dengan sedikit keras supaya laki-laki itu mau memelankan tempo hujaman jari di analnya.

“P-pelan pelan bang, ahh anjing! Dibilang lobang gue masih kering.”

Mark berkali-kali meludah di anal Donghyuck, kemudian dengan tak berperasaan kembali menghujamkan jemarinya disitu. Yang lebih muda meringis ngilu, tubuhnya lemas diperlakukan seperti ini.

“Gue punya ide, gue lupa bawa lube dan ludah kita ternyata masih gak cukup buat ngelicinin bool sempit lo ini.”

Donghyuck sedikit melirik ke belakang, tangannya setia bertumpu di atas meja dan menunggingkan pantatnya tinggi-tinggi menunggu akan hal apa yang Mark ingin lakukan pada tubuhnya. Ada sedikit rasa khawatir dan excited yang bercampur di hatinya. Mark memang sedikit gila dan eksploratif dalam hal bercinta, tapi laki-laki itu memang pintar dan ada saja akalnya, bikin Donghyuck tiap tidur sama rekan sekerjanya ini suka gak habis pikir sama idenya.

Ia menunggu Mark yang terlihat mengambil sesuatu dari lemari di samping meja tempat mereka bermesum-mesum ini. Betapa terkejutnya ia melihat laki-laki itu membawa sesuatu yang ia kenal baik.

“B-bang… bercanda lo ya?”

“Ssstt, gue bingung mau pake apa lagi. Ini aja bisa, kan?” Tanpa berkata apa-apa lagi, Mark kembali menekan tubuh Donghyuck menungging di atas meja dan mengarahkan semprot botol whip cream itu ke anal Donghyuck.

Ya, Mark berpikir untuk mengganti lube pelicin dengan whip cream yang biasa Donghyuck pakai untuk garnish minuman.

“bang, eww! Jorok! Lo ga kasian apa sama pelanggan nanti-”

“Ssstt diem, nanti gue ganti, yang ini udah mau abis isinya. Sekarang pake ini dulu, gue gak mau lo makin banyak omong. Nanti gak jadi-jadi gue ngontolin lo, gue udah gak tahan.”

Sambil terus mengocok penisnya sendiri di belakang, Mark mengoleskan cream manis itu ke anal Donghyuck, bikin lubang itu ngedut-ngedut sendiri. Rasa creamnya lebih kental dan pekat di lubangnya, beda sama lube yang licin. Walaupun sama-sama bikin jari Mark mudah keluar masuk ngobelin boolnya, tapi rasanya yang ini lebih bikin lubangnya geli dan gatel.

Apalagi pas Donghyuck nengok kebelakang buat liat Mark, beuh, langsung kegerahan badannya. Mark hot banget ngocokin kontol gedenya sendiri sambil desah-desah berat. Keenakan dia ngocok sambil liatin lubang rapet Donghyuck beleberan sama cream putih kentel.

“Gue jadi pengen coba makan anal lo Hyuck,” bisik Mark rendah, yang tentu saja masih dapat terdengar Donghyuck. Tangannya makin cepet ngerangsang penis tegangnya sendiri.

Tubuh Donghyuck seketika menegang waktu Mark jongkok di belakang tubuhnya dan ngerasain licinnya lidah Mark yang ngejilatin analnya dengan cepet. Beberapa kali bahkan ngisep-isep kenceng sekeliling lubangnya yang mulai becek dan beleberan cream putih itu. Satu tangannya ngocok penisnya sendiri dan yang satu lagi ngeregangin pipi pantat Donghyuck biar makin gampang dia “makan”.

Suara ribut dari mulut Mark yang nyeruput cream manis itu dari anal Donghyuck bikin Donghyuck makin ngerasa “mesum” jadinya. Wajah bahkan sekujur badannya memerah, lengannya udah lemes gak bisa nyangga tubuhnya sendiri di atas meja. Matanya bergulir ke atas, lidah Mark ngobrak-abrik anal sekaligus kewarasannya.

“Uu-u-uudaahh.. M-mm-auu langsung dimasukin aja-hhng. Abaangg…”

Mendengar rengekan Donghyuck itu buat Mark menyeringai kecil. Ia lantas tegakan lagi badannya setelah mengigigt kencang pantat gemuk itu lalu arahkan penisnya yang emang udah tegang sempurna ke anal becek Donghyuck.

“Bool lo jadi manis, enak. Gue nagih makannya. Kenyel kayak kue.”

Donghyuck benar-benar malu dengar ucapan jujur Mark itu. Ia hanya merengek dan goyangkan pantatnya meminta agar kontol tegang berurat itu segera memasuki lubangnya. Karena dari tadi Mark cuma gesekin penis besarnya itu di belahan pantatnya saja.

Nnnhh cepetan abangg.”

“Sedesperate itu kamu, Hyuck? Sampe ngelacurin bool kamu sendiri ke abang?” Mark berbisik, segera menghujamkan penisnya ke dalam anal licin Donghyuck dan mengurung tubuh yang lebih kecil itu di bawahnya “jangan minta berhenti kalau abang udah mulai, ya.”

Donghyuck tau itu bukan tawaran, itu peringatan. Dan Donghyuck melemaskan seluruh otot tubuhnya saat Mark mulai memompa penis tegang itu di analnya. Rasanya begitu sesak. Kontol Mark memenuhi lubangnya dan menggaruk dinding analnya dengan kontol yang begitu keras dan besar, dengan tekstur urat yang menonjol di kulitnya.

Hhhnggg… Hhh-pelan-pelaann,” lirih Donghyuck dengan suara gemetar, akibat tubuhnya yang terantuk-antuk ke depan digoyang sama kuatnya hentakan pinggul Mark “a-abang nanti lobang gue tetep lecet kalo terlalu kerass.”

Mark hanya bergumam, kepalanya hanya dipenuhi oleh nikmat rasa anal Donghyuck yang begitu erat memeluk penis tegangnya. Hangat dan becek. Rasanya sampai buat Mark lupa dunia, dan hanya fokus mengejar rasa nikmat yang membuncah ketika mengawini lubang sempit itu.

Tubuh Donghyuck yang melemas buat jepitan kontol Mark di analnya mulai mengendur pula. Rupanya Donghyuck sudah mulai hilang kesadaran, tenaga Mark yang terlalu kuat gak sebanding dengan tubuhnya yang udah berkali-kali dibikin bucat malam ini. Dengan itu, Mark raih cepolan rambut gondrong Donghyuck yang hari ini dikuncir rapih dan menariknya hingga kepala Donghyuck mendongak dan bibirnya tak mampu terkatup.

Hhhaaa…. A-ampun, abangg. N-nn-nmhhh!!”

Matanya menjuling ke atas, ia kesulitan bernafas oleh sebab dadanya yang tertekan meja besi itu. Pinggulnya yang digempur Mark berkali-kali terantuk meja. Mark bisa lihat bayangan sarunya dari kaca dapur dan hal itu malah memantik gerakan pinggulnya untuk bergerak semakin liar.

“A-abang gue m-mauu keluarr.”

“Udah berapa kali lo gue bikin pipis terus malem ini?” Mark menampar pantatnya seiring sodokannya yang tak lantas memelan “enak ya, hm? Enak banget Hyuck lo gue bikin banjir berkali-kali malem ini.”

Seperti orang linglung, Donghyuck hanya dapat mengangguk mengiyakan ucapan itu. Penisnya yang terantuk-antuk bawah meja terus-terusan mengucurkan cairan bening seperti pipis di saat Mark masih menyetubuhinya. Tubuhnya kini benar-benar kacau dan berantakan. Lengket dan licin oleh cairan cinta dimana-mana.

“Gue hamilin di dalem, ya?”

“J-janga-”

Terlambat, Mark terlebih dahulu menekan leher Donghyuck-mencekiknya- dan menarik lengan tan yang berhias tato itu lebih dahulu sebelum Donghyuck mampu menyelesaikan pekikannya. Pinggulnya menghantam pantat Donghyuck dengan keras, saat merasakan penisnya menggembung, dan menembakan seluruh pejunya di dalam Donghyuck hingga penuh.

Donghyuck tercekat. Rasanya sangat nikmat ketika perlahan perutnya menghangat dan saluran nafasnya dihambat, penisnya berkedut lagi. Sedikit-sedikit ngucur lagi, walaupun gak bisa dia kocok sebab lengannya dicekal sama Mark.

Mark merasakan kenikmatan yang sama. Ia merasakan kontolnya begitu hangat dan becek di dalam anal Donghyuck, dan itu membuatnya hampir hilang akal. Ia berusaha tetap waras, dengan menghidu di sepanjang punggung sempit Donghyuck yang kaus kerjanya sudah lepek akan keringat, menyusurinya hingga ke bahu, dan ke lengan Donghyuck yang bertato. Sama seperti dirinya.

Tatonya pun sama seperti miliknya, hanya saja corak tato Mark lebih ramai dari milik Donghyuck. Tato itu tato pertama yang Donghyuck bubuhkan di tubuhnya, Donghyuck minta sebab ‘iri’ lihat tato keren Mark dan mau coba-coba juga.

Mark merasakan sesuatu ketika melihat tato Donghyuck, itu mengingatkannya pada sesuatu. Tato pertama Donghyuck itu dibuat karena Mark, sedangkan pengalaman seks dengan laki-laki pertama Mark itu karena Donghuck. Pengalaman pertama yang terjadi tepat seminggu setelah Mark baru menjadi pegawai di cafe ini. Dan kini, setelah tiga bulan menjalin hubungan panas antar sesama pegawai itu, mereka berani melakukannya di tempat kerja.

Mark membalikan tubuh yang lebih muda tanpa melepaskan tautan persenggamaan mereka. Ia menaikan tubuh lemas itu ke atas meja dan melebarkan lagi pahanya untuk kembali memompa penisnya di dalam anal becek itu, yang sudah mulai menetes jejak cum Mark dari dalam anal cengap-cengap Donghyuck.

Pemuda itu meremas kaus Mark lagi, meminta pengampunan untuk sekedar beri ia istirahat.

“Bang, bentar dulu. Gue masih lemes,” ucap Donghyuck dengan kepala masih setengah ngawang “bool gue juga masih linu anjing.”

“Ssstt, gue main pelan. Oke? Gue cuma mau esek-esek doang,” Mark menyingkirkan tangan Donghyuck yang menghalangi aktivitasnya lalu menangkup kepala mungil pemuda itu dalam rengkuhannya. Jemarinya meremat kunciran rambut gondrong Donghyuck yang mulai berantakan gara-gara diewe yang lebih tua “rileks, sayang. Gue gak akan nyakitin lo. Nikmatin aja, gue bikin lo keluar lagi. Nah gitu, pinter, sayang. Ahhh good job doll.”

Wajar saja Donghyuck lemah, wajar saja Donghyuck luluh. Wajar saja Donghyuck jatuh cinta. Kalau mulut Mark semanis itu, mau tubuhnya diapain aja sama cowok ganteng ini rasanya Donghyuck rela saja.

Dari sisa-sisa tenaganya, Donghyuck dengan berani curi satu ciuman di bibir tipis Mark yang sibuk desahkan erangan berat. Agak kaget juga Mark ketika Donghyuck menciumnya.

“Dasar mulut manis,” protes Donghyuck dengan suara mencicit malu “buaya jaksel dasar lo.”

Melihat tingkah malu-malu Donghyuck itu malah bikin Mark mendengus gemas dan menyeringai. Ia memajukan tubuhnya untuk mengunci pergerakan Donghyuck di atas meja, mengungkung pemuda tan itu dengan lengan kokoh penuh tato miliknya.

“Kan manisnya juga dari whip cream di anal lo tadi,” balasnya meledek “and this sweet lips of mine is your favorite, no?”

Donghyuck yang tak mampu membalas ledekan Mark itu kembali membungkamnya dengan ciuman. Dan gak banyak omong lagi, Mark melanjutkan kegiatan esek-eseknya lagi sampai malam menjadi lebih larut lagi.

Notes:

I’m so in love with the visualization of mahae barista di konten itu, sampe nyempetin waktu nulis ginian padahal besoknya gue ada uas praktikum termokim lol wkwkw.

Di bayangan gue tuh sebenernya mahae laki abis, dua-daunya tatoan terus penggaet hati wanita gitu lah #jiaelah. Donghyuck kerja di cafe lebih dulu dari Mark. Donghyuck kerja dari pas dia masih semester tiga sampe sekarang udah semester enam emang buat nyari tambahan duit jajan di perantauan sementara kalo Mark kerja di cafe cuma buat bantuin temen sama ngisi waktu luang doang, soalnya doi fresh graduate yang lagi nunggu waktu wisuda doang nih. Skripsi udah beres dan tinggal ambil ijazah. Kontrak kerjanya di cafe paling cuma lima bulanan doang, dua bulan lagi abis. Makanya pas doi dideketin ama cowok ‘mantep’ di cafe tempat dia kerja ini, Mark sambut lah kesempatan ini soalnya sayang kalo dilewatin.

Yang pertama kali deketin duluan tuh emang Donghyuck, dan itu cuma main-main. Soalnya dia pikir si Mark ini ganteng sama hot doang tapi cupu mampus. Eh gak tau aja, pas Donghyuck iseng-iseng ngajak Mark tidur bareng, dia malah balik ‘dikerjain’ sama si abang. Donghyuck tuh emang tipe-tipe boti binal yang suka dominasi, tapi kalo dikerasin dikit kelenjehan sampe nangis-nangis. Sementara Mark tipe dominan yang gak banyak omong, tapi buktinya gacor. Talk less fuck more, gitu lah. Makanya cocok mereka kalo di ranjang.

Awalnya Mark ngeladenin tingkah Donghyuck tuh main-main doang, soalnya tau kalo Donghyuck main-main juga sama dia. Tapi semenjak kejadian Donghyuck bikin tato Mark di badan dia juga, itu lumayan affect ke hati dan perasaan Mark. Kayak yang ngerasa… "ini cowok beneran sesuka itu kah sama gue? Apa cuma gimik doang?? Tapi kalo sampe bikin tato segala karena gue… mana mungkin sih? Ah, gue jangan goyah. Lo kan tau dia boti playboy, Mark" gitu kiranya isi hati Mark tiap ngeliat Donghyuck.

Tiap jam kerja, mereka interaksi biasa aja. Walaupun ga bohong kadang-kadang kalo lagi berduaan aja gitu misalnya di dapur atau di balik meja kasir temen-temen mereka bahkan sadar sama sexual tension di antara keduanya. Apalagi kalo udah adu mulut (bukan harfiah), rekan kerja mereka auto bubar karena kalo itu orang berdua udah debat bumi seakan milik mereka doang dah.

Oh btw, sampe sekarang status mereka masih sekedar fwban yang suka saling sepong sama esek-esek kilat tiap ada kesempatan. Kayak sekarang gitu dah, wkwkw. Belum ada yang berani confess, padahal mah kalo getar-getar cinta dua-duanya udah kenyang ngerasain tiap lagi di deket satu sama lain. wKWKWKWK.